Kaget. Begitulah reaksi saya ketika diminta untuk menulis liner-notes EP Catwoman & Manohara dari Ledakan Urbanisasi. Hufft! Baca selengkapnya »
Salihara Jazz Buzz: Tohpati Ario Hutomo
Jika dulu musik jazz memiliki citra sebagai genre musik yang “eksklusif” dan hanya bisa dinikmati segelintir orang, maka kini ia mengalami perubahan. Musisi jazz bermunculan dan beragam pertunjukan jazz di Indonesia, dari yang berskala kecil sampai yang internasional, semakin sering diselenggarakan dan dipadati pengunjung. Baca selengkapnya »
Salihara Jazz Buzz: Dony Koeswinarno
Jika dulu musik jazz memiliki citra sebagai genre musik yang “eksklusif” dan hanya bisa dinikmati segelintir orang, maka kini ia mengalami perubahan. Musisi jazz bermunculan dan beragam pertunjukan jazz di Indonesia, dari yang berskala kecil sampai yang internasional, semakin sering diselenggarakan dan dipadati pengunjung. Baca selengkapnya »
The Art of Emotion: The Night When We All Floating in Space
The Art of Emotion
- The Night When We All Floating in Space -
Saturday, 21st January 2012
Starts 7 PM
Backyard Cafe
Jl. Kemang 1 No. 1, Jakarta Selatan Baca selengkapnya »
Hoolahoop Official Music Video Release Party “Hari untuk Berlari”
Official Music Video Release Party
- Hoolahoop | Hari Untuk Berlari -
Rabu, 18 Januari 2012
6 PM ’till End at Bober Cafe
Jl. Riau, Bandung Baca selengkapnya »
Siaran Pers: Peluncuran Buku “Danur” Karya Risa Saraswati
Sosok Risa Saraswati, mungkin lebih dikenal sebagai seorang musisi ketimbang sebagai seorang penulis. Namun, menulis rupanya menjadi passion Risa yang dipelihara sejak lama lewat oretan-oretannya dalam blog pribadinya, pun pada lirik-lirik lagu dari proyek musikal solonya, Sarasvati. Baca selengkapnya »
Payung Teduh – Tidurlah (Official Music Video)
Video musik perdana milik Payung Teduh, unit acoustic/indie- folk asal Jakarta dari lagu “Tidurlah”—yang diambil dari album debut self-titled mereka rilisan tahun 2010. Tema jelang pagi dan rutinitas pekerja pasar yang diangkat sebagai konsep video ini selaras adanya dengan ketenangan yang ditampilkan dalam lagu tersebut. Baca selengkapnya »
Decora #3
Decora #3
Sabtu, 14 Januari 2012
Pkl. 14.00 – 24.00 WIB
Backyard Cafe
Jl. Kemang 1 No. 11, Jakarta Selatan Baca selengkapnya »
Friday – Crown of Golden Sun (Video)
Video musik dari single teranyar band experimental-rock/shoegaze asal Surabaya, Friday―setelah sekian lama mereka tiada berkabar. Baca selengkapnya »
Pembukaan Village Video Festival 2011 (Video)
Pembukaan “Village Video Festival 2011” di Jebor (Pabrik Genteng), berlokasi di samping Jatiwangi Art Factory yang disulap menjadi gedung bioskop pura-pura Twenty Seven. Menampilkan sejumlah tayangan TV yang berebutan memikat hati para pemirsanya dalam screen dengan layer yang bertumpuk di dinding, atap dan rak Jebor, dengan suara desibel yang bersahutan sehingga menimbulkan noise yang berlebihan. Baca selengkapnya »
Oomleo Bernyanyi – Lagu Nyamuk (Live Video)
Theme song “Village Video Festival 2011″. Diciptakan oleh Oomleo (Goodnight Electric) dan dinyanyikan bersama Tedi, Ismal, dan Alghorie di kantor Jatiwangi Art Factory. Baca selengkapnya »
Grass Roots Showcase: Female Dedicated Edition
Rayhan Sudrajat – Sedih, Kesal, dan Takut (Official Video)
Video musik single “Sedih, Kesal, dan Takut” dari album solo Rayhan Sudrajat (Vickyvette), Purification—yang menandai rilis resmi album tersebut. Baca selengkapnya »
Sound Booster #2
Music Bandung & Potluck Kitchen Proudly Present:
- Sound Booster #2 -
Saturday, December 24th 2011
Start from 4 PM ’till End
Potluck Kitchen
Jl. H. Wasid 31, Bandung Baca selengkapnya »
Erich Fromm – The Art of Loving (The World Literature English-Korean Bilingualism)
Erich Fromm adalah warga Jerman yang mempelajari psikologi, filsafat, dan sosiologi. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh psikoanalisis bersama Freud. Yang membedakan di antara keduanya adalah Erich Fromm menekankan kepada peran sosio-ekonomi dalam pembentukan kecenderungan-kecenderungan yang membangun karakteristik kepribadian seorang individu. Baca selengkapnya »
Siaran Pers: Village Video Festival 2011 – The 3rd International Video Residency Festival
>> Pendahuluan
Vilage Video Festival diselenggarakan oleh Jatiwangi art Factory (jatiwangi) dan Sunday Screen Bandung. Sebuah festival video international yang mengundang seniman video, filmaker, atau bidang profesi lain—yang menggunakan medium audio visual dalam pendekatannya—untuk tinggal selama 2 minggu dan bekerjasama dengan warga desa. Baca selengkapnya »
Wells Live at Humming.Mad #2 (Video)
Wells (Matthew Spinelli) adalah musisi folk/lo-fi asal Sydney, Australia yang tengah mengakhiri rangkaian tur ASEAN-nya di 2 kota di Indonesia: Jakarta dan Bandung. Di Jakarta, Wells tampil dalam acara Humming.Mad #2 yang diadakan teman-teman We.Hum Collective di Xabi, Studio, Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (10.12.11). Baca selengkapnya »
Emirates – Polaris | Live at Humming.Mad #2 (Video)
“Polaris” adalah salah satu set yang dibawakan Emirates, kuartet ambient/pop/indie asal Jakarta Barat pada gelaran Humming.Mad #2 yang diadakan pada Sabtu (10.12.11) kemarin, oleh kawan-kawan We.Hum Collective di Xabi Studio, Jakarta. Baca selngkapnya »
Deugalih – Sore | Live at Humming.Mad #2 (Video)
Materi pembuka yang dimainkan Deugalih ketika tampil sebagai salah satu pengisi acara garapan We.Hum Collective, “Humming.Mad #2″ di Xabi Studio, Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (10.12.11) kemarin. Baca selengkapnya »
Exhibition: Cerita Suatu Ketika
Exhibition
-Cerita Suatu Ketika-
Opening:
Senin, 5 Desember 2011
Legipait
Jl. Patimura 24 Malang
Pukul 19.00 – selesai Baca selengkapnya »
Dark/Delight
Dark/Delight
Friday, December 2nd 2011
Backyard Cafe
Jl.Kemang 1 No. 11, Jakarta Selatan
Start at 7 PM Baca selengkapnya »
Indiego BVoice Volume One
Indiego BVoice Radio Present:
-BVoice Volume One-
Thursday, December 1st 2011
Backyard Cafemart
Kemang, Jakarta Selatan
18.00 – 24.00 WIB Baca selengkapnya »
Kanika & Kisah-Kisah Sebelum Tidur: Terbangun dalam Akhir Terjaga dan Bermimpi Sebelum Tidur (EP)
Siaran Pers
Dia,
sosok dalam mimpi-mimpi malam yang selalu kutulis dalam buku itu.
Mimpi demi mimpi yang tak berkesudahan
Kini dia ada di sini!
Di luar mimpiku!
Mimpi?
Jadi ini nyata?
Atau ini mimpi yang nyata?
Atau ini kenyataan akan sebuah mimpi? Baca selengkapnya »
Britpop Heroes Tribute
“BRITPOP HEROES TRIBUTE“
Friday, November 25th 2011
Marley Bar & Food, Energy Building 2nd floor
Jl. Jend.Sudirman kav. 52 -53 Lot 11 A,Jakarta
Starts 7 PM Baca selengkapnya »
Lokakarya Musik Tradisi: Jelajah Musik, Jelajah Budaya Indonesia
Musik telah menjadi bagian kebudayaan sejak lama, dan berkelindan dengan sistem sosial dan spiritual di Nusantara. “Membaca” musik dapat menjadi salah satu upaya untuk memahami Indonesia dan keragaman budaya yang kita miliki. Baca selengkapnya »
Flukeminimix in: One Take, One Show
ONE TAKE, ONE SHOW
-Live Film Documentary-
Flukeminimix
in Association with Cermin Creativehouse Baca selengkapnya »
Band of Brothers #5/Reunion (Reschedule)
BAND OF BROTHERS #5
-Reunion-
Penampil:
- Plester
- Fuentes
- White is Boring
- The Any and Me Baca selengkapnya »
International Literary Biennale 2011: Penutupan Bienal Sastra
Bienal Sastra Utan Kayu-Salihara 2011 akan ditutup dengan musik blues dan mengundang publik untuk ikut serta dalam adu puisi—dengan semangat merayakan bahasa dan sastra. Baca selengkapnya »
NKRI Show II: Dekuliner Mini Concert
NKRI SHOW II
-Dekuliner Mini Concert-
Music | Chef Cooking Show | Talkshow | Games
Sabtu, 29 Oktober 2011
Pukul 21.00 – Selesai
Backyard Kemang, Jakarta Selatan Baca selengkapnya »
International Literary Biennale 2011: Merayakan Sumpah Pemuda
Esha Tegar Putra (1985) telah menghasilkan banyak puisi yang dipublikasikan di berbagai halaman sastra surat kabar daerah dan Ibu Kota, majalah, serta dalam buku-buku kumpulan puisi bersama. Kumpulan puisi pertamanya adalah Pinangan Orang Ladang (2009). Baca selengkapnya »
Decora #2: Fuentes Single Release Party
DECORA #2
-Fuentes Single Release Party-
Sabtu, 29 Oktober 2011
Pukul 18.00 WIB – Selesai
XABI (Maryjane)
Ruko Villa Delima No. 27, Lebak Bulus, Jakarta Selatan Baca selengkapnya »
The Triangle – How Could You (Single 2011)
Lagu ini adalah debut single dari The Triangle, trio indie rock pendatang baru asal kota Bandung yang terdiri dari Riko Prayitno (Bas)―yang sebelumnya dikenal sebagai gitaris Mocca, Cil Hardianto Satriawani (Vokal, Gitar), dan Fikri Hadiansyah (Gitar)―yang merupakan gitaris Vincent Vega. Baca selengkapnya »
Mindzapp #2: Another Lost Frequencies
This slideshow requires JavaScript.
Beberapa potong gambar yang sempat tertangkap oleh mata kamera kami dari seri kedua gelaran musik bising “Mindzapp” yang digelar pada Selasa, 18 Oktober 2011, kemarin di ruang galeri Bara Futsal, Blok M, Jakarta Selatan.
Baca selengkapnya »
Adit Bujbunen Al Buse’s – Maujud The Soundtrack
Ini adalah salah satu karya dari bedroom musician lokal Adit Bujbunen Al Buse. Album ini muncul karena rasa haus dan penasaran Adit terhadap segala bentuk dentingan bunyi dan suara dari berbagai sumber, yang kemudian menyulut sisi kreatifnya untuk membuat komposisi musik lain yang aneh namun menarik. Menarik, setidaknya bagi mereka yang kerap mengkonsumsi musik hasil eksperimentasi dan pencari bebunyi yang tidak biasa.
Press Release: Album Untuk Munir
“Untuk Munir”
Album Para Pencari Keadilan
“Mengenang Munir harus dengan semangat. Rock penuh semangat.” [Full Respect]
“Banyak yang pintar dan pandai berpolitik, tapi tak setulus Munir.” [Asfinawati]
Musik adalah bahasa universal yang bisa dinikmati oleh semua orang. Bahasa musik acap kali dipakai untuk mengenang kejadian-kejadian lampau yang mengandung momen sejarah, baik itu individual maupun kolektif. Musik juga kerap dipakai untuk menyebarluaskan gagasan, protes, bahkan cita-cita. Pada kedua konteks itulah, nilai musik menemukan ruang, waktu dan citranya.
Terkait dengan musik, Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (KASUM) dan kantor berita radio KBR68H sejak akhir tahun 2007 hingga sekarang menggelar serangkaian kegiatan lomba cipta lagu untuk Munir. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai bagian dari rangkaian kampanye penuntasan kasus Munir dan penyebarluasan gagasan serta keberanian Munir dibidang Hak Asasi Manusia.
Rangkaian kegiatan tersebut berupa, pengumpulan materi lagu untuk lomba, penjurian, pengumuman pemenang, produksi album dan launching. Untuk itu dengan penuh kerendahan hati, kami mengharapkan kerjasama dan bantuan dari teman-teman radio dalam mempromosikan album “Untuk Munir”.
Kegiatan ini didukung dan melibatkan banyak pihak. Ada Jockie Soerjoprajogo [musikus] dan Trie Utami [penyanyi] yang bersama Usman Hamid [aktifis] menjadi juri dalam lomba cipta lagu. Mereka telah menilai 132 peserta lomba dengan penuh pemaknaan dan penghayatan hingga mampu memilih sepuluh lagu terbaik dengan berbagai jenis aliran musik, mulai dari rock, blues, jazz hingga alternatif.
Album ini juga merupakan cermin bagaimana orang-orang menilai dan melihat sosok Munir. Para artis yang dalam kesehariannya punya aktifitas yang beraneka, mulai dari anak band, PNS, praktisi hukum sampai penjual soto. Mereka menerjemahkan sosok Munir ke dalam lirik dan syair lagunya sesuai dengan pengetahuan dan pengenalan mereka akan tokoh Munir, kiprahnya sebagai pejuang hukum dan HAM, serta kasus pembunuhan yang dialami.
Asfinawati adalah artis yang cukup dekat dengan figur Munir. Ketua LBH Jakarta ini menulis lagu ’Cahaya’. Sepertinya, ia mencoba merasakan, menyelami dan masuk ke dalam diri Suciwati, istri Munir, sosok perempuan yang ditinggal pergi pasangan hidup untuk selamanya. ’Cahaya’ dikemas dengan sentuhan jazz dengan suara piano yang dominan.
Di tengah kemarau tokoh pahlawan, Munir dianggap bisa mewakili figur ini. Munir dipandang sebagai pejuang yang berani, tidak kenal lelah, tulus, tanpa pamrih. Ada dua lagu yang menempatkan Munir sebagai sosok pahlawan. Doddy BJ dengan lagu ’Pahlawan Sejati’ dan Neps dengan ’Selamat Jalan Pahlawan Hak Asasi’. Doddy adalah PNS di Yogya merangkap penyanyi kafe. Sementara Neps adalah sebuah band keluarga dari Jakarta beranggota Dama Gaok [ayah – drummer], bersama keempat anaknya: Dosi [Bass & Vocal], Mila [Keyboard], Greep [Guitar] dan Riva [Violin].
Manusia langka. Itulah pendapat Jeffar L. Gaol, seniman musik yang karyanya sering dipakai untuk pertunjukan teater dan sinetron. Saking langkanya, ia yakin tidak akan lahir Munir-munir yang lain. Jebolan IKJ ini mempersembahkan lagu ’Blues Untuk Munir’. ”Munir adalah seseorang dengan gagasan yang membuat kita lebih manusiawi dan humanis,” ujarnya.
Munir adalah juga inspirasi di tengah rasa takut. Ia senantiasa menyalakan lilin-lilin keberanian ke sekelilingnya. Hidupnya penuh dengan perjuangan dan teror. Watak berani membela kebenaran ini memberi inspirasi Amir Sadewo, si penjual soto dengan hobi main gitar, untuk menulis lagu ’Masihkan Kita Takut’. Lewat karyanya, Amir berpesan bahwa orang tidak boleh melakukan kekerasan, penghilangan, pemaksaan kepada yang lain.
Nama arsenik lansung melejit bersamaan dengan pembunuhan Munir. Ini adalah sejumput serbuk racun yang menghentikan nafas Munir kala terbang bersama Garuda ke Belanda tahun 2004. ‘Arsenikum’ dipilih oleh Rengga Yudhistira sebagai judul lagunya untuk menandai momentum pembunuhan Munir.
Munir adalah tokoh besar yang membela orang-orang kecil. Hari-hari Munir tidak beda dengan kebanyakan. Naik motor ke kantor. Gemar ngelus-elus ayam jago sebagai hobi kala di rumah. Hidup Munir dipertaruhkan buat sesama. Ben & Friends, band dari Bandung, memetik potret Munir ini ke dalam lagu ’Before You Go’ yang kental dengan sentuhan country. “Buat Munir, gitu. Apa sih yang nggak kita korbanin? Munir aja berkorban untuk kita,” kata Ben.
Lagu ‘Untukmu’, lahir dari tangan Nur Iman oleh sebab yang terbilang sepele. Ia bertetangga dengan seorang dokter. Namanya Jamal, adik kandung almarhum Munir. “Biar Jamal dengar,” ujar Nur Iman.
Lagu ’paling keras’ dalam album ini adalah ’Mr. Ham’ karya Full Respect. Sebetulnya, lagu ini tidak dibuat khusus untuk Munir, tapi diakui terinspirasi oleh kematian Munir. Band bawah tanah yang diawaki diawaki Pay, Gana, Dedi, Tomi, Dani dan Nyong Kunci ini memang spesialis band berlirik kritik sosial. “Mengenang Munir harus dengan semangat. Rock penuh semangat,” kata Pay.
Aliran Modern Funk Rock juga hadir di album Untuk Munir lewat lagu ’Pain’, karya Ovalenz. Band asal Sidoarjo, Jawa Timur ini menulis lirik lagu Munir dalam bahasa Inggris seperti lagu ‘Before You Go’. Formasi Ovalenz adalah Rima [vokal], Ryan [gitar], Nazar [bass] dan Tito [drumer]. Band yang meraih berbagai kejuaraan ini punya motto : Life for Music not music for Life!
***
Ide membuat album Untuk Munir bukan berangkat dari keinginan untuk mencicipi manisnya bisnis musik. Melainkan oleh sebuah niatan kecil untuk turut memberi dukungan moral bagi upaya pengungkapan kasus pembunuhan Munir. Jejak kematian pejuang HAM masih meninggalkan tandatanya besar: siapakah sebetulnya dalang di balik pembunuhan.
Sejauh ini, upaya membuka dengan terang kasus Munir sudah banyak dilakukan oleh berbagai kelompok melalui jalur hukum dan politik. Tanpa meninggalkan apa yang sudah dilakukan, kami mencoba menggaungkan isu Munir lewat bahasa yang lebih bergaya dan populer. Membuat album musik menjadi pilihan sebab musik adalah bahasa universal.
Dengan album musik, Munir yang tadinya hanya menjadi urusan para pegiat HAM, aparat keamanan dan konsumsi politik para politikus, diharapkan bisa masuk ke komunitas dan ruang-ruang yang kental dengan gaya hidup dan budaya pop. Minimal orang akan bertanya: ”Siapa sih Munir? Kenapa Munir?”. Album Untuk Munir sekaligus merupakan cara kami memberi semangat kepada pemerintah untuk tidak ragu membuka tabir di balik pembunuhan. Keadilan Untuk Munir, keadilan bagi kita semua.
Eko Sulistyanto
Head of Promotion KBR68H
021-8513386
021-8513002 [fax]
08161314906
Album Baru Efek Rumah Kaca Segera Dirilis
Tepat sebulan lagi, Jumat, 19 Desember 2008, sophomore album Efek Rumah Kaca, Kamar Gelap resmi dirilis. Banyak yang menilai rilisan kedua ERK ini terlalu cepat, karena hanya berselang setahun lebih sedikit dari debut album self-titled mereka. Walau demikian, tak sedikit pula yang menantikan rilisan baru ini. Entah karena sudah bosan dengan materi-materi lama dari album pertama atau memang penasaran dengan karya satir lewat lagu-lagu mereka, yang jelas ERK memiliki stok lagu yang cukup hingga beberapa album ke depan.
Jadi, maklum saja kalau mereka juga tak mau berlama-lama menimbun karya-karyanya. Dua belas trek sudah mereka rampungkan dan siap memanjakan kuping-kuping kalian. Apakah kontennya akan seterpuji album pertama mereka, ataukah justru kritikan yang akan menghujani? Kalian akan bisa mengomentarinya nanti.
Sedikit bocoran saja, perpaduan audio & fotografi memenuhi artwork sampul album Kamar Gelap. Ada 12 foto hasil bidikan, temuan dan gubahan Angki Purbandono, aktivis fotografi ruang mess 56, Jogja yang direncanakan sejak bulan Juni lalu untuk dijadikan cover dan pelengkap kemasan album Kamar Gelap. Dan rencananya, 12 foto karya Angki tersebut akan dipamerkan pada saat peluncuran album kedua ERK.
Bocoran lainnya, ERK akan mengeluarkan 2 versi packaging rilisan album ini, yaitu versi CD dan versi bajakan. Untuk versi CD ukuran dan style-nya akan sama seperti layaknya CD, tapi di dalamnya disertakan 12 foto-termasuk front cover dan back cover. Sedangkan untuk versi bajakannya adalah bentuk ”paket hemat”-nya agar semua khalayak dapat menikmati juga ide-ide dari ERK. Namun, versi bajakan ini tampilannya tentu akan berbeda dengan versi CD.
Sedangkan mengenai konten lagu album Kamar Gelap, apakah hasilnya mengecewakan atau tidak? Rapi atau terkesan buru-buru? Akan dipuji atau dicaci? Semuanya akan kami ulas setelah album mereka resmi rilis pertengahan Desember nanti. Tapi bukankah materi pre-rilisnya sudah ada yang dibawakan beberapa di setiap aksi panggung ERK? Bahkan dalam kesempatan wawancara di Radio Otomotion bulan Juli lalu, 5 materi album Kamar Gelap seperti Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, Jangan Bakar Buku, Mosi Tidak Percaya, Lagu Kesepian dan Ballerina untuk kali pertamanya di udarakan.
Begitu juga ketika ERK tampil dalam acara pameran foto tunggal Ary Sendy di galeri Ruang Rupa bulan Ramadhan, 19 September lalu. Malahan dalam showcase tersebut hampir semua bocoran lagu di album Kamar Gelap dibawakan. Jadi, saya pikir pastilah kawan-kawan sudah bisa mereka-reka seperti apa kiranya suguhan materi lagu di album baru ERK ini.
Jadi, bersabarlah menunggu Kamar Gelap tak lama lagi. Rebelzine juga akan memuat wawancara ekskusifnya di sini.
Rebelzine.
Aksi Berisik Behemoth Pekakkan Metalheads Jakarta
Senin, 03 November 2008, Viky Sianipar Music Center tampak tak seperti biasanya. Pasalnya tempat ini biasa dipadati aktifitas baik acara musik atau acara lainnya diakhir minggu atau menjelang weekend. Tapi tidak dengan sore hingga malam hari itu. Adalah kawan-kawan dari Mighty Syndicate, promoter lokal untuk pagelaran musik-musik berisik yang mewujudkan sebuah hajatan besar diawal minggu.
Tak tanggung-tanggung band extreme metal primitive dari Polandia, Behemoth digandeng Mighty Syndicate ke Jakarta untuk menggoncang tempat itu. Behemoth datang untuk menghibur para penggemarnya di Jakarta dalam rangkaian konser promo album “The Apostasy/2007” bertajuk Asian Apostasy Tour 2008. Saya yang telah hadir sekitar pukul 16.30 di venue bersama seorang kawan lumayan penasaran dengan penampilan band yang telah eksis selama 17 tahun tersebut. Tipikal gitar, bass, drum dan vokal yang ekspresif tampaknya akan menjadi suguhan yang memekakkan gendang telinga.

Guyuran hujan yang cukup lebat & merata di Jakarta sore itu hampir membuat sepi gelaran tersebut. Walau penonton hadir sejak sore, tapi terlihat tak terlalu signifikan untuk kapasitas hall yang mampu menampung 1000 orang di Viky Sianipar Music Center. Dan sepertinya penundaan dilakukan hingga hujan benar-benar reda. Mungkin untuk memastikan limited ticket yang disediakan panitia benar-benar telah habis. Setelah hujan mulai mereda ba’da isya, barulah perlahan-lahan para metalheads lokal berbondong-bondong menghampiri ticketing. Tiket dibanderol seharga Rp.150 ribu.
Baru sekitar pukul 20.00 acara dimulai. Sebagai informasi, venue Vicky Sianipar Music Center yang digunakan untuk konser Behemoth bukanlah venue yang biasanya digunakan untuk gigs band-band lokal. Melainkan hall khusus yang berada di sebelah kanan dari pintu masuk, dekat parkiran. Walau tak terlalu besar, namun cukup eksklusif dan tertata rapih. Tribun kecil untuk rekan-rekan wartawan yang akan mendokumentasikan konserpun tersedia disini. Sehingga cukup nyaman bagi media untuk mengambil gambar dari atas tribun tersebut.

Perhelatan Mighty Syndicate pun dimulai. Band-band pendukung langsung dirundung tampil bergantian. After All Over, Funeral Inception dan Death Vomit. After All Over didaulat tampil diawal. Meski sebagian penonton masih memilih diluar ketika mereka tampil, para personil After All Over tetap tampil prima. Tak terlalu mengecewakan, walau masih terasa kosong. Di lagu ke-3 mereka sempat mengajak gitaris Siksa Kubur, Andre untuk berkolaborasi. Lumayan untuk menghibur kawan-kawan metalheads yang sedikit kecewa karena Siksa Kubur batal tampil. Japra, sang vokalis dikabarkan sakit tenggorokan. Tapi saya melihatnya tetap menyempatkan diri bergabung di kerumunan penonton.
Usai After All Over, Funeral Inception mengambil alih panggung. Penonton mulai padat dan nampaknya cukup banyak juga yang ingin melihat penampilan band ini, walau tidak demikian dengan saya. Penontonpun mulai terpancing untuk moshing dan ber-headbanging. Dibanding band sebelumnya, musik mereka lebih terisi. Sound yang mereka keluarkan terdengar maksimal. Dan lagu ‘Surga Di bawah Telapak Kaki Anjing’ sepertinya sudah familiar di kuping penonton.

Lanjut dengan penampilan Death Vomit ketika penonton sudah cukup ramai. Band jogja ini berhasil meliarkan para metalheads yang hadir sebelum Behemoth muncul. Tiga puluh menit jatah tampil mereka maksimalkan dengan baik. Setelah Death Vomit panggung dibiarkan kosong selama kurang lebih 30 menit. Penonton diberi kesempatan untuk mengambil nafas sejenak dan mengendurkan urat saraf sebelum dedengkot-dedengkot metal dari Gdansk, Polandia ini mengguncang Viky Sianipar Music Center.
Setelah dibuat lama menunggu baru sekitar pukul 22.10, Adam “Nergal” Daski (vokal/gitar), Tomasz “Orion” Wróblewski (bass), Zbigniew Robert “Inferno” Promiński (drum), dan dibantu Patryk Dominik “Seth” Sztyber (gitar) muncul dihadapan ratusan penggemarnya di Jakarta. Gemuruh penonton membahana sambil mengacungkan jari metalnya. “Goodnite Jakarta!!,” suara Negal sang vokalis terdengar garang menyapa, yang kemudian disambut penonton dengan teriakan.

Untuk setlist mereka saya tidak hafal betul. Yang jelas mereka memainkan sekitar 15-an lagu berikut tambahan encore 1 lagu. Sebagian besar lagu yang mereka bawakan berasal dari album “The Apostasy/2007”, diantaranya ‘Prometherion’ dan ‘Slaying The Prophet ov Isa’. Selebihnya dari album-album mereka sebelumnya. Seperti lagu-lagu dari album “Demigod” yaitu ‘Conquer All’ dan ‘Slaves Shall Serve’.
Di tengah-tengah pertunjukan para personil Behemoth sempat mengeluhkan merasa tak nyaman dengan jepretan cahaya kamera dari rekan-rekan fotografer dan beberapa kamera penonton. Meski demikian mereka tetap tampil menggila dan nyaris sempurna setelah itu.

Aksi keempat personil Behemoth terlihat sangat enerjik, powerfull dan tanpa lelah. Dukungan lighting yang terkesan megah dan sangat pas mengiringi hentakan musik Behemoth juga menjadi nilai tambah. Begitu juga dengan sound system yang terdengar bersih dan maksimal. Sangat berhasil membuat pekak telinga dan memusingkan kepala. Sangat keras untuk ukuran pertunjukan indoor. Bagi mereka yang larut dalam dentuman dan hentakan setiap lagu yang dimainkan Behemoth pastilah akan sangat menikmatinya. Benar-benar sebuah pertunjukkan diawal minggu yang melelahkan.
Terima kasih dan salut untuk Mighty Syndicate.
Teks: Zelva Wardi/Foto & Video: Adit Bujbunen Al Buse
ZOO – Kebun Binatang
Untuk sebagian orang mungkin belum terlalu mengenal Zoo. Tapi, bagi yang sering mengunduh rilisan-rilisan ciamik nan edan dari Yes No Wave Music, sebuah net-label yang disinyalir net-label lokal pertama asal Jogja, mungkin sudah tidak asing dengan band keren dan unik ini.
Indonesian Earthfest 2008

Green Music Foundation Presents:
Indonesian Earthfest 2008
Minggu, 14 Desember 2008, pkl.15.00 – 23.00
@ Area Hall Basket Senayan, Jakarta
HTM Rp 50.000,- (bisa dibeli di lokasi acara)
Lebih dari 50 band/musisi lokal tanah air akan berbaur dalam acara ini untuk memfasilitasi program “Musicians Social Responsibility” yang dibangun oleh Green Music Foundation dengan melakukan penggalangan dana guna menghidupkan kembali Desa Waikokak, Nusa Tenggara Timur yang secara tidak langsung terkena dampak buruk dari perubahan iklim akibat Global Warming. Desa ini merupakan target pertama dalam mendukung misi organisasi yang diprakarsai oleh Glenn Fredly ini.
Adapun tujuan dari Indonesian Earthfest 2008 ini adalah untuk mengedukasi publik mengenai isu pemanasan global yang menjadi permasalahan dunia, termasuk Indonesia. Karena Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki wilayah hutan tropis terluas di dunia.
Beberapa band/musisi lokal yang akan tampil dalam acara ini adalah:
- The Upstairs
- NAIF
- Koes Plus
- Maliq and The Essentials
- Efek Rumah Kaca
- Superglad
- Zeke & The Popo
- Ras Muhammad
- Jeruji
- White Shoes and The Couples Company
- Drive
- Soulvibe
- Sister Duke
- Marcell
- Iwa K
- Nugie
- Jikustik
- Mike Mohede
- Boomerang
- dll
Info lebih lanjut:
Taufik 0817776243 atau Stella 08161142171
Atau kunjungi www.greenmusicfoundation.net
The Trees and The Wild: Sajian Akustik Sederhana Pembangkit Optimisme

The Trees and The Wild mungkin masih asing di kuping sebagian kalian. Band ini memang terhitung baru. Terbentuk dari pertemanan masing-masing personilnya sejak bangku sekolah. Andra dan Remedy berteman sejak SMA dan pernah membuat proyek akustik bersama ketika kuliah. Sedangkan Iga adalah teman Andra di sebuah band blues, Enterprising John yang juga temannya sejak SMP. Di tahun 2006 mereka mulai mencoba menulis beberapa lagu. Beberapa karya akhirnya tercipta. Dari sanalah perjalanan The Trees and The Wild dimulai. Mereka menawarkan komposisi musik akustik yang sederhana dan memanja telinga. Mudah dicerna dan cukup minimalis.
Demagog
Oleh Jaja Jalaludin
Asa terlontar diawal sebelum sesal datang. Semoga saya, anda, kita cepat tersadarkan dari bujuk rayu demagog. Demagog yang siap menghipnotis kita di kala ada kesempatan. Kita akan dibawa ke dunia yang kita cita-citakan. Saya pun yakin, sangat yakin! Kita pasti menyukainya. Kita tidak akan ragu dengan ke-Indonesiaan-nya. Pun keberpihakannya kepada nasib rakyat. Dari kata-katanya, seolah-olah permasalahan bangsa selesai sudah. Jika masih ada yang percaya tentang Satria Piningit, bukan tidak mungkin inilah dia orangnya.
ZOO: Konsep Filosofis Modernitas Berbalut Komposisi Musik Etnis Matematis

ZOO, nama yang cukup sederhana untuk identitas sebuah band, namun sarat makna. ZOO justru menjadi nama yang sangat mewakili sebuah citra yang ingin dibangun oleh para personilnya. Ada filosofi yang jelas-jelas sangat dipikirkan. Peradaban, itulah konsep yang ingin mereka bahas dalam karya-karyanya. Peradaban modern yang makin menggeser norma tradisional dan kaidah sosial sehingga menjauhkan manusia dari kemurnian alam dan keliaran. Dan zoo (kebun binatang dalam terjemahan sebenarnya ) menjadi pengandaian yang pas untuk membahasakan konsepsi musikal ZOO.
Ghaust “Album Release Party”

Jenggo Movement Presents
GHAUST
Debut Album Release Party!
Minggu, 21 Desember 2008 @ Rossi Music Center, Fatmawati
Dimeriahkan oleh :
Fall
Denial
Kelelawar Malam
Robo Murphy
Starts @ 6 pm, bands starts @ 7 pm, HTM Rp 25.000,-
Bawa uang lebih, karena Ghaust juga akan menggelar barang dagangan (merchandise) mereka di lokasi acara.
Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan

Judul Buku : Islam dan Pluralisme (Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan)
Pengarang : Jalaluddin Rakhmat
Penerbit : Serambi, 2006
Suatu saat dalam sebuah diskusi, seorang teman baik saya melemparkan sebuah pertanyaan, “Jika kita terlahir sebagai seorang yang bukan Islam, apakah masih bisa kita masuk surga? Sedang kita sama sekali tidak mempunyai pengetahuan akan hal tersebut?” Atau, bagaimana halnya dengan orang-orang yang sudah berkontribusi besar pada kehidupan manusia tapi dia tidak menganut Islam? Seperti Mother Theresa, Gandhi dan lainnya? Segala yang telah mereka lakukan apakah lantas menguap begitu saja? Seolah Allah menutup mata dan menganak tirikan hanya karena mereka tidak berlabel Islam.
Apakah hanya Islam agama yang diterima Allah? Dengan kata lain apakah orang yang beragama selain Islam, seperti Kristen, Hindu, Buddha, akan memperoleh keselamatan di sisi Allah? Apakah non-muslim juga menerima pahala amal salehnya? Lantas, kenapa Allah tidak menjadikan semua agama itu satu saja? Apa tujuan penciptaan berbagai agama itu? Bagaimana seharusnya kita menyikapi perbedaan ini?
Pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah beberapa dari yang lain yang pada akhirnya direspon beragam bahkan berakhir menjadi kontroversi. Hal ini juga melanda saya. Yang saya terkadang heran, bukanlah jawaban logis sederhana yang memuaskan yang didapat. Tapi reaksi keras, yang sama sekali tidak argumentatif dan sering bernada emosionil. Cukup ironis memang. Di tengah pencarian akan kebenaran murni yang hakiki dari apa yang sedang diyakini malah selalu dihadapkan dengan tembok kepatuhan semu yang melupakan hal-hal bersifat nuraniah. Pada akhirnya sayapun dapat ‘mewajarkan’ orang-orang khususnya umat Islam sendiri yang pada akhirnya mengalami krisis kepercayaan pada apa yang sedang diyakininya.
Buku ini seperti mencari jawabannya dalam Al-Quran. Seperti penggalian makna sejati Islam dan agama (din), mengungkap spirit firman Allah dalam memandang agama-agama lain, dan merumuskan bagaimana kita beriman secara autentik di tengah pluralitas kebenaran itu.
Ini sebuah kutipan yang saya ambil dari buku ini, “Apakah hanya Islam agama yang diterima Allah? Jawaban kita bisa “ya” dan “tidak”. Ya, bila yang kita maksudkan adalah Islam sebagai kepasrahan sepenuh hati pada kebenaran, yang kita peroleh melalui proses pencarian yang tulus dan sungguh-sungguh. Tidak, bila yang dimaksud dengan islam adalah institusi keagamaan seperti yang tercantum dalam kartu identitas kita.”
Lalu ada lagi pembahasan dalam buku ini tentang sebuah pencarian kebenaran. Pencarian kebenaran yang dimaksud dapat mengambil kasus yang dicontohkan oleh Muthahhari (guru besar muslimin era modern). Descartes (Filsuf yang terkenal dengan postulatnya Cogito ergo Sum) dalam pencarian kebenaran, Descartes menerima Kristen sebagai agama yang benar, seraya mengatakan bahwa itulah agama yang dikenalnya dengan baik. Ia tidak menolak kemungkinan agama lain juga benar, hanya saja ia tidak mengetahuinya.
Muthahhari menulis, orang-orang seperti Descartes tidak mungkin kita sebut kafir, karena mereka tidak mempunyai sifat membangkang kepada kebenaran dan tidak menyembunyikan kebenaran. Bukankah kekafiran adalah pembangkangan dan penutupan kebenaran. Mereka adalah muslim secara fitriah. Jika kita tidak dapat menyebut mereka muslim, kita juga tidak dapat menyebut mereka kafir.
Pernyataan ini seakan merespon kenyataan ironis yang terjadi pada kondisi Islam pada saat ini. Pengkafiran sepihak. Penganggapan bahwa mazhab yang berbeda dari yang diyakini akan menyebabkan tertolaknya amal saleh seseorang. Penyempitan dan pembatasan kotak kecil ke dalam golongan-golongan tertentu yang bernama jama’ah, harakah dan kelompok satu imam yang menganggap bahwa golongan merekalah yang akan diterima.
Selebihnya buku ini juga membahas tentang telaah ulang skisme dalam Islam, pengenalan Allah (Tuhan yang disaksikan, bukan Tuhan yang didefinisikan), konsep-konsep antropologis dalam Al-Quran, alienasi dan dehumanisasi, psikologi kaum fundamentalis, ihwal ateisme dan materialisme hingga persoalan sosial-politis, seperti menyoal Negara Islam dan hak-hak rakyat dalam Islam.
Penekanan saya pada ulasan ini memang lebih ke persoalan yang lebih mendasar dalam bagaimana seharusnya kita sebagai umat Islam bersikap. Dan pastinya juga bagaimana mengubah sebuah cara pandang yang saat ini benar-benar sudah sedemikian distorsif terhadap Islam. Cara pandang yang sudah benar-benar kabur justru datang dari ‘perbuatan saleh’ orang-orang Islam sendiri.
Bagi saya pada saat ini yang dibutuhkan adalah sikap-sikap cerdas yang bisa melihat Islam dari sisi yang lebih nuraniah. Bukan tradisi semu, kepatuhan tak berdasar, fanatisme buta yangmenjadi eforia dan telah melanda umat Islam pada saat ini.
Buku ini bagi saya seperti memberikan perenungan baru sebagai sesuatu yang bisa membuat kita dapat bersikap lebih arif dan bijak dalam menyikapi perbedaan.
Cukup ‘kontroversif’, apalagi bagi ‘pemikir-pemikir’ yang menutup erat pikirannya dengan hal-hal baru atau lebih tepatnya pembaruan yang justru bersifat untuk menemukan kembali.
Teks: Adit Bujbunen Al Buse
MAE Live @ The Venue Eldorado Bandung

MAE Live in Concert
Sabtu, 10 Januari 2009, pkl 20.00 – selesai
@ The Venue Eldorado, Bandung
Untuk info lebih lanjut:
Virus Inc. Jl. Diponegoro No.10, Bandung
022 – 4268118
Islam Melawan Kapitalisme
Judul : Islam Melawan Kapitalisme
Penulis : Zakiyuddin Baidhawy
Tebal : 266 Halaman
Penerbit : Resist Book
Bukanlah sebuah utopi bila kelak tak ada lagi di muka bumi ini yang tidak sejahtera hidupnya. Sebuah jalan keluar melawan kapitalisme ala Islam dibahas tuntas di buku ini. Islam yang revolusioner menolak system ekonomi, sosial, politik dan segala implikasi moral yang telah busuk di jamannya. Bahkan hingga sekarang, Islam masih relevan untuk dijadikan jalan keluar.
Dalam sejarah perkembangan dunia sudah banyak teori-teori tentang keadilan temporer. Dari egalitarianisme radikal hingga prinsip libertarian yang dicetuskan obert Nozick. Segala prinsip tersebut awalnya merupakan buah dari rasa ketidakadilan yang sudah mengakar di masyarakat. Tetapi dalam perkembangannya, rasa keadilan yang diimpikan musnah seiring dengan munculnya berbagai implikasi yang timbul akibat penerapan prinsip-prinsip tersebut.
Kepemilikan pribadi yang didengungkan oleh para libertarianis nampaknya menemukan jalan buntu ketika dihadapkan pada sebuah kemiskinan missal. Karena dalam libertarianisme, fungsi sosial kekayaan sudah hilang. Sehingga dalam kehidupan nyata jurang perbedaan ekonomi sangat jelas terlihat. Hal ini pula yang ditolak total oleh para egalitarianis radikal. Mereka berpendapat bahwa kepemilikan kolektif adalah segalanya. Menolak prinsip bahwa manusia adalah berbeda dalam hal kebutuhan. Perbedaan adalah sunatullah, karena pada dasarnya semua adalah milik Tuhan. Begitulah yang dikatakan pengarang menepis paham egalitarian dan libertarian ini.
Islam yang berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunnah, menanggapi hal demikian sudah sangat jelas. Kepemilikan individu dibatasi, kepemilikan kolektif dijamin dan sumber daya bukanlah kepemilikan eksklusif. Batas-batas yang jelas dalam Al-Quran dikatakan sebagai jalan tengah memahami persoalan ekonomi akibat sistem kapitalisme yang ada. Perilaku konsumsi juga dibatasi dalam Al-Quran.
Mengenai masalah konsumsi manusia, Al-Quran menjawab dengan bijak. Etika Al-Quran yang ditawarkan adalah pemenuhan kebutuhan hidup secara wajar dan proporsional. Bila diterapkan akan membuat sikap antisipatif dan responsive terhadap ancaman kelangkaan sumber daya alam dan kemerosotan lingkungan nantinya. Wajar jika kita saat ini sibuk mencari energi alternative, setelah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui akan habis karena kerakusan manusia.
Dalam system kapitalisme, peranan Negara haruslah dibuat seminim mungkin. Dengan jalan memprivatisasikan milik Negara tentunya. Bila semua sector usaa Negara diprivatisasi segelintir orang, maka monopoli perdagangan bukanlah hal sulit lagi. Sehingga kewajiban Negara mensejahterakan rakyatnya menjadi utopis. Belum lagi benturan dengan system hukum yang dibuat untuk kepentingan para kapitalis.
Tentu hal ini sangat ditolak dalam Al-Quran yang berprinsip pada keadilan masyarakat seutuhnya, menolak adanya penguasaan pribadi terhadap sumber daya alam, baik yang bebas maupun yang tidak. Berkaca pada sejarah. Nabi sebagai pemimpin pada jamannya telah menasionalisasikan sumber daya alam seperti hutan, air, dan rumput. Tidak diijinkan segelintir orang untuk menguasainya.
Hal yang bisa dilakukan sekarang oleh pemimpin Negara yang mempunyai kekuasaan tentunya segera menasionalisasikan segala sumber daya alam. Hanya dengan cara itu, pintu bagi para kapitalis lewat perusahaan transnasional dan multinasional akan tertutup rapat. Tentu saja Negara sah untuk menjalankan ‘monopoli’ demi kesejahteraan rakyatnya. Akibatnya, peran pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya terbukti.
Pada level praksis Islam harus tampil sebagai agama public yang peduli terhadap problem-problem kemiskinan, pengangguran dan penindasan sosial-ekonomi lainnya. Masalah-masalah ekonomi yang disebabkan ‘jasa’ para kapitalis dan neoliberalis lewat IMF, WTO dan juga sistem free trade harus segera dihapuskan. Pesan-pesan dalam Islam pun harus mampu membangkitkan kekuatan-kekuatan protes dan perlawanan atas poros-poros neoliberalisme dan pasar bebas yang tidak pernah dapat menjawab keadilan masyarakat.
Bahasa yang digunakan Zakiyuddin sangat mudah dicerna. Zakiyuddin coba menghindari penggunaan kata-kata yang terkesan rumit dan asing. Lebih lanjut, penulis juga memberi deskripsi yang jelas tentang paham-paham yang ada di dunia dalam menyikapi permasalahan ekonomi. Ditambah dengan pandangan Islam tentunya.
teks resensi: sugeng sutrisna
Supersonic Sound Fest ’08 Tour//Jakarta

FUTURICA PRESENTS:
“SUPERSONIC SOUND FEST ’08 TOUR
Friday, December 18th @ Brewww Cafe, Kemang
Starts 5pm
HTM Rp 15.000,-
With Performances by:
- Stellarium (Singapore)
- Jelly Belly (Bandung)
- Ansaphone (Bandung)
- Sharesprings (Jakarta)
- Sarin (Jakarta)
- Mellon Yellow (Jakarta)
- Damascus (Jakarta)
- Whistler Post (Jakarta)
For more info: Ipung 021 928 1429
Bush Get The Shoes

Mungkin saya merupakan satu dari sekian banyak orang yang tersenyum simpul ketika menyaksikan momen melayangnya the magic shoes di Irak (15/12) via youtube. Bagaimana tidak, sepasang sepatu dan pemiliknya mendadak tersohor ke seluruh penjuru dunia karena kejadian tersebut. Dan sasarannya bukan orang sembarangan, George Bush, yang dikenal sebagai ‘monster’ dari AS paling berbahaya sejagad raya.
Adalah Muntazer Al-Zaidi, Jurnalis Irak dari Chanel televisi Al-Baghdadia yang sangat berani melakukan tindakan ekstrim tersebut. Kejadian mengejutkan ini terjadi dalam suasana konferensi pers bersama Perdana Menteri Irak, Nuri Al Maliki dalam rangka perpisahan Bush sebagai presiden AS.
Untuk kronologis kejadiannya sendiri saya belum tahu pasti. Dalam tayangan video di youtube, ditengah-tengah acara, mendadak Jurnalis Irak tersebut berdiri dan melepas kedua sepatunya, dan tanpa tedeng aling-aling melayangkannya ke arah muka bengis Bush. Namun sayang, Bush berhasil menghindar . Untuk lebih jelasnya anda bisa mengakses via youtube. Ada beragam dokumentasi video dari beberapa wartawan yang hadir dalam acara tersebut.
Akibat kejadian ini Muntazer Al-Zaidi diamankan pihak terkait di sana. Entah hukuman apa yang akan didapat Jurnalis ‘pemberani’ ini akibat ulahnya tersebut. Yang jelas, tindakan Al-Zaidi menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan. Pro tentunya dari mereka yang tidak menyukai Bush, salah satunya dari Presiden Venezuela, Hugo Chavez. Chavez memuji tindakan jurnalis Irak itu. Dan menurut perkembangan, Al-Zaidi mendapat dukungan penuh dari negara-negara penentang Bush. Dan yang kontra tentu saja datang dari mereka-mereka yang bernaung di bawah ketiak presiden AS yang akan segera lengser tersebut.
Namun, saya masih membayangkan jika kedua sepatu milik Al-Zaidi itu benar-benar mendarat tepat di muka Bush. Tentu saja akan menjadi hadiah perpisahan di akhir tahun yang tak akan terlupakan semasa hidup Bush.
Lalu, bagaimana nasib sepasang sepatu milik Al-Zaidi?? Seharusnya Bush membawanya pulang sebagai kenang-kenangan.
teks: zelva/rebelzine

Muntazer Al-Zaidi (Jurnalis Televisi Irak, Al-Baghdadia)
Video terkait berita ini:
http://www.youtube.com/watch?v=_RFH7C3vkK4&feature=related
Kamar Gelap dan Progresivitas Efek Rumah Kaca

Akhirnya, Efek Rumah Kaca meluncurkan album terbarunya Kamar Gelap. Sebuah titel album dan juga judul lagu yang sangat mewakili identitas bermusik ketiga personilnya, Cholil (vokal/gitar), Adrian (bas), dan Akbar (drum). Jika dilihat dari judulnya, rilisan ini terkesan lebih gelap, tapi sebenarnya tidak demikian. Di album kedua ini karya-karya ERK justru lebih variatif dibanding album pertama. Tembang riang yang memunculkan imej nakal dan genit lewat single pertama Kenakalan Remaja di Era Informatika bisa menjadi bukti betapa mereka lebih agresif dan terbuka. Sound di lagu ini terdengar lebih indie rock. Belum lagi di lagu lain macam Mosi Tidak Percaya dengan spirit punk yang menggebu-gebu. Disini, mereka berani menunjukkan sisi ekstrovert-nya yang kontras dengan debut self-titled mereka yang introvert. Itulah kenapa album ini tidak lebih gelap dari debut rilisan mereka pada 2007 lalu, tapi justru lebih terang. Mereka ingin terus berkembang, malahan kalau bisa berubah. Tentu saja untuk karya-karya baru yang lebih baik dan makin menjanjikan. Berikut hasil wawancara kami dengan Cholil sang vokalis.
We Are Pop! Vol.7 “Farewell Edition”

We Are Pop! Vol. 7 “Farewell Edition @ The End Of This Year”
Sunday, 28th December 2008
@ Heyfolks! Jl. Bumi No.17, Mayestik-Jakarta Selatan
Starts 12pm-8pm
Performances:
- Ballads of The Cliche
- Candyfloss
- Doet Maoet
- The Emergency Kisses
- The Ellise
- Funny Little Dream
- Innocenti
- Its Different Class
- Mam
- Ruby and the Long Story
- The Trees and The Wild
- Whistler Post
- White Shoes and The Couples Company
And it’s all FREE!!
Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau
Seperti kita ketahui, Sumatera Barat merupakan daerah yang kental religiositasnya. Apapun kepercayaan yang berkembang, Sumatera Barat tetap menjadi basis agama Islam yang kuat. Penulis tertarik membukukan fenomena ini sekaligus mengangkat cerita pahlawan kita yang terlupakan, Tan Malaka. Bahkan menurut seorang peneliti Departemen Sosial, Tan Malaka dianggap “off the record” dalam sejarah orde baru. Kemunculan dan kematiannya kini masih simpang siur. Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tahu kuburnya.
Inside The Death Camp

Hidup segan mati tak mau. Ungkapan itu menggambarkan kehidupan kaum Yahudi dan bangsa Slavia di masa pemerintahan NAZI-Hitler. Beberapa diantaranya beruntung hanya mengalami diskriminasi oleh masyarakat. Sisanya harus menelan pil pahit di kamp konsenterasi. Sampai saat ini keberadaan kamp konsenterasi, terutama tragedi Holocaust sendiri, masih menyisakan tanda tanya besar. Benarkah NAZI merajalela di Eropa?
Kira Kira – Our Map to the Monster Olympics

Kira Kira plays toymusic, cozy draculateeth scary dreamy. She runs Kitchen Motors With Hilmar Jensson & Johann Johannsson and stages hauntings-filmed on super 8, recorded on the pocket Dictaphone. She’s making a film about Sigriour Nielsdottir with Orri, Inga & Maggi. Kira Kira also makes radio shows for Ras 1 in Iceland about eccentric music. Her debut album , Skotta came out on Smekkleysa (Bad Taste) in 2006 and her second LP, Our Map to the Monster Olympics will be out on May 1st 2008.
Siapa bilang monster selalu menyeramkan? Pernahkah Anda membayangkan sekumpulan melankolik dan beberapa manusia bersama-sama bergabung membentuk sebuah ensembel. Mereka bersama-sama memainkannya dalam sebuah gudang yang penuh mainan anak-anak dan alat-alat rumah tangga. Lalu keluar bersama-sama membentuk parade sendu yang romantik di pelataran ilalang yang berangin.
Lebih Baik Aku tak Masuk Surga
Oleh Sasmito
RANI, namaku. Kata ibu, aku lahir bersamaan dengan munculnya gerhana matahari, tepat pukul 12.00 siang tangis pertamaku terdengar di dunia yang penuh kepalsuan ini. Tangis yang hanya aku sendiri yang mengerti. Tangis yang bagi orang di sekelilingku adalah tangis kebahagiaan. Tapi tidak bagiku. Tangis ini adalah tangis ketakutan terhadap dunia. Dunia busuk yang selalu berlindung di balik bungkus. Bungkus yang menjadikan kejelekan manusia terlihat sebagai kebajikan.
Keriaan Akhir Tahun Para Penikmat Indie di We Are Pop! Vol. 7 (28.12.08/Jakarta)

Minggu, 28 Desember 2008, saya sengaja menyempatkan diri untuk menyaksikan acara reguler penikmat musik indie pop di Jakarta, We Are Pop! Vol. 7. Gelaran ini seperti biasanya diadakan di beranda Heyfolks!, Mayestik, Jakarta Selatan yang merupakan markas dari band Ballads of the Cliché sekaligus official store mereka.
Saya tiba di lokasi acara sekitar pukul 17.00. Sangat telat memang, karena menurut jadwal acara dimulai sejak pukul 12.00 siang. Line up band yang akan tampil kali ini cukup banyak, ada 14 band. Saya melewatkan 7 penampil yang sudah memainkan set mereka sejak siang, Ruby and the Long Story, Candyfloss, Mam, It’s Different Class, Douet Maoet, The Emergency Kisses dan Funny Little Dream.

Sayang, tidak sempat melihat mereka. Ada beberapa dari band tersebut yang belum pernah saya lihat aksi panggungnya. Ya, mungkin saja ada yang menyuguhkan sesuatu yang sedikit berbeda. Jujur saja, cukup jenuh juga jika datang ke sebuah pagelaran musik, kemudian melihat band-band yang tampil memainkan musik setipe tanpa menawarkan sesuatu yang baru.
Ketika menginjakkan kaki di lokasi, saya sudah disambut dengan permainan musik pop ringan nan ceria dari The Ellise. Band dengan vokalis perempuan ini merupakan salah satu jebolan kompilasi rilisan Nu Buzz Network, “Nu Buzz 1.1”. Dan sepertinya sudah lagu penutup yang mereka bawakan sore itu, karena lantunan single ‘Musik Itu Indah’ yang terakhir saya dengar.

Oiya, sebagai informasi di We Are Pop! Vol.7 kali ini ada 2 panggung kecil yang amat sederhana yang sepertinya sengaja disediakan oleh panitia. Mungkin saja hal ini dilakukan karena deretan penampil kali ini terhitung yang terbanyak. Satu panggung baru tepat berada di depan pintu masuk “Quick Print” yang kabarnya telah dikosongkan dan akan diperlebar untuk bangunan Heyfolks! dan Komunitas Lomonesia. Harlan yang merupakan penampil selanjutnya terlihat sudah bersiap-siap di panggung ini.
Vokalis band almarhum C’mon Lennon ini jadi semakin sering saja tampil. Padahal dulu ia pernah berseloroh kepada saya sudah letih untuk tampil nge-band. Dan kini ia muncul kembali dibantu David Tarigan (gitar) dan Acum/Bangku Taman (bass) dengan format band namun beridentitas solo menggunakan namanya, Harlan.

Harlan yang akrab disapa Bin, sekarang mungkin lebih dikenal sebagai personal manager Efek Rumah Kaca. Hasratnya untuk bermusik nampaknya masih menggebu-gebu hingga ia membuat proyek solo-nya ini. Penampilan Harlan sore itu terkesan dadakan, spontan dan insidental. Gaya bernyanyinya masih kuat terdengar seperti ketika ia masih bersama di C’mon Lennon.
Harlan adalah penampil terakhir sebelum jeda maghrib. Usai penampilan Harlan ada sedikit waktu bagi saya dan beberapa teman untuk melonggarkan saraf-saraf otot dan menunaikan shalat maghrib di masjid yang tak jauh dari lokasi acara. Usai shalat maghrib kami kembali ke venue, dan terlihat Innocenti sudah mengambil alih panggung. Saya tidak terlalu akrab dengan lagu-lagu yang mereka bawakan, karena ini kali pertama juga saya menyaksikan band ini. Namun suara bernyanyi yang khas dari sang vokalis dan keramahannya menyapa penonton mendapat apresiasi tersendiri dari saya (mungkin juga penonton yang lain).

Innocenti turun saya pun memutuskan turun dan keluar dari venue. Lelah juga berdiri di kerumunan yang semakin sesak. Harus pintar-pintar mencari celah untuk mendapatkan ruang berpijak dan sudut pandang yang nyaman. Menurut rundown, penampil selanjutnya adalah Luky Annash. Lagi-lagi saya harus melewatkannya. Di luar saya mencari sedikit ruang gerak dan melepas dahaga dengan meneguk air mineral yang sengaja saya bawa dari rumah.
Penampil berikutnya adalah Whistler Post. Saya kembali ke venue. Namun kali ini saya memutuskan untuk menyaksikan dari sisi yang lain, tepatnya di pinggir jalan dimana sebagian penonton juga banyak yang berdiri. Di sudut inilah saya berdiri hingga acara usai menyaksikan empat band terakhir. Setelah Whistler Post band tuan rumah Ballads of the Cliché kembali bersiap-siap. Bagi mereka acara We Are Pop! Vol.7 kali ini cukup mengharukan. Pasalnya, keyboardist mereka Fino memutuskan hengkang dari band untuk fokus di bisnisnya. Dan malam itu adalah penampilan terakhir Fino bersama rekan-rekan satu band-nya.

Ada beberapa momen spesial yang mungkin tidak akan dilupakan Fino malam itu. Bobby sang vokalis memberikan kenang-kenangan berupa foto mereka yang sudah dibingkai dan beberapa buah balon gas yang diikatkan flyer acara. Di beberapa lagu Fino juga didaulat bernyanyi sendiri tanpa Bobby. Puncak keharuan mungkin terasa ketika orangtua Fino juga hadir di venue dan saat lagu terakhir dimana Ballads of the Cliché membawakan tembang ‘Can’t Smile Without’ You milik Barry Manilow. Ya, sebuah perpisahan memang menyesakkan. Terlebih ketika kebersamaan telah terjalin cukup lama. Secara penampilan tidak ada yang menarik dari Ballads of the Cliché selain momen-momen di atas. Apalagi dari tujuh kali penyelenggaraan We Are Pop! Mereka tampil enam kali. Kalau bukan die hard fans mungkin akan bosan melihat mereka.
Bersiap di panggung satu lagi The Trees and The Wild. Sepertinya mereka yang saya tunggu-tunggu. Rebelzine sempat penasaran dan akhirnya mewawancara mereka beberapa waktu lalu (silahkan lihat di halaman wawancara). Buat saya mereka yang tampil sangat baik malam itu walau preparing-nya cukup lama. Kira-kira jam 21.30 mereka baru bermain. Sekitar 5-6 lagu dengan komposisi akustik yang sederhana namun matang berhasil mereka bawakan dengan sangat apik dan memikat. Gaya bernyanyi sang vokalis sekilas mengingatkan saya pada John Mayer & Dave Matthews. Apresiasi penonton untuk kali pertama melihat mereka tampil di gelaran ini baik sekali.

Tahun 2009 nanti bisa jadi awal yang baik untuk band ini. “Lil’fish Records”, label rekaman yang pernah menaungi Pure Saturday dan The Morning After akan memproduksi debut album penuh The Trees and The Wild bulan Februari. Saya setuju jika band ini merupakan the next big thing dari ranah indie pop. Kita nantikan saja kiprahnya…
Keriaan akhir tahun kali ini ditutup dengan manis oleh White Shoes and The Couples Company. Sudah tak diragukan lagi penampilan mereka. Mereka salah satu penampil yang sangat ditunggu. Saya juga tidak bosan melihat mereka. Mereka selalu tampil maksimal. Dan pastinya selalu menghibur. Mereka memainkan set-list andalannya dan beberapa lagu baru yang akan masuk rilisan kedua mereka di tahun 2009 nanti. Lagu ‘Aksi Kucing’ mengakhiri penampilan White Shoes and The Couples Company malam itu. Namun, penonton nampaknya belum puas hingga akhirnya band ini memainkan satu lagu tambahan, ‘Windu Defrina’ dan benar-benar menutup keseluruhan rangkaian acara We Are Pop! Vol.7.

Gelaran We Are Pop! siang hingga malam hari itu terhitung yang teramai. Ratusan indie pop’ers langganan dari berbagai sudut kota Jakarta dan sekitarnya berkumpul di area (tepat di pinggir jalan) yang dipaksakan dibuat representatif itu. Sebagian penonton yang mendapatkan sudut pandang yang tepat untuk menyaksikan acara terpaksa harus duduk, sebagian yang lain mau tak mau harus berdiri. Beruntung acara hari itu luput dari guyuran hujan walau sesekali angin bertiup kencang.
Semangat panitia dan kelompok musik yang mau tampil di acara ini patut diacungi jempol. Acara komunitas kecil yang rutin (per 3 bulan) seperti ini memang jarang sekali bisa ditemukan kini. Band-band yang tampil juga kabarnya tak mendapatkan kompensasi profesional secara finansial. Simbiosis mutual antara pihak penyelenggara dan pengisi acara hanya berbentuk ruang untuk menitipkan produk rekaman para pengisi acara dan sejumlah merchandise mereka yang nantinya hasil dari penjualan akan dibagi rata antara kedua belah pihak.

Sedangkan bagi pengunjung acara, event ini gratis. Siapa saja bisa menyaksikan penampilan band-band kesayangan mereka tanpa harus merogoh kocek sepeserpun. Nikmati acara tanpa harus bereskpektasi akan suguhan yang berkesan megah, wah, dengan panggung besar dan sound system maksimal. Acara ini murni digagas dengan alasan untuk berbagi kesenangan antara pengisi acara dan penikmat musik yang hadir. Jadi, nikmati saja…
teks: zelva, foto: pai “dzeek”/rz
Gaza: Episode Tiada Akhir Sebuah Genosida
Oleh Adit Bujbunen Al Buse
Empat berbanding empat ratus nyawa (hingga tulisan ini dimuat -red)? Sebuah harga legalitas untuk menghantam balik sebuah ‘serangan’ beladiri dari sebuah negeri yang terus-menerus digempur dan digempur. Pembenaran untuk mensahkan niatan keji dan misi-misi yang sudah terlihat jelas sejak puluhan tahun silam. Tak usah berbicara sistem pembakaran sawah untuk mencari sebuah sarang tikus. Karena bukan tikus yang benar-benar dicari di sini. Tapi memang bumi-hangus dari sawah itu sendiri! Sebuah genosid!
Saya Seorang Penggemar, Bukan Seorang Fanatik!
Oleh Fajri Siregar
Mari bayangkan dahulu gambaran di bawah ini:
Muda-mudi dressed up alias berpakaian dengan maksimal untuk mengekspresikan diri. Mulai dari sepatu kets buluk, boots yang kalau bisa DocMart, celana mincut (atau pensil, terserah apalah namanya) atau bermotif kotak-kotak ala Jimmy Danger, kaos band, kemeja flanel, dan tidak lupa kacamata nerd. Biasa? Memang. Yang namanya penggemar pasti ingin menyerupai idolanya.
Black Star Bersiap Meluncurkan Album Perdana

Awal tahun ini nampaknya akan banyak dimanfaatkan oleh band-band lokal untuk menetaskan rilisannya. Salah satunya adalah Black Star. Band indie rock/alternative ini akan merilis secara resmi debut self-titled mereka pada 26 Februari 2009 dibawah payung Fiasco Records ―seperti yang diberitakan kepada kami. Sebelumnya Fiasco Records pernah menangani album Asa milik Lipgloss di tahun 2007.
Sebagai sebuah band yang bisa dikatakan cukup berpengalaman dalam menjajaki panggung perhelatan indie tanah air, Black Star sudah sewajarnya memiliki album penuh. Karena itulah Emir (vokal), Alul (gitar), Yudi (gitar), Q-nos (bass), Ine (keyboard) dan Roby (drum) terlihat menunjukkan keseriusannya selama 6 bulan berkutat di studio rekaman guna merampungkan karya-karya mereka.
Di album perdana ini Black Star menyuguhkan 10 lagu yang memiliki dominasi tema yang cukup jarang ―atau mungkin belum pernah― diangkat oleh sebuah band, yaitu berbicara mengenai gejala penyakit. Tema besar yang mungkin belum biasa dipotret oleh band lain untuk kemudian dikaryakan. Tak hanya berbicara penyakit fisik namun mereka juga merekam fenomena penyakit psikologis dan penyakit sosial. Sekilas mungkin Black Star memiliki tujuan yang sama dengan apa yang ingin disampaikan Efek Rumah Kaca lewat lagu-lagunya, yaitu memotret fenomena. Hanya saja bedanya tema mereka lebih sempit berkisar tentang fenomena penyakit, seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Dari 10 lagu yang ada, sekitar 6 atau 7 lagu mewakili tema tersebut, di antaranya: Abnormal (mengisahkan tentang penderita disleksia), Insomniac (gejala susah tidur), Schizofrenia (berbicara mengenai penderita keterasingan/suka mengasingkan diri), Pedofilia (gejala kelainan seksualitas), dan beberapa trek lainnya. Untuk sebuah karya audio bisa dibilang konten yang mereka suguhkan terbilang unik. Belum ada band yang seserius mereka ―untuk konteks lokal― memikirkan tentang hal ini. Dan mereka melakukannya.
Untuk sosialisasi promosi, Fiasco Records terlebih dahulu men-share singel pertama Abnormal (versi akustik feat. Cholil ERK) ke publik sebelum versi fisik CD-nya benar-benar dipasarkan. Silakan unduh secara gratis lewat situs www.deathrockstar.info dan www.myspace.com/blackstarduniabaru mereka.
Rebelzine.
Mocca Akan Meramaikan “Mosaic Music Festival 2009 – Singapore”

Untuk kesekian kalinya band indie-pop lokal kita, Mocca akan tampil di kancah festival musik internasional. Untuk kesempatan kali ini Mocca akan meramaikan sebuah festival musik international di Singapura, yaitu “Mosaic Music Festival”/13 – 22 Maret 2009.
Sebagai informasi acara ini merupakan festival musik tahunan yang diadakan oleh “Esplanade – Theatres on the Bay Singapore”. Beberapa artis terkenal mancanegara yang pernah bermain untuk gelaran yang diadakan sejak tahun 2006 ini adalah Earth Wind & Fire, Kings of Convenience, The Bird and The Bee, Jagga Jazzist, Incognito, Sondre Lorche dan Jason Mraz.
Dan di tahun 2009 artis kenamaan yang akan tampil adalah Brian McKnight, Battles, Old Man River, Electro Green, Melanie Pain, The Cinematic Orchestra (ingin sekali melihat grup ini -ed), Indigo Girls dan banyak lagi (selengkapnya lihat di sini).
Mocca sendiri akan tampil pada tanggal 15-16 Maret 2009 di Nokia Music Station (Outdoor Theatre) dan Haagen-Dazs Living Room. Berikut jadwal lengkapnya:
- Mocca Show at Nokia Music Station (Outdoor Theatre), March 15th 2009, 07.00 – 07.30pm & 10.40 – 11.30pm.
- Mocca Show at Haagen-Dazs Living Room, March 16th 2009, 07.15 – 08.00pm (accoustic).
Selain Mocca, dari Indonesia ada musisi lain yang juga turut andil dalam acara ini, yaitu Andre Harihandoyo dan Sonic People.
Semoga Indonesia kian banyak mengekspor musisi-musisi kenamaan lainnya untuk berkiprah di negeri orang. Support our local musicians!! (rz)
For more info:

United We Care : Charity Untuk Robin Hutagaol “NOXA”

Sehubungan dengan berita ini saya baru benar-benar mendengarnya tadi pagi. Andre dari Solucites Metal Concert menjelaskan sedikit kronologis mengenai kecelakaan tragis yang menimpa Oxen a.k.a Robin Hutagaol lewat wawancara via telepon di radio prambors Jakarta. Robin mungkin lebih dikenal di ranah musik rock/metal tanah air sebagai drumer band kuartet grindcore NOXA.
Robin yang kini masih terkulai tak sadarkan diri di RS. Husada Mangga Besar, ditabrak oleh oknum pengendara mobil tak bertanggungjawab pada 12 Januari 2009 kemarin. Keadaan Robin seketika setelah mengalami tabrakan cukup parah, hingga helm yang dikenakannya saat mengendarai sepeda motor pecah.
Untuk itu, sebagai bentuk kepeduliannya Solucites Metal Concert akan mengadakan sebuah acara amal untuk Robin bertajuk “United We Care”. Solucites menggandeng 25 band lokal kita dari genre rock/metal untuk turut serta tampil dalam rangkaian ini. Beberapa di antaranya adalah Netral, Dreamer, Trashline, Paper Gangster, Purgatory, NOXA, Funeral Inception, Divine dan banyak lagi. Selengkapnya bisa dilihat di www.solucite.com.
Rangkaian acara ini adalah gelaran non-profit. Seluruh keuntungan dari penjualan tiket seharga Rp 20.000,- dan penjualan merchandise serta CD dari Solucites Records pada saat acara akan didonasikan untuk membantu kesembuhan Robin.
Detail acara : United We Care
Waktu : Minggu, 25 Januari 2009, mulai Pukul 10.00
Tempat : Bulungan Outdoor
HTM : Rp 20.000,-
Mari datang dan beri dukungan untuk kesembuhan rekan kita, Robin. Be there!!
(zelva wardi/rz)
Pergi Dengan Tenang: Robin Hutagaol ‘NOXA’

Setelah kurang lebih satu minggu dirawat di rumah sakit, kini Robin Hutagaol ‘NOXA’ menuju rumah peristirahatan. Robin dipastikan dokter menghembus nafas terakhir pukul 03.47, sabtu dini hari tadi (17.01.09) di RS. Husada Mangga Besar.
Robin adalah figur yang dihormati, terutama di ranah musik rock/metal tanah air. Sebagai duta musik ekstrim Indonesia, Robin merupakan salah seorang yang membawa nama harum musisi lokal ke kancah musik ekstrim international. Terlalu banyak keriaan dan momen-momen indah yang ditinggalkan almarhum untuk kembali dikenang.
Duka yang mendalam bagi keluarga dan kita semua..
Mewakili rekan-rekan musisi, fans, event organizer, label, media dan segenap elemen musik yang pernah berjuang bersama-sama, kami editor & penggiat Rebelzine turut kehilangan. Semoga Robin mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Amiin..
(rz/foto: solucite.com)
Dosa-dosa Media Amerika

Sebuah media berita dapat diibaratkan sebagai jembatan yang menghubungkan kita dengan dunia. Akan tetapi, jika media yang dipercaya sudah tak dapat lagi dipercaya, apa yang harus kita perbuat? Buku inilah sebuah jawaban. Buku ini mengajarkan kita untuk melihat kebenaran dari sebuah berita mengenai berbagai hal, melihatnya dari mata kita sendiri, bukan dari mata orang lain. Artinya, jangan pernah ragu untuk memverifikasi sebuah berita, terutama dari media barat, dalam hal ini Amerika.
Pure Saturday Concert

Toi Et Moi Present :
A Pure Saturday Concert “Time to Change, Time to Move On”
Sunday, 25th January 2009 @ GSG Itenas Bandung
Start from 07.00pm – till end
Presale Ticket :
25.000 IDR + Merch
Royal Queen
Jl. Ternate No. 8
For more info :
Tissy 022-92171766 / Dinda 0857 2012 3266
Series Two Compilation – Indonesian Talents

Ini adalah beberapa kompilasi yang dirilis oleh Series Two Records. Series Two Records adalah sebuah label yang berbasis di Columbus, Nebraska, Amerika Serikat dan menelurkan produk rilisannya dalam format CDR untuk pangsa internasional. Label ini menampung buah karya dari band-band bergenre indie Pop, shoegaze, electronic, ambient dan sejenisnya dari berbagai negara. Hingga saat ini, rilisan kompilasinya yang bertajuk “Series Two Compilation” sudah sampai pada Volume 23. Sembilan kompilasi baru resmi didistribusikan ke negara-negara Amerika, Eropa, Asia, Australia, dan Amerika Latin pada 20 Januari 2009 kemarin.
Dari 9 kompilasi yang baru saja dirilis tersebut, terdapat 4 kompilasi “Series Two Compilation” Vol.20/21/22/23 yang melibatkan 7 karya band/musisi Indonesia. Band/musisi tersebut adalah Emergency Kisses (Bandung), Daro (Gresik), Mataharibisu (Jakarta), Danive (Bandung), Cuddle Pop (Bandung), Spring/Summer (Bandung) dan August. Dalam kompilasi tersebut, mereka berbagi ruang bersama band-band dari Amerika, UK, Swedia, Jepang, Belgia, Perancis, Jerman, Spanyol, dan banyak lagi.

Band-band Indonesia yang ikut andil dalam rilisan ini bisa dibilang kurang terdengar di scene indie pop lokal. Tapi bukan berarti karya mereka tidak bagus. Dengan keterlibatan mereka dalam kompilasi ini membuktikan bahwa karya mereka juga patut diperhatikan.
Daro misalnya. Band ini berasal dari Gresik, sebuah kota di Jawa Timur yang mungkin sulit untuk akses perkembangan musik indie berkualitas dibanding Jakarta atau Bandung. Salah satu personilnya pernah mengirim pesan kepada saya bahwa, perkembangan musik di sana sangat mengkhawatirkan. Gempuran band-band mainstream dengan konten seputar selingkuh, patah hati dan cinta monyet, benar-benar berhasil menghipnotis daerah itu. Untuk menemukan talenta musik berkualitas bisa terbilang langka. Dan Daro muncul untuk setidaknya berusaha ‘menyelamatkan’. Mereka mengusung komposisi swedish indie pop yang ear cathcy dengan balutan materi ala Belle and Sebastian. Jika Jakarta punya Ballads of The Cliché, Gresik memiliki talenta bagus, Daro.

Lain halnya dengan Danive. Band ini hanya seorang diri. Mungkin lebih tepat jika dibilang ini adalah proyek solo. Sosok dibalik proyek ini adalah Daniv Veryana yang berdomisili di sebuah desa kecil tanpa koneksi telepon dan internet di rumahnya, pasir kunci, Bandung. Danive merupakan satu lagi musisi kamar (bedroom musician -ed) yang memaksimalkan software komputer untuk menciptakan sebuah karya musik dan sound design. Alhasil materi-materi beraroma post-rock, shoegaze dan surreal sangat kental terdengar lewat karya-karyanya.
Begitu juga halnya dengan Emergency Kisses, Spring/Summer dan yang lainnya. Walau genre yang mereka usung bisa dibilang sudah menjamur, tapi selalu ada usaha untuk memperdengarkannya. Memanfaatkan jejaring dunia maya macam myspace, bukan tidak mungkin lagi untuk berinteraksi/berteman dengan lintas negara. Tak tertutup juga untuk bekerjasama. Beberapa musisi lokal tersebut di atas bisa membuktikan kontribusi mereka untuk memperkenalkan bahwa negara kita memiliki talenta-talenta yang layak dengar untuk skala internasional.
Tak hanya membawa bendera band mereka, namun juga asal mereka, dalam hal ini Indonesia.

Bagi kalian yang memiliki materi lagu yang berada di area indie pop, shoegaze, electronic, ambient, nintendo pop, minimalist, accoustic, dan ingin mencoba terlibat dalam kompilasi ini, tak ada salahnya menawarkan materi kalian kepada Series Two Records. Silahkan berkomunikasi dengan mereka lewat jejaring di bawah.
Teks: Zelva Wardi
Series Two Records:
http://www.myspace.com/seriestworecords
The bands inside compilation (Indonesia):
http://www.myspace.com/emergencykisses
http://www.myspace.com/daroband
http://www.myspace.com/cuddlepop
http://www.myspace.com/myspringsummer
http://www.myspace.com/danivadanive
http://www.myspace.com/silentsunthemusic
United We Care in Loving Memoriam – Robin ‘NOXA’ (25.01.2009)

Setelah beberapa kali gonta-ganti line-up pengisi acara, akhirnya ditetapkan ada 36 band yang mengisi gelaran “United We Care” ini. Sebelumnya cukup banyak yang ingin tampil, mengingat ini adalah acara amal sekaligus untuk mengenang almarhum Robin yang dikenal memiliki pergaulan yang luas. Walau didominasi band-band metal, terdapat beberapa penampil dari genre lain.
Saya tiba di Bulungan Outdoor tepat pukul 15.00. Sangat telat. Saya melewatkan 17 band yang dirundung tampil bergantian sejak pukul 10.00 pagi. Beberapa yang terlewatkan adalah: Divine, Friends of Mine, Thrashline, Paper Gangster, Dead Vertical, dan Thinking Straight.

Sebelumnya saya sempat ragu dengan line-up yang demikian banyak, apakah acara akan selesai tepat waktu. Terlebih acara digelar di Bulungan Outdoor. Perlu diingat izin penyelenggaraan acara di tempat ini tidak bisa lagi hingga terlalu malam. Solucites yang bertindak selaku panitia hanya mendapat izin dari kepolisian hingga pukul 19.00. Sedangkan jika mengikuti rundown, band terakhir dijadwalkan tampil pukul 20.00. Bisa-bisa ada yang tidak tampil…
Oke, singkirkan dulu kemungkinan jika tidak semua band bisa tampil. Kita kembali ke acara. Ketika saya datang, Dreamer memainkan lagu terakhir. Ada wajah yang tak asing di band ini, Vicky Notonegoro (gitar). Memainkan nuansa gothic metal modern persenyawaan Lacuna Coil dengan Evanescence. Sayang, suara Rika (vokal) tenggelam oleh musik. Ciri khas gothic voice yang seharusnya kentara jadi tak terasa.

Selanjutnya ada Burger Kill yang akhir tahun lalu berkesempatan membuka konser band metalcore, As I Lay Dying. Secara penampilan tak diragukan. Hanya saja jatah 20 menit (2 lagu -ed) berikut checksound on stage terasa terlalu singkat untuk Burger Kill. Rintik hujan sempat turun ketika mereka tampil, namun tak lama. Para metalheads juga tak beranjak dari tempat berpijaknya. Sebagai informasi, band hardcore Ujung Berung, Bandung ini akan melakukan tur Australia-nya pada Februari nanti.
Usai Burger Kill, Trauma mengambil alih panggung. Penonton tak perlu menunggu lama. Setiap band memaksimalkan durasi tampil yang diberi panitia dengan tidak mengulur-ulur waktu. Trauma yang belum lama ini mengeluarkan album bertajuk “Dominasi Kemenangan”, bermain kurang impresif. Nino (vokal) tidak tampil dalam performa terbaiknya. Kurang bersemangat.

Suguhan metal dari band-band sebelumnya kemudian dicairkan oleh irama rock n roll dari The Brandals. Sudah lama saya tidak mengikuti perkembangan band ini. Mereka bermain baik walau posisi lead gitar sepertinya bukan diisi oleh Bayu. Getah tampil setelah The Brandals. Mereka adalah salah satu band lawas dalam line-up acara ini yang juga tampil cukup baik.
The Upstairs & Angel of Death yang tampil setelahnya tak terlalu saya perhatikan. The Upstairs mempersembahkan 1 lagu berjudul “Robin Johnny” untuk mengenang alm. Robin. Di kerumunan penonton yang berkaus serba hitam terdapat segelintir modern darling (sebutan bagi fans The Upstairs –ed) dengan setelan nyentrik.

Penampil berikutnya adalah band lawas lainnya, ROXX. Ada suguhan pembacaan puisi dari Komeng Mortus untuk mengenang alm. sebelum mereka tampil. Penonton mulai membludak. Tiket dikabarkan terjual habis. Sekitar dua ribu penikmat musik metal berbondong-bongong mendekati panggung. Mereka mencari sudut pandang terbaik untuk menyaksikan para performer.
Ketika ROXX naik, penonton yang sebelumnya malu-malu mulai terlihat agresif untuk melakukan moshing. Dua lagu yang dimainkan berhasil memancing adrenalin para metalheads yang merogoh kocek sebesar Rp 20.000,- untuk hadir di gelaran ini.

Euforia gelaran metal baru benar-benar terasa ketika Purgatory tampil. Venue makin sesak. Penonton makin liar. Pagar pembatas panggung dan penonton mulai didorong. Aksi sikut-menyikut tak terhindarkan. Tapi tetap dalam batas wajar. Band straight metal yang membawakan konten religius ini tampil dengan dandanan khas mereka. Kostum, topeng dan body painting yang sudah lekat dalam setiap aksi panggung Purgatory. Untuk penampilan kali ini, mereka mengkampanyekan aksi boikot Israel sekaligus menggalang dana untuk Palestina dari hasil penjualan CD “Beauty Lies Beneath” dan merchandise mereka.
Berikutnya adalah suguhan dadakan dari band grindcore veteran yang tak masuk line-up acara, Tengkorak. Bagi metal heads yang hadir ini adalah bonus. Apalagi formasi yang tampil adalah formasi lama. Ombat (vokal) mengenakan kaus bertuliskan ‘Boycott Israel’ dan tanpa alas kaki ketika tampil. Walau terkesan dadakan, penampilan Tengkorak tetap jempolan. Berhasil membuat kerumunan yang memadati Bulungan Outdoor makin panas. Ombat juga sempat melakukan crowd diving, melemparkan dirinya ke penonton di awal-awal lagu pembuka. Sebenarnya mereka hanya didaulat memainkan 1 lagu, karena tak ada di line-up acara. Namun, makin liarnya penonton memaksa mereka memainkan 1 lagu lagi. Mantabbb…!!

Ludesnya tiket menunjukkan bahwa apresiasi dan respek penikmat musik metal terhadap Robin begitu besar. Band-band yang sebagian besar merupakan headliner di gelaran-gelaran metal juga kabarnya tak mendapat kompensasi finansial di acara ini. Semuanya mereka lakukan atas dasar pertemanan, persaudaraan dan kepedulian sesama rekan musisi dan metalheads. Itu kenapa acara ini diberi tajuk “United We Care”.
Jeda maghrib acara dihentikan sejenak. Steven and Coconut Trees bersiap-siap di panggung. Penonton diberi kesempatan untuk menghela nafas. Kehadiran rekan-rekan musisi dari genre yang lain, katakanlah rock n roll, reggae, retro, pop punk di gelaran ini membuktikan tak ada batas di musik. Robin alm. juga dikenal tak membatasi pergaulannya di scene metal saja namun juga di scene lain. Ini sedikit mengajarkan kita bahwa persatuan di ranah musik apapun sangat diperlukan.

Usai maghrib, acara yang dipandu Arie Dagienkz dan Edi Brokoli kembali dilanjutkan. Penonton yang kian padat kembali berkerumun mendekati bibir panggung. Tanpa basa-basi Steven and Coconut Trees menggoyang Bulungan dengan musik reggae yang kental. Para metalheads yang datang mengapresiasi dengan baik. Seharusnya mereka hanya memainkan 2 lagu, sama seperti penampil yang lainnya. Namun, karena permintaan penonton mereka memainkan 1 lagu tambahan.
Jam di ponsel saya menunjukkan pukul 18.55 ketika penampilan Steven cs berakhir. Di rundown acara masih tersisa 9 band. Membutuhkan waktu sekitar 120 menit untuk mereka semua benar-benar bisa tampil. Dan itu sepertinya tidak mungkin. Keraguan saya di awal ternyata kejadian. Andre dari Solucites menjelaskan kepada semua penikmat musik yang hadir, bahwa keriaan malam itu harus disudahi karena terbentur izin keamanan. Sempat dilakukan negoisasi kembali oleh panitia, namun pihak kepolisian tetap tidak memberikan toleransi untuk melanjutkan acara. Kecewa tentu saja…

Mereka yang tak bisa bermain adalah: Flowers, Dead Squad, Netral, Naif, Komunal, Superglad, Seringai, termasuk NOXA, dan juga penampilan spesial Rockstar Conspiracy yang saya sendiri belum tahu siapa saja mereka. Sangat disayangkan…
Walaupun tak diperbolehkan melanjutkan penampilan band yang tersisa, tapi pihak kepolisian memberikan sedikit toleransi waktu untuk menghadirkan orangtua Robin dan memutar slide foto serta audio testimoni untuk mengenang alamarhum.
Usai rangkaian tersebut, gelaran “United We Care in Loving Memoriam – Robin NOXA” terpaksa harus berakhir sebelum pukul 20.00. Sebagian besar penonton meninggalkan venue dengan tertib walau sedikit kecewa.
*****************

Mulanya acara ini adalah bentuk penggalangan dana bagi kesembuhan Robin. Seluruh keuntungan, baik dari penjualan tiket dan merchandise akan dialokasikan untuk membantu biaya rumah sakit Robin. Namun, sebelum acara ini benar-benar digelar, Robin terlebih dahulu ‘pergi’, dan meninggalkan duka yang mendalam pada 17 Januari lalu. Akhirnya, sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan atas dedikasi Robin di scene musik lokal terutama musik metal, seluruh keuntungan dari gelaran ini (+/- Rp 50 juta) tetap disumbangkan kepada keluarga Robin.
Dan gelaran “United We Care in Loving Memoriam – Robin NOXA” menjadi sebuah persembahan dari rekan-rekan musisi, untuk andil Robin yang begitu besar bagi perkembangan musik ekstrim tanah air.
(teks reportase: zelva wardi/foto: adit bujbunen al buse)
Formasi Kutukan Testament!
Puluhan tahun menghajar dunia dengan mengusung aliran musik ekstrim bergenre thrash-metal ternyata benar-benar membuat taring paguyuban legendaris Testament semakin tajam dan menusuk! Sebuah konsistensi yang patut diberikan lebih dari sebuah tunduk salut. Dan di tahun 2008 mereka kembali melontarkan album wasiat yang kembali membakar telinga para penggemarnya, “The Formation of Damnation”.
Proyek Solo Ekperimentasi Desain Suara: Danif Pradana – Ghost Plague

Danif Pradana: Laptop Improv, Electronics, Field Recording
Composed, Mixed and Mastered at Oblique Studio, The University of Technology, Sydney, between October – November 2008.
Danif Pradana yang lebih dikenal sebagai konseptor dari beberapa proyek musik eksperimental Kalimayat & Khuruksetra, kini merilis proyek desain suara solo pertamanya bertitel “Ghost Plague”. Untuk kali ini, cocok sekali jika 3 trek tanpa judul yang dihasilkannya di rilisan ini digunakan untuk scoring film. Ini mungkin tak terlepas dari latar belakang pendidikan Danif yang bergerak di lingkup Film & Audio Production yang ditempuhnya di University of Technology Sidney, Australia.
Berikut press release yang belum lama ini dilempar oleh Danif untuk karya terbarunya, “Ghost Plague” yang dirilis bulan Januari 2009 lalu:
Ghost Plague is the first conceptual solo work of Danif Pradana (Kalimayat, Khuruksetra) as an attempt to introduce the radical approach of the “Ultra minimalist Electronics” sound design to the Indonesian sound enthusiast. Ghost Plague was composed during his final year at The University of Technology, Sydney, in which also become one of his major academic sound research that he was pursuing for one of his audio production subject.
After 5 years of non-stop research and experimentation under the moniker of Kalimayat, Danif took his sonic work into a more desolate approach with a raw states of minimalist sonic textures that challenge the auditory perception of the listeners. Ghost Plague reflects a sonic investigation towards Danif’s internal perception of the psychosomatic phenomenon, which is a subject that he often explores in his short films and video works.
Ghost Plague could also be considered as a decomposition of Danif’s several sound design works for film that did not make it to the screen due to the extreme use of infrasound. Most of the sound was build through different speed of pulses and sine tones, which are heavily layered by different synthesize sound. The sound patterns and textures were composed in real time sound processing, reflected in a Laptop Improvisation, which is then mixed and mastered in Pro Tools.
Download link: http://danifpradana.bandcamp.mu
*****
Kontak Danif Pradana:
http://myspace.com/danifpradana

Not Available Live in Jakarta: “Sebuah Pertunjukkan dengan Tingkat Intimasi Tinggi”

Gedung Studio 3, Hanggar Teras Pancoran, Jumat (27/3) dikerumuni para penikmat melodic punk tanah air. Not Available, band asal Jerman dari genre ini telah memastikan jadwal pertunjukkannya di Jakarta hari itu.
Mulanya gelaran kali ini akan dilaksanakan di Plaza Selatan Senayan, tapi tak mendapat izin kepolisian. Promotor Maximum Kreasindo, yang tadinya bernama Matahati Kreasindo, mengalihkan lokasi perhelatan ke bilangan Pancoran. Dan kali ini turut menggandeng Hit N’ Run Records, yang merupakan label untuk rilisan band-band melodic lokal sebagai rekanan. Band pembuka yang di awal publikasi hanya berjumlah 5 band bertambah menjadi 7.
Adalah No Label, Speak Up, Kuro!, Konflik, Sextoy (Semarang), Buckskin Bugle (Bandung), dan Dosound yang berkesempatan memeriahkan acara ini.

Tepat pukul 19.25, ketika MC Riann Pelor membuka acara. Band-band pendukung mulai tampil bergiliran. Buckskin Bugle, Do Sound dan Sextoy memainkan setlist andalan mereka. Penonton pun perlahan menggeliat masuk ke dalam ruangan. Belum padat memang. Karena sebagian yang lain masih memilih menunggu di luar.
Di saat Speak Up, Konflik, Kuro!, dan No Label mengambil alih panggung, barulah penonton mulai memenuhi ruangan. Penampilan semua band pendukung ini baru berakhir pukul 21.52.
Bersiap untuk penampilan Not Available. Dragan Jordanov (vokal), Stefan Pappinger (bas), Dietmar Nagal a.k.a Didi (gitar), Arndt Hieber (gitar) dan Christian Frey (drum) satu persatu menaiki panggung. Penonton nampak tak sabaran. Beberapa di antara mereka langsung meminta lagu-lagu favoritnya dibawakan.
Semua punggawa Not available telah berada pada instrumen masing-masing. Kecuali Dragan dan Chris yang sibuk mondar-mandir dan mengabadikan gambar crowd yang hadir.

Baru pukul 22.00 kelimanya memulai aksi panggung mereka. Lagu-lagu dalam tempo cepat, perpaduan vokal yang apik dan melodi khas punk yang kentara digempur beriringan. Koor panjang pecinta melodic membahana. Tembang-tembang dari album baru/lama Not Available macam Welcome, Metal Inc,. Joanna, Green Car, Everybody Knows, dan Random terdengar fasih dilantunkan penonton.
Mereka yang mulanya malu-malu untuk berjingkrak, seketika mendekat ke moshpit. Kalo sudah begini, moshing pasti tak terhindarkan. Dengan tertib semua melompat, menghentakan tangan ke udara. Bahkan, sesekali mereka menaiki pagar pembatas panggung dan melakukan crowd diving ke tengah kerumunan penonton yang lain.
Melihat ini, Dragan pun tergoda untuk menyicipi keriuhan di arena mosh pit. Di lagu ke empat, sang vokalis enerjik ini seketika melompat dari tempatnya berpijak, yang berjarak sekitar 1 meter ke arah penonton. Terbang bak burung yang melantunkan vokal melodius.
Sejak kedatangannya di Jakarta, personil Not Available memang sangat bersahabat. Ini yang jadi poin lebih dari band melodic fenomenal ini. Tidak ada kesan “ngartis” untuk band sekelas mereka. Mereka akrab berbaur dengan penonton, komunikatif, dan sangat respek terhadap publik melodic yang datang.
Dari keseluruhan setlist yang dibawakan, dominan dari album 5 aces (2007). Karena konser ini bertajuk 5 Aces for Indonesiadan tentunya untuk mempromosikan album tersebut.

Lebih dari 20 lagu dibawakan Dragan cs malam itu. Saking atraktifnya, menjelang pertengahan lagu, beberapa di antara mereka tampak kelelahan. Usai lagu Green Car dimainkan, Dragan minta jeda 5 menit kepada penonton. “Kami kepanasan. Tenaga kami terkuras,” kata Chris kepada beberapa penonton, ketika keluar menuju ruang ganti mereka.
Berselang 5 menit, semua personil kembali ke atas panggung. Dengan energi tersisa pertunjukkan dilanjutkan. Dua sampai tiga lagu terakhir dimainkan secara beruntun. Forever Young, dari album Fezzo (1999) yang merupakan cover version dari lagu milik Alphaville, menuntaskan perhelatan malam itu. Sekitar pukul 23.30 konser berakhir, ketika paduan suara dari penonton, sekali lagi membahana di seisi ruangan.
Puass..!! Mungkin itu yang bisa mewakili ekspresi seluruh pecinta melodic yang datang. Benar-benar gelaran yang melelahkan, dan pastinya akan membekas di dalam ingatan.
Teks: Zelva Wardi/foto: Doni Drako
Lamb of God Wrath Tour 2009: “Malam Penuh Kemurkaan Para Domba Tuhan!”

Senin sore, 9 Maret kemarin, dinginnya Jakarta yang diguyur hujan seolah tak berlaku di Senayan. Tepatnya di kawasan Tennis Outdoor. Spot ini sudah terpanasi oleh kedatangan manusia-manusia berkostum serba hitam. Dengan simpanan adrenalin yang kelak akan dimuntahkan di saat dimana kuintet para domba-domba cadas asal Virginia, Lamb of God akan meluapkan kemurkaannya. Kali ini dengan konsernya yang bertajuk “Wrath Tour 2009” mereka mencoba membakar hidup-hidup para metalheads Jakarta. Ini merupakan konsernya di Asia Tenggara, dan Jakarta terpilih sebagai kota penyelenggara satu-satunya.
Wrath adalah album terakhir Lamb of God. Dimana unsur-unsur groovemetal ala Pantera mulai kental tercium dalam album ini. Dimana sebelum-sebelumnya mereka mengedepankan hibridasi hardcore, thrashmetal, punk, death metal dan metalcore sebagai gaya bermusik mereka.

Sepertinya ini adalah konser ter’mahal’ untuk ukuran sebuah konser musik ekstrim. Bisa jadi dikarenakan Lamb of God memang sedang berada di puncak kejayaannya sebagai pengusung musik ekstrim yang sukses bersanding di jajaran musik-musik mainstream. Bahkan melewati puncak yang telah diduduki band panutan mereka, Pantera. Yang juga mengalami fenomena yang sama.
‘Kemahalan’ Lamb of God tampaknya benar-benar dicermati oleh pihak promotor sebagai ladang bisnis. Dari sisi tarif tiket yang tinggi mungkin bisa dimaklumi jika dikaitkan dengan ketenaran band ini yang sedang naik daun. Namun, hal-hal lainnya seperti merchandise agaknya digaspol dengan harga yang lumayan membuat alis mata naik ke atas. Seperti T-Shirt Event bertanda tangan dijual dengan harga Rp. 250.000. Yang polos sekitar 125.000an. Walaupun begitu tetap laris bak tahu goreng.
Hujan masih belum berhenti saat para pasukan mati, Dead Squad sontak menyalakkan materi-materi teknikal mematikan dari album debut mereka yang berjudul Horror Vision. Event ini sekaligus dimanfaatkan Dead Squad sebagai promosi album tersebut.
Setelah itu seperti biasa jeda panjang sesi setem-menyetem beraksi. Hawa hujan yang cukup dingin seakan tidak berlaku bagi kerumunan penonton yang semakin memanas memanggil-manggil nama LOG. Area festival tampak benar-benar padat dipenuhi oleh para metalheads yang datang tidak saja dari Jakarta dan luar Jakarta. Namun, di luar Indonesia seperti Malaysia dan Singapura.
Saat yang dinantipun tiba. Senandung intro yang membuat bulu kuduk merinding pun berkumandang. Penonton mulai menampakkan tanda-tanda keberingasan saat para punggawa LOG bermunculan. Hourglass pun digelontorkan. Penonton menggila!
Entah mengapa, sepertinya ada sedikit masalah pada sound. Hingga pada bagian melodi yang cukup catchy di materi Laid to rest seperti terputus-putus. Hal ini sedikit mengurangi kenyamanan, mengingat lagu ini cukup ‘kebangsaan’ dari sekian lainnya.
Lalu serangan demi serangan lagu pun menyusul, memberondong tanpa ampun pada semua penonton di venue. Materi seperti Walk with me in hell, Now you’ve got something to die for, Redneck benar-benar berhasil menyeret semua yang ada di sana untuk menggeram mengikuti lirik yang dilantunkan Randy Blythe sang vokalis.
Venue benar-benar bak neraka manusia. Pusaran moshpit besar hampir tak pernah berhenti bergulung selama konser berlangsung. Duet Mark Morton dan Willie Adler terus menembakkan lick-lick dan harmonisasi melodi gitar yang terus menyayat telinga penonton yang semakin kesetanan. Belum lagi gempuran besi panas John Campbell dan komposisi teknik double-kicking Chris Adler yang benar-benar memukau.

Pada materi Vigil, darah penonton dibuat terhisap oleh jeritan panjang Randy yang berdurasi selama belasan detik. Teknik yang menunjukkan kemampuan optimal Randy sebagai seorang pelantun irama ekstrim yang piawai. Di sisi lain, Randy pun menunjukkan kemampuan berinteraksinya dengan penonton yang dapat diacungi jempol. Ini kali pertama sebuah konser metal dibuka dengan kata assalamualaikum (”assalamualaikum motherfuckers!” ..hayah.. ) lalu kata-kata “mau lagi” hingga menyebut-nyebut nama band metal lokal seperti Burger Kill dan Dead Squad (”this song is dedicated for Burger Kill!”). Sebuah trik efektif untuk menjalin hati fans mereka.
Lalu konser ditutup dengan Black Label yang membuat puncak adrenalin penonton seakan tuntas. Seperti melepaskan monster-monster terakhir di kepala-kepala mereka. Terbukti dengan tidak adanya tambahan lagu seperti trik klasik yang biasa dilakukan para musisi hingga kata-kata seperti “Curanmor! Curanmor! Curanmor!” bermunculan tidak membuat penonton menunggu. Enerji yang tersedot habis, membuat satu persatu penonton beringsut meninggalkan venue.

Sebuah sajian kemurkaan yang memuaskan. Salut bagi para penyelenggara, Solucites yang telah membawa domba-domba neraka ini sukses membumi-hangus Jakarta malam itu. Acara yang berjalan lancar dan aman pastinya membawa dampak positif bagi image yang sering tanpa tedeng aling-aling dituding negatif. Sebuah prestasi tentunya jika negara ini semakin dikenal dunia dengan kedatangan-kedatangan grup-grup papan atas macam LOG.
teks reportase: adit bujbunen al buse/foto: arief
Malevolent Creation Live in Jakarta: Memberangus Publik Metalheads Ibukota
Banyak pihak yang menyayangkan perihal batalnya pertunjukan Malevolent Creation (MC) di Balai Pemuda, Surabaya. Penonton yang sudah membeli tiket dan hadir di venue seketika harus kecewa karena show MC di kota ini terhalang izin keamanan. Itu artinya, mau tidak mau, terima tidak terima, MC benar-benar tidak dapat melangsungkan pertunjukannya di kota pahlawan ini.
Walau di Surabaya batal, tidak demikian halnya dengan Jakarta. Pertunjukkan mereka di sini justru terbilang sukses, tertib dan aman. Mighty Syndicate selaku pihak promoter justru mendapat pujian tersendiri dari MC karena berhasil membawa mereka ke Jakarta tanpa kendala berarti pada 22 maret kemarin

Sejak pukul 19.00, para metalheads terlihat sudah berkerumun di sekitar pintu masuk MS Hall, Viky Sianipar Music Center. Bercengkerama atau sekedar menyapa kawan lama sambil menanti acara dimulai. Singkat cerita, perhelatan dibuka sekitar pukul 20.30. Forgotten telah bersiap dengan setnya. Band death-metal asal Ujung Berung ini merupakan band pembuka satu-satunya. Sekilas curi dengar, banyak juga penikmat metal yang hadir menantikan aksi panggung band dedengkot yang sarat dengan lirik kontroversi ini.

Dari kabar terakhir yang kami dengar tentang mereka, album terakhir Forgotten, Tiga Angka Enam, belakangan ini didapati tidak boleh beredar di beberapa toko kaset/cd besar karena materi-materi mereka yang kontroversif tersebut.
Tujuh lagu mereka muntahkan malam itu. Enam lagu lama dan satu lagu baru, Serapah Laknat. Lagu kebangsaan mereka macam Tuhan Telah Mati, Perang Demi Setan dan Hidup adalah Kutukan lancar dimainkan. Namun penonton belum tampak meliar. Bahkan hingga lagu terakhir mereka Smoke On the Water kelar dilontarkan.

Forgotten turun panggung tepat pukul 21.05 menurut arloji saya. Sorak-sorai penonton terdengar makin ramai. Tentunya tak sabar ingin meluapkan energi positif dalam riuhnya kerumunan hitam-hitam. Tak perlu menunggu terlalu lama hingga Brett Hoffman cs muncul di atas panggung.
Satu persatu amunisi dari album terdahulu mereka tanpa basa-basi dimainkan. Memorial Arrangements dari album The Ten Commandments membuka penampilan perdana mereka di Indonesia. Dilanjutkan dengan Premature Burial dari album yang sama.

Mengingat ini adalah rangkaian tur Asian-Australian mereka, saya pikir MC akan banyak memainkan lagu-lagu baru dari album paling anyar mereka, Doomsday X. Dan ternyata tidak. Dari 16 materi yang mereka bawakan, hanya Deliver My Enemy dan Cauterized yang terdengar baru di telinga metalheads yang hadir. Selebihnya, lantunan beringas dari tembang-tembang lama MC justru memanjakan penggemar-penggemar setia mereka yang merogoh kocek 175 ribu demi menyaksikan band death-metal gaek asal Florida, Amerika Serikat ini.
Dibandingkan perhelatan Mighty Syndicate sebelumnya yang memboyong band black-metal asal Polandia, Behemoth, ini yang sangat apresiatif dan beringas. Penonton yang datang tak dapat menyembunyikan letupan-letupan adrenalin yang mempengaruhi mereka. Nampak sekali bagaimana tingkat keliaran dan keagresifan yang tak urung hingga acara usai.

Gumulan penonton dalam pusaran circle pit berkali-kali terbentuk. Moshing dan headbanging juga tak bisa dilewatkan. Dengan tempo cepat dan sedang berulang-ulang mereka mengikuti komposisi permainan duo Gitar Phil Fasciana dan Marco Martell, betotan Bass Jason Blachowicz, dan variasi hentakan drum Fabian Aguirre. Lantunan tenggorok tergorok sang vokalis Brett Hoffman juga tak jarang diikuti penonton.

Dan kemunculan kembali Brett bersama MC merupakan sebuah reuni. Ini ditandai dengan dirilisnya album terakhir mereka, Doomsday X di tahun 2007 via Nuclear Blast.
Pertunjukkan MC di Jakarta malam itu benar-benar menghipnotis penonton. Hingga menit-menit terakhir gelaran akan usai tak terlihat agresifitas penonton yang menurun. Ketika Homicidal Rant, Cauterized, dan The Will to Kill dilepaskan sebagai gelombang terakhir, sapuan circle pit makin memanas. Penonton yang hanya berdiri dan fokus ke panggung pun tak luput dari sapuan, hingga harus terdorong kepinggir.

Sebanyak 16 lagu mereka mainkan dengan sangat impresif selama satu setengah jam. Penampilan mereka pun dituntaskan lewat materi anthemic Malevolent Creation yang menjadi klimaks dari rangkaian tur Asian-Australian mereka di Jakarta.
Penonton yang sangat agresif sejak awal, perlahan keluar dengan tertib berbalut kaus bersimbah peluh dan kelelahan bercampur puas yang teramat sangat.
Salut untuk Mighty Syndicate selaku penyelenggara atas usahanya memboyong band metal kelas berat seperti MC, di tengah masa kampanye menjelang pemilu yang bisa saja jadi penghambat.
Teks/Video Reportase: Zelva Wardi/Foto: Adit Bujbunen Al Buse
Black Star – S/T: Langutan Para Pesakitan

Bagi yang mendengarkan album self-titled Black Star ini untuk kali pertama, sepertinya dapat dengan cepat menyimpulkan siapa acuan bermusik mereka. Mungkin akan terlintas beberapa nama dari tanah daratan Britania. Sebut saja Radiohead, Muse, Travis, Star Sailor, Coldplay, dll. Sangat kentara dari pemilihan sound dan cengkok vokal yang setipe dengan band-band yang saya sebut tadi. Tipikal band beraroma british-pop atau british-rock memang dapat dengan mudah dikenali (di antaranya) melalui dua aspek tersebut. Terlebih jika band yang terpengaruh tak terasa bedanya dengan band yang mempengaruhinya.
Abstainisme: Bentuk Lain dari Sikap Kepedulian (Ada Peduli di Balik Sikap Tidak Peduli)
Oleh Adit Bujbunen Al Buse
Ada asap karena ada api. Ada reaksi karena ada aksi. Ada akibat pastilah karena ada sebab.
Fenomena golongan abstain alias golput adalah contohnya. Gejala yang sedang merebak di negeri ini mustinya dijadikan sebuah evaluasi diri yang dapat disikapi dengan bijak.
T-shirt Karbala bukan fatamorgana.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai pemesanan dan sebagainya, silahkan hubungi Zelva di 0856 9207 3535 atau log on ke www.myspace.com/karbalabukanfatamorgana
Stok terbatas!
Agama Ramah Perbedaan
Oleh Andy Hadiyanto*
Bangsa Indonesia yang tengah berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya akibat krisis multidimensi sangat memerlukan kerja kolaboratif dan koordinatif dari berbagai komponen untuk menggalang semua potensi bangsa, agar terjadi sebuah kerjasama yang efektif dan produktif. Namun, upaya-upaya seperti itu seringkaliterhambat oleh adanya potensi-potensi konflik yang demikian banyak di negeri ini (agama, etnis, strata sosial, dsb).
Ketika Weezer, Faith No More, & RATM ‘Wannabe’ Unjuk Kemiripan di Satu Panggung

Kamis, 7 Mei 2009, dengan cukup malas kami beranjak menuju kawasan Cikini. Funkin Epic, sebuah nama gelaran yang digarap oleh Maqnet Entertainment diadakan di sana, tepatnya di Mario’s Place, Menteng Huis. Sebelumnya Maqnet Entertainment cukup sering menggelar acara musik dengan spesialisasi tribute show. Untuk kesekian kalinya konsep demikian tetap dipertahankan hingga acara yang terakhir ini dieksekusikan.
Suguhan Pertunjukan Semi-Akustik Nan Cerdas dan Estetik

Saya adalah satu dari sekian orang yang beruntung hadir dan menjadi saksi konser Trio The Trees & The Wild Rabu malam, 20 Mei 2009. Kabarnya, dua hari sebelumnya tiket pertunjukan band ini sold out a.k.a ludes. Yang ingin datang dan membeli tiket di hari H tentu kecewa, karena ticket box tak akan dibuka. Tapi selalu banyak jalan menuju Sam Ratulangi. Beberapa orang yang tetap ngotot ingin datang namun belum memiliki tiket akhirnya mengandalkan berbagai cara. Band ini memang cukup mengorek rasa penasaran banyak orang semenjak kemunculannya. Jadi wajar saja jika banyak yang menunggu pertunjukan mereka kali ini. Beberapa lagu The Trees & The Wild, seperti Honeymoon on Ice dan Irish Girl juga cukup rajin wara-wiri di airplay radio ibukota sehingga membuat mereka tak butuh waktu lama untuk bisa dikenal publik.
System Failure: Prita Mulyasari
Oleh Eddie Mohammad*
Seorang ibu beranak dua (balita) ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Tangerang, karena secara hukum dinilai telah mencoreng nama baik OMNI International Hospital, sebuah rumah sakit swasta di Alam Sutera, Serpong. Prita Mulyasari bukan seorang pelaku kriminal, melainkan hanya seorang pasien yang merasa dirugikan oleh pihak rumah sakit yang ia percaya untuk menangani kesehatannya. Atas tindak kecerobohan rumah sakit tersebut, ia melayangkan sebuah surat pembaca (klik untuk baca isi suratnya) melalui salah satu media lokal.
Press Release: Rockisnotdead – Your Local Scene Needs You

Jogja sebagai episentrum seni dan budaya di Indonesia sekarang semakin dipertegas dengan perkembangan yang signifikan dari beragam komunitas seni dan budaya berbasis youth culture (kultur generasi muda), sebuah kultur yang sangat merepresentasikan dinamis atau statisnya peristiwa kesenian dan kebudayaan sebuah kota, masifnya kehadiran scene sebagai entitas yang mengakomodasi kecenderungan budaya dan aktivitas anak muda di Jogja lima tahun ini dianggap sebagai titik temu bagaimana sebuah ekspresi budaya anak muda dan atsmosfer lingkungan seni di Jogja dapat menjadi nilai tawar paten yang mempertegas keberadaan Jogja sebagai kota seni dan budaya. Keberadaan scene-scene tersebut semacam scene musik (indiepop, elektronik, punk), scene audio dan visual (komunitas desain grafis video klip, video art ) berbanding lurus kebutuhannya dengan sebuah media online (webzine atau netlabel) sebagai media publikasi gratis bagi aktivitas-aktivitas scene-scene tersebut.
WWW.ROCKISNOTDEAD.NET dan Deadboys Komunal sebagai media dan kolektif pelaku youth culture yang selama dua tahun ini aktif melakukan publikasi dan pementasan musik berusaha menangkap fenomena tersebut sebagai sebuah celah yang memungkinkan untuk dihadirkannya sebuah event yang belum pernah diadakan sebelumnya. Sebuah event yang berusaha memperjelas titik temu scene-scene tersebut (musik, video, workshop, grafis) dalam dunia youth culture dan kontribusinya sebagai representasi seni dan budaya kontemporer kota Jogja. Acara ini bertajuk ROCKISNOTDEAD MAGNETIC yang menggambarkan musik sebagai sebuah kumparan besar yang menjadi titik tarik dari elemen–elemen grafis, video works dan media yang melingkarinya.
Event ROCKISNOTDEAD MAGNETIC ini akan berlangsung selama 3 hari (19 – 21 juni) berturut – turut dengan menampilkan eksibisi artwork band dari para seniman grafis lokal, pemutaran video klip band–band cutting edge dari para V klip maker lokal, diskusi/workshop yang diadakan oleh komunitas diskusi music online Lockstock, juga 3 sesi pementasan musik oleh band-band elektronik lokal (E-day, 19 juni), band-band cutting edge (Scandal Session, 20 juni) dan ditutup dengan pementasan musik eksperimental (Rare and Raw Session, 21 Juni)
Selamat terlibat dan menikmati dalam sejarah terpenting dari pergerakan youth culture kota Jogja..!!!
Contact Person:
Annasign (0274 7412 667)
Heirda Vichitra (081 91400 3634)
Anjum Fauzi (081 320 91979)
Kir Adhi (0857 255 94134)
Pelaksanaan:
Hari/ tanggal: 19, 20, 21 Juni 2009
Tempat : Borobudur Plaza, Jl. Magelang, Jogjakarta
ARTIST
Musics artists
1. Sleeples Angel
2. DOM 65
3. Lampu Kota
4. Dojihatori
5. Belajar Membunuh
6. Nervous
7. Serigala Malam
8. Cranial Incisored
9. Airport Radio
10.Armada Racun
11.Frau
12.Cangkang Serigala
13.The Last Kiss Day Of Visceroth
14.Jenny
15.Rizky Summerbee And The Honeythief
16. Seek Six Sick
Video artists
1. Eko Nugroho
2. Anjum Fauzi
3. Avenue Video
4. Akindo boyz
5. DOM 65
6. Wok the rock
7. Jenny
8. Dojihatori
9.Ican Harem
Graphic artists
1. Gde Khrisna Widyatama
2. Wedhar Riyadi
3. Cangkang Serigala
4. Grizzly
5. Gepeng Tatto
6. Wock The Rock
7. Annasign
8. Rully Zoo
9. Ade Airport Radio
10. Yudha Mati Rasa
11. Komeng Serigala Malam
12. Heirda Vichitra
13. Monophones
14. Blangkon Sangkakala
Coming Soon: MAE Live @ Sasana Budaya Ganesha, Bandung.

Sempat gagal melenggang ke Indonesia bulan Januari lalu, MAE, trio indie rock asal Virginia, Amerika Serikat mengungkapkan ketidaksabarannya untuk tampil di hadapan penggemarnya bulan Juli mendatang lewat blog myspace mereka. Nada Promotama, promoter yang akan mengambil kendali penuh untuk menghadirkan mereka di Indonesia kali ini telah menjadwalkan penampilan band ini pada 26 Juli 2009, di Sasana Budaya Ganesha, Bandung.
Bagi kalian yang kecewa karena kebatalan konser mereka awal tahun lalu, kini saatnya mengobati kekecewaan kalian tersebut. Sisihkan uang saku kalian, karena tiket yang dibanderol akan lumayan menguras kocek (lihat poster).
Dan satu lagi! Berdoalah dengan khidmat agar perhelatan mereka kali ini tidak kandas lagi.
More infos: www.nadapromotama.com / www.myspace.com/mae
ROCKISNOTDEAD MAGNETIC: YOUR LOCAL SCENE NEEDS YOU

Pada dasarnya, MAGNETIC merupakan selebrasi ulang tahun yang ke-3 dari www.rockisnotdead.net (RIND). Bekerja sama dengan Dead Boys Komunal dan Jogja Force, kemudian menjelmakan sebuah mega-project yang berlangsung selama tiga hari (19 – 21 juni, Borobudur Plaza) berturut–turut dengan menampilkan tiga sesi pementasan musik.
Press Release: MAE “Live in Concert” @ Sabuga, Bandung

In January, due to matters beyond our control, we were forced to cancel a scheduled show in Bandung, Indonesia and promised that we would return. We are extremely proud to announce that we have made plans once again to visit our friends in Indonesia on July 26th. We cannot wait to visit this wonderful country and meet the amazing people we have heard so much about! See you soon Bandung! –mae-
Setelah sukses menggelar Konser “Untukmu Sahabat” Peterpan, di Sabuga Bandung yang mencatat penjualan tiket sold out, NADA PROMOTAMA kembali hadir mewarnai dunia musik pertunjukan dengan menampilkan band asal Amerika Serikat, MAE untuk menggelar konsernya di Indonesia. Konfirmasi ini berhasil didapat setelah NADA PROMOTAMA menandatangani kontrak dengan manajemen MAE. Konser ini merupakan upaya kedua MAE untuk datang ke Indonesia setelah rencana konser mereka di awal tahun 2009 terpaksa batal. Sebagaimana kutipan di atas yang menunjukkan antusiasme MAE untuk datang kembali ke Indonesia, para penggemarnya pun sudah tidak sabar lagi menyaksikan penampilan mereka yang tertunda akibat pembatalan di awal tahun ini. Konser MAE dijadwalkan akan diadakan pada hari Minggu, 26 Juli 2009, di Sasana Budaya Ganesha, Bandung pukul 20.00 WIB.
**********
MAE, sebuah akronim dari “Multy-Sensory Aesthetic Experience”, dimotori oleh Matt Beck (guitar), Jacob Marshall (drums), Mark Padgett (bass), Rob Switzer (keyboards), dan Dave Elkins (vocal/guitar). Band ini tidak hanya produktif dengan menghasilkan 4 album, namun tetap memiliki misi khusus sesuai dengan idealisme mereka, yaitu keinginan untuk melakukan perubahan yang berarti bagi dunia. Selama tahun 2009 MAE memiliki tujuan dan konsep pendekatan yang cukup atraktif terhadap para penggemarnya; yaitu setiap bulan selama tahun 2009 MAE akan meluncurkan lagu baru dan setiap lagu yang di-download oleh penggemarnya akan memberikan sumbangan sebesar US$ 1 untuk kegiatan kemanusiaan.
Saat ini, NADA PROMOTAMA telah memulai penjualan tiket konser MAE di kantor NADA PROMOTAMA, www.detik.com, www.rajakarcis.com, Ibu Dibyo, Aquarius Dago, Distro Riotic, Heaven Records, Lenoleum dan Venom Bandung.
Untuk keterangan lebih lanjut mengenai gelaran ini dapat menghubungi NADA PROMOTAMA, Wisma Lippo Bandung 6th Floor Suite 606 Jl. Jend. Gatot Subroto No. 2 Bandung 40262. Telpon: (022) 7310077 – 7303766. Atau kunjungi website www.nadapromotama.com, www.whatismae.com dan www.myspace.com/mae.
TIKA – the Headless Songstress (teaser)
Video klip ini adalah teaser dari album teranyar milik singer/songwriter wanita Indonesia berbakat, Kartika Jahja, atau yang akrab dikenal oleh publik dengan panggilan TIKA. Rilisan kedua milik trip hop queen lokal ini akan segera dirilis pada 24 Juli 2009 mendatang dengan titel “The Headless Songstress” di bawah bendera The Head Records.
Tak sabar? Hmmm.. tunggu saja warta lebih lengkap mengenai salah satu produk musik lokal terbaik tahun ini milik biduanita bersuara memukau ini.
Rebelzine
Siaran Pers: The Headless Songstress “Karnaval Provokatif TIKA & The Dissidents”

Posisi perempuan dalam industri musik sulit lepas dari imej serba glamor dan gemerlap. Namun, beberapa tahun silam, di tahun 2005 tepatnya, muncul seorang penyanyi perempuan di Indonesia yang menantang norma pasar dengan mengusung musik gelap dan dingin melalui album ‘Frozen Love Songs’ yang dikemas ulang dengan judul ‘Defrosted Love Songs’. TIKA namanya. Banyak yang mempertanyakan mengapa seorang penyanyi dengan kualitas vokal kelas satu seperti TIKA memilih jalur independen yang konon tak seberapa komersil? Hanya TIKA yang tahu jawabannya. Yang pasti ia telah mendobrak klise Diva di Indonesia dan memahat reputasi sebagai salah satu penyanyi perempuan paling berbahaya di masanya. Namun kemudian TIKA menghilang begitu saja dari kancah musik.
Kemana ia menghilang dan apa kabarnya TIKA saat ini? Setelah hibernasi panjangnya, kini TIKA telah kembali dengan album terbarunya yang bertajuk ‘the Headless Songstress’.
TIKA tidak sendirian lagi kali ini. Ia menggandeng tiga musisi yang dibaptis dengan nama the Dissidents sebagai partner-nya dalam album ‘the Headless Songstress’. “Sekarang tidak memakai nama TIKA lagi, tapi berubah jadi TIKA & the dissidents,” ia menjelaskan. Mereka adalah Susan Agiwitanto (bass) Okky Rahman Oktavian (drum) dan Luky Annash (piano). The Dissidents pula lah yang turut berperan atas perubahan musik TIKA yang melompat jauh dari karya-karya sebelumnya. “Kira-kira 60% materi album ini dibuat TIKA bersama-sama dengan the Dissidents,” tutur Susan sang bassist. Bahkan kali ini TIKA yang dikenal dengan akrobat vokalnya, memilih bernyanyi lebih santai untuk mengimbangi the Dissidents. Dua gitaris dari kubu jazz dan postrock juga digamit TIKA untuk memproduseri album ini. Iman Fattah, gitaris band Zeke & the Popo, dan Nikita Dompas gitaris jazz muda berbakat. Mereka lah yang membungkus lagu-lagu TIKA & the dissidents menjadi sebuah paket musik yang kaya bumbu dalam album ‘the Headless Songstress’.
Namun yang paling drastis berubah, adalah lirik yang ditulis TIKA untuk album ini . Apabila dulu ia dikenal dengan lirik galaunya, kali ini TIKA banyak melempar kritik sosial dengan sarkasme yang nakal namun tajam. Di lagu ‘Polpot’ misalnya, TIKA mengangkat pembantaian intelektualitas massal oleh televisi. Di lagu ‘Red Red Cabaret’, ia menyentil polah selebriti yang haus ketenaran. Lagu ‘Clausmophobia’ menyindir kemunafikan masyarakat menyikapi homoseksualitas. Dan tentu yang paling jelas terasa adalah lagu ‘Mayday’ yang bertema hari buruh.
“Secara pribadi, ini bukan perubahan besar,” ujar TIKA. “Tema-tema ini sudah menjadi ketertarikan saya sejak remaja. Kalau lirik di album yang dulu galau, itu karena saat itu hidup saya memang sedang galau saja,” aku perempuan yang sejak kuliah aktif mendukung gerakan literasi, liberasi gender, dan gerakan swadaya atau DIY ini.
Saat ditanya soal genre musik album ‘the Headless Songstress’, baik TIKA, anggota the dissidents, maupun kedua produser merasa tidak ada satu genre yang bisa mewakilli seluruh lagu di dalamnya. Adanya unsur jazz, rock, blues, hingga tango dan waltz membuat album ini sulit dikotakkan. Ditambah lagi dengan keterlibatan banyak musisi tamu seperti Anda, Riza Arsyad (simakdialog), Adrian Adioetomo, dan banyak lagi. “’the Headless Songstress’ ibarat sebuah karnaval setelah tutup di malam hari. Menyenangkan tapi menyeramkan,” ungkap Nikita Dompas, mendesripsikan album ini. “Saya percaya album ini dapat menjadi salah satu album lokal yang paling unik yang pernah ada,” tambah Iman Fattah.
Sedangkan TIKA, apa harapannya akan album terbarunya sendiri? “Ini bukan album instan. Musiknya pun perlu waktu untuk dicerna. Tapi saat orang sungguh-sungguh mencernanya, semoga dapat memprovokasi telinga dan pikiran pendengarnya. Membuat perubahan yang meski kecil namun berarti.”
Siapkah pasar Indonesia dengan konsep musik seperti ini? Mari kita lihat sambil menikmati karnaval provokatif TIKA & the dissidents dalam album ‘The Headless Songstress’.
Debut Album ZOO – Trilogi Peradaban Resmi Dirilis

Setelah penantian panjang, akhirnya debut album penuh milik band eksperimental/noise/etnik asal Jogja, ZOO, resmi dirilis secara digital via Yes No Wave Music. Bertajuk Trilogi Peradaban, album penuh perdana dari ZOO ini dikeluarkan dalam format trilogi yang dibagi dalam tiga folder berisi 22 lagu. Dari ketiga folder tersebut berjejer 15 materi baru dan 7 materi lama yang diambil dari EP Kebun Binatang yang juga sempat dirilis YNW bulan Mei 2007 silam. Masing-masing folder merepresentasikan tiga zaman peradaban manusia Indonesia (jika saya tidak salah tafsir -ed); Neolithikum (Zaman Batu Muda), Mesolithikum (Zaman Batu Tengah), Paleolithikum (Zaman Batu Tua).

Selain dirilis secara digital dan dapat diunduh di situs resmi yesnowave.com, album trilogi ini juga tersedia dalam format box-set CD-R dengan jumlah terbatas, hanya 100 kopi. Sebagai informasi, box-set CD-R tersebut berisi
3 CD album: Babak Satu; Neolithikum, Babak Dua; Mesolithikum dan Babak Tiga; Palaeolithikum, booklet 20 halaman full colors, dan kotak kemasan yang terbuat dari kayu. Yang berminat untuk menjadikan rilisan ini sebagai koleksi, silahkan berburu (ketentuan pemesanan bisa dilihat di www.yesnowave.com).
Rebelzine
Press Release: “MAE Dipastikan Datang dan Tetap Menggelar Konsernya di Sabuga, Bandung 26 Juli 2009”
In January, due to matters beyond our control, we were forced to cancel a scheduled show in Bandung, Indonesia and promised that we would return. We are extremely proud to announce that we have made plans once again to visit our friends in Indonesia on July 26th. We cannot wait to visit this wonderful country and meet the amazing people we have heard so much about! See you soon Bandung! –mae-
Kasus pengeboman yang terjadi di hotel JW Marriot dan Ritz Charlton Jakarta telah mengguncang Indonesia dan menyebabkan kepercayaan internasional kembali ke titik terendah. Peristiwa ini tentunya juga memiliki pengaruh ke NADA PROMOTAMA yang akan menggelar MAE “Live in Concert” pada tanggal 26 Juli 2009, di Sabuga Bandung.
Namun, setelah berbagai usaha dan komunikasi yang dilakukan secara intensif dan terus-menerus dengan manajemen band MAE dan POLRI, NADA PROMOTAMA berhasil meyakinkan MAE untuk tetap datang ke Indonesia. Pada hari ini Selasa 21 Juli 2009 NADA PROMOTAMA telah menerima surat elektronik dari manajemen band MAE yang isinya berupa konfirmasi kedatangan mereka dan akan tiba di bandara Soekarno-Hatta pada hari Jumat, 24 Juli 2009.
Kemudian sesuai jadwal pada hari Sabtu, 25 Juli 2009 MAE akan menggelar konferensi pers mereka di Blitz Megaplex, Bandung. Yang tentunya pada keesokannya, di hari Minggu, 26 Juli 2009, MAE akan memenuhi janji mereka ke penggemarnya untuk menggelar konser pertama kali di Indonesia yang bertempat di Sasana Budaya Ganesha, Bandung.
Saat ini NADA PROMOTAMA terus melakukan penjualan tiket yang dapat diperoleh di kantor NADA PROMOTAMA, www.detik.com, www.rajakarcis.com, Ibu Dibyo, Aquarius Dago, Distro Riotic, Heaven Records, Radio Prambors Bandung, Radio Ardan Bandung Lenoleum Distro dan Venom Bandung.
Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi NADA PROMOTAMA Wisma Lippo Bandung 6th Floor Suite 606 Jl. Jend. Gatot Subroto No. 2 Bandung 40262. Telpon: (022) 7310077 – 7303766. Atau kunjungi website www.nadapromotama.com, www.whatismae.com dan www.myspace.com/mae.
Out Now: Tika and the Dissidents – The Headless Songstress

Album terbaru TIKA –yang kini– bersama The Dissidents (TIKA & The Dissidents) hari ini resmi dirilis. Packaging album yang terbilang unik, dimana CD disisipkan dalam sebuah notebook tebal dan dikemas dalam sebuah dompet kain bermotifkan floral, ber-emblem-kan sosok bidadari tanpa kepala, serta sangat ramah lingkungan dengan meminimalisir penggunaan bahan plastik ini, membuat rilisan ini sangat layak untuk dimiliki. Ayo, sambangi toko musik terdekat* dan jadikan album ini sebagai salah satu koleksi terbaru kalian.
*Rilisan ini baru bisa ditemukan di Aksara & Aquarius. Distribusi di toko-toko musik besar di seluruh Indonesia mulai 27 Juli 2009.
BITE EP Release Party – EMAX Cafe, Kemang
Sedikit dokumentasi audio-visual dari acara launching party debut EP BITE di Emax Cafe, Kemang, 26 Juni 2009.
Video oleh Adit Bujbunen Al Buse
Pentas Peluncuran Album ZOO “Trilogi Peradaban”
This slideshow requires JavaScript.
__________
Foto-foto: Swandi Ranadila
Acara: Pentas Peluncuran Album ZOO “Trilogi Peradaban”
Waktu: 25 Juli 2009
Lokasi: Kedai Kebun Forum, Yogyakarta Baca selengkapnya »
Press Release: The All-American Rejects “I Wanna Rock Tour 2009” @ Istora Senayan

Setelah sukses mendatangkan MAE, band asal Virginia, Amerika Serikat, di Bandung, Nada Promotama akan kembali mempersembahkan konser band mancanegara, yang kali ini akan menampilkan band asal Amerika Serikat, The All-American Rejects. Dalam negoisasi yang berlangsung dalam waktu yang cukup singkat, Nada Promotama akhirnya bisa mendapatkan kesempatan untuk menggelar konser band tersebut di Indonesia.
The-All American Rejects adalah band punk asal Oklahoma yang terdiri dari 4 personil, Tyson Ritter (bass), Nick Wheeler (guitar) dan Mike Kennerty (guitar), dan Chris Gaylor (drum). Band ini meluncurkan album pertamanya pada tahun 2002 dengan single hits “Swing Swing”, dan mendapatkan platinum yang dikeluarkan RIAA karena penjualannya mencapai lebih dari 1 juta kopi di wilayah Amerika Serikat.
Di tahun 2009 ini, The All-American Rejects melangsungkan turnya ke beberapa negara di dunia termasuk Indonesia. Insiden bom Mega Kuningan beberapa waktu lalu tidak membuat The All-American Rejects mengurungkan niat untuk memberikan konser terbaik bagi penggemarnya di Indonesia. Bertepatan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia, Senin, 17 Agustus 2009, bertempat di Istora Senayan, The All-American Rejects akan melangsungkan konser turnya yang bernama “I Wanna Rock Tour”.
Saat ini Nada Promotama telah memulai penjualan tiket di kantor Nada Promotama, Ibu Dibyo, Aquarius Mahakam, Disc Tarra, Detik.com, Rajakarcis.com, Monstertiket.com, Master-ticket.net dan Aquarius Dago.
Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi Nada Promotama Wisma Lippo Bandung 6th Floor Suite 606 Jl. Jend. Gatot Subroto No. 2 Bandung 40262. Telepon: (022) 7310077 – 7303766. Atau kunjungi website www.nadapromotama.com dan www.myspace.com/allamericanrejects.
Jakarta Noise Fest #1

Pagelaran kerakyatan yang digagas atas nama rakyat, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Tanpa mengeluarkan rupiah sepeser pun kalian dapat menikmati panggung rakyat yang dimeriahkan oleh sekumpulan artis/grup noise terkemuka yang mewakili seantero negeri ini. Sebut saja Kalimayat, Aneka Digital Safari, Crowded Room, dll. Terkhusus untuk Kalimayat yang digawangi Danif Pradana, Indonesian noise musician yang bisa dibilang pionir dan mulanya bermukim di Aussy, pertunjukkan ini adalah penampilan perdananya di Indonesia. Penasaran? Mari ramaikan gelaran ini pada 15 Agustus mendatang.
Rebelzine
Hasil Evolusi Besar Tika Bersama 3 Pengikut Barunya

Kartika Jahja, singer/songwriter berbakat yang akrab disapa TIKA—yang mencuat lewat debut Frozen Love Songs (2005)—kini kembali dari pertapaan panjangnya selama empat tahun dengan album anyar bertajuk The Headless Songstress. Muncul dengan membawa segudang amunisi baru, pelantun tembang-tembang yang kerap bernuansa trip hop/jazz ini memperkenalkan identitas barunya: TIKA & the Dissidents. Berikut percakapan kami terkait dengan TIKA, sang biduanita terkait dengan album dan identitas barunya tersebut.
Jakarta Noise Fest Vol.1 (Live Album – Free Download)

Semua materi dalam album ini adalah beberapa rekaman live dari para penampil yang mengisi line-up artis Jakarta Noise Fest Vol. 1 tanggal 15 Agustus lalu. Wasted Rockers bersama New Wife Records yang bertindak selaku penyelenggara mengabadikannya menjadi rilisan live album yang dapat dinikmati secara gratis.
02. The Crowded Room – Swallowtail (live)
03. Proletar – Bergerak di Bawah Garis Hasrat & George War Bush (live)
04. Duck Dive – Untitled (live)
05. Kelelawar Malam – Kelelawar Malam (live)
06. Aneka Digital Safari – Anal Sub-Machine (live)
07. Kalimayat – Live Improv 15-08-09 (live)
Produced by Wasted Rockers & New Wife Records
Package design by: Dede
Khuruksetra: ‘Bliss, Plague, Damnation’ Concert @ Teater Salihara

Sebuah gelaran musik eksperimental dan pentas visual yang mengisahkan kesenian perang mahabarata dan sudut pandang akan arti sebuah pagelaran seni. Dipentaskan oleh Khuruksetra yang digawangi oleh Danif Pradana (Kalimayat), Mikael Mirdad (eks- Whisper Desire), Andra Fembriarto, dan Enrico. Keempatnya akan mengetengahkan sebuah pertunjukan seni avant-garde berupa olah suara dan bunyi mencekam, pertunjukan teatrikal dari sebuah ritual medan perang, dan slideshow visual di Teater Salihara, 12 September mendatang. Sebagai informasi ini adalah penampilan Khuruksetra untuk kali pertama di tanah kelahiran mereka sendiri. Jangan lewatkan!
Tentang Khuruksetra: www.myspace.com/khuruksetra
RebelZ 09 – Euforinasionalisma

Rebelzine baru saja mengeluarkan rilisan terbarunya dalam format E-Book/Digital 3D/Paperless berjudul RebelZ 09 – Euforinasionalisma. Sebuah E-Book yang diterbitkan secara berkala dan diposisikan sebagai sebuah bacaan perangsang rasa keingin-tahuan.
Berisikan materi-materi tentang segala hal yang berkenaan dengan fenomena youth culture, musik, sastra, grafis, dan lain sebagainya. Dikemas secara apik dengan konsep yang berbeda dengan terbitan-terbitan konvensional yang banyak beredar (baik digital maupun cetak).
Dapat diunduh secara gratis untuk kemudian bebas diperbanyak dan disebarluaskan atas dasar keinginan untuk berbagi dan belajar bersama.
Silahkan unduh di sini
Akhirnya, selamat membaca dan menikmati..
Spesifikasi
Judul : RebelZ 09 – Euforinasionalisma
Penulis : Rebelzine dkk.
Penerbit : Rebelzine – Sb Paperless Publishing
Jumlah hal. : 270 halaman+bonus tracks
Format : E-Book/Digital 3D/Paperless
Aplikasi : Stand Alone
dzeek – s/t: Maujud Konsistensi Kuintet Pemuja Radiohead Akut

Album ini sebenarnya sudah cukup lama sampai di meja redaksi Rebelzine. Seingat saya sekitar satu atau dua bulan yang lalu. Jadi, maaf sekali kepada awak dan manajemen band ini jika baru sekarang saya memuatnya di media sederhana ini.
Rameramerah: Ketika Pekik Nasionalisme Terlontar dari Ranah Kreatif

Ini adalah rangkuman cerita dan dokumentasi gambar sebulanan yang lalu, tepatnya tanggal 16 Agustus 2009, sehari sebelum perayaan ulang tahun republik Indonesia digelar keesokan-harinya. Berbagai jenis kegiatan edukatif dan keriaan positif dirangkum dalam sebuah acara bertajuk “Rameramerah”. Berlokasi di wilayah kreatif Kandank Jurank doank, acara ini diorganisir oleh komunitas tersebut bersama dengan label indie ternama Jakarta, Aksara Records.
Serigala Jahanam VS Udanwatu = Dunia Bawah (collaboration)

Serigala Jahanam (www.myspace.com/serigalajahanamgila) baru saja melakukan kolaborasi dashyat dengan Udanwatu; open-source collaboration experimental music project dari Adit Bujbunen Al Buse (www.myspace.com/aditbujbunenalbuse), dari grup experimental hip-hop asal Jakarta, Karbala bukan fatamorgana (www.myspace.com/karbalabukanfatamorgana). Sebelumnya, Udanwatu juga pernah berkolaborasi dengan: Phillip B. Klinger (musisi experimental/ambient/noise legendaris asal Michigan, USA. Beliau merilis album sejak tahun 1987 dan masih eksis sampai sekarang! For more info about him, please visit: http://soundgenetic.blogspot.com), Cranial Incisored (Yogyakarta), dan Kalimayat (Jakarta).
Di kolaborasi yang berjudul Dunia Bawah ini, atmosfer yang tercipta cenderung ke arah black-ambient/drone-doom. Di sini Dede melakukan improvisasi gitar yang direkam secara live, mengikuti alunan noise hasil teknik disfigurasi suara yang dilakukan oleh Adit. Rencananya, single kolaborasi ini akan masuk ke rilisan split-CD Aneka Digital Safari/Serigala Jahanam yang akan dirilis oleh Spasm Records (www.myspace.com/thespasmrecord), label asal Bandung.
Sambil menanti rilisan fisiknya, silahkan unduh dulu sneak preview-nya di sini
Lipstik Lipsing – Room for Outside EP: Opsi Pengiring Para Pengurai Mimpi

Lipstik Lipsing (LL) adalah rekomendasi dari seorang teman baik saya di Semarang. Beberapa kali saya dipaksa mencari tahu tentang band ini dan kemudian mendengarkan materi-materi mereka. “LL adalah band yang paling menonjol di Semarang saat ini. Wajib dengar!” ungkapnya setengah menodong.
BEM KEMA Psikologi UPI Presents: Heuristic V: Labyrinth “Find Your Way With Your Own Way”

Kawan-kawan dari BEM KEMA Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, mempersembahkan sebuah acara pemutaran film dan kajian mengenai isu diskriminasi hari ini bertajuk Heuristic V: Labyrinth “Find Your Way With Your Own Way”.
Sebagai bahan kajian, di acara ini akan diputar film berjudul “9808” yang menceritakan tentang intimidasi etnis minoritas Tionghoa di era 98. Dalam kajian, akan terlibat beberapa narasumber, seperti Ariani Darmawan (Director of ‘Sugiharti Halim’), Ifa Hanifah Misbach (Psikolog), dan Egi Ginanjar (Q-community).
Untuk informasi dan reservasi tiket, silahkan hubungi: Ghinaya (0813 9493 4924), Yustia (0856 2060 392) atau Sadena ( 0856 2463 3815).
Asah kritisisme pola pikir dan hidupkan kata ‘peduli’. Mari, kawan, melibatkan diri!
Steve Towson – Instituta (Infohouse)
Steve Towson tampil cuek di hadapan sekitar 20-an orang di sebuah community centre di bilangan Permata Hijau bernama Instituta-Infohouse (6/10). Musisi folk-punk asal Australia ini menjalani lawatan 4 kotanya di Indonesia, yaitu Jakarta, Bogor, Bandung, dan juga Palembang. Dengan mengusung etos do it yourself, Steve menjelajah beberapa Negara seorang diri guna dapat tampil di Negara yang dikunjunginya tersebut dengan bermodalkan link pertemanan.
Rilis Pers: Jakarta Noise Fest #2
Wasted Rockers & Huppalawya dengan bangga mempersembahkan… “JAKARTA NOISE FEST #2” dengan line-up sebagai berikut:
01. KISHY (http://last.fm/music/kishy)
Ambient / dream / drone guitar trio dari Bandung. Proyek “all-star” yang melibatkan para anggota dari: Cascade, Jelly Belly, & The Crowded Room. Jadi, jangan sampai melewatkan penampilan mereka!
02. SABEDARAH (www.myspace.com/sabedarah)
Also local indie supergroup, yang melibatkan para penjahat audio kelas kakap seperti: Danif Pradana (Kalimayat / Khuruksetra), Uri Putra (Ghaust / Gatt / Bertanduk) & Adit Bujbunen Al Buse (Karbala Bukan Fatamorgana / Udanwatu)! Memainkan black-ambient / noise / drone-doom. Mengerikan!…
03. SUNGSANG LEBAM TELAK (www.myspace.com/sungsanglebamtelak)
Trio jazz-punk / no-wave / avant-garde suci dari neraka! Kalau kalian pikir musik kalian berat, cool, dan intelek, maka musik mereka jauh lebih keren! Sesuai dengan manifesto SLT*: “Musik kami bagus, musik kalian jelek.”
04. ABORT feat. SAJAMA CUT (www.myspace.com/sajamacut)
Kolaborasi dahsyat antara proyek noise / free-style milik Eric (Deathrockstar) dengan Sajama Cut. Bagaimana hasilnya?… Datang, dan lihat sendiri!!!
05. SARIN (www.myspace.com/sarininmusic)
Kolektif post-rock / space-rock / bliss-pop dari Jakarta.
06. A FINE TUNING CREATION (www.myspace.com/afinetuningcreation)
Fusion / new-wave / electronic solo dari Jakarta.
07. SHOAH (www.myspace.com/shoahjkt)
Duo harsh-noise kembar dari Jakarta.
08. IBLIS KOTOR (www.myspace.com/dirtydevilish)
Experimental / electronic project dari Jakarta. Side-project from Abim of Curah Melodia Mandiri.
Visual by:
- 20 / 20 SIGHTSCENERY
DJ’s:
- RESIDENT DJ OF GANGGA (Bollywood soundtracks, NY no-wave, free-jazz, eclectic)
Minggu, 27 Desember 2009
Pukul 18:00WIB – selesai
Rossi Musik Fatmawati
Jl. RS. Fatmawati No. 30
Jakarta-Selatan
HTM: Rp.20.000,-
For more infos:
9808: Sedekade Reformasi dalam Ingatan (Sebuah Antologi)
9808 merupakan sebuah kumpulan film yang membahas berbagai persepsi manusia yang berkaitan dengan kejadian pada Mei 1998, seperti peristiwa apa saja yang terjadi di masa itu, apa yang terjadi dengan para korban dan keluarganya, hingga keputusan-keputusan pemerintah yang mendiskreditkan suatu kaum yang menjadi korban peristiwa tersebut.
Hasta Mañana: The Trees and The Wild Exclusive Showcase
Setelah absen tampil selama kurang lebih 6 bulan dari perpanggungan, kini, The Trees and The Wild mengajak para pendengar dan semua pihak yang telah memberikan apresiasi sejak debut album Rasuk dirilis, untuk berjumpa kembali di antara bebunyian dan suara-suara hangat di “Hasta Mañana: The Trees and The Wild Exclusive Showcase.”
Ini adalah panggung pertama pasca performa terakhir trio folkpop-semiakustik berbakat ini di Goethe Haus Institute, Mei lalu, yang merupakan konser perilisan album mereka. Saya yakin, sama halnya dengan saya, Anda pasti rindu dengan pertunjukkan apik dan memikat dari mereka. Jadi, tunggu apa lagi? Jangan sampai kelewatan untuk menyaksikan penampilan ‘kembali’ The Trees and The Wild dari libur panjangnya, di Kedai, Jl. Benda, pada 20 Desember nanti. Untuk detilnya, silahkan lihat flyer di atas!
Hasta mañana…
Agresivitas Melodius Pop Punk Supergrup
Tahun 2008 silam, tepatnya 13 Januari, MXPX sukses menggelar show mereka di Jakarta dengan tajuk “Secret Weapon World Tour”. Dan kini, untuk kali keduanya mereka singgah. Hanya saja kali ini, mereka menggelarnya di Bandung. FYE Production, yang bertindak selaku organisator, memboyong band melodic-pop punk asal Bremerton, Washington tersebut tentunya dengan sesuatu yang berbeda dan istimewa.
Mari Bersombong, Sahabat!
“Ini memang usaha untuk sombong. Usaha untuk mengatakan kepada mereka-mereka yang datang bahwa kami adalah anak-anak hebat. Bahwa kami adalah anak-anak yang kreatif. Anak-anak yang bisa tersenyum bangga dengan membusungkan dada setiap kali kami berjalan di tengah kota. Kami memang ingin sombong bahwa kami mempunyai sesuatu yang tidak kalian punya yaitu nyanyian semangat kami. Kami memang ingin membuat iri mereka yang datang. Kami jadi ingin tahu seberapa tahan mereka saat melihat pertunjukkan brilian kami. Mungkin mereka tak akan tahan lama.” Kira-kira begitu bunyi “kesombongan” anak-anak Sanggar Sahabat Anak yang membuat keriaan kreatif dengan tajuk “Pamer Semangat Sahabat” pada 23 Desember lalu.
Jakarta Noise Fest II: Estetika Kebisingan dan Upaya Mempertahankan Eksistensi Gelaran Musik Tidak Lazim
Di acara sederhana seperti ini, dekorasi panggung cantik, sistem suara spektakuler berdaya puluhan ribu watt, dan silau kemilau tata pencahayaan tidaklah terlalu dibutuhkan. Untuk membuatnya dapat berjalan, yang dibutuhkan hanyalah konsepsi niat dan apresiasi sungguh-sungguh dari para pengisi dan penikmat acara. Itu sudah lebih dari cukup untuk menjadikan sebuah gelaran yang memiliki tingkat intimasi dan diferensiasi mutu yang tinggi terlaksana dengan semestinya.
Pendidikan Popular – Membangun Kesadaran Kritis
Saat ini banyak berkembang pelbagai alternatif pendidikan untuk masyarakat. Mulai dari privat, homeschooling (sekolah rumah –red), sekolah alternatif, les, dsb. Intinya, pendiikan alternatif merupakan simbol dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan formal (baca: sekolah) pada umumnya.
Ledakan Urbanisasi feat. Deu’ Galih – Hujan Pertama
Hujan Pertama adalah lagu hasil kolaborasi Ledakan Urbanisasi dengan Deu’ Galih. Ledakan Urbanisasi merupakan proyek solo dari Dede “Serigala Jahanam” yang memainkan musik anti-folk, akustik, indie-folk, pop-balada. Sedangkan Deu’ Galih adalah proyek solo lyrical-folk dari Galih, vokalis Schizophones. Di lagu ini, keduanya berusaha menonjolkan kekayaan lirikal dalam kesederhanaan penyajian unsur musikal. Dede, sang penulis lirik, mencoba bermain kata-kata tapi tidak terkesan picisan. Khas musisi folk pengumbar konten non-musik dengan gaya penulisan lirik aliran sajak bebas.
Sebagai informasi, lagu Hujan Pertama direkam secara live, dan akan masuk ke dalam debut album Ledakan Urbanisasi bertitel Buronan Mertua. Album tersebut akan dirilis dalam waktu dekat oleh net-label asal Jakarta, In My Room Records dan berformat double-album.
Untuk bocoran penggoda sebelum album tersebut resmi dirilis, lagu Hujan Pertama dapat kalian unduh secara cuma-cuma di sini. Dan nantikan Buronan Mertua dari Ledakan Urbanisasi segera meluncur bebas ke hadapan kalian tak lama lagi!
Etalase Ideologi
Oleh Wahyu Arifin
Salah satu fenomena menarik yang mewarnai jaman kontemporer saat ini -khususnya kota-kota besar- adalah mewabahnya berbagai bentuk wacana gerakan pembebasan. Gerakan-gerakan sosial ini, yang dominan diikuti kelas menengah, menawarkan berbagai bentuk atau strategi pemecahan masalah hidup dalam irama kehidupan urban yang sesak.
Village of the Villains: Menggugat Fenomena Kebisingan
Minggu, 09 Januari 2010, Village of The Villains Part 1 diadakan di Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Saya cukup terkejut dengan tempat yang digunakan karena banyak rumor yang mengatakan tempat yang dimaksud sulit untuk ditembus perizinannya. Tapi, ternyata, para panitia gelaran ini telah berhasil mengadakan acara di tempat tersebut.
Kitab dari Balik Jeruji
Oleh Epung Saepudin
Menulis buku sebagai laku proses kreatif pikiran, sesungguhnya tak mesti dihasilkan dari tempat ‘bersih’ dan ‘nyaman’.
Ia bisa hadir dalam ruang-ruang penuh dengan kesepian dan pengawasan; dari balik jeruji atau penjara. Sebab ketika menulis dalam situasi penuh pengawasan, seperti di penjara, penulis bisa memaksimalkan ‘perkakas’ yang tersedia dalam dirinya. Perkakas itu adalah daya ingat serta rasa akan lingkungan sekitar dan apa yang dialami oleh dirinya sendiri.
Reid Voltus – Spilled Guts EP: Sensasi Indie Rock Asal Kota Hujan
Ini adalah materi yang mungkin terlambat kami ulas. Sebelumnya maaf teruntuk institusi maya Hujan! Rekords selaku publikator yang mengirimkan materi rilisan band ini sejak awal Februari lalu namun baru kami muat sekarang. Dengan mengulum rasa tidak enak, kami akan mencoba memenuhi ‘janji’ yang tidak sengaja terkondisikan secara ‘emosionil’. Tak dalam, tapi kami akan mencoba.
Korine Conception – Glow In Transparancy Aurora: Entitas Kemurungan dan Perspektif Egois Tentang Kesendirian
Sebelum jari-jari saya benar-benar lekat bersetubuh dengan keyboard komputer di sebuah momen jelang siang guna meresensi produk musik asal Medan ini, keseluruh materi yang terdapat di dalamnya tuntas saya susupkan ke dalam telinga sekitar tiga atau empat kali putar. Untuk standar kejiwaan yang nyaris hiper-imajinatif dan labil seperti saya, produk audio dengan aura pengundang seperti ini memang pas untuk dijadikan kawan baik. Atau minimal sekali sekadar untuk meredam emosi negatif sebelum melakukan ritual kesendirian. Reaksi kimianya mampu mengeluarkan sengatan sejak awal.
Nervous Breakdown – God Save The Freak EP Rilis via Yes No Wave Music
Dalam rangka memperingati empat tahun pertama terbentuknya Nervous Breakdown, band asal timur Jakarta ini merilis mini album bertajuk God Save The Freak. Mini album ini merupakan rilisan kedua dari Nervous Breakdown yang di rilis di Yes No Wave Music, menyusul mini album sebelumnya, Never Green (4 juni 2008).
God Save The Freak juga merupakan rilisan pemanasan sebelum band ini merilis debut album penuh. Disebut sebagai pemanasan karena semua materi yang ada di EP terbaru ini berasal dari sesi demo rekaman pertama yang berjudul New Dogs On The Block, yang di rekam dalam format live recording di K-Studio Jatiwaringin, Jakarta.
Dibandingkan dengan Never Green EP yg bernuansa progresif dengan segala macam eksperimen non-hardcore punk yang kental, maka di EP terbaru ini penyajian tracklist-nya lebih bercita-rasa konservatif. Artinya, semua lagu di album ini menyuguhkan intensitas musik hardcore punk murni yang sarat dengan agresivitas khas, singkat, padat dan brutal.
New Dogs On The Block sendiri hanya disebar terbatas saat di publikasikan pertama kali pada 4 november 2007. Dari tangan ke tangan dalam bentuk CD-R. Dan God Save The Freak ini adalah bentuk dukungan untuk siapa pun yang gigih memperjuangkan apa yang benar-benar diinginkan dalam hidup. (Oyi)
Nervous Breakdown – God Save The Freak Download via Yes No Wave
Track List:
1. Introcity / Girl From Planet Nine
2. Tonight We Dine In Hell
3. Judge Me!
4. Punk Song
5. Proud To Be DFL (Feat. Luckey McKey)
6. Refused & Resist
Debut Album Frau – Starlit Carousel Resmi Diluncurkan Secara Digital
Starlit Carousel adalah salah satu rilisan anyar yang paling ditunggu kehadirannya di tahun 2010. Muncul dalam format mini album di medio 2009 (Musicbox Records) bersama salah satu materi pencuri perhatian: Mesin Penenun Hujan, membuat solois perempuan muda asal Jogja ini menjadi buah bibir banyak kalangan pemerhati musik. Ia adalah Leilani Hermiasih Suyenaga. Lebih akrab di telinga dengan sapaan panggung Frau. Ya, Frau. Perempuan belia yang sepertinya baru memasuki fase dewasa awal. Menurut testimoni banyak orang, ia biasa saja. Tak jauh beda layaknya perempuan kebanyakan seusianya. Namun, di balik kesan biasa yang terbayang, Frau adalah perempuan yang memiliki talenta tak biasa.
Berbekal segudang imajinasi positif dan upaya tulus untuk mewujudkan kecintaannya terhadap musik, bersama “teman” pilihannya Oskar, Frau memberi bukti. Oskar adalah nama yang diberikan oleh Lani untuk digital piano yang selama ini menemaninya bermain dan mencipta lagu. Starlit Carousel EP menjadi bukti awal penggoda kemunculan Frau tahun lalu. Dan kini, tepat hari ini, versi penuh Starlit Carousel sebagai sebuah debut album resmi dirilis secara digital via Yes No Wave Music. Lewat album ini, Frau seraya memberi bukti (lagi) dan menegaskan bahwa dirinya benar-benar patut diperhitungkan.
Walau hanya 2 materi segar dari 6 materi yang ditawarkan Frau dalam rilisan ini: Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di luar Angkasa dan Glow, sedang selebihnya merupakan materi lama yang sebelumnya juga terdapat pada versi EP, album ini tetap mendapat posisi layak rekomendasi. Bukan hanya karena sisi teknis dan tawaran komposisinya yang minimalis namun rapi dan sangat konseptual. Tapi lebih dari itu, nuansa keikhlasan dan kepasrahan, atau dalam tingkatan yang lebih tinggi: kecintaan beraroma spiritual yang keluar dari “mulut” Oskar yang berpadu dengan lantunan syair kontemplatif dari mulut Lani begitu kental menghipnosis. Frau berhasil mengimplementasikan totalitas penghayatan dalam lagu-lagunya, hingga membuatnya menjadi bernyawa dan memiliki daya pikat. Jujur saja, saya hanyut.
Album ini memang tak sedikitpun (hingga sejauh yang saya tangkap) secara telak menawarkan irama-irama gospel. Namun penataannya mengondisikan keadaan selayaknya menghayati lagu-lagu peribadatan dalam sebuah resital piano khusus. Mungkin saja hal ini terinspirasi dari apa yang ditawarkan Andrew Lloyd Webber lewat proyek rock opera musikal bernama Jesus Christ Superstar, di mana grup ini menyoroti tema-tema dengan nafas biblikal dan mengingat Frau juga terpengaruh olehnya. Meski secara musikal dan –mungkin– konsep tematik antar keduanya sangat berbanding terbalik. Hanya saja jika sebuah karya sudah menyentuh irama atau komposisi nada di ranah ini, tak bisa terelakkan akan menghasilkan output dengan daya hipnosis tinggi dan menghanyutkan.
Sebenarnya saya tidak ingin mengulas tuntas dan mengupas habis Lani dan Oskarnya sekarang. Frau telah masuk daftar wajib wawancara Rebelzine untuk format e-book/e-zine edisi yang akan datang. Jadi, lebih jauhnya akan ada pada terbitan temporal kami tersebut. Di sana akan dibeberkan pengakuan dan pertanggungjawaban Frau atas apresiasi kami lewat kalimat tanya.
Sebagai info tambahan, selain dirilis secara digital lewat Yes No Wave album ini juga akan dikeluarkan format fisik CD-nya oleh Cakrawala Records dan didistribusikan oleh Demajors.
Teks: Zelva Wardi
Frau – Starlit Carousel Download via Yes No Wave
Track List:
1. I’m a Sir
2. Mesin Penenun Hujan
3. Salahku, Sahabatku
4. Rat and Cat
5. Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa
6. Glow
Sublimotion Present: Firstmotion – Our First Step
Sublimotion, sebuah komunitas pencinta film tetasan mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung dengan semangat percaya diri mempersembahkan debut gelaran mereka: Firstmotion “Our First Step”. Akan ada acara pemutaran film “An American Crime” serta sesi diskusi dengan topik: Child Abuse, Why Could It Be Happen?
Selain rangkaian acara tersebut, hajatan ini sekaligus dijadikan momentum launching Sublimotion sebagai salah satu komunitas kreatif milik mahasiswa Psikologi UPI yang bergerak di bidang sinematografi. Hal ini ditandai dengan pemutaran perdana film pendek hasil olah kreasi para awak Sublimotion dari divisi purplism project bertajuk “Senja”.
Kawan, acara ini gratis. Jadi, mari ramaikan.
Untuk info dan reservasi:
- Sally (0856 2474 1333)
- Syarifah (0856 5963 0999)
Senja (sinopsis)
Senja merupakan suasana langit yang menjembatani antara siang dan malam, antara terang dan gelap, antara kehidupan dan kematian. Intinya, Senja adalah yang menjembatani antara kedua sisi kutub berbeda yang saling tolak menolak.
Deu Galih dan Sebuah Diskografi Kontemplatif
Galih Nugraha Su, vokalis band post grunge/alternative Schizophones (kini sedang vakum ) beberapa waktu lalu merilis kumpulan karya solo akustik terbaiknya dalam rentan waktu 1998-2008 di bawah identitas panggung Deu’ Galih. Kumpulan karya ini diluncurkan secara digital lewat net label asal Jakarta In My Room Records dengan tajuk Wonderful Journey: Discography (1998-2008). Berkenaan dengan rilisan tersebut, berikut kami sajikan hasil percakapan singkat via surat elektronik dengan beliau.
(Agenda Acara) Sore – Sombreros Kiddos EP Launching
(Agenda Acara) Flight to Dystopia: Risky Summerbee and the Honeythief dan Melancholic Bitch


Risky Summerbee & The Honeythief adalah band berdiri pada tahun 2007. Eksperimentasi mereka sering kali tidak lagi terbatas pada wilayah musik, tetapi memasuki ranah seni pertunjukan dan seni visual. Pada tahun 2008 kelompok ini menggarap musik untuk pertunjukan Slamet Gundono: “Memoirs of Gandari” dan pementasan Teater Garasi: “Je.ja.l.an”. Tahun berikutnya mereka berkolaborasi dengan RuangRupa dalam eksposisi musik dan visual bertajuk “I Walk The Urban Streets”. Dan pada Februari 2009 Risky Summerbee & The Honeythief merilis album The Place I Wanna Go (Dialectic Recordings) yang menjadi perbincangan hangat di kalangan musik indie nasional.
Sementara itu, Melancholic Bitch agaknya sudah seperti hantu. Banyak yang merasa pernah melihat atau mendengar mereka, namun ada pula yang berdebat apakah mereka pernah benar-benar ada. Sepuluh tahun sejak penampilan pertama mereka di festival musik “Selamat Pagi Indonesia”, mereka seakan ada di mana-mana, mulai dari acara kampus sampai festival semacam “Parkinsound” (2000-2004). Kolaborasi dengan Teater Garasi: Waktu Batu #3 Deus Ex Machina, membawa mereka ke festival seni pertunjukan “Art Summit” (Jakarta, 2004), “Insomnia48” (Singapura, 2004), dan festival “Intransit di House of World Culture” (Berlin, 2005). Di bawah forum Dialectic Recordings, bulan November 2009 Melancholic Bitch merilis album Balada Joni dan Susi, yang menurut majalah Rolling Stone Indonesia merupakan salah satu album terbaik 2009.
————————–
Sempatkan diri untuk melihat pertunjukkan kedua band asal Jogja ini pada: Rabu, 24 Maret 2010, Pkl. 20.00 WIB. Mereka akan mengisi salah satu program acara Komunitas Salihara untuk Konser Musik Indie bertajuk “Flight to Dystopia” di Teater Salihara. Mari ramaikan!
HTM Rp 50.000
Mahasiswa Rp 25.000
Untuk informasi lebih lanjut dan reservasi tiket: 021-7891202, 0817-077-1913 atau kunjungi www.salihara.org
Melancholic Bitch – Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa (Live at Teater Salihara)
Salah satu rekaman audio-visual yang kami dapat dari gelaran “Flight to Dystopia: Risky Summerbee & the Honeythief - Melancholic Bitch” kemarin malam, Rabu (24/3) di Teater Salihara. Sayangnya, hanya Melancholic Bitch yang berhasil dengan nakal dan secara sembunyi-sembunyi terabadikan. Sedang Risky Summerbee & the Honeythief yang tampil lebih dulu terpaksa nihil dokumentasi disebabkan kepatuhan kami terhadap tata tertib sebagai penonton di ruang teater.
Video oleh: Zelva Wardi
———-
Untuk reportase penuh gelaran ini akan dimuat pada terbitan temporal Rebelzine format e-book/e-zine edisi mendatang, yang segera akan diluncurkan dalam waktu dekat.
(Agenda Acara) Fallentine #3: Hasta Mañana
Acara yang bertajuk “Fallentine #3: Hasta Mañana” merupakan acara tahunan yang diadakan secara rutin oleh Forum Musik Fisipol (FMF) UGM. Ketika orang-orang sibuk dengan hari kasih sayang, Fallentine memperingatinya dengan cara yang berbeda. Yeah, it’s (never) too late to celebrate. Untuk “Fallentine #3” kali ini, kami bekerjasama dengan The Trees & The Wild untuk sekaligus menggarap sebuah showcase bagi mereka (yang memang belum pernah tampil di Jogja). Hasta Mañana sendiri diambil dari bahasa Spanyol, yang artinya “I’ll see you tomorrow” atau dalam bahasa Indonesia “sampai bertemu besok”. Sebuah idiom yang sering dijadikan titel dari acara showcase The Trees & The Wild sendiri. Sebuah ungkapan dan harapan untuk bisa bertemu kembali.
Sejak menelurkan album berjudul Rasuk pada Februari 2009 silam, nama The Trees & The Wild menjadi warna baru di kancah dunia musik Indonesia. Membawakan musik yang berbasis akustik, mereka menjadi sebuah alternatif bagi masyarakat musik Indonesia yang sudah terlalu lama dibombardir oleh musik-musik seragam dengan kualitas dipertanyakan. Jasa mereka dalam usaha menyediakan musik yang baik bagi masyarakat antara lain diganjar oleh majalah franchise musik ternama nasional sebagai salah satu dari 20 album terbaik di Indonesia pada periode 2009.
Dan tentu tidak adil rasanya jika kenikmatan audio yang ditawarkan The Trees & The Wild tidak turut dinikmati juga oleh masyarakat musik di Yogyakarta. Oleh karenanya kami berniat menghadirkan mereka di depan khalayak Yogyakarta, dan bermain bersama dengan musisi-musisi kebanggaan dari Yogyakarta: Melancholic Bitch, Armada Racun, dan Individual Life.
Untuk informasi lebih lanjut terkait acara ini, silakan hubungi: Gading (0856 4324 7172 )atau Ojan (0899 511 8531).
Kings of Convenience – I’d Rather Dance with You (Live at Jakarta 28/03/10)
Direkam dengan nyaman dari media pit, eksklusif untuk kalian semua. Tidak terlalu banyaknya rekan fotografer di area ini membuat Rebelzine dapat mengabadikannya tanpa keluhan berarti. Ini adalah set ke-11 dari rangkaian 13 lagu yang dimainkan Erlend Øye dan Eirik Glambek Bøe (termasuk versi cover sederhana lagu Bersandar milik White Shoes and the Couples Company) pada Minggu malam, 28 Maret 2010, di Ritz Carlton Ballroom, Jakarta. Dibantu oleh John Navid dan Ricky Surya Virgana dari WSATCC pada drum dan bas, Kings of Convenience tampil sangat menghibur di materi ini.
Video oleh: Zelva Wardi
(Agenda Acara) Homogenic and Hollywood Nobody in Concert
Fast Forward Records mempersembahkan sebuah konser untuk rilisan terbaru dari 2 grup asal Bandung: Homogenic dan Hollywood Nobody.
Dago Tea House
Jl. Bukit Dago Selatan no.53
Sabtu, 17 April 2010
Pkl. 19.00 – 23.00 WIB
Tiket tersedia di:
Lou Belle (Setiabudi No.56)
Rp. 25.000, -
Untuk info lebih lanjut, silakan hubungi:
FFWD Records. Jl. Setiabudi No. 56 Bandung
Telepon: +6222032740
*Tiket box sudah dibuka sejak 30 Maret 2010 dan terbatas!
Efek Rumah Kaca Dirikan Jangan Marah Records
Jangan Marah Records adalah sebuah indie label yang didirikan di Jakarta pada 2010 oleh kelompok musik Efek Rumah Kaca.
Kecintaan akan musik, semangat untuk bertahan dan berkembang, serta hasrat memperkenalkan lagu-lagu yang kami suka, adalah segala yang menjadikan kami mendirikan label mungil ini. Label yang akan menjadi salah satu rumah bersama bagi kami dan teman-teman musisi independen aneka genre untuk terus berupaya memproduksi rilisan, membangun jaringan, dan berkomunikasi.
Tentunya indie label semacam ini sudah cukup banyak dikenal di berbagai kota di Indonesia. Kehadiran Jangan Marah Records adalah inisiatif meneruskan dan melengkapi kebutuhan akan label semacam ini. Memberi ruang baru bagi kami dan sesama musisi. Menambah ruang pilihan musik bagi publik.
Keterbatasan di sana-sini pasti akan selalu terjadi. Namun kami berusaha untuk bisa memaksimalkannya dan menghasilkan kebebasan karya sebaik mungkin.
Sepanjang 2010, Jangan Marah Records telah dan akan merilis album-album berikut ini:
Efek Rumah Kaca: Kamar Gelap
Diproduksi bersama Pura Pura Records
Album kedua Efek Rumah Kaca, Kamar Gelap yang pertamakali beredar pada Desember 2008, telah diproduksi kembali oleh Jangan Marah Records bekerjasama dengan Pura Pura Records. Pada edisi ini, selain tetap memuat 12 lagu dan sejumlah foto karya Angki Purbandono, juga terdapat bonus video klip “Kenakalan Remaja di Era Informatika” (sutradara: Anggun Priambodo), “Balerina” (sutradara: Wastu dan Reza), dan “Banyak Asap di Sana” (sutradara: Famosanda & Wolfgang Xemandros). Dua video terkahir adalah karya pemenang pertama dan kedua dari kompetisi video klip Efek Rumah Kaca bertajuk “Video Melulu” yang diadakan tahun silam bersama majalah Hai dan www.hai-online.com.
URL: www.myspace.com/efekrumahkaca
Zeke Khaseli: Salacca Zalacca
Diproduksi bersama Blackmorse Records dan Demajors
Seperti apa kehidupan di masa depan? Zeke Khaseli- vokalis/gitaris/pianis dari band LAIN, Zeke & the Popo, dan Mantra- menyiapkan paket audio-visual untuk debut album solonya, Salacca Zalacca. Album ini mencuratkan kesan ala film fiksi ilmiah (sci-fi) dengan gaya lo-fi, mungkin ini dinamakan “sci-lo-fi”? Salacca Zalacca berisi kumpulan lagu yang ditulis dan dirilis secara free download seminggu sekali via http://www.zekekhaseli.com pada Agustus 2009 sampai awal Januari 2010. Semua lagu direkam sendirian di kamar -menggunakan beberapa alat musik dan perangkat lunak. Salacca Zalacca seperti perang galaksi antara Blur, Beck, Flaming Lips, Pavement, dan Adam Green. Sementara liriknya adalah olahan obrolan keseharian dengan sentuhan dimensi fantasi yang banyak dipengaruhi oleh sinema. Salacca Zalacca memuat 17 lagu, dirilis dengan 5 cover album (beserta desain booklet dan sampul cakram) yang berbeda.
Single Pertama: Pipis di Celana
URL: www.zekekhaseli.com
Bangku Taman: Ode Buat Kota
Diproduksi bersama Demajors
Terbentuk di Yogyakarta pada 1999, trio Bangkutaman kini mengalami fase terbarunya. Di album kedua ini, pengaruh sound The Stone Roses menjadi semakin berasimilasi dengan gaya tutur musikal Bob Dylan, The Velvet Underground, The Byrds, Donovan, The Who, bahkan Led Zeppelin. Juga ada rasa pengaruh classic rock lokal di kolong jembatannya. Plus, dihangatkan sunshine pop. Kembali ke Jakarta, menjalani ”hidup baru”, dan menempuh berbagai profesi, telah menggiring lagu-lagu Bangkutaman pada tema-tema perkotaan yang mengandung segenap kisah, penat, dan satir. Puitisnya gitar 12 senar dan hembusan harmonika, kadang ditemani organ, melajukan lirik-lirik Bangkutaman ke depan telinga. Beat drum dan bas yang masih suka menyelonong ke area Madchaster, jadi bumbu dansa rahasia.
Single Pertama: Ode Buat Kota
URL: www.myspace.com/bangkutamanyk
Sir Dandy: Vol. 1
Seniman visual sekaligus vokalis Teeenage Death Star mempersembahkan album solonya yang pertama. Sir Dandy adalah gelora untuk mencipta lagu tiga chord terkeren masa kini. Skill bernyanyi dan bermain gitar yang terbatas, dengan hasil di luar batas. Notasi mudah dinyanyikan bersama. Lirik-lirik bijaksana tapi berbahaya. Refleksi peristiwa sehari-hari. Nyanyian realitas dengan kepekaan dan presentasi yang penuh kejutan. Folk song yang slebor, namun nyaman di kuping. Oplosan jiwa Pete Doherty dan Johny Iskandar. Spontanitas terdepan. Monolog troubadour urban. Sederhana dan tidak alakadarnya.
Single Pertama: Jakarta Motor City
URL: www.myspace.cm/sirdandyoriginal
The Kucruts: Mewarnai Jiwa Yang Terguncang
New wave mentah guncangan puberitas. Mereka bersenang-senang dan gagal menjadi dewasa. Tema lagu meliputi panas dan terlarangnya mengencani waria, belanja di lapak busana second hand, hingga ambigu batin remaja tuna susila. Diselingi renungan standar seorang pecundang cinta, empat pria The Kucruts membuka kembali packaging mainan kaset Bandempo di tahun 2000, menyeka maskara Robert Smith dan menggantinya dengan cryon warna-warni, lalu mempertanyakan mitos sepasang dengkul terhadap gesekan sabun masturbasi.
Single Pertama: Bukan Propaganda
URL: www.myspace.com/thekucruts
Dan nantikan rilis tour artis-artis Jangan Marah Records yang dimulai tanggal 7 Mei hingga 16 Mei 2010 di hadapan kalian.
Neraka Hijau ala Misfits di Dome Carnaval Ancol
Sabtu malam kemarin (10/4) benar-benar menjadi malam paling horor di sudut kawasan Ancol. Trio setan kuburan yang bersatu dalam konfigurasi paguyuban legendaris nan mengerikan, Misfits akhirnya tiba. Mereka mencoba menciptakan sebuah kengerian bernuansa punk di sana. Adalah Jerry Only (bas, vokal), Dez Cadena (gitar, vokal latar) eks dari Black Flag dan Robo (drum) di dalamnya. Namun dikarenakan kendala visa, Robo sang drummer tak dapat tampil hingga harus digantikan oleh Eric “Goat” Arce, seorang drummer dari Murphy’s Law.
Black Star Luncurkan Singel Baru “Penuh Diksi”
Black Star, sektet indie rock/alternative asal Jakarta, yang di tahun 2009 lalu merilis debut album bertajuk Black Star (s/t), kini kembali meluncurkan singel bertema sosial untuk kepedulian terhadap anak-anak Indonesia. Lagu yang diberi judul Penuh Diksi ini dirilis pada 28 Maret 2010 dan dimaksudkan sebagai bentuk sumbangan Black Star terhadap kondisi anak-anak Indonesia.
Dikemas secara akustik, hingga dapat dirasa ringan dan mudah dicerna, Penuh Diksi memberikan gambaran tentang situasi dan kondisi yang ada di negara kita saat ini. Manipulasi kata-kata (permainan diksi), menurut Black Star selalu menghiasi setiap permasalahan yang ada. Bahkan pula sering dimanfaatkan sebagai senajata bujuk rayu untuk mencelakakan.
Singel ini diluncurkan pertama kali dalam bentuk CD dan digital di acara “Konser Koin Untuk Anak”, yang digelar bersamaan dengan tanggal rilisnya. Untuk rilisan dalam format digital, Black Star mendapat dukungan penuh dari PT Digital Rantai Maya (dr.m). Adapun hasil dari seluruh penjualan singel ini akan disumbangkan untuk anak-anak Indonesia yang memerlukan uluran tangan melalui “KOIN UNTUK ANAK” di rek. BCA no 5005601166. Akhirnya, semoga Singel ini dapat membuka rasa kepedulian kita terhadap kondisi anak-anak Indonesia yang merupakan generasi penerus bangsa.
Info lebih lanjut: www.myspace.com/blackstarduniabaru
Album Kompilasi Internasional “PEACE” Akhirnya Dirilis
Kompilasi PEACE adalah sebuah proyek dari Buffetlibre dan Amnesty International. Amnesty International dikenal sebagai organisasi kemanusiaan yang membela hak asasi manusia. Kompilasi ini berisi lagu-lagu eksklusif baru oleh musisi dari lebih 50 negara. Dan ide pokoknya adalah membangun sebuah atlas musik pertama di internet.
PEACE telah dirilis tanggal 1 Maret 2010, diberikan secara gratis kepada semua orang melalui website resmi “PEACE”, dan diharapkan orang-orang yang mengunduh album kompilasi tersebut membuat donasi minimal sebesar € 2 dalam mendukung LSM Amnesty International.
Semua keuntungan akan digunakan Amnesty International untuk membela kemanusiaan dan hak asasi manusia. Tujuan mereka adalah untuk melindungi individu mana pun dalam hal keadilan.
Adapun artis yang terlibat dalam proyek ini, di antaranya: Ryuichi Sakamoto, The Vines, Tahiti 80, I’m From Barcelona, Vive La Fête, Patrick Wolf, Van She, DMX Krew, Starfucker, Dandy Warhols, Voxtrot, dll. Juga tidak ketinggalan tiga band dari Indonesia, yaitu: Mocca, White Shoes & the Couples Company, dan Efek Rumah Kaca.
Ini menunjukan bahwa masih ada yang bisa dilihat dari musik Indonesia di mata dunia. Memang, kompilasi PEACE ini mungkin tidak sebesar kompilasi untuk HAITI, tetapi PEACE adalah sebuah kompilasi yang mempunyai misi, yaitu memperjuangkan hak asasi manusia, dan INDONESIA ikut ambil bagian di dalamnya. Kita patut berbangga kawan-kawan!
Info lebih lanjut silakan kunjungi www.buffetlibredjs.net/peace.html
Homogenic & Hollywood Nobody Album Release Concert: Diferensiasi Dua Fantasi
Sabtu, 17 April 2010, Dago Tea House, Bandung menjadi saksi sejarah bagi perayaan kelahiran dua album baru dari dua talenta kota ini. Yang pertama datang dari grup electro-pop Homogenic dan yang kedua milik grup indie pop dengan sentuhan jazz juga bossa nova, Hollywood Nobody. Bagi keduanya, perayaan ini merupakan momen spesial. Spesial bagi Homogenic karena rilisan ketiga mereka kali ini, Let a Thousand Flowers Bloom adalah album yang memperkenalkan vokalis baru mereka, Manda. Sedangkan bagi Hollywood Nobody, album Everything Happen for a Reason menjadi spesial karena ini adalah rilisan perdana yang merangkum dan menegaskan perjalanan musik mereka selama setengah dekade ke belakang. Dan kedua-duanya di rilis oleh indie label asal Bandung, Fast Forward Records.
Udanwatu: Sebuah Band dengan Personil-personil Tak Berjasad
Tahun 2006, saat masa awal orkes saya, Karbala bukan fatamorgana sedang saya gempurkan kemana-mana, saya begitu banyak berjumpa dan mendapat teman-teman jenius di jejaring maya. Myspace tepatnya, tempat di mana saat itu adalah sebuah taman segar bagi para musisi untuk melapakkan karya-karyanya di sana.
Versi Fisik Starlit Carousel Milik Frau Resmi Dirilis oleh Cakrawala Records
Setelah sempat beredar secara digital dan dapat dinikmati secara cuma-cuma pada 11 Maret lalu di kanal Yes No Wave Music, album Starlit Carousel milik bakat berbahaya Jogja, Frau kini sudah dapat dipesan rilisan fisik CD-nya. Dikemas dalam bungkus yang manis, format fisik ini dirilis oleh Cakrawala Records dan pendistribusiannya bekerjasama dengan Demajors. Untuk pemesanan silakan hubungi Adi Adriandi di 0818 0427 0113. Sedang bagi kalian yang ingin menunggu peredarannya di toko-toko musik terdekat, diharapkan untuk dapat bersabar.
Mini Album Wukir “YehezkieL” Rilis via Yes No Wave
Wukir adalah sosok yang langka di dunia seni suara dan musik populer di Indonesia. Anak muda asal Malang, Jawa Timur ini membuat alat musik sendiri dan memainkannya. Wukir menciptakan sebuah instrumen musik dari bambu yang menggabungkan string dan perkusi sekaligus secara otodidak. Tak hanya menciptakan, dia juga membuat komposisi lagu baik secara improvisasi maupun tertulis dengan menggunakan alat musik ciptaannya yang diberi nama Bambuwukir. Wukir telah malang-melintang di berbagai pertunjukan baik musik maupun teater di Jawa, Bali dan Sulawesi.
Headhunting in Jakarta – Tika and the Dissidents in Concert
Tika & the Dissidents adalah grup musik yang terbentuk di Jakarta. Pengaruh jazz yang kuat, digabungkan dengan blues, tango, dan waltz, membuat genre musik mereka sulit dirumuskan. Aransemen yang eklektik ini ditambah dengan vokal Tika yang kuat dan ditabrakkan lagi dengan lirik-lirik tajam yang meliputi isu buruh, liberasi gender, hingga pembantaian intelektualitas oleh televisi. Majalah Time Asia menjuluki Tika sebagai “Indonesia’s hottest diva”. Dan dalam edisi akhir tahun 2009 majalah Tempo memilih The Headless Songstress sebagai “Album Pilihan Tempo Tahun 2009” dan Tika & the Dissidents sebagai “Tokoh Musik 2009 Pilihan Tempo”. Saat ini member Tika & the Dissidents adalah Kartika Jahja (vokal), Susan Agiwitanto (bas), Iga Massardi (gitar), dan Okky Rahman Oktavian (drum).
Press Release: Zeke Khaseli – Salacca Zalacca
Apa konsep album ini?
Album ini berisi kumpulan lagu yang dibuat seminggu sekali pada Agustus 2009 sampai awal Januari 2010. Semua lagu direkam sendirian di kamar. Lagu-lagu itu setiap minggunya bisa di-download gratis via www.zekekhaseli.com. Untuk versi album, lagu-lagu tersebut di-mixing ulang dan di-mastering oleh Jonathan Vanco.
Undangan Terbuka untuk Semua Jiwa : Proyek Amal Sebelah Mata
“Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara,” namun pada kenyataannya UU itu ditafsirkan dan diimplementasikan secara dungu oleh mereka yang bertanggung jawab dengan benar-benar memelihara para fakir dan anak-anak terlantar ini untuk tetap miskin dan terlantar. Dipelihara kemiskinan dan kebodohannya sedemikian rupa, tak soal langit mencibir. Para pengemis di perempatan jalan diburu bak teroris, tapi akar penyebab kemiskinannya dibiarkan hidup meneror masa depan anak cucu negeri. Yang fakir dan terlantar dikutuk karena kemiskinan dan kebodohannya dengan label-label “pemalas-sampah masyarakat-perusak ketertiban umum-beban pembangunan” tanpa pernah diseriusi lika-liku persoalannya.
Press Release: The Trees and The Wild Singapore Tour 2010
Tepat pada bulan kelima, setahun yang lalu, kompilasi ide dan selebrasi ekspresi dari Remedy Waloni, Andra Kurniawan dan Iga Massardi dipertanggung jawabkan kepada publik melalui Rasuk, sebuah debut album dari tiga pemuda yang biasa dikenal dengan nama The Trees and The Wild.
Tika and The Dissidents Berburu Kepala di Salihara
Setelah sukses menyelenggarakan pertunjukan di kota pelajar, Yogyakarta, akhir April lalu, pada Sabtu, 12 Juni 2010, Tika and The Dissidents kembali membuat gelaran serupa di Teater Salihara, Jakarta Selatan. Misinya tetap sama: “Pencarian Kepala.” Bagi masyarakat penikmat musik di Jakarta, penampilan mereka kali ini memang sangat dinanti-nanti. Ini terbukti dari ludesnya tiket sejak H-2.
Mereka Melarikan Diri Ke Planet Merah
Setelah tertunda hampir sebulan lamanya, misi pelarian ke planet Mars bersama The Porno, Lull dan Tika and the Dissidents akhirnya terlaksana juga pada Jumat malam (18/06). The Green Cafe, yang diplot menjadi stasiun untuk memberangkatkan para pengunjung, terasa cocok dengan tema acara. Dengan pencahayaan interior yang menampilkan warna-warna seperti di film ET atau Alien Resurrection, suasana sedikit terasa seperti dalam film 2001: A Space Odyssey. Sedikit berlebihan mungkin, tetapi tidak ada salahnya menyetel mood seperti hendak benar-benar berangkat ke Mars.
SL*T – Sapuan Feses Waria Meledak: Sengkarut Bebunyian Entah dan Sebuah Penegasan untuk Jazz yang Sembarang
Album ini adalah buah dari konsep dan wacana terselubung para personilnya terkait tentang musik. Sengkarut bunyi entah yang sengaja disajikan di tengah ketiadaberdayaan panca indera mengejawantahkan apa maunya mereka.
Harapan untuk kebingungan yang tertangkap di tengah-tengah korbannya pada 2006/2007 nampaknya berhasil dimunculkan kembali di album anyar ini. Bahkan, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan standar dan menjemukan, yang 99,9% niscaya tak pernah bersinggungan tetap diposisikan pada tempatnya. Sedangkan langkah matang dan terencana dari siapa saja yang mencoba menafsirkannya hanya akan berujung pada sebuah kata kecewa. Ini adalah album dengan komposisi yang (masih) sulit untuk dipahami oleh telinga biasa, walaupun menurut pengakuan mereka album ini justru tampil lebih “easy” dan bisa dinikmati semua khalayak. Itu bohong!
The Alchemyst – The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel
Sebagian besar sekolah di Indonesia mengandalkan seorang guru dengan pakaian safari dan kemampuan menghafal yang luar biasa untuk mengajarkan pada generasi muda tentang sejarah. Pelajaran tentang masa lalu ini kemudian berubah menjadi “sedikit” membosankan karena sang guru selalu memaksa anak didiknya untuk terus mengingat tanggal, tempat, hingga nama pelaku sejarah beserta keturunannya, tanpa mengimbanginya dengan cerita-cerita keren terkait peristiwanya. Padahal, jika ini diterapkan, akan mampu membantu anak didik untuk mengingat, atau paling tidak memandang pelajaran sejarah tidak hanya soal angka dan nama.
A Lovely Sunday with Mocca and the Campaign
Hari itu Bandung cukup sejuk. Minggu yang manis di Juli 11. Mocca, kelompok indie-pop kenamaan asal Bandung beraksi di tengah-tengah para “Swinging Friends” (sebutan untuk fans Mocca) untuk memperkenalkan mini album terbaru mereka yang berjudul unik: Mini Album. Memang pemberian nama terhadap rilisan mereka kali ini agak berbeda. Terkesan nggak mikir dan nggak kreatif. Namun itulah konsepnya. Mungkin mencoba untuk sedikit menggigit dengan kesan “lain” lewat tajuk sederhana tersebut.
Stereomantic Akan Mengorbitkan Cyber Superstar
Stereomantic, duo electro-pop asal Jakarta yang berdiri pada awal 2006, terdiri dari Aroel (Planetbumi) dan Maria (Klarinet). Akhir 2006 mereka merilis album self-titled di bawah bendera Aksara Records.
Sempat tidak aktif selama beberapa bulan belakangan dikarenakan saat ini mereka sedang menyiapkan album studio kedua yang akan diberi judul Cyber Superstar. Pemilihan judul album ini bukan tanpa alasan. Fenomena youtube sebagai salah satu media yang sanggup menjadikan orang biasa menjadi superstar di jagat maya (cyber superstar) dan kebutuhan mendasar manusia atas pengakuan jati diri di lingkungan sosial tempat ia berinteraksi, menjadi alasan utama kenapa tema ini dipilih.
Zeke Khaseli dan Hasil Intervensi Alien dari Planet Salacca Zalacca
Percayakah Anda bahwa pernah seseorang bernama Zeke Khaseli yang tengah asik bermain gitar di suatu hari yang cerah, secara tiba-tiba dikutuk menjadi seorang “Space Cop Gaban”?
Percaya jugakah Anda jika kemudian dia dijebak dalam pancingan seorang jahat Don Horror ke dalam Dunia Fantasi untuk bertarung dengan monster?
Dan tahukah Anda apa yang terjadi setelahnya?
A.A.S. – Bonaparte (press release single)
Band asal Medan A.A.S. atau yang lebih dulu dikenal dengan nama The Ada-Ada Saja, kini kembali dengan single anyar dan warna baru pada musiknya. A.A.S. yang lekat dengan nuansa post punk kini mencoba memperluas referensi musikalnya dengan lebih banyak mendengarkan berbagai varian musik, mulai dari punk rock, hardcore hingga metal. Dan hasilnya, pada kesempatan kali ini mereka menghadirkan lagu baru yang eksplosif, meledak-ledak, berjudul Bonaparte untuk dapat dinikmati khalayak musik lokal-nasional.
A.L.I.C.E – Konsorsium Humaniora (siaran pers)
“Kita tetap tidak akan menempatkan hardcore pada kaidahnya”
A.L.I.C.E terbentuk pada pertengahan Juli tahun 2005. Saat itu, Miko (vokal) bersama Angga (gitar) berniat untuk membentuk sebuah band dengan genre chaotic hardcore. Formasi awal A.L.I.C.E ketika itu terdiri dari Joko (gitar), Angga (gitar), Bobi (drum), Samsu (bass), dan Miko (vokal). Namun satu waktu Joko harus meninggalkan band untuk meneruskan studinya di luar negeri. Sejak saat itu pula posisinya digantikan oleh Billy. Setelah berjalan 3 tahun, Billy dan Angga harus resign dari band dan posisi gitaris yang kosong diisi oleh Dika (ex-Restrain, Blind To See) dan saat ini juga masih bermain untuk band hardcore, TRAGEDI. Formasi terkini A.L.I.C.E adalah: Miko (vokal), Samsu (bass), Dika (gitar), dan Bobi (drum).
Romansa Dunia Fatamorgana
Hubungan antar dua manusia biasanya tak pernah serumit ini. Media televisi seringkali hanya menggambarkan jalinan antar lawan jenis sebatas cerita cinta tak kunjung sampai atau cinta bertepuk sebelah tangan. Film layar lebar pun tak jauh berbeda. Hanya saja, pada umumnya, dikotomi antara peran antagonis dan protagonis dalam film bioskop lebih kecil daripada sinema rutin di televisi. Tapi isi dan akhirnya tetap menghasilkan hikmah yang sama: “Love will find you if you try”.
Bangkutaman Luncurkan Ode Buat Kota
Band asal Kota Gudeg, Bangkutaman kembali ke dunia musik tanah air dengan album terbarunya. Band ini awalnya berdomisili di Yogyakarta sebelum akhirnya mereka hijrah ke Jakarta dan memulai karirnya di ibukota. Bertajuk Ode Buat Kota, ini adalah album terbaru sekaligus kedua mereka setelah Love Among The Ruins, album perdana yang dirilis tahun 2003 oleh Blossom Records. Saat ini, Bangkutaman berada di bawah bendera Jangan Marah Records, perusahaan rekaman yang menaungi band-band seperti Efek Rumah Kaca dan Zeke Khaseli.
Hairdresser On Fire Segera Melepas Live From Morgue
Satu-dua tahun belakangan, sejauh pengamatan saya, scene musik kota Medan benar-benar menunjukkan geliat positif dan progresi yang cukup menjanjikan. Bakat-bakat yang memainkan musik tak terkira dari kota tersebut, secara perlahan namun pasti, kini, banyak dengan tanpa ragu-ragu mulai memperkenalkan diri dan pede untuk unjuk gigi ke muka publik seolah berteriak lantang: “Hei, kami berbeda!”. Mereka-mereka inilah yang kemudian lebih menarik perhatian ketimbang keluaran genre “tuan rumah” yang selama ini selalu merajai.
Out Now: A.L.I.C.E – Konsorsium Humaniora EP
Sebagai informasi, EP Konsorsium Humaniora dari A.L.I.C.E sementara ini baru bisa dipesan melalui Heaven Records. Untuk distribusi via toko-toko kaset dan CD akan dikabarkan kemudian.
Java Rockin’Land 2010 – Day 2 (video)
Meski beberapa bulan lalu sempat