04
Feb
10

Navicula: Metropolutan

Mungkin tidak terlalu banyak pihak yang bisa menikmati punk sebagai musik. Namun punk sebagai sebuah gerakan perlawanan, nyaris semua akan mengangguk setuju. Punk, disajikan murni ataupun didandani habis-habisan, pada akhirnya adalah sebuah pernyataan politik mengenai penolakan akan kemapanan. Dan ketika akhirnya punk berselingkuh dengan metal, menghasilkan anak haram bernama grunge yang besar di kota hujan Seattle, semangat perlawanan itu kian menjadi.

Grunge, dengan sangat keras kepala, menolak semua asesoris panggung pertunjukan dan berpegang teguh pada fatwa Neil Young: “It’s not how you look, it’s how you feel!”

Melawan tanpa pernah berhenti, itulah Navicula. Selama 14 tahun karirnya, dengan 6 album dan beberapa single serta kompilasi, band rock asal Bali ini setia menyuarakan kepedulian akan alam dan kemanusiaan melalui warna musik yang mereka pilih, grunge.

Dalam kerasnya musik mereka bercerita mengenai pentingnya zat hijau daun, pohon, sungai yang mati, dan pantai indah yang kini tinggal mimpi. Di antara raungan gitar yang menderu mereka menawarkan renungan mengenai hidup yang monoton layaknya mesin, siaran televisi yang penuh sampah, hingga andai-andai jika kita benar menemui kiamat pada tahun 2012 nanti.

Di hadapan label besar Sony-BMG, di terjalnya jalur indie yang sunyi, di depan belasan audiens di kafe kecil Menteng, maupun di gegap gempitanya Java Rockin Land, mereka tetaplah Navicula yang sama. Entitas grunge murni yang lantang bicara soal alam dan kemanusiaan. Tidak kurang. Malah lebih.

Jika ini kali pertama Anda mendengar Navicula, sungguh itu adalah berita buruk. Bagi Anda, tentu saja! Karena itu berarti belasan tahun dari usia berharga Anda berlalu tanpa sempat sekalipun menikmati salah satu yang terbaik dari yang bisa ditawarkan oleh genre grunge, bahkan mungkin rock, negeri ini.

Berita baiknya adalah: mereka datang ke kota kita! Dan berita yang bahkan lebih baik lagi: mereka akan menyuguhkan kepada kita sebuah lagu terbaru yang mungkin bahkan belum sempat direkam, Metropolutan! Bersama Friends of Mine yang mengusung punk-rock dan Besok Bubar yang bernuansa grunge pekat (keduanya baru saja mengeluarkan album perdana akhir tahun lalu), Navicula akan menghajar kita semua selama tiga jam penuh!

Bersama, kita akan sejenak melupakan riuh rendahnya kehidupan metropolitan yang kian menjemukan. Bersama, kita akan menanggalkan beban di jiwa dan bernyanyi, ber-moshing ria, crowd surfing, hingga stage diving! Karena, percayalah, setiap kali Navicula bersuara, panggung menyala!

Kamis, 25 Februari 2009, 20:00-23:00, Mario’s Place Menteng. Datang dan nikmati polusi suara yang memabukkan dari Pulau Dewata. Navicula!

FDC Rp. 35.000,-

Info: Novi (081519561052)
Adhi (08551009620)

Reservasi : 021-39831851/2

Acara ini didukung oleh:
Mario’s Place
Pro 2 FM
Web Radio djwirya
Majalah SoundUp
Majalah LOUD
Total Feedback
Kompas.com
Rebelzine
Dapurletter.com
Web Radio Stoned College

04
Feb
10

Kitab dari Balik Jeruji

Menulis buku sebagai laku proses kreatif pikiran, sesungguhnya tak mesti dihasilkan dari tempat ‘bersih’ dan ‘nyaman’. Oleh Epung Saepudin

Ia bisa hadir dalam ruang-ruang penuh dengan kesepian dan pengawasan; dari balik jeruji atau penjara. Sebab ketika menulis dalam situasi penuh pengawasan, seperti di penjara, penulis bisa memaksimalkan ‘perkakas’ yang tersedia dalam dirinya. Perkakas itu adalah daya ingat serta rasa akan lingkungan sekitar dan apa yang dialami oleh dirinya sendiri.

Sayid Quthb memberi bukti ia mampu melahirkan tafsir Fi Zhilail Quran semasa di penjara. Buku itu dikarang Quthb dengan hanya mengandalkan daya ingat dan hafal. Magnum pus Quthb itu dihasilkan sebelum ia syahid di tiang gantungan pemerintah Gamal Abdul Nasser tahun 1996. Melihat kenyataan itu, nasihat para penulis kontemporer yang sering berkata sebelum menulis mesti mempersiapkan segala sesuatunya dengan penuh cermat dan teliti, mesti diteliti kebenarannya lagi.

Michael Focault dalam Madness and Civilization, dengan penuh keyakinan berkata; penjara tidak lain merupakan institusi yang khusus diciptakan penguasa guna mengukuhkan siapa yang sesungguhnya berkuasa atas tubuh. Penjara, masih menurut Focault, merupakan instrumen yang paling memungkinkan guna memberi dan menanamkan kedisiplinan -dari cara berpikir hingga tingkah laku- bagi siapa saja yang dianggap cenderung berbeda selera dengan penguasa.

Muncul pertanyaan, mengapa justru karya-karya yang lahir dari tempat yang ‘tidak beradab,’ penuh pendisiplinan dan pengawasan tersebut justru lahir buku-buku yang memiliki kualitas yang sukar ditandingi. Pramudya Ananta Toer semasa dibuang ke pulau Buru melahirkan buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu dan tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca).

Sangat tepat ketika Viktor Franki berkata; sesungguhnya seseorang dapat memutuskan bagaimana suatu keadaan akan mempengaruhi dirinya. Artinya apa yang menimpa terhadap tubuh sesungguhnya tidak terlalu berpengaruh terhadap pikiran kita. Tentu asal suasana hati kita sedang tetap dalam keadaan ‘suka cita’ meski tubuh terpenjara.

Mohammad Hatta merupakan contoh nyata dari ‘suka cita’ pikiran meski tubuh terpenjara. Semasa ditahan di penjara Glodok pada 1934, Hatta mampu menulis buku dengan judul Krisis Ekonomi dan Kapitalisme. Meski hanya setebal 89 halaman, buku itu berisi gabungan teori  dan pengetahuan umum tentang perekonomian dunia kala itu yang sedang dilanda krisis ekonomi Malaise.

Sosok yang tidak mungkin dilepaskan dalam kaitan buku dan penjara adalah Tan Malaka. Secara mudah kaitan itu bisa dilacak dari judul buku biografinya: Dari Penjara ke Penjara, masterpiece Tan Malaka; Materialisme Dialektika Logika (Madilog) ditulis olehnya secara sembunyi-sembunyi sewaktu ia dipenjara.

Dalam perjalanannya buku Madilog dismepurnakan Tan Malaka ketika ia berpindah-pindah dan dalam masa penyamaran karena terus diburu oleh pihak kolonial Belanda. Karya Madilog, menurut Franz Magnis Suseno, pada dasarnya ingin menghilangkan cara berpikir rakyat Indonesia yang masih sangat kuat dengan ilusi takhayul. Akibat kuatnya ilusi takhayul tersebut, menurut Tan Malaka, sangat mudah digunakan oleh pihak kolonial Belanda untuk meninabobokan daya kritis rakyat Indonesia.

Adalah Antonio Gramsci yang menuliskan buah pikiran semasa di penjara melalui lembaran sederhana. Ia tidak menulis secara utuh. Namun berupa sepihan yang diselundupkan keluar melalui adiknya. Buah pikir Gramsci dapat dilacak melalui surat-suratnya dari dalam penjara yang berhasil diselundupkan dan dibukukan menjadi Prison Notebooks. Prison Notebook, jika kita teliti dari kosakata yang digunakan ternyata disusun dengan menggunakan kata-kata yang ‘tidak lazim’. Sekadar contoh; Gramsci mengganti marxisme dengan “filsafat praksis”, kelas dengan “kelompok ssosial dominan dan bawahan.”

Hal tersebut sangat wajar. Sensor penjara Italia yang sangat ketat membuat Gramsci berpikir ulang dan mencari segala cara supaya buah pikirannya tetap bisa terlahir dan dinikmati para pejuang sebagai panduan para pejuang revolusioner dalam melawan rezim fasis Italia. Sesungguhnya, dalam menuliskan pikiran-pikiran, para penulis tersebut menggunakan segala medium yang bisa dijumpai di penjara. Nawal Saadawi, menuliskan pemikirannya melalui kertas toilet dan pensil alis mata.

Melampaui Realitas

Sesungguhnya bukan rahasia lagi jika tokoh nasional sangat menghargai buku sebagai barang yang tak bisa ditinggalkan. Bahkan dalam pembuangannya, Soekarno dan Hatta, membawa banyak buku untuk dijadikan ‘istri kedua.’ Pada akhirnya, para penulis yang terus berkarya dalam situasi yang penuh kekangan dan penindasan terus menghasilkan buku dikarenakan pemikirannya yang mampu melampaui realitas sekelilingnya. Ia tidak terkurung realitas tapi mampu menaklukannya. Maka sangat tepat kiranya Pramudya Ananta Toer berujar; menulislah, karena selagi kamu tidak menulis maka kamu akan lenyap dalam pusaran sejarah. Artinya kita jangan pasrah pada keadaan yang menimpa tubuh kita. Tubuh boleh terpenjara, namun pikiran kita tetap mampu mengembara melampaui realitas.

Maka tak salah kiranya jika ada sebagian penulis meyakini bahwa orang yang tidak berani sepi tak mungkin menjadi penulis yang baik. Artinya, seorang penulis yang mendekam di penjara sesungguhnya ia sedang mendapatkan hadiah yang tidak ternilai. Jika seperti itu, maka bisa jadi penjara memang tempat yang paling kondusif bagi seorang penulis. Mengutip Marguerite Duras; berani menyendiri, berada dalam kesepian dan keterasingan, adalah hal yang harus terjadi dalam kepenulisan. Sebagai epilog, menulis sesungguhnya suatu laku asketik, suatu kebertapaan di tengah keramaian. Sehingga bagi penulis yang (sedang) tidak terpenjara, sudah selayaknya harus bisa menghasilkan karya-karya setaraf atau melampaui Pramudya, Gramsci dan Mohammad Hatta. Namun pertanyaannya, mampukah kita?

28
Jan
10

Soundshine Event: Kings of Convenience & Jens Lekman

25
Jan
10

Village of the Villains: Menggugat Fenomena Kebisingan

Minggu, 09 Januari 2010, Village of The Villains Part 1 diadakan di Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Saya cukup terkejut dengan tempat yang digunakan karena banyak rumor yang mengatakan tempat yang dimaksud sulit untuk ditembus perizinannya. Tapi, ternyata, para panitia gelaran ini telah berhasil mengadakan acara di tempat tersebut.

Acara yang direncanakan mulai pukul 16.00 WIB ternyata molor hingga lepas kumandang azan maghrib. Shera (MC) pun ikut berkumandang setelahnya untuk mempersilahkan penonton masuk ke area. A.L.I.C.E band asal Jakarta menjadi pembuka dalam acara tersebut dengan menghantarkan tiga lagu berdurasi singkat sebagai pemanasan menuju band-band selanjutnya.

Setelah pemanasan, dilanjutkan dengan aba-aba ‘siap-siap’ menuju penampilan Serigala Jahanam. Penyetelan alat-alat musik yang cukup lama membuat saya sedikit lesu. Akhirnya, penampilan Serigala Jahanam dimulai ketika salah satu personil bandnya tiba. Saya pun terhanyut dengan suara-suara yang dihantarkan oleh Serigala Jahanam hingga dianggap seperti orang bego.

Setelah saya menjadi orang bego, Mati Gabah Jasus pun siap unjuk kebolehan sesuai daftar main. Sebuah kejutan menghampiri saya ketika satu perempuan terselip dalam band ini dengan memegang terompet. Kemudian, atensi saya teralihkan kepada salah satu alat permainan anak-anak yang dibawa salah satu personil, apa fungsinya ya? Dan kemudian, Mati Gabah Jasus pun memulai penampilannya hingga berakhir pada salah satu personil yang menggelinjang menuju kerumunan penonton. Tapi penonton tetap terdiam. Wow!

Kemudian, dua laki-laki berbaju hitam memasuki area panggung. Yang satu sibuk membawa laptop dan iPod-nya, dan yang satu lagi sibuk membawa kipas, sarung, dan kertas. Maverick yang katanya hanya satu orang, kini dibantu oleh lelaki pemegang kipas. Memang, peralatannya sederhana. Namun, sang pemegang kipas sibuk ’menyanyikan’ tulisan-tulisan di kertas yang di dalamnya terselip lagu-lagu daerah. Aksi puncak sang pemegang kipas ditandai dengan suara jeritannya sambil melakukan aksi kayang. Saya juga terkagum-kagum dengan pembacaan tulisan yang bertempo sangat cepat. Saya pun bertepuk tangan untuk mereka berdua.

”Orang-orang sarkastik katanya berkumpul di Sarcazztic Death,” ujar saya dalam hati. Kemudian, mereka pun memberikan pernyataan yang dilabelkan oleh Shera sebagai kalimat yang sarkastik sekali. Tanpa peranan seorang pemegang bass, mereka berhasil membakar GIM, hingga akhirnya para penonton dapat melakukan joglin-joglin (joged disiplin seperti kata Shera -ed).

Individual Distortion yang mungkin orang-orang kira hanya terdiri dari seorang saja, ternyata menampilkan permainan distorsi dari berbagai orang. Adythia Utama, sang individualis sebenarnya ternyata menggandeng beberapa rekannya untuk penampilannya kali ini. Mereka berhasil membuat penonton menyepi kembali setelah sebelumnya terbakar.

Empat keyboard tersedia dalam panggung saat Duck Dive dan Hotel Prodeo akan segera mempertontonkan sebuah aksi. Saya kira mereka akan menampilkan permainan piano klasik, tapi, ternyata tidak. Musik-musik yang mereka hasilkan cukup membuat penonton mengawang dan mengingatkan saya akan sesuatu hal. Namun, bagi saya, suara-suara yang dihantarkan mereka memberi sesuatu yang berbeda dalam acara tersebut.

Kemudian, permainan Shoah dan Obsesif Kompulsif hanya bisa saya dengarkan dari luar ruangan. Setelah cukup bernapas di luar ruangan, saya pun memasuki area lagi, menunggu penampilan Aneka Digital Safari (ADS).

Penampilan mereka bagi saya merupakan penampilan yang sangat layak dari tuan rumah. Hingga saya khawatir penonton tidak memperhatikan gambar-gambar pahlawan yang bergoyangan di kanan-kiri ruangan pertanda akan rubuh. Tepuk tangan bergemuruh keras usai ADS menuntaskan aksinya.

ZOO, band asal Jogjakarta memiliki massa yang secara khusus menantikan aksi mereka. Saya telah mendengar beberapa pernyataan dari berbagai orang yang menyatakan ketertarikan akan band ini. Kali ini adalah kesempatan pertama saya melihat mereka beraksi di GIM. Aksi mereka digemuruhi oleh nyanyian-nyanyian para penonton yang melantunkan lagu mereka. Para personil bertelanjang dada dan semakin memperpanas suasa GIM. Performa mereka memukau!

Proletar yang beraksi sekitar pukul 22.30 WIB merupakan pertunjukkan penutup bagi saya. Pahala dan DJ Urine yang telah jauh-jauh datang dari Prancis pun tidak sempat saya lihat. Suasana GIM masih ramai dengan tempat parkir yang penuh dengan berbagai macam kendaraan. Saya jadi teringat omongan Shera sebagai penutup laporan yang tak becus ini, ”moga-moga ada part 2, part 3, dan seterusnya.” Ya, semoga..

Teks: Resna Ria Asmara/Foto: Bebe Lipschitz

22
Jan
10

Besok Bubar – Album Launching

17
Nov
08

Adit Bujbunen Al Buse’s: Maujud – The Soundtrack

back-cover-lo-res2

Adit Buj bunen Al Buse’s – Maujud: The Soundtrack/ LP/Pro-CDR (self released, 2008 )

Ini dia salah satu karya dari bedroom musician lokal Adit Bujbunen Al Buse. Adit adalah seorang sarjana seni jebolan Institut Teknologi Bandung. Saat ini ia masih aktif  sebagai pelaku seni grafis. Diluar rutinitasnya yang terkait dengan gambar-menggambar dan desain-mendesain, ia juga seorang musisi penyuka musik cadas dan pecandu bebunyian aneh namun kreatif.

Bersama Karbala bukan fatamorgana. (Kbf.), band experimental-political hiphop yang dibentuk bersama sahabatnya Sam pada tahun 2006, ia mencoba mengekspresikan kegemarannya dalam mengolah musik dan menjadi pencabik bass. Saat ini ia dan Sam sedang menyelesaikan penggarapan EP pertama Kbf. yang kerap tertunda dan diberi titel Sinapang Masin. Rencananya EP tersebut akan rilis dalam waktu dekat.

Namun, karena rasa haus dan penasarannya terhadap segala bentuk dentingan bunyi dan suara dari berbagai sumber, kemudian menyulut sisi kreatifnya untuk membuat komposisi musik lain yang aneh namun menarik. Menarik, setidaknya bagi mereka yang kerap mengkonsumsi musik hasil eksperimentasi dan pencari bebunyi yang tidak biasa. Dan ia pikir butuh ruang lain selain Kbf. untuk ia tuangkan ide-ide tersebut.

Dan mungkin berlatar dari sanalah album berjudul MAUJUD – THE SOUNDTRACK, sebuah soundtrack dari film fiksi horror fiktif berjudul MAUJUD ini coba dihadirkan olehnya bagi anda-anda sekalian untuk dicicipi.

Album MAUJUD – THE SOUNDTRACK ini merupakan kompilasi track beberapa karya Adit Bujbunen Al Buse dari sejumlah music/sound project yang pernah diciptakannya. Baik project pribadi maupun project kolaborasi dengan beberapa musisi/sound artist Indonesia seperti Dee Gothesque (Starsun), Danif Pradana (Kalimayat/Khuruksetra/ApocalypseJihad/Gagak) dan Halim Budiono (Cranial Incisored).

Materi yang dihasilkan berupa pesta pora perpaduan dari musik dan non-musik, masinal dan manual, digital dan analog, melodi dan bebunyi. Jika ingin melabelkan album ini sebut saja genre yang terpintas, electronica, metal, horrorcore, hiphop, field recording, gabber, triphop, power electronics, jazz, noise, folk, poetry, atau jika malas menyebutnya, term experimental bisa lebih mewakili. Jika ingin dikeren-kerenkan, avant-garde bisa lebih terdengar ‘mbule’ sepertinya. Atau ‘musik gak jelas’ mungkin akan terdengar lebih gaul.

Dan untuk mencoba memahami hasil perpaduan suara, berbagai bebunyian digital ataupun manual yang dihasilkan dari rasa penasarannya, berikut sedikit gambaran track by track dari album ADIT BUJ BUNEN AL BUSE’S MAUJUD – THE SOUNDTRACK.

Track 1: ZonabeastoPadang Kebuasan

Sebuah track bergaya instrumental horrorcore/hiphop yang digabungkan dengan disfigurisasi suara-suara manusia. Sebuah track yang dijadikan intro pembuka album ini. Seperti layaknya track pembuka opening title sebuah film.

Track 2: Ketika Purnama Tiba – Mimpi Mencekam

Sebuah track yang berisikan kegirangan Adit Bujbunen Al Buse dalam bermain dengan ambiensi disfigurisasi suara manusia yang menimbulkan nuansa eerie diberi tambahan beat drum yang progressif.

Track 3: Gothesque & the pond of thousand sad faces – Muisto

Ini adalah proyek Adit Bujbunen Al Buse dengan Dee Gothesque. Seorang vokalis wanita dari sebuah band industrial darkwave, Starsun. Dalam track ini Adit melakukan sebuah eksperimentasi penggabungan pembacaan puisi dengan sampling dan nada-nada elektronis. Sebuah track yang sarat akan nuansa surreal, kesedihan dan mencekam.

Track 4: Karbala bukan fatamorgana. – Dasawarsa Memburam Asa

Satu track yang dibuat Adit Bujbunen Al Buse dari single Karbala bukan fatamorgana. Sebuah band experimental-political hiphop. Bergaya spoken words dilatarbelakangi dengan beat hip-hop dan diselingi dengan permainan disfigurisasi suara-suara manusia.

www.myspace.com/karbalabukanfatamorgana

Track 5: Aditya Saputra & Danif Pradana – Unfinished Business

Ini adalah track kolaborasi Adit Bujbunen Al Buse dengan Danif Pradana, seorang noise artist dari Kalimayat/Khuruksetra/Apocalypse Jihad/Gagak yang bermukim di Australia. Sebuah eksperimentasi penggabungan disfigurisasi suara, swing jazz, improvisasi jazz solo bass analog Adit dan sebuah sound hasil teknik field recording yang dilakukan oleh Danif. Track ini adalah salah satu track yang dikerjakan untuk proyek Adit yang lain bernama Udanwatu.

Track 6: LeppenGenni – Cekik, Cekam, Menghujam & Hancurkan

Dalam track di proyek ini Adit Bujbunen Al Buse melakukan sebuah eksperimentasi penggabungan bernyanyi bergaya folk dan teknik field recording. Adit melakukannya secara spontan dengan merekam suara-suara environtment di sekitar lalu diberi tambahan permainan efek reverb untuk menambahkan ambiensi bernuansa magis.

Track 7: Udanwatu – Kala Fajar Hitam Menyingsing

Udanwatu adalah proyek yang dibuat Adit Bujbunen Al Buse bersama musisi dan sound artist dari berbagai macam genre. Dalam track ini ia bekerjasama dengan Halim Budiono seorang gitaris band Chaotic Hydro Grind Math Metal, Cranial Incisored dari Yogyakarta. Adit dan Halim benar-benar berpesta pora dalam track ini. Adit dengan permainan disfigurisasi suara serta sampling dan Halim dengan chaotic guitar shreddingnya ditambah sweet chord jazzynya yang benar-benar menghajar hingga terkapar.

Track 8: Mereka… – Di Sebuah Kamar Mandi

Track ini diambil dari proyek monstrous ambient/sound-design Adit Bujbunen Al Buse, Mereka… Sebuah track yang berisikan sound-sound dan ambient bernuansa monster dan makhluk. Dalam track ini Adit bereksplorasi dengan merekam suara-suara dari sekitar dan peralatan rumah tangga juga disfigurisasi suara-suara manusia. Hingga tercipta sebuah desain suara yang filmis.

www.myspace.com/merekadidalamsana

Track 9: Somno Disturbia – Eulogi Arsenikum (ERK Di Udara Remix)

Ini adalah proyek remix Adit Bujbunen Al Buse. Track ini adalah hasil remix dari sebuah lagu milik band pop/shoegaze, Efek Rumah Kaca berjudul Di Udara. Dalam track ini Adit mencoba menggabungkan unsur-unsur elektronis, post-rock dan noise dengan tambahan beberapa footage. Nuansa gloom trip, monotonic yang surreal coba dihadirkan oleh Adit dalam kemasan track berdurasi 5:06 menit ini.

myspace

Kontak & info album: 0856 9207 3535 / 0813 8998 8776

17
Nov
08

Album Untuk Munir (Press Release)

n20203342199_4573

“Untuk Munir”

Album Para Pencari Keadilan

“Mengenang Munir harus dengan semangat. Rock penuh semangat.” [Full Respect]

“Banyak yang pintar dan pandai berpolitik, tapi tak setulus Munir.” [Asfinawati]

Musik adalah bahasa universal yang bisa dinikmati oleh semua orang. Bahasa musik acap kali dipakai untuk mengenang kejadian-kejadian lampau yang mengandung momen sejarah, baik itu individual maupun kolektif. Musik juga kerap dipakai untuk menyebarluaskan gagasan, protes, bahkan cita-cita. Pada kedua konteks itulah, nilai musik menemukan ruang, waktu dan citranya.

Terkait dengan musik, Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (KASUM) dan kantor berita radio KBR68H sejak akhir tahun 2007 hingga sekarang menggelar serangkaian kegiatan lomba cipta lagu untuk Munir. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai bagian dari rangkaian kampanye penuntasan kasus Munir dan penyebarluasan gagasan serta keberanian Munir dibidang Hak Asasi Manusia.

Rangkaian kegiatan tersebut berupa, pengumpulan materi lagu untuk lomba, penjurian, pengumuman pemenang, produksi album dan launching. Untuk itu dengan penuh kerendahan hati, kami mengharapkan kerjasama dan bantuan dari teman-teman radio dalam mempromosikan album “Untuk Munir”.

Kegiatan ini didukung dan melibatkan banyak pihak. Ada Jockie Soerjoprajogo [musikus] dan Trie Utami [penyanyi] yang bersama Usman Hamid [aktifis] menjadi juri dalam lomba cipta lagu. Mereka telah menilai 132 peserta lomba dengan penuh pemaknaan dan penghayatan hingga mampu memilih sepuluh lagu terbaik dengan berbagai jenis aliran musik, mulai dari rock, blues, jazz hingga alternatif.

Album ini juga merupakan cermin bagaimana orang-orang menilai dan melihat sosok Munir. Para artis yang dalam kesehariannya punya aktifitas yang beraneka, mulai dari anak band, PNS, praktisi hukum sampai penjual soto. Mereka menerjemahkan sosok Munir ke dalam lirik dan syair lagunya sesuai dengan pengetahuan dan pengenalan mereka akan tokoh Munir, kiprahnya sebagai pejuang hukum dan HAM, serta kasus pembunuhan yang dialami.

Asfinawati adalah artis yang cukup dekat dengan figur Munir. Ketua LBH Jakarta ini menulis lagu ’Cahaya’. Sepertinya, ia mencoba merasakan, menyelami dan masuk ke dalam diri Suciwati, istri Munir, sosok perempuan yang ditinggal pergi pasangan hidup untuk selamanya. ’Cahaya’ dikemas dengan sentuhan jazz dengan suara piano yang dominan.

Di tengah kemarau tokoh pahlawan, Munir dianggap bisa mewakili figur ini. Munir dipandang sebagai pejuang yang berani, tidak kenal lelah, tulus, tanpa pamrih. Ada dua lagu yang menempatkan Munir sebagai sosok pahlawan. Doddy BJ dengan lagu ’Pahlawan Sejati’ dan Neps dengan ’Selamat Jalan Pahlawan Hak Asasi’. Doddy adalah PNS di Yogya merangkap penyanyi kafe. Sementara Neps adalah sebuah band keluarga dari Jakarta beranggota Dama Gaok [ayah – drummer], bersama keempat anaknya: Dosi [Bass & Vocal], Mila [Keyboard], Greep [Guitar] dan Riva [Violin].

Manusia langka. Itulah pendapat Jeffar L. Gaol, seniman musik yang karyanya sering dipakai untuk pertunjukan teater dan sinetron. Saking langkanya, ia yakin tidak akan lahir Munir-munir yang lain. Jebolan IKJ ini mempersembahkan lagu ’Blues Untuk Munir’. ”Munir adalah seseorang dengan gagasan yang membuat kita lebih manusiawi dan humanis,” ujarnya.

Munir adalah juga inspirasi di tengah rasa takut. Ia senantiasa menyalakan lilin-lilin keberanian ke sekelilingnya. Hidupnya penuh dengan perjuangan dan teror. Watak berani membela kebenaran ini memberi inspirasi Amir Sadewo, si penjual soto dengan hobi main gitar, untuk menulis lagu ’Masihkan Kita Takut’. Lewat karyanya, Amir berpesan bahwa orang tidak boleh melakukan kekerasan, penghilangan, pemaksaan kepada yang lain.

Nama arsenik lansung melejit bersamaan dengan pembunuhan Munir. Ini adalah sejumput serbuk racun yang menghentikan nafas Munir kala terbang bersama Garuda ke Belanda tahun 2004. ‘Arsenikum’ dipilih oleh Rengga Yudhistira sebagai judul lagunya untuk menandai momentum pembunuhan Munir.

Munir adalah tokoh besar yang membela orang-orang kecil. Hari-hari Munir tidak beda dengan kebanyakan. Naik motor ke kantor. Gemar ngelus-elus ayam jago sebagai hobi kala di rumah. Hidup Munir dipertaruhkan buat sesama. Ben & Friends, band dari Bandung, memetik potret Munir ini ke dalam lagu ’Before You Go’ yang kental dengan sentuhan country. “Buat Munir, gitu. Apa sih yang nggak kita korbanin? Munir aja berkorban untuk kita,” kata Ben.

Lagu ‘Untukmu’, lahir dari tangan Nur Iman oleh sebab yang terbilang sepele. Ia bertetangga dengan seorang dokter. Namanya Jamal, adik kandung almarhum Munir. “Biar Jamal dengar,” ujar Nur Iman.

Lagu ’paling keras’ dalam album ini adalah ’Mr. Ham’ karya Full Respect. Sebetulnya, lagu ini tidak dibuat khusus untuk Munir, tapi diakui terinspirasi oleh kematian Munir. Band bawah tanah yang diawaki diawaki Pay, Gana, Dedi, Tomi, Dani dan Nyong Kunci ini memang spesialis band berlirik kritik sosial. “Mengenang Munir harus dengan semangat. Rock penuh semangat,” kata Pay.

Aliran Modern Funk Rock juga hadir di album Untuk Munir lewat lagu ’Pain’, karya Ovalenz. Band asal Sidoarjo, Jawa Timur ini menulis lirik lagu Munir dalam bahasa Inggris seperti lagu ‘Before You Go’. Formasi Ovalenz adalah Rima [vokal], Ryan [gitar], Nazar [bass] dan Tito [drumer]. Band yang meraih berbagai kejuaraan ini punya motto : Life for Music not music for Life!

***

Ide membuat album Untuk Munir bukan berangkat dari keinginan untuk mencicipi manisnya bisnis musik. Melainkan oleh sebuah niatan kecil untuk turut memberi dukungan moral bagi upaya pengungkapan kasus pembunuhan Munir. Jejak kematian pejuang HAM masih meninggalkan tandatanya besar: siapakah sebetulnya dalang di balik pembunuhan.

Sejauh ini, upaya membuka dengan terang kasus Munir sudah banyak dilakukan oleh berbagai kelompok melalui jalur hukum dan politik. Tanpa meninggalkan apa yang sudah dilakukan, kami mencoba menggaungkan isu Munir lewat bahasa yang lebih bergaya dan populer. Membuat album musik menjadi pilihan sebab musik adalah bahasa universal.

Dengan album musik, Munir yang tadinya hanya menjadi urusan para pegiat HAM, aparat keamanan dan konsumsi politik para politikus, diharapkan bisa masuk ke komunitas dan ruang-ruang yang kental dengan gaya hidup dan budaya pop. Minimal orang akan bertanya: ”Siapa sih Munir? Kenapa Munir?”. Album Untuk Munir sekaligus merupakan cara kami memberi semangat kepada pemerintah untuk tidak ragu membuka tabir di balik pembunuhan. Keadilan Untuk Munir, keadilan bagi kita semua.

Eko Sulistyanto

Head of Promotion KBR68H

021-8513386

021-8513002 [fax]

08161314906

17
Nov
08

Bullet For My Valentine: Pengusung Metal Kekinian

1280x1024c_bfmv2Setelah sukses dalam penyelenggaraan konser Avenged Sevenfold untuk kedua kalinya di Tennis Indoor Senayan beberapa waktu lalu, saat ini JAVA Musikindo telah menandatangani kontrak dengan management band metalcore asal Inggris, Bullet For My Valentine. JAVA Musikindo telah menjadwalkan penyelenggaraan konser BfMV pada 04 Februari tahun 2009 mendatang di Tennis Indoor Senayan, Jakarta.

Hingga saat ini, Bullet For My Valentine, yang beranggotakan Matthew “Matt” Tuck (vocals, guitars), Michael “Padge” Paget (guitars), Michael “Moose” Thomas (drums), Jason “Jay” James (bass) telah merilis 4 album. Tepatnya 2 EP, “Bullet For My Valentine” (2004) & “Hand of Blood” (2005) dan 2 full album, “The Poison” (akhir 2005) & “Scream Aim Fire” (2008).

Bullet For My Valentine bermula dari sebuah band cover version bernama 12 Pints of My Girlfriend’s yang dibentuk sekitar tahun 1997. Band ini kerap kali meng-cover lagu-lagu milik Metallica dan Nirvana ketika perform. Pada tahun 2002 mereka mematangkan materi dan akhirnya menelurkan EP bertajuk “You/Play With Me” dimana saat itu identitas band mereka telah berubah menjadi Jeff Killed John.

Jeff Killed John kemudian terinspirasi oleh Korn dan Limp Bizkit yang ketika itu sedang tenar-tenarnya bernaung dibawah genre nu-metal. Mereka pun mengumpulkan materi berikutnya untuk membuat full album. Namun sangat disayangkan ketika akan masuk dapur rekaman bassis mereka, Nick Crandle hengkang dari band. Rencana rekaman pun saat itu batal sampai mereka mendapatkan bassis pengganti, Jason James (bassis mereka hingga saat ini).

Ketika Jason James masuk sempat terjadi sebuah pergolakan batin di band. Musik nu-metal yang mereka usung sudah tidak trend lagi, padahal materi album sudah siap. Mereka pun berkesimpulan bahwa jiwa bermusik mereka bukan di nu-metal. Singkat cerita mereka berubah aliran musik menjadi metalcore dengan identitas baru Bullet For My Valentine pada tahun 2003. Sejak saat itulah nama mereka mulai terdengar.

Bahkan untuk sekelas band baru dengan musik metalcore yang terdengar berbeda, Bullet For My Valentine meraih prestasi yang cukup baik. Produksi EP self-titled mereka “Bullet for My Valentine” cukup sukses mendapat tanggapan di Inggris. Begitu juga dengan EP kedua mereka, “Hand of Blood”. Respon signifikan terlihat saat debut full album mereka dirilis akhir tahun 2005. Mereka pun mulai diperhitungkan di kancah musik metal dunia.

Begitu juga dengan album baru mereka, “Scream Aim Fire” yang rilis di Indonesia bulan April 2008 lalu. Influence bermusik mereka dari band-band gaek macam Metallica, Pantera, Iron Maiden, Machine Head, Megadeth semakin memperjelas perbedaan musik mereka diawal-awal dengan sekarang. Dari nu-metal kini lebih mengarah ke old school thrash metal. Bahkan ketika album “Scream Aim Fire” dirilis banyak yang berkata bahwa Metallica adalah kompetitor terberat mereka tahun ini. Benarkah sehebat itu mereka?

Kita lihat saja pembuktian mereka kepada metalheads Jakarta nanti? Mari kita tunggu JAVA Musikindo memastikan kedatangan Bullet For My Valentine bulan Februari 2009 mendatang.

teks: zelva wardi/rz

19
Nov
08

Album Baru Efek Rumah Kaca “Kamar Gelap” Segera Dirilis

blog_112266438348508

Efek Rumah Kaca ”Kamar Gelap” /LP/CD (Aksara Records/Coming Soon, 2008 )

Tepat sebulan lagi, Jumat, 19 Desember 2008 sophomore album efek rumah kaca “Kamar Gelap” resmi dirilis. Banyak yang menilai rilisan kedua erk ini terlalu cepat, karena hanya berselang setahun lebih sedikit dari debut album self-titled mereka. Walau demikian tak sedikit juga yang menantikan rilisan baru ini. Entah karena sudah bosan dengan materi-materi lama dari album pertama atau memang penasaran dengan karya satir lewat lagu-lagu mereka, yang jelas erk memiliki stock lagu yang cukup hingga beberapa album ke depan.

Jadi maklum saja kalau mereka juga tak mau berlama-lama menimbun karya-karyanya. Dua belas track sudah mereka rampungkan dan siap memanjakan kuping-kuping kalian. Apakah content-nya akan seterpuji album pertama mereka, ataukah justru kritikan yang akan menghujani Kamar Gelap”, kalian akan bisa mengomentarinya nanti.

Sedikit bocoran saja, perpaduan audio & fotografi memenuhi artwork cover album Kamar Gelap”. Ada 12 foto hasil bidikan, temuan dan gubahan Angki Purbandono (aktivis fotografi ruang mess 56 jogja) yang direncanakan sejak bulan Juni lalu untuk dijadikan cover dan pelengkap kemasan album Kamar gelap”. Dan rencananya ke 12 foto karyanya akan dipamerkan pada saat peluncuran album kedua erk tersebut.

Bocoran lainnya, erk akan mengeluarkan 2 versi packaging rilisan album Kamar gelap” yaitu versi CD dan versi bajakan. Untuk versi CD ukuran dan style-nya akan sama seperti layaknya CD, tapi didalamnya disertakan 12 foto-termasuk front cover dan back cover dalam packagingnya. Sedangkan untuk versi bajakannya adalah bentuk ’paket hemat’nya agar semua khalayak dapat menikmati juga ide-ide dari erk. Namun, versi bajakan ini tampilannya tentu akan berbeda dengan versi CD.

Sedangkan mengenai content lagu-lagu dari album ”Kamar Gelap” apakah hasilnya mengecewakan atau tidak, rapi atau terkesan buru-buru, akan dipuji atau dicaci semuanya akan kami ulas setelah album mereka resmi rilis pertengahan Desember nanti. Tapi bukankah materi pra-rilisnya sudah ada yang dibawakan beberapa di setiap aksi panggung erk. Bahkan dalam kesempatan wawancara di radio otomotion bulan juli lalu, 5 materi album ”Kamar Gelap” seperti ‘Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa’, ‘Jangan Bakar Buku’, ‘Mosi Tidak Percaya’, ‘Lagu Kesepian’ dan ‘Ballerina’ untuk kali pertamanya di udarakan.

Begitu juga ketika erk tampil dalam acara pameran foto tunggal Ary Sendy di galeri ruang rupa bulan ramadhan, 19 September lalu. Malahan dalam showcase tersebut hampir semua bocoran lagu di album “Kamar Gelap” dibawakan. Jadi, saya pikir pastilah kawan-kawan sudah bisa me-reka-reka seperti apa kiranya suguhan materi lagu di album baru erk nanti.

Jadi, bersabarlah menunggu ”Kamar Gelap” tak lama lagi. Rebelzine juga akan memuat interview ekskusifnya disini. Just wait and see!!

teks: zelva wardi

Track list:

  • Tubuhmu Membiru… Tragis
  • Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa
  • Mosi Tidak Percaya
  • Lagu Kesepian
  • Hujan Jangan Marah
  • Kenalakan Remaja di Era Informatika
  • Menjadi Indonesia
  • Kamar Gelap
  • Jangan Bakar Buku
  • Banyak Asap di Sana
  • Laki-Laki Pemalu
  • Balerina

19
Nov
08

Tribute to Weezer

tributetoweezer

22
Nov
08

Aksi “Berisik” Behemoth di Jakarta/Viky Sianipar Music Center [03/11/2008]

Senin, 03 November 2008, Viky Sianipar Music Center tampak tak seperti biasanya. Pasalnya tempat ini biasa dipadati aktifitas baik acara musik atau acara lainnya diakhir minggu atau menjelang weekend. Tapi tidak dengan sore hingga malam hari itu. Adalah kawan-kawan dari Mighty Syndicate, promoter lokal untuk pagelaran musik-musik berisik yang mewujudkan sebuah hajatan besar diawal minggu.

Tak tanggung-tanggung band extreme metal primitive dari Polandia, Behemoth digandeng Mighty Syndicate ke Jakarta untuk menggoncang tempat itu. Behemoth datang untuk menghibur para penggemarnya di Jakarta dalam rangkaian konser promo album “The Apostasy/2007” bertajuk Asian Apostasy Tour 2008. Saya yang telah hadir sekitar pukul 16.30 di venue bersama seorang kawan lumayan penasaran dengan penampilan band yang telah eksis selama 17 tahun tersebut. Tipikal gitar, bass, drum dan vokal yang ekspresif tampaknya akan menjadi suguhan yang memekakkan gendang telinga.

after-all-over3

Guyuran hujan yang cukup lebat & merata di Jakarta sore itu hampir membuat sepi gelaran tersebut. Walau penonton hadir sejak sore, tapi terlihat tak terlalu signifikan untuk kapasitas hall yang mampu menampung 1000 orang di Viky Sianipar Music Center. Dan sepertinya penundaan dilakukan hingga hujan benar-benar reda. Mungkin untuk memastikan limited ticket yang disediakan panitia benar-benar telah habis. Setelah hujan mulai mereda ba’da isya, barulah perlahan-lahan para metalheads lokal berbondong-bondong menghampiri ticketing. Tiket dibanderol seharga Rp.150 ribu.

Baru sekitar pukul 20.00 acara dimulai. Sebagai informasi, venue Vicky Sianipar Music Center yang digunakan untuk konser Behemoth bukanlah venue yang biasanya digunakan untuk gigs band-band lokal. Melainkan hall khusus yang berada di sebelah kanan dari pintu masuk, dekat parkiran. Walau tak terlalu besar, namun cukup eksklusif dan tertata rapih. Tribun kecil untuk rekan-rekan wartawan yang akan mendokumentasikan konserpun tersedia disini. Sehingga cukup nyaman bagi media untuk mengambil gambar dari atas tribun tersebut.

funeral-inception1

Perhelatan Mighty Syndicate pun dimulai. Band-band pendukung langsung dirundung tampil bergantian. After All Over, Funeral Inception dan Death Vomit. After All Over didaulat tampil diawal. Meski sebagian penonton masih memilih diluar ketika mereka tampil, para personil After All Over tetap tampil prima. Tak terlalu mengecewakan, walau masih terasa kosong. Di lagu ke-3 mereka sempat mengajak gitaris Siksa Kubur, Andre untuk berkolaborasi. Lumayan untuk menghibur kawan-kawan metalheads yang sedikit kecewa karena Siksa Kubur batal tampil. Japra, sang vokalis dikabarkan sakit tenggorokan. Tapi saya melihatnya tetap menyempatkan diri bergabung di kerumunan penonton.

Usai After All Over, Funeral Inception mengambil alih panggung. Penonton mulai padat dan nampaknya cukup banyak juga yang ingin melihat penampilan band ini, walau tidak demikian dengan saya. Penontonpun mulai terpancing untuk moshing dan ber-headbanging. Dibanding band sebelumnya, musik mereka lebih terisi. Sound yang mereka keluarkan terdengar maksimal. Dan lagu ‘Surga Di bawah Telapak Kaki Anjing’ sepertinya sudah familiar di kuping penonton.

funeral-inception22

Lanjut dengan penampilan Death Vomit ketika penonton sudah cukup ramai. Band jogja ini berhasil meliarkan para metalheads yang hadir sebelum Behemoth muncul. Tiga puluh menit jatah tampil mereka maksimalkan dengan baik. Setelah Death Vomit panggung dibiarkan kosong selama kurang lebih 30 menit. Penonton diberi kesempatan untuk mengambil nafas sejenak dan mengendurkan urat saraf sebelum dedengkot-dedengkot metal dari Gdansk, Polandia ini mengguncang Viky Sianipar Music Center.

Setelah dibuat lama menunggu baru sekitar pukul 22.10, Adam “Nergal” Daski (vokal/gitar), Tomasz “Orion” Wróblewski (bass), Zbigniew Robert “Inferno” Promiński (drum), dan dibantu Patryk Dominik “Seth” Sztyber (gitar) muncul dihadapan ratusan penggemarnya di Jakarta. Gemuruh penonton membahana sambil mengacungkan jari metalnya. “Goodnite Jakarta!!,” suara Negal sang vokalis terdengar garang menyapa, yang kemudian disambut penonton dengan teriakan.

death-vomit3

Untuk setlist mereka saya tidak hafal betul. Yang jelas mereka memainkan sekitar 15-an lagu berikut tambahan encore 1 lagu. Sebagian besar lagu yang mereka bawakan berasal dari album “The Apostasy/2007”, diantaranya ‘Prometherion’ dan ‘Slaying The Prophet ov Isa’. Selebihnya dari album-album mereka sebelumnya. Seperti lagu-lagu dari album “Demigod” yaitu ‘Conquer All’ dan ‘Slaves Shall Serve’.

Di tengah-tengah pertunjukan para personil Behemoth sempat mengeluhkan merasa tak nyaman dengan jepretan cahaya kamera dari rekan-rekan fotografer dan beberapa kamera penonton. Meski demikian mereka tetap tampil menggila dan nyaris sempurna setelah itu.

death-vomit22

Aksi keempat personil Behemoth terlihat sangat enerjik, powerfull dan tanpa lelah. Dukungan lighting yang terkesan megah dan sangat pas mengiringi hentakan musik Behemoth juga menjadi nilai tambah. Begitu juga dengan sound system yang terdengar bersih dan maksimal. Sangat berhasil membuat pekak telinga dan memusingkan kepala. Sangat keras untuk ukuran pertunjukan indoor. Bagi mereka yang larut dalam dentuman dan hentakan setiap lagu yang dimainkan Behemoth pastilah akan sangat menikmatinya. Benar-benar sebuah pertunjukkan diawal minggu yang melelahkan.

Terima kasih dan salut untuk Mighty Syndicate.

teks: zelva, foto&video: adit/rz

crowd2

26
Nov
08

ZOO – Kebun Binatang

sleeve_art_zoo_01

ZOO – Kebun Binatang/mp3 (Yes No Wave/2007)

Untuk sebagian orang mungkin belum terlalu mengenal band bernama Zoo ini. Tapi, bagi yang sering kali mengunduh rilisan-rilisan ciamik nan edan dari Yes No Wave, sebuah net-label yang disinyalir net-label lokal pertama asal Jogja, mungkin sudah tidak asing dengan band keren dan unik ini. Lupa tepatnya kapan Yes No Wave merilis demo album milik Zoo yang bertitel “Kebun Binatang” ini. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah mereka ada dan memiliki karya yang berbeda. Ya, karena saya belum pernah menemukan rilisan musik yang beda macam ini. Walaupun saya tidak pintar mengkategorikan musik, tapi mereka memiliki komposisi lagu yang cukup unik. Perpaduan etnik dan unsur matematis dalam lagu cukup membuat orang mumet mendengar lagu-lagunya. Namun, bagi kalian yang mencari unsur beda dalam sebuah band, Zoo saya rekomendasikan.

Rilisan ini cuma berisi 6 lagu dengan keseluruhan trek yang berdurasi hanya 14 menit 2 detik. Meskipun mereka hanya bertiga, tapi bisa dirasakan sebuah sentuhan musik yang terkonsep dan sangat tidak lazim. Tipikal permainan drum yang menghentak dengan tempo cepat dan sulit ditebak. Begitu juga dengan suara vokal yang tidak umum dan tidak biasa. Coba saja dengarkan. Anda akan mendengar seperti sedang dibaca-bacai mantra oleh sang vokalis seolah Anda sedang kesurupan. Atau mungkin anda mendengar malahan sang vokalis band ini yang kesurupan..hehe.

Ketiga orang dalam band ini memang kreatif. Mereka tidak asal-asalan dalam membuat sebuah karya musik. Semuanya terkonsep begitu baik. Mencoba menghindarkan permainan yang setipe dengan band lain dan terkesan itu-itu saja. Mereka membuat sebuah produk musik yang layak acungan jempol. Untuk lirik, nah itu yang saya bingung. Apa sekiranya yang ingin mereka sampaikan dengan gaya bernyanyi seperti itu. Ada atau tidak?

Namun, menurut informasi seorang kawan, Zoo selain terkonsep dari segi komposisi musik, mereka juga tidak melupakan konten lirik dalam lagu. Semua liriknya berkisar tentang peradaban modern yang semakin menjauhkan manusia dari alam dan lingkungannya. Anda bisa lihat desain cover rilisannya. Mungkin cukup menggambarkan apa yang ingin mereka sampaikan. Impact peradaban modern karena industri. Hanya saja lirik mereka ini tidak “bernyanyi” layaknya lantunan merdu nan syahdu ala Krisdayanti atau Ruth Sahanaya. Demi mempertahankan ciri khas yang unik dari komposisi nada lagunya mereka mengemas liriknya dalam puisi. Hanya saja ya begitu itu penyampaian pusinya, seperti orang kesurupan, hehe.

Untuk unsur etnis terdengar sekali di awal-awal lagu ‘Takluk’,sedangkan di pertengahan lagu hingga selesai jadi sangat terdengar rumit dan susah ditebak permainan nadanya. Sedangkan ambiensi berisik dan noisy terdengar di lagu pertama yang singkat, ‘Manekin Bermesin’. Walaupun lagu lain tak kalah rumitnya. Hufh, entah seperti apa mereka jika tampil live. Saya penasaran melihat aksi panggung mereka. Apakah mereka bisa bermain sebaik dalam rekaman ini atau tidak. Jika, Sungsang Lebam Telak dengan musik seperti itu saja bisa tampil lebih baik ketika live karena mereka bermain dengan penuh spontanitas, kenapa band seperti Zoo tidak. Siapa yang ingin mengundang mereka?? Mungkin saja mereka bisa menghibur kawan-kawan yang haus dengan karya yang tidak biasa.

Jadi, silahkan kontak mereka!!

Sebagai informasi, mereka akan segera merampungkan album perdananya bertitel “Keringat , Nafas, Dengung”. Materinya tetap kencang namun dengan balutan etnis yang lebih kental.

teks: zelva wardi

Kontak ZOO: 081.339.220.333

http://www.myspace.com/zooindonesia

lihatkebunbinatangku@yahoo.com

07
Dec
08

Indonesian Earthfest 2008

1_391293933l

Green Music Foundation Presents:

Indonesian Earthfest 2008

Minggu, 14 Desember 2008, pkl.15.00 – 23.00

@ Area Hall Basket Senayan, Jakarta

HTM Rp 50.000,- (bisa dibeli di lokasi acara)

Lebih dari 50 band/musisi lokal tanah air akan berbaur dalam acara ini untuk memfasilitasi program “Musicians Social Responsibility” yang dibangun oleh Green Music Foundation dengan melakukan penggalangan dana guna menghidupkan kembali Desa Waikokak, Nusa Tenggara Timur yang secara tidak langsung terkena dampak buruk dari perubahan iklim akibat Global Warming. Desa ini merupakan target pertama dalam mendukung misi organisasi yang diprakarsai oleh Glenn Fredly ini.

Adapun tujuan dari Indonesian Earthfest 2008 ini adalah untuk mengedukasi publik mengenai isu pemanasan global yang menjadi permasalahan dunia, termasuk Indonesia. Karena Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki wilayah hutan tropis terluas di dunia.

Beberapa band/musisi lokal yang akan tampil dalam acara ini adalah:

  • The Upstairs
  • NAIF
  • Koes Plus
  • Maliq and The Essentials
  • Efek Rumah Kaca
  • Superglad
  • Zeke & The Popo
  • Ras Muhammad
  • Jeruji
  • White Shoes and The Couples Company
  • Drive
  • Soulvibe
  • Sister Duke
  • Marcell
  • Iwa K
  • Nugie
  • Jikustik
  • Mike Mohede
  • Boomerang
  • dll

Info lebih lanjut:

Taufik 0817776243 atau Stella 08161142171

Atau kunjungi www.greenmusicfoundation.net

07
Dec
08

The Trees and The Wild: Sajian Akustik Sederhana Pembangkit Optimisme

l_c4b20df8cee64c94a56e2fc517531a02

The Trees and The Wild mungkin masih asing di kuping sebagian kalian. Band ini memang terhitung baru. Terbentuk dari pertemanan masing-masing personilnya sejak bangku sekolah. Andra dan Remedy berteman sejak SMA dan pernah membuat proyek akustik bersama ketika kuliah. Sedangkan Iga adalah teman Andra di sebuah band blues, Enterprising John yang juga temannya sejak SMP. Di tahun 2006 mereka mulai mencoba menulis beberapa lagu. Beberapa karya akhirnya tercipta. Dari sanalah perjalanan The Trees and The Wild dimulai. Mereka menawarkan komposisi musik akustik yang sederhana dan memanja telinga. Mudah dicerna dan cukup minimalis.

Honeymoon on Ice adalah single pertama dari mereka yang diperkenalkan ke publik dan mendapat apresiasi bagus dari salah satu radio anak muda Ibukota. Lagu ini terinspirasi dari sebuah film karya Michel Gondry yang berjudul “Eternal Sunshine of the Spotless Mind.”

Selain itu, Lil’fish Records, label milik Agus Sasongko, Media Distorsi tertarik untuk merilis album penuh mereka setelah mendengarkan beberapa lagu The Trees and The Wild via myspace. Dari sana kemudian terjalin kesepakatan antar keduanya. Alhasil, bulan Februari 2009 mendatang rilisan penuh pertama dari band ini resmi akan beredar di bawah payung label tersebut. Sebagai informasi, Lil’fish Records sempat menangani album Pure Saturday dan The Morning After.

Perihal ingin berbagi kabar terkait The Trees and The Wild dan rencana perampungan album debut mereka, berikut wawancara singkatnya.

Teks Wawancara: Zelva Wardi

Kita mulai dari pertanyaan ringan dulu. Bagaimana mulanya The Trees and The Wild terbentuk? Untuk line-up personil apakah sudah seperti ini dari awal atau sering kali bongkar pasang?

Kami sudah berteman sejak masih di bangku sekolah. Di masa SMP Iga dan Andra telah bermain musik bersama, sedangkan Andra dan Remedy bertemu di masa SMA. Akhir 2006 kami mulai membuat lagu, dan sampai sekarang formasi kami bertiga.

Apa dasar kalian membentuk sebuah band? Sekedar hobikah atau karena kalian memang ingin berkarir di lingkup musik? Atau mungkin, kalian ingin mencoba peruntungan di ranah ini?

Ketika kami membuat lagu, itu adalah kondisi dimana kami tidak membuka kompromi dengan hal-hal di luar kami. Dan penghargaan menurut kami adalah sebuah proses.

Apa saja kegiatan para personil The Trees and The Wild selain sibuk di band?

Remedy: menyelesaikan skripsi.

Andra: menyelesaikan skripsi.

Iga: penata musik film dan guru musik.

Untuk nama band sendiri, kenapa The Trees and The Wild yang digunakan sebagai identitas? Ada alasan tertentu mungkin?

The Trees and The Wild merupakan suatu ungkapan yang menurut kami berarti suatu keadaan yang bebas, hidup dan tidak artifisial.

Lagu ‘Honeymoon on Ice’ cukup menarik perhatian saya. Pertama kali dengar saya pikir lagu ini milik band asing. Ternyata saya salah. Namun, yang menarik perhatian saya bukan karena itu, melainkan karena komposisi musik yang sangat minimalis dan mudah dicerna. Saya pikir hanya dengan gitar akustik saja sudah cukup enak untuk didengar. Tidak perlu menambahkan instrumen atau efek macam-macam lagi. Apa semua lagu kalian dikonsepkan seperti itu, minimalis dan easy listening? Untuk genre lagu sendiri, seperti apa kalian mengkategorikannya?

Kategori bagi kami akan menjadi bumerang untuk persepsi, karena itu akan mempersempit pemikiran orang yang mendengar karya-karya kami. Jadi kategori musik The Trees and The Wild menjadi kebebasan tiap-tiap individu untuk menyikapinya.

Sejauh ini sudah ada berapa materi lagu yang kalian punya? Dan apa yang ingin kalian sampaikan lewat lagu-lagu kalian tersebut?

Sejauh ini sudah 80%, dan lagu-lagu kami bercerita tentang optimisme dan antisipasi hari esok.

Mengenai lirik/syair lagu, menurut kalian seberapa penting kefungsiannya dalam sebuah karya musik? Hanya sebagai pelengkap sajakah atau seperti apa? Seserius apa kalian memikirkan pembuatan lirik untuk lagu-lagu kalian?

Lirik memiliki porsi yang unik dalam komposisi lagu. Bila dianalogikan, lirik itu sebagai bumbu pada indomie..hehehehe..

Lagu-lagu kalian didominasi lirik bahasa Inggris. Apakah musik kalian tidak cocok menggunakan bahasa Indonesia? Beberapa band ketika ditanya tentang ini pasti akan menjawab masih terlalu sulit untuk mereka bisa berekspresi dengan lirik-lirik bahasa Indonesia. Bagaimana dengan kalian?

Kebetulan lirik kami tidak semua berbahasa Inggris dan menurut kami lirik bahasa Indonesia maupun Inggris tidak memiliki kekurangan maupun kelebihan. Dan kami tidak menemui kesulitan dalam membuat lirik berbahasa indonesia.

Terkait inspirasi bermusik kalian, apa dan dari mana saja (musik/non-musik)?

Kami terinspirasi oleh hal-hal yang terjadi dalam hidup kami dan musik yang telah kami dengar dari dulu sampai sekarang.

Menurut kalian, sejauh mana musik membawa pengaruh baik dan buruk bagi orang lain? Dengan kata lain, bisakah mengintervensi seseorang untuk berbuat sesuatu?

Kemungkinan adanya intervensi musik terhadap hidup seseorang akan selalu ada, tetapi bicara tentang baik dan buruk bukanlah sesuatu seperti hitam dan putih. Ini akan kembali kepada kebebasan individu masing-masing yang menikmati musik tersebut dan cara mereka menyikapinya.

Kembali ke lagu-lagu kalian. Apa yang berbeda dari karya-karya The Trees and The Wild dan ingin ditunjukkan ke penikmat musik lokal?

Berbeda adalah bentuk apresiasi dari para pendengar kami, ketika kami membuat lagu, yang kami pikirkan hanya mengekspresikan apa yang kami alami.

Debut album kalian akan dirilis oleh “Lil’fish records” pada Februari tahun 2009 mendatang. Bisa diceritakan proses terjalin kerjasama dengan label ini?

“Lil’fish records” mendengar kami dari situs myspace lalu mereka menawari kami kerjasama untuk membuat album penuh.

Berapa lagu yang akan disertakan ke dalam rilisan pertama kalian tersebut? Dan untuk rekamannya sendiri sudah sampai sejauh mana?

10 lagu, proses rekaman sudah berjalan 80%.

Oke, sukses untuk album penuh pertama kalian nanti. Bagaimana caranya jika ada yang ingin berinteraksi dengan kalian?

Untuk menghubungi kami bisa melalui www.myspace.com/thetreesandthewild atau email listento_thetreesandthewild@yahoo.com

Ada lagi mungkin yang ingin disampaikan untuk pendengar kalian?

Datang yaa ketika kami manggung, kita ngobrol disana. Biar lebih akrab. D

10
Dec
08

DEMAGOG

logo-polbus

Asa terlontar diawal sebelum sesal datang. Semoga saya, anda, kita cepat tersadarkan dari bujuk rayu demagog. Demagog yang siap menghipnotis kita di kala ada kesempatan. Kita akan dibawa ke dunia yang kita cita-citakan. Saya pun yakin, sangat yakin! Kita pasti menyukainya. Kita tidak akan ragu dengan ke-Indonesiaan-nya. Pun keberpihakannya kepada nasib rakyat. Dari kata-katanya, seolah-olah permasalahan bangsa selesai sudah. Jika masih ada yang percaya tentang Satria Piningit, bukan tidak mungkin inilah dia orangnya.

Begitulah demagog. Ucapannya telah membutakan akal kita. Ia menghipnotis hati kita dengan janji-janjinya. Padahal di balik layar sebenarnya denyut hati dan kegelisahan rakyat tak menyentuh kalbu mereka. Bagi mereka rakyat hanyalah objek yang harus ditaklukan demi mendapatkan kursi.

Saya pernah mendengar. Bakal calon kepala desa di kampung saya dulu berkata dalam kampanyenya, “saya akan bangun desa ini menjadi desa yang makmur. Mengaspal jalan-jalan desa, meningkatkan hasil panen dan menjaga keamanan desa ini.” Camat dan Bupati pun kalau tidak salah pernah mengucapkan itu.

Akhir-akhir ini saya sering mendengar. Calon Gubernur di beberapa propinsi Negara saya mengatakan bahwa dengan semangat otonomi daerah, dirinya akan membangun daerahnya. Meningkatkan kesejahteraan, memberikan rasa aman, tidak ada rakyatnya yang tidak makan, mengembangkan daerahnya menjadi kekuatan penopang pemerintahan pusat.

Saya pun sangat sering mendengar. Dari dulu sampai sekarang, para calon presiden Negara saya selalu menjanjikan. Lagi-lagi dengan suaranya yang lantang. Memberantas KKN, menyejahterakan rakyat, membuat kebijakan yang berpihak pada wong cilik, akan memimpin Negara sesuai amanah rakyat dan lainnya yang tak kalah bagus dalam menghipnotis hati rakyat untuk mendukungnya.

Dari yang saya dan mungkin anda dengar, apakah benar janji-janji itu terealisasi? Di sini, kata-kata sudah menjadi senjata. Kata tidak lagi menjadi bunyi yang bermakna dan berguna. Hanya sekedar perlambang, sekedar bunyi fisik tanpa makna yang substantive. Jadi apa janji-janji politik sekalipun tak akan mengubah apapun karena sekadar tabuhan belaka, yang tak menghasilkan tindakan-tindakan nyata untuk rakyat. Itulah kata tokoh strukturalis Ferdinand de Saussure.

Ada kesalahan apa dalam kepalanya? Secara akademik saya tidak meragukan kemampuan mereka. gelar akademis pun berjejer di namanya, dalam maupun luar negeri. Tapi secara nilai, saya tidak melihatnya. Nol besar! Anda menilainya bagaimana? Kekuasaan dan politik masih banyak dijadikan sebagai profesi dan mata pencaharian para politisi yang kebanyakan rabun ayam. Rahim bangsa ini sangat kikir melahirkan pemimpin yang melek. Pemimpin kita sangat Machiavelli, baginya segala cara bisa dan boleh dilakukan dengan alasan demi kepentingan dan kelangsungan kekuasaan. Kebijakan yang sewenang-wenang menurut ukuran moral, mengingkari janji atau kepercayaan dan perbuatan yang tak berlandaskan hukum, dianggap tak perlu diperhatikan.

Tak peduli apakah rakyat sejahtera. Tak peduli apakah rakyat sejahtera. Tak peduli apakah rakyat hidup nyaman. Bahkan tak peduli apakah rakyat punya masa depan atau tidak, yang penting dirinya tetap memiliki masa depan untuk terus bertahta. Celakanya lagi, rakyat menganggap apapun yang dilakukan pemimpinnya adalah benar sekalipun itu memang salah. Inilah konsep kekuasaan yang dipahami secara magis religius yang telah lama berkembang sebelum menjadi Negara nasional.

Dan para pemimpin demagog itu paham betul bagaimana memanfaatkan psikologi rakyat dalam memenuhi hasrat politiknya. Masyarakat rela turun ke jalan untuk mendengarkan pidato dari jagoannya. Berteriak-teriak sambil membawa bendera sakralnya sebagai tanda dukungan. Bahkan dukungan sampai mati pun mungkin rela mereka lakukan. Masyarakat terkena hipnotis para demagog.

Kondisi seperti ini kian subur ketika terjadi perselingkuhan antara demagog dengan media massa. Media massa yang tidak lagi sekedar medium penyampaian pesan kepada masyarakat tapi telah menjadi pesan itu sendiri yang menghegemoni alam pikiran masyarakat. Dengan informasi, pencitraan yang dibangun tentu sesuai dengan aturan demagogi, yakni menyesuaikan diri dengan yang diharapkan. Ia bisa menjadi demagog bunglon, menyesuaikan dengan wajah sosial rakyatnya. Ia bisa menunjukkan berbagai peran sehingga membuat tindakannya efektif di dalam situasi yang beragam. “Merayu berarti mati sebagai realitas untuk menghasilkan tipu daya,” begitulah kata Bellenger. Demagogi semakin canggih dengan berkembangnya sarana komunikasi.

Kenyataannya, kesadaran untuk sadar, nampaknya masih sangat kecil di kalangan masyarakat. Budaya paternal masih sangat kuat. Tidak sedikit rakyat di negeri ini suka demagogi dari para pemimpin demagog. Rakyat masih gemar simbol, upacara, dan berbagai perhiasan sosial yang harus dipertahankan. Rakyat masih mencintai para pemimpin selebriti. Tak peduli jika para pemimpin demagog dan selebriti itu sesungguhnya tak memihak rakyat.

Dan kemudian saya pun mendengar. Rakyat nonton jadi supporter kasih semangat jagoannya. Walau tau jagoannya ngibul walau tau dapur gak negbul……” Rakyat lugu kena getahnya buah mangga entah kemana. Tinggal biji tinggal kulitnya tinggal mimpi ambil hikmahnya…..” [Iwan Fals].

*Ps: pertimbangkan matang-matang untuk memilih capres pada pemilu 2009. Jika Anda merasa tidak ada capres yang layak, lebih baik tidak usah memilih. Bukankah tidak memilih juga merupakan hak Anda??

teks: jalaludin/rz

10
Dec
08

ZOO: Konsep Filosofis Modernitas Berbalut Komposisi Musik Etnis Matematis

l_f534ab6f7462d6475d4df7d7b9d3b2cf

ZOO, nama yang cukup sederhana untuk identitas sebuah band, namun sarat makna. ZOO justru menjadi nama yang sangat mewakili sebuah citra yang ingin dibangun oleh para personilnya. Ada filosofi yang jelas-jelas sangat dipikirkan. Peradaban, itulah konsep yang ingin mereka bahas dalam karya-karyanya. Peradaban modern yang makin menggeser norma tradisional dan kaidah sosial sehingga menjauhkan manusia dari kemurnian alam dan keliaran. Dan zoo (kebun binatang dalam terjemahan sebenarnya -ed) menjadi pengandaian yang pas untuk membahasakan konsepsi musikal ZOO.

Jadi, tak heran jika karya-karya band asal Jogja ini hasilnya seperti yang ada di rilisan YesNoWave (net-label yang merilis demo mereka, Kebun Binatang/2007). Namun, satu yang pasti, karya mereka berbeda dan tidak biasa. Mereka kreatif dan inovatif. Yang saya suka, ZOO adalah sebuah band dengan konsep yang sangat matang dengan mengusung  tema yang jelas: mengangkat isu-isu modernitas serta pengaruhnya bagi kehidupan manusia, kemudian membelalakannya ke permukaan dengan syair-syair metaforik berbalut komposisi musik (sebagai media) yang tak kalah rumit dengan konsep yang mereka usung.

Band ini patut diapresiasi. Karena itulah, berbekal rasa penasaran, kami mencoba melayangkan materi wawancara kepada mereka. Berikut petikannya.

Teks Wawancara: Zelva Wardi

Bisa diceritakan sedikit mengenai sisi historikal ZOO?

Awal terbentuk sebenarnya akhir 2005, tapi dengan konsep yang masih meraba-raba, dan belum bisa dibilang aktif pada saat itu. Mulanya bahkan masih dengan formasi normal (dengan gitar), bernuansa progresif dan noise. Formasi sekarang hanya vokal, bas, dan dua pemain drum yang mengisi lagu secara bergantian. Konsepnya pun bisa dikatakan sudah nyaman untuk diteruskan.

Kenapa ZOO? Apakah nama tersebut sudah merepresentasikan identitas dan musikalitas kalian? Lalu bagaimana dengan konsep musik? Apakah dipikirkan sekali sejak awal untuk menciptakan karya musik seperti ini, mulai dari perpaduan vokal dan musik yang aneh seperti yang dihasilkan?

Tentu saja. Sebab paling sederhana yaitu karena kata tersebut cuma terdiri dari satu suku kata, mudah diucapkan, dan tentu saja mudah diingat. Alasan selanjutnya yang lebih filosofis, ialah karena nama tersebut mewakili citra yang ingin kami bangun, dan senyawa dengan lirik dan tema yang kami usung. Akan panjang lebar jika saya ceritakan konsep dan maknanya disini, singkatnya jika lirik kami ditelaah dengan seksama, semuanya ternyata berkisar tentang satu tema besar: ”peradaban modern yang semakin menggeser norma tradisional dan semakin jauhnya manusia dari kemurnian alam dan keliaran.” Kebun Binatang merupakan perumpamaan yang pantas untuk menyimbolkannya. Dari konsep besar inilah, lantas musik kami pelan-pelan terbentuk dan terarahkan. Sebisa mungkin harus bisa mencerminkan dan berlandaskan visi tersebut. Ini bukan mau dibilang sok berat loh, tapi memang sebegitu seriusnya ZOO sengaja dirancang.

Tujuan kalian membentuk ZOO hanya untuk menyalurkan hobi bermusik masing-masing personil atau ada keinginan tertentu untuk fokus di jalur musik?

Pernah tidak ketemu orang kayaraya yang seharusnya bisa menjadi apapun yang dia mau, namun justru memilih untuk berkelana mencari petualangan, atau orang pandai yang bisa saja menjadi insinyur ternama atau astronot tapi malah memilih untuk mendedikasikan diri sebagai guru SD? Sekedar hobi-kah orang-orang ini, ataukah ada sebab lain?? Sorry, tidak menjawab pertanyaan, tapi memang tujuan kadang berangkat dari sesuatu yang sulit dijelaskan.

Awalnya saya tertarik dengan ZOO karena kalian memperdengarkan komposisi musik yang berbeda dan tidak biasa. Saya tidak pandai mengkategorikan jenis musik. Bagaimana kalian menjelaskan musik ZOO?

Kita punya kesamaan. Sama-sama tidak pandai dalam hal itu. Jangan kuatir, tidak merugikan kok. Hehe..

Demo ZOO yang dirilis Yes No Wave berisi 6 lagu. Masing-masing lagu tentunya memiliki cerita yang berbeda-beda. Bisa diceritakan?

Selalu senang jika ditanya ini. Namun, saya keberatan jika harus menceritakan apa maksud dari liriknya secara gamblang, karena tidak etis. Seperti karya puisi, tidak selayaknya si pengarang menjelaskan apa yang sesungguhnya ia maksud. Interpretasi itu hak penikmatnya. Letak eksklusifitasnya ya disitu. Tapi berikut akan saya coba beri petunjuk mengenai metafora-metafora yang ada di keenam lagu tersebut, dan silahkan ciptakan interpretasi anda sendiri.

’Manekin Bermesin’: Sengaja dibuat pendek dengan lirik diulang-ulang sesuai dengan judul lagu sebagai penekanan. Sehingga pendengar akan berpikir, pastilah judul/lirik tersebut ada maksudnya. Manekin, walaupun merupakan penyempurnaan bentuk manusia, tetap saja bukan sesuatu yang hidup, hanya pajangan yang melambangkan kesempurnaan dan wujud palsu. Menghidupkan manekin dengan menggunakan mesin pun tetap belum akan bisa membuatnya sesempurna manusia, yang walaupun purba, tapi nyata.

’Menyudahi Gelap’: Seperti judulnya, habislah gelap. Mengajak untuk bangkit. Menolak untuk dibilang mati.

’Kupu-Kupu’: Seperti yang dipahami, kupu-kupu sering disimbolkan sebagai lambang kesempurnaan yang lahir dari kebusukan. Begitu pula maksud kupu-kupu dan kota-kota disini.

’Lalat-Lalat’: Peradaban modern selalu menjauhkan diri dari kekotoran, penyakit, bau busuk, dan segala sumbernya. Lalat adalah simbol sempurna akan hal ini. Mereka-mereka yang tersingkir karena peradaban modern tidak menerima adanya ketidaksempurnaan dan kekacauan.

’Takluk’: Maksud liriknya jelas. Bumi yang marah. Manusia yang akhirnya tak berdaya terhadapnya. Takluk, tunduk.

’Eskalator’: Melambangkan satu lagi fitur modernitas, yakni peradaban yang serba instan.

Untuk lirik atau syair lagu, apakah kalian memerhatikan benar soal ini? Seberapa penting kalian melihat kefungsian hal ini dalam sebuah karya musik?

Menurut saya pribadi sebagai pencipta liriknya, justru musik-lah yang merupakan pelengkap, perwujudan lirik itu sendiri. Musik hanya raga, lirik-lah ruh-nya. Yang jelas, ZOO tidak akan pernah membuat lagu berlirik bahasa Inggris.

Lalu, adanya intrumen etnik macam djembe yang kalian sertakan dalam komposisi musik, apakah ini sudah dikonsepkan juga dari awal?

Betul. Sekedar menyesuaikan nuansa lagu. Di lagu-lagu ZOO yang baru, djembe akan lebih sering muncul.

Setau saya djembe berasal dari Afrika Barat. Namun di Indonesia juga ada alat musik semacam ini, ada djembe bali dll. Kenapa harus djembe yang kalian gunakan sebagai pelengkap instrumen? Kenapa tidak alat musik tradisional asli Indonesia yang banyak variannya?

Itu sih pengennya. Hanya saja, saya bisanya maen itu. Hehe… Jika ada yang bersedia membantu berkolaborasi dengan memasukkan instrumen tradisional Indonesia, kami akan sangat senang menyambutnya. Banyak lagu baru yang masih sangat bisa dibubuhi instrumen tradisional. Berminat?

Terkait demo ZOO yang dirilis di YesNoWave, bagaimana mulanya? Apakah memang sengaja dirilis dalam format mp3 lewat net-label tersebut untuk di-share cuma-cuma, bukan untuk diperjualbelikan?

Awalnya, 6 lagu tersebut kami kemas dalam jumlah terbatas beserta buklet berisi lirik. Ini kemudian dibagi-bagikan secara gratis ke orang-orang tertentu, termasuk ke Wok the Rock, pencetus YesNoWave. Kemudian ia menawari untuk dirilis di netlabel-nya. Album penuh sedang dipersiapkan, dan akan diedarkan dalam bentuk CD nantinya.

Menurut ZOO, bagaimana seorang pendengar/penikmat musik seharusnya mengapresiasi sebuah band/musisi yang menghasilkan karya musik? Entah karya band itu jelek atau bagus.

Wuuh, pertanyaan sulit. Apresiasi, sama halnya dengan ekspresi, bebas mutlak. Tidak ada yang namanya seharusnya atau yang tidak seharusnya.

Bagaimana ZOO melihat kecenderungan band-band sekarang, baik dari segi musikalitas dan orisinalitas karyanya?

Band-band sekarang atau band-band kebanyakan? Sebagian bagus.

Lalu, bagaimana dengan ZOO? (Walau tidak menutup kemungkinan ada musisi terdahulu yang memengaruhi. Karena memang susah untuk mengukur keorisinilan sebuah karya, bukan hanya musik)

Benar, sulit mengukurnya. Karena tidak bisa dipungkiri, banyak sekali karya lain (bukan hanya musik) yang berandil dalam memengaruhi musik ZOO. Bahkan beberapa lirik ZOO mengutip penggalan syair-syair kuno yang sudah ada dari Jawa, Aceh, atau Kalimantan. Orisinil? Susah menjabarkan apakah iya atau tidak.

Membuat sebuah komposisi musik seperti yang ZOO hasilkan bisa dibilang cukup sulit. Begitu juga dengan menyatukan ide-ide antar masing-masing personil. Bagaimana ZOO mengatasi hal ini?

Sederhana sebenarnya. Dari hasil jam-session di studio, lagu yang masih bentuknya kasar kemudian dibakukan dan diberi aksen untuk menambah kekhasan. Menyatukan ide, itu yang sulit. Band lain pasti merasa begitu.

Sebuah band yang berkualitas itu seperti apa di mata ZOO?

Berciri. Bermula dari itu.

Demo ZOO yang dirilis YesNoWave durasinya sangat singkat. Kalau tidak salah semuanya (6 lagu) berjumlah 14 menitan. Jujur saya kurang puas. He-he-he. Lantas, kapan album penuh kalian? Berapa trek yang akan mengisi album tersebut?

Album penuh sudah direncanakan segera setelah demo rampung sebenarnya. Namun, hambatan banyak betul untuk mewujudkannya. Jumlah lagu yang sudah pasti akan ada di album penuh tersebut ada 21 buah, dengan durasi lagu paling lama hampir 5 menit.

Tahap perampungannya sendiri sudah sejauh mana?

Tahapan mixing. Masih jauh ya dari rampung?

Masih samakah konsepnya dengan demo kalian yang dirilis via YesNoWave atau mungkin kalian akan merilis sendiri?

Sejauh ini keputusannya masih akan dirilis sendiri, kecuali ada label yang berminat. Konsepnya tentu saja tidak akan berpaling dari tema. Sebagian besar masih belum jauh berbeda dengan lagu-lagu di demo, tapi beberapa lagu lebih beraroma etnis yang berpadu dengan rumus-rumus khas ZOO.

Terima kasih dan sukses untuk ZOO. Ditunggu album penuhnya. Jangan sungkan kabari kami mengenai perkembangan kalian. Terakhir, apa harapan ZOO ke depan? Ada yang ingin disampaikan kepada para pendengar yang mengapresiasi karya kalian?

Terimakasih sekali sudah memerhatikan ZOO. Mari terus dukung perkembangan musik independen Indonesia. Kami juga menunggu jika ada kesempatan untuk tampil di kota kalian. Salam kami dari Jogja.

10
Dec
08

Ghaust “Album Release Party”

flyer-launching-ghaust

Jenggo Movement Presents

GHAUST
Debut Album Release Party!
Minggu, 21 Desember 2008 @ Rossi Music Center, Fatmawati

Dimeriahkan oleh :
Fall
Denial
Kelelawar Malam
Robo Murphy

Starts @ 6 pm, bands starts @ 7 pm, HTM Rp 25.000,-

Bawa uang lebih, karena Ghaust juga akan menggelar barang dagangan (merchandise) mereka di lokasi acara.

10
Dec
08

Islam dan Pluralisme (Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan)

08051901093500

Judul Buku : Islam dan Pluralisme (Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan)

Pengarang : Jalaluddin Rakhmat

Penerbit : Serambi, 2006

Suatu saat dalam sebuah diskusi seoang teman baik saya melemparkan sebuah pertanyaan, “Jika kita terlahir sebagai orang bukan Islam, apakah masih bias masuk surga? Sedang kita sama sekali tidak mempunayi pengetahuan akan hal tersebut?” Atau, bagaimana halnya dengan orang-orang yang sudah berkontribusi besar pada kehidupan manusia tapi dia tidak menganut Islam? Seperti Mother Theresa, Gandhi dan lainnya? Segala yang telah mereka lakukan apakah lantas menguap begitu saja? Seolah Allah menutup mata dan meng’anak tiri’kan hanya karena mereka tidak ber’label’ Islam.

Apakah hanya Islam agama yang diterima Allah? Dengan kata lain apakah orang yang beragama selain Islam, seperti Kristen, Hindu, Buddha, akan memperoleh keselamtan di sisi Allah? Apakah non-muslim juga menerima pahala amal salehnya? Lantas, kenapa Allah tidak menjadikan semua agama itu satu saja? Apa tujuan penciptaan berbagai agama itu? Bagaimana seharusnya kita menyikapi perbedaan ini?

Pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah beberapa dari yang lain yang pada akhirnya direspon beragam bahkan berakhir menjadi kontroversi. Hal ini juga melanda saya. Yang saya terkadang heran, bukanlah jawaban logis sedrhana yang memuaskan yang didapat. Tapi reaksi keras, yang sama sekali tidak argumentative dan sering bernada emosionil. Cukup ironis memang. Di tengah pencarian akan kebenaran murni yang hakiki dari apa yang sedang diyakini malah selalu dihadapkan dengan tembok kepatuhan semu yang melupakan hal-hal bersifat nuraniah. Pada akhirnya sayapun dapat ‘mewajarkan’ orang-orang khususnya umat Islam sendiri yang pada akhirnya mengalami krisis kepercayaan pada apa yang sedang diyakininya.

Buku ini seperti mencari jawabannya dalam Al-Quran. Seperti penggalian makna sejati Islam dan agama (din), mengungkap spirit firman Allah dalam memandang agama-agama lain, dan merumuskan bagaimana kita beriman secara autentik di tengah pluralitas kebenaran itu.

Ini sebuah kutipan yang saya ambil dari buku ini, “Apakah hanya Islam agama yang diterima Allah? Jawaban kita bias “ya” dan “tidak”. Ya, bila yang kita maksudkan adalah Islam sebagai kepasrahan sepenuh hati pada kebenaran, yang kita peroleh melalui proses pencarian yang tulus dan sungguh-sungguh. Tidak, bila yang dimaksud dengan islam adalah institusi keagamaan seperti yang tercantum dalam kartu identitas kita.”

Lalu ada lagi pembahasan dalam buku ini tentang sebuah pencarian kebenaran. Pencarian kebenaran yang dimaksud dapat mengambil kasus yang dicontohkan oleh Muthahhari (guru besar muslimin era modern). Descartes (Filsuf yang terkenal dengan postulatnya Cogito ergo Sum) dalam pencarian kebenaran, Descartes menerima Kristen sebagai agama yang benar, seraya mengatakan bahwa itulah agama yang dikenalnya dengan baik. Ia tidak menolak kemungkinan agama lain juga benar, hanya saja ia tidak mengetahuinya.

Muthahhari menulis, orang-orang seperti Descartes tidak mungkin kita sebut kafir, karena mereka tidak mempunyai sifat membangkang kepada kebenaran dan tidak menyembunyikan kebenaran. Bukankah kekafiran adalah pembangkangan dan penutupan kebenaran. Mereka adalah muslim secara fitriah. Jika kita tidak dapat menyebut mereka muslim, kita juga tidak dapat menyebut mereka kafir.

Pernyataan ini seakan merespon kenyataan ironis yang terjadi pada kondisi Islam pada saat ini. Pengkafiran sepihak. Penganggapan bahwa mazhab yang berbeda dari yang diyakini akan menyebabkan tertolaknya amal saleh seseorang. Penyempitan dan pembatasan kotak kecil ke dalam golongan-golongan tertentu yang bernama jama’ah, harakah dan kelompok satu imam yang menganggap bahwa golongan merekalah yang akan diterima.

Selebihnya buku ini juga membahas tentang telaah ulang skisme dalam Islam, pengenalan Allah (Tuhan yang disaksikan, bukan Tuhan yang didefinisikan), konsep-konsep antropologis dalam Al-Quran, alienasi dan dehumanisasi, psikologi kaum fundamentalis, ihwal ateisme dan materialisme hingga persoalan social plitis seperti menyoal Negara Islam dan hak-hak rakyat dalam Islam.

Penekanan saya pada ulasan ini memang lebih ke persoalan yang lebih mendasar dalam bagaimana seharusnya kita sebagai umat Islam bersikap. Dan pastinya juga bagaimana mengubah sebuah cara pandang yang saat ini benar-benar sudah sedemikian distorsi terhadap Islam. Cara pandang yang sudah benar-benar kabur justru datang dari ‘perbuatan saleh’ orang-orang Islam sendiri.

Bagi saya pada saat ini yang dibutuhkan adalah sikap-sikap cerdas yang bisa melihat Islam dari sisi yang lebih nuraniah. Buakn tradisi semu, kepatuhan tak berdasar, fanatisme buta yangmenjadi euphoria dan telah melanda umat Islam pada saat ini.

Buku ini bagi saya eperti memberikan perenungan baru sebagai sesuatu yang bisa membuat kita dapat bersikap lebih arif dan bijak dalam menyikapi perbedaan.

Cukup ‘kontroversif’ apalagi bagi ‘pemikir-pemikir’ yang menutup erat pikirannya dengan hal-hal baru atau lebih tepatnya pembaruan yang justru bersifat untuk menemukan kembali.

teks resensi: adit bujbunen al buse

10
Dec
08

MAE Live @ The Venue Eldorado Bandung

mae

MAE Live in Concert

Sabtu, 10 Januari 2009, pkl 20.00 – selesai

@ The Venue Eldorado, Bandung

Untuk info lebih lanjut:

Virus Inc. Jl. Diponegoro No.10, Bandung

022 – 4268118

http://www.myspace.com/mae

12
Dec
08

Islam Melawan Kapitalisme

islam_melawan_kapitalismeJudul       : Islam Melawan Kapitalisme

Penulis : Zakiyuddin Baidhawy

Tebal : 266 Halaman

Penerbit : Resist Book

Bukanlah sebuah utopi bila kelak tak ada lagi di muka bumi ini yang tidak sejahtera hidupnya. Sebuah jalan keluar melawan kapitalisme ala Islam dibahas tuntas di buku ini. Islam yang revolusioner menolak system ekonomi, sosial, politik dan segala implikasi moral yang telah busuk di jamannya. Bahkan hingga sekarang, Islam masih relevan untuk dijadikan jalan keluar.

Dalam sejarah perkembangan dunia sudah banyak teori-teori tentang keadilan temporer. Dari egalitarianisme radikal hingga prinsip libertarian yang dicetuskan obert Nozick. Segala prinsip tersebut awalnya merupakan buah dari rasa ketidakadilan yang sudah mengakar di masyarakat. Tetapi dalam perkembangannya, rasa keadilan yang diimpikan musnah seiring dengan munculnya berbagai implikasi yang timbul akibat penerapan prinsip-prinsip tersebut.

Kepemilikan pribadi yang didengungkan oleh para libertarianis nampaknya menemukan jalan buntu ketika dihadapkan pada sebuah kemiskinan missal. Karena dalam libertarianisme, fungsi sosial kekayaan sudah hilang. Sehingga dalam kehidupan nyata jurang perbedaan ekonomi sangat jelas terlihat. Hal ini pula yang ditolak total oleh para egalitarianis radikal. Mereka berpendapat bahwa kepemilikan kolektif adalah segalanya. Menolak prinsip bahwa manusia adalah berbeda dalam hal kebutuhan. Perbedaan adalah sunatullah, karena pada dasarnya semua adalah milik Tuhan. Begitulah yang dikatakan pengarang menepis paham egalitarian dan libertarian ini.

Islam yang berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunnah, menanggapi hal demikian sudah sangat jelas. Kepemilikan individu dibatasi, kepemilikan kolektif dijamin dan sumber daya bukanlah kepemilikan eksklusif. Batas-batas yang jelas dalam Al-Quran dikatakan sebagai jalan tengah memahami persoalan ekonomi akibat sistem kapitalisme yang ada. Perilaku konsumsi juga dibatasi dalam Al-Quran.

Mengenai masalah konsumsi manusia, Al-Quran menjawab dengan bijak. Etika Al-Quran yang ditawarkan adalah pemenuhan kebutuhan hidup secara wajar dan proporsional. Bila diterapkan akan membuat sikap antisipatif dan responsive terhadap ancaman kelangkaan sumber daya alam dan kemerosotan lingkungan nantinya. Wajar jika kita saat ini sibuk mencari energi alternative, setelah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui akan habis karena kerakusan manusia.

Dalam system kapitalisme, peranan Negara haruslah dibuat seminim mungkin. Dengan jalan memprivatisasikan milik Negara tentunya. Bila semua sector usaa Negara diprivatisasi segelintir orang, maka monopoli perdagangan bukanlah hal sulit lagi. Sehingga kewajiban Negara mensejahterakan rakyatnya menjadi utopis. Belum lagi benturan dengan system hukum yang dibuat untuk kepentingan para kapitalis.

Tentu hal ini sangat ditolak dalam Al-Quran yang berprinsip pada keadilan masyarakat seutuhnya, menolak adanya penguasaan pribadi terhadap sumber daya alam, baik yang bebas maupun yang tidak. Berkaca pada sejarah. Nabi sebagai pemimpin pada jamannya telah menasionalisasikan sumber daya alam seperti hutan, air, dan rumput. Tidak diijinkan segelintir orang untuk menguasainya.

Hal yang bisa dilakukan sekarang oleh pemimpin Negara yang mempunyai kekuasaan tentunya segera menasionalisasikan segala sumber daya alam. Hanya dengan cara itu, pintu bagi para kapitalis lewat perusahaan transnasional dan multinasional akan tertutup rapat. Tentu saja Negara sah untuk menjalankan ‘monopoli’ demi kesejahteraan rakyatnya. Akibatnya, peran pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya terbukti.

Pada level praksis Islam harus tampil sebagai agama public yang peduli terhadap problem-problem kemiskinan, pengangguran dan penindasan sosial-ekonomi lainnya. Masalah-masalah ekonomi yang disebabkan ‘jasa’ para kapitalis dan neoliberalis lewat IMF, WTO dan juga sistem free trade harus segera dihapuskan. Pesan-pesan dalam Islam pun harus mampu membangkitkan kekuatan-kekuatan protes dan perlawanan atas poros-poros neoliberalisme dan pasar bebas yang tidak pernah dapat menjawab keadilan masyarakat.

Bahasa yang digunakan Zakiyuddin sangat mudah dicerna. Zakiyuddin coba menghindari penggunaan kata-kata yang terkesan rumit dan asing. Lebih lanjut, penulis juga memberi deskripsi yang jelas tentang paham-paham yang ada di dunia dalam menyikapi permasalahan ekonomi. Ditambah dengan pandangan Islam tentunya.

teks resensi: sugeng sutrisna

15
Dec
08

Supersonic Sound Fest ‘08 Tour//Jakarta

ssfa5

FUTURICA PRESENTS:

“SUPERSONIC SOUND FEST ’08 TOUR

Friday, December 18th @ Brewww Cafe, Kemang

Starts 5pm

HTM Rp 15.000,-

With Performances by:

  • Stellarium (Singapore)
  • Jelly Belly (Bandung)
  • Ansaphone (Bandung)
  • Sharesprings (Jakarta)
  • Sarin (Jakarta)
  • Mellon Yellow (Jakarta)
  • Damascus (Jakarta)
  • Whistler Post (Jakarta)

For more info: Ipung 021 928 1429

16
Dec
08

Bush Get The Shoes

picture1

Mungkin saya merupakan satu dari sekian banyak orang yang tersenyum simpul ketika menyaksikan momen melayangnya the magic shoes di Irak (15/12) via youtube. Bagaimana tidak, sepasang sepatu dan pemiliknya mendadak tersohor ke seluruh penjuru dunia karena kejadian tersebut. Dan sasarannya bukan orang sembarangan, George Bush, yang dikenal sebagai ‘monster’ dari AS paling berbahaya sejagad raya.

Adalah Muntazer Al-Zaidi, Jurnalis Irak dari Chanel  televisi Al-Baghdadia yang sangat berani melakukan tindakan ekstrim tersebut. Kejadian mengejutkan ini terjadi dalam suasana konferensi pers bersama Perdana Menteri Irak, Nuri Al Maliki dalam rangka perpisahan Bush sebagai presiden AS.

Untuk kronologis kejadiannya sendiri saya belum tahu pasti.  Dalam tayangan video di youtube, ditengah-tengah acara, mendadak Jurnalis Irak tersebut berdiri dan melepas kedua sepatunya, dan tanpa tedeng aling-aling melayangkannya ke arah muka bengis Bush. Namun sayang, Bush berhasil menghindar . Untuk lebih jelasnya anda bisa mengakses via youtube. Ada beragam dokumentasi video dari beberapa wartawan yang hadir dalam acara tersebut.

Akibat kejadian ini Muntazer Al-Zaidi diamankan pihak terkait di sana. Entah hukuman apa yang akan didapat Jurnalis ‘pemberani’ ini akibat ulahnya tersebut. Yang jelas, tindakan Al-Zaidi menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan. Pro tentunya dari mereka yang tidak menyukai Bush, salah satunya dari Presiden Venezuela, Hugo Chavez. Chavez memuji tindakan jurnalis Irak itu. Dan menurut perkembangan, Al-Zaidi mendapat dukungan penuh dari negara-negara penentang Bush. Dan yang kontra tentu saja datang dari mereka-mereka yang bernaung di bawah ketiak presiden AS yang akan segera lengser tersebut.

Namun, saya masih membayangkan jika kedua sepatu milik Al-Zaidi itu benar-benar mendarat tepat di muka Bush. Tentu saja akan menjadi hadiah perpisahan di akhir tahun yang tak akan terlupakan semasa hidup Bush.

Lalu, bagaimana nasib sepasang sepatu milik Al-Zaidi?? Seharusnya Bush membawanya pulang sebagai kenang-kenangan.

teks: zelva/rebelzine

071523p

Muntazer Al-Zaidi (Jurnalis Televisi Irak, Al-Baghdadia)

Video terkait berita ini:

http://www.youtube.com/watch?v=_RFH7C3vkK4&feature=related

18
Dec
08

“Kamar Gelap” dan Progresifitas Efek Rumah Kaca

dscn0684

AKHIRNYA, Efek Rumah Kaca meluncurkan album terbarunya “Kamar Gelap” (19/12/2008). Sebuah titel album & juga judul lagu yang sangat mewakili indentitas bermusik ketiga orang personilnya, Cholil (vokal/gitar), Adrian (bas), dan Akbar (drum). Jika dilihat dari judulnya, rilisan ini akan terkesan lebih gelap, tapi sebenarnya tidak demikian. Di album kedua ini karya-karya ERK justru lebih variatif dibanding album pertama. Tembang riang yang memunculkan imej nakal & genit ERK lewat singleKenakalan Remaja di Era Informatika’ bisa menjadi bukti betapa mereka lebih agresif dan terbuka. Sound di lagu ini terdengar lebih indie rock. Belum lagi di lagu lain macam ‘Mosi Tidak Percaya’ dengan spirit punk yang menggebu-gebu. Disini, mereka berani menunjukkan sisi ekstrovert-nya yang kontras dengan debut self-titled mereka yang introvert. Itulah kenapa “Kamar Gelap/2008” tidak lebih gelap dari “Efek Rumah Kaca/2007”, tapi justru lebih terang. Mereka ingin terus berkembang, malahan kalau bisa berubah. Tentu saja untuk karya-karya baru yang lebih baik & makin menjanjikan. Dan rebelzine berhasil mendapatkan sedikit pembahasan mengenai album baru mereka tersebut. Berikut respon ERK (diwakilkan oleh Cholil) atas pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan.

(Hasil wawancara ini juga dimuat di fanzine Efek Rumah Kaca, DI UDARA edisi 4. Versi PDF-nya bisa diunduh di sini).

Rasanya baru kemarin debut self-titled ERK keluar. Sekarang sudah album ke-2. Apa tidak terlalu cepat? Atau justru menurut kalian cukup ideal rentang waktu antara album pertama dengan yang sekarang?

Kalau dihitung dari rilis album pertama mungkin memang sebentar, kira-kira 1,3 tahun. Tapi kalau dihitung dari kami terbentuk, kayaknya justru terlalu lama. Kami terbentuk tahun 2001, sekarang tahun 2008 dan kami baru punya dua album. Delapan tahun untuk dua album, apakah itu cepat? Sejujurnya kami tidak tahu masa edar album yang ideal untuk saat ini, apakah 1 tahun, 1,5 tahun atau 2 tahun, atau malah lebih. Yang kami rasakan bahwa kami punya materi, kami rekam, dan selesai.

Album pertama kalian begitu menggebrak. Rentetan pujian menghampiri. Panggung-panggung pertunjukan beramai-ramai memperebutkan kalian. Dan self-titled “Efek Rumah Kaca” menjadi produk musik yang berkualitas secara lirikal & musikal. Minimalis tapi memiliki pengaruh yang maksimal. Bagaimana tanggapan kalian?

Yang jelas kami senang bisa memperdengarkan musik kami ke khalayak ramai. Dan senang juga bila ada sebagian orang yang cocok dan menyenangi lagu kami.

Terkait album “Kamar Gelap”, apakah kira-kira akan sesukses album pertama yang mencuri perhatian itu?

Kami tidak tahu dan tidak mau tahu. Serahkan kepada pendengar saja. Kalau suka, silakan didengarkan dan dinikmati. Kalau tidak suka, yah jangan didengar.

Apa konsep atau tema besar yang ingin kalian sampaikan lewat album “Kamar Gelap”? Masih samakah dengan album pertama?

Konsep album sebelumnya apa ya? Apakah memotret fenomena? Kalau kami pernah bilang begitu (mungkin ada jawaban lain tapi kami lupa) maka album ke-2 ini sama. Memotret fenomena. Perbedaannya kali ini kami berkarya bersama dengan Angki Purbandono, seorang fotografer seni dari Yogyakarta. Untuk lebih mengetahui reputasi Angki, silakan lihat di www.angkipu.com

Mulai dari pengumpulan materi lagu, menentukan tema atau isu yang akan disisipkan, hingga proses rekaman dan akhirnya siap edar, apakah kalian sudah cukup puas dengan hasil rilisan “Kamar Gelap”?

Jelas kami belum puas. Kami gak boleh puas. Kalau kami puas, kami harusnya bubar. Tetapi apakah album ini lebih memuaskan daripada album pertama? Jawabannya iya, secara teknikal (proses rekaman, pemilihan sound, waktu pengerjaannya, dll). Secara musikal apakah lebih puas? Tak bisa diukur. Semua lagu baik album 1 ataupun 2 punya sensasi dan romantisme yang berbeda-beda.

Isu ‘efek rumah kaca’ di album pertama begitu relevan dengan kondisi yang sedang hangat dibahas, global warming. Mungkin itu juga salah satunya yang membuat ERK tiba-tiba membumbung. Bagaimana dengan “Kamar Gelap”? Apakah ada isu yang kebetulan pas dengan kondisi sekarang?

Sekali lagi, kami tidak punya kuasa untuk memprediksikan karya kami tiba-tiba membumbung atau malah anjlok. Di album “Kamar Gelap” ada lagu ‘Mosi Tidak Percaya’ (ketidakpercayaan terhadap orang-orang yang mewakili kita dan kinerjanya), ‘Kenakalan Remaja Di Era Informatika’ (video seks yang makin marak. Isu ini sudah dicetuskan lebih dahulu oleh gerakan “Jangan Bugil di Depan Kamera/JBDK”), ‘Jangan Bakar Buku’ (ya tentang pembakaran buku yang masih saja dilakukan), ‘Kamar Gelap’ (fotografi), ‘Tubuhmu Membiru…Tragis’ (sugesti yang kerap menghinggapi para junkie), dan lain-lain. Apakah lagu-lagu tadi relevan atau mengena dengan pendengar musik Indonesia? Kita tunggu sama-sama.

Secara musikalitas apa ada unsur-unsur baru yang mewarnai album ini? Sound-sound yang lebih variatif mungkin? Segelap titel albumnya-kah musik yang dihasilkan? Atau ada tambahan instrumen yang membuat eksplor musik kalian di “Kamar Gelap” jadi lebih kaya dibanding rilisan sebelumnya?

Sound? Sepertinya lebih reverb. Lebih banjir reverb dibanding album 1. Lebih gelap dibanding album 1? Tidak, sedikit lebih terang. Kalau album 1 menurut kami introvert, album 2 lebih ekstrovert. Tambahan instrumen? Keyboard pada laki-laki pemalu yang dimainkan oleh Ramondo Gascaro (SORE).

Apakah pola minimalis di album pertama masih menjadi ukuran musik kalian? Mungkinkah jika musik ERK tiba-tiba berubah di tengah jalan? Lebih rock, progresif atau mungkin menjadi extreme music begitu?

Tidak terlalu minimalis kalau dibandingkan album 1, karena kami bertiga makin kewalahan bermain alat musik sambil bernyanyi. Mungkin karena belum terbiasa memainkan album 2 secara live. Berubah? Mungkin sekali dan malahan kami maunya berubah. Ke arah mana? Kami belum tahu, mengalir saja.

ERK cuma bertiga. Namun, musik kalian terasa begitu penuh. Seperti tak ada celah. Secara teknis, apakah peralatan dan instrumen yang kalian pakai cukup mewakili kebutuhan untuk menghasilkan karya musik?

Sementara cukup, tapi kami masih mau cari-cari alat lagi biar lebih variatif dan mungkin bisa menjadi stimulan untuk karya yang baru.

Di album ini ERK dibantu beberapa kawan dari band lain seperti Iman (ZATPP), Ade Paloh & Mondo Gascaro (SORE). Apakah kontribusi mereka karena adanya kebutuhan dari segi musik atau hanya sekedar untuk berkolaborasi saja?

Ke dua-duanya, ingin berkolaborasi dan ada kebutuhan. Selalu seru berbagi musik dengan orang-orang yang karyanya sangat kami hormati.

Bagaimana pendapat kalian tentang masing-masing dari mereka?

Ade Paloh. Sangat pas bernyanyi dalam ‘Jangan Bakar Buku’. Menurut kami, di band-nya pun (SORE), Ade belum pernah bernyanyi serendah itu.

Ramondo Gascaro. Memberi suasana yang berbeda terhadap lagunya (‘Laki-Laki Pemalu’).

Iman Fattah. Pada awalnya kami mengira Iman banyak memainkan noise di ZATPP, dan ternyata yang memainkan noise di ZATPP adalah Leo. Jadi kami salah kira dan akhirnya merubah ekspektasi dari noise menjadi nada (yang dikuasai Iman), dan kami puas.

Untuk pertunjukan live, kalian beberapa kali mengajak Iman (ZATPP) untuk membantu di lagu ‘Jangan Bakar Buku’. Ada rencana untuk menambah anggota baru di band atau additional mungkin?

Belum ada rencana. Dan Iman Fattah bukan additional. Dia adalah tamu kehormatan ERK.

Single pertama di album “Kamar Gelap” adalah ‘Kenakalan Remaja di Era Informatika’. Kenapa lagu ini yang dijadikan single perkenalan?

‘Kenakalan Remaja Di Era Informatika’ dijadikan single pertama di album ke-2 adalah semata-mata strategi promosi. Kami menerka kira-kira lagu apa di album ini yang mengena di pecinta musik, dan pilihannya jatuh ke lagu itu. Tentunya ada yang menganggap salah atau kurang puas dengan pemilihan single ini dan kami sudah pasti tidak bisa memuaskan semua pendengar musik ERK. Maaf.

Dimana letak ‘nilai jual’ album “Kamar Gelap” menurut kalian? (tidak melulu dilihat dari sudut pandang komersialitas).

Kami tidak mengerti cara menjual sebuah album. Yang kami rasakan, kami lebih matang dalam memahami lagu. Kami di album ini menjadi budak lagu. Lagunya membutuhkan apa, kami turuti. Di ‘Tubuhmu Membiru..’ kami bermain tragis, di ‘Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa’ kami bermain hampa, di ‘Mosi Tidak Percaya’ kami bermain tidak percaya, di ‘Lagu Kesepian’ kami bermain di lautan kesunyian, di ‘Hujan Jangan Marah’ kami berdoa, di ‘Kenakalan Remaja di Era Informatika’ kami bandel, di ‘Menjadi Indonesia’ kami sedih dan berharap, di ‘Kamar Gelap’ kami remang-remang, di ‘Jangan Bakar Buku’ kami adalah api, di ‘Banyak Asap Di Sana’ kami berangkat ke kota, di ‘Laki-Laki Kami Pemalu’ dan di ‘Ballerina’ kami menari.

Kini ERK telah bekerjasama dengan Aksara Records. Jangkauan distribusi album kalian pun akan semakin meluas. Yang di luar kota pun mungkin tidak khawatir lagi jika kehabisan atau belum menemukan CD ERK di rak-rak toko kaset/CD. Bagaimana ERK melihatnya? Sudah se-visi kah dengan Aksara Records untuk jalinan kerjasama ini?

Sedang dijajaki, yang pasti kami ingin maju dan Aksara Records juga ingin lebih maju. Jadi cocok.

Kembali ke album “Kamar Gelap”. Untuk track listing-nya sendiri bagaimana? Mana lagu yang diletakkan di track 1, 2, 3…… dan seterusnya? Ada kesepakatan tertentu mungkin di antara kalian?

Yang jadi patokan pertama adalah lagu pertama. Kami sangat ingin ‘Tubuhmu Membiru…Tragis’ -sebagai track terpanjang dan termuram- ada di lagu pertama. Seolah-olah mengingatkan dengan album pertama. Setelah itu, kami ingin yang menghentak, lalu dipilihlah ‘Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa’. Setelah itu, memilih lagu terakhir, kami memilih ‘Balerina’. Bayangannya seperti sehabis menonton film, ini adalah sesi credit title. Urutan lagu di tengah dipilih hanya berdasarkan dinamika tempo lagu.

Secara umum dari 12 track yang ada di album “Kamar Gelap”, lagu mana yang sangat mewakili identitas bermusik ERK?

‘Kamar Gelap’. Karena itu adalah lagu yang terakhir direkam dan yang paling menunjukkan identitas ERK pada saat itu (Juni 2008).

Untuk artwork sampul album, saya kurang ‘greget’ dengan cover depan album “Kamar Gelap”. Namun, jika dilihat dari sisi fotografi, jujur saja karya scanning Angki tersebut sangat artistik & sarat makna. Bagaimana kesepakatan menjadikan karya scanning Angki tersebut sebagai cover depan? Cukup representatifkah foto tersebut untuk menjelaskan konten album “Kamar Gelap”?

Proses kerjasamanya seperti ini, kami memberikan Angki 12 lagu kami. Angki membuat karya yang terinspirasi dari lagu-lagu itu. Kami tidak memberikan guidance harus seperti apa fotonya karena kami tahu reputasi Angki. Dan kami sangat puas. Foto scanning menjadi cover depan karena memang itu yang paling nendang dan bisa merepresentasikan konten album ini, setidaknya menurut kami.

Bagaimana kalian meng-interpretasikan makna “Kamar Gelap”? Apa yang ingin disampaikan sehingga menurut kalian para pendengar ERK perlu memahami juga?

Di era digital, kamar gelap berubah wujud, dari sebuah ruangan menjadi sebuah software dalam mesin digital, tapi fungsinya tetap sama: mengubah negatif menjadi positif.

Manajer kalian, Bin pernah bilang sebelum “Kamar Gelap” rilis, ERK akan mengeluarkan EP terlebih dahulu, tapi akhirnya batal. Dan kemungkinan besar menurutnya EP tersebut akan keluar setelah “Kamar Gelap”. Bisa ceritakan sedikit mengenai hal itu?

Belum ada persiapan dan belum tahu mau diisi dengan materi apa EP tersebut. Atau mungkin tidak jadi lagi hehehe.. Maklum sudah 2 orang yang berkeluarga. Banyak urusan keluarga.

Akhirnya, semoga “Kamar Gelap” tidak mengecewakan dan semakin menunjukkan kemajuan kalian dalam berkarya lewat musik. Apa harapan kalian untuk album baru ini?

Supaya lagu-lagu kami mengena di pendengar musik Indonesia, baik secara musik maupun tema. Dan tentunya bisa memberikan dampak positif bagi yang mendengarkannya.

Oke, selamat atas dirilisnya album “Kamar Gelap”. Ada tambahan mungkin yang sekiranya ingin disampaikan kepada pendengar kalian?

Biarkan kami berkembang.

teks & wawancara: zelva wardi, foto: dok. erk

myspace

e-mail

22
Dec
08

We Are Pop! Vol.7 “Farewell Edition”

wap7-2

We Are Pop! Vol. 7 “Farewell Edition @ The End Of This Year”

Sunday, 28th December 2008

@ Heyfolks! Jl. Bumi No.17, Mayestik-Jakarta Selatan

Starts 12pm-8pm

Performances:

  • Ballads of The Cliche
  • Candyfloss
  • Doet Maoet
  • The Emergency Kisses
  • The Ellise
  • Funny Little Dream
  • Innocenti
  • Its Different Class
  • Mam
  • Ruby and the Long Story
  • The Trees and The Wild
  • Whistler Post
  • White Shoes and The Couples Company

And it’s all FREE!!

24
Dec
08

Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau

tanmalakaJudul Buku : Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau

Penulis : Zulhasril Nasir

Penerbit : Ombak, 2007

Tebal : 233 halaman

Seperti kita ketahui, Sumatera Barat merupakan daerah yang kental religiositasnya. Apapun kepercayaan yang berkembang, Sumatera Barat tetap menjadi basis agama Islam yang kuat. Penulis tertarik membukukan fenomena ini sekaligus mengangkat cerita pahlawan kita yang terlupakan, Tan Malaka. Bahkan menurut seorang peneliti Departemen Sosial, Tan Malaka dianggap “off the record” dalam sejarah orde baru. Kemunculan dan kematiannya kini masih simpang siur. Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tahu kuburnya.

Di zaman pergerakan Tan Malaka aktif dalam kegiatan partai komunis dunia. Karya besarnya, Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika) dan Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi) memperkenalkan bangsa Indonesia kepada cara berpikir ilmiah.

Buku ini mengupas kaitan antara unsur-unsur egaliter Minangkabau dengan hubungan kerevolusioneran Tan Malaka. Paparan Zulhasril dimulai dari falsafah hidup orang Minangkabau, “Alam Takambang jadi Guru.” Dapat diketahui bahwa alam dan segenap unsurnya memiliki kaitan erat. Berbenturan tapi tidak saling melenyapkan. Menilik pandangan hidup orang Minang, fenomena alam, binatang, tumbuhan tunduk kepada hukum yang telah diatur oleh Tuhan melalui keharmonisan. Hal inilah yang diyakini menjadi dasar pemikiran Tan Malaka dalam berpergerakan.

Gerakan kiri di Sumatera Barat terbagi dalam Islam Komunis, Islam Nasionalis, Sosialis Demokrat, Nasionalis Kiri dan Komunis. Islam Komunis mencoba menggabungkan paham sosialisme Islam dan komunis dalam perjuangan anti penjajahan. Kaum Islam Komunis berasas pada ajaran Tan Malaka yang menghubungkan ajaran tentang kesamaan dan kebersamaan manusia dalam Islam dan Komunis. Islam Komunis kemudian digantikan Islam Nasionalis setelah gagalnya pemberontakan Silungkang (1927) dan ditangkapnya sebagian tokoh pergerakan.

Sosialis Demokrat kemudian dibentuk oleh kaum sekuler berpendidikan dan tidak mengedepankan ideology Islam sebagai bagian dari perjuangan. Gaya perjuangannya mengutamakan gagasan dan diplomasi. Pengikut kelompok ini tidak banyak dibanding kelompok lain.

Selanjutnya kaum Nasionalis Kiri. Mereka yang tergabung di dalam Nasionalis Kiri merupakan orang-orang politik kiri dan Islam yang masuk ke dalam Militer Gyu Gun (zaman Jepang). Mereka aktif bersama Masyumi dan PSII pada masa pergolakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia). Generasi ini adalah yang termuda dalam sejarah pergerakan Minangkabau.

Terakhir, kaum Komunis. Kalangan ini berasal dari gerakan kiri Tan Malaka yang terpengaruh ideology Komunis Marxis-Leninisme. Orientasi ideology itu semakin luas sehingga menghilangkan cir Islam Minangkabau (hal. 77).

Penulis dengan tangkas menggambarkan tokoh-tokoh pergerakan tersebut dalam bagan yang mudah dipahami. Secara garis besar, Hamka, Siradjudin, Isa Anshari, M.Natsir, dan Abdul Muis dikenal sebagai tokoh berorientasi Islam. Sementara Moh. Hatta, Tan Malaka, Chairul Saleh, D.N. Aidit, Sutan Sjahrir dan A. Rivai adalah tokoh berorientasi Nasional. Pertemuan Tan Malaka dan tokoh-tokoh pergerakan tersebut seringkali terjadi di Belanda, Bangkok, atau Semenanjung Malaya. Mengingat status pembuangan Tan Malaka selama 20 tahun di luar negeri.

Ada perbedaan sosial dan ideology antara kaum kiri Minangkabau perantauan (Batavia dan Belanda) dengan di Sumatera Barat,. PARI (Partai Rakyat Indonesia) yang didirikan Tan Malaka tahun 1927 adalah wujud kekecewaan terhadap kelompok komunis Jawa dan Sumatera yang melakukan pemberontakan. Ia melarang PKI melakukan aksi bersenjata, karena menganggap PKI belum mempunyai landasan berpijak yang memadai. Baginya, PKI sebaiknya membangun momentum secara berangsur-angsur lewat organisasi dan pendidikan (hal. 73). Jadi, jelaslah kesalahpahaman selama ini, Tan Malaka bukanlah otak pemberontakan PKI di Jawa dan Sumatera.

Secara ringkas buku ini mengkaji pergerakan kaum kiri Minangkabau dengan aspek sosial budaya alam Minangkabau. Semua itu dikombinasikan dengan perspektif Tan Malaka dan sejarah nasional-regional yang anti penjajahan. Yang unik adalah sebagian besar tokoh pergerakan kiri Minangkabau berasal dari lembaga pendidikan Islam terkemuka awal abad ke 20. Lembaga pendidikan tersebut antara lain; Sumatera Thawalib, Diniyah Putri (Padang Panjang), Adabiyah Islamic College (Padang), dan Sumatera Thawalib Parabek (Bukit Tinggi).

Pemaparan isi buku yang bertele-tele dimaklumi melihat padatnya materi yang ingin disampaikan. Selebihnya buku ini patut mendapat acungan jempol. Selamat membaca.

teks resensi: gall

24
Dec
08

Inside The Death Camp

wmphpJudul Buku : Inside The Death Camp

Pengarang : Stephane Downing

Penerbit : Narasi, 2007

Tebal : 127 halaman

Hidup segan mati tak mau. Ungkapan itu menggambarkan kehidupan kaum Yahudi dan bangsa Slavia di masa pemerintahan NAZI-Hitler. Beberapa diantaranya beruntung hanya mengalami diskriminasi oleh masyarakat. Sisanya harus menelan pil pahit di kamp konsenterasi. Sampai saat ini keberadaan kamp konsenterasi, terutama tragedi Holocaust sendiri, masih menyisakan tanda tanya besar. Benarkah NAZI merajalela di Eropa?

Kamp konsenterasi NAZI merupakan bagian dari Holocaust. Pemusnahan ras Yahudi, Gypsi, Slavia dan Soviet di Eropa sebenarnya dilatarbelakangi oleh sejarah ideologi anti-Yahudi dan anti-Semit. Ideologi rasial yang muncul pada akhir abad 19 dan awal abad 20. hal tersebut menjadi dasar pemikiran dalam tahap-tahap pemusnahan kaum Yahudi.

Tahap pertama diwujudkan melalui peraturan dan undang-undang yang mengisolasi kebudayaan Yahudi. Tahap kedua merupakan tahap peraturan totaliter yang eksperimental. Tahap ini mengubah kekuatan NDSAP (National Sozialische Deutsche Arbeiter Partei), partai berpengaruh saat itu, menjadi satu kekuatan politik yang memegang posisi kunci dari pejabat penting/tokoh-tokoh penting, manajemen, dan agen masyarakat yang mempunyai kontrol (hal.36).

Tahap ketiga dimulai dengan serangan terhadap wilayah yang dikuasai oleh Uni Soviet pada tanggal 22 Juni 1941. Tahap ini merupakan langkah pertama pembantaian terencana Yahudi. Dijalankan secara terpusat oleh SS melalui Einsatzgruppen (unit pembunuh aktif). SS (Schutztaffel) adalah unit paramiliter elit yang dibentuk secara khusus oleh Adolf Hitler dan biasa disebut Tentara Partai NAZI. SS adalah kesatuan paling bertanggungjawab dalam Holocaust. Kesatuan ini dibubarkan pada tahun 1945 setelah Jerman kalah dalam PD II.

Siapa Yahudi?

Enabling Act yang berlaku sejak 24 Maret 1933 memberikan definisi mengenai siapa Yahudi. Di pasal ketiga memuat ketentuan bahwa seorang non-Arya adalah mereka yang berketurunan non-Arya. Definisi ini juga berlaku bagi Yahudi yang salah satu orangtua, kakek, atau neneknya adalah pemeluk agama Yahudi.

Pada perkembangannya, kaum Yahudi ditempatkan di pemukiman yang disebut ‘Ghetto’. Kemudian pada 17 Agustus 1938 berlaku ketentuan bagi Yahudi untuk mengubah nama mereka. untuk perubahan nama depan di bawah instruksi Departemen Dalam Negeri Jerman.

Sebagian besar kesaksian dalam buku ini memiliki alur sejenis. Hanya perbedaan tempat. Kisah Anne Frank, gadis Yahudi berdomisili di Frankfrut, Jerman dibahas dengan apik di awal buku.

Anne Frank lahir dan dibesarkan di Jerman. Saat PD I berkecamuk, ia sekeluarga pindah ke Belanda. Disana ia berharap akan memiliki kehidupan baru yang aman. Namun ketika NAZI mulai menjalankan sistem administrasinya di Belanda bersama pegawai sipil Belanda, keadaan berubah. Mereka mulai memisahkan orang Yahudi dengan yang lain. Pemisahan ini berakibat penghapusan hak kaum Yahudi sebagai warga Negara dan pengisolasian kaum Yahudi terjadi kembali. Anne pun meninggalkan sekolah dan memasuki Jewish Lyceum (daerah Yahudi).

Anne menggambarkan bahwa banyak teman Yahudi-nya ditahan dan ditempatkan dalam satu kelompok. Polisi rahasia NAZI, Gestapo, memperlakukan mereka dengan kasar dan memindahkan ke dalam gerbong ternak tujuan Westerbork. Disana terdapat kamp besar tempat Yahudi dikirim untuk bekerja. Anne berpikir banyak diantara mereka yang akhirnya dibunuh. Radio Inggris mengatakan kalau mereka diracuni gas. Mungkin itu cara tercepat untuk mati. Anne tak pernah menyangka bahwa pikirannya akan menjadi kenyataan. Anne dan kakaknya akhirnya dikirim ke kamp pekerja dan akhirnya kehilangan hidup disana.

Kesaksian lain muncul dari Rudy dan Pinchus di Auschwitz dan Bluma di Bergen-Belsen. Mereka salah satu diantara yang selamat.

“Di dalam kamp, para penjaga mulai mencukur rambut para penghuni kamp. Kami telanjang bulat dan mereka mulai mentato kami, nomorku 161253,” ungkap Pinchus.

Pengalaman lain dialami Rudy. Tidak ada yang tumbuh di Auschwitz, tidak ada burung, tidak ada yang hidup, bahkan rumput atau apapun. Banyak tahanan yang kelaparan termasuk Rudy. Jenazah yang mati kemudian dilemparkan ke barisan barak yang paling akhir di bawah menara pengawas. Raga kosong tersebut bertumpukan, telanjang, dan tak berharga. Sepengetahuan Rudy, jenazah itu akan dikremasi. Saat itu Rudy belum tahu kalau ada kamar gas dan tahanan yang tewas karena gas beracun. Sungguh mengerikan.

Benar atau tidaknya Holocaust sebagai genosida kembali kepada sejarah itu sendiri beserta fakta-fakta yang ditinggalkan. Setiap orang punya sudut pandang sendiri. Namun, peristiwa apapun yang merampas hak hidup tidak dapat dibenarkan.

Dibalik itu semua, buku ini cukup menarik untuk dibaca penambah khazanah pengetahuan. Cara penulis menggambarkan masih terkesan subjektif. Namun tak mengurangi nilai sejarah yang ada di dalamnya. Penulis tak lupa menyisihkan dokumen berisi penjelasan keadaan politik saat itu sehingga buku ini hadir dalam bentuk singkat, jelas dan berisi.

teks resensi: galis remina/rebelzine

24
Dec
08

Kira Kira – Our Map to the Monster Olympics

cover-798-716

Label : After Hours

Format : CD

Country : Japan

Released : 2008

Genre : Electronic, Folk

Style : Folk, Experimental, Abstract

Total time : 46:11

Track list

  1. Sjarmaland Intro {2:35)
  2. Melur Sjamur (4:30)
  3. Agustskot (3:23)
  4. Gremin Holiday (6:15)
  5. Happahrolfur Salhsu (3:50)
  6. Bless (3:30)
  7. One Eyed Waltz (3:10)
  8. Langti Burtu Bua Vinir (7:31)
  9. Beach Box Disasters (6:58)
  10. Hjartafanturrin Skrajafur (3:29)

Kira Kira plays toymusic, cozy draculateeth scary dreamy. She runs Kitchen Motors With Hilmar Jensson & Johann Johannsson and stages hauntings-filmed on super 8, recorded on the pocket Dictaphone. She’s making a film about Sigriour Nielsdottir with Orri, Inga & Maggi. Kira Kira also makes radio shows for Ras 1 in Iceland about eccentric music. Her debut album , Skotta came out on Smekkleysa (Bad Taste) in 2006 and her second LP, Our Map to the Monster Olympics will be out on May 1st 2008.

Siapa bilang monster selalu menyeramkan? Pernahkah Anda membayangkan sekumpulan melankolik dan beberapa manusia bersama-sama bergabung membentuk sebuah ensembel. Mereka bersama-sama memainkannya dalam sebuah gudang yang penuh mainan anak-anak dan alat-alat rumah tangga. Lalu keluar bersama-sama membentuk parade sendu yang romantik di pelataran ilalang yang berangin.

Kira Kira adalah sebuah proyek yang merepresentasikan keadaan tersebut. Sebuah proyek eksperimentasi penggabungan gaya bermusik folk, electronic, field recording dan mainan anak-anak. Terbentuk dari sekelompok orang yang berasal dari Iceland dan terinspirasi oleh film-film David Lynch serta cerita-cerita tentang Gremlin, Dracula dan semua yang berbau permainan anak-anak.

Vokal yang romantik melankolis kekanak-kanakan dari sang vokalis wanita yang juga otak dari proyek ini, Kristin Bjork Kristjansdottir mengingatkan gaya bernyanyi child-like Alison Shaw-nya Cranes. Musiknya sendiri pun sedikit mengingatkan pada beberapa band experimental electronic shoegaze macam Abassi Brothers dan band experimental folk macam Efterklang. Hanya saja eksplorasi sound dari hasil bebunyian mekanis mainan anak-anak yang mentah, instrument akustik, perkusi, suara-suara manusia, dan campuran sampling laptop tampaknya benar-benar coba dikedepankan. Hasilnya pun berupa ambiensi sendu yang tenang dan melankolik teatrikal khas Kira Kira.

Di album keduanya yang bertajuk “Our Map to the Monster Olympics”, Kira Kira menyuguhkan 10 track manis kekanak-kanakan ber-Icelandic ria yang kesemuanya benar-benar mengajak kita pergi ke alam langutan monsteria yang membuat ekspresi senyum sendu terus-menerus tersungging dengan sendirinya.

FYI! Kristin Bjork Kristjansdottir adalah juga seorang visual work performer yang kerap membuat komposisi-komposisi suara dalam teater, film dan dance. Tampaknya hal inilah yang menguatkan konsep bermusik Kira Kira.

Sajian yang bisa dinikmati dalam keadaan semelankolia apapun. Walau terdapat banyak bebunyian abstrak dan sedikit kasar, tidak ada setitik pun nada kebencian di sini. Secangkir teh hangat, monster-monster yang tersenyum mengintip di jendela, tulisan-tulisan puisi cinta dan langutan kepada seorang terkasih yang sedang tertawa bahagia bersama yang lain.

teks: adit bujubunengalabuset/rebelzine

myspace

kirakonzert_2

28
Dec
08

Lebih Baik Aku tak Masuk Surga

to-heaven-web

Oleh: Sasmito

RANI, namaku. Kata ibu, aku lahir bersamaan dengan munculnya gerhana matahari, tepat pukul 12.00 siang tangis pertamaku terdengar di dunia yang penuh kepalsuan ini. Tangis yang hanya aku sendiri yang mengerti. Tangis yang bagi orang di sekelilingku adalah tangis kebahagiaan. Tapi tidak bagiku. Tangis ini adalah tangis ketakutan terhadap dunia. Dunia busuk yang selalu berlindung di balik bungkus. Bungkus yang menjadikan kejelekan manusia terlihat sebagai kebajikan.

Ayahku adalah seorang kyai kondang di kotaku. Haji Ismet, biasanya orang-orang memanggilnya atau Pak haji saja. Entah kenapa kalau ayah dipanggil tanpa embel-embel haji, amarahnya langsung meledak. Bahkan pernah pembantuku langsung ditampar karena memanggilnya dengan sebutan Pak Ismet. Waktu itu aku belum mengerti. Kenapa tanpa embel-embel haji, ayah langsung marah.

Ayah lain sekali dengan ibu. Ibu termasuk wanita yang soleh. Jubaidah namanya. Ia adalah anak dari salah seorang murid ayah. Konon kata ayah pada kakek, kalau mau masuk surga, kamu harus menikahkan anakmu dengan orang yang memakai label haji atau kyai. Kakekku mengiyakan saja titah itu. Dan akhirnya ia menikahkan anaknya, ibuku, dengan ayahku. Hingga lahirlah aku sekarang.

Menginjak umur lima tahun, aku mengalami hal yang aneh. Aku sering menangis karena ketakutan. Ketakutan yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Bahklan ayah dan ibu pun tak mampu memahami ketakutan ini. Pernah, ketika aku diajak ke pesantren ayah. Aku berteriak dan menangis kencang.

“Ada babi, ada babi, ibu tolong aku, ibu. Ada babi yang berjalan mendekatiku,” teriakku sambil menangis minta tolong pada ibu dan bersembunyi di balik dekapan kasih sayangnya.

Tentu saja ibu bingung. Di sekitar pesantren itu, ternyata tidak ada satupun babi, atau hewan-hewan yang lainnya. Yang ada hanyalah seorang pejabat yang sedang berkunjung ke pesantrenku. Tapi, mengapa banyak pejabat yang mengunjungi pesantren ayah? Aku sendiri belum memahaminya waktu itu.

* * *

UMURKU sekarang sudah sembilan belas tahun. Wajah kecilku pun berubah menjadi wajah wanita yang mampu menarik hasrat seorang laki-laki. Bahkan, dadaku yang dulu masih rata, sekarang sudah tumbuh dengan begitu indahnya. Hingga kaum adam ingin menyentuhnya walaupun terselimut di balik indah jilbabku.

Ya, sembilan belas tahun sudah berlalu. Aku semakin terbiasa dengan ketakutan-ketakutan yang selama ini emmbayangiku. Ketakutan yang hanya aku sendiri yang bias mengerti. Ketakutan yang akhirnya menjadi suatu kewajaran bagiku. Ketakutan yang menjadikan aku memiliki kemampuan lebih jika dibandingkan dengan makhluk Tuhan lainnya. Kata orang, aku memiliki indera keenam. Ada juga yang mengatakan ini adalah ilmu dari Tuhan karena aku lahir tepat ketika gerhana matahari. Entah apa alasannya?

Yang jelas aku memiliki keanehan yang tidak dimiliki orang lain yang membuatku takut. Aku mampu melihat manusia dalam arti sesungguhnya. Manusia yang dalam pandanganku tak lebih seperti seekor binatang. Keanehan inilah,s embilan belas tahun silam yang membuatku ditampar oleh ayah, karena seorang pejabat kupanggil babi. Keanehan ini juga yang membuatku berteriak di musholah, karena aku melihat ular-ular yang sedang sholat di sebelah manusia. Keanehan yang akhirnya hanya aku yang mampu memahaminya. Kenapa mataku ini melihat manusia sebagai sosok babi atau binatang lainnya? Atau keanehan mataku yang melihat ketampanan seorang laki-laki, yang walaupun di mata orang lain sungguh sangat jelek, yang juga masih membawa teka-teki.

* * *

RANI, kamu kesini, Nak!” Panggil ayah di suatu malam.

“Ada apa, Yah?” jawabku sambil berjalan menuju ruang tamu dan kemudian duduk di sofa.

Entah aku merasa ada yang lain dari ayah. Mataku mulai memandang samar wajah ayah. Sepintas aku melihat melihat tumpukan uang di atas kepalanya. Tapi, sebentar lagi, kembali ke wajah asli ayah.

“Rani, kamu sudah paham kan ajaran Islam? Bahwa kita sebagai umat Nabi Muhammad haruslah mengikuti sunnahnya. Dan itu berarti kita harus menikah,” jelas ayah. Suaranya mirip sekali ketika ayah sedang berceramah di masjid-masjid. Lembut dan enak didengar. Tapi lain terdengar di telingaku. Suara itu memberi arti lain. Suara lmbut yang mengandung unsure paksaan. Bahwa aku harus menikah dalam beberapa minggu ini.

Seminggu kemudian, ayah memperkenalkanku dengan salah satu temannya. Prof. Kyai Haji Abdullah, namanya. Ia merupakan salah satu politikus Islam yang sangat terkenal di Negara ini. Bahkan ketenaran inilah yang sebentar lagi akan menghantarkannya ke kursi kepresidenan tahun ini. Ayah bilang, aku harus menikah dengannya karena ia merupakan seorang kyai yang sangat mengerti agama. Kyai yang telah hafal detail hadits-hadits Nabi Muhammad. Kyai Haji yang selalu didengar ribuan orang ketika ia berceramah. Professor Kyai Haji yang tangannya selalu dicium orang-orang yang berharap keselamatan darinya.

Tapi tidak dalam pandangan mataku. Mataku melihat lain terhadap kyai itu. Dalam pandangan mataku, ia hanyalah manusia berkepala buaya dengan perut yang buncit. Kyai yang telah bebas memilih dan menumpuk perempuan untuk dijadikan isteri dengan hadits-hadits Nabinya. Kyai Haji yang bebas meminta sumbangan untuk keperluannya sendiri dengan memakai ayat-ayat Tuhan. Prof Kyai Haji yang menipu umat hingga mau memilihnya di pemilihan presiden nanti dengan keislamannya. Kyai busuk yang tidak lebih tinggi dari seekor hewan.

Ayah dari hari ke hari selalu memaksaku agar mau menerima pinangan dari buaya itu. Bahkan, dorongan-dorongan ayah dari hari ke hari semakin terasa seperti paksaan. Omongan-omongan ayah muali berubah menjadi sebuah tamparan. Himbauan-himbauan mulai berubah menjadi sebuah makian. Tapi, aku tetap tidak mau menyerah. Menyerah kawin dengan seorang buaya yang perutnya buncit. Walau surga sekalipun imbalannya. Lebih baik aku tidak masuk surga, daripada dijadikan isteri kelima. Isteri yang dijadikan sekedar pemuas hawa nafsu seekor buaya yang berlebel Profesor Kyai Haji. Bajingan. Tidak lama kemudian aku jadi teringat dengan tumpukan uang di atas kepala ayah.

Kemudian aku bertanya pada ibu, “Mengapa aku harus menikah dengan laki-laki yang sudah beristri empat, Bu?”

“Dia kan seorang kyai, Rani. Nanti kamu pasti akan masuk surga kalau menikah dengannya!”

Tapi, aku tidak percaya dengan omongan ibu. Aku tidak percaya, kalau aku nikah dengan kyai pasti akan masuk surga. Aku mendesak terus, hingga ibu mengaku. Ya, ada motif lain selain motif agama. Ternyata ayah terlilit hutang dengan Haji Abdullah untuk pembelian mobil. Bahkan, kata ibu kalau aku menikah dengan Haji Abdullah, maka ayah akan dibelikan helicopter. Aku sadar ternyata ayah juga telah memanfaatkan ayat-ayat Tuhan, hanya untuk kepentingannya sendiri.

Berita penolakan pinangan si Buaya ini pun terdengar masyarakat pesantren. Mereka mulai menggunjingkan aku. Mencibir aku. Bahkan tidak jarang ada yang memakiku langsung.

“Dasar orang goblok. Masak dijadikan isteri kyai haji tidak mau. Goblok kan, kalau ada orang yang tidak mau masuk surga.”

Ada juga yang bilang aku bukanlah seorang anak yang patuh terhadap orang tua. Dan itu pasti ganjarannya adalah neraka. Ada-ada saja yang dijadikan alas an mereka untuk menyalahkan aku. Dan selalu alasan-alasannya dikaitkan dengan agama.

Lama-kelamaan tidak tahan juga aku tinggal di rumah. Tamparan-tamparan ayah kini selalu mendarat di wajahku setiap hari. Pesantren yang dulunya menjadi sahabatku, kini berubah menjadi musuhku. Kubereskan pakaianku. Kumasukkan ke dalam tas besar. Aku harus meninggalkan rumah. Jakarta…

Pagi-pagi sebelum subuh, aku diam-diam keluar dari rumah. Dengan bekal seadanya kutekadkan untuk kabur dari rumah ini. Aku bertanya-tanya dalam hati. Apakah salah aku tidak menikah dengan seorang Kyai Haji yang sebenarnya seorang buaya berperut buncit? Apakah salah kalau aku sebagai seorang wanita, menolak ketika ingin dijadikan pemuas seks seorang Kyai? Apakah salah aku tidak mematuhi perintah orang tuaku, kalau perintah itu akan menghantarkanku ke derita yang nyata? Aku hanya mampu bertanya sepanjang langkahku menuju Jakarta.

Aku tak berharap mendapat jawaban dari makhluk-makhluk Tuhan. Karena aku yakin jawaban manusia telah salah terlampau jauh dari kebenaran Tuhan. Tapi inilah kenyataannya. Ayat-ayat Tuhan, hadits-hadits Nabi, dan perintah-perintahnya telah dijadikan dalih pemuas keinginan manusia. Manusia-manusia yang tidak lebih dari binatang yang bersembunyi di balik label-label Haji. Dan manusia yang sembunyi di balik tumpukan gelar.

“Tuhan, Lebih baik Aku tidak masuk surga, jika poersyaratannya aku harus menikah dengan Profesor Kyai Haji yang haus akan eksploitasi wanita.”

31
Dec
08

Kamar Gelap: “Sisi Ekstrovert Efek Rumah Kaca”

cover-album-kamar-gelap

Efek Rumah Kaca – Kamar Gelap/CD (Aksara Records, 2008 )

Sebelumnya maaf kepada pengunjung setia Rebelzine jika saya telat memuat ulasan album baru Efek Rumah Kaca ini. Keseluruhan trek yang ada dalam rilisan mereka baru benar-benar saya dengarkan semua kemarin malam. Itu juga setelah saya mendapatkan keping CD-nya dari seorang kawan. Dari mana saya harus mulai mengulasnya? Begitu besar ekspektasi orang-orang terhadap album kedua mereka ini, tak terkecuali saya.

Sejenak mari kita kembali ke belakang sebentar. Tepatnya setahun yang lalu ketika ERK muncul membawa sebuah konsep baru dan segar untuk ranah musik pop tanah air. Memadukan konten yang terbilang berat (memotret fenomena jaman) lalu mengemasnya dengan latar musik sederhana, pop. Kalau tidak berlebihan mungkin bisa dibilang debut self titled mereka adalah album paling terpuji tahun 2007 lalu. Lihat saja rentetan pujian masif dari segelintir media cetak yang antusias mengulas album penuh pertama mereka. Belum lagi dari para jurnalis internet. Semua seolah-olah berlomba menjadi pengulas terbaik untuk album ERK.

Tak jauh beda dengan rilisan pertama mereka, untuk album kedua ini euphoria-nya juga demikian. Lagi-lagi banyak orang menaruh harapan besar akan karya-karya ERK yang baru & berkualitas. Mereka tak sabar menanti album yang bertajuk “Kamar Gelap” ini lepas ke pasaran. Album pertama ERK masuk ke dalam kategori memuaskan, karenanya ekspektasi orang-orang untuk album kedua mereka harus lebih memuaskan.

Bagi sebagian band yang tidak memiliki stok lagu yang banyak setelah mereka merilis sebuah album, hal ini mungkin agak berat untuk pembuatan album berikutnya. Apalagi jika album penuh pertama mereka menuai sukses. Menjadi beban tersendiri untuk memproduksi karya selanjutnya yang sebagus karya sebelumnya.

Tapi untung saja tidak demikian dengan ERK. Mereka bisa dibilang cukup produktif. Mereka memiliki stok lagu yang lumayan banyak. Semenjak ERK terbentuk tahun 2001 mereka telah menulis banyak lagu. Bahkan sebagian lagu yang ada di “Kamar Gelap” sudah tercipta dari beberapa tahun silam. Saya pikir mereka tak perlu khawatir akan kehabisan persediaan. Dan karenanya wajar jika mereka menelurkan album baru dengan rentang waktu yang tidak terlampau lama dibanding album sebelumnya.

Di album “Kamar Gelap”, ERK menyuguhkan 12 trek yang bisa dibilang cukup variatif. Berbeda dengan self-titled mereka. Dibuka dengan ‘Tubuhmu Membiru…Tragis’. Pertama kali saya mendengar lagu ini ketika ERK memainkannya secara akustik di radio 68H. Saat itu mereka masih promo album pertama. Secara musikal saya menilai tidak ada yang berbeda ketika ERK memperkenalkan lagu tersebut dulu dan sekarang ketika lagu ini telah masuk album kedua. Namun, secara lirikal ada sedikit yang berbeda. Ada beberapa penggal lirik yang diubah tapi tetap tidak menghilangkan maksud yang ingin disampaikan.

Berikutnya ada ‘Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa’ di trek kedua. Salah satu lagu up beat di album ini namun tetap bernuansa sedikit kelam. Untuk penulisan lirik di lagu ini Cholil dibantu oleh sang istri, Irma Hidayana. Irma juga membantu Cholil di lagu ‘Laki-laki Pemalu’. Di trek ketiga ada lagu menghentak yang mengingatkan saya pada spirit lagu ‘Di Udara’ di album pertama mereka, ‘Mosi Tidak Percaya’. Lagu ini bercerita tentang ketidakpercayaan mereka terhadap orang-orang yang mengatasnamakan rakyat di kursi pemerintahan. Bedanya dengan ‘Ði Udara’, di lagu ini ERK tampil dengan spirit punk yang menggebu-gebu. Bisa terdengar jelas lewat beat drum Akbar. Lantunan vokal Cholil juga terdengar sangat tegas.

Selanjutnya ada ‘Lagu Kesepian’ di trek keempat. Ini adalah lagu sendu favorit saya di album ini. ‘Hujan Jangan Marah’ mengisi trek selanjutnya. Merupakan trek renungan milik ERK. Sempat menjadi lagu favorit ketika pertama kali saya dengar. Tapi kini posisinya dirampas oleh lagu yang lain.

Berikutnya tempo kembali dinaikan setelah 2 trek sebelumnya berturut-turut bertempo lambat. Diisi oleh single pertama di album ini, ‘Kenakalan Remaja di Era Informatika’. Lagu ini jelas-jelas menunjukkan betapa ERK menjadi sangat agresif dan terbuka dalam berkarya. Imej lagu ini sangat nakal dan riang dengan balutan sound indie rock yang kental. ERK mampu keluar dari pattern musik minimalis yang gloom. Eksplorasi musik ERK cukup kentara di lagu ini. Sebagai single perkenalan, ‘Kenakalan Remaja di Era Informatika’ sangat pas dan mengena di kuping pendengar.

Di trek nomor tujuh ada lagu yang lumayan berat, membuat berpikir, dan penuh harap –setidaknya menurut saya-, ‘Menjadi Indonesia’. Bagi yang pernah membaca buku karangan Parakitri T. Simbolon dengan judul yang sama mungkin akrab dengan judul lagu milik ERK ini. Untuk menciptakan lagu ini ERK terinspirasi dari judul buku karangan penulis tersebut.

‘Kamar Gelap’ mengisi trek selanjutnya. Lagu yang juga dijadikan titel album mereka. Saya sangat menyukai lagu ini. Sepertinya lagu ini sengaja diambil untuk judul album karena di album kali ini ERK berkreasi bersama fotografer seni asal Jogja, Angki Purbandono untuk pengerjaan artwork ‘Kamar Gelap’.

Lagu kesembilan ‘Jangan Bakar Buku’. Bercerita tentang protes pembakaran buku yang sempat terjadi beberapa waktu lalu. Di lagu ini ERK dibantu oleh 2 musisi tamu, Ade Paloh (SORE) dan Iman Fattah (Zeke and The Popo). Ade Paloh membantu mengisi vokal di lagu ini. Sedangkan Iman Fattah menyumbangkan permainan gitarnya.

Lagu favorit saya yang lain ‘Banyak Asap di Sana’ ada di trek kesepuluh. Diikuti dua trek terakhir, ‘Laki-Laki Pemalu’ dan ‘Balerina’. Di ‘Laki-Laki Pemalu’ ERK juga dibantu musisi tamu. Kali ini Ramondo Gascaro yang juga dari SORE mengisi tambahan instrumen keyboard di lagu ini. Untuk penulisan lirik kembali Irma membantu Cholil.

Rangkaian album ‘Kamar Gelap’ berakhir di trek keduabelas dengan iringan tembang riang ‘Balerina’. Lagu ceria yang merefleksikan sebuah keseimbangan. Setidaknya bisa dijadikan motivasi menjalani episode hidup.

Perlu diingat juga di album ini ERK tidak berkarya sendiri. ‘Kamar Gelap’ merupakan karya tandem antara ERK dan Angki Purbandono (seniman fotografi asal Jogja dan juga aktivis MES56). ERK menciptakan karya audio (lewat lagu-lagu mereka) sedangkan Angki menciptakan karya visual fotografi dengan mengemas artwork album ‘Kamar Gelap’. Hingga jadilah album kedua ERK ini berkonsep audio-fotografi.

Tapi jujur saja saya tidak terlalu puas dengan hasil akhir kemasannya. Bukan tidak puas dengan karya-karya foto milik Angki, bukan.. namun lebih ke packaging-nya yang terkesan terburu-buru. Ekspektasi saya untuk kemasan album sama besarnya dengan ekspektasi akan karya-karya lagu ERK. Tapi saya tidak puas dari segi kemasan. Kesan terburu-buru mungkin bisa terlihat di sampul belakang untuk penulisan kode ring back tone yang salah untuk satu provider. Kode RBT yang benar sudah diralat dan bisa dilihat di myspace ERK. Selain itu juga, untuk lampiran teks lagu hanya di cetak di kertas biasa tanpa desain sama sekali. Ya, sangat disayangkan saja. Padahal saya berharap keduabelas karya foto Angki yang sarat makna itu bisa dikemas sedemikian rupa sehingga hasilnya benar-benar maksimal.

Namun, secara keseluruhan karya-karya ERK dalam rilisan kedua mereka ini patut mendapat apresiasi lebih. ERK berani mengeksplorasi musik mereka ke wilayah yang lain. Jika album pertama sangat gelap dengan dominasi lagu bertempo lambat, di album ‘Kamar Gelap’ mereka menunjukkan sisi rock dengan beberapa lagu bertempo cepat. Keduabelas lagu yang mengisi album ini menunjukkan betapa ERK semakin matang menciptakan karya-karya baru yang lebih baik dan makin menjanjikan.

(zelva wardi)

myspace

email

31
Dec
08

Keriaan Akhir Tahun Para Penikmat Indie di We Are Pop! Vol. 7 (28.12.08/Jakarta)

harlan

Minggu, 28 Desember 2008, saya sengaja menyempatkan diri untuk menyaksikan acara reguler penikmat musik indie pop di Jakarta, We Are Pop! Vol. 7. Gelaran ini seperti biasanya diadakan di beranda Heyfolks!, Mayestik, Jakarta Selatan yang merupakan markas dari band Ballads of the Cliché sekaligus official store mereka.

Saya tiba di lokasi acara sekitar pukul 17.00. Sangat telat memang, karena menurut jadwal acara dimulai sejak pukul 12.00 siang. Line up band yang akan tampil kali ini cukup banyak, ada 14 band. Saya melewatkan 7 penampil yang sudah memainkan set mereka sejak siang, Ruby and the Long Story, Candyfloss, Mam, It’s Different Class, Douet Maoet, The Emergency Kisses dan Funny Little Dream.

whistler-post1

Sayang, tidak sempat melihat mereka. Ada beberapa dari band tersebut yang belum pernah saya lihat aksi panggungnya. Ya, mungkin saja ada yang menyuguhkan sesuatu yang sedikit berbeda. Jujur saja, cukup jenuh juga jika datang ke sebuah pagelaran musik, kemudian melihat band-band yang tampil memainkan musik setipe tanpa menawarkan sesuatu yang baru.

Ketika menginjakkan kaki di lokasi, saya sudah disambut dengan permainan musik pop ringan nan ceria dari The Ellise. Band dengan vokalis perempuan ini merupakan salah satu jebolan kompilasi rilisan Nu Buzz Network, “Nu Buzz 1.1”. Dan sepertinya sudah lagu penutup yang mereka bawakan sore itu, karena lantunan single ‘Musik Itu Indah’ yang terakhir saya dengar.

wap7_51

Oiya, sebagai informasi di We Are Pop! Vol.7 kali ini ada 2 panggung kecil yang amat sederhana yang sepertinya sengaja disediakan oleh panitia. Mungkin saja hal ini dilakukan karena deretan penampil kali ini terhitung yang terbanyak. Satu panggung baru tepat berada di depan pintu masuk “Quick Print” yang kabarnya telah dikosongkan dan akan diperlebar untuk bangunan Heyfolks! dan Komunitas Lomonesia. Harlan yang merupakan penampil selanjutnya terlihat sudah bersiap-siap di panggung ini.

Vokalis band almarhum C’mon Lennon ini jadi semakin sering saja tampil. Padahal dulu ia pernah berseloroh kepada saya sudah letih untuk tampil nge-band. Dan kini ia muncul kembali dibantu David Tarigan (gitar) dan Acum/Bangku Taman (bass) dengan format band namun beridentitas solo menggunakan namanya, Harlan.

ballads-of-the-cliche3

Harlan yang akrab disapa Bin, sekarang mungkin lebih dikenal sebagai personal manager Efek Rumah Kaca. Hasratnya untuk bermusik nampaknya masih menggebu-gebu hingga ia membuat proyek solo-nya ini. Penampilan Harlan sore itu terkesan dadakan, spontan dan insidental. Gaya bernyanyinya masih kuat terdengar seperti ketika ia masih bersama di C’mon Lennon.

Harlan adalah penampil terakhir sebelum jeda maghrib. Usai penampilan Harlan ada sedikit waktu bagi saya dan beberapa teman untuk melonggarkan saraf-saraf otot dan menunaikan shalat maghrib di masjid yang tak jauh dari lokasi acara. Usai shalat maghrib kami kembali ke venue, dan terlihat Innocenti sudah mengambil alih panggung. Saya tidak terlalu akrab dengan lagu-lagu yang mereka bawakan, karena ini kali pertama juga saya menyaksikan band ini. Namun suara bernyanyi yang khas dari sang vokalis dan keramahannya menyapa penonton mendapat apresiasi tersendiri dari saya (mungkin juga penonton yang lain).

the-trees-and-the-wild2

Innocenti turun saya pun memutuskan turun dan keluar dari venue. Lelah juga berdiri di kerumunan yang semakin sesak. Harus pintar-pintar mencari celah untuk mendapatkan ruang berpijak dan sudut pandang yang nyaman. Menurut rundown, penampil selanjutnya adalah Luky Annash. Lagi-lagi saya harus melewatkannya. Di luar saya mencari sedikit ruang gerak dan melepas dahaga dengan meneguk air mineral yang sengaja saya bawa dari rumah.

Penampil berikutnya adalah Whistler Post. Saya kembali ke venue. Namun kali ini saya memutuskan untuk menyaksikan dari sisi yang lain, tepatnya di pinggir jalan dimana sebagian penonton juga banyak yang berdiri. Di sudut inilah saya berdiri hingga acara usai menyaksikan empat band terakhir. Setelah Whistler Post band tuan rumah Ballads of the Cliché kembali bersiap-siap. Bagi mereka acara We Are Pop! Vol.7 kali ini cukup mengharukan. Pasalnya, keyboardist mereka Fino memutuskan hengkang dari band untuk fokus di bisnisnya. Dan malam itu adalah penampilan terakhir Fino bersama rekan-rekan satu band-nya.

white-shoes-and-the-couples-company2

Ada beberapa momen spesial yang mungkin tidak akan dilupakan Fino malam itu. Bobby sang vokalis memberikan kenang-kenangan berupa foto mereka yang sudah dibingkai dan beberapa buah balon gas yang diikatkan flyer acara. Di beberapa lagu Fino juga didaulat bernyanyi sendiri tanpa Bobby. Puncak keharuan mungkin terasa ketika orangtua Fino juga hadir di venue dan saat lagu terakhir dimana Ballads of the Cliché membawakan tembang ‘Can’t Smile WithoutYou milik Barry Manilow. Ya, sebuah perpisahan memang menyesakkan. Terlebih ketika kebersamaan telah terjalin cukup lama. Secara penampilan tidak ada yang menarik dari Ballads of the Cliché selain momen-momen di atas. Apalagi dari tujuh kali penyelenggaraan We Are Pop! Mereka tampil enam kali. Kalau bukan die hard fans mungkin akan bosan melihat mereka.

Bersiap di panggung satu lagi The Trees and The Wild. Sepertinya mereka yang saya tunggu-tunggu. Rebelzine sempat penasaran dan akhirnya mewawancara mereka beberapa waktu lalu (silahkan lihat di halaman wawancara). Buat saya mereka yang tampil sangat baik malam itu walau preparing-nya cukup lama. Kira-kira jam 21.30 mereka baru bermain. Sekitar 5-6 lagu dengan komposisi akustik yang sederhana namun matang berhasil mereka bawakan dengan sangat apik dan memikat. Gaya bernyanyi sang vokalis sekilas mengingatkan saya pada John Mayer & Dave Matthews. Apresiasi penonton untuk kali pertama melihat mereka tampil di gelaran ini baik sekali.

sari_wsatcc2

Tahun 2009 nanti bisa jadi awal yang baik untuk band ini. “Lil’fish Records”, label rekaman yang pernah menaungi Pure Saturday dan The Morning After akan memproduksi debut album penuh The Trees and The Wild bulan Februari. Saya setuju jika band ini merupakan the next big thing dari ranah indie pop. Kita nantikan saja kiprahnya…

Keriaan akhir tahun kali ini ditutup dengan manis oleh White Shoes and The Couples Company. Sudah tak diragukan lagi penampilan mereka. Mereka salah satu penampil yang sangat ditunggu. Saya juga tidak bosan melihat mereka. Mereka selalu tampil maksimal. Dan pastinya selalu menghibur. Mereka memainkan set-list andalannya dan beberapa lagu baru yang akan masuk rilisan kedua mereka di tahun 2009 nanti. Lagu ‘Aksi Kucing’ mengakhiri penampilan White Shoes and The Couples Company malam itu. Namun, penonton nampaknya belum puas hingga akhirnya band ini memainkan satu lagu tambahan, ‘Windu Defrina’ dan benar-benar menutup keseluruhan rangkaian acara We Are Pop! Vol.7.

wsatcc1

Gelaran We Are Pop! siang hingga malam hari itu terhitung yang teramai. Ratusan indie pop’ers langganan dari berbagai sudut kota Jakarta dan sekitarnya berkumpul di area (tepat di pinggir jalan) yang dipaksakan dibuat representatif itu. Sebagian penonton yang mendapatkan sudut pandang yang tepat untuk menyaksikan acara terpaksa harus duduk, sebagian yang lain mau tak mau harus berdiri. Beruntung acara hari itu luput dari guyuran hujan walau sesekali angin bertiup kencang.

Semangat panitia dan kelompok musik yang mau tampil di acara ini patut diacungi jempol. Acara komunitas kecil yang rutin (per 3 bulan) seperti ini memang jarang sekali bisa ditemukan kini. Band-band yang tampil juga kabarnya tak mendapatkan kompensasi profesional secara finansial. Simbiosis mutual antara pihak penyelenggara dan pengisi acara hanya berbentuk ruang untuk menitipkan produk rekaman para pengisi acara dan sejumlah merchandise mereka yang nantinya hasil dari penjualan akan dibagi rata antara kedua belah pihak.

crowd1

Sedangkan bagi pengunjung acara, event ini gratis. Siapa saja bisa menyaksikan penampilan band-band kesayangan mereka tanpa harus merogoh kocek sepeserpun. Nikmati acara tanpa harus bereskpektasi akan suguhan yang berkesan megah, wah, dengan panggung besar dan sound system maksimal. Acara ini murni digagas dengan alasan untuk berbagi kesenangan antara pengisi acara dan penikmat musik yang hadir. Jadi, nikmati saja…

teks: zelva, foto: pai “dzeek”/rz

02
Jan
09

Gaza, Episode Tiada Akhir Sebuah Genosida

1_725832913l1

Empat berbanding empat ratus nyawa (hingga tulisan ini dimuat -red)? Sebuah harga legalitas untuk menghantam balik sebuah ‘serangan’ beladiri dari sebuah negeri yang terus-menerus digempur dan digempur. Pembenaran untuk mensahkan niatan keji dan misi-misi yang sudah terlihat jelas sejak puluhan tahun silam. Tak usah berbicara sistem pembakaran sawah untuk mencari sebuah sarang tikus. Karena bukan tikus yang benar-benar dicari di sini. Tapi memang bumi-hangus dari sawah itu sendiri! Sebuah genosid!

Organisasi yang dipenuhi dengan para pendengki yang terus mekar dan mekar semenjak pertama berdiri di tahun 1947. Zion dan para yahudi-yahudi palsunya yang terus menerus melancarkan agresi dengan menggerus dan menggerogoti tanah Palestina yang tadinya luas dan subur hingga kini hanya tinggal beberapa ‘jengkal’ saja. Aksinyapun mendapat dukungan penuh oleh negara yang mengklaim dirinya penjunjung tinggi HAM, Amerika! Dengan agenda-agenda yang semakin hari semakin nyata terlihat kebusukan demi kebusukannya.

Dengan pula mengedepankan isu-isu seperti Holocaust -yang masih diperdebatkan kebenarannya- mereka melancarkan balas dendamnya. Bukan kepada Nazi ataupun Jerman yang nyata-nyata adalah negara asal Nazi, tapi Palestin! Sebuah negeri yang tidak ada sangkut-pautnya dengan Holocaust! Benar-benar kegilaan yang sangat di luar akal sehat.

Ini bukanlah sebuah perang, ini jelaslah sebuah pembantaian di depan muka orang banyak. Nyata-nyata mereka memperlihatkan sebuah arogansi. Benar-benar hal yang menggelikan jika hantaman membabi-buta tersebut mereka sebut sebagai reaksi dari aksi ‘ekstrim’ sekelompok orang yang nyata-nyata jelas membela negerinya dari gempuran demi gempuran. Negeri yang semakin lama semakin menciut dibabat habis. Rasanya bagi kita mungkin seperti ketika Belanda menyebut para pejuang-pejuang kita dahulu sebagai ekstrimis. Sebuah pemutarbalikkan fakta. Hingga berkesan bahwa para pejuang-pejuang tersebutlah yang salah karena telah memulai aksinya dalam membela negeri.

Jangan berharap banyak dengan sosok pemimpin populer simbolik yang malfungsi dengan imej-imej yang telah menempel padanya, Obama. Kini ia terancam menjadi sosok boneka yang takkan bisa berbuat apa-apa. Begitu pula dengan organisasi pemersatu bangsa-bangsa yang seperti mandul dalam menyikapi hal ini. Sementara mereka berkasak-kusuk di bawah bokong persetujuan Amerika sementara itu pula Israel melenggang bermain-main dengan bongkar pasang rudal, tembok-tembok, dan darah anak-anak di tanah Palestin.

Sebuah tamparan telak untuk para liga Arab dalam menyikapi hal ini. Tak heran dunia menyorot benar-benar pada negara-negara ini. Egoisme, ketidakjelasan serta ketidaktegasan bersikap membawa coreng besar kepada muka-muka para petinggi-petingginya. Dan tamparan telak juga tanda tanya besar akan persatuan umat Islam. Tak heran jika dulu seorang Imam besar, Ayatollah Khomeini berkata, “jika saja seluruh umat Islam bersatu dan membawa seember air maka Israel akan tersapu.” Sebuah nada akan tuntutan yang krusial dalam menghadapi sebuah ancaman terdengar di sini, persatuan.

Kebenaran akan selalu nyata terlihat di antara pembenaran demi pembenaran. Pada akhirnya hanya Tuhan yang akan memberi balasan. Lagi-lagi semuanya berpulang kepada kita bagaimana menyikapi hal-hal dan fenomena mengerikan seperti ini.

teks: aditbujbunenalbuse, gambar: latuff

10
Jan
09

Hai-Online Minimum Stage (08.01.2009)

sunday-at-twelve

Beberapa waktu lalu Kompas.com sempat membuat acara musik bernama “Kompas Music Corner”. Acaranya diadakan di Gramedia Bookstore, Matraman. Tapi kini acara itu berpindah-pindah lokasi. Band-band yang diundang tampil mulai dari yang masih berstatus indie hingga yang mainstream. Mengikuti langkah Kompas.com, majalah remaja laki-laki Hai yang merupakan satu grup dengan Kompas membuat acara musik serupa. Namun kali ini mereka mengadakannya di lokasi kantor mereka sendiri, tepatnya di Gramedia Food Hall yang notabene kantin kantor grup gramedia majalah.

Dipegang oleh Hai Online, acara ini diberi nama “Hai-Online Minimum Stage”. Kenapa minimum? Karena semuanya serba sederhana. Mulai dari venue yang dijadikan tempat berlangsungnya acara hingga perangkat teknis untuk tampil. Band-band yang diundang dalam acara ini ditantang untuk bermain maksimal dengan peralatan minimalis. Pihak penyelenggara hanya menyediakan sound system seadanya. Selebihnya diserahkan kepada masing-masing band. Karenanya, banyak band yang bermain dengan set akustik.

anda-and-the-joints1

Sesuai dengan jadwal, acara dimulai tepat pukul 14.00. Tapi ya seperti biasa, ngaret. Saya tiba di lokasi pukul 13.55, sedangkan acara baru benar-benar berjalan pukul 14.50. Persiapannya yang memakan waktu lama. Sunday at Twelve didaulat tampil pertama. Tidak ada MC dalam acara ini sehingga tidak ada yang mengarahkan acara. Jika band sudah siap dengan peralatan mereka ya monggo mainkan.

Masing-masing band diberi jatah sekitar 30 menit untuk tampil sebaik mungkin karena dokumentasi video-nya akan di upload di situs Hai Online. Sebagai pembuka Sunday at Twelve yang belum lama mengeluarkan debut album “Somewhere Between” bermain baik dengan tipe musik pop alternatif yang ear cathcy. Band kedua adalah Heyho. Mungkin mereka yang tampil cukup nge-rock sore itu. Memainkan campuran rock n roll blues dengan tema cinta. Dari penonton yang rata-rata adalah pengunjung kantin sekaligus karyawan kantor gedung tersebut band ini mendapat sambutan lumayan.

boogeyman2

Yang tampil berikutnya adalah Anda, dibantu oleh band pengiringnya The Joints. Anda and The Joints tampil lebih baik dari 2 band sebelumnya. Saya juga memuji mereka. Vokal Anda sangat baik walau di awal-awal mic-nya sempat mati hingga suara vokalnya tak terdengar. Vokal Anda yang nge-pop diiringi oleh nuansa jamaican music yang kental dari The Joints. Bahkan ketika terdengar latar vokal perempuan dari The Joints sekilas seperti mendengar Souljah. Empat lagu mereka mainkan dengan baik.

Tak lama setelah Anda and The Jonints turun Boogeyman bersiap tampil. Boogeyman adalah grup hip-hop/r ‘n b yang berada di bawah naungan Organic Records bersama Maliq & The Essentials dan 21st Night. Mereka yang sepertinya paling tidak menarik perhatian. Mungkin karena saya kurang suka juga. Tak ada yang spesial dari suguhan yang mereka berikan.

efek-rumah-kaca1

Usai Boogeyman penampil yang nampaknya ditunggu adalah Efek Rumah Kaca. Pukul 16.52 mereka mulai memainkan set-nya secara akustik. Sehubungan dengan promo album barunya “Kamar Gelap” yang rilis 19 Desember 2008 lalu, ERK membawakan beberapa lagu baru seperti ‘Hujan Jangan Marah’, ‘Kenakalan Remaja di Era Informatika’ dan ‘Lagu Kesepian’. Seperti biasanya mereka selalu tampil maksimal dan mendapat applause meriah.

efek-rumah-kaca-feat-anda1

Namun, yang menarik dari penampilan ERK sore itu adalah ketika mereka memainkan encore tembang anyar milik The Beatles, ‘Across the Universe’. Di tengah penampilan ERK di lagu itu, Anda mendadak muncul kembali dan ikut berbagi vokal dengan Cholil (vokalis ERK). Penonton pun tak kuasa ikut bernyanyi. Standing applause ketika lagu tersebut berakhir dan sekaligus menutup acara “Hai-Online Minimum Stage” sore itu.

teks: zelva wardi, foto: dok. sunday @ twelve/aryo


44407_hai-online-minimum-stage-flyer

10
Jan
09

Saya Seorang Penggemar, Bukan Seorang Fanatik!

mosh

MARI bayangkan dahulu gambaran di bawah ini:

Muda-mudi dressed up alias berpakaian dengan maksimal untuk mengekspresikan diri. Mulai dari sepatu kets buluk, boots yang kalau bisa DocMart, celana mincut (atau pensil, terserah apalah namanya) atau bermotif kotak-kotak ala Jimmy Danger, kaos band, kemeja flanel, dan tidak lupa kacamata nerd. Biasa? Memang. Yang namanya penggemar pasti ingin menyerupai idolanya.

Bayangkan pula ini; sebuah pertandingan sepak bola yang diwarnai dengan lautan suporter dari masing-masing klub. Tiap pendukung membawa segala macam atribut mulai dari kaos, syal, bendera sampai drum. Tapi tiba-tiba muncul suporter dari kubu lain. Dan keriuhan pun dalam sekejap bisa menjadi kericuhan. Perkelahian antar fans pun tak terhindari. Padahal siapa yang menjadi provokator pun tak jelas. Ajang sportifitas justru menjadi ajang perkelahian.

Atau pernah mendengar istilah die hard fans. Istilah bagi penggemar yang melihat sang idola bagaikan malaikat yang tak pernah berbuat salah dan seperti satu-satunya harapan yang dia miliki dalam hidup? Ibarat kata, kemanapun engkau pergi daku akan mengikuti. Ya, orang-orang seperti ini memang ada dan kita pun ikut heran mengapa mereka bisa menunjukkan sikap yang berlebihan terhadap idolanya.

Semua gambaran di atas menunjukkan sebuah contoh dari sesuatu yang bisa kita istilahkan dengan fanatisme. Fanatisme sendiri bisa kita artikan sebagai bentuk perasaan atau emosi yang sifatnya menunjukkan rasa antusiasme terhadap kegiatan atau karya. Seperti halnya terhadap olahraga, musik, karya seni, dan lain sebagainya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menjadi seorang penggemar. Karena dengan menjadi penggemar, seseorang pada dasarnya memberikan apresiasi atau penghargaan kepada sesuatu atau seseorang. Sebaliknya, penghargaan kita terhadap si idola juga merupakan motivasi yang mendorongnya untuk terus berkarya dan memberikan yang terbaik untuk penggemarnya. Jadi, bentuk hubungan antara penggemar dan idola itu sebenarnya sah dan sehat-sehat saja. Secara sosiologis hal ini dinamakan pertukaran berupa pemberian penghargaan (reward).

Namun, hal yang berbahaya adalah ketika seorang penggemar menjadi seorang penggemar fanatik. Fanatisme yang telah dicontohkan diatas menunjukkan sifat-sifat dari seorang fanatik. Apa yang membedakannya?

Perbedaan itu terletak pada perilakunya. Seorang fanatik menunjukkan perilaku yang cenderung sudah meresahkan dan melanggar aturan atau norma yang ada di masyarakat. Dengan kata lain, seorang fanatik kelakuannya sudah di luar batas toleransi dari orang sekelilingnya dan sudah tidak wajar dalam tindak-tanduknya.

Selain itu, yang membedakan seorang fanatik dengan penggemar biasa adalah masalah identifikasi. Jika seorang penggemar biasa hanya menyukai karya atau hasil yang ditorehkan dari si tokoh, maka seorang fanatik sudah lebih dari itu. Ia akan mengidentifikasi dirinya dengan sang idola, atau sederhananya, ia merasa menemukan persamaan dalam diri si idola atau merasa si idola dalam hal tertentu mewakili dirinya. Atau bisa juga, karena masalah identifikasi tersebut, si penggemar ingin bisa menyerupai sang idola dengan cara apapun, maka dipilihlah cara termudah, berdandan ala sang idola.

Jika identifikasi tersebut hanya diwujudkan dalam bentuk dandanan tentu tidak menjadi masalah. Tetapi masalah identifikasi itu bisa bertambah parah jika si penggemar sudah merasa menjadi bagian dari sang idola. Jadi, apapun yang terkait dengan sang idola akan ia rasakan terhadap dirinya pula. Contohnya jika si idola diberitakan secara negatif di infotainment, maka itu akan ia rasakan secara pribadi, dan membuatnya tersinggung.

Di sinilah sebuah ‘pengkultusan’ idola terjadi, di mana seorang fanatik memberi pemujaan berlebih. Dan seperti yang dijelaskan sosiolog Jerman, Max Weber, pemujaan yang dimaksud adalah melakukan tindakan-tindakan yang didorong oleh afeksi semata dan tidak didasari pertimbangan rasional alias berpikir masak-masak mengenai akibat yang mungkin terjadi. Hal ini bisa menjelaskan kenapa seorang penggemar sepak bola bisa khilaf atau lupa diri pada saat membela tim kesayangannya.

Disinilah letak permasalahannya. Jika perasaan ‘ngefans’ itu sudah berlebihan, maka contoh-contoh yang sudah dibahas di awal sangat mungkin terjadi. Dan tentu hal tersebut tidak kita harapkan. Di sini pula letak perbedaan seorang penggemar dan seorang fanatik.

Hubungan penggemar dan idola yang paling bagus tentunya adalah yang bersifat menginspirasi dan mendorong kita untuk bisa melakukan hal yang sama positifnya, tanpa meniru. Idola dalam hal ini sifatnya mempengaruhi atau memberi pengaruh. Misalnya seseorang ingin menjadi pesepakbola karena terpikat permainan Maradona, atau ketika seorang bocah bermain band karena menyukai Muse, Seringai, Metallica dan yang lainnya.

Tetapi mengidolakan bukan berarti menjadi buta dan hanya menaruh segala harapan pada sang idola. Justru sang idola harusnya menimbulkan harapan bahwa si penggemar bisa melakukan hal yang sama seperti dia. Belajarlah dari sang idola, tanpa harus digurui olehnya. Lagipula, seperti kata Candil dkk, rocker juga manusia. Jadi, untuk apa kita harus mendewakan mereka?

teks: fajri siregar

http://deconsumption.blogspot.com

12
Jan
09

Black Star Bersiap Meluncurkan Album Perdana

pic_0068

Awal tahun ini nampaknya akan banyak dimanfaatkan oleh band-band lokal kita untuk menetaskan rilisannya. Salah satunya adalah Black Star. Band indie rock/alternative ini akan merilis secara resmi debut self-titled mereka pada tanggal 26 Februari 2009 dibawah payung Fiasco Records ―seperti yang diberitakan kepada kami―. Sebelumnya Fiasco Records pernah menangani album “Asa” milik Lipgloss di tahun 2007.

Sebagai sebuah band yang bisa dikatakan cukup berpengalaman dalam menjajaki panggung perhelatan indie tanah air, Black Star sudah sewajarnya memiliki album penuh. Karena itulah Emir (vokal), Alul (gitar), Yudi (gitar), Q-nos (bass), Ine (keyboard) dan Roby (drum) terlihat menunjukkan keseriusannya selama 6 bulan berkutat di studio rekaman guna merampungkan karya-karya mereka.

Di album perdana ini Black Star menyuguhkan 10 lagu yang memiliki dominasi tema yang cukup jarang ―atau mungkin belum pernah― diambil oleh sebuah band, yaitu berbicara mengenai gejala penyakit. Tema besar yang mungkin belum biasa dipotret oleh band lain untuk kemudian dikaryakan. Tak hanya berbicara penyakit fisik namun mereka juga merekam fenomena penyakit psikologis dan penyakit sosial. Sekilas mungkin Black Star memiliki tujuan yang sama dengan apa yang ingin disampaikan Efek Rumah Kaca lewat lagu-lagunya, yaitu memotret fenomena. Hanya saja mereka lebih sempit dalam hal tema dengan memotret fenomena penyakit seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Dari 10 lagu yang ada sekitar 6 atau tujuh lagu mewakili tema tersebut. ‘Abnormal’ (mengisahkan tentang penderita disleksia), ‘Insomniac’ (gejala susah tidur), ‘Schizofrenia’ (berbicara mengenai penderita keterasingan/suka mengasingkan diri), ‘Pedofilia’ (gejala kelainan seksualitas), dan beberapa trek lainnya. Untuk sebuah karya audio bisa dibilang konten yang mereka suguhkan terbilang unik. Belum ada band yang seserius mereka ­―untuk konteks lokal― memikirkan tentang hal ini. Dan mereka melakukannya.

Untuk sosialisasi promosi, Fiasco Records terlebih dahulu men-share singel pertama ‘Abnormal’ (versi akustik feat. Cholil ‘ERK’) ke publik, sebelum album mereka benar-benar dipasarkan. Lagu down tempo dengan teknik vokal sedikit mirip Matt Bellamy ‘Muse’ ini dapat diunduh secara gratis lewat situs Death Rock Star dan jaring Myspace mereka.

Sekilas dengar trek ‘Abnormal’ dengan konsep yang ditawarkan bisa jadi satu lagi band dari ranah indie yang akan mencuri perhatian adalah Black Star. Bagaimana menurut kalian? Mari sama-sama bersabar menunggu rilisan penuh mereka tak lama lagi.

(teks: zelva wardi, foto: dok. black star)

13
Jan
09

Punishable Act – One Voice Asia Tour 2009

14
Jan
09

Mocca Akan Meramaikan “Mosaic Music Festival 2009 – Singapore”

art_20083171420362038926106

Untuk kesekian kalinya band indie-pop lokal kita, Mocca akan tampil di kancah festival musik internasional. Untuk kesempatan kali ini Mocca akan meramaikan sebuah festival musik international di Singapura, yaitu “Mosaic Music Festival”/13 – 22 Maret 2009.

Sebagai informasi acara ini merupakan festival musik tahunan yang diadakan oleh “Esplanade – Theatres on the Bay Singapore”. Beberapa artis terkenal mancanegara yang pernah bermain untuk gelaran yang diadakan sejak tahun 2006 ini adalah Earth Wind & Fire, Kings of Convenience, The Bird and The Bee, Jagga Jazzist, Incognito, Sondre Lorche dan Jason Mraz.

Dan di tahun 2009 artis kenamaan yang akan tampil adalah Brian McKnight, Battles, Old Man River, Electro Green, Melanie Pain, The Cinematic Orchestra (ingin sekali melihat grup ini -ed), Indigo Girls dan banyak lagi (selengkapnya lihat di sini).

Mocca sendiri akan tampil pada tanggal 15-16 Maret 2009 di Nokia Music Station (Outdoor Theatre) dan Haagen-Dazs Living Room. Berikut jadwal lengkapnya:

  • Mocca Show at Nokia Music Station (Outdoor Theatre), March 15th 2009, 07.00 – 07.30pm & 10.40 – 11.30pm.
  • Mocca Show at Haagen-Dazs Living Room, March 16th 2009, 07.15 – 08.00pm (accoustic).

Selain Mocca, dari Indonesia ada musisi lain yang juga turut andil dalam acara ini, yaitu Andre Harihandoyo dan Sonic People.

Semoga Indonesia kian banyak mengekspor musisi-musisi kenamaan lainnya untuk berkiprah di negeri orang. Support our local musicians!! (rz)

For more info:

www.mosaicmusicfestival.com

www.esplanade.com

mmf09_fso1

15
Jan
09

United We Care : Charity Untuk Robin Hutagaol “NOXA”

charity1

Sehubungan dengan berita ini saya baru benar-benar mendengarnya tadi pagi. Andre dari Solucites Metal Concert menjelaskan sedikit kronologis mengenai kecelakaan tragis yang menimpa Oxen a.k.a Robin Hutagaol lewat wawancara via telepon di radio prambors Jakarta. Robin mungkin lebih dikenal di ranah musik rock/metal tanah air sebagai drumer band kuartet grindcore NOXA.

Robin yang kini masih terkulai tak sadarkan diri di RS. Husada Mangga Besar, ditabrak oleh oknum pengendara mobil tak bertanggungjawab pada 12 Januari 2009 kemarin. Keadaan Robin seketika setelah mengalami tabrakan cukup parah, hingga helm yang dikenakannya saat mengendarai sepeda motor pecah.

Untuk itu, sebagai bentuk kepeduliannya Solucites Metal Concert akan mengadakan sebuah acara amal untuk Robin bertajuk “United We Care”. Solucites menggandeng 25 band lokal kita dari genre rock/metal untuk turut serta tampil dalam rangkaian ini. Beberapa di antaranya adalah Netral, Dreamer, Trashline, Paper Gangster, Purgatory, NOXA, Funeral Inception, Divine dan banyak lagi. Selengkapnya bisa dilihat di www.solucite.com.

Rangkaian acara ini adalah gelaran non-profit. Seluruh keuntungan dari penjualan tiket seharga Rp 20.000,- dan penjualan merchandise serta CD dari Solucites Records pada saat acara akan didonasikan untuk membantu kesembuhan Robin.

Detail acara : United We Care

Waktu : Minggu, 25 Januari 2009, mulai Pukul 10.00

Tempat : Bulungan Outdoor

HTM : Rp 20.000,-

Mari datang dan beri dukungan untuk kesembuhan rekan kita, Robin. Be there!!

(zelva wardi/rz)


17
Jan
09

Pergi Dengan Tenang: Robin Hutagaol ‘NOXA’

img_85871

Setelah kurang lebih satu minggu dirawat di rumah sakit, kini Robin Hutagaol ‘NOXA’ menuju rumah peristirahatan. Robin dipastikan dokter menghembus nafas terakhir pukul 03.47, sabtu dini hari tadi (17.01.09) di RS. Husada Mangga Besar.

Robin adalah figur yang dihormati, terutama di ranah musik rock/metal tanah air. Sebagai duta musik ekstrim Indonesia, Robin merupakan salah seorang yang membawa nama harum musisi lokal ke kancah musik ekstrim international. Terlalu banyak keriaan dan momen-momen indah yang ditinggalkan almarhum untuk kembali dikenang.

Duka yang mendalam bagi keluarga dan kita semua..

Mewakili rekan-rekan musisi, fans, event organizer, label, media dan segenap elemen musik yang pernah berjuang bersama-sama, kami editor & penggiat Rebelzine turut kehilangan. Semoga Robin mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Amiin..

(rz/foto: solucite.com)

20
Jan
09

Disfiguring The Goddess (EP-2008)

Disfiguring The Goddess (EP -2008)

Disfiguring The Goddess (EP -2008)

Empat materi EP dengan tambahan dua demo song dari band asal Nevada ini benar-benar sukses melindas telinga saya berkali-kali. Perpaduan cantik antara komposisi lagu bernuansa slam brutal death metal dengan teknik bervokal yang mengagumkan.

Hajaran telak teknik guttural singing diiringi dengan sedikit teknik high-pitched screech dari sang vokalis, benar-benar membuat saya tak habisnya mengulang kata “keren”. Bagaimana tidak, teknik bervokal menggeram tanpa nafas yang benar-benar mengandalkan eksplorasi diafragma ini benar-benar dicapainya hingga pada titik optimal. Sepertinya inilah kelebihan yang cukup menonjol dari kekhasan band ini.

Ditambah dengan komposisi breakdown dari sinkopasi-sinkopasi blastbeat yang ditonjolkan di setiap lagunya. Membuat emosi benar-benar terpancing pada adrenalin di titik maksimum. Nuansa yang sedikit variatif seperti coba diberikan dalam setiap materinya. Seperti sampling demi sampling manis yang cukup surprising. Karena untuk urusan bereksperimen bebunyian dalam genre ini sampai sekarang sepertinya masih dipegang oleh sang pengusung irama hydro-grind fenomenal, Cephalic Carnage. Namun meski tidak terdengar ‘baru’ setiap irama-irama blast-beat yang teknikal selalu saja memancing dengar. Sebuah gaya khas bermusik ala sub-genre slam brutal death metal, yang sukses diturunkan oleh paguyuban Frank Mullen dan kawan-kawan, Suffocation.

Disfiguring The Goddes adalah sebuah band pendatang baru yang masih sangat under-rated. Namun kehadirannya dalam pesta besar musik-musik metal ekstrim benar-benar sangat dapat diperhitungkan.


Artist – Disfiguring The Goddess
Album – Disfiguring The Goddess (EP)
Year – 2008
Genre – Deathmetal/Grindcore/Metal
Country –
Nevada, United States

Web:
- http://www.myspace.com/disfiguring
- http://www.last.fm/music/Disfiguring+The+Goddess

Band Members:

Big Chocolate - Vocals. Songwriting.
Joe Broad – Guitar/Songwriting.
Phil Misericordiam - Drums

Tracklist
1. Abrogation’s Crown
2. Somnambulism Candlelight
3. Pacifism of Insignificancy
4. Chthonian

Sangat direkomendasikan untuk penggemar: Malodorous, I Built The Cross, Suffocation, Dying Fetus, Abominable Putridity dan sejenisnya.

(adit bujbunen al buse/rz)

20
Jan
09

Are We ‘Really’ Gonna Celebrate A New Birth Of Freedom?

ex3jynbcriygsap2ivlzywxyo1_500

Melihat kenyataan euforia yang ditimbulkan oleh pelantikan Barrack Obama di Indonesia, sungguh mencengangkan. Mulai dari pencalonan, hingga saat Obama memenangkan Pemilu, dan puncaknya pelantikan resmi Obama sebagai Presiden ke-44 USA.

Kemunculan Obama, harus diakui, memang fenomenal. Sebagai pria keturunan Afroamerika pertama yang menjadi Presiden Amerika, sungguh cukup untuk memenuhi kualifikasi fenomenal tersebut.

Tapi, ternyata ada yang jauh lebih fenomenal dari Obama sendiri. Sikap media-media di Indonesia bahkan lebih fenomenal. Yang tentu menghasilkan sikap-sikap yang lebih fenomenal terhadap masyarakat Indonesia, atau dengan kata lain pada Bangsa Indonesia.

Dibalik segala hegemoni yang diciptakan media itu, apa sesungguhnya makna Obama bagi Indonesia? Apa yang bisa diharapkan bangsa Indonesia dari keberadaan Obama?

Apakah bangsa Indonesia mengharapkan perhatian yang lebih karena pengalaman masa lalu Obama?. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, dan dengan posisi geografis yang penting dan strategis, maka kesalahan besar jika Obama begitu saja mengabaikan Indonesia.

Tapi masalahnya, jika Indonesia masih dan akan tetap seperti saat ini, terpuruk, khususnya dalam hal membangun diri, maka apakah pantas bangsa Indonesia ikut ambil bagian dalam euforia dan hegemoni naiknya Obama menjadi Presiden Amerika?

Mungkin bangsa ini tidak harus berharap banyak pada Obama, dalam konteks perkembangan kebijakan Amerika terhadap Indonesia. Kita harus sadar, dalam menjalankan politik luar negerinya, Amerika tidak hanya bergantung pada Obama, tetapi masih ada Menlu Hillary Clinton dan Menteri Pertahanan Robert Gates. Dan tentu ada kongres yang berpengaruh besar pada penentuan kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika.

Seperti yang kita ketahui dari beberapa media lokal, di kala akhirnya Amerika menghentikan embargo senjata dan suku cadang peralatan militer terhadap Indonesia, ternyata kenyataannya di kongres masih banyak keberatan-keberatan dari berbagai lobi yang anti-Indonesia.

Hegemoni ciptaan media ini akhirnya mencapai puncaknya. Sekarang tinggal waktulah yang berbicara. Semoga euforia bangsa Indonesia akan pelantikan Obama tidaklah menjadi mimpi siang bolong saja. Semoga Obama benar-benar menggangap penting Indonesia.

Jadi jika bangsa Indonesia berharap pada Obama, sungguhlah hal yang menggelikan. Karena yang mampu merubah bangsa ini hanyalah bangsa ini sendiri. Jika Indonesia tidak berubaha sama sekali setelah Pemilu 2009 mendatang, janganlah berharap muluk-muluk dengan kehadiran Obama. Jangan sampai Indonesia tetaplah dianggap sebagai pasar bagus untuk berbagai produk barang dan jasa buatan Amerika.

So, are we (really) gonna celebrate a new birth of freedom? Tanyakan jawabannya pada The Friends of Obama yang menggelar sebuah acara (menggelikan) “Obama Inaugural Ball, Celebrating A New Birth of Freedom”, Selasa (20/1) malam, di Ritz Carlton Hotel, Jakarta.

Acara nonton bareng pelantikan Presiden Amerika Serikat ke-44?, hmm, terdengar seperti nonton bareng Final Piala Dunia. Aneh.

(kikyunderclasshero/rz)

22
Jan
09

Dosa-dosa Media Amerika

cover-dosamediaamerika1-copyJudul buku : Dosa-dosa Media Amerika

Penulis : Jerry Duane Gray

Penerbit : Ufuk Press

Sebuah media berita dapat diibaratkan sebagai jembatan yang menghubungkan kita dengan dunia. Akan tetapi, jika media yang dipercaya sudah tak dapat lagi dipercaya, apa yang harus kita perbuat? Buku inilah sebuah jawaban. Buku ini mengajarkan kita untuk melihat kebenaran dari sebuah berita mengenai berbagai hal, melihatnya dari mata kita sendiri, bukan dari mata orang lain. Artinya, jangan pernah ragu untuk memverifikasi sebuah berita, terutama dari media barat, dalam hal ini Amerika.

Awal 1970-an, pers Amerika berada di barisan terdepan berkat integritasnya. Pelaporan berbagai peristiwa dilakukan dengan jujur dan bertanggung jawab tanpa manipulasi fakta-fakta sehingga menghasilkan perubahan dalam kepemimpinan sebuah negara adidaya. Kini, media Amerika menjadi bahan tertawaan dunia, sebagian besar dari mereka mengalami kegagalan besar.

Jaringan televisi Amerika yang menyiarkan berita ternyata tidak banyak melaporkan kejadian sesungguhnya. Lebih heran lagi, ketika menyampaikan laporan, para reporter TV itu memasang wajah jujur seakan-akan mereka sedang menjadi jurnalis sejati. Mereka berpura-pura melakukan investigasi serius terhadap satu demi satu kejadian yang tidak relevan kemudian menyiarkan kisah-kisah tabloid sebagai “berita sesungguhnya.” Selama masa kepresidenannya, Bush belum pernah mengadakan konferensi pers yang sesungguhnya. Bush pun belum pernah menjawab pertanyaan acak oleh wartawan asli.

Fakta yang raib

“Pentagon mengakui 5 tindakan yang melecehkan Al-Quran.” Fakta seperti ini pastinya belum pernah Anda dengar atau lihat dari media barat seperti CNN, Fox News, ABC, BBC atau yang lainnya. Mereka memmang sengaja menutupinya. Yang dilaporkan hanyalah berita-berita demi mengharumkan nama pemerintah AS, sedangkan yang berpotensi mengotori citra itu disingkarkan.

Lebih parah lagi, berita-berita yang berasal dari media barat juga diputar ulang oleh media televisi lokal negara-negara lain termasuk Indonesia. Sebagai contoh, kasus Irak dahulu. Irak tidak memiliki senjata pemusnah massal. Namun, dengan bantuan media korporat Amerika, Bush membohongi publik agar percaya pada kabar bohong tersebut dengan maksud untuk meraih dukungan dan legalitas atas invasi ke Irak.

Berkat partisipasi media Amerika, George W. Bush dapat lepas dari pelanggaran serius atas undang-undang dan hukum internasional. Tidak pernah ada satu pun investigasi serius yang dilakukan untuk menangani perilaku Bush yang tak kenal hukum walaupun sudah banyak bukti yang memberatkannya.

Sebelum invasi ke Irak, pemerintahan Bush mengklaim bahwa Muhammad Atta (terdakwa pimpinan serangan 11 September) bertemu dengan pejabat intelijen Irak di Praha. Pertemuan itu diduga sebagai bukti adanya kaitan antara Saddam dengan Al-Qaida. Walaupun presiden Ceko menyatakan bahwa klaim tersebut tidak benar, pejabat pemerintahan Bush tetap bersikeras menjadikan pertemuan tersebut sebagai alasan untuk melancarkan perang.

Dua tahun setelah, lebih dari 1.700 pasukan sekutu gugur, puluhan ribu luka-luka. Sementara itu, di pihak Irak terjadi kematian hampir 100 jiwa tiap minggunya. Meski tak ada data resmi, diperkirakan puluhan ribu jiwa telah menjadi korban dan media berita tetap bungkam.

Selain tidak memberikanlaporan akurat mengenai jumlah korban, media Amerika juga tidak menginformasikan tentang kerusakan alam, property serta penderitaan rakyat Irak. Mereka hanya mempublikasikan “kejayaan” serdadu Amerika sambil menghalalkan penduduk sipil yang terbunuh hampir setiap harinya. Kebanyakan warga Amerika hidup dalam ilusi bahwa perang tidak banyak menimbulkan pertumpahan darah dan menimbulkan kerusakan. Mereka agak sulit menyadari bahwa senjata penghancur, bom dan tomahawk mereka telah merenggut jutaan nyawa manusia.

Di dalam buku ini Anda akan tercengang setelah tahu betapa hebatnya media Amerika memanipulasi pikiran pemirsanya melalui “berita” yang yang mereka sajikan. Tunggu apa lagi, jangan mau dibohongi terus-menerus. Bacalah buku ini sesering mungkin sehingga Anda dapat mempelajari trik-trik yang mereka lakukan dalam memanipulasi sebuah berita. Dengan begitu, Anda akan menjadi konsumen berita yang kritis.

(teks resensi: hadi/didaktika)

22
Jan
09

Pure Saturday Concert

pure-poster-buat-promosi

Toi Et Moi Present :

A Pure Saturday Concert “Time to Change, Time to Move On”

Sunday, 25th January 2009 @ GSG Itenas Bandung
Start from 07.00pm – till end

Presale Ticket :
25.000 IDR + Merch
Royal Queen
Jl. Ternate No. 8

For more info :

Tissy 022-92171766 / Dinda 0857 2012 3266

26
Jan
09

Series Two Compilation – Indonesian Talent

seriestworecs-vol20

Ini adalah beberapa kompilasi yang dirilis oleh Series Two Records. Series Two Records adalah sebuah label yang berbasis di Columbus, Nebraska, Amerika Serikat dan menelurkan produk rilisannya dalam format CDR untuk pangsa internasional. Label ini menampung buah karya dari band-band bergenre indie Pop, shoegaze, electronic, ambient dan sejenisnya dari berbagai negara. Hingga saat ini, rilisan kompilasinya yang bertajuk “Series Two Compilation” sudah sampai pada Volume 23. Sembilan kompilasi baru resmi didistribusikan ke negara-negara Amerika, Eropa, Asia, Australia, dan Amerika Latin pada 20 Januari 2009 kemarin.

Dari 9 kompilasi yang baru saja dirilis tersebut, terdapat 4 kompilasi “Series Two Compilation” Vol.20/21/22/23 yang melibatkan 7 karya band/musisi Indonesia. Band/musisi tersebut adalah Emergency Kisses (Bandung), Daro (Gresik), Mataharibisu (Jakarta), Danive (Bandung), Cuddle Pop (Bandung), Spring/Summer (Bandung) dan August. Dalam kompilasi tersebut, mereka berbagi ruang bersama band-band dari Amerika, UK, Swedia, Jepang, Belgia, Perancis, Jerman, Spanyol, dan banyak lagi.

seriestworecs-vol21

Band-band Indonesia yang ikut andil dalam rilisan ini bisa dibilang kurang terdengar di scene indie pop lokal. Tapi bukan berarti karya mereka tidak bagus. Dengan keterlibatan mereka dalam kompilasi ini membuktikan bahwa karya mereka juga patut diperhatikan.

Daro misalnya. Band ini berasal dari Gresik, sebuah kota di Jawa Timur yang mungkin sulit untuk akses perkembangan musik indie berkualitas dibanding Jakarta atau Bandung. Salah satu personilnya pernah mengirim pesan kepada saya bahwa, perkembangan musik di sana sangat mengkhawatirkan. Gempuran band-band mainstream dengan konten seputar selingkuh, patah hati dan cinta monyet, benar-benar berhasil menghipnotis daerah itu. Untuk menemukan talenta musik berkualitas bisa terbilang langka. Dan Daro muncul untuk setidaknya berusaha ‘menyelamatkan’. Mereka mengusung komposisi swedish indie pop yang ear cathcy dengan balutan materi ala Belle and Sebastian. Jika Jakarta punya Ballads of The Cliché, Gresik memiliki talenta bagus, Daro.

seriestworecs-vol22

Lain halnya dengan Danive. Band ini hanya seorang diri. Mungkin lebih tepat jika dibilang ini adalah proyek solo. Sosok dibalik proyek ini adalah Daniv Veryana yang berdomisili di sebuah desa kecil tanpa koneksi telepon dan internet di rumahnya, pasir kunci, Bandung. Danive merupakan satu lagi musisi kamar (bedroom musician -ed) yang memaksimalkan software komputer untuk menciptakan sebuah karya musik dan sound design. Alhasil materi-materi beraroma post-rock, shoegaze dan surreal sangat kental terdengar lewat karya-karyanya.

Begitu juga halnya dengan Emergency Kisses, Spring/Summer dan yang lainnya. Walau genre yang mereka usung bisa dibilang sudah menjamur, tapi selalu ada usaha untuk memperdengarkannya. Memanfaatkan jejaring dunia maya macam myspace, bukan tidak mungkin lagi untuk berinteraksi/berteman dengan lintas negara. Tak tertutup juga untuk bekerjasama. Beberapa musisi lokal tersebut di atas bisa membuktikan kontribusi mereka untuk memperkenalkan bahwa negara kita memiliki talenta-talenta yang layak dengar untuk skala internasional.

Tak hanya membawa bendera band mereka, namun juga asal mereka, dalam hal ini Indonesia.

seriestworecs-vol23

Bagi kalian yang memiliki materi lagu yang berada di area indie pop, shoegaze, electronic, ambient, nintendo pop, minimalist, accoustic, dan ingin mencoba terlibat dalam kompilasi ini, tak ada salahnya menawarkan materi kalian kepada Series Two Records. Silahkan berkomunikasi dengan mereka lewat jejaring di bawah.

Teks: Zelva Wardi

Series Two Records:

seriestworecords@gmail.com

http://www.myspace.com/seriestworecords

The bands inside compilation (Indonesia):

http://www.myspace.com/emergencykisses

http://www.myspace.com/daroband

http://www.myspace.com/cuddlepop

http://www.myspace.com/myspringsummer

http://www.myspace.com/danivadanive

http://www.myspace.com/silentsunthemusic

Mail order:

http://www.indiepages.com/seriestwo/store.html

27
Jan
09

United We Care in Loving Memoriam – Robin ‘NOXA’ (25.01.2009)

rundown-uwc-1

Setelah beberapa kali gonta-ganti line-up pengisi acara, akhirnya ditetapkan ada 36 band yang mengisi gelaran “United We Care” ini. Sebelumnya cukup banyak yang ingin tampil, mengingat ini adalah acara amal sekaligus untuk mengenang almarhum Robin yang dikenal memiliki pergaulan yang luas. Walau didominasi band-band metal, terdapat beberapa penampil dari genre lain.

Saya tiba di Bulungan Outdoor tepat pukul 15.00. Sangat telat. Saya melewatkan 17 band yang dirundung tampil bergantian sejak pukul 10.00 pagi. Beberapa yang terlewatkan adalah: Divine, Friends of Mine, Thrashline, Paper Gangster, Dead Vertical, dan Thinking Straight.

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-49

Sebelumnya saya sempat ragu dengan line-up yang demikian banyak, apakah acara akan selesai tepat waktu. Terlebih acara digelar di Bulungan Outdoor. Perlu diingat izin penyelenggaraan acara di tempat ini tidak bisa lagi hingga terlalu malam. Solucites yang bertindak selaku panitia hanya mendapat izin dari kepolisian hingga pukul 19.00. Sedangkan jika mengikuti rundown, band terakhir dijadwalkan tampil pukul 20.00. Bisa-bisa ada yang tidak tampil…

Oke, singkirkan dulu kemungkinan jika tidak semua band bisa tampil. Kita kembali ke acara. Ketika saya datang, Dreamer memainkan lagu terakhir. Ada wajah yang tak asing di band ini, Vicky Notonegoro (gitar). Memainkan nuansa gothic metal modern persenyawaan Lacuna Coil dengan Evanescence. Sayang, suara Rika (vokal) tenggelam oleh musik. Ciri khas gothic voice yang seharusnya kentara jadi tak terasa.

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-23

Selanjutnya ada Burger Kill yang akhir tahun lalu berkesempatan membuka konser band metalcore, As I Lay Dying. Secara penampilan tak diragukan. Hanya saja jatah 20 menit (2 lagu -ed) berikut checksound on stage terasa terlalu singkat untuk Burger Kill. Rintik hujan sempat turun ketika mereka tampil, namun tak lama. Para metalheads juga tak beranjak dari tempat berpijaknya. Sebagai informasi, band hardcore Ujung Berung, Bandung ini akan melakukan tur Australia-nya pada Februari nanti.

Usai Burger Kill, Trauma mengambil alih panggung. Penonton tak perlu menunggu lama. Setiap band memaksimalkan durasi tampil yang diberi panitia dengan tidak mengulur-ulur waktu. Trauma yang belum lama ini mengeluarkan album bertajuk “Dominasi Kemenangan”, bermain kurang impresif. Nino (vokal) tidak tampil dalam performa terbaiknya. Kurang bersemangat.

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-27

Suguhan metal dari band-band sebelumnya kemudian dicairkan oleh irama rock n roll dari The Brandals. Sudah lama saya tidak mengikuti perkembangan band ini. Mereka bermain baik walau posisi lead gitar sepertinya bukan diisi oleh Bayu. Getah tampil setelah The Brandals. Mereka adalah salah satu band lawas dalam line-up acara ini yang juga tampil cukup baik.

The Upstairs & Angel of Death yang tampil setelahnya tak terlalu saya perhatikan. The Upstairs mempersembahkan 1 lagu berjudul “Robin Johnny” untuk mengenang alm. Robin. Di kerumunan penonton yang berkaus serba hitam terdapat segelintir modern darling (sebutan bagi fans The Upstairs –ed) dengan setelan nyentrik.

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-69

Penampil berikutnya adalah band lawas lainnya, ROXX. Ada suguhan pembacaan puisi dari Komeng Mortus untuk mengenang alm. sebelum mereka tampil. Penonton mulai membludak. Tiket dikabarkan terjual habis. Sekitar dua ribu penikmat musik metal berbondong-bongong mendekati panggung. Mereka mencari sudut pandang terbaik untuk menyaksikan para performer.

Ketika ROXX naik, penonton yang sebelumnya malu-malu mulai terlihat agresif untuk melakukan moshing. Dua lagu yang dimainkan berhasil memancing adrenalin para metalheads yang merogoh kocek sebesar Rp 20.000,- untuk hadir di gelaran ini.

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-60

Euforia gelaran metal baru benar-benar terasa ketika Purgatory tampil. Venue makin sesak. Penonton makin liar. Pagar pembatas panggung dan penonton mulai didorong. Aksi sikut-menyikut tak terhindarkan. Tapi tetap dalam batas wajar. Band straight metal yang membawakan konten religius ini tampil dengan dandanan khas mereka. Kostum, topeng dan body painting yang sudah lekat dalam setiap aksi panggung Purgatory. Untuk penampilan kali ini, mereka mengkampanyekan aksi boikot Israel sekaligus menggalang dana untuk Palestina dari hasil penjualan CD “Beauty Lies Beneath” dan merchandise mereka.

Berikutnya adalah suguhan dadakan dari band grindcore veteran yang tak masuk line-up acara, Tengkorak. Bagi metal heads yang hadir ini adalah bonus. Apalagi formasi yang tampil adalah formasi lama. Ombat (vokal) mengenakan kaus bertuliskan ‘Boycott Israeldan tanpa alas kaki ketika tampil. Walau terkesan dadakan, penampilan Tengkorak tetap jempolan. Berhasil membuat kerumunan yang memadati Bulungan Outdoor makin panas. Ombat juga sempat melakukan crowd diving, melemparkan dirinya ke penonton di awal-awal lagu pembuka. Sebenarnya mereka hanya didaulat memainkan 1 lagu, karena tak ada di line-up acara. Namun, makin liarnya penonton memaksa mereka memainkan 1 lagu lagi. Mantabbb…!!

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-75

Ludesnya tiket menunjukkan bahwa apresiasi dan respek penikmat musik metal terhadap Robin begitu besar. Band-band yang sebagian besar merupakan headliner di gelaran-gelaran metal juga kabarnya tak mendapat kompensasi finansial di acara ini. Semuanya mereka lakukan atas dasar pertemanan, persaudaraan dan kepedulian sesama rekan musisi dan metalheads. Itu kenapa acara ini diberi tajuk “United We Care”.

Jeda maghrib acara dihentikan sejenak. Steven and Coconut Trees bersiap-siap di panggung. Penonton diberi kesempatan untuk menghela nafas. Kehadiran rekan-rekan musisi dari genre yang lain, katakanlah rock n roll, reggae, retro, pop punk di gelaran ini membuktikan tak ada batas di musik. Robin alm. juga dikenal tak membatasi pergaulannya di scene metal saja namun juga di scene lain. Ini sedikit mengajarkan kita bahwa persatuan di ranah musik apapun sangat diperlukan.

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-81

Usai maghrib, acara yang dipandu Arie Dagienkz dan Edi Brokoli kembali dilanjutkan. Penonton yang kian padat kembali berkerumun mendekati bibir panggung. Tanpa basa-basi Steven and Coconut Trees menggoyang Bulungan dengan musik reggae yang kental. Para metalheads yang datang mengapresiasi dengan baik. Seharusnya mereka hanya memainkan 2 lagu, sama seperti penampil yang lainnya. Namun, karena permintaan penonton mereka memainkan 1 lagu tambahan.

Jam di ponsel saya menunjukkan pukul 18.55 ketika penampilan Steven cs berakhir. Di rundown acara masih tersisa 9 band. Membutuhkan waktu sekitar 120 menit untuk mereka semua benar-benar bisa tampil. Dan itu sepertinya tidak mungkin. Keraguan saya di awal ternyata kejadian. Andre dari Solucites menjelaskan kepada semua penikmat musik yang hadir, bahwa keriaan malam itu harus disudahi karena terbentur izin keamanan. Sempat dilakukan negoisasi kembali oleh panitia, namun pihak kepolisian tetap tidak memberikan toleransi untuk melanjutkan acara. Kecewa tentu saja…

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-97

Mereka yang tak bisa bermain adalah: Flowers, Dead Squad, Netral, Naif, Komunal, Superglad, Seringai, termasuk NOXA, dan juga penampilan spesial Rockstar Conspiracy yang saya sendiri belum tahu siapa saja mereka. Sangat disayangkan…

Walaupun tak diperbolehkan melanjutkan penampilan band yang tersisa, tapi pihak kepolisian memberikan sedikit toleransi waktu untuk menghadirkan orangtua Robin dan memutar slide foto serta audio testimoni untuk mengenang alamarhum.

Usai rangkaian tersebut, gelaran “United We Care in Loving Memoriam – Robin NOXA” terpaksa harus berakhir sebelum pukul 20.00. Sebagian besar penonton meninggalkan venue dengan tertib walau sedikit kecewa.

*****************

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-58

Mulanya acara ini adalah bentuk penggalangan dana bagi kesembuhan Robin. Seluruh keuntungan, baik dari penjualan tiket dan merchandise akan dialokasikan untuk membantu biaya rumah sakit Robin. Namun, sebelum acara ini benar-benar digelar, Robin terlebih dahulu ‘pergi’, dan meninggalkan duka yang mendalam pada 17 Januari lalu. Akhirnya, sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan atas dedikasi Robin di scene musik lokal terutama musik metal, seluruh keuntungan dari gelaran ini (+/- Rp 50 juta) tetap disumbangkan kepada keluarga Robin.

Dan gelaran “United We Care in Loving Memoriam – Robin NOXA” menjadi sebuah persembahan dari rekan-rekan musisi, untuk andil Robin yang begitu besar bagi perkembangan musik ekstrim tanah air.

(teks reportase: zelva wardi/foto: adit bujbunen al buse)

28
Jan
09

MPB Production present Maret Pertama Bahagia

Maret Pertama Bahagia

08
Feb
09

Formasi Kutukan Testament!

Testament - The Formation of Damnation
Testament – The Formation of Damnation

Testament – Formation of Damnation/CD (CSA Records Indonesia/ Nuclear Blast, 2008 )

Puluhan tahun menghajar dunia dengan mengusung aliran musik ekstrim bergenre thrash-metal ternyata benar-benar membuat taring paguyuban legendaris Testament semakin tajam dan menusuk! Sebuah konsistensi yang patut diberikan lebih dari sebuah tunduk salut. Dan di tahun 2008 mereka kembali melontarkan album wasiat yang kembali membakar telinga para penggemarnya, “The Formation of Damnation”.

Testament, adalah salah satu band yang turut memberikan banyak andil bagi kelahiran genre musik ini yang cukup fenomenal di era 80an. Bersanding dengan para Bay-Area thrasher pionir macam Metallica, Anthrax, Death Angel dan sebagainya. Perkembangan era musik ekstrim yang semakin bervariasi tidak membuat band ini kehilangan kegentarannya untuk tetap memegang thrash-metal sebagai senjata andalan. Justru perkembangan signifikan sangat jelas terlihat dalam setiap karya-karyanya, khususnya jika menilik album-album akhirnya.

Jeda yang panjang setelah album “First Strike Deadly” (2001) ternyata justru memberikan kesempurnaan telak bagi album “The Formation of Damnation”. Bagaimana tidak, selain kembalinya gitaris formasi awal, Alex Skolnick sang legenda dengan sayatan-sayatan solonya yang sangat membentuk karakter orisinalitas Testament. Juga kesembuhan Chuck Billy dari kankernya ternyata malah semakin memberikan banyak variasi bervokal dalam album ini. Walau sentuhan lengking khas Chuck sudah tak dapat ditemukan lagi seperti di album-labum lamanya. Namun, kekhasan vokalnya yang sedikit ter-influence oleh gaya bervokal barking ala James Hetfield masih bisa dirasakan disini. Ditambah dengan variasi permainan growling yang bisa ditemukan di track “The Formation of Damnation”. Lalu bergabungnya drummer Paul Bostaph (eks Exodus, Forbidden, Slayer) ternyata semakin memperkaya kesempurnaan album ini. Dilengkapi dengan hajaran bassist Greg Christian dan Rhythm Guitarist, Eric Peterson. Thrashed to the bone! Semuanya benar-benar ditangani oleh maestro-maestro thrash metal yang handal. Benar-benar album yang memanjakan para penggemar murni thrash metal.

Tema-tema kritik sosial dan politik masih jadi andalan dalam album ini. Tema khas yang sering dipakai oleh band-band old-school thrashmetal. Seperti dalam ‘The Evil Has Landed’ yang menceritakan penilaian dari sisi subyektif mereka terhadap fenomena runtuhnya menara kembar WTC.

Kesebelas track yang menyuguhkan materi thrash-metal yang cukup groovy. Sebuah album yang wajib dimiliki bagi para fans setia Testament yang mengikuti perkembangannya sejak awal. Ataupun yang ingin mencoba warna musik dan tema-tema lirik bergaya oldschool thrash- metal.

Dirilis oleh CSA Records, sebagai satu-satunya pemegang lisensi Nuclear Blast di Indonesia.

(adit bujbunen al buse)

Track listing

1.    For the Glory of… – 1:12
2.    More Than Meets the Eye –
4:31
3.    The Evil Has Landed –
4:44
4.    The Formation of Damnation –
5:10
5.    Dangers of the Faithless –
5:47
6.    The Persecuted Won’t Forget –
5:49
7.    Henchmen Ride –
4:00
8.    Killing Season –
4:52
9.    Afterlife –
4:13
10.    F.E.A.R. –
4:46
11.    Leave Me Forever –
4:28

Band Line-Up

•    Chuck Billy: Vocals
•    Alex Skolnick: Lead guitar
•    Eric Peterson: Rhythm, lead guitar
•    Greg Christian: Bass
•    Paul Bostaph: Drums

Production Credits

•    Andy Sneap: Mixing, Engineering
•    Eric Peterson: Co-Producer, Art Concept
•    Chuck Billy: Co-Producer
•    Eliran Kantor: Artwork and Illustrations
•    Vincent Wojno: Engineering

http://www.testamentlegions.com

http://www.myspace.com/testamentlegions

09
Feb
09

Proyek Solo Ekperimentasi Desain Suara: Danif Pradana – Ghost Plague

CD 1 panel insert template

Danif Pradana: Laptop Improv, Electronics, Field Recording

Composed, Mixed and Mastered at Oblique Studio, The University of Technology, Sydney, between October – November 2008.

Danif Pradana yang lebih dikenal sebagai konseptor dari beberapa proyek musik eksperimental Kalimayat & Khuruksetra, kini merilis proyek desain suara solo pertamanya bertitel “Ghost Plague”. Untuk kali ini, cocok sekali jika 3 trek tanpa judul yang dihasilkannya di rilisan ini digunakan untuk scoring film. Ini  mungkin tak terlepas dari latar belakang pendidikan Danif yang bergerak di lingkup Film & Audio Production yang ditempuhnya di University of Technology Sidney, Australia.

Berikut press release yang belum lama ini dilempar oleh Danif untuk karya terbarunya, “Ghost Plague” yang dirilis bulan Januari 2009 lalu:

Ghost Plague is the first conceptual solo work of Danif Pradana (Kalimayat, Khuruksetra) as an attempt to in­troduce the radical approach of the “Ultra minimalist Electronics” sound design to the Indonesian sound enthu­siast. Ghost Plague was composed during his final year at The University of Technology, Sydney, in which also become one of his major academic sound research that he was pursuing for one of his audio production subject.

After 5 years of non-stop research and experimentation under the moniker of Kalimayat, Danif took his sonic work into a more desolate approach with a raw states of minimalist sonic textures that challenge the audi­tory perception of the listeners. Ghost Plague reflects a sonic investigation towards Danif’s internal perception of the psychosomatic phenomenon, which is a subject that he often explores in his short films and video works.

Ghost Plague could also be considered as a decomposi­tion of Danif’s several sound design works for film that did not make it to the screen due to the extreme use of infrasound. Most of the sound was build through dif­ferent speed of pulses and sine tones, which are heav­ily layered by different synthesize sound. The sound patterns and textures were composed in real time sound processing, reflected in a Laptop Improvisa­tion, which is then mixed and mastered in Pro Tools.

Download link: http://danifpradana.bandcamp.mu

*****

Kontak Danif Pradana:

http://psykodrona.org

http://myspace.com/danifpradana

danifpradana@gmail.com

l_6fded10be5084967b0b0a6cd8d9b7fbf

16
Feb
09

Not Available – 5 Aces for Indonesia 2009


n528473488_1397641_3727

04
Mar
09

Bahasa Menunjukkan Bangsa

2541Judul Buku : Bahasa Menunjukkan Bangsa

Penulis : Alif Danya Munsyi

Tebal : 382 halaman

Penerbit : KPG

“Anda berada di Paris, saya akan menghargai Anda jika berbahasa Perancis dengan baik,” kata seorang resepsionis di sebuah hotel berbintang ternama di kota Paris. Alif Danya Munsyi terkejut mendapat jawaban itu, padahal ia bertanya menggunakan bahasa Inggris yang katanya bahasa internasional. Ia pun tersenyum heran.

Kiranya inilah yang sedang terjadi di hadapannya, Alif tidak melihat jawaban tersebut sebagai wujud keangkuhan dari seorang manusia tetapi dari sudut pandang seseorang yang sedang berusaha mempertahankan salah satu pilar kebudayaan bangsanya. Bahasa merupakan alat komunikasi utama dari suatu bangsa atau kelompok masyarakat. Jadi, kepribadian suatu bangsa dapat diukur dari budaya berbahasanya.

Kisah ini dituliskan dalam buku yang berjudul “Bahasa Menunjukkan Bangsa”. Buku ini menyajikan suatu pandangan menarik mengenai ilmu bahasa dengan bahasa yang ringan dan ‘menggugah hati’. Ia menunjukkan masalah-masalah kebahasaan dalam bahasa Indonesia secara lengkap, dari sejarah hingga masalah kontemporer yang dialami bahasa Indonesia di era globalisasi ini. Selain itu, Alif pun menawarkan sesuatu yang lain kepada masyarakat bahasa. Jika pemerintah memberikan jargon ‘bahasa yang baik dan benar’ maka ia memberi tawaran pilihan bahasa yang indah dan tepat.

Penulis yang bernama asli Yapi Tambayong ini mengatakan bahwasanya bahasa Indonesia sedang berada dalam ke’akut’an tingkat tinggi. Karena budaya berbahasa saat ini amat dipengaruhi oleh bahasa asing terutama bahasa Inggris. Demikian besarnya pengaruh bahasa Inggris hingga Alif pun menyebut bahasa Indonesia sebagai bahasa Indonenglish. Parahnya lagi, yang terjangkit ‘penyakit nginggris ria’ ini kebanyakan adalah pejabat negara yang seharusnya menjadi penjaga utama pilar budaya bangsa.

“Well, selamat, congratulation,” rangkaian kalimat ini dicontohkan Alif sebagai salah satu bentuk dari kepribadian yang ragu. Dari kalimat ini jelas terjadi tumpang tindih arti kata. Perkataan ini diucapkan oleh Sri Mulyani Indarwati, menteri keuangan kabinet SBY-Kalla. Juga perkataan Matori Abdul Djalil, “DPR atau MPR kan hanya speaker, apalagi sekarang kan zamannya powerful.” Ketidakkonsistenan dalam berbahasa sedikit banyak menjelaskan kenapa mereka (baca: pejabat negara) selalu tidak memiliki kejelasan dalam mengambil sikap/kebijakan. Sikap mereka itu telah melemahkan pertahanan bahasa Indonesia, lebih jauh budaya Indonesia.

Bak virus, ‘penyakit nginggris’ ini juga menjangkit media massa. Padahal, di era globalisasi ini media massa merupakan alat yang paling berpengaruh dalam menyebarkan informasi, budaya, dan pembentukan opini publik.

Kesalahkaprahan media massa dalam berbahasa makin menjadi, mereka menganggap bahwa masyarakat Indonesia yang notabene adalah penutur bahasa Indonesia lebih memahami bahasa asing (Inggris) daripada bahasanya sendiri. Misal, pada media cetak, “carok memiliki dimensi ekonomis selain dimensi kekuasaan (means of power).” Pada contoh tersebut redaksi menganggap kata yang di dalam kurung lebih dimengerti oleh pembaca. Pun begitu dengan media televisi, acara yang mengadakan sambungan langsung melalui telepon dijelaskan dengan kata-kata live by phone pada monitor televisi.

Pun demikian dalam dunia sastra, Alif ‘meminta’ kita untuk melihat Filiphina. Satrawan di sana menggunakan bahasa Inggris dalam berkarya . Tapi apakah lantas mereka dimasukkan dalam peta sastra Inggris? Jawabannya tidak. Jadi kenapa tidak kita bangga akan bahasa Indonesia. Padahal, ia merupakan salah satu bentuk dari manifestasi gagasan, yang mana memudahkan dalam pengekspresian ide, pikiran yang paling rumit dan njelimet sekalipun.

Buku ini bisa dibilang kelanjutan dari bukunya terdahulu yang berjudul “9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing” namun pembahasan masalah kebahasaannya lebih lengkap. Dalam buku yang berisikan kumpulan makalah yang pernah diseminarkan ini, Alif menguraikan perhatiannya pada kedudukan bahasa dalam sastra, seni pertunjukkan, agama dan musik. Satu per satu diuraikan secara tuntas dengan data yang lengkap dan bersifat historis.

Menurutnya, kita jangan merasa merdeka apabila jalan-jalan di Jakarta rambu lalu lintasnya masih dicemari bahasa Inggris, seperti: U turn, Busway, Fly Over, Underpass, Three in One, dan sebagainya. Sementara di taman Tugu Tani terpampang kokoh plang “Gunakan Bahasa Indonesia”. Ironis.

Namun demikian, pengarang yang memiliki banyak pseudonim ini pun tetap berharap nantinya di suatu saat akan ada yang berkata “Anda sedang berada di Jakarta maka saya akan lebih menghargai Anda jika mau menggunakan bahasa Indonesia di Jakarta.” Entah kapan!!

teks resensi: widhi/didaktika

04
Mar
09

Malevolent Creation Segera Melenggang Ke Indonesia

mc1

05
Mar
09

Not Available Live in Jakarta: “Sebuah Pertunjukkan Melodic Dengan Tingkat Intimasi Tinggi”

notavailable

Gedung Studio 3, Hanggar Teras Pancoran, Jumat (27/3) dikerumuni para penikmat melodic punk tanah air. Not Available, band asal Jerman dari genre ini telah memastikan jadwal pertunjukkannya di Jakarta hari itu.

Mulanya gelaran kali ini akan dilaksanakan di Plaza Selatan Senayan, tapi tak mendapat izin kepolisian. Promotor Maximum Kreasindo, yang tadinya bernama Matahati Kreasindo, mengalihkan lokasi perhelatan ke bilangan Pancoran. Dan kali ini turut menggandeng Hit N’ Run Records, yang merupakan label untuk rilisan band-band melodic lokal sebagai rekanan. Band pembuka yang di awal publikasi hanya berjumlah 5 band bertambah menjadi 7.

Adalah No Label, Speak Up, Kuro!, Konflik, Sextoy (Semarang), Buckskin Bugle (Bandung), dan Dosound yang berkesempatan memeriahkan acara ini.

notavailable-1

Tepat pukul 19.25, ketika MC Riann Pelor membuka acara. Band-band pendukung mulai tampil bergiliran. Buckskin Bugle, Do Sound dan Sextoy memainkan setlist andalan mereka. Penonton pun perlahan menggeliat masuk ke dalam ruangan. Belum padat memang. Karena sebagian yang lain masih memilih menunggu di luar.

Di saat Speak Up, Konflik, Kuro!, dan No Label mengambil alih panggung, barulah penonton mulai memenuhi ruangan. Penampilan semua band pendukung ini baru berakhir pukul 21.52.

Bersiap untuk penampilan Not Available. Dragan Jordanov (vokal), Stefan Pappinger (bas), Dietmar Nagal a.k.a Didi (gitar), Arndt Hieber (gitar) dan Christian Frey (drum) satu persatu menaiki panggung. Penonton nampak tak sabaran. Beberapa di antara mereka langsung meminta lagu-lagu favoritnya dibawakan.

Semua punggawa Not available telah berada pada instrumen masing-masing. Kecuali Dragan dan Chris yang sibuk mondar-mandir dan mengabadikan gambar crowd yang hadir.

notavailable-2

Baru pukul 22.00 kelimanya memulai aksi panggung mereka. Lagu-lagu dalam tempo cepat, perpaduan vokal yang apik dan melodi khas punk yang kentara digempur beriringan. Koor panjang pecinta melodic membahana. Tembang-tembang dari album baru/lama Not Available macam Welcome, Metal Inc,. Joanna, Green Car, Everybody Knows, dan Random terdengar fasih dilantunkan penonton.

Mereka yang mulanya malu-malu untuk berjingkrak, seketika mendekat ke moshpit. Kalo sudah begini, moshing pasti tak terhindarkan. Dengan tertib semua melompat, menghentakan tangan ke udara. Bahkan, sesekali mereka menaiki pagar pembatas panggung dan melakukan crowd diving ke tengah kerumunan penonton yang lain.

Melihat ini, Dragan pun tergoda untuk menyicipi keriuhan di arena mosh pit. Di lagu ke empat, sang vokalis enerjik ini seketika melompat dari tempatnya berpijak, yang berjarak sekitar 1 meter ke arah penonton. Terbang bak burung yang melantunkan vokal melodius.

Sejak kedatangannya di Jakarta, personil Not Available memang sangat bersahabat. Ini yang jadi poin lebih dari band melodic fenomenal ini. Tidak ada kesan “ngartis” untuk band sekelas mereka. Mereka akrab berbaur dengan penonton, komunikatif, dan sangat respek terhadap publik melodic yang datang.

Dari keseluruhan setlist yang dibawakan, dominan dari album 5 aces (2007). Karena konser ini bertajuk 5 Aces for Indonesia dan tentunya untuk mempromosikan album tersebut.

notavailable-3

Lebih dari 20 lagu dibawakan Dragan cs malam itu. Saking atraktifnya, menjelang pertengahan lagu, beberapa di antara mereka tampak kelelahan. Usai lagu Green Car dimainkan, Dragan minta jeda 5 menit kepada penonton. “Kami kepanasan. Tenaga kami terkuras,” kata Chris kepada beberapa penonton, ketika keluar menuju ruang ganti mereka.

Berselang 5 menit, semua personil kembali ke atas panggung. Dengan energi tersisa pertunjukkan dilanjutkan. Dua sampai tiga lagu terakhir dimainkan secara beruntun. Forever Young, dari album Fezzo (1999) yang merupakan cover version dari lagu milik Alphaville, menuntaskan perhelatan malam itu. Sekitar pukul 23.30 konser berakhir, ketika paduan suara dari penonton, sekali lagi membahana di seisi ruangan.

Puass..!! Mungkin itu yang bisa mewakili ekspresi seluruh pecinta melodic yang datang. Benar-benar gelaran yang melelahkan, dan pastinya akan membekas di dalam ingatan.

teks reportase: zelva wardi/foto: doni drako

10
Mar
09

Lamb of God Wrath Tour 2009: “Malam Penuh Kemurkaan Para Domba Tuhan!”

logind-4

Senin sore, 9 Maret kemarin, dinginnya Jakarta yang diguyur hujan seolah tak berlaku di Senayan. Tepatnya di kawasan Tennis Outdoor. Spot ini sudah terpanasi oleh kedatangan manusia-manusia berkostum serba hitam. Dengan simpanan adrenalin yang kelak akan dimuntahkan di saat dimana kuintet para domba-domba cadas asal Virginia, Lamb of God akan meluapkan kemurkaannya. Kali ini dengan konsernya yang bertajuk “Wrath Tour 2009” mereka mencoba membakar hidup-hidup para metalheads Jakarta. Ini merupakan konsernya di Asia Tenggara, dan Jakarta terpilih sebagai kota penyelenggara satu-satunya.

Wrath adalah album terakhir Lamb of God. Dimana unsur-unsur groovemetal ala Pantera mulai kental tercium dalam album ini. Dimana sebelum-sebelumnya mereka mengedepankan hibridasi hardcore, thrashmetal, punk, death metal dan metalcore sebagai gaya bermusik mereka.

5

Sepertinya ini adalah konser ter’mahal’ untuk ukuran sebuah konser musik ekstrim. Bisa jadi dikarenakan Lamb of God memang sedang berada di puncak kejayaannya sebagai pengusung musik ekstrim yang sukses bersanding di jajaran musik-musik mainstream.  Bahkan melewati puncak yang telah diduduki band panutan mereka, Pantera. Yang juga mengalami fenomena yang sama.

‘Kemahalan’ Lamb of God tampaknya benar-benar dicermati oleh pihak promotor sebagai ladang bisnis. Dari sisi tarif tiket yang tinggi mungkin bisa dimaklumi jika dikaitkan dengan ketenaran band ini yang sedang naik daun. Namun, hal-hal lainnya seperti merchandise agaknya digaspol dengan harga yang lumayan membuat alis mata naik ke atas. Seperti T-Shirt Event bertanda tangan dijual dengan harga Rp. 250.000. Yang polos sekitar 125.000an.  Walaupun begitu tetap laris bak tahu goreng.

Hujan masih belum berhenti saat  para pasukan mati, Dead Squad sontak menyalakkan materi-materi teknikal mematikan dari album debut mereka yang berjudul Horror Vision. Event ini sekaligus dimanfaatkan Dead Squad sebagai promosi album tersebut.

logind-6Setelah itu seperti biasa jeda panjang sesi setem-menyetem beraksi. Hawa hujan yang cukup dingin seakan tidak berlaku bagi kerumunan penonton yang semakin memanas memanggil-manggil nama LOG.  Area festival tampak benar-benar padat dipenuhi oleh para metalheads yang datang tidak saja dari Jakarta dan luar Jakarta. Namun, di luar Indonesia seperti Malaysia dan Singapura.

Saat yang dinantipun tiba. Senandung intro yang membuat bulu kuduk merinding pun berkumandang. Penonton mulai menampakkan tanda-tanda keberingasan saat para punggawa LOG bermunculan. Hourglass pun digelontorkan. Penonton menggila!

Entah mengapa, sepertinya ada sedikit masalah pada sound. Hingga pada bagian melodi yang cukup catchy di materi Laid to rest seperti terputus-putus. Hal ini sedikit mengurangi kenyamanan, mengingat lagu ini cukup ‘kebangsaan’ dari sekian lainnya.

logind-5Lalu serangan demi serangan lagu pun menyusul, memberondong tanpa ampun pada semua penonton di venue. Materi seperti Walk with me in hell, Now you’ve got something to die for, Redneck benar-benar berhasil menyeret semua yang ada di sana untuk menggeram mengikuti lirik yang dilantunkan Randy Blythe sang vokalis.

Venue benar-benar bak neraka manusia. Pusaran moshpit besar hampir tak pernah berhenti bergulung selama konser berlangsung. Duet Mark Morton dan Willie Adler terus menembakkan lick-lick dan harmonisasi melodi gitar yang terus menyayat telinga penonton yang semakin kesetanan. Belum lagi gempuran besi panas John Campbell dan komposisi teknik double-kicking Chris Adler yang benar-benar memukau.

2

Pada materi Vigil, darah penonton dibuat terhisap oleh jeritan panjang Randy yang berdurasi selama belasan detik. Teknik yang menunjukkan kemampuan optimal Randy sebagai seorang pelantun irama ekstrim yang piawai. Di sisi lain, Randy pun menunjukkan kemampuan berinteraksinya dengan penonton yang dapat diacungi jempol. Ini kali pertama sebuah konser metal dibuka dengan kata assalamualaikum (”assalamualaikum motherfuckers!” ..hayah.. ) lalu kata-kata “mau lagi” hingga menyebut-nyebut nama band metal lokal seperti Burger Kill dan Dead Squad (”this song is dedicated for Burger Kill!”).  Sebuah trik efektif untuk menjalin hati fans mereka.

Lalu konser ditutup dengan Black Label yang membuat puncak adrenalin penonton seakan tuntas. Seperti melepaskan monster-monster terakhir di kepala-kepala mereka. Terbukti dengan tidak adanya tambahan lagu seperti trik klasik yang biasa dilakukan para musisi hingga kata-kata seperti “Curanmor! Curanmor! Curanmor!” bermunculan tidak membuat penonton menunggu. Enerji yang tersedot habis, membuat satu persatu penonton beringsut meninggalkan venue.

logind-3

Sebuah sajian kemurkaan yang memuaskan. Salut bagi para penyelenggara, Solucites yang telah membawa domba-domba neraka ini sukses membumi-hangus Jakarta malam itu. Acara yang berjalan lancar dan aman pastinya membawa dampak positif bagi image yang sering tanpa tedeng aling-aling dituding negatif. Sebuah prestasi tentunya jika negara ini semakin dikenal dunia dengan kedatangan-kedatangan grup-grup papan atas macam LOG.

teks reportase: adit bujbunen al buse/foto: arief

23
Mar
09

Malevolent Creation Live in Jakarta: “Memberangus Beringas Publik Metalheads Ibukota”

Banyak pihak yang menyayangkan perihal batalnya pertunjukan Malevolent Creation (MC) di Balai Pemuda, Surabaya. Penonton yang sudah membeli tiket dan hadir di venue seketika harus kecewa karena show MC di kota ini terhalang izin keamanan. Itu artinya, mau tidak mau, terima tidak terima, MC benar-benar tidak dapat melangsungkan pertunjukannya di kota pahlawan ini.

Walau di Surabaya batal, tidak demikian halnya dengan Jakarta. Pertunjukkan mereka di sini justru terbilang sukses, tertib dan aman. Mighty Syndicate selaku pihak promoter justru mendapat pujian tersendiri dari MC karena berhasil membawa mereka ke Jakarta tanpa kendala berarti pada 22 maret kemarin.

mcrebelz220309-9

Sejak pukul 19.00, para metalheads terlihat sudah berkerumun di sekitar pintu masuk MS Hall, Viky Sianipar Music Center. Bercengkerama atau sekedar menyapa kawan lama sambil menanti acara dimulai. Singkat cerita, perhelatan dibuka sekitar pukul 20.30. Forgotten telah bersiap dengan setnya. Band death-metal asal Ujung Berung ini merupakan band pembuka satu-satunya. Sekilas curi dengar, banyak juga penikmat metal yang hadir menantikan aksi panggung band dedengkot yang sarat dengan lirik kontroversi ini.

img_0381

Dari kabar terakhir yang kami dengar tentang mereka, album terakhir Forgotten, Tiga Angka Enam, belakangan ini didapati tidak boleh beredar di beberapa toko kaset/cd besar karena materi-materi mereka yang kontroversif tersebut.

Tujuh lagu mereka muntahkan malam itu. Enam lagu lama dan satu lagu baru, Serapah Laknat. Lagu kebangsaan mereka macam Tuhan Telah Mati, Perang Demi Setan dan Hidup adalah Kutukan lancar dimainkan. Namun penonton belum tampak meliar. Bahkan hingga lagu terakhir mereka Smoke On the Water kelar dilontarkan.

mcrebelz220309-4

Forgotten turun panggung tepat pukul 21.05 menurut arloji saya. Sorak-sorai penonton terdengar makin ramai. Tentunya tak sabar ingin meluapkan energi positif dalam riuhnya kerumunan hitam-hitam. Tak perlu menunggu terlalu lama hingga Brett Hoffman cs muncul di atas panggung.

Satu persatu amunisi dari album terdahulu mereka tanpa basa-basi dimainkan. Memorial Arrangements dari album The Ten Commandments membuka penampilan perdana mereka di Indonesia. Dilanjutkan dengan Premature Burial dari album yang sama.

mcrebelz220309-11

Mengingat ini adalah rangkaian tur Asian-Australian mereka, saya pikir MC akan banyak memainkan lagu-lagu baru dari album paling anyar mereka, Doomsday X. Dan ternyata tidak. Dari 16 materi yang mereka bawakan, hanya Deliver My Enemy dan Cauterized yang terdengar baru di telinga metalheads yang hadir. Selebihnya, lantunan beringas dari tembang-tembang lama MC justru memanjakan penggemar-penggemar setia mereka yang merogoh kocek 175 ribu demi menyaksikan band death-metal gaek asal Florida, Amerika Serikat ini.

Dibandingkan perhelatan Mighty Syndicate sebelumnya yang memboyong band black-metal asal Polandia, Behemoth, ini yang sangat apresiatif dan beringas. Penonton yang datang tak dapat menyembunyikan letupan-letupan adrenalin yang mempengaruhi mereka. Nampak sekali bagaimana tingkat keliaran dan keagresifan yang tak urung hingga acara usai.

mcrebelz220309

Gumulan penonton dalam pusaran circle pit berkali-kali terbentuk. Moshing dan headbanging juga tak bisa dilewatkan. Dengan tempo cepat dan sedang berulang-ulang mereka mengikuti komposisi permainan duo Gitar Phil Fasciana dan Marco Martell, betotan Bass Jason Blachowicz, dan variasi hentakan drum Fabian Aguirre. Lantunan tenggorok tergorok sang vokalis Brett Hoffman juga tak jarang diikuti penonton.

mcrebelz220309-21

Dan kemunculan kembali Brett bersama MC merupakan sebuah reuni. Ini ditandai dengan dirilisnya album terakhir mereka, Doomsday X di tahun 2007 via Nuclear Blast.

Pertunjukkan MC di Jakarta malam itu benar-benar menghipnotis penonton. Hingga menit-menit terakhir gelaran akan usai tak terlihat agresifitas penonton yang menurun. Ketika Homicidal Rant, Cauterized, dan The Will to Kill dilepaskan sebagai gelombang terakhir, sapuan circle pit makin memanas. Penonton yang hanya berdiri dan fokus ke panggung pun tak luput dari sapuan, hingga harus terdorong kepinggir.

mcrebelz220309-6

Sebanyak 16 lagu mereka mainkan dengan sangat impresif selama satu setengah jam. Penampilan mereka pun dituntaskan lewat materi anthemic Malevolent Creation yang menjadi klimaks dari rangkaian tur Asian-Australian mereka di Jakarta.

Penonton yang sangat agresif sejak awal, perlahan keluar dengan tertib berbalut kaus bersimbah peluh dan kelelahan bercampur puas yang teramat sangat.

Salut untuk Mighty Syndicate selaku penyelenggara atas usahanya memboyong band metal kelas berat seperti MC, di tengah masa kampanye menjelang pemilu yang bisa saja jadi penghambat.

teks/video reportase: zelva wardi/foto: adit buj bunen al buse

25
Mar
09

Black Star – S/T: “Langutan Para Pesakitan”

black-star-black-star

Bagi yang mendengarkan album self-titled Black Star ini untuk kali pertama, sepertinya dapat dengan cepat menyimpulkan siapa acuan bermusik mereka. Mungkin akan terlintas beberapa nama dari tanah daratan Britania. Sebut saja Radiohead, Muse, Travis, Star Sailor, Coldplay, dll. Sangat kentara dari pemilihan sound dan cengkok vokal yang setipe dengan band-band yang saya sebut tadi. Tipikal band beraroma british-pop atau british-rock memang dapat dengan mudah dikenali (di antaranya) melalui dua aspek tersebut. Terlebih jika band yang terpengaruh tak ada bedanya dengan band yang mempengaruhinya.

Black Star yang lahir di era tahun 2000-an sedikit banyak mengambil ruh bermusik dari band-band di atas. Apalagi kala itu band-band di Indonesia juga terkena efek gempuran musik Inggris ke Amerika Serikat yang akrab disebut dengan brit invasion. Dan Black Star adalah salah satunya yang tak luput dari gempuran tersebut.

Dari beberapa band besar british yang memiliki pengaruh cukup signifikan bagi Black Star adalah Radiohead, Coldplay, Muse dan sedikit Travis. Di beberapa trek di album ini akan ditemukan bagian ritme dan flow yang sekilas mirip dengan lagu band-band tersebut. Namun, dari sederet nama yang ada, Radiohead memiliki porsi tertinggi sebagai band yang paling influensial bagi Black Star. Dimulai dengan membawakan lagu-lagu mereka di setiap pertunjukkan, hingga akhirnya termotivasi untuk menelurkan sebuah album.

Butuh waktu hampir satu dekade untuk mereka sampai pada fase seperti sekarang. Berbekal pengalaman panggung yang cukup, lalu pelan-pelan menyicil materi lagu, dan akhirnya berbuah debut album self-titled ini. Tentunya menjadi sebuah penyelesaian yang manis bukan? Dan kita harus mengapresiasi band-band yang memiliki usaha keras seperti Black Star.

Di album perdananya ini Black Star menyuguhkan 10 materi lagu untuk kita nikmati. Delapan materi berbahasa Indonesia dan dua sisanya dalam bahasa Inggris. Secara musikalitas sepertinya tak perlu diragukan lagi kelihaian 6 personilnya. Sepuluh lagu dalam album ini cukup matang. Hanya saja tingkat eksplorasi atau pengolahan lagu yang masih perlu dikembangkan. Seharusnya Black Star bisa mengembangkan musik mereka dengan pengalaman yang telah mereka punya selama ini untuk menciptakan karakter band mereka sendiri, sehingga tidak disama-samakan dengan band idola mereka.

Di lagu pertama di album ini misalnya. Dibuka dengan lagu berbahasa Inggris, Insomnia. Vokal Emir yang merupakan paduan cengkok vokal Thom Yorke (Radiohead) dan Matthew Bellamy (Muse) langsung memudahkan orang menebak identitas musik yang diusungnya dan acuan bermusiknya. Sedangkan di lagu Tetap di Jiwa terdapat kemiripan dengan lagu Shiver milik Coldplay. Bisa dirasakan pada intro gitar dan flow lagunya.

Hal yang sama bisa ditemukan pada lagu Emosi di trek 6. Di beberapa bagian, efek vokal Emir kentara sekali seperti dibuat mirip dengan efek vokal Matthew Bellamy pada lagu Micro Cuts, dari album Origin of Symmetry milik Muse. Sedangkan untuk lagu lainnya, bagi yang mengikuti Radiohead pra-album Kid A akan mendapatkan beberapa sentuhan yang sama di album sef-titled Black Star ini. Namun, tidak seberat Radiohead. Black Star hanya menghindari permainan distorsi yang berlebihan dan eksperimentasi yang aneh-aneh dibandingkan band idolanya tersebut.

Yang bisa dirasakan sedikit beda dari keseluruhan lagu di album mereka ini hanya pada lagu Abnormal Aku dan Menghilang. Pengaruh musik band-band idola mereka tidak terlalu kentara terasa di dua lagu ini.

Namun, dalam sebuah karya musik/lagu kita tidak hanya berbicara kemasan (musik itu sendiri), namun juga konten (lirik) yang selama ini dianggap sebagai pelengkap. Saya sendiri sangat menghormati band-band lokal yang mampu membuat lagu dengan lirik bahasa Indonesia yang bagus. Apalagi memiliki pesan atau sarat makna. Artinya ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan selain memperdengarkan musiknya. Untungnya Black Star memiliki poin ini.

Untuk rilisan perdananya ini bisa dibilang Black Star memikirkan aspek tematik pada albumnya. Pemilihan tema “penyakit” di album ini tentu saja satu hal yang dirasa berbeda. Mereka berani memotret fenomena penyakit biologis, sosial dan psikologis yang dituangkan ke dalam lagu-lagunya. Pemilihan diksi yang tidak biasa, dan dikemas dengan cukup gelap dapat memunculkan kesan emosionil para pesakitan yang tergambar di album ini.

Secara keseluruhan album ini dapat dinikmati. Terutama bagi mereka yang menyukai musik dari daratan Britania Raya, dengan kemasan yang diberi nama dark britain pop. Dan album ini saya rekomendasikan bagi kalian. Lepaskan semua kemiripan mereka dengan Radiohead atau siapapun. Mereka telah menciptakan sebuah karya yang patut diapresiasi.

Tidak ada satupun band yang ingin disama-samakan dengan band lain. Kecuali jika band tersebut merasa puas karena telah disamakan dengan band besar yang mempengaruhinya. Jika ya seperti itu untuk apa menelurkan sebuah album? Lebih baik selamanya menjadi band cover yang memainkan lagu-lagu dari band idolanya. Saya harap tidak demikian halnya dengan Black Star. Perjalanan band ini masih panjang. Masih banyak waktu untuk membentuk karakter bermusik kalian sendiri teman…

Oya, satu lagi. Artwork cover-nya bagus!!

teks: zelva wardi

www.myspace.com/blackstarduniabaru

Label:

Fiasco Records

Titel:

Black Star: S/T

Track List:

  1. Insomnia
  2. Pedofilia
  3. Skizofrenia
  4. Tetap Di Jiwa
  5. Abnormal Aku
  6. Emosi
  7. Menghilang
  8. Miasma
  9. Kuterluka
  10. White Wolf

Line-Up:

Emir – Vokal, Alul – Gitar, Yudi – Gitar, Q-nos – Bass, Ine – Keyboard, Roby – Drum

03
Apr
09

Out Now: Democrazy of Love

Out Now: Democracy of Love

Out Now: Democracy of Love

04
Apr
09

DeadSquad: “Horror Vision – Penampakan Mengerikan Para Pasukan Mati”

DeadSquad: Horror Vision

DeadSquad: Horror Vision

Apa yang membuat band ini menarik dan menjadi daya tarik terkuat sebenarnya terletak pada keberadaan para pengusung di dalamnya. DeadSquad adalah sebuah technical death metal band yang berisikan sekumpulan nama-nama yang sudah mendapat tempat di perhelatan musik tanah air. Baik di ranah musik mainstream maupun di zona musik bawah tanah. Adalah Stevie Item yang juga masih tercatat sebagai anggota Andra & The Backbone dan Christopher Bolemeyer yang dikenal sebagai Coki Netral, keduanya menempati jabatan sebagai gitaris. Lalu ada Bonsquad ex-Tengkorak pada bass. Adrian Gorust ex-Siksa Kubur pada drum dan Daniel ex-Abolish Conception pada vokal.

Sebelumnya sederet nama juga pernah memperkuat formasi DeadSquad. Seperti Ricky Siahaan yang kini tercatat masih sebagai personil Step Forward dan Seringai. Lalu Prisa, ex-Zala yang kini juga membentuk band barunya yang bernama Vendetta. Juga Babal ex-Alexander yang kini jabatannya ditempati oleh Daniel.

Kekuatan sensasi dari sederet nama-nama inilah yang pada akhirnya menjadikan DeadSquad sebagai supergrup yang ramai diperbincangkan. Karena diharapkan akan memberi sesuatu yang cukup menampar dengan telak khususnya di scene musik-musik metal ekstrim.

Horror Vision adalah ejawantah pertama yang sukses diluncurkan DeadSquad. Dirilis oleh Rottrevore Records Indonesia. Launching-nya sendiri telah dilakukan di saat konser “Lamb of God: Wrath Tour 2009” pada tanggal 9 Maret kemarin, dimana DeadSquad menjadi satu-satunya band pembuka. Berisikan delapan buah materi teknikal yang cukup masif. Salah satu track-nya adalah sebuah cover version dari materi band death metal legendaris Sepultura, Arise.

Ekspektasi saya mungkin sedikit terlalu tinggi. Karena ketika setelah menyimak keseluruhan materi tidak ditemukan sesuatu yang benar-benar baru. Semuanya masih dalam koridor technical death metal standar yang sudah kerap dilakukan oleh band-band sejenis terdahulu. Mungkin pendekatan gaya old-school metal coba dilakukan oleh mereka. Tapi jika saja eksplorasi dari segi karakter bisa dipertajam, tanpa harus meninggalkan gaya old-school yang mereka anut mungkin akan bisa terdengar lebih segar.

Namun jika yang dicari adalah dari sisi yang lebih teknis, seperti komposisi yang rapi dan elemen khas musik-musik metal teknikal ekstrim, hal tersebut dapat terpuaskan dalam album ini. Cukup menghancurkan kepala jika ingin merasakan sensasi brutalistik dari perpaduan keindahan harmoni dan keagresifan ritme-ritme blasting terstruktur dari keseluruhan materi.

Materi pertama, “Pasukan Mati” dibuka oleh sebuah intro orkestrasi megah. Mengingatkan saya pada gaya atmosferis yang kerap dilakukan oleh band orchestral melodic black metal, Dimmu Borgir. Lalu disusul oleh materi-materi lainnya yang membuat telinga cukup terseret kedalam struktur yang sophisticated. Ditutup oleh outro bernuansa mencekam yang menjadi sebuah penyelesai yang manis di akhir materi.

Penulisan liriknya cukup bagus. Terutama yang dikemas dalam format bahasa Indonesia. Permainan metafor yang cukup catchy dipadukan dengan komposisi diksi-diksi yang memancing untuk berpikir. Tema-tema tipikal kesuraman hidup dan kritik sosial dapat dirangkai dengan indah dalam sebuah materi lagu yang cukup solid. Dari segi teknis, mungkin jika vokal sedikit bisa lebih ditaruh di layer depan keindahan perpaduan kata-kata ini akan bisa lebih ternikmati dan tersampaikan.

Cukup telak sebagai gempuran awal. Semoga eksplorasi-eksplorasi yang menghajar di materi setelahnya akan menambah kekuatan karakter dari DeadSquad.

teks: adit bujbunen al buse

Label:

Rottrevore Records

www.rottrevore-records.com

Title:

DeadSquad: Horror Vision

Track list:
1. Pasukan Mati
2. Dimensi Keterasingan
3. Dominasi Belati
4. Hiperbola Dogma Monotheis
5. Sermon Of Deception
6. Manufaktur Replika Baptis
7. Arise (sepultura cover song)
8. Horror Vision

Line-Up:

Stevie Morley Item – Guitars
Bonny Sidharta – Bass
Daniel Mardhani – Vocals
Andyan Gorust – Drums
Coki Bollemeyer – Guitars

07
Apr
09

MPB Production Present: “It’s Only Rock N Roll”

its-only-rock-n-roll-copy-copy
07
Apr
09

Abstainisme: “Bentuk Lain Dari Sikap Kepedulian (Ada Peduli di Balik Sikap ‘Tidak Peduli’)”


golput

Ada asap karena ada api. Ada reaksi karena ada aksi. Ada akibat pastilah karena ada sebab.

Fenomena golongan abstain alias golput adalah contohnya. Gejala yang sedang merebak di negeri ini mustinya dijadikan sebuah evaluasi diri yang dapat disikapi dengan bijak.

Golput adalah sebuah parameter, bukan sikap dadakan atau yang lebih kasarnya sebuah ‘kemalasan’. Sebagai rakyat tentunya sangat-sangat sadar akan kebutuhan seorang pemimpin. Tidak ada satupun rakyat yang tidak merindukan figur yang bisa membawa mereka pada kehidupan yang lebih baik.

Sikap kecenderungan “ber-golput ria” bukanlah tanpa alasan. Ini tak lain adalah sebuah bentuk suara ‘protes’ dari hal-hal yang telah dialami selama ini. Sebuah bentuk lain dari kepedulian akan sebuah sistem yang tak berjalan dengan baik. Rakyat jelas-jelas tidak dapat dipersalahkan jika mereka bersikap seperti ini. Selain merupakan sebuah hak asasi yang tidak dapat diganggu gugat juga merupakan bentuk reaksi kekecewaan. Kekecewaan akan sebuah keadaan yang tidak semestinya dari yang telah diharap-harapkan.

Tak ada yang menginginkan kondisi macam golput. Namun jika ini terjadi berarti ada sesuatu yang tidak benar dengan mekanisme berdemokrasi di negeri ini. Mustinya hal ini dapat dijadikan momen berintrospeksi. Bukan malah dengan pendekatan-pendekatan yang berbau ‘ancaman’ ataupun ’sangsi’.

Sepertinya kata ‘bijak’ sudah benar-benar menjadi barang usang di negeri ini. Cara-cara penanganan sesuatu hal yang bersifat lebih manusiawi seperti pendekatan-pendekatan persuasif sudah benar-benar dikebumikan dan dilupakan begitu saja. Bayangkan jika persoalan memilih harus dibumbui dengan tekanan, eksesnya adalah di pihak rakyat takkan pernah ada keobyektifan dalam bersikap. Terlebih di pihak yang dipilih, takkan pernah termotivasi untuk menjadi sosok ideal di mata rakyat. Padahal sosok pemimpin negeri adalah sosok yang mengharuskan kapabilitas “setengah dewa” agar dapat mampu mengatasi semua dinamika negeri dan masalah-masalah di dalamnya. Namun jika dalam hal ini yang dipegang teguh adalah prinsip ‘lebih baik memilih yang terbaik dari yang terburuk daripada tidak sama sekali’ maka bersiap saja akan kemunduran demi kemunduran yang terjadi. Rakyat hanya menjadi sosok pasif lebih pasif daripada bersikap abstain. Karena akan ada fenomena baru lagi nanti, sosok rakyat yang “yes man” atau “yes sir” tanpa harus peduli siapa calon pemimpin mereka nanti. Tak akan peduli negeri ini akan dibawa kemana. Takkan peduli negeri ini akan diajak berdansa ke arah kehancuran.

Yang diharapkan bersama adalah sebuah sistem yang berjalan dengan baik. Di mana rakyat dapat tenang menjalankan dinamika berbangsa dengan sebuah ketentraman di hati melihat posisi ‘pengatur’ ada pada orang yang tepat. Mustinya para calon-calon terhormat yang akan menduduki tahta setengah dewa ini bisa sadar akan posisi ini. Posisi yang sangat-sangat-sangat tidak sembarangan. Jutaan kepala negeri ini adalah taruhannya. Bukanlah barang dagangan demi kepentingan pribadi.

Jika konteks berdosa atau tidak yang dikedepankan. Lebih berdosa manakah membiarkan tahta negeri ini diduduki oleh pemimpin-pemimpin yang seadanya? Pemimpin yang jauh dari kapabilitas ’setengah dewa’ tadi? Pemimpin yang tidak bernurani yang sama sekali tidak melihat jutaan jiwa bergantung padanya? Kata-kata Rasulullah Muhammad, “Bila sebuah jabatan diserahkan pada yang bukan ahlinya tunggu saja kehancurannya” apakah harus kita abaikan? Naudzubillah!

Rakyat tidak sebodoh yang dikira untuk membiarkan negeri ini berada dalam keadaan tak berpemimpin. Benar-benar sebuah tindakan under-estimate yang jelas-jelas merefleksikan sikap dan kemampuan petinggi melihat rakyatnya. Dan otomatis mencerminkan tingkatan kapabilitas sang petinggi itu sendiri jika hal ini benar-benar terjadi. Yang perlu disadari adalah justru rakyat menjadi semakin pintar untuk melihat mana yang baik dan yang buruk.

Dengan turun gunung sepertinya akan membuat para petinggi-petinggi ini akan bisa mengerti dan meresapi ada apa dibalik fenomena yang tidak semestinya ini. Bertukar isi hati dengan bahasa nurani pastinya akan menjadi sebuah solusi.

teks: adit bujbunen al buse

12
Apr
09

FISIP UI: “Social Urban Art Festival”

Social Urban Art Festival

Social Urban Art Festival

14
Apr
09

T-shirt Karbala bukan fatamorgana.

kbfshirtjadicopy

Untuk informasi lebih lanjut mengenai pemesanan dan sebagainya, silahkan hubungi Zelva di 0856 9207 3535 atau log on ke www.myspace.com/karbalabukanfatamorgana

Stok terbatas!

18
Apr
09

Funkin Epic: A Tribute to Faith No More, RATM & Weezer

Funkin Epic

Funkin Epic

22
Apr
09

Agama Ramah Perbedaan

__love_religion_wallpaper___by_suni444Teks oleh: Andy Hadiyanto*

Bangsa Indonesia yang tengah berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya akibat krisis multidimensi sangat memerlukan kerja kolaboratif dan koordinatif dari berbagai komponen untuk menggalang semua potensi bangsa, agar terjadi sebuah kerjasama yang efektif dan produktif. Namun, upaya-upaya seperti itu seringkaliterhambat oleh adanya potensi-potensi konflik yang demikian banyak di negeri ini (agama, etnis, strata sosial, dsb).

Salah satu potensi konflik yang mungkin dapat menghalangi proses pembangunan dan modernisasi di Indonesia adalah pemahaman agama. Apalgi akhir-akhir ini nampaknya penafsiran agama telah diwarnai oleh berbagai bias kepentingan dan ideologi politik tertentu, yang mengakibatkan beberapa kelompok tertentu berani menghakimi kelompok-kelompok lain yang tidak sepaham sebagai kelompok sesat, murtad, kafir, bid’ah, dan berbagai sebutan lain yang mengkonotasikan ketidakpantasan kelompok lain untuk eksis dan hidup berdampingan secara damai dengan mereka.

Seringkali ajaran agama yang bernilai universal dan tidak memihak berubah menjadi sebuah pemahaman agama yang bersifat sektarian dan lokal. Seringkali pula Tuhan yang Maha Luhur dan Maha Mulia diseret oleh subyektifitas manusia untuk membenarkan sikap sekterian tersebut. Teks suci agama pun tidak luput dari tangan-tangan nakal manusia. Ia sengaja dipahami lepas dari konteks kebahasaan dan sosio-psiko historisnya agar dapat dijadikan alat untuk mengkafirkan orang lain yang berbeda pemahamannya.

Pemahaman agama yang demikian itu pada akhirnya semakin mengentalkan sikap fanatik dan intoleran terhadap perbedaan pemahaman agama, tidak saja anatar umat beragama tetapi juga antar umat seagama. Celakanya pemahaman tersebut seringkali juga dijadikan pembenaran untuk menyapu dan menghabiskan orang atau kelompok lain yang berbeda pemahaman dengan mereka.

Pada kondisi di mana dunia mulai mengarah kepada peradaban global dan keterbukaan, maka ajaran agama perlu kembali dirujuk untuk kemudian ditransformasikan nilai-nilai luhurnya sehingga dapat memunculkan sebuah pemahaman agama dan sikap keberagamaan yang bebas dari fanatisme sekterian, stereotype, dan spirit saling mengkafirkan antar sesama umat seagama atau antar umat yang berbeda agama.

Apanila kita kembali melihat contoh Rasul dengan masyarakat madaninya, maka kita dapati bahwa potensi-potensi konflik akan dapat dieliminir dengan mengedepankan persamaan dala keragaman. Artinya, Islam mengajarkan bahwa perbedaan itu adalah fitrah (given) dari Tuhan, tetapi dalam menjalani hidup ini hendaknya kita tidak mempertajam keberbedaan tersebut tetapi sebaliknya, justru harus mencari unsur-unsur persamaan di antara kita. Sebagai ilustrasi, bisa saja kita berbeda suku bangsa, adat, dan bahasa, tetapi kita harus mengedepankan kesadaran bahawa ada satu persamaan yang mengikat kita semua, yaitu kesadaran bahwa kita adalah sama-sama bangsa Indonesia.

Dalam konteks teologis, pencarian nilai kebenaran kemanusiaan bersama perlu dilakukan oleh setiap umat beragama dalam upaya mempersempit “jurang pemisah” antar pemahaman dan keyakinan agama. Kebenaran universal inilah yang harus dipegangi bersama oleh seluruh umat manusia, apabila konflik kemanusiaan yang terjadi akibat hegemoni peradaban yang satu atas peradaban yang lainnya sepanjang sejarah keberadaan manusia ingin diakhiri.

Ajaran-ajaran agama harus ditransedensikan sedemikian rupa sehingga melahirkan sebuah pemahaman agama yang sejalan dengan fitrah manusia yang cenderung akan nilai-nilai luhur dan kebenaran (hanif).

Dikaitkan dengan ajaran Islam dan keberadaan umat Islam dewasa ini, upaya pencarian kebenaran universal dapat dilakukan –mengutip pendapat Jalaludin Rahmat melalui “revolusi konseptual”, yaitu sebuah usaha secara sistematis untuk melakukan perombakan secara radikal struktur kognitif, sikap pendekatan, dan muatan berpikir umat Islam dengan meniupkan kembali ruh tradisi keilmuan ke dalam Islam, sebagai upaya untuk mengatasi kelesuan intelektual, kelembaman mental, konservatisme yang kaku, serta fanatisme sekterian yang membabi buta dalam struktur kesadaran umat Islam masa kini. Karena hanya dengan membangkitkan kembali tradisi berpikir ilmiah umat Islam akan dapat menyelami kembali ajaran Islam yang rahmatan lil’alamin.

Islam sebagai irahmatan lil ‘alamin tidak didapati pada norma-norma hukum (syari’ah) yang cenderung formalistik. Namun ke-rahmatan lil ‘alamin-annya Islam justru terletak pada visi tauhidnya, suatu visi yang mengahncurkan budaya konflik yang diakibatkan adanya eksploitasi manusia (yang kuat) atas manusia lainnya (yang lemah), baik eksploitasi struktural ataupun budaya. Selanjutnya visi tauhid tersebut terejawantahkan dalam nilai-nilai luhur Islam yang menghendaki pemeliharaan atas jiwa, harta kepemilikan, garis keturunan, akal budi, dan agama.

Nilai-nilai luhur tersebut bersifat mengglobal dan menzaman, ia sejalan dengan akal budi manusia (sesuai ikatan primordial manusia ketika masih berada di dalam ruh) dan karenanya ia bukanlah monopli Islam saja, tetapi dapat dijumpai pada ajaran-ajaran agama lainnya yang kesemuannnya muncul sebagai ekspresi mendalam manusia atas nilai-nilai transedental yang ada dalam diri mereka.

Nampaknya kita perlu mengkaji ulang proses pembelajaran agama kita, baik di ranah formal atau informal, agar lebih mengacu pada pengembangan visi tauhid tersebut dalam upaya menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang lebih damai dan humanis.

*staf pengajar Fakultas Ilmu Sosial UNJ

26
Apr
09

Black Star in Concert

prostblackstar

07
May
09

The Trees and The Wild ‘Rasuk’ Launching Party

poster-launching-fix3

18
May
09

Funkin Epic: Ketika Weezer, Faith No More, & RATM ‘Wanna Be’ Unjuk Kemiripan di Satu Panggung

picture-0031

Kamis, 7 Mei 2009, dengan cukup malas pengurus Rebelz beranjak menuju kawasan Cikini. Funkin Epic, sebuah nama gelaran yang digarap oleh Maqnet Entertainment diadakan di sana, tepatnya di Mario’s Place, Menteng Huis. Sebelumnya Maqnet Entertainment cukup sering menggelar acara musik dengan spesialisasi tribute show. Untuk kesekian kalinya konsep demikian tetap dipertahankan hingga acara yang terakhir ini dieksekusikan.

Jujur saja saya agak jenuh dengan acara tribute-tribute-an macam ini. Walau band yang didaulat tampil sangat mahir mempertontonkan sisi musikalitasnya dengan membawakan tembang-tembang dari sang idola, buat saya masih lebih baik membengkakkan rasa penasaran menunggu sang idola berkunjung ke sini walau entah kapan. Apalagi event serupa sedang menjamur akhir-akhir ini.

picture-011

Namun, ada satu dorongan positif untuk Rebelz hadir di gelaran kali ini. Karena ada tiga band besar dari genre yang berbeda yang dibuatkan tribute-nya, dan satu di antaranya adalah band yang paling influensial bagi salah satu dari kami. Adalah Weezer, Faith No More, dan Rage Against The Machine (RATM) yang mendapat tempat terhormat untuk ditiru semirip mungkin.

Lalu, siapa band lokal yang dipercaya untuk memplagiasi band-band tersebut di atas? Mereka adalah Starwick yang bermain sebagai Weezer, Bracode sebagai Faith No More, dan Master Wu sebagai RATM. Dari ketiganya cuma Master Wu yang sedikit terdengar namanya di kuping saya. Sedangkan dua lainnya, kami baru bertemu pandang malam itu. Bagaimana dengan aksi mereka menjiplak band-band idolanya? Mari sedikit kita bahas!

picture-018

Kira-kira pukul 19.30 saya sudah berada di area Menteng Huis. Perkiraan kami sampai di venue mungkin telat, tapi ternyata terlalu cepat. Acara malah baru dimulai pukul 20.45. Tidak terabanya antusiasme dari pengunjung acara yang hadir nampaknya akan berbuah kekecewaan bagi saya setelah keluar dari area tersebut. Ketika saya masuk, mungkin hanya belasan orang yang ada di dalam. Itupun termasuk karyawan Mario’s Place. Saya juga tidak yakin yang ada di dalam benar-benar pengunjung acara atau pengunjung tempat tersebut.

Acara dibuka, Starwick memainkan deretan favoritnya tanpa banyak celoteh. Beberapa merupakan hits Weezer dari masa silam, salah satunya Say It Ain’t So dari The Blue Album. Dengan mengandalkan kemampuan masing-masing personilnya dan mencoba mengeluarkan sound semirip mungkin dengan American rock band tersebut, Starwick berusaha tampil maksimal. Di dua lagu awal mereka masih bisa bermain stabil. Tapi setelah itu, permainan feedback gitar Weezer tidak cukup mampu mereka contek. Di lagu ketiga, Starwick mengajak Aryo (The Adams) menyumbangkan permainan gitarnya sebagai tamu. Tapi itupun tak banyak memberikan bantuan dari sisi teknis. Hingga band ini memainkan setlist terakhir tak banyak yang berubah dari awal.

picture-021

Seusai Starwick turun, panggung diserahkan kepada Bracode yang akan tampil sebagai Faith No Morewanna be’. Kabarnya band ini adalah band cabutan dengan orang-orang yang sudah memiliki band sendiri. Untuk tampil di acara ini pun mereka tidak memiliki persiapan. Jika memang benar demikian, dari sisi kemampuan bermusik dan aksi panggung yang dadakan, Bracode boleh disanjung. Mereka tampil maksimal di hadapan crowd yang sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Salut!

Dua band sudah tampil. Penonton sedikit bertambah namun tetap tidak signifikan. Ditambah lagi sangat tidak apresiatif. Buat saya ini bisa mengendurkan semangat para penampil dan membuat hambar sebuah gelaran. Beberapa orang malah terdengar ‘merengek’ minta pulang. Tapi untung saja ketiga tribute band yang didaulat tampil mengeluarkan aksi panggung terbaiknya. Dan Maqnet Entertainment nampaknya harus berterimakasih kepada penampil terakhir di hajatannya, Master Wu. Beruntung kegaringan tidak berlanjut ketika mereka mengambil alih panggung.

picture-024

Belasan hits dimasa kejayaan RATM digeber satu-persatu. Mempertontonkan pertunjukan rap metal dengan teknik bermusik yang mapan dan sedikit sentuhan politis. Bullet in The Head, Freedom, Guerrilla Radio, dan People of The Sun adalah beberapa tembang anyar milik RATM yang dibawakan Master Wu malam itu. Dibandingkan dengan dua penampil sebelumnya, band yang akan mengeluarkan rilisannya dalam waktu dekat ini terbilang yang sangat optimal. Penonton yang bisa dihitung dengan jari yang sejak awal gelaran ini dimulai hanya duduk, akhirnya terbawa suasana permainan RATM jadi-jadian ini. Terlebih ada tamu dadakan yang tiba-tiba ‘nimbrung’ di panggung, Tito dari Fade 2 Black. Arya Mada yang mengisi posisi vokal juga cukup komunikatif mengajak penonton mengikuti irama permainan mereka hingga acara usai.

Kekecewaan di awal-awal akan suasana gelaran ini akhirnya sedikit terbayar dengan penampilan Master Wu yang benar-benar tuntas sekitar pukul 00.00. Untuk Maqnet Entertainment, mungkin perlu sedikit usaha keras untuk mempromosikan event-event selanjutnya agar bisa berlangsung meriah dengan sorak-sorai penonton yang terasa ramai. Sukses untuk gelaran selanjutnya!!

teks reportase: zelva wardi/foto: adit bujbunen al buse

special thanks to novita “maqnet entertainment”

18
May
09

Black Star 1st Album Available on CD. Get it Now!!

BSCD

24
May
09

MaQnet Entertainment Presents: Metal Attack!

metal_attack_poster

25
May
09

The Trees & The Wild “Rasuk” Launching Party: Suguhan Pertunjukan Semi-Akustik Nan Cerdas dan Estetik

Saya adalah satu dari sekian orang yang beruntung hadir dan menjadi saksi konser Trio The Trees & The Wild Rabu malam, 20 Mei 2009. Kabarnya, dua hari sebelumnya tiket pertunjukan band ini sold out a.k.a ludes. Yang ingin datang dan membeli tiket di hari H tentu kecewa, karena ticket box tak akan dibuka. Tapi selalu banyak jalan menuju Sam Ratulangi. Beberapa orang yang tetap ngotot ingin datang namun belum memiliki tiket akhirnya mengandalkan berbagai cara. Band ini memang cukup mengorek rasa penasaran banyak orang semenjak kemunculannya. Jadi wajar saja jika banyak yang menunggu pertunjukan mereka kali ini. Beberapa lagu The Trees  & The Wild, seperti Honeymoon on Ice dan Irish Girl juga cukup rajin wara-wiri di airplay radio ibukota sehingga membuat mereka tak butuh waktu lama untuk bisa dikenal publik.

Sketsa2

Saya menginjakkan kaki di area GoetheHaus pukul 19.15, setelah sebelumnya melewati perjalanan singkat dari wilayah timur menuju pusat yang akhirnya berujung pada perjalanan panjang karena penuh dengan kekonyolan. Muda-mudi perlahan terlihat berbondong bersama peer group mereka. Satu persatu memasuki area pertunjukan. Beberapa ada juga yang masih bercengkerama di luar sembari menghampiri stand-stand merchandise yang ada.

Tika5

Di dalam, show sebenarnya sudah berjalan. Sketsa, salah satu special guest yang turut memeriahkan gelaran ini sedang mempertontonkan aksinya. Tampil dengan set akustik, duo gitaris Gerald Situmorang dan Dimas Wibisana cukup mahir memamerkan kemampuan menggagahi gitarnya. Seperti mendengarkan Pat Metheny & Depapepe, menghipnotis, dengan santapan intrumental yang memadukan unsur jazz, pop, etnik. Dan hasilnya adalah kualitas sound yang menyenangkan. Mereka berhasil menghibur penonton sebagai performer yang didaulat tampil lebih awal.

ttatw2

Special guest berikutnya adalah TIKA. Selain untuk menyaksikan penampilan The Trees & The Wild banyak juga khalayak yang memang sengaja datang untuk melihat aksi panggung triphop queen lokal ini. Stage act-nya yang selalu memukau dan suaranya yang merangsang bulu tengkuk merinding memang membuatnya selalu dinantikan. Sayang, TIKA hanya membawakan tiga lagu. Satu di antaranya Fever Fairytale dari debut Frozen Lovesongs. Dan untuk dua lainnya, TIKA memperkenalkan lagu baru yang salah satunya terinspirasi dari pembantaian intelektualitas manusia lewat televisi. Sebagai informasi, saat ini TIKA sedang menyicil materi album keduanya. Dan dua materinya sudah diperdengarkan malam itu. Kita doakan saja semoga cepat rampung.

TTATW3

Sekitar pukul 20.20 TIKA turun panggung. Bersiap untuk yang punya hajat. Sesi setem-menyetem untuk sementara mengisi kekosongan panggung selama beberapa saat. Pencahayaan pun lalu ditemaramkan. Jadilah yang terlihat hanya sosok yang bergerak di antara remang-remang suasana panggung. Tepat pukul 20.30 ketika riuh-rendah tepuk tangan penonton menyambut kemunculan trio The Trees & The Wild bersama pendukungnya di atas panggung. Andra B. Kurniawan, Iga Massardi, dan Remedy Walony langsung membuka pertunjukan mereka malam itu dengan setlist pertama, Verdure yang juga membuka trek pertama di debut album mereka, Rasuk. Karakter vokal Remedy yang khas langsung berbaur dengan output akustik gitar yang cerdik yang dimainkannya, ditambah melodi gitar elektrik yang dihasilkan Iga dan bass Andra.

TTATW7

Usai Verdure yang diakhiri sorak-sorai penonton, Berlin dimainkan. Dominasi akustik gitar masih akan tetap terasa kentara, namun lagi-lagi dimainkan secara indah dan membuai. Baru dua lagu awal dibawakan penonton sudah terhipnotis pertunjukan mereka. Dan lagi, applause meriah mereka dapatkan. Penonton baru disapa tuntas lagu kedua ini dimainkan. Tak lama, hingga pertunjukan kembali dilanjutkan dengan set berikutnya, Malino, yang merupakan satu dari tiga trek berbahasa Indonesia di album Rasuk.

TTATW13

Kelar membawakan Malino, The Trees & The Wild bermain penuh secara akustik di tiga lagu selanjutnya, Our Roots, The Noble Savage, dan Honeymoon on Ice. Di lagu Our Roots, The Trees & The Wild memberikan suguhan musik tanpa vokal di dua menit awal dengan hanya lirihan latar suara perempuan yang terdengar sangat sejuk. Dan di tiga menit terakhir unsur bebunyian etnik Jawa disisipkan sehingga membuat lagu ini terasa berbeda. Nice..

TTATW

Dari kesemua elemen yang membalut musik The Trees & The Wild, tak bisa disangkal bahwa karakter vokal Remedy menjadi ciri khas yang sangat lekat. Andra dan Iga melengkapi elemen lain di kapasitasnya masing-masing. Selain itu, yang menjadi nilai tambah adalah penampilan mereka yang sangat ekspresif yang membuat pertunjukan band ini menyedapkan mata dan memuaskan telinga. Semoga hal ini tetap bisa mereka pertahankan.

TTATW12

Usai acoustic set di lagu-lagu tersebut, tiga lagu berikutnya yang merupakan set terakhir berurut ditembangkan. Kata, Derau dan Kesalahan serta Irish Girl yang merupakan trek paling akrab di kuping saya seakan menjadi puncak kesenangan dan kemeriahan malam itu. Terutama bagi ketiga personil The Trees & The Wild untuk debut mereka yang mencuri perhatian. Lighting diredupkan seolah pertunjukan sudah berakhir. Namun nyatanya belum usai, ditandai dengan permintaan encore dari penonton untuk bermain lagi. Dan skenarionya tertebak, kesemuanya muncul lagi di panggung kembali pada instrumen masing-masing. Fight The Future, lagu di trek kesepuluh di album mereka yang menjadi salah satu favorit saya menutup tuntas gelaran kemeriahan konser The Trees & The Wild sekitar pukul 21.15.

TTATW4

Bosan? Sepertinya tidak. Ini adalah salah satu pertunjukan terbaik yang pernah saya lihat. The Trees & The Wild mampu mengendalikan emosi khalayak dengan musik yang mereka mainkan dan cara mereka memainkannya. Tidak hanya terpaku pada tiga orang punggawanya saja, namun juga pada keutuhan permainan panggung yang didukung oleh suara latar perempuan yang lembut dan menarik hati, permainan drum yang memacu emosi, sampling mengawang namun tersusun rapi dan juga tambahan string section dan perkusi yang memiliki andil lebih di pertunjukan mereka malam itu. Kesemuanya tersuguh dengan indah.

TTATW10

Namun, selama kurang lebih satu jam mereka menghibur penonton malam itu bukan berarti tak ada kekurangan. Terutama mengenai konsep/skenario panggung yang menurut saya ‘nanggung’. Seharusnya mereka bisa mempersiapkannya dengan masak sehingga mendapatkan kesan elegan dan terkonsep. Pencahayaan GoetheHaus yang sepertinya terbatas juga cukup menjadi gangguan. Selain itu secara teknis di beberapa lagu terakhir terdengar feedback yang tidak nyaman yang keluar dari gitar Remedy.

Tapi, lepas dari itu semua, Rasuk nampaknya akan menjadi album yang tak jenuh untuk diputar berulang-ulang. Saya rekomendasikan rilisan ini untuk dimiliki dan dinikmati. Selamat datang, The Trees & The Wild!

teks reportase: zelva wardi/foto&video: adit bujbunen al buse

01
Jun
09

The Trees & The Wild 1st Album Available on CD. Get it Now!!

ttatw - rasuk

02
Jun
09

Coup De Neuf #2

coup-de-neuf-2resize

03
Jun
09

MaQnet Entertainment – Metal Attack: Malam Serangan Logam ‘Panas’ di Cikini.

Kamis malam, 28 Mei kemarin sebuah huru-hara musik-musik logam digelar di sebuah kafe mewah di bilangan Cikini, Mario’s Place. Metal Attack, sebuah event metal pertama yang diadakan oleh MaQnet Entertainment. Menampilkan empat pelakon metal dengan khasiat genrenya masing-masing. Tertajuk Ghaust dengan label post-metal, Divine dengan label thrash-metal, Vendetta dengan “covering Lamb of God” dan Oracle dengan “covering Megadeth”.

Jujur saja, secara selera saya pribadi menantikan penampilan Ghaust. Duo instrumentalist ini adalah band yang cukup fenomenal pada era ini. Mungkin juga kontroversial, karena mereka berani menghajar telak scene metal Indonesia yang terancam stagnan di era sekarang. Dengan konsep yang cukup kuat bertampil muka dengan musik instrumental, mereka pun berdaulat (atau didaulat?) di ranah post-metal. Sebuah ranah yang masih asing untuk dijamah di negeri ini.

Vendetta

Namun sesampainya di lokasi, kekecewaan hampir menghinggapi kami karena ternyata Ghaust batal main. Dikhabarkan Edo sang drummer terkena demam berdarah. Wah, seperti kena tanggung rasanya kalau memang tidak ada Ghaust. Ternyata band pengganti telah disiapkan. Tertajuk nama Sarin telah mengalih nama Ghaust di poster besarnya dengan tetap menyandang label “post-metal”. Agak sedikit bertanya-tanya juga saya. Setahu saya Sarin adalah band yang berlanglang buana di ranah post-rock dan shoegaze. Ah, tapi dengan adanya Sarin sebagai band pengganti cukup mengobati kekecewaan saya. Karena bisa membuat gelaran di malam ini menjadi lebih variatif. Walau kata ‘Metal’ sudah cukup menghajar telak di poster.

Sekitar jam sembilan kurang kami sudah ada di dalam kafe. Ternyata pengunjung masih terhitung sepi. Hanya beberapa gelintir orang saja. Terlihat beberapa di antaranya adalah orang-orang paruh baya dengan seragam dinas. Walau pakaian bukan ukuran tapi saya berani taruhan kalau mereka bukan penonton asli event ini. Sepertinya mereka adalah pengunjung kebanyakan yang sedang melakukan ritual ‘ngafe’ lepas dari jam kantor.

phot0082

Lalu tak lama beberapa orang berkostum serba hitam masuk ke dalam. Sepertinya massa dari Divine dan Oracle. Beberapa di antaranya menyebarkan stiker Divine. Pengunjung terlihat sedikit lebih banyak kali ini, namun masih belum terlihat signifikan padahal malam sudah mulai meninggi dan acara sudah dimulai.

Layarpun terbuka. Pembawa acara yang ‘invisible’ pun memperkenalkan band yang tampil pertama,  Sarin.

Ini kali pertama saya dan rekan saya melihat penampilan Sarin. Dengan musik shoegazing space post-rocknya yang membius membuat kami benar-benar terpukau. Saya terkesima dengan progresi drum yang dihasilkan. Karena untuk ukuran genre ini, dinamisasi beat biasanya hampir pasti dihilangkan. Namun Sarin berhasil memasukkan beat yang terhitung progresif dalam musiknya. Akhirnya dengan ambiensi yang cukup noisy mereka menamatkan tiga materi mereka sebagai band penampil pertama. Tepukan menggema di akhir performa. Sayapun juga terpuaskan. Keren, satu kata yang terngiang untuk aksi mereka di gelaran ini.

Ada hal yang cukup lucu juga di saat Sarin tampil. Terdengar di sebuah meja yang berisi orang-orang paruh baya berbaju dinas tadi berkomentar, “Tuh kan, kalau kita datengnya sabtu, masuk musiknya”. Seorang mbak-mbak tampak dengan wajah bete berseloroh. Haha, selamat kalian terjebak di nuansa kegalauan ala Sarin ibu-ibu dan bapak-bapak! Untung tidak langsung segera mengambil garpu di meja untuk bunuh diri.

Vendetta

Lalu tak lama muncullah beberapa wujud yang memancing mata untuk lekat melihat. Para gadis-gadis Vendetta! Ah, Prisa saya mau komentar apalagi dengan tampilan kamu. Perpaduan gitar di tangan dan wujudmu adalah sebuah susuk bagi para penikmat metal malam itu. Kali ini tampaknya Vendetta selain Prisa tidak dengan personil asli. Chitra sang vokalis tampaknya sedikit grogi dengan salah mengucap nama promotor yang mengadakan. Setelah itupun dilanjutkannya dengan basa-basi bernuansa grogi yang membuat kesan awal menjadi momen guyonan. Selintas saya berfikiran “Duh, jadi kayak manggung di panggung sekolahan”.

Lalu lantunan cover dari nomor-nomor Lamb of God seperti “Something to die for” dilepaskan. Menyusul “Hourglass” dan beberapa materi mereka sendiri. Dari segi teknis mereka terlihat cukup menguasai. Apalagi untuk meng-cover lagu bernuansa ‘pria’ seukuran Lamb of God. Namun mungkin untuk eksplorasi di materi milik sendiri diharapkan mereka bisa lebih kreatif daripada sekedar mengekor aliran yang mereka anut.

Lagi-lagi adegan guyonan muncul di tengah aksi Vendetta. Tampaknya bagi sebagian orang yang ‘terjebak’ di event ini terlihat cukup ‘manggut-manggut’ dan ‘pelongo’ menyaksikan para gadis-gadis belia bercelana jeans mini aduhai itu bergahar-gahar ria. Sekumpulan gathering ibu-ibu dan bapak-bapak dinas tadi tampak bergeming dari posisinya. Ada lagi, di sisi kanan depan panggung seorang bapak-bapak ‘jawir’ berkostum batik tampaknya cukup ‘masuk’ dengan penampilan (atau tampilan?) Vendetta. Saat para pencari berita sedang mengambil gambar aksi mereka di depan panggung, bapak ini spontan langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengusir wartawan-wartawan tadi. Sepertinya hiburan indahnya di depan mata terusik dengan kegiatan foto-memoto para wartawan tersebut. Setelah itu dia kembali ke mejanya dan menyaksikan dengan ‘tekun’ aksi metalcore ala Vendetta. Sepertinya Vendetta telah merebut hati sang bapak malam itu. Satu fans pun telah mereka dapatkan. Sebuah aksi yang cukup ‘panas’ bagi sang bapak.

Divine

Usai Vendetta, Divine pun naik ke panggung. Sepuluh materi sendiri bergaya old-school thrash metal yang cukup masif mereka gelar dengan rapi. “Namaste” adalah lagu andalan mereka yang juga menjadi track favorit saya. Gaya interaktif sang vokalis lumayan membawa suasana menjadi cukup santai. Didukung dengan aksi sang gitaris yang lumayan atraktif dengan berlarian kesana kemari. Lantai dansa pun akhirnya terisi oleh beberapa orang yang ‘bergoyang’ mengikuti alunan nada-nada thrashy dari Divine. Beberapa tampak hafal melantunkan lirik. Tampilan yang cukup maksimal dan cukup memuaskan bagi yang haus akan nada-nada metal lawas.

Ah, lagi-lagi perhatian saya tidak bisa lepas dari sekumpulan orang-orang yang ‘terjebak’ tadi. Sekumpulan gathering ibu-ibu dan bapak-bapak kedinasan tadi sepertinya tidak cukup kuat untuk menahan gamparan musik dari Divine. Dengan gontai mereka pun bubar jalan beringsut pulang. Reaksi serupa juga terjadi pada bapak-bapak fans baru Vendetta tadi. Mungkin kegagahannya telah habis terhisap di saat Vendetta beraksi. Hingga hajaran nada-nada thrashy yang dilantunkan Divine tak mampu lagi diterimanya. Bergegas pulang adalah jalan terbaik sepertinya. Paling tidak tidur malamnya kali ini akan lebih indah dari biasanya.

Lalu penampil terakhir adalah Oracle. Tampaknya mereka memang ingin memanjakan rasa nostalgi para metalheads tua. Bagaimana tidak, selain meng-cover nomor-nomor Megadeth seperti Hangar 18, Peace Sells But Who’s Buying?, A Tout Le Monde, Tornado of Soul dan nomor kebangsaan legendaris Holy Wars, mereka juga menyuguhi penonton dengan satu nomor panas dari Metallica, Damage Inc. dan Caught in The Mosh dari Anthrax di penghujung acara.

Oracle

‘Tanggung jawab’ terbesar dari sebuah band cover adalah harus bisa semirip mungkin menduplikasi sang band asli kalau tidak akan menjadi terlihat kena tanggung. Saya hampir pol di puncak kepuasan dimanjakan oleh penguasaan teknis mereka dalam meng-cover semua materi. Namun ekspektasi saya agak sedikit turun ketika nada-nada akustik fenomenal berbau timur tengah di tengah-tengah lagu Holy Wars gagal disuguhkan dengan benar. Sepertinya memang sampai saat ini saya belum menemukan band cover yang bisa menyajikan Holy Wars dan nada fenomenalnya dengan sempurna. Yang saya cermati lagi adalah kemampuan teknis sang vokalis. Sepertinya penguasaan range bervokal dari semua subgenre metal ingin dikuasainya. Dari growling, screaming, screeching dan gaya pitch melengking tinggi ala powermetal dibabatnya. Saya cukup tertegun dengan beberapa materi milik mereka sendiri. Ada sebuah nomor balada yang kental dengan pengaruh-pengaruh band-band metal era 80′an yang cukup bagus mereka racik. Hanya saja sang vokalis sepertinya sedikit memaksakan dengan ingin menyuguhkan range bervokal ala Bruce Dickinson dari Iron Maiden atau Michael Kiske dari Helloween. Mungkin hanya persoalan mengasah kemampuan saja. Terbukti di beberapa materi cover-an kemampuan bervokalnya cukup mewakili hingga tidak mengurangi ke-Megadeth-an, ke-Metallica-an atau ke-Anthrax-an sang lagu.

Sebuah gelaran yang cukup memuaskan sebenarnya. Namun melihat jumlah pengunjung yang kurang signifikan mustinya bisa menjadi sebuah perhatian khusus bagi pihak penyelenggara. Apalagi untuk ukuran sebuah gelaran metal dengan para penampil yang tidak diragukan performanya. Entah dari segi lokasi ataupun harga tiket atau apapun sepertinya bisa menjadi hal yang harus dipertimbangkan lagi.

Di akhir acara MaQnet Entertainment mengumumkan sebuah konser besar akan digelar kembali di Indonesia. Dengan mendatangkan artis mancanegara yang sudah cukup menghajar di scene metal dunia, Arch Enemy! Tanggal 28 Oktober tahun ini kepastiannya. Semoga bisa sukses terlaksana dan memuaskan kembali dahaga para metalheads negeri ini. Kita tunggu saja!

teks: adit bujbunen al buse/ foto & video: zelva wardi

04
Jun
09

System Failure: Prita Mulyasari

ibuprita-anakteks oleh: Eddie Mohammad*

Seorang ibu beranak dua (balita) ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Tangerang, karena secara hukum dinilai telah mencoreng nama baik OMNI International Hospital, sebuah rumah sakit swasta di Alam Sutera, Serpong. Prita Mulyasari bukan seorang pelaku kriminal, melainkan hanya seorang pasien yang merasa dirugikan oleh pihak rumah sakit yang ia percaya untuk menangani kesehatannya. Atas tindak kecerobohan rumah sakit tersebut, ia melayangkan sebuah surat pembaca (klik untuk baca isi suratnya) melalui salah satu media lokal.

Tuduhan pencemaran nama baik ini dikaitkan dengan adanya UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik), dimana ibu Prita dinilai telah melanggar hak subyektif orang lain.

Keluhan yang dilayangkan oleh ibu Prita melalui surat elektronik dijadikan bukti pelanggaran oleh pengacara Risma Situmorang, yang secara luas merilis surat bantahan (klik untuk baca suratnya) terhadap pernyataan ibu Prita.

Yang dilakukan oleh ibu Prita sebenarnya sangat lumrah, mengeluhkan pelayanan sebuah rumah sakit swasta yang tidak sebanding dengan predikat internasional yang disandangkan. Tindakan mengeluh dilakukan oleh ibu Prita Mulyani karena pelayanan yang tidak memuaskan.

KEGAGALAN SISTEM

Pengadilan Negeri Tangerang memenangkan pihak OMNI atas tuduhan yang dilayangkan terhadap ibu Prita, salah seorang konsumen yang sebenarnya telah mempercayakan kesehatannya kepada kapabilitas rumah sakit dalam menangani pasiennya. Pelayananlah yang menjadikan kepercayaan tersebut hilang, dan berubah menjadi keluhan yang patut untuk diceritakan kepada khalayak, mengingat faktor kesehatan adalah salah satu aspek terpenting untuk setiap individu.

Dengan dipenjarakannya ibu Prita, ada suatu bentuk kegagalan sistem yang mengakibatkan tidak berfungsinya Undang-Undang Perlindungan Konsumen (klik untuk telaah), dan Undang-Undang Praktek Dokter Pasal 45 – 49 yang menyatakan bahwa pasien berhak atas rekam mediknya (silahkan browse untuk peraturan IDI, maaf atas ketidak lengkapan link dari saya).

KEBODOHAN

Adalah sebuah kebodohan yang dilakukan pihak OMNI dengan memperkarakan keluhan ibu Prita, setelah mereka memberikan pelayanan yang tidak memuaskan. Keluhan tersebut, sekali lagi, datang karena pelayanan yang buruk. Mengapa tidak ditanggapi? Pihak OMNI hanya akan memperpanjang masalah dengan memperkarakan keluhan ibu Prita. Jikapun perkara ini dimenangkan oleh pihak OMNI, massa tidak akan tinggal diam, berikut berbagai organisasi lain yang mendukung adanya peningkatan kinerja pelayanan kesehatan masyarakat, baik oleh pemerintah, maupun swasta. Perlu diperhatikan oleh pihak OMNI, bahwa mereka adalah rumah sakit swasta yang eksistensinya cenderung kontras dengan kemampuan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan; dengan kata lain, OMNI adalah sasaran empuk untuk dihujat bagi publik.

Adalah sebuah kebodohan bagi pengacara yang terlibat, untuk tidak mempertimbangkan etika kemanusiaan bersangkutan dengan kasus ini. Hanya karena seorang pengacara dibayar mahal oleh kliennya, tidak berarti ia harus menghilangkan kemampuan hati nurani dan nalar untuk menerima dan memproses keadaan di sekitarnya.

Adalah sebuah kebodohan bagi Pengadilan Negeri Tangerang untuk memenangkan pihak OMNI dalam penanganan kasus ini, karena mengabaikan keberadaan Undang-Undang lain yang dapat diaplikasikan kedalam pemecahan duduk perkara.

Apa yang akan dilakukan OMNI setelah memenangkan kasus ini (jika menang setelah naik banding)? Apakah akan beroperasi layaknya tidak pernah ada gugatan? Apakah sudah mempersiapkan kiat-kiat menarik pasien meskipun dengan pelayanan yang terbukti tidak berkualitas?

Tidakkah pihak OMNI, berikut pengacara terlibat dan Pengadilan Negeri Tangerang sadar akan adanya asumsi masyarakat tentang konspirasi berbau materi dibalik proses hukum yang sedang diusahakan oleh keluarga ibu Prita Mulyasari? Ironis dimana sebuah rumah sakit justru memenjarakan pasiennya. Sungguh suatu perbuatan tercela, yang menghasilkan citra yang amat sangat buruk!

PERNYATAAN MELALUI MEDIA

“Tanpa pemberitahuan akan ditahan, saya dijemput petugas kejaksaan dan tidak diizinkan pulang kembali untuk berpamitan dengan anak-anak. Hingga kini anak-anak diberi tahu saya sedang sakit. Mereka tidak tahu ibunya dipenjara”

Prita Mulyasari (SKH Kompas / Rabu 3 Juni 2009)

“Ada beda informasi mengenai hasil tes laboratorium saat dirawat disana. Saya malah mengalamai bengkak di tangan, muka, dan mata dan tidak sembuh setelah dirawat empat hari. Akhirnya keluarga memaksa saya dipindahkan, dirawat di sebuah rumah sakit di Bintaro”

Prita Mulyasari (SKH Kompas / Rabu 3 Juni 2009)

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membaca, amien. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam penulisan artikel ini.

*gitaris The Aftermiles

06
Jun
09

Press Release: Rockisnotdead – Your Local Scene Needs You

POSTER PROPAGANDA 1

Jogja sebagai episentrum seni dan budaya di Indonesia sekarang semakin dipertegas dengan perkembangan yang signifikan dari beragam komunitas seni dan budaya berbasis youth culture (kultur generasi muda), sebuah kultur yang sangat merepresentasikan dinamis atau statisnya peristiwa kesenian dan kebudayaan sebuah kota, masifnya kehadiran scene sebagai entitas yang mengakomodasi kecenderungan budaya dan aktivitas anak muda di Jogja lima tahun ini dianggap sebagai titik temu bagaimana sebuah ekspresi budaya anak muda dan atsmosfer lingkungan seni di Jogja dapat menjadi nilai tawar paten yang mempertegas keberadaan Jogja sebagai kota seni dan budaya. Keberadaan scene-scene tersebut  semacam scene musik (indiepop, elektronik, punk), scene audio dan visual (komunitas desain grafis video klip, video art ) berbanding lurus kebutuhannya dengan sebuah media online (webzine atau netlabel) sebagai media publikasi gratis bagi aktivitas-aktivitas scene-scene tersebut.

WWW.ROCKISNOTDEAD.NET dan Deadboys Komunal sebagai media dan kolektif pelaku youth culture yang selama dua tahun ini aktif melakukan publikasi dan pementasan musik berusaha menangkap fenomena  tersebut sebagai sebuah celah yang memungkinkan untuk dihadirkannya sebuah event yang belum pernah diadakan sebelumnya. Sebuah event yang berusaha memperjelas titik temu scene-scene tersebut (musik, video, workshop, grafis) dalam dunia youth culture dan kontribusinya sebagai representasi seni dan budaya kontemporer kota Jogja. Acara ini bertajuk ROCKISNOTDEAD MAGNETIC yang menggambarkan musik sebagai sebuah kumparan besar yang menjadi titik tarik dari elemen–elemen grafis, video works dan media yang melingkarinya.

Event ROCKISNOTDEAD MAGNETIC ini akan berlangsung selama 3 hari (19 – 21 juni) berturut – turut dengan menampilkan eksibisi artwork band dari para seniman grafis lokal, pemutaran video klip band–band cutting edge dari para V klip maker lokal, diskusi/workshop yang diadakan oleh komunitas diskusi music online Lockstock, juga 3 sesi pementasan musik oleh band-band elektronik lokal (E-day, 19 juni), band-band cutting edge (Scandal Session, 20 juni) dan ditutup dengan pementasan musik eksperimental (Rare and Raw Session, 21 Juni)

Selamat terlibat dan menikmati dalam sejarah terpenting dari pergerakan youth culture kota Jogja..!!!

Contact Person:

Annasign          (0274 7412 667)

Heirda Vichitra  (081 91400 3634)

Anjum Fauzi      (081 320 91979)

Kir Adhi             (0857 255 94134)

Pelaksanaan:

Hari/ tanggal: 19, 20, 21 Juni 2009

Tempat            : Borobudur Plaza, Jl. Magelang, Jogjakarta

ARTIST

Musics artists

1. Sleeples Angel

2. DOM 65

3. Lampu Kota

4. Dojihatori

5. Belajar Membunuh

6. Nervous

7. Serigala Malam

8. Cranial Incisored

9. Airport Radio

10.Armada Racun

11.Frau

12.Cangkang Serigala

13.The Last Kiss Day Of Visceroth

14.Jenny

15.Rizky Summerbee And The Honeythief

16. Seek Six Sick

Video artists

1. Eko Nugroho

2. Anjum Fauzi

3. Avenue Video

4. Akindo boyz

5. DOM 65

6. Wok the rock

7. Jenny

8. Dojihatori

9.Ican Harem

Graphic artists

1. Gde Khrisna Widyatama

2. Wedhar Riyadi

3. Cangkang Serigala

4. Grizzly

5. Gepeng Tatto

6. Wock The Rock

7. Annasign

8. Rully Zoo

9. Ade Airport Radio

10. Yudha Mati Rasa

11. Komeng Serigala Malam

12. Heirda Vichitra

13. Monophones

14. Blangkon Sangkakala

07
Jun
09

Fist of Therapy – Romantic Love in Melancholy: Sajian Cinta di Antara Ritme Ekstrim

FOT

Setiap mendengar rilisan metal lokal baru saya selalu berharap agar ada sesuatu yang benar-benar fresh dan inovatif yang bisa ditemukan. Karena saya benar-benar merasakan bau ancaman sebuah stagnasi di scene ini. Konsep dan gaya bermusik yang itu-itu saja atau yang mencoba berusaha mengikuti jaman dengan menjadi trendy dan terjebak di zona klise.

Sayangnya pada Fist of Therapy hal itu terjadi. Proses yang lumayan panjang dan bongkar pasang personil semenjak mereka masih mengusung 90’s new-school hardcore tampaknya tidak membuahkan hasil yang berarti dalam rilisan barunya ini yang bertajuk Romantic Love in Melancholy”. Mereka memang mencoba untuk merubah konsep bermusik jauh dari konsep awalnya. Namun yang terjadi adalah sekumpulan materi yang terdengar klise. Lebih menyedihkannya lagi jika memang ingin mengikuti jaman, sebenarnya konsep musik mereka ini sudah terbilang telat dari booming musik-musik semacam yang pernah terjadi di tahun 2005-an di Indonesia. Seperti boom musik-musik metalcore, post-hardcore, emocore, screamo, emo-metal dan semacamnya. Genre-genre yang akan terancam basi jika tidak disertai kepiawaian dalam memberikan inovasi.

Membubuhkan tema cinta dan tema berbau feminin seperti yang dilakukan FOT sebenarnya bukan masalah dan hal yang tabu dalam penulisan musik-musik ekstrim. Hal ini sudah banyak dilakukan  oleh band-band ekstrim terdahulu seperti contohnya yang telah dilakukan pada sub-genre gothic-metal pada era 90an. Namun keterjebakan di zona klise adalah hal yang harus benar-benar dicermati. Konsep yang kuat dan matang, referensi yang luas dalam artian luas seluasnya adalah kuncinya. Jika tidak maka musik yang terasa basi adalah hasilnya.

Dalam penulisan judul album pun terlihat sangat literal dan terkesan naif. Perpaduan kata ‘romantic’, ‘love’, dan ‘melancholy’ rasanya seperti membaca judul film ‘hantu setan pocong mengerikan gentayangan’. Ditambah dengan simbolisasi fotografi bergambar wanita dan bunga yang menjadikan tampilan muka menjadi sangat standar dan gamblang. Tidak ada tempat untuk memancing berpikir. Walau begitu dari segi teknis estetik seperti pewarnaan dan balance dari fotografinya lumayan bagus.

Teriakan sekencang-kencangnya, growling semenggeram-menggeramnya, dan riff-riff powerchord ‘gejet-gejet’ bukan hal yang ‘seram’ dan mengguncangkan lagi di era kini. Apalagi jika ingin digabungkan dengan tema-tema riskan macam ‘weakness’ seperti tema cinta, yang harus benar-benar diperhatikan kematangan dalam eksekusinya. Semuanya akan menjadi terasa sangatlah basi, kering dan ampang jika tidak disertai konsep yang kuat dan inovatif.

Kesimpulannya, saya tidak menemukan sesuatu yang menghajar di rilisan ini. Menghajar dalam konteks sesuatu yang mencerahkan pastinya. Namun jika menghajar dalam konteks untuk hiburan, bergoyang dan berdansa saja bisalah album ini memfasilitasinya. Tapi ya setelahnya tidak usah berharap untuk mendapatkan sesuatu yang baru.

teks: adit bujbunen al buse

Judul Album:
Romantic Love In Melancholy

Style:
hardcore/ emo-metal/ metalcore

Rilis:
15 April 2009

Label:
DEATHCLUBBERS RECS

Track List:
1. Romantic Love in Melancholy
2. Direction of The Eyes
3. Sleep Forever (single)
4. Embrace The Shadow
5. Falling in Lost
6. A Journey for The Emptiness
7. When my Memories were Bleeding
8. Refusal Concerning of Pessimism
9. Nurture into Prosperity
10. Deep Sadness Insanity

Line Up:
Mbeng             -    Throat
Fery                 -    Guitars
Die                   -    Guitars
Antou Irene      -    Bass
Boim                -    Drum

10
Jun
09

We Are Pop Vol.8: Benarkah Ini Gelaran Terakhir??

santmnc

Setiap perjumpaan pasti akan ada perpisahan. Terdengar jadul. Namun itulah kenyataan yang harus diterima para gig goers yang biasa menyambangi acara pop gathering, We Are Pop! (WAP!) di Hey Folks! Jl. Bumi, Mayestik. Meskipun hati sendu karena WAP! Vol.8 ini akan menjadi edisi terakhir, but the show must go on. Cukup padat daftar penampil yang memeriahkan WAP! hari  minggu, 31 mei 2009.

sntmnca

Diantaranya adalah Jody In The Morning, Revolusi Pop, Derai Maksimal, Sarin, The Dying Sirens, Ansaphone, Black Star, Tigapagi, Sir Dandy Harrington, Santa Monica, Clover, Skalie, Endah and Rhesa, Ballads Of The Cliche, dan Fisikamatematika feat. Andri Rumah sakit. Menjelang malam, Santamonica membawa penonton seperti melayang ke negeri antah berantah dengan tiga single mereka, dilanjutkan oleh Sir Dandy Harrington, pujangga edan berdawai yang berhasil mengocok perut penonton dengan liriknya yang nggak penting tapi kocak abis. Seru!! Lalu band jebolan La Light indie fest 2009, Tigapagi meng-cooling down suasana dengan tembang akustik-etnik nan ciamik milik mereka.

sirdandy

Berikutnya Clover, yang malam itu tampil dengan formasi yang tidak lengkap. Namun Tia dkk tetap bermain dengan sangat manis. Kemeriahan dilanjutkan dengan penampilan Skalie, band Ska yang sudah malang melintang di dunia musik lokal. Sontak membuat penonton bersemangat mengangguk-anggukan kepala dan goyang-goyang ditempat. Akhirnya yang ditunggu oleh banyak orang, Endah & Rhesa giliran mengisi panggung. Sungguh membuat penonton terpaku dengan kelihaian duo ini memainkan gitar dan bass. Ditambah suara merdu dan permainan tangan Endah menepuk-nepuk punggung gitar layaknya percussion. Fiuhh…berakhirlah WAP! Vol.8 tepat pukul 10 malam.

tigapagi

Namun sangat disayangkan band tuan rumah Ballads Of The Cliché bersama Fisikamatematika feat. Andri Rumah Sakit urung tampil malam itu. Malam itupun berakhir dengan anti-klimaks. Tapi mau bagaimana lagi, kami pun belum rela berpisah dengan duo  MC WAP! Gilang “Waria Sok Aksi” dan Aziz “Doa Ibu”. Kami akan merindukan lawakan gak penting kalian.

skalie

Untuk kedepannya, semoga para penggagas WAP! mendapatkan penyegaran, ide baru, semangat baru dan energi baru untuk menggelar WAP! Vol.9 (berharap demikian). Kami akan sangat merindukan panggung mini nan sederhana yang penuh kenangan indah bersama kawan-kawan itu.

endahnrhesa

teks/foto: nando

16
Jun
09

Coming Soon: MAE Live @ Sasana Budaya Ganesha, Bandung.

poster mae

Sempat gagal melenggang ke Indonesia bulan Januari lalu, MAE, trio indie rock asal Virginia, Amerika Serikat mengungkapkan ketidaksabarannya untuk tampil di hadapan penggemarnya bulan Juli mendatang lewat blog myspace mereka. Nada Promotama, promoter yang akan mengambil kendali penuh untuk menghadirkan mereka di Indonesia kali ini telah menjadwalkan penampilan band ini pada 26 Juli 2009, di Sasana Budaya Ganesha, Bandung.

Bagi kalian yang kecewa karena kebatalan konser mereka awal tahun lalu, kini saatnya mengobati kekecewaan kalian tersebut. Sisihkan uang saku kalian, karena tiket yang dibanderol akan lumayan menguras kocek (lihat poster).

Dan satu lagi! Berdoalah dengan khidmat agar perhelatan mereka kali ini tidak kandas lagi.

More infos: www.nadapromotama.com / www.myspace.com/mae

18
Jun
09

Rock Is Not Dead Magnetic – Your Local Scene Needs You

poster-propaganda-vic

18
Jun
09

Out Now: BITE EP!!

LO BITE0 MAGZ08

18
Jun
09

BITE EP Release Party

flyer

14
Jul
09

ROCKISNOTDEAD MAGNETIC “YOUR LOCAL SCENE NEEDS YOU”

RIND_01

Pada dasarnya, MAGNETIC merupakan selebrasi ulang tahun yang ke-3 dari www.rockisnotdead.net (RIND). Bekerja sama dengan Dead Boys Komunal dan Jogja Force, kemudian menjelmakan sebuah mega-project yang berlangsung selama tiga hari (19 – 21 juni, Borobudur Plaza) berturut–turut dengan menampilkan tiga sesi pementasan musik. Sesi pertama adalah band-band elektronik lokal (Electronic day, 19 juni): Heygoodboy, The Stoplichthen, Bagaikan, Midijunkie, S.O.A.C, OH, NINA!, Uma Gumma, Belkastrelka, LEnrico, DJ Dash, dan DJ Latex. Sesi kedua diisi oleh band-band cutting edge (Scandal Session, 20 juni): Lampukota, Sleepless Angel, Serigala Malam, Jenny, Dojihatori, Sangkakala, DOM 65, dan Nervous. Ditutup dengan pementasan musik experimental (Rare and Raw Session, 21 Juni): Cranial Incisored, Zoo, Anggisluka, Seek Six Sick, LastKissToDieOfVisceroth, dan Cangkang Serigala.

RIND_02

Ruang tunggu The Club disulap menjadi ruang pameran grafis dan video, MAGNETIC memboyong karya-karya milisi para artis grafis bagi band-band cutting-edge: Farid Stevy, Annasign, Uji Handoko a.k.a Hahan, Wok The Rock, Baron Araruna, Didit Gravedigger, Wedhar Riyadi, Hyd Aries a.k.a Komeng, Heirda V, Gde Khrisna, Ign Ade, Rully Sabhara, Taufan, Ican Harem, Ahmad Oka, Dito Terangin, dan komunal pengidap sakau digital, Jogja Force. Masih ditambah dengan pemutaran beberapa video klip dari Vklip maker lokal : Dedy AvenueVideo, Video Robber, Anjum Fauzi, Jimmy Mahardhika, dan TherapyUrine.

RIND_03

Hal tersebut adalah wujud sadar bahwa musik adalah kutub poros bagi senyawa-senyawa yang melingkarinya : grafis, video, dan media dilarutkan bersama, bersinergis dalam satu acara. Silahkan mungkir! Jika Anda sibuk membela “don’t judge the book by it’s cover!”. Jika trek demi trek adalah berupa amunisi timah panas, maka artwork adalah pelatuk julur ledakan dari karya musikal.

RIND_04

MAGNETIC telah menjadi ajang yang mengasikkan untuk saling bertemu, mengenal, dan bersenang-senang bersama (jika metoda diferensiasi genre masih dijadikan tumbal dakwa separasi antar scene yang padahal memiliki esensi sama, creating good scene for good music). Meskipun secara teknis masih banyak yang perlu dibenahi pada acara ini seperti rundown, publikasi, set panggung, dan koordinasi pihak-pihak yang terkait (artis, panitia, sponsor, dan pengunjung), tapi secara keseluruhan mood acara ini sangat asik. Sedikit banyak mampu menjadi pemertegas bahwa para desainer/v-klip maker/musisi/band lokal Jogja layak diidolakan.

RIND_05

Semoga upaya untuk merutinkan gelaran serupa dapat terwujud! Dan tentunya dengan dukungan dari kawan-kawan. (bandeng/rind)

14
Jul
09

Press Release: MAE “Live in Concert” @ Sabuga, Bandung

l_3d9588bda2d44fbaa0f9b19d9fb450d0

In January, due to matters beyond our control, we were forced to cancel a scheduled show in Bandung, Indonesia and promised that we would return. We are extremely proud to announce that we have made plans once again to visit our friends in Indonesia on July 26th. We cannot wait to visit this wonderful country and meet the amazing people we have heard so much about! See you soon Bandung! –mae-

Setelah sukses menggelar Konser “Untukmu Sahabat” Peterpan, di Sabuga Bandung yang mencatat penjualan tiket sold out, NADA PROMOTAMA kembali hadir mewarnai dunia musik pertunjukan dengan menampilkan band asal Amerika Serikat, MAE untuk menggelar konsernya di Indonesia. Konfirmasi ini berhasil didapat setelah NADA PROMOTAMA menandatangani kontrak dengan manajemen MAE. Konser ini merupakan upaya kedua MAE untuk datang ke Indonesia setelah rencana konser mereka di awal tahun 2009 terpaksa batal. Sebagaimana kutipan di atas yang menunjukkan antusiasme MAE untuk datang kembali ke Indonesia, para penggemarnya pun sudah tidak sabar lagi menyaksikan penampilan mereka yang tertunda akibat pembatalan di awal tahun ini. Konser MAE dijadwalkan akan diadakan pada hari Minggu, 26 Juli 2009, di Sasana Budaya Ganesha, Bandung pukul 20.00 WIB.

**********
MAE, sebuah akronim dari “Multy-Sensory Aesthetic Experience”, dimotori oleh Matt Beck (guitar), Jacob Marshall (drums), Mark Padgett (bass), Rob Switzer (keyboards), dan Dave Elkins (vocal/guitar). Band ini tidak hanya produktif dengan menghasilkan 4 album, namun tetap memiliki misi khusus sesuai dengan idealisme mereka, yaitu keinginan untuk melakukan perubahan yang berarti bagi dunia. Selama tahun 2009 MAE memiliki tujuan dan konsep pendekatan yang cukup atraktif terhadap para penggemarnya; yaitu setiap bulan selama tahun 2009 MAE akan meluncurkan lagu baru dan setiap lagu yang di-download oleh penggemarnya akan memberikan sumbangan sebesar US$ 1 untuk kegiatan kemanusiaan.

Saat ini, NADA PROMOTAMA telah memulai penjualan tiket konser MAE di kantor NADA PROMOTAMA, www.detik.com, www.rajakarcis.com, Ibu Dibyo, Aquarius Dago, Distro Riotic, Heaven Records, Lenoleum dan Venom Bandung.

Untuk keterangan lebih lanjut mengenai gelaran ini dapat menghubungi NADA PROMOTAMA, Wisma Lippo Bandung 6th Floor Suite 606 Jl. Jend. Gatot Subroto No. 2 Bandung 40262. Telpon: (022) 7310077 – 7303766. Atau kunjungi website www.nadapromotama.com, www.whatismae.com dan www.myspace.com/mae.

14
Jul
09

TIKA – the Headless Songstress (teaser)

Video klip ini adalah teaser dari album teranyar milik singer/songwriter wanita Indonesia berbakat, Kartika Jahja, atau yang akrab dikenal oleh publik dengan panggilan TIKA. Rilisan kedua milik trip hop queen lokal ini akan segera dirilis pada 24 Juli 2009 mendatang dengan titel “The Headless Songstress” di bawah bendera The Head Records.

Tak sabar? Hmmm.. tunggu saja warta lebih lengkap mengenai salah satu produk musik lokal terbaik tahun ini milik biduanita bersuara memukau ini.

Rebelzine

18
Jul
09

Siaran Pers: The Headless Songstress “Karnaval Provokatif TIKA & The Dissidents”

The Headless Songstress

Posisi perempuan dalam industri musik sulit lepas dari imej serba glamor dan gemerlap. Namun, beberapa tahun silam, di tahun 2005 tepatnya, muncul seorang penyanyi perempuan di Indonesia yang menantang norma pasar dengan mengusung musik gelap dan dingin melalui album ‘Frozen Love Songs’ yang dikemas ulang dengan judul ‘Defrosted Love Songs’. TIKA namanya. Banyak yang mempertanyakan mengapa seorang penyanyi dengan kualitas vokal kelas satu seperti TIKA memilih jalur independen yang konon tak seberapa komersil? Hanya TIKA yang tahu jawabannya. Yang pasti ia telah mendobrak klise Diva di Indonesia dan memahat reputasi sebagai salah satu penyanyi perempuan paling berbahaya di masanya. Namun kemudian TIKA menghilang begitu saja dari kancah musik.

Kemana ia menghilang dan apa kabarnya TIKA saat ini? Setelah hibernasi panjangnya, kini TIKA telah kembali dengan album terbarunya yang bertajuk ‘the Headless Songstress’.

TIKA tidak sendirian lagi kali ini. Ia menggandeng tiga musisi yang dibaptis dengan nama the Dissidents sebagai partner-nya dalam album ‘the Headless Songstress’. “Sekarang tidak memakai nama TIKA lagi, tapi berubah jadi TIKA & the dissidents,” ia menjelaskan. Mereka adalah Susan Agiwitanto (bass) Okky Rahman Oktavian (drum) dan Luky Annash (piano). The Dissidents pula lah yang turut berperan atas perubahan musik TIKA yang melompat jauh dari karya-karya sebelumnya. “Kira-kira 60% materi album ini dibuat TIKA bersama-sama dengan the Dissidents,” tutur Susan sang bassist. Bahkan kali ini TIKA yang dikenal dengan akrobat vokalnya, memilih bernyanyi lebih santai untuk mengimbangi the Dissidents. Dua gitaris dari kubu jazz dan postrock juga digamit TIKA untuk memproduseri album ini. Iman Fattah, gitaris band Zeke & the Popo, dan Nikita Dompas gitaris jazz muda berbakat. Mereka lah yang membungkus lagu-lagu TIKA & the dissidents menjadi sebuah paket musik yang kaya bumbu dalam album ‘the Headless Songstress’.

Namun yang paling drastis berubah, adalah lirik yang ditulis TIKA untuk album ini . Apabila dulu ia dikenal dengan lirik galaunya, kali ini TIKA banyak melempar kritik sosial dengan sarkasme yang nakal namun tajam. Di lagu ‘Polpot’ misalnya, TIKA mengangkat pembantaian intelektualitas massal oleh televisi. Di lagu ‘Red Red Cabaret’, ia menyentil polah selebriti yang haus ketenaran. Lagu ‘Clausmophobia’ menyindir kemunafikan masyarakat menyikapi homoseksualitas. Dan tentu yang paling jelas terasa adalah lagu ‘Mayday’ yang bertema hari buruh.

“Secara pribadi, ini bukan perubahan besar,” ujar TIKA. “Tema-tema ini sudah menjadi ketertarikan saya sejak remaja. Kalau lirik di album yang dulu galau, itu karena saat itu hidup saya memang sedang galau saja,” aku perempuan yang sejak kuliah aktif mendukung gerakan literasi, liberasi gender, dan gerakan swadaya atau DIY ini.

Saat ditanya soal genre musik album ‘the Headless Songstress’, baik TIKA, anggota the dissidents, maupun kedua produser merasa tidak ada satu genre yang bisa mewakilli seluruh lagu di dalamnya. Adanya unsur jazz, rock, blues, hingga tango dan waltz membuat album ini sulit dikotakkan. Ditambah lagi dengan keterlibatan banyak musisi tamu seperti Anda, Riza Arsyad (simakdialog), Adrian Adioetomo, dan banyak lagi. “’the Headless Songstress’ ibarat sebuah karnaval setelah tutup di malam hari. Menyenangkan tapi menyeramkan,” ungkap Nikita Dompas, mendesripsikan album ini. “Saya percaya album ini dapat menjadi salah satu album lokal yang paling unik yang pernah ada,” tambah Iman Fattah.

Sedangkan TIKA, apa harapannya akan album terbarunya sendiri? “Ini bukan album instan. Musiknya pun perlu waktu untuk dicerna. Tapi saat orang sungguh-sungguh mencernanya, semoga dapat memprovokasi telinga dan pikiran pendengarnya. Membuat perubahan yang meski kecil namun berarti.”

Siapkah pasar Indonesia dengan konsep musik seperti ini? Mari kita lihat sambil menikmati karnaval provokatif TIKA & the dissidents dalam album ‘The Headless Songstress’.

18
Jul
09

Debut Album ZOO – Trilogi Peradaban Resmi Dirilis

zootrilogiperadaban

Setelah penantian panjang, akhirnya debut album penuh milik band eksperimental/noise/etnik asal Jogja, ZOO, resmi dirilis secara digital via Yes No Wave Music. Bertajuk Trilogi Peradaban, album penuh perdana dari ZOO ini dikeluarkan dalam format trilogi yang dibagi dalam tiga folder berisi 22 lagu. Dari ketiga folder tersebut berjejer 15 materi baru dan 7 materi lama yang diambil dari EP Kebun Binatang yang juga sempat dirilis YNW bulan Mei 2007 silam. Masing-masing folder merepresentasikan tiga zaman peradaban manusia Indonesia (jika saya tidak salah tafsir -ed); Neolithikum (Zaman Batu Muda), Mesolithikum (Zaman Batu Tengah), Paleolithikum (Zaman Batu Tua).

boxsetzoo

Selain dirilis secara digital dan dapat diunduh di situs resmi yesnowave.com, album trilogi ini juga tersedia dalam format box-set CD-R dengan jumlah terbatas, hanya 100 kopi. Sebagai informasi, box-set CD-R tersebut berisi
3 CD album: Babak Satu; Neolithikum, Babak Dua; Mesolithikum dan Babak Tiga; Palaeolithikum, booklet 20 halaman full colors, dan kotak kemasan yang terbuat dari kayu. Yang berminat untuk menjadikan rilisan ini sebagai koleksi, silahkan berburu (ketentuan pemesanan bisa dilihat di www.yesnowave.com).

Rebelzine

24
Jul
09

Press Release: “MAE Dipastikan Datang dan Tetap Menggelar Konsernya di Sabuga, Bandung 26 Juli 2009”

In January, due to matters beyond our control, we were forced to cancel a scheduled show in Bandung, Indonesia and promised that we would return.  We are extremely proud to announce that we have made plans once again to visit our friends in Indonesia on July 26th.  We cannot wait to visit this wonderful country and meet the amazing people we have heard so much about!  See you soon Bandung! –mae-

Kasus pengeboman yang terjadi di hotel JW Marriot dan Ritz Charlton Jakarta telah mengguncang Indonesia dan menyebabkan kepercayaan internasional kembali ke titik terendah. Peristiwa ini tentunya juga memiliki pengaruh ke NADA PROMOTAMA yang akan menggelar MAE “Live in Concert” pada tanggal 26 Juli 2009, di Sabuga Bandung.

Namun, setelah berbagai usaha dan komunikasi yang dilakukan secara intensif dan terus-menerus dengan manajemen band MAE dan POLRI, NADA PROMOTAMA berhasil meyakinkan MAE untuk tetap datang ke Indonesia. Pada hari ini Selasa 21 Juli 2009 NADA PROMOTAMA telah menerima surat elektronik dari manajemen band MAE yang isinya berupa konfirmasi kedatangan mereka dan akan tiba di bandara Soekarno-Hatta pada hari Jumat, 24 Juli 2009.

Kemudian sesuai jadwal pada hari Sabtu, 25 Juli 2009 MAE akan menggelar konferensi pers mereka di Blitz Megaplex, Bandung. Yang tentunya pada keesokannya, di hari Minggu, 26 Juli 2009, MAE akan memenuhi janji mereka ke penggemarnya untuk menggelar konser pertama kali di Indonesia yang bertempat di Sasana Budaya Ganesha, Bandung.

Saat ini NADA PROMOTAMA terus melakukan penjualan tiket yang dapat diperoleh di kantor NADA PROMOTAMA, www.detik.com, www.rajakarcis.com, Ibu Dibyo, Aquarius Dago, Distro Riotic, Heaven Records, Radio Prambors Bandung, Radio Ardan Bandung Lenoleum Distro dan Venom Bandung.

Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi NADA PROMOTAMA Wisma Lippo Bandung 6th Floor Suite 606 Jl. Jend. Gatot Subroto No. 2 Bandung 40262. Telpon: (022) 7310077 – 7303766. Atau kunjungi website www.nadapromotama.com, www.whatismae.com dan www.myspace.com/mae.

24
Jul
09

Pentas Peluncuran Album ZOO – Trilogi Peradaban

poster ZOO BW

24
Jul
09

Out Now: Tika and the Dissidents – The Headless Songstress

tika cover

Album terbaru TIKA –yang kini– bersama The Dissidents (TIKA & The Dissidents) hari ini resmi dirilis. Packaging album yang terbilang unik, dimana CD disisipkan dalam sebuah notebook tebal dan dikemas dalam sebuah dompet kain bermotifkan floral, ber-emblem-kan sosok bidadari tanpa kepala, serta sangat ramah lingkungan dengan meminimalisir penggunaan bahan plastik ini, membuat rilisan ini sangat layak untuk dimiliki. Ayo, sambangi toko musik terdekat* dan jadikan album ini sebagai salah satu koleksi terbaru kalian!!

Rebelzine

*Rilisan ini baru bisa ditemukan di Aksara & Aquarius. Distribusi di toko-toko musik besar di seluruh Indonesia mulai 27 Juli 2009.

24
Jul
09

BITE EP Release Party – EMAX Cafe, Kemang

Sedikit dokumentasi audio-visual dari acara launching party debut EP BITE di Emax Cafe, Kemang, 26 Juni 2009.

video: adit bujbunen al buse

27
Jul
09

Dokumentasi Visual Peluncuran Album ZOO “Trilogi Peradaban”

Berikut beberapa dokumentasi foto dari pentas peluncuran album Trilogi Peradaban milik  ZOO di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, 25 Juli lalu.

Foto oleh Swandi Ranadila

zoo2

zoo3

zoo4

zoo5

zoo6

zoo7

04
Aug
09

Press Release: The All-American Rejects “I Wanna Rock Tour 2009” @ Istora Senayan

TAAR

Setelah sukses mendatangkan MAE, band asal Virginia, Amerika Serikat, di Bandung, Nada Promotama akan kembali mempersembahkan konser band mancanegara, yang kali ini akan menampilkan band asal Amerika Serikat, The All-American Rejects. Dalam negoisasi yang berlangsung dalam waktu yang cukup singkat, Nada Promotama akhirnya bisa mendapatkan kesempatan untuk menggelar konser band tersebut di Indonesia.

The-All American Rejects adalah band punk asal Oklahoma yang terdiri dari 4 personil, Tyson Ritter (bass), Nick Wheeler (guitar) dan Mike Kennerty (guitar), dan Chris Gaylor (drum).  Band ini meluncurkan album pertamanya pada tahun 2002 dengan single hits “Swing Swing”, dan mendapatkan platinum yang dikeluarkan RIAA karena penjualannya mencapai lebih dari 1 juta kopi di wilayah Amerika Serikat.

Di tahun 2009 ini, The All-American Rejects melangsungkan turnya ke beberapa negara di dunia termasuk Indonesia. Insiden bom Mega Kuningan beberapa waktu lalu tidak membuat The All-American Rejects mengurungkan niat untuk memberikan konser terbaik bagi penggemarnya di Indonesia. Bertepatan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia, Senin, 17 Agustus 2009, bertempat di Istora Senayan, The All-American Rejects akan melangsungkan konser turnya yang bernama “I Wanna Rock Tour”.

Saat ini Nada Promotama telah memulai penjualan tiket di kantor Nada Promotama, Ibu Dibyo, Aquarius Mahakam, Disc Tarra, Detik.com, Rajakarcis.com, Monstertiket.com, Master-ticket.net dan Aquarius Dago.

Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi Nada Promotama Wisma Lippo Bandung 6th Floor Suite 606 Jl. Jend. Gatot Subroto No. 2 Bandung 40262. Telepon: (022) 7310077 – 7303766. Atau kunjungi website www.nadapromotama.com dan www.myspace.com/allamericanrejects.

04
Aug
09

Jakarta Noise Fest #1

Jakarta Noise Fest #1

Pagelaran kerakyatan yang digagas atas nama rakyat, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Tanpa mengeluarkan rupiah sepeser pun kalian dapat menikmati panggung rakyat yang dimeriahkan oleh sekumpulan artis/grup noise terkemuka yang mewakili seantero negeri ini. Sebut saja Kalimayat, Aneka Digital Safari, Crowded Room, dll. Terkhusus untuk Kalimayat yang digawangi Danif Pradana, Indonesian noise musician yang bisa dibilang pionir dan mulanya bermukim di Aussy, pertunjukkan ini adalah penampilan perdananya di Indonesia. Penasaran? Mari ramaikan gelaran ini pada 15 Agustus mendatang.

Rebelzine

04
Aug
09

Interview: Hasil Evolusi Besar Tika Bersama 3 Pengikut Barunya

tika2_15

Kartika Jahja, singer/songwriter berbakat yang akrab disapa TIKA, yang mencuat lewat debut “Frozen Love Songs (2005)”, kini kembali dari pertapaan panjangnya selama empat tahun dengan album anyar bertajuk “The Headless Songstress”. Muncul dengan membawa segudang amunisi baru, pelantun tembang-tembang bernuansa trip hop/jazz ini memperkenalkan identitas barunya: TIKA & The Dissidents. Banyak pertanyaan yang tersimpan di benak, namun hanya ini yang bisa kami muntahkan untuk kalian.

teks & wawancara: zelva wardi/foto: www.suaratika.com

Apa yang terlintas pertama kali di benak seorang TIKA ketika album The Headless Songstress ini resmi beredar ke pasaran, 24 Juli lalu?

Sebelumnya mungkin saya harus sedikit bercerita. Proses penggarapan album ini panjang dan banyak sekali pasang surutnya. Masalah pendanaan yang macet. Masalah teknis yang sangat banyak. Kesibukan kami masing-masing di luar musik. Semangat kami yang naik turun. Pada satu titik saya bahkan sempat pesimis, ini kayaknya ga bakal kelar dan saya bakal mati duluan. Tapi banyaknya orang yang menagih “kapan album baru mbak?”, lalu teman-teman yang dengan sukarela membantu di belakang layar, itu yang membuat kami semangat. Sehingga saat sudah memegang master di tangan, saya sampai menangis…hahahahaha sinetron banget. Pada tanggal 24 Juli kemarin, ketika akhirnya rilis, rasanya seperti hutang yang sudah lama membebani akhirnya lunas. Tapi lalu dilanjutkan dengan masalah distribusi yang belum merata. Jadi leganya sebentar saja, langsung panik lagi karena ditagih kanan kiri atas bawah depan belakang sama orang-orang yang susah mendapatkan CD-nya. Hahahaha..

Seberapa besar pengaruh The Dissidents di album ini, sehingga Anda berani memutuskan untuk mempermanenkan mereka sebagai sebuah  identitas baru dibelakang nama Anda?

Kami sudah main bersama sebagai band, sejak pertengahan 2006. Jadi. memang sebuah projek solo yang berevolusi menjadi band. Membuat lagu pun sebagian besar bersama-sama. Wajar rasanya kalau semua mendapat credits karena ini memang hasil kerja kita bersama.

Kenapa tidak menggunakan nama The Dissidents saja sebagai indentitas tunggal? Toh, Anda tetap menjadi unsur pokok yang menyelimuti indentitas baru ini dan tentunya yang memiliki daya jual?

Seperti saya bilang, ini evolusi. Sebelum album ini rilis, kami manggung-manggung masih menggunakan nama TIKA doang. Membiasakan orang untuk menyebut kami TIKA & The dissidents saja masih perlu proses. Jadi kalau tiba2 berganti jadi The Dissidents, mungkin agak loncat terlalu jauh dan membingungkan.  Nama The Dissidents juga munculnya dadakan ketika kami terlibat di album OST Pintu Terlarang. Saat itu produser album tersebut bertanya “Ini Tika aja, atau pakai Tika and The…?”, secara spontan saya mengatakan Tika & The Dissidents. Karena saat itu headline di myspace kami tulisannya “Dissident disciples of the Headless Songstress”.  Awalnya ingin dinamai Tika & her disciples, pembelokan dari Jesus & His disciples. Saya suka idiom-idiom biblikal. Tapi saya tidak mau mengundang pertanyaan-pertanyaan  yang pastinya akan melenceng dari konteks. Jadi saya pikir nama The Dissidents cocok buat anak-anak ini karena mereka  susah sekali diatur. Sudah membuat 3 manager sebelum ini kabur putus asa. Hahahaha…

Secara kasat mata saya melihat ego TIKA masih dominan dalam hal pengonsepan tema dan konten di masing-masing lagu. Padahal sekarang kan Anda tak lagi sendirian. Ini adalah sebuah band dengan banyak kepala. Sejauh mana Anda melibatkan mereka dalam pematangan konsep album secara keseluruhan (non musik)?

Hahahaha… ya memang benar. Sulit memang transisi dari sebuah proyek solo ke sebuah proyek solo plus band seperti saat ini. Saya pun tidak menyangkal bahwa saya masih tampak dominan di sini.  Tapi percaya lah bahwa kalau anda melirik ke dalam, semua orang termasuk saya sendiri banyak bertoleransi dalam album ini. Nggak jarang ada lagu yang kami rombak berkali-kali karena beberapa personil tidak merasa sreg. Dalam hal lirik dan artworks memang anak-anak The Dissidents menyerahkannya kepada saya. Dalam hal musik, kami saling memberi jalan. Begitu juga dua produser kami, Iman Fattah dan Nikita Dompas. Mereka tidak mengambil alih lagu, hanya membungkusnya. Semua keputusan tetap mereka serahkan pada band.

Ada misi khususkah dengan dirilisnya The Headless Songstress ini?

Lebih tepat disebut harapan dibanding misi. Harapannya adalah membuat album yang personal dan memprovokasi. Personal, maksudnya manusiawi dan tidak mekanis. Ada kehangatannya lah. Itulah sebabnya kami memilih cover kain perca, karena feeling-nya lebih intim dan luwes dibanding plastik. Itulah sebabnya musik kami tak banyak diutak-atik dari versi mentahnya. Ada beberapa bagian yang off key, sengaja tidak kami auto tune. Biarkan saja tak sempurna.
Sedangkan provokasi, jangan mikir serem dulu dengan kata provokasi. Disini yang dimaksud adalah sebuah produk yang tidak untuk sekedar dibeli dan didengarkan saja, tapi secara tak langsung mengajak untuk ikut berpikir, berpendapat, berkarya. Lirik-lirik yang implisit moga-moga memberi orang ruang untuk interpretasi bebas. halaman-halaman kosong dalam buklet, moga2 dipakai orang untuk menulis, menggambar, apa saja. Sampai ke sayembara berhadiah CD gratisan kami. Kami tidak  membuat semacam “aktifkan RBT dan dapatkan bla bla bla”. Kami buat sayembara menulis bebas dengan judul “Waltz Muram”. Biar kita nggak jadi robot.

Social political. Ini adalah dominasi tema yang diangkat di album ini dengan kritikan yang tajam dan bisa saja membuat geram. Sebagai sebuah bumbu pedas dalam dunia musik, ini adalah suguhan yang cukup berat. Apakah menurut Anda masyarakat musik di sini sudah cukup mampu merespon dengan baik materi-materi seperti ini?

Feeling saya sih 50:50. Pasti akan ada orang yang membeli karena sekedar ikut-ikutan dan tidak peduli dengan lirik yang disampaikan. Itu kan penyakit generasi kita. Ikut-ikutan dan apatis. Ada juga yang beli karena mungkin suka musiknya, atau packaging-nya, tapi lirik ya sembari lalu saja. Tapi sisanya, saya yakin tidak akan mengacuhkannya. Mereka bisa setuju, bisa tidak, tapi pesannya sudah sempat mampir paling tidak di otak mereka. Lagipula masalah socio political punya daya tarik yang sama besar dengan tema cinta menurut saya. Banyak orang Indonesia yang begah dengan keadaan budaya populer kita yang sekarang ini juga. Penyampaian kami juga tidak berat. Tidak marah-marah. Hanya menyindir, yang mana menyindir juga budaya yang sangat Indonesia kan? Hahahaha…

Empat tahun masa hibernasi Anda hingga akhirnya album ini lepas ke pasaran. Dengan perubahan yang drastis lewat lirik yang sarkastik, seperti yang tertulis di siaran pers The Headless Songstress, apakah ada pangsa pasar lain yang ingin Anda rambah. Atau minimal yang ingin anda “sentil” mengingat isi album ini yang sarat kritikan?

Secara musik, kami menganggap musik kami cukup enjoyable untuk siapa saja. Apalagi dengan adanya banyak style dan genre. Secara lirik, perubahan itu bukan ditujukan untuk merambah pasar tertentu. Nggak pernah kepikiran malah “eh kalo liriknya gini, kita bisa masuk ke pasar ini” hahaha..  Setelah lagu-lagunya jadi baru tampak lah polanya. Bahwa liriknya terbagi menjadi lirik cinta dan lirik sindiran. Ya, yang dibilang sarkastik itu mungkin,  lebih cocok ditujukan kepada mereka yang masih belum aware dengan isu-isu itu. Mereka yang baru mulai ngulik, atau mungkin belum peduli. Isunya juga sehari-hari banget. Kalau buat pembaca Nietzsche sih terlalu culun.

Salah satu judul lagu di album ini, Tantang Tirani. Darimana Anda mendapat inspirasi dalam penulisan lagu ini? Apakah buku karangan Edy Budiarso yang berjudul “Menentang Tirani” menjadi salah satu referensi? Jika ya, apa yang Anda lihat di buku tersebut sehingga Anda merujuk pada materi di dalamnya?

Tantang Tirani bukan lagu tentang menentang tirani. Lagu itu adalah persembahan sakral untuk seseorang bernana Ali Djibril Tantang Tirani. Seseorang yang sangat dekat di hati saya.

Sehubungan dengan lagu tersebut, menurut Anda seberapa tirannya pemerintahan kita sekarang? Atau Anda mungkin menemukan dosa-dosa besar mereka yang kemudian menyulut semangat Anda untuk menggelorakan ajakan tantang tirani di negeri ini?

Tirani negara kita  hari ini adalah tirani yang tidak absolut dan mutlak di depan muka. Tiraninya sudah pakai metode public relations yang licin. Ini lebih menyebalkan karena  kita terbuai dan tidak merasa ada yang salah dengan negara. Kita dibuat apatis,  mati rasa. Kalau ada yang menyuarakan pendapat, mereka seakan dianggap meresahkan karena membangunkan orang yang lagi enak-enak terbuai liyer-liyer. Tapi di sisi lain, banyak gerakan yang menyikapi hal ini malah asal serang dan kurang strategi. Akhirnya yang bersimpati ya dia dia lagi. Jadi homogen juga ujung-ujungnya, dari bacaan, cara bicara, cara berpakaian sampai musik yang  didengarkan sama. Sang tiran semakin licin, masyarakat semakin mati rasa, sementara yang menentang memainkan monolog. Lucu ya.

Lagu lainnya, Mayday, saya dengar pernah dijadikan anthem pada peringatan hari buruh di salah satu negara bulan Mei lalu. Bagaimana Anda merespon apresiasi tersebut? Dan menurut Anda berhasilkah upaya provokasi Anda di lagu ini?

Saya tidak tahu berhasil atau tidaknya. Ukuran keberhasilan sebuah provokasi itu seperti apa, masih rancu buat saya. Mengenai beredarnya lagu tersebut ke negara jauh itu, jujur saya sendiri tidak merasa itu prestasi yang wah. karena lagu itu dibagikan gratis di internet, wajar kalau yang men-download bukan orang Indonesia saja. itu bisa terjadi pada musisi siapapun. Jadi, saya pusing sendiri dengan hype-nya berita tersebut. Sampai dibilang penyanyi Indonesia go international. Duh, saya merasa aneh, wong kitanya di Jakarta-Jakarta aja, nggak ke luar negeri.

Jika melihat masyarakat penikmat musik di sini dengan ragam musik sekarang yang tersuguh seperti menu makanan di restoran, bagaimana Anda melihat kecenderungan mereka (penikmat musik –ed) secara umum? Dan bagaimana TIKA & The Dissidents mencoba merangsek masuk ke dalam area tersebut untuk mencuri perhatian mereka?

Ya, bener banget seperti menu makanan di restoran. Nah, pertanyaannya kita mau masuk halaman menu yang mana ya? Seafood, ayam, sayur? Hahahaha. Karena secara genre, kita sudah membahasnya sampai muak dan nggak menemukan satu nama pun yang bisa mewakili seluruh lagu di album ini. Akhirnya kami tak memaksakan harus masuk ke satu genre. Ga masuk menu ya gapapa. Caranya merangsek masuk dan mencuri perhatian pasar? Kesannya kok seperti sebuah strategi marketing tingkat tinggi… hahaha… kami di sini tidak ada yang sejago itu. Kami hanya memakai pendekatan personal, mulut ke mulut, meminta bantuan kawan-kawan. Mencoba menghargai konsumen dengan memberikan yang terbaik yang mampu kami berikan agar pembeli senang. Itu saja.

Pentingkah di mata seorang TIKA, laku atau tidaknya album The Headless Songstress ini?

Tentu harapannya laku, tapi laku itu subjektif ya. Laku buat kami, kalau buat Celine Dion itungannya boncos..hahaha. Laku tentu kami senang, tapi yang lebih penting lagi prosesnya. Dengan segala tetek-bengek yang kami lalui sejak dimulainya album ini, kami belajar untuk menghargai proses. Dukungan teman-teman yang luar biasa misalnya, dan review-review yang apresiatif, itu sudah menjadi sebuah reward yang sama bernilainya dengan laku. Dengan begitu, laku tak laku kami sudah bersyukur bisa sampai di titik ini karena menghargai setiap langkah yang kami lewati.

Mengenai ikon bidadari tanpa kepala yang belakangan bergentayangan dengan megaphone, apa yang sebenarnya ingin disampaikan lewat ikon tersebut? Bisakah diterjemahkan sebagai sebuah bentuk pengebirian ide atau pemenggalan hak-hak berpendapat misalnya?

Kalau kamu mau mengartikan begitu monggo. Malah seru kalau ada banyak interpretasi. Bagi saya pribadi, ikon itu hanya menjelaskan bahwa kami tidak menawarkan image atau gimmick apapun, hanya memberi suara lewat musik. Karena kayaknya sekarang kalo mau bermusik harus punya image dulu, musiknya belakangan.  Tapi sekali lagi, ini adalah salah satu bentuk provokasi pikiran juga secara tak disengaja. Orang jadi menginterpretasikan sosok si Headless Songstress sesuai sudut pandangnya masing-masing. Menarik.

Jika sekiranya Anda berkesempatan bertatap muka dengan pemuka/penguasa negeri ini, apa yang ingin Anda tuntut atas ketidakadilan dan ketidakdemokratisan di negara yang katanya negara demokrasi ini?

Banyak orang yang sudah bertatap muka dan menyampaikan tuntutan. Bersalaman, foto-foto, lalu pulang tersenyum. Tapi apa ada perubahan setelah itu? Saya rasa nggak ada gunanya menyampaikan tuntutan pada mereka. It’s all part of their PR (pekerjaan rumah –ed). Labih baik kitanya yang membuat perubahan. Kalau saya pilih yang kecil-kecil tapi konstan dan konsisten. Saya pilih rangkul, bukan kepal. Mungkin di antara kawan-kawan ada yang lebih suka revolusi, nggih monggo.

Ada pesan, himbauan, atau hasutan positif yang ingin Anda sampaikan kepada calon penikmat The Headless Songstress?

Semoga senang. Anda senang, kami pun senang. Kalau kita semua senang, pasti menyenangkan.

Over all, selamat atas diluncurkannya salah satu produk musik berkualitas tahun ini. Selamat datang (kembali) TIKA & The Dissidents!

Matur suwun.

26
Aug
09

Jakarta Noise Fest Vol.1 (Live Album – Free Download)

Various Artists - Jakarta Noise Fest vol.1 (front)

Kumpulan lagu dan bebunyian dalam album ini adalah beberapa rekaman live dari para penampil di Jakarta Noise Fest Vol.1 tanggal 15 Agustus lalu. Wasted Rockers bersama New Wife Records yang bertindak selaku penyelenggara mengabadikannya menjadi rilisan live album. Penasaran? Silahkan unduh lewat link berikut:

http://www.mediafire.com/?nhwjg52lzzt

Various Artists – Jakarta Noise Fest vol.1 (live album!)
01. Serigala Jahanam – Mistit Girl (live)
02. The Crowded Room – Swallowtail (live)
03. Proletar – Bergerak di Bawah Garis Hasrat & George War Bush (live)
04. Duck Dive – Untitled (live)
05. Kelelawar Malam – Kelelawar Malam (live)
06. Aneka Digital Safari – Anal Sub-Machine (live)
07. Kalimayat – Live Improv 15-08-09 (live)
All song was recorded 100% live at DT Sound, Jakarta, August 15th 2009
Produced by Wasted Rockers & New Wife Records
Package design by: Dede
26
Aug
09

Khuruksetra: ‘Bliss, Plague, Damnation’ Concert @ Teater Salihara

Khuruksetra@salihara

Sebuah gelaran musik eksperimental dan pentas visual yang mengisahkan kesenian perang mahabarata dan sudut pandang akan arti sebuah pagelaran seni. Dipentaskan oleh Khuruksetra yang digawangi oleh Danif Pradana (Kalimayat), Mikael Mirdad (eks- Whisper Desire), Andra Fembriarto, dan Enrico. Keempatnya akan mengetengahkan sebuah pertunjukan seni avant-garde berupa olah suara dan bunyi mencekam, pertunjukan teatrikal dari sebuah ritual medan perang, dan slideshow visual di Teater Salihara, 12 September mendatang. Sebagai informasi ini adalah penampilan Khuruksetra untuk kali pertama di tanah kelahiran mereka sendiri. Jangan lewatkan!

Tentang Khuruksetra: www.myspace.com/khuruksetra

09
Sep
09

RebelZ 09 – Euforinasionalisma

RebelZ 09 - Euforinasionalisma

Rebelzine baru saja mengeluarkan rilisan terbarunya dalam format E-Book/Digital 3D/Paperless berjudul RebelZ 09 – Euforinasionalisma. Sebuah E-Book yang diterbitkan secara berkala dan diposisikan sebagai sebuah bacaan perangsang rasa keingin-tahuan.

Berisikan materi-materi tentang segala hal yang berkenaan dengan fenomena youth culture, musik, sastra, grafis, dan lain sebagainya. Dikemas secara apik dengan konsep yang berbeda dengan terbitan-terbitan konvensional yang banyak beredar (baik digital maupun cetak).

Dapat diunduh secara gratis untuk kemudian bebas diperbanyak dan disebarluaskan atas dasar keinginan untuk berbagi dan belajar bersama.

Silahkan unduh di sini

Akhirnya, selamat membaca dan menikmati..

Spesifikasi
Judul             : RebelZ 09 – Euforinasionalisma
Penulis          : Rebelzine dkk.
Penerbit        : Rebelzine – Sb Paperless Publishing
Jumlah hal. : 270 halaman+bonus tracks
Format          : E-Book/Digital 3D/Paperless
Aplikasi       : Stand Alone

28
Sep
09

dzeek – s/t: Maujud Konsistensi Kuintet Pemuja Radiohead Akut

dzeekcover

Album ini sebenarnya sudah cukup lama sampai di meja redaksi Rebelzine. Seingat saya sekitar satu atau dua bulan yang lalu. Jadi, maaf sekali kepada awak dan manajemen band ini jika baru sekarang saya memuatnya di media sederhana ini.

Jujur saja, setelah enam tahun mereka tak menelurkan album, saya mengharapkan ada perubahan berarti di album self-titled milik kuintet asal Jakarta ini. Terlebih dengan adanya pergantian fatal pada departemen vokal yang diputuskan tahun 2008 silam.

Joe Danu (vokalis terdahulu) resmi mengundurkan diri medio 2008. Album mini “The Oslo Report” yang dirilis tahun 2007 menjadi kenang-kenangan terakhir Joe bersama empat sahabatnya yang lain, Aan (drum), Pai (bass), Ichsan (gitar), dan Amier (gitar).

Sepeninggal Joe Danu, Imam Ghazali mendapat mandat untuk mengisi kekosongan vokal. Seperti mendapat angin segar, Imam pun mencoba memanggul amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Dan hasilnya, ia berhasil menunjukkan performa maksimalnya dalam rilisan terbaru dzeek. Terbukti Imam bernyanyi lebih baik dengan aksen vokal ala Thom Yorke yang mendekati sempurna bila dibandingkan dengan Joe. Dan seiring dengan pergantian ini pula identitas panggung mereka sebelumnya, d’zeek berubah menjadi dzeek.

Namun, perubahan positif dengan vokalis baru ini nampaknya belum kunjung berbanding lurus terhadap perubahan dzeek secara musikal. Imej Radiohead yang tertancap di raga band ini nampaknya masih kuat melekat. Dari 13 lagu yang ada, jujur saja didominasi dengan output aransemen yang menjenuhkan. Akibatnya, saya tidak sanggup berlama-lama untuk memutar berulang kali trek demi trek dari CD album mereka. Tidak terasa dongkrakan eksplorasi berarti yang keluar dari wilayah bunyi dan pemrosesan musik tipikal dengan band-band Radiohead wannabe yang pernah ada.

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan kemiripan suara Imam dengan guru vokal-nya, Thom Yorke ataupun Jeff Buckley. Kemampuan olah aransemen dan penjelajahan musikal yang maksimal saya rasa akan sanggup menutupi keidentikkan dzeek dengan idolanya. Itupun jika mereka ‘berani’ bertualang di luar garis wilayah musisi influensial yang itu-itu saja.

Luke Reynolds dari Blue Merle saja suaranya sangat Chris Martin sekali. Namun, bersama kawan-kawannya ia mampu memberikan warna baru yang sangat tidak Coldplay dengan memadukan elemen folk-rock-country-bluegrass yang menyertakan instrumen banjo (alat musik petik sejenis gitar yang dikembangkan budak Afrika di Amerika –ed) di dalam tubuh band mereka. Hasilnya, musik mereka berciri dan lepas dari kesan ‘identik’.

Saya pikir dzeek pun bisa lebih dari itu dalam upaya melepaskan imej Radiohead-nya dengan tetap melambaikan bendera britpop-rock-alternatif. Dan andai saja sebelum album baru ini terlanjur diproduksi mereka berani ‘membuang’ jauh-jauh koleksi album dari idolanya itu, untuk kemudian meluangkan waktunya sejenak mendengarkan varian musik dan referensi yang lain, saya yakin hasil dari olah kreatif mereka di dapur produksi tidak akan se-mengecewakan album kedua mereka ini.

Saat pertama kali saya mendengarkan keseluruhan materi di album ini, saya hanya mampu menyudahi hingga tuntas di lagu pertama dan kedua. Saya terpaksa melakukan over skip di lagu-lagu lainnya. Hanya Terlihat, satu-satunya materi berbahasa Ibu yang menurut saya cukup stand-out di album ini. Harusnya ciri dan karakter dzeek di lagu ini yang sebaiknya mereka tonjolkan dan kembangkan. Selebihnya, hanya selera yang akan berbicara pada setiap materinya. Dan Anda (pembaca setia Rebelzine –ed) akan mengerti kenapa baru sekarang saya berusaha mendengarkannya sekali lagi untuk kemudian saya muat ulasannya di sini.

Jika dzeek hanya bertahan di fase ini dan puas dengan apa yang mereka hasilkan sekarang, saya rasa tidak akan ada apresiasi berlebih dan kagum untuk menggambarkan progress signifikan dari band ini, kecuali hanya dari penggemar berat mereka.

Terlepas dari itu semua, saya sangat salut dengan ke-konsisten-an personil aslinya untuk mempertahankan keaslian warisan musik para guru mereka. Apalagi proses rekaman album ini sepertinya benar-benar ditangani oleh tangan-tangan ahli. Bisa dirasakan dari kualitas audio yang di atas rata-rata kualitas produksi rekaman lokal lain. Dan hasilnya, jadilah album ini sangat layak dinominasikan sebagai hasil rekam terbaik tahun ini.

Lagu What Now dari mereka memang berhasil merajai chart-chart independen di radio-radio lokal, tapi What’s New? dari dzeek. Saya tunggu jawaban dzeek di rilisan berikutnya. Sukses..

Teks: Zelva Wardi

Artis:

dzeek

Album:

S/T

Genre:

British Pop-Rock-Alternative

Rilis:

2009

Label:

Dejik Records (distribusi demajors)

Track List:

  1. Somewhere, Somewhere
  2. What Now
  3. Terlihat
  4. The Prior
  5. Lercha
  6. Malingering
  7. Hello
  8. Jawdropped
  9. Who is the King
  10. Bigger Dish
  11. Getting Older
  12. Tripolar
  13. Liv

URL:

www.myspace.com/dzeekmusic

29
Sep
09

March Merasuki Akal

march-merasuki akalMarch, kuartet heavy-thrash-melodic-metal asal Jakarta yang diawaki Faddy (vokal), Ryan (gitar), Lale (gitar), dan Erixon (drum) baru saja meluncurkan singel terbarunya berjudul “Merasuki Akal”. Singel ini merupakan teaser promo dari album debut mereka “Polymath” yang rencananya akan dirilis dalam waktu dekat.

Bagi kalian penggemar grup metal belia dan tampan dengan style masa kini, silahkan unduh materi baru dari March ini di sini. Mereka memberikannya secara cuma-cuma. Saya rekomendasikan band ini untuk the youngest metalheads penggila Bullet for My Valentine dan Avenged Sevenfold/A7X.

URL:

www.myspace.com/marchmarchmarch

01
Oct
09

Rameramerah: Ketika Pekik Nasionalisme Terlontar dari Ranah Kreatif

IMG_0551

Ini adalah rangkuman cerita dan dokumentasi gambar sebulanan yang lalu, tepatnya tanggal 16 Agustus 2009, sehari sebelum perayaan ulang tahun republik Indonesia digelar keesokan-harinya. Berbagai jenis kegiatan edukatif dan keriaan positif dirangkum dalam sebuah acara bertajuk “Rameramerah”. Berlokasi di wilayah kreatif Kandank Jurank doank, acara ini diorganisir oleh komunitas tersebut bersama dengan label indie ternama Jakarta, Aksara Records.

Adapun beberapa kegiatan yang sempat saya ikuti dalam acara ini adalah: Workshop Manajemen Artis, Workshop Fanzine/Media Alternatif, Workshop Fotografi, dan Workshop Video Musik. Di luar itu ada pula hiburan musik yang digelar setelah seluruh rangkaian workshop tersebut disudahi. Acara hiburan ini diisi oleh artis-artis dari Aksara Records, seperti White Shoes and the Couples Company, Goodnight Electric, Efek Rumah Kaca, Sore, Ape on The Roof, The Brandals, dan The Adams. Sayangnya saya harus melewatkan hiburan ini karena terpaksa undur diri pada sore harinya untuk mengikuti kegiatan lain. Jadi, maaf jika bagian ini tidak saya laporkan dalam tulisan ini.

IMG_0553

Sebelumnya, mungkin saya perlu berterima-kasih kepada Bin Harlan Boer, personal manajer Efek Rumah Kaca yang mengajak saya, Deva dan Nanda dari Di Udara untuk berpartisipasi dalam acara ini. Lewat teman saya yang lain di fanzine Di Udara tersebut, Bin mengajak kami untuk berbagi cerita tentang proses pembuatan zine/fanzine di acara “Rameramerah” ini. Tadinya saya agak ragu untuk mengiyakan ajakan Bin, karena saya tidak terlalu banyak tahu tentang media alternatif sejenis zine/fanzine ini. Apalagi harus berbicara di depan segelintir manusia dari berbagai usia dan menjelaskan tentang apa yang kami buat. Tapi untung saja keragu-raguan saya tidak sampai memuncak hingga akhirnya saya iyakan juga ajakan itu.

Singkat cerita, saya berangkat pagi sekali dari rumah pada hari Minggu, 16 Agustus itu untuk menuju studio pendulum di bilangan Brawijaya yang juga merupakan markas Aksara Records. Sehari sebelumnya, Bin memberikan kabar kepada kami untuk berkumpul di tempat ini dan berangkat bersama-sama dengan anak-anak Aksara yang lain menuju Kandank Jurank Doank pukul 8 pagi.

IMG_0545

Sekitar pukul 8.30 kami semua baru berangkat dari Brawijaya dengan 2 buah bis pariwisata ukuran ¾, yang sepertinya memang sengaja disewa untuk mengantarkan kami ke lokasi acara. Bergabunglah saya dengan mayoritas kepala dan artis-artis dari Aksara yang hanya saya kenal sebatas muka saja di salah satu bis. Kebetulan 2 teman saya yang lain dari Di Udara berangkat terpisah dari rombongan ini. Jadi, saya nyaris tidak ada teman ngobrol di dalam bis..haha.

Sesampai di wilayah Sawah Baru, Ciputat sekitar pukul 9.30, dimana komunitas Kandank Jurank Doank bertempat, saya langsung mengikuti rombongan menuju lokasi. Kami serombongan disambut oleh kepanitiaan dari komunitas ini, termasuk sang empunya tempat, Dik Doank. Ini adalah kali pertama saya ke tempat ini. Sebelumnya, nama komunitas kreatif ini hanya saya tahu dari omongan dan pemberitaan di infotainment saja, karena tempat ini sering dipakai untuk lokasi syuting acara-acara televisi. Dan saya kagum ketika berada di sini. Sangat berseni dan terkonsep. Sepertinya Dik Doank memang sudah memikirkan masak-masak mengenai konsep tata letak dan kefungsian sebelum akhirnya komunitasnya ini benar-benar terbentuk. Salut. Saya jadi punya keinginan membuat tempat seperti ini..hehe.

IMG_0549

Sebagai informasi saja, ada beberapa fasilitas menarik di area ini, seperti area outbound, perpustakaan setengah terbuka (digunakan untuk aktifitas sekolah alam komunitas ini), studio musik, rumah kampung, rumah pintar (difungsikan untuk workshop dan kegiatan sejenis), lapangan bermain, dan panggung musik setengah lingkaran yang berlatar-belakang area persawahan. Anda bisa membayangkan bagaimana asyiknya bermain sambil berkreasi di tempat ini, karena memang demikianlah konsepnya.

Acara Rameramerah baru dimulai sekitar pukul 10. Panitia yang sudah mempersiapkan diri langsung menginstruksikan seluruh pengunjung yang datang untuk memusatkan diri di pondok perpustakaan komunitas ini. Mulai dari anak-anak sekolah dasar, remaja, mbak-mbak sampai Ibu-ibu rumah tangga sepertinya antusias ingin mengikuti rangkaian acara yang digelar. Awalnya saya sempat kaget juga dengan variasi pautan usia para pengunjung/peserta workshop yang hadir di pondok perpustakaan ini..hehe.

IMG_0558

Acara pertama adalah workshop internship di dunia musik dimana perwakilan manajemen Aksara berbagi ilmu dan pengalaman tentang topik ini. Tapi sebelum sesi pertama ini dimulai, Dik Doank membuka acara dengan mengajak seluruh pengunjung untuk berdoa dan kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya. Khidmat sekali…

Sesaat kemudian, workshop atau mungkin lebih tepatnya sharing skill tentang materi ini pun dimulai. Perwakilan Aksara yang berada di hadapan peserta workshop bergantian membeberkan pengalaman mereka satu-persatu. Serunya menyibukkan diri di industri musik dibagi kepada seluruh peserta yang terbilang majemuk. Mulai dari anak-anak sekolah dasar hingga kalangan Ibu-ibu rumah tangga. Bisa dibayangkan betapa serunya..

IMG_0562

Sekitar 45 menit materi sesi pertama ini berlangsung. Sebelum beralih ke materi workshop berikutnya, untuk mengisi jeda sesaat, Dik Doank, sang empunya tempat dan acara membujuk beberapa band Aksara untuk menghibur peserta workshop agar tidak jenuh. Dan terbujuklah separuh raga White Shoes and the Couples Company (Sari, Rio dan Ale) untuk memaksimalkan gitar tongkrongan yang ada dan memainkan materi andalan mereka, Kapiten dan Gadis Desa. Peserta yang hafal dengan tembang ini pun sontak bernyanyi serentak sembari bertepuk ringan. Menyenangkan…

IMG_0569

Penghibur kedua yang terbujuk berikutnya adalah ½ Sore (Ade Paloh, Bembie dan Mondo). Tapi maaf, saya lupa om-om ini membawakan tembang apa di hadapan penonton kala itu..hehe. Yang jelas mereka berhasil menyegarkan pikiran penonton sebelum kembali mengikuti materi workhsop berikutnya.

Usai suguhan hiburan sederhana dari kedua artis Aksara di atas, rangkaian kegiatan kembali dilanjutkan. Kali ini giliran saya, Deva dan Nanda dari Di Udara berbagi cerita berkenaan dengan proses kreatif pembuatan media alternatif bernama zine/fanzine. Untuk materi yang satu ini, Bin Harlan Boer bertindak selaku moderator dan pemimpin jalannya acara. Selain menyibukkan diri sebagai personal manajer band socio-political-pop ternama asal Jakarta, Efek Rumah Kaca, Bin juga dikenal sebagai seorang copywriter yang handal. Dan ia juga pernah membuat sendiri beberapa zine/fanzine.

IMG_0641

Bin membuka materi dengan memberikan penjelasan, seluk-beluk, histori zine/fanzine serta peran dan pengaruhnya dalam dunia musik. Para peserta workshop kembali seksama menyimak penjelasan demi penjelasan. Tak lama Bin memberikan penjelasan pembuka, mic dialihkan kepada kami (penggiat Di Udara –ed). Kami pun mulai berbagi pengalaman mengenai media alternatif yang kami buat. Walaupun saya sendiri menyadari bahwa kami tidak terlalu banyak tahu tentang latar belakang zine/fanzine, saya dkk. Di Udara tetap percaya diri memberikan penjelasan berkenaan dengan media sederhana yang kami buat itu. “Dan lumayan-lah untuk kami sebagai pemula,” pikir saya dalam hati.

IMG_0561

Rasa penasaran peserta workshop yang hadir semakin terlihat ketika teman saya, Deva dan Nanda mengeluarkan beberapa buah zine/fanzine Di Udara yang pernah kami bertiga buat. Mulai dari edisi pertama yang sangat cemen, norak, dan terkesan asal-asalan karena nggak ngerti gimana bikinnya, hingga edisi keempat yang bolehlah dibilang lumayan dengan menggunakan kertas samson coklat, walaupun tetap banyak lubang ‘kurang’ yang menganga alias tidak sempurna..hehe. Dari beberapa eksemplar yang kami bawa, sebagian kami bagikan karena banyak yang meminta. Saya pribadi mewakili 2 teman saya yang lainnya, jujur sangat senang. Ini kali pertama kami berbagi pengalaman di depan mereka-mereka yang mungkin belum banyak tahu tentang apa yang kami buat. Special thanx untuk teman-teman zine/fanzine yang lebih dulu lahir sebelum kami. Kalian menginspirasi…

Lumayan lama kami bercuap-cuap ria hingga datang waktu shalat dzuhur. Workshop sesi kedua kali ini akhirnya ditutup dengan tanya-jawab yang ditengahi oleh Bin.

IMG_0570

Rangkaian acara berikutnya masih panjang. Sebelum berlanjut, panitia menginstruksikan kepada seluruh pengunjung yang hadir untuk beristirahat beberapa saat guna menjalankan ibadah shalat dzuhur dan bersantap siang. Saya dan yang lainnya memilih untuk mengisi kriuk-kriuk perut yang sudah menagih jatah sejak pagi.

Sembari menyantap suguhan nasi kotak yang disiapkan panitia, di area lapangan futsal-bulu tangkis saya menyaksikan banyak anak-anak kecil berkerumun, mengantri giliran bermain game lempar sandal ke target sasaran dengan hadiah tanda masuk untuk menyaksikan suguhan musik di sore-malam hari berupa stempel di tangan.

IMG_0571

Sebagai informasi, semua kegiatan di acara Rameramerah ini boleh diikuti oleh seluruh pengunjung yang hadir tanpa harus membayar. Namun, bagi yang ingin menyaksikan pertunjukkan musiknya harus membawa minimal 1 buku bacaan atau buku tulis sebagai sumbangan. Dan anak-anak yang mengantri game lempar sandal ini adalah mereka-mereka yang tidak membawa buku. Sebagai gantinya, mereka harus melewati tantangan game ini hingga selesai. Yang berhasil, berhak mendapatkan tanda masuk. Jujur, saya iri dengan keriangan mereka bermain di game ini..hehe. Yang gagal terus mencoba berkali-kali hingga berhasil. Tak ada ekspresi kesedihan sama sekali yang ditunjukkan. Hanya kesenangan. Canda tawa lepas dalam balutan polos terpancar sekali dari raut wajah anak-anak kecil ini. Saya benar-benar iri…

IMG_0598

Selesai menyudahi suapan terakhir dari hidangan makan siang yang diberikan, saya beranjak ke mushola untuk shalat dzuhur. Sebagian besar yang sudah makan dan shalat bergerak menuju arena outbound, untuk melihat pertunjukkan panjat pinang sebagai lomba khas dalam memperingati hari kemerdekaan RI. Setelah shalat barulah saya menyusul ke arena ini. Dan sepertinya saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar bagaimana keriaan yang lain yang disuguhkan di sini. Anda bisa membayangkan sendiri lewat dokumentasi gambar yang ada di halaman ini.

IMG_0587

Setelah puas bermain-bermain di arena outbound, seluruh pengunjung dipusatkan kembali ke tempat workshop semula, perpustakaan semi-terbuka. Materi workshop berikutnya telah menanti. Saatnya berbagi pengalaman kembali. Kali ini materi workshop atau sharing skill yang akan dibagi kepada pengunjung/peserta adalah mengenai manajemen artis. Kembali perwakilan  dari Aksara Records yang membawakan. David Tarigan kali ini mengambil-alih mic moderator didampingi Dik Doank. Dan pelaku-pelaku handal di balik kesuksesan artis-artis Aksara dimunculkan di sesi ini. Indra Ameng (WSATCC), Bin Harlan Boer (Efek Rumah Kaca) dan Hasief Ardiasyah (The Adams). Semuanya membagi pengalamannya menukangi band-nya masing-masing.

IMG_0577

Saya salut sekali dengan semangat para peserta/pengunjung yang berada dalam forum kali ini. Apalagi tampaknya makin ramai. Mereka memerhatikan dengan serius dan sungguh-sungguh. Saya sadar betul hal ini. Dapat terlihat dari mimik penasaran lewat kerut kening mereka. Lebih dari itu, pada saat sesi tanya jawab digelar, rasa penasaran mereka mengenai manajemen artis pun banyak dilontarkan kepada narasumber yang ditampilkan di depan. Dan para manajer ini pun dengan semangat pula memberikan jawaban-jawaban untuk memuaskan rasa penasaran mereka tersebut. Bahkan, pengetahuan anak-anak kecil yang ada di sini mengenai manajemen artispun coba digali. Dan mereka berhasil menjawab dengan versi mereka sebagai anak kecil. Seruuu…

IMG_0679

Makin sore, lokasi Kandank Jurank Doank makin ramai dikunjungi. Terlihat anak-anak muda pengunjung gigs Ibukota mulai berdatangan. Tak lama lagi memang suguhan musik akan segera dihidangkan. Tapi, setelah semua rangkaian kegiatan workshop benar-benar selesai.

Workshop manajemen artis berakhir. Semua peserta diinstruksikan menuju rumah pintar (tempat workshop indoor). Workshop fotografi dan video musik diadakan di ruangan ini. Tempatnya nyaman, ber-AC. Dan semua peserta/pengunjung workshop menyimak paparan materi yang diberikan dengan melantai alias lesehan.

Sayangnya, 2 workshop ini menjadi kegiatan terakhir yang saya ikuti di acara ini. Saya terpaksa mohon diri saat eks-The Jadugar, Anggun Priambodo dan Henry Batman memaparkan pengalaman mereka sebagai v-klip maker. Kegiatan lain menuntut saya untuk hadir pada malam harinya. Dan saya pun meninggalkan lokasi Kandank Jurank Doank pada pukul 17.30 dengan sedikit ganjalan.

Teks: Zelva Wardi/Foto: Zelva & Nanda

Ps:

  1. Sari WSATCC cantik sekali ketika tampil natural tanpa make-up saat menghibur peserta workshop di pagi hari.
  2. Salam hangat untuk kru Kandank Jurank Doank yang berjilbab dan berbaju merah juga berkawat gigi.
02
Oct
09

Kaba Pilu Nagari Minang

Teriring doa dan rasa dukacita sedalam-dalamnya bagi keluarga dan saudara-saudara kita di Sumatera Barat dan sekitarnya. Semoga cobaan ini segera berlalu dan membuat kita semakin dekat kepada-Nya. Jadikan musibah ini sebagai teguran untuk dapat kita renungkan.

02
Oct
09

Wake Up and Smile Coffee – A Benefit Gig for Instituta

stevemyspace

11
Oct
09

Serigala Jahanam VS Udanwatu = Dunia Bawah (collaboration)

Serigala Jahanam vs Udanwatu

Serigala Jahanam (www.myspace.com/serigalajahanamgila) baru saja melakukan kolaborasi dashyat dengan Udanwatu; open-source collaboration experimental music project dari Adit Bujbunen Al Buse (www.myspace.com/aditbujbunenalbuse), dari grup experimental hip-hop asal Jakarta, Karbala bukan fatamorgana (www.myspace.com/karbalabukanfatamorgana). Sebelumnya, Udanwatu juga pernah berkolaborasi dengan: Phillip B. Klinger (musisi experimental/ambient/noise legendaris asal Michigan, USA. Beliau merilis album sejak tahun 1987 dan masih eksis sampai sekarang! For more info about him, please visit: http://soundgenetic.blogspot.com), Cranial Incisored (Yogyakarta), dan Kalimayat (Jakarta).

Di kolaborasi yang berjudul Dunia Bawah ini, atmosfer yang tercipta cenderung ke arah black-ambient/drone-doom. Di sini Dede melakukan improvisasi gitar yang direkam secara live, mengikuti alunan noise hasil teknik disfigurasi suara yang dilakukan oleh Adit. Rencananya, single kolaborasi ini akan masuk ke rilisan split-CD Aneka Digital Safari/Serigala Jahanam yang akan dirilis oleh Spasm Records (www.myspace.com/thespasmrecord), label asal Bandung.

Sambil menanti rilisan fisiknya, silahkan unduh dulu sneak preview-nya di sini

15
Oct
09

Lipstik Lipsing – Room for Outside EP: Opsi Pengiring Para Pengurai Mimpi

outnowmyspaceEP-1

Lipstik Lipsing (LL) adalah rekomendasi dari seorang teman baik saya di Semarang. Beberapa kali saya dipaksa mencari tahu tentang band ini dan kemudian mendengarkan materi-materi mereka. “LL adalah band yang paling menonjol di Semarang saat ini. Wajib dengar!” ungkapnya setengah menodong.

Dan berhasil-lah upaya persuasinya hingga saya menyempatkan diri singgah ke myspace LL dan mendapatkan link unduh separuh materi dari album mini mereka, Room for Outside. Tiga lagu tepatnya, Early Express, Suburban Love, dan Rebirth.

Kesan pertama langsung saya dapat lewat lagu Early Express. Atmosfir yang dimunculkan mengingatkan saya pada band lokal lainnya, The Milo (Bandung). Ini karena saya pikir musik keduanya memiliki muatan yang se-aura, bukan identik. Suram, gelap, kelam dalam balutan eksplorasi pop mesin. Reviewer handal mungkin menyebutnya electro-dream-pop, shoegaze-pop, post-rock, ambient, synth-pop, space-rock dan banyak kategorisasi genre lainnya yang saya sendiri pun tidak terlalu paham.

Dari single tersebut, saya bisa bilang LL lebih baik, bahkan sangat. Saya suka sekali dengan suara sang vokalis yang memadu bersama racikan musik yang apik. Tenang, tak tergesa, dan ini bisa mewakili karakter musikal LL yang abu-abu dengan dominan.

Di lagu lain, Suburban Love, nafas Bloc Party mungkin sedikit kentara. Tapi tetap mereka mampu mengemasnya dengan baik, sehingga tidak hilang kesan pertama yang begitu memikat. Ini pula yang membuat saya mengiyakan todongan “wajib dengar!” dari teman saya yang merekomendasikan LL.

Sedangkan di lagu Rebirth, tak jauh beda kesannya. Hanya saja intro awal yang sangat loopsy sekali hampir saja membuat saya melontarkan sedikit sindiran kepada LL yang agak ke-Goodnight Electric-an, tapi untungnya saya tahan. Saya terlanjur jatuh cinta mungkin dengan suara pengisi departemen vokalnya. Atau mungkin di materi yang saya dapat ini berbeda dengan materi di EP mereka? Yang saya dengar adalah Rebirth (loop version). Tapi sudahlah. Perkenalan awal LL di telinga saya berjalan cukup baik. Jadi, jangan dirusak!

Jika membandingkan LL dengan band-band kebanyakan yang cenderung mengidentikkan karakter musikalnya dengan sang inspirator, atau mungkin tanpa disadari malah cenderung menjadi identik, LL tidak demikian.

Dengan pengaruh musik yang begitu banyak, awak LL mampu mengemban posisi sebagai peracik yang handal tanpa harus mencuri resep orang lain dengan proses elaborasi yang maksimal. Dan hasilnya, Anda bisa nilai sendiri setelah mendengarkan keseluruhan materi album mini mereka baik-baik.

Konklusi akhirnya adalah, LL mampu merancang konsep dramatisasi di setiap lagunya dengan baik. Ambiensinya teratur dan sangat ritmis. Saya yakin mereka benar-benar memikirkannya agar pendengar dapat terseret ke dalam buaian musik LL. Karenanya, saya juga merekomendasikannya sebagai satu lagi karya band lokal yang patut didengar. Mereka talenta berbahaya dari Semarang.

Teks: Zelva Wardi

Artis:

Lipstik Lipsing

Album:

Room for Outside (EP/CD-R)

Genre:

Electro-pop, shoegaze-pop, dream-pop, post-rock, indie-rock

Rilis:

Juli 2009

Label:

Balaw Records – Self-released

Line-up:

Fauzan Baihaqi (vokal), Moch. Mursalim (drum), Petra Wewra (gitar), Bram Syah Wijaya (bas), Herdian Adi Prasetya (keyboard/synth)

URL:

www.myspace.com/lipstiklipsing

Ps: Uraian lebih lengkap mengenai Lipstik Lipsing dan rilisannya dapat disimak di RebelZ E-book edisi depan. Rencananya akan kami muat juga di sana.

02
Nov
09

BEM KEMA Psikologi UPI Presents: Heuristic V: Labyrinth “Find Your Way With Your Own Way”

banner heuristic

Kawan-kawan dari BEM KEMA Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, mempersembahkan sebuah acara pemutaran film dan kajian mengenai isu diskriminasi hari ini bertajuk Heuristic V: Labyrinth “Find Your Way With Your Own Way”.

Sebagai bahan kajian, di acara ini akan diputar film berjudul “9808” yang menceritakan tentang intimidasi etnis minoritas Tionghoa di era 98. Dalam kajian, akan terlibat beberapa narasumber, seperti Ariani Darmawan (Director of ‘Sugiharti Halim’), Ifa Hanifah Misbach (Psikolog), dan Egi Ginanjar (Q-community).

Untuk informasi dan reservasi tiket, silahkan hubungi: Ghinaya (0813 9493 4924), Yustia (0856 2060 392) atau Sadena ( 0856 2463 3815).

Asah kritisisme pola pikir dan hidupkan kata ‘peduli’. Mari, kawan, melibatkan diri!

06
Nov
09

3D’s+: Three Days Blues Plus

Three Days Blues Plus

18
Nov
09

Steve Towson – Instituta (Infohouse)

Steve Towson tampil cuek di hadapan sekitar 20-an orang di sebuah community centre di bilangan Permata Hijau bernama Instituta-Infohouse (6/10). Musisi folk-punk asal Australia ini menjalani lawatan 4 kotanya di Indonesia, yaitu Jakarta, Bogor, Bandung, dan juga Palembang. Dengan mengusung etos do it yourself, Steve menjelajah beberapa Negara seorang diri guna dapat tampil di Negara yang dikunjunginya tersebut dengan bermodalkan link pertemanan.

02
Dec
09

Rilis Pers: Jakarta Noise Fest #2

Wasted Rockers & Huppalawya dengan bangga mempersembahkan“JAKARTA NOISE FEST #2 dengan line-up sebagai berikut:

01. KISHY (http://last.fm/music/kishy)

Ambient / dream / drone guitar trio dari Bandung. Proyek “all-star” yang melibatkan para anggota dari: Cascade, Jelly Belly, & The Crowded Room. Jadi, jangan sampai melewatkan penampilan mereka!

02. SABEDARAH (www.myspace.com/sabedarah)

Also local indie supergroup, yang melibatkan para penjahat audio kelas kakap seperti: Danif Pradana (Kalimayat / Khuruksetra), Uri Putra (Ghaust / Gatt / Bertanduk) & Adit Bujbunen Al Buse (Karbala Bukan Fatamorgana / Udanwatu)! Memainkan black-ambient / noise / drone-doom. Mengerikan!…

03. SUNGSANG LEBAM TELAK (www.myspace.com/sungsanglebamtelak)

Trio jazz-punk / no-wave / avant-garde suci dari neraka! Kalau kalian pikir musik kalian berat, cool, dan intelek, maka musik mereka jauh lebih keren! Sesuai dengan manifesto SLT*: “Musik kami bagus, musik kalian jelek.”

04. ABORT feat. SAJAMA CUT (www.myspace.com/sajamacut)

Kolaborasi dahsyat antara proyek noise / free-style milik Eric (Deathrockstar) dengan Sajama Cut. Bagaimana hasilnya?… Datang, dan lihat sendiri!!!

05. SARIN (www.myspace.com/sarininmusic)

Kolektif post-rock / space-rock / bliss-pop dari Jakarta.

06. A FINE TUNING CREATION (www.myspace.com/afinetuningcreation)

Fusion / new-wave / electronic solo dari Jakarta.

07. SHOAH (www.myspace.com/shoahjkt)

Duo harsh-noise kembar dari Jakarta.

08. IBLIS KOTOR (www.myspace.com/dirtydevilish)

Experimental / electronic project dari Jakarta. Side-project from Abim of Curah Melodia Mandiri.

Visual by:

- 20 / 20 SIGHTSCENERY

DJ’s:

- RESIDENT DJ OF GANGGA (Bollywood soundtracks, NY no-wave, free-jazz, eclectic)

Minggu, 27 Desember 2009

Pukul 18:00WIB – selesai

Rossi Musik Fatmawati

Jl. RS. Fatmawati No. 30

Jakarta-Selatan

HTM: Rp.20.000,-

For more infos:

http://wastedrockers.wordpress.com

03
Dec
09

Jakarta Noise Fest II

09
Dec
09

9808: Sedekade Reformasi Dalam Ingatan (Sebuah Antologi)

9808 merupakan sebuah kumpulan film yang membahas berbagai persepsi manusia yang berkaitan dengan kejadian pada Mei 1998, seperti peristiwa apa saja yang terjadi di masa itu, apa yang terjadi dengan para korban dan keluarganya, hingga keputusan-keputusan pemerintah yang mendiskreditkan suatu kaum yang menjadi korban peristiwa tersebut.

Sepuluh sutradara akhirnya merangkum peristiwa tersebut menjadi sepuluh film dengan latar belakang yang berbeda dan dengan persoalan yang bermacam-macam pula. Berikut sinopsis kesepuluh gambar bergerak tersebut:

Dimulai dengan film yang mengajukan memori-memori beberapa orang terhadap kejadian Mei 1998 itu, seperti di manakah mereka berada saat kejadian tersebut dan apa yang sedang dilakukan orang-orang tersebut. Film berjudul Di mana Saya? karya Anggun Priambodo menekankan persepsi, kesan, dan pengalaman beberapa orang menjadi suatu memori yang hangat, dimana perasaan suram, sedih, dan tak percaya lah yang menjadi penguat rasa bagi orang-orang yang sedang tidak berada di Indonesia pada saat peristiwa tersebut terjadi.

Dalam film Kemarin, ditekankan berbagai macam proses perkembangan yang sesuai jalur dimana sering kali dibumbui dengan cerita-cerita masa muda, pernikahan, kelahiran, dan kematian, dimana memori tersebut diungkapkan dalam obrolan-obrolan ringan dan daftar pengeluaran yang terkadang menimbulkan tanda tanya yang berkaitan dengan ketidaklogisannya. Otty Widasari, scriptwriter film ini, sepertinya ingin mengkombinasikan dan menggeneralisasikan obrolan dan daftar pengeluaran tersebut menjadi suatu autobiografi.

Berlanjut pada film Yang Belum Usai karya Ucu Agustin, muncul sebuah adegan dimana seorang ibu mempersiapkan peralatan makanan untuk anak-anaknya. hal ini merupakan sebuah kebiasaan wajar yang sering dilakukan oleh seorang ibu. Tetapi, bagaimana jika sang anak yang ditunggu kehadirannya untuk makan bersama sebenarnya tidak akan pernah pulang? Ya, inilah yang menjadi sisi menarik dari cerita ini, dimana sang ibu dan keluarganya sangat yakin jika anaknya akan pulang padahal sudah jelas jika anak tersebut telah tewas dalam kejadian Mei 1998. Kekosongan ‘kursi’ dalam ruang makan tersebut akhirnya menjadi kekuatan bagi para keluarga korban untuk menuntut keadilan di bumi Indonesia ini.

Lain lagi dengan pengalaman pahit yang dialami Chen Guang, perempuan Cina yang ibunya meninggal saat kerusuhan Mei 1998. Peristiwa yang tidak akan pernah hilang dari benaknya itu membuat dirinya memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan ke Korea dengan tujuan menghapus semua kenangan buruk. Di sana, Chen Guang bertemu dengan seorang perempuan Cina bernama Huan di sebuah took yang akhirnya menjadi teman dalam perjalanannya tersebut. Kepahitan berubah menjadi suatu kenyamanan dan kebahagiaan bagi Chen Guang. Perjalanan kedua perempuan tersebut menjadi pengobat akan kepahitan dan keyakinan Chen Guang untuk kembali ke Cina. Ifa Isfansyah dengan Huan Chen Guang/Happiness Morning Light-nya ini menampilkan kisah 2 perempuan Cina tersebut dengan rasa manis yang cukup unik.

Berlanjut ke kisah lain, Jen dalam Bertemu Jen adalah seorang laki-laki setengah baya yang menjelaskan persepsi dan pendapatnya mengenai kejadian Mei 1998 dan juga peristiwa setelahnya. Penjelasannya yang terpatah-patah mengungkapkan bahwa ia hanya memiliki kepingan-kepingan ingatan akan peristiwa tersebut. Perubahan perilakunya pun tidak muncul setelah melewati 10 tahun setelah kejadian tersebut. Jen dan ingatannya terangkum oleh Hafiz dalam sebuah film ingatan tentang sebuah momen.

Instruksi Presiden No.14/1967 menjelaskan bahwa perayaan Imlek dilarang di Indonesia. Lucky Kuswandi sebagai sutradara dalam film A Letter of Unprotected Memories membuat suatu skema akan perubahan keputusan tersebut yang akhirnya dicabut oleh Gus Dur dalam sebuah visualisasi yang sederhana.

“Setiap luka pasti memiliki kisahnya masing-masing,” barang kali kalimat tersebutlah yang mengungkapkan inti dari film Trip To The Wound karya Edwin. Adegan meraba digunakan sebagai media pencarian bekas luka tersebut, tapi apakah setiap luka bisa teraba? Barang kali ada luka yang tak teraba atau mungkin tersembunyi di tempat yang tidak diketahui. Hanya Shilla yang mengetahui dimana bekas lukanya berada dan bagaimana kisahnya walaupun Carlo berusaha mencarinya.

Apalah arti sebuah nama? Ternyata hanya sebagai salah satu bagian dari identitas saja. Ketika kamu mengganti nama kamu menjadi lebih keren atau indah, maka, sebenarnya tidak ada yang berubah dengan dirimu, kamu tetaplah kamu, saya tetaplah saya. Dalam Sugiharti Halim barangkali pesan seperti inilah yang ingin ditekankan. Keputusan Presiden No.127/U/kep/12/1966 mengharuskan WNI etnis Cina mengganti namanya menjadi nama ‘ke-Indonesia-an’. Nama Liem menjadi Halim, Lo/Loe/Liok menjadi Lukito, maka, akan ada berapa Halim dan Lukito di Indonesia ini? Justru, orang-orang akan segera mengetahui bahwa mereka adalah etnis Cina, bukankah kepres ini betul-betul gagal? Dan Ariani Darmawan pun mencerap ini semua dengan bungkusan sederhana namun cerdas.

Sekolah Kami, Hidup Kami menguatkan semangat dalam diri para siswa-siswi SMA di Solo yang ingin menyatakan kebenaran yang tersembunyi di balik kekuasaan para petinggi di sekolah, seperti praktek korupsi yang membuat siswa-siswi tersebut tidak dapat mengembangkan segala potensinya. Pillar Setiabudi pun memasuki kejadian-kejadian tersebut, memperlihatkan seperti apakah politik yang dilakukan para siswa, dan apa yang akan dicita-citakan mereka di masa depan nanti, yang jelas cita-cita mereka bukanlah menjadi seorang pegawai negeri yang ditidakberdayakan dalam gerakan sistematis untuk melakukan praktek korupsi!

Kucing pada saat remaja adalah seorang demonstran, sang pengatur jalannya demonstrasi KBUI di tahun 1998. Kemudian, seperti apakah Kucing pada April 2008? Hanya seorang bapak, pekerja film freelance, dan sebagai seorang suami yang memiliki kesibukan mengurus anak dan beristrikan seorang anggota DPRD. Kucing yang juga menjadi sutradara dalam Kucing 9808, Catatan Seorang (Mantan) Demonstran, menceritakan masa-masa ketika dirinya menjadi seorang aktivis KBUI dan harapannya akan generasi muda yang diharapkan memiliki strategi yang lebih baik untuk ’mendemonstrasikan’ hati nuraninya.

Keseluruh film yang disajikan dalam Antologi 1o Tahun Reformasi Indonesia di atas memiliki persoalan dan latar belakang yang berbeda namun memiliki satu jaringan benang merah dalam menjelaskan persepsi manusia akan kejadian Mei 1998. Film ini juga menjadi sebuah pengingat, baik berusaha mengumpulkan kepingan ingatan yang hilang untuk membentuk peristiwa yang lebih jelas atau dapat juga menjadi media peringatan bagi masyarakat untuk menghargai setiap kehidupan yang ada di bumi Indonesia ini.

Teks: Resna ’Inel’ Ria Asmara

10
Dec
09

Hasta Mañana: The Trees and The Wild Exclusive Showcase

Setelah absen tampil selama kurang lebih 6 bulan dari perpanggungan, kini,  The Trees and The Wild mengajak para pendengar dan semua pihak yang telah memberikan apresiasi sejak debut album Rasuk dirilis, untuk berjumpa kembali di antara bebunyian dan suara-suara hangat di “Hasta Mañana: The Trees and The Wild Exclusive Showcase.”

Ini adalah panggung pertama pasca performa terakhir trio folkpop-semiakustik berbakat ini di Goethe Haus Institute, Mei lalu, yang merupakan konser perilisan album mereka. Saya yakin, sama halnya dengan saya, Anda pasti rindu dengan pertunjukkan apik dan memikat dari mereka. Jadi, tunggu apa lagi? Jangan sampai kelewatan untuk menyaksikan penampilan ‘kembali’ The Trees and The Wild dari libur panjangnya, di Kedai, Jl. Benda, pada 20 Desember nanti. Untuk detilnya, silahkan lihat flyer di atas!

Hasta mañana…

21
Dec
09

Wave #6: Monohouse Music

Wave adalah sebuah majalah electro-digital asal Medan yang membahas perkembangan peta musik independen kota Medan dan luar Medan. Bersamaan dengan tahun kedua kemunculannya, Wave menerbitkan edisi ke 6.

Tak jauh beda dengan terbitan-terbitan sebelumnya, di edisi ke 6 ini, Wave tetap konsisten menyuguhkan informasi hangat seputar musik yang dikemas lewat rubrik profil musisi, news, review, reportase, artikel opini, dan diakhiri dengan halaman galeri foto.

Dengan konsep desain dan tata letak perubrikan yang cukup ramah, mudah dikenali, dan dekat dengan pembaca, Wave membawa angin segar dalam meramaikan khasanah media alternatif-independen lokal, khususnya di ranah musik. Dan perlu diakui, Wave sendiri, sedikit-banyak memberikan pengaruh terhadap progresi format Rebelzine saat ini. Karenanya, kami mengapresiasi spirit anak-anak Medan ini dalam mempertahankan eksistensi media mereka. Salut!

Untuk terbitan anyarnya, silahkan unduh gratis versi pdf-nya di sini. (adv)

21
Dec
09

Pamer Semangat Sahabat (sebuah seni pertunjukkan)

23
Dec
09

MXPX All Star: Agresivitas Melodius Pop Punk Supergrup

Tahun 2008 silam, tepatnya 13 Januari, MXPX sukses menggelar show mereka di Jakarta dengan tajuk “Secret Weapon World Tour”. Dan kini, untuk kali keduanya mereka singgah. Hanya saja kali ini, mereka menggelarnya di Bandung. FYE Production, yang bertindak selaku organisator, memboyong band gospel-melodic-pop punk asal Bremerton, Washington tersebut tentunya dengan sesuatu yang berbeda dan istimewa.

Tajuk lawatan MXPX kali ini adalah; “The Only South East Asian Tour 2009”. Dan tajuk tersebut menjadi teramat spesial dengan formasi mega bintang yang meramaikan line-up MXPX. Mereka adalah Mike Herrera pada lead vocal dan bass, Kris Roe pada guitar/vocal, dan Chris Wilson di drum. Hanya Mike Herrera yang merupakan wujud MXPX tulen. Sedang yang lainnya, Kris Roe lebih dikenal sebagai vokalis sekaligus front-man The Ataris, band melodic-pop punk ternama lainnya yang sempat singgah juga bersama band-nya ke Jakarta beberapa waktu lalu. Untuk Chris Wilson sendiri, ia lebih dikenal sebagai personil The Summer Obsession , dan pernah juga bermain bersama Good Charlotte.

Lalu, ke mana 2 personil asli MXPX lainnya? Menurut kabar, Yuri Ruley dan Tom Wisniewski sedang memiliki kepentingan lain sekaligus masih menjalani masa liburannya. Karena itulah, Mike Herrera mengajak 2 bintang lain di bandnya masing-masing ini untuk menemani tur ASEAN-nya. Dengan identitas MXPX All STAR, trio supergrup ini benar-benar memanjakan para penggemarnya dengan paket khusus.

Lapangan Saparua, Sabtu (12/12), tempat berlangsungnya gelaran spesial ini telah ramai riuh oleh para penikmat melodic sejak tengah hari. Hal ini dikarenakan sehubungan dengan waktu pertunjukkan yang cukup siang, sekitar pukul 14.00. berkenaan dengan tempat, mulanya gelaran ini belum mendapat kepastian akan dilangsungkannya di mana. Pada publikasi awal terdengar rumor akan dilaksanakan di Dago Tea House. Selang beberapa hari kemudian dikabari kembali venue dipindahkan di ENHAII. Hingga akhirnya kabar pasti diterima dan show MXPX ALL STAR akan digelar di lokasi fenomenal, Lapangan Saparua.

Baru sekitar pukul 15.00 acara dimulai. Tiga band kebanggaan tuan rumah dari akar musik yang sama didaulat tampil sebagai penghibur pembuka. Ketiganya adalah; Buckskin Bugle, Disconnected dan Nudist Island. Buckskin Bugle menjadi pembuka pertama. Kemudian  disusul dengan Disconnected dan yang terakhir, Nudist Island.

Ada rekaman menarik yang Rebelzine tangkap saat performa Nudist Island berjalan. Usai beberapa buah lagu dimainkan, secara tiba-tiba Mike Herrera dan Kris Roe naik ke panggung. Keduanya meminta pada Ugeng (vokalis) untuk berkolaborasi memainkan The KKK Took My Baby Away milik The Ramones. Tak perlu berpikir, kontan Ugeng langsung mengiyakan ajakan kedua bintang tersebut. “Kapan lagi bisa sepanggung bareng idola?” mungkin begitu pikir personil Nudist Island dalam hati.

Pertunjukkan kolaborasi pun berjalan. Penonton yang sudah ramai langsung merapat ke bibir panggung dan hanyut bernyanyi bersama. Satu kejutan yang tak terduga sebelumnya oleh mereka. Mantabb..

Tuntas sudah keseluruh penampil pembuka menghibur penonton di awal-awal. Tak lama berselang, yang punya hajat, trio supergrup MXPX ALL STAR naik panggung. Para penonton berteriak sembari bersorak-sorai. Bahkan langsung menodong kepada ketiganya untuk memainkan lagu-lagu yang mereka inginkan. Ekspresi tidak sabar jelas nampak dari raut khalayak yang hadir sore itu untuk melihat langsung aksi panggung 3 bintang ini.

Mike cs. telah berada pada instrumennya masing-masing dan siap menghibur semua penonton yang rela merogoh kocek ratusan ribu untuk menyaksikan performa mereka. My Life Story langsung menggebrak sebagai daftar pembuka. Penonton pun berjingkrak riang sembari ikut bernyanyi seiring tembang yang dilantunkan. Suasana meliar dengan musik yang cepat namun tertib. Secret Weapon, Do Your Feet Hurt?, dan Tomorrow’s Another Day digeber berurutan. Penonton pun nampak senang, riang, dan menggarang. Namun tetap dalam kendali dan jauh dari rusuh.

Di sela-sela beberapa lagu, Mike Herrera selalu mengeluarkan guyonan-guyonan segar yang mengundang decak tawa para penonton. Ini adalah pola interaksi yang baik untuk bercakap dengan penonton. Dan Mike berhasil mengambil hati. Perpaduan aksi panggung dan sedikit komedi mungkin begitu. Memang, band yang satu ini selalu ingin bersahabat, akrab dan berbaur dengan penonton. Komunikatif dan respect, itulah yang menjadi nilai lebih penampilan mereka di mata khalayak yang datang.

Lagu-lagu punk-melodious yang mereka suguhkan terasa khas di telinga dengan perpaduan vokal yang apik dan permainan speed guitar yang kental. Kesemuanya berpadu, beriringan dengan liarnya.

Total 15 lagu MXPX di bawakan Mike cs. dengan formasi bintangnya. Termasuk beberapa lagu milik The Ataris; In This Diary, Your Boyfriend Sucks, dan San Dimas High School Football Rules!. Dan tentu saja dengan banyak kejutan yang telah mereka suguhkan. Trik pemikat hati penonton dipakai Mike cs. usai tembang terkahir dari The Ataris dibawakan. Ketiganya berpamitan seolah pertunjukan usai sudah. Hingga memancing teriakan “Owhh, No! We want more. We want more!!” dari mulut penonton. Mike cs. tidak menggubrisnya. Malahan ketiganya mengajak ngobrol beberapa penonton.

Suasana semakin riuh dengan teriakan penonton. Selang beberapa menit kemudian di saat penonton sudah kelelahan dan mengira bahwa pertunjukkan telah benar-benar berakhir, terdengarlah iringan lagu Punk Rawk Show yang membuat penonton bergairah lagi dan bangkit dari lelahnya. Lagu tersebut akhirnya menjadi satu penutup aksi pertunjukan yang mencapai klimaksnya.

Teks/Foto: Indrawan Berto

27
Dec
09

Sabedarah Live at Jakarta Noise Fest II

Hujan darah dan penampakan perdana mereka. Sepenggal rekaman dari gelaran fenomenal tadi malam: Jakarta Noise Fest II, Minggu (27/12). Danif Pradana (guitar/effect), Adit Bujbunen Al Buse (vox/laptop/sampling), dan Uri A. Putra (drum) berhasil mengawinkan partikel psychedelic rock, black metal, power electronics, dan drone doom dengan etnisitas mistik kejawen hingga mengubah arena pertunjukkan musik lazim menjadi media interaksi hororistik lintas dimensi.

Video oleh: Zelva Wardi

*ulasan penuh untuk gelaran ini menyusul.

30
Dec
09

Mari Bersombong, Sahabat!

“Ini memang usaha untuk sombong. Usaha untuk mengatakan kepada mereka-mereka yang datang bahwa kami adalah anak-anak hebat. Bahwa kami adalah anak-anak yang kreatif. Anak-anak yang bisa tersenyum bangga dengan membusungkan dada setiap kali kami berjalan di tengah kota. Kami memang ingin sombong bahwa kami mempunyai sesuatu yang tidak kalian punya yaitu nyanyian semangat kami. Kami memang ingin membuat iri mereka yang datang. Kami jadi ingin tahu seberapa tahan mereka saat melihat pertunjukkan brilian kami. Mungkin mereka tak akan tahan lama.” Kira-kira begitu bunyi “kesombongan” anak-anak Sanggar Sahabat Anak yang membuat keriaan kreatif dengan tajuk “Pamer Semangat Sahabat” pada 23 Desember lalu.

Saya pun terkagum-kagum saat mengikuti acara ini. Acara ini bukanlah acara charity biasa. Acara ini adalah acara berbagi, peduli dan apresiasi. Sebuah acara yang merupakan hasil kerjasama MAMIPO (Malang Meeting Point), Mamograph (Malang), dan Rebelzine (Jakarta). Sebuah ajang “pamer” yang mengajarkan penonton untuk memberi bukan karena rasa kasihan. Mereka diajarkan untuk berbagi bukan karena sedih melihat keadaan anak-anak Sanggar Sahabat Anak, Malang. Tetapi, mereka diajarkan untuk memberi dan berbagi karena anak-anak sanggar patut untuk mendapatkan apresiasi.

Beruntungnya saya karena saya dapat mengikuti acara ini dari awal hingga akhir. Saya dapat melihat penampilan luar biasa dari band-band pendukung yang rela datang ke acara ini tanpa dibayar.  Padahal pada hari itu hujan menghujam dengan agak kesal ke bumi. Tetapi, Langsep 58, tempat acara ini dilangsungkan, masih saja ramai dengan mereka-mereka yang tak sabar menonton dan memberikan buku mereka sebagai bentuk apresiasi kepada anak-anak. Hebat! Bukan hanya saya yang beruntung, tetapi sekitar lebih dari 30 orang datang dan menonton hingga akhir. Ini jumlah yang sangat banyak, mengingat tempat diselenggarakannya acara ini tidak terlalu besar.

Dua setengah jam acara hebat ini berlangsung. Dibuka pada pukul 17.30 oleh band asal Kediri, DeadInDeadline. Sebenarnya acara ini seharusnya dimulai pada pukul 16.30. Setidaknya itulah yang tertulis di poster dan rundown acara yang sudah tersebar lewat dunia maya sehari sebelumnya. Maklum, panitia acara ini berusaha untuk meminimalisir dana sehingga panitia lebih memilih untuk berpromosi lewat dunia maya, baik itu lewat Facebook maupun MySpace. “Baru kali ini saya menyadari bahwa Facebook tidak hanya menguntungkan untuk Mark dan MySpace tidak hanya berguna bagi Tom,” ujar salah satu panitia. Kebenaran yang lain adalah, band DeadInDeadline membawakan tiga lagu yang kira-kira berisi keprihatinan akan nasib pendidikan di Indonesia dan keprihatinan akan perspektif masyarakat yang tak berwarna. Sebuah band pembuka yang pas dengan tema acara hari itu.

Get Panic menjadi band yang membawakan lagu mereka tanpa perlu terlihat panik. Mereka membawakan lagu yang enak tanpa drum, khas akustik. Saya tak berhenti tersenyum dan mengacungkan kedua jempol tangan saya kepada mereka. Walaupun, kebanyakan lagu yang mereka nyanyikan berbahasa Inggris sehingga sulit dimengerti anak-anak, namun pesan mereka dalam memberi dukungan kepada anak-anak tersalurkan lewat dentingan indah gitar dan suara lembut sang vokalis. She Came For Christmas dari Mew menjadi lagu indah selamat natal dari mereka untuk anak-anak sanggar dan ditutup dengan Stars, lagu dari mereka sendiri, yang dibawakan dengan riang penuh senyum. Great Job Guys!!

Suasana riang ini dilanjutkan dengan penampilan hebat dari anak-anak Sanggar Sahabat Anak. Membawakan dua lagu hasil ciptaan Opung, salah satu pengurus di sanggar tersebut, anak-anak sanggar memang patut sombong karena mereka terlihat sederajat dengan band-band pendukung acara ini dalam bermusik. Ketukan jimbe yang dibunyikan berhasil mengajak penonton untuk mengikuti irama dengan tepukan tangan yang membahana ke seluruh ruangan. Slentingan balera mampu membawakan suasana khas anak-anak ditambah dengan suara mungil para vokalisnya yang ceria. Persis seceria warna balon-balon hidrogen yang turut mewarnai ruangan sederhana itu.

Lagu berjudul Sanggar Sahabat Anak yang dibawakan di akhir penampilan mereka, membuat saya sadar bahwa mereka adalah anak-anak yang wajib saya jaga senyumnya. Wajib saya pelihara semangatnya, sehingga nanti mereka tetap bisa berjalan penuh bangga di tengah kota yang selalu sibuk ini. Dan tentu saja, saya memerlukan bantuan dari teman-teman semua untuk mewujudkannya.

Nampaknya, saya tak perlu buru-buru menurunkan kedua jempol saya karena Magnificent Louie hadir dengan musik bagus mereka. Permainan gitaris mereka tak terdengar egois meski memiliki pengaruh besar dalam suasana yang mereka ciptakan. Bermain riang penuh ekspresi, sang vokalis mampu memanfaatkan rambut keritingnya sebagai daya tarik. Cigarette dari mereka, dihadirkan dengan apik dan masih dapat dinikmati anak-anak. Band yang keren.

Untung saya melihat mereka dan untung juga karena jempol saya tidak terlalu sombong untuk tetap teracung ke udara demi My Beautiful Life (MBL). Sebenarnya band ini bukan band kelas jempol, tapi kelas seluruh bagian telapak tangan yang tanpa sadar bertepuk dengan keras saat mereka selesai bermain. Diawali dengan menyanyikan Burung Kakatua yang tak jelas pengarangnya, mereka berhasil dengan jelas menegaskan bahwa acara ini adalah untuk anak-anak sehingga band ini membawakan lagu yang bisa dinyanyikan dan dinikmati dengan santai oleh anak-anak.

Setelah keceriaan di bumi, kini saatnya terbang ke awang-awang oleh The Illusion. Musik langit mereka mampu membawa saya memejamkan mata dan mengkhayal. Suara tinggi nan sejuk dari sang vokalis seakan mengajak saya untuk tenang sebentar, tanpa berpikir apapun. Meski dibawakan dengan versi akustik, namun kekuatan musik mereka tak berkurang sedikit pun. Bukan hanya saya yang sedikit gemetar mendengarnya, bahkan sound system dalam acara itu seakan tak kuat menangani musik mereka sehingga sempat berulang kali berdengung aneh di awal pertunjukkan mereka. Terlepas dari ketidaknyaman di awal, saya akui, saya terhipnotis oleh ilusi yang mereka hadirkan. Keren!

Terus terang, saya sempat tak percaya ketika band sekelas S.A.T.C.F mau hadir dan tampil pada acara ini tanpa dibayar. Namun, saya tak punya pilihan selain percaya saat mereka benar-benar hadir dan menampilkan musik-musik keren. Musik mereka pada malam itu tak sesederhana pakaian yang mereka pakai. Meski panitia hanya mampu menghadirkan peralatan untuk bermain akustik, namun band ini seperti membuat saya lupa kalau acara hari itu adalah acara akustikan. Salah satu anak sanggar bahkan dengan cepat menghampiri saya dan bertanya siapa yang sedang bermain saat itu. Saya pun menjawab bahwa ini adalah band punk rock keren bernama Snickers And The Chicken Fighter atau S.A.T.C.F. Anak itu pun sampai tak punya kesempatan untuk melihat saya saat bertanya. Matanya seperti mengikuti telinganya, mendengarkan dengan seksama band ini. Dengan seksama dan tersenyum.

Pada akhirnya saya juga ingin sombong. Mengikuti sombong teman-teman kecil saya di Sanggar Sahabat Anak. Saya ingin sombong bahwa saya punya teman baru yang hebat dan pantas untuk mendapatkan predikat “keren”.  Saya juga ingin sombong pada seluruh teman di seluruh penjuru dunia bahwa saya adalah bangsa Indonesia yang tak segan berbagi, tak malu peduli, dan tak miskin akan apresiasi. Dan saya ingin mengajak teman-teman semua untuk ikut bersombong ria dengan saya. Kesombongan indah yang menyenangkan. Jadi mari!!

Teks: Komang/Foto: Bram of SSA

04
Jan
10

Spasm Record Presents: Village of the Villains

06
Jan
10

Jakarta Noise Fest II: Estetika Kebisingan dan Upaya Mempertahankan Eksistensi Gelaran Musik Tidak Lazim

Di acara sederhana seperti ini, dekorasi panggung cantik, sistem suara spektakuler berdaya puluhan ribu watt, dan silau kemilau tata pencahayaan tidaklah terlalu dibutuhkan. Untuk membuatnya dapat berjalan, yang dibutuhkan hanyalah konsepsi niat dan apresiasi sungguh-sungguh dari para pengisi dan penikmat acara. Itu sudah lebih dari cukup untuk menjadikan sebuah gelaran yang memiliki tingkat intimasi dan diferensiasi mutu yang tinggi terlaksana dengan semestinya.

Jakarta Noise Fest adalah sebuah festival berkala yang diadakan oleh salah satu fanzine yang sangat influensial di scene musik independen lokal, Wasted Rockers. Agustus 2009 lalu, seri pertamanya berjalan dengan lancar di sebuah studio kecil bawah tanah di komplek ruko D’best Fatmawati. Walau tak cukup ramai, acara tersebut, menurut kami, mampu memberi jawaban atas keberadaan pekerja seni ‘bising’ dan mewadahinya. Dan Wasted Rokers memiliki andil besar untuk publisitas band dan musisi-musisi yang berkreasi di wilayah tersebut.

Melanjutkan seri perdananya, sekaligus berkaca dari beberapa kelemahan yang ada, Jakarta Noise Fest II bisa dikatakan tereksekusi dengan cukup baik. Berbagai lubang kurang yang sebelumnya menganga berhasil ditambal. Mulai dari venue, perihal publikasi, dan artis pendukung yang multi-varian (termasuk dengan adanya musisi internasional) menjadikan gelaran seri ke-2 ini setingkat ‘naik kelas’. Rebelzine sendiri senang dapat berpartisipasi di dalamnya.

Mengambil jadwal di akhir Desember, tepatnya tanggal 27, secara tidak langsung mengondisikan festival musik avantgarde-experimental ini sebagai event tutup tahun 2009 dan pra-selebrasi menyambut tahun 2010. Terlihat sekali yang datang benar-benar apresiatif, antusias, ramai. Mungkin sekitar 3 hingga 4 kali lipat dari gelaran terdahulunya. Sepertinya, rasa penasaran berikut panggilan batin untuk turut serta menjaga eksistensi sebuah gelaran komunitas terdeteksi dari atmosfer riang mereka pada Minggu malam itu.

Dimulai sekitar 30 menit ba’da maghrib, Rebelzine tiba terlambat. Sarin ternyata tengah mempersiapkan set-nya. Kami melewatkan performa penampil pertama, Shoah, yang menawarkan teror harsh-noise memekakkan di Rossi Musik (venue JNF II –ed). Sembari menunggu Sarin bersiap, kami bercakap-cakap dengan beberapa teman yang tidak sengaja berjumpa di sana. Keakraban antar sesama memang dijunjung tinggi dan terjalin mudah di tempat-tempat seperti ini. Karena biasanya, satu sama lain sudah saling mengenal. Baik antar-musisi, antar-penonton, maupun antar-keduanya. Semuanya menyatu.

Cukup lama Sarin berkutat pada sesi penyeteman perangkat mereka. Baru sekitar pukul 20.00 kuartet instrumental yang memfusikan elemen post rock, noise, shoegaze dan ambient ini menuntaskan jeda kekosongan. Dalam penampilannya kali ini, Sarin dibantu oleh Bintang dari produk shoegazing/indie rock asal Jakarta, Mellon Yellow. Mengingat banyak yang datang untuk melihat penampilan band ini, penonton mulai merapat. Termasuk Rebelzine. Ini adalah kali kedua kami melihat mereka sejak pertengahan 2009 lalu. Saat itu mereka bermain untuk sebuah gelaran ‘logam panas’ menggantikan Ghaust di daerah Cikini.

Sayangnya, perkara sistem tata suara membuat performa Sarin di awal-awal tidak maksimal. Beberapa kali terjadi kendala teknis dengan gitar Bintang dan berimbas pada feedback bunyi yang tidak nyaman. Apalagi mereka mencoba menyuguhkan output yang lebih noisy dengan mengeksplorasi sound mereka menjadi sedikit berat. Alhasil, mereka bermain kurang menggigit selama kurang lebih 30 menit pada malam itu. Tapi penonton tetap memberi apresiasi bagus terhadap kehadiran mereka meramaikan acara tersebut.

Penampil selanjutnya setelah Sarin adalah A Fine Tuning Creation. Ternyata ini adalah proyek seorang diri. Adalah Aryo, salah satu member dari duo psychedelic/disco-house bernama Space System yang berada di balik proyek ini. Duduk nyaman tanpa sepatah kata di belakang rangkaian perangkat elektronik (synth –ed) yang menyatu dengan pianonya, Aryo memadukan hasil fusi elektronik olahannya dengan free-style permainan pianonya. Bahkan ada satu bagian di mana Aryo mempertontonkan kebolehan memijit tuts piano bak konser resital.

Walau secara keseluruhan terdengar membingungkan dengan kombinasi bunyi yang satu sama lain sepertinya terdengar mentah dan tidak padu, A Fine Tuning Creation, buat kami, berhasil menegaskan pentingnya mendahulukan konsepsi emosionil sebuah proses dalam mencipta dan menyuguhkan sebuah karya. Dan di tengah kebingungan penonton akan apa yang ditampilkannya, Aryo berhasil mengejawantahkan konsep tersebut dengan sangat percaya diri.

Berikutnya, Iblis Kotor mengambil alih arena pertunjukkan. Mereka tampil penuh dengan instrumen konvensional ditambah perangkat elektronik synthesizer serta beberapa instrumen etnik. Susunan bunyi yang dihasilkan band ini di separuh pertama performanya terdengar sangat eksperimental-elektronikal. Tidak semua instrumen difungsikan. Sehingga ada bagian-bagian yang kurang integratif dan terdengar kosong mengingat mereka membawa banyak ragam alat. Namun, di paruh kedua, ketika semua personil mengaktifkan keseluruh instrumen, musik mereka menjadi ramai. Mereka memutarbalik ekspektasi ‘garing’ kami di awal-awal.

Semua personil saling mengisi, menimpali satu sama lain rangkaian suara yang dihasilkan instrumen masing-masing. Emosi penonton mulai terpancing. Mereka cerdik mengatur tempo. Dengan ramainya bebunyian yang dihasilkan, fase eksperimentasi elektronik sebelumnya diputar ke nuansa folk-etnic, jazzy, hingga mengarah ke world music. Salut!

Tuntas sudah pertunjukkan apik Iblis Kotor untuk kemudian dilanjutkan oleh band lainnya, yaitu Kishy. Ini adalah band proyekkan dari beberapa membernya. Ada Fathan Triadi dari Crowded Room, Taufik Azharri dari Cascade, dan Vian dari Jelly Belly. Band ini menyuguhkan musik ambient, dream-pop, drone, shoegazing yang mengawang. Namun sayang, komposisi yang coba mereka tawarkan berbanding terbalik dengan tata suara yang dihasilkan. Apa yang dialami Sarin di awal-awal secara tak terduga terulang pada Kishy.

Bahkan gitar Fathan yang kedua sempat tidak mengeluarkan suara sama sekali, hingga ia berkali-kali mengecek sengkarut kabel di jejeran efeknya. Musik ‘pengurai mimpi’ yang seharusnya dapat menghanyutkan suasana jadi tak tercapai. Padahal, efek visual dari 20/20 Sightscenery yang mengiringi penampilan Kishy malam itu sudah cukup menunjang. Amat disayangkan.

Penampil selanjutnya adalah Sajama Cut and Abort. Band ini adalah yang teramai. Tujuh orang dalam satu panggung. Penampilan mereka  sangat baik, rapi, dan ultra-agresif. Lihat saja bagaimana pemain perkusinya yang memiliki daya pukul seolah tak kenal lelah. Begitu juga dengan output eksperimental yang dihasilkan instrumen lainnya. Marcel dkk. lebih banyak melakukan eksperimentasi dan eksplorasi bunyi sehingga komposisi yang mereka hasilkan sangat penuh dan berdurasi panjang. Mereka masuk daftar penampil terbaik malam itu dengan beberapa lagu hasil fusi rangkaian indie-rock, electronic, dan noise yang dimainkan sekitar 30 menit.

Di luar suguhan utama, menariknya, di gelaran ini, jeda antar penampil tidak hambar. Penonton yang menunggu penampilan band selanjutnya masih dapat merasa terhibur dengan iringan musik menggelitik dari tanah Hindustan persembahan Resident DJ of Gangga. Selama beberapa saat aroma Bollywood dibawa ke Rossi Musik oleh orang ini.

Salah satu proyek segar yang ditunggu, Sabedarah, adalah yang tampil berikutnya. Konsentrasi kembali difokuskan ke panggung minimalis berlatar belakang dinding yang ditempeli berhalaman-halaman koran bekas. Ini adalah performa perdana mereka dengan identitas baru ini. Sebelumnya, ketiga personil Sabedarah lebih dikenal di band-nya masing-masing. Ada Danif Pradana dengan Kalimayat & Khuruksetra-nya, Adit Bujbunen Al Buse dengan Karbala bukan fatamorgana. & Udanwatu, kemudian Uri A. Putra yang dikenal lewat Ghaust/Bertanduk/GATT.

Lewat proyek ini, ketiganya bersenyawa mengetengahkan aura kegelapan tanpa henti sepanjang pertunjukkan. Komposisi black-metal, psychedelic, ambient, drone yang dihasilkan Danif dan Uri menyatu dengan ‘ketidaksengajaan’ masuknya unsur etnisitas mistik kejawen dari output efek/sampling dari laptop Adit. Belum selesai hingga disitu, kombinasi vokal pentatonik serta repetan oratif setengah meracau oleh Adit, berikut aksi semi teatrikal-nya di tengah efek asap, membuat debut kemunculan mereka di depan khalayak sedikit mengerikan. Trio ini berhasil mengubah atmosfer lokasi pertunjukkan seolah menjadi media interaksi hororistik lintas dimensi. Penampakan perdana yang cukup mencuri perhatian!

Malam kian larut usai Sabedarah unjuk penampilan. Penonton kembali mengondisikan diri menunggu suguhan selanjutnya dari Sungsang Lebam Telak (SL*T). Trio harmonis-hiper kreatif ini adalah yang juga banyak dinanti-nanti keahliannya dalam merangkai komposisi musik tidak lazim di gelaran Jakarta Noise Fest II. Ageng, Dani dan Gembi masing-masing bermain penuh spontanitas dengan improvisasi seenak hati namun kompak dan berisi.

Komposisi-komposisi baru yang sangat singkat dibawakan dengan gaya khas mereka mengintroduksi setiap tajuk pada komposisi tersebut. Mereka memberi judul-judul hiperbolis yang menggelitik dan sangat diksiatif. Dan hal ini mampu mencairkan cekamnya suasana dengan suguhan non-musik semi-guyon namun serius. Dalam aksi panggungnya kali ini, SL*T mendapat dukungan tambahan dari 2 member A Stone A, Akbar dan Ewing pada trompet mainan untuk melengkapi amunisi super-jazz mereka malam itu. Pertunjukkan SL*T berakhir pada pukul 00.02.

Tiba sudah di penghujung acara. Sajian pamungkas Jakarta Noise Fest II datang dari aksi musisi eksperimental Perancis, DJ Urine. Performa solis luar ini benar-benar menarik. Tiga turntable yang seperti mainan dirangkai dan disusun berdekatan olehnya. Kemudian dipasangkan vinyl-vinyl utuh di ketiganya dan ditindih dengan vinyl yang sudah tidak utuh alias separuhnya telah patah, atau sepertinya memang sengaja dipatahkan. Hasilnya, terjadilah tabrakan lagu dari hasil rangkaian ketiga vinyl di 3 turntable tersebut hingga memunculkan efek tak beraturan dan ‘merusak’. DJ Urine menuntaskan performanya sekaligus menutup kemeriahan gelaran musik tidak lazim Jakarta Noise Fest II di menit ke 34 lepas dari pukul 00.00.

Akhirnya, usai sudah seluruh pertunjukkan. Terima kasih untuk Wasted Rockers dan Huppalawya atas festival luar biasanya. Semoga kita dapat berjumpa di Jakarta Noise Fest seri berikutnya. Selamat tahun baru!

Teks/Foto: Zelva Wardi


12
Jan
10

First Blood: Silence is Betrayal Indonesian Tour 2010

12
Jan
10

Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis

Judul Buku: Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis

Penulis: Mansour Fakih dkk.

Penerbit: Read Book, Yogyakarta

Sebelum memaparkan sekelumit isi dalam buku ini, perlu diinformasikan  bahwa buku ini adalah buku lama, terbitan tahun 2001. Namun,  walaupun buku lama, di dalamnya terdapat pemikiran-pemikiran progresif  tentang dunia kependidikan. Terutama dalam mengkritisi wadah dan sistem  pendidikan konvensional yang ada saat ini.

Saat ini banyak berkembang pelbagai alternatif pendidikan untuk masyarakat. Mulai dari privat, homeschooling (sekolah rumah –red), sekolah alternatif, les, dsb. Intinya, pendiikan alternatif merupakan simbol dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan formal (baca: sekolah) pada umumnya.

Pendidikan formal atau sekolah saat ini masih memiliki kesan tradisional dan membosankan, karena pusat pengetahuan hanya diperankan oleh guru. Guru dianggap segala-galanya. Dalam konteks ini, akhirnya pendiikan bersifat negatif, di mana guru  memberikan informasi yang harus ditelan oleh murid wajib diingat dan dihafalkan.

Untuk merubah kesan tradisional dan sangat indoktrinasi di dalam pendiikan formal, maka tak jemu pakar pendidikan mendengungkan model pendiikan partisipatif. Model inilah yang menekankan guru sebagai fasilitator. Seluruh eserta didik menjadi subjek pengetahuan dan aktif meningkatkan keterampilan. Guru adalah murid dan murid adalah guru. Usaha ini ditujukan kepada seluruh institusi pendiikan agar sistem pendiikan menjadi lebih baik.

Namun tak dapat dipungkiri, dari sekian banyak pendidikan alternatif yang ditawarkan, pada umumnya belum memenuhikriteria ‘pembebasan’ terhadap permasalahan masyarakat. Walaupun sudah menggunakan model partisipatif, tidak sedikit yang mengolah pendidikan alternatif menjadi komoditas dagang. Mengutamakan modernisasi peralatan belajar, fasilitas baru, menggunakan prestasi sebagai proses persaingan peserta didik, dan pendidikan dianggap tidak memiliki pengaruh terhadap politik dan ekonomi masyarakat. Sedangkan pendekatannya masih sangat didominasi dengan aliran positivisme: yakni penggunaan pengetahuan untuk mengontrol, memprediksikan, memanipulasi, dan eksploitasi terhadap objeknya.

Implikasi dari metode pendekatan pendidikan positivisme adalah kesadaran magis dan naif. Kesadaran magis, yakni suatu keadaan masyarakat yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Misalnya, masyarakat miskin tidak tahu kalau kemiskinan yang dimilikinya memiliki benang merah terhadap sistem politik dan budaya. Karena yang dipahami, kemiskinan yang didapatnya adalah suatu hal yang wajar dan merupakan ‘given’ (natural maupun supranatural). Dalam proses pembelajaran, murid secara dogmatik menerima kebenaran guru, tanpa memahami analisa dari tiap konsepsi atas kehidupan masyarakat.

Sedangkan kesadaran naif adalah implikasi dari pendidikan yang melihat akar permasalahan masyarakat dari ‘aspek manusia’. Dalam kesadaran ini ‘masalah etika, kreativitas, performance, need for achievement (N Ac)’ dianggap sebagai penentu perubahan sosial. Dalam menganalisis kenapa masyarakat miskin, karena disebabkan kesalahan mereka sendiri: yakni malas, tidak memiliki jiwa enterpreneur, bodoh dsb. Implikasi pendidikan ini mengarahkan manusia untuk beradaptasi dengan sistem yang sudah ada.

Untuk itu buku ini menawarkan tujuan dan filosofi pendidikan dari salah seorang pendidik dunia asal Brazil, Paulo Freire. Perspektif pendidikan aliran Freire adalah melakukan refleksi kritis terhadap sistem dan ideologi dominan yang tengah berlaku di masyarakat, serta menganalisis struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya serta melatih mengidentifikasi ‘ketidakadilan’. Kemudian merubah sistem tersebut untuk memikirkan sistem alternatif ke arah transformasi sosial menuju masyarakat yang adil.

Di sini, Mansour Fakih dkk. menuliskan penekanan proses dan teknis berdasarkan pengalaman mereka di lapangan. Membangun kesadaran kritis pendidikan partisipatif bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan peran fasilitator yang harus bisa menciptakan dan menggunakan media sebagai alat komunikasi pembelajaran.

Sekali lagi,buku ini lebih banyak memuat teknis silabus, cerita maupun berita kontroversial, permainan, analisis politik dan budaya di kota maupun di desa, dan lain sebagainya. Teknis-teknis ini diselingi artikel-artikel yang memuat pemahaman pendidikan kritis sebagai alat transformasi sosial. Pendidikan diartikan”tanpa dinding”, artinya penempatan pendidikan tidak melulu di pendidikan formal (sekolah –red), tapi bisa digunakan oleh massa petani, nelayan, dan rakyat kecil untuk melakukan transformasi sosial.

Teks: M. Irham

14
Jan
10

Ledakan Urbanisasi feat. Deu’ Galih – Hujan Pertama

Hujan Pertama adalah lagu hasil kolaborasi Ledakan Urbanisasi dengan Deu’ Galih. Ledakan Urbanisasi merupakan proyek solo dari Dede “Serigala Jahanam” yang memainkan musik anti-folk, akustik, indie-folk, pop-balada. Sedangkan Deu’ Galih adalah proyek solo lyrical-folk dari Galih, vokalis Schizophones. Di lagu ini, keduanya berusaha menonjolkan kekayaan lirikal dalam kesederhanaan penyajian unsur musikal. Dede, sang penulis lirik, mencoba bermain kata-kata tapi tidak terkesan picisan. Khas musisi folk pengumbar konten non-musik dengan gaya penulisan lirik aliran sajak bebas.

Sebagai informasi, lagu Hujan Pertama direkam secara live, dan akan masuk ke dalam debut album Ledakan Urbanisasi bertitel Buronan Mertua. Album tersebut akan dirilis dalam waktu dekat oleh net-label asal Jakarta, In My Room  Records dan berformat double-album.

Untuk bocoran penggoda sebelum album tersebut resmi dirilis, lagu Hujan Pertama dapat kalian unduh secara cuma-cuma di sini. Dan nantikan Buronan Mertua dari Ledakan Urbanisasi segera meluncur bebas ke hadapan kalian tak lama lagi!

22
Jan
10

Etalase Ideologi

Salah satu fenomena menarik yang mewarnai jaman kontemporer saat ini -khususnya kota-kota besar- adalah mewabahnya berbagai bentuk wacana gerakan pembebasan. Gerakan-gerakan sosial ini, yang dominan diikuti kelas menengah, menawarkan berbagai bentuk atau strategi pemecahan masalah hidup dalam irama kehidupan urban yang sesak.

Kehadiran wacana ini sesuatu yang menggembirakan sekaligus mengkhawatirkan. Menggembirakan, karena merupakan perwujudan sadar politik untuk masyarakat. Mengkhawatirkan, sebab fenomena ini justru dimanfaatkan segelintir orang. Mereka menasbihkan diri sebagai pewaris kekuasaan baru melalui pengetahuan semu yang diusapkan ke ubun-ubun masyarakat yang sedang meraba-raba. Kelas menengah yang merasa (telah) maju daya pikirnya.

Mei 1998. Sebagian orang mengartikannya era keterbukaan dan kebebasan. Isu dan wacana seputar pembebasan, demokrasi dan jalan alternatif gencar disuarakan. Beberapa kalangan melihat ini dari sisi lain, peluang bisnis.

Peluang bisnis ini dilihat oleh penerbit-penerbit buku. Ratusan judul buku yang mengulas ideologi, jalan alternatif dan demokrasi membanjiri etalase toko-toko buku. Sebagian anak-anak muda menyambut gebrakan ini sebagai pijakan baru dalam hidup.

Buku-buku ideologi bagai sebuah baju yang dipajang di Departement Store. Siapapun bebas memilih sesuka hati. Ideologi sebagai jalan hidup tak lagi bermakna sakral. Gerakan kiri menjadi sesuatu yang popular di jaman kontemporer ini.

Orang tak lagi canggung membaca dan menenteng buku-buku berbau kiri. Budaya pop atau budaya massa mulai menyentuh ranah ideologi. Kata-kata “kiri” bukan lagi sebuah terminologi pancangan dan politik perjuangan. Sedikit demi sedikit, ideologi bergeser menjadi konsumsi massal aktivis-aktivis baru.

Sekarang, seseorang tidak akan disebut aktivis kritis bila tidak membaca buku-buku ke-kiri-an. Buku-buku itu dipercaya memberikan spirit dan inspirasi perjuangan. Tetapi, walaupun sebagai sarana pencerahan, kita juga harus bijak menyaring dan menganalisa isi buku tersebut. Jangan sampai mengikuti secara membabi buta apa yang digambarkan sebuah buku.

Kita masih ingat, beberapa waktu lalu di sebuah surat kabar lokal Jakarta ada berita seorang pemuda membantai keluarga pamannya hanya karea berdebat seputar agama dan pemikiran marxis. Semestinya, pemikiran-pemikiran marxis atau yang lainnya, hendaklah dipakai sebagai pisau analisa sebuah masalah. Bukan menjadikannya ideologi yang mengkristal jadi pisau pembunuh.

Apakah ini konsekuensi, dari laju budaya yang cepat atau merupakan bagian dari dinamika sejarah bangsa Indonesia. Konstruksi budaya massa diperkenalkan melalui dua ciri yaitu sesuatu yang cepat dan instan. Ideologi bukanlah ilmu astronomi yang bicara ramalan masa depan. Lebih dari itu, ideologi harus diukur dari kesetiaannya kepada kemanusiaan. Ideologi menjadi sebuah dosa besar apabila menghilangkan kemanusiaan dalam diri manusia.

Tepat seperti apa yang dikatakan oleh Pramudya Ananta Toer –penulis novel sejarah dan perjuangan- bahwa keindahan bukanlah terletak pada kata-kata atau bahasa, tapi terletak pada rasa kemanusiaannya. Baginya, karya sastra harus memihak kepada kemanusiaan dan kerakyatan.

Walaupun novel-novel Pram bisa disebut “kiri”, tetapi disusun berdasarkan penggalian sejarah. Tokoh-tokoh dalam karyanya adalah simbolisasi aktor-aktor sejarah. Jauh berbeda, buku-buku ideologi yang bertebaran saat ini banyak yang merupakan pemikiran impor.

Ideologi-ideologi serapan dari luar terkadang tidak melihat sejarah perkembangan masyarakat Indonesia. Kadang tidak mampu melihat karakter khusus tiap bangsa. Ideologi yang tumbuh dalam masyarakat harus bisa melihat pondasi fundamental politik, budaya dan ekonomi masyarakatnya.

Soal ideologi, bangsa kita masih konsumtif. Jiwa-jiwa produktif sudah dibunuh dalam diri masyarakat kita. Lenyap dalam ketegangan, kekerasan, kekuasaan dan perlawanan.

Saya memang mencoba membayangkan semangat pemuda-pemuda 1928 yang mencetuskan sumpah pemuda. Tapi semangat Indonesia saat ini berbeda dengan semangat kala itu. disini tidak ada lagi sebuah cita-cita bersama. Yang ada hanyalah kebencian antar sesama. Semangat sumpah pemuda sudah tergantikan oleh jiwa primitif manusia; memikirkan diri sendiri atau golongannya demi kesenangan.

Teks: Wahyu Arifin




Rilisan Baru:

Event Mendatang:

Didukung oleh:

Advertensi:

Situs ini sejak 17 November 2008 sudah dikunjungi oleh:

  • 33,266 pengunjung

RebelZ E-book gratis! Silakan klik untuk mengunduh!

RebelZ 09 - Euforinasionalisma