
AKHIRNYA, Efek Rumah Kaca meluncurkan album terbarunya “Kamar Gelap” (19/12/2008). Sebuah titel album & juga judul lagu yang sangat mewakili indentitas bermusik ketiga orang personilnya, Cholil (vokal/gitar), Adrian (bas), dan Akbar (drum). Jika dilihat dari judulnya, rilisan ini akan terkesan lebih gelap, tapi sebenarnya tidak demikian. Di album kedua ini karya-karya ERK justru lebih variatif dibanding album pertama. Tembang riang yang memunculkan imej nakal & genit ERK lewat single ‘Kenakalan Remaja di Era Informatika’ bisa menjadi bukti betapa mereka lebih agresif dan terbuka. Sound di lagu ini terdengar lebih indie rock. Belum lagi di lagu lain macam ‘Mosi Tidak Percaya’ dengan spirit punk yang menggebu-gebu. Disini, mereka berani menunjukkan sisi ekstrovert-nya yang kontras dengan debut self-titled mereka yang introvert. Itulah kenapa “Kamar Gelap/2008” tidak lebih gelap dari “Efek Rumah Kaca/2007”, tapi justru lebih terang. Mereka ingin terus berkembang, malahan kalau bisa berubah. Tentu saja untuk karya-karya baru yang lebih baik & makin menjanjikan. Dan rebelzine berhasil mendapatkan sedikit pembahasan mengenai album baru mereka tersebut. Berikut respon ERK (diwakilkan oleh Cholil) atas pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan.
(Hasil wawancara ini juga dimuat di fanzine Efek Rumah Kaca, DI UDARA edisi 4. Versi PDF-nya bisa diunduh di sini).
Rasanya baru kemarin debut self-titled ERK keluar. Sekarang sudah album ke-2. Apa tidak terlalu cepat? Atau justru menurut kalian cukup ideal rentang waktu antara album pertama dengan yang sekarang?
Kalau dihitung dari rilis album pertama mungkin memang sebentar, kira-kira 1,3 tahun. Tapi kalau dihitung dari kami terbentuk, kayaknya justru terlalu lama. Kami terbentuk tahun 2001, sekarang tahun 2008 dan kami baru punya dua album. Delapan tahun untuk dua album, apakah itu cepat? Sejujurnya kami tidak tahu masa edar album yang ideal untuk saat ini, apakah 1 tahun, 1,5 tahun atau 2 tahun, atau malah lebih. Yang kami rasakan bahwa kami punya materi, kami rekam, dan selesai.
Album pertama kalian begitu menggebrak. Rentetan pujian menghampiri. Panggung-panggung pertunjukan beramai-ramai memperebutkan kalian. Dan self-titled “Efek Rumah Kaca” menjadi produk musik yang berkualitas secara lirikal & musikal. Minimalis tapi memiliki pengaruh yang maksimal. Bagaimana tanggapan kalian?
Yang jelas kami senang bisa memperdengarkan musik kami ke khalayak ramai. Dan senang juga bila ada sebagian orang yang cocok dan menyenangi lagu kami.
Terkait album “Kamar Gelap”, apakah kira-kira akan sesukses album pertama yang mencuri perhatian itu?
Kami tidak tahu dan tidak mau tahu. Serahkan kepada pendengar saja. Kalau suka, silakan didengarkan dan dinikmati. Kalau tidak suka, yah jangan didengar.
Apa konsep atau tema besar yang ingin kalian sampaikan lewat album “Kamar Gelap”? Masih samakah dengan album pertama?
Konsep album sebelumnya apa ya? Apakah memotret fenomena? Kalau kami pernah bilang begitu (mungkin ada jawaban lain tapi kami lupa) maka album ke-2 ini sama. Memotret fenomena. Perbedaannya kali ini kami berkarya bersama dengan Angki Purbandono, seorang fotografer seni dari Yogyakarta. Untuk lebih mengetahui reputasi Angki, silakan lihat di www.angkipu.com
Mulai dari pengumpulan materi lagu, menentukan tema atau isu yang akan disisipkan, hingga proses rekaman dan akhirnya siap edar, apakah kalian sudah cukup puas dengan hasil rilisan “Kamar Gelap”?
Jelas kami belum puas. Kami gak boleh puas. Kalau kami puas, kami harusnya bubar. Tetapi apakah album ini lebih memuaskan daripada album pertama? Jawabannya iya, secara teknikal (proses rekaman, pemilihan sound, waktu pengerjaannya, dll). Secara musikal apakah lebih puas? Tak bisa diukur. Semua lagu baik album 1 ataupun 2 punya sensasi dan romantisme yang berbeda-beda.
Isu ‘efek rumah kaca’ di album pertama begitu relevan dengan kondisi yang sedang hangat dibahas, global warming. Mungkin itu juga salah satunya yang membuat ERK tiba-tiba membumbung. Bagaimana dengan “Kamar Gelap”? Apakah ada isu yang kebetulan pas dengan kondisi sekarang?
Sekali lagi, kami tidak punya kuasa untuk memprediksikan karya kami tiba-tiba membumbung atau malah anjlok. Di album “Kamar Gelap” ada lagu ‘Mosi Tidak Percaya’ (ketidakpercayaan terhadap orang-orang yang mewakili kita dan kinerjanya), ‘Kenakalan Remaja Di Era Informatika’ (video seks yang makin marak. Isu ini sudah dicetuskan lebih dahulu oleh gerakan “Jangan Bugil di Depan Kamera/JBDK”), ‘Jangan Bakar Buku’ (ya tentang pembakaran buku yang masih saja dilakukan), ‘Kamar Gelap’ (fotografi), ‘Tubuhmu Membiru…Tragis’ (sugesti yang kerap menghinggapi para junkie), dan lain-lain. Apakah lagu-lagu tadi relevan atau mengena dengan pendengar musik Indonesia? Kita tunggu sama-sama.
Secara musikalitas apa ada unsur-unsur baru yang mewarnai album ini? Sound-sound yang lebih variatif mungkin? Segelap titel albumnya-kah musik yang dihasilkan? Atau ada tambahan instrumen yang membuat eksplor musik kalian di “Kamar Gelap” jadi lebih kaya dibanding rilisan sebelumnya?
Sound? Sepertinya lebih reverb. Lebih banjir reverb dibanding album 1. Lebih gelap dibanding album 1? Tidak, sedikit lebih terang. Kalau album 1 menurut kami introvert, album 2 lebih ekstrovert. Tambahan instrumen? Keyboard pada laki-laki pemalu yang dimainkan oleh Ramondo Gascaro (SORE).
Apakah pola minimalis di album pertama masih menjadi ukuran musik kalian? Mungkinkah jika musik ERK tiba-tiba berubah di tengah jalan? Lebih rock, progresif atau mungkin menjadi extreme music begitu?
Tidak terlalu minimalis kalau dibandingkan album 1, karena kami bertiga makin kewalahan bermain alat musik sambil bernyanyi. Mungkin karena belum terbiasa memainkan album 2 secara live. Berubah? Mungkin sekali dan malahan kami maunya berubah. Ke arah mana? Kami belum tahu, mengalir saja.
ERK cuma bertiga. Namun, musik kalian terasa begitu penuh. Seperti tak ada celah. Secara teknis, apakah peralatan dan instrumen yang kalian pakai cukup mewakili kebutuhan untuk menghasilkan karya musik?
Sementara cukup, tapi kami masih mau cari-cari alat lagi biar lebih variatif dan mungkin bisa menjadi stimulan untuk karya yang baru.
Di album ini ERK dibantu beberapa kawan dari band lain seperti Iman (ZATPP), Ade Paloh & Mondo Gascaro (SORE). Apakah kontribusi mereka karena adanya kebutuhan dari segi musik atau hanya sekedar untuk berkolaborasi saja?
Ke dua-duanya, ingin berkolaborasi dan ada kebutuhan. Selalu seru berbagi musik dengan orang-orang yang karyanya sangat kami hormati.
Bagaimana pendapat kalian tentang masing-masing dari mereka?
Ade Paloh. Sangat pas bernyanyi dalam ‘Jangan Bakar Buku’. Menurut kami, di band-nya pun (SORE), Ade belum pernah bernyanyi serendah itu.
Ramondo Gascaro. Memberi suasana yang berbeda terhadap lagunya (‘Laki-Laki Pemalu’).
Iman Fattah. Pada awalnya kami mengira Iman banyak memainkan noise di ZATPP, dan ternyata yang memainkan noise di ZATPP adalah Leo. Jadi kami salah kira dan akhirnya merubah ekspektasi dari noise menjadi nada (yang dikuasai Iman), dan kami puas.
Untuk pertunjukan live, kalian beberapa kali mengajak Iman (ZATPP) untuk membantu di lagu ‘Jangan Bakar Buku’. Ada rencana untuk menambah anggota baru di band atau additional mungkin?
Belum ada rencana. Dan Iman Fattah bukan additional. Dia adalah tamu kehormatan ERK.
Single pertama di album “Kamar Gelap” adalah ‘Kenakalan Remaja di Era Informatika’. Kenapa lagu ini yang dijadikan single perkenalan?
‘Kenakalan Remaja Di Era Informatika’ dijadikan single pertama di album ke-2 adalah semata-mata strategi promosi. Kami menerka kira-kira lagu apa di album ini yang mengena di pecinta musik, dan pilihannya jatuh ke lagu itu. Tentunya ada yang menganggap salah atau kurang puas dengan pemilihan single ini dan kami sudah pasti tidak bisa memuaskan semua pendengar musik ERK. Maaf.
Dimana letak ‘nilai jual’ album “Kamar Gelap” menurut kalian? (tidak melulu dilihat dari sudut pandang komersialitas).
Kami tidak mengerti cara menjual sebuah album. Yang kami rasakan, kami lebih matang dalam memahami lagu. Kami di album ini menjadi budak lagu. Lagunya membutuhkan apa, kami turuti. Di ‘Tubuhmu Membiru..’ kami bermain tragis, di ‘Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa’ kami bermain hampa, di ‘Mosi Tidak Percaya’ kami bermain tidak percaya, di ‘Lagu Kesepian’ kami bermain di lautan kesunyian, di ‘Hujan Jangan Marah’ kami berdoa, di ‘Kenakalan Remaja di Era Informatika’ kami bandel, di ‘Menjadi Indonesia’ kami sedih dan berharap, di ‘Kamar Gelap’ kami remang-remang, di ‘Jangan Bakar Buku’ kami adalah api, di ‘Banyak Asap Di Sana’ kami berangkat ke kota, di ‘Laki-Laki Kami Pemalu’ dan di ‘Ballerina’ kami menari.
Kini ERK telah bekerjasama dengan Aksara Records. Jangkauan distribusi album kalian pun akan semakin meluas. Yang di luar kota pun mungkin tidak khawatir lagi jika kehabisan atau belum menemukan CD ERK di rak-rak toko kaset/CD. Bagaimana ERK melihatnya? Sudah se-visi kah dengan Aksara Records untuk jalinan kerjasama ini?
Sedang dijajaki, yang pasti kami ingin maju dan Aksara Records juga ingin lebih maju. Jadi cocok.
Kembali ke album “Kamar Gelap”. Untuk track listing-nya sendiri bagaimana? Mana lagu yang diletakkan di track 1, 2, 3…… dan seterusnya? Ada kesepakatan tertentu mungkin di antara kalian?
Yang jadi patokan pertama adalah lagu pertama. Kami sangat ingin ‘Tubuhmu Membiru…Tragis’ -sebagai track terpanjang dan termuram- ada di lagu pertama. Seolah-olah mengingatkan dengan album pertama. Setelah itu, kami ingin yang menghentak, lalu dipilihlah ‘Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa’. Setelah itu, memilih lagu terakhir, kami memilih ‘Balerina’. Bayangannya seperti sehabis menonton film, ini adalah sesi credit title. Urutan lagu di tengah dipilih hanya berdasarkan dinamika tempo lagu.
Secara umum dari 12 track yang ada di album “Kamar Gelap”, lagu mana yang sangat mewakili identitas bermusik ERK?
‘Kamar Gelap’. Karena itu adalah lagu yang terakhir direkam dan yang paling menunjukkan identitas ERK pada saat itu (Juni 2008).
Untuk artwork sampul album, saya kurang ‘greget’ dengan cover depan album “Kamar Gelap”. Namun, jika dilihat dari sisi fotografi, jujur saja karya scanning Angki tersebut sangat artistik & sarat makna. Bagaimana kesepakatan menjadikan karya scanning Angki tersebut sebagai cover depan? Cukup representatifkah foto tersebut untuk menjelaskan konten album “Kamar Gelap”?
Proses kerjasamanya seperti ini, kami memberikan Angki 12 lagu kami. Angki membuat karya yang terinspirasi dari lagu-lagu itu. Kami tidak memberikan guidance harus seperti apa fotonya karena kami tahu reputasi Angki. Dan kami sangat puas. Foto scanning menjadi cover depan karena memang itu yang paling nendang dan bisa merepresentasikan konten album ini, setidaknya menurut kami.
Bagaimana kalian meng-interpretasikan makna “Kamar Gelap”? Apa yang ingin disampaikan sehingga menurut kalian para pendengar ERK perlu memahami juga?
Di era digital, kamar gelap berubah wujud, dari sebuah ruangan menjadi sebuah software dalam mesin digital, tapi fungsinya tetap sama: mengubah negatif menjadi positif.
Manajer kalian, Bin pernah bilang sebelum “Kamar Gelap” rilis, ERK akan mengeluarkan EP terlebih dahulu, tapi akhirnya batal. Dan kemungkinan besar menurutnya EP tersebut akan keluar setelah “Kamar Gelap”. Bisa ceritakan sedikit mengenai hal itu?
Belum ada persiapan dan belum tahu mau diisi dengan materi apa EP tersebut. Atau mungkin tidak jadi lagi hehehe.. Maklum sudah 2 orang yang berkeluarga. Banyak urusan keluarga.
Akhirnya, semoga “Kamar Gelap” tidak mengecewakan dan semakin menunjukkan kemajuan kalian dalam berkarya lewat musik. Apa harapan kalian untuk album baru ini?
Supaya lagu-lagu kami mengena di pendengar musik Indonesia, baik secara musik maupun tema. Dan tentunya bisa memberikan dampak positif bagi yang mendengarkannya.
Oke, selamat atas dirilisnya album “Kamar Gelap”. Ada tambahan mungkin yang sekiranya ingin disampaikan kepada pendengar kalian?
Biarkan kami berkembang.
teks & wawancara: zelva wardi, foto: dok. erk
myspace
e-mail
Komentar Terakhir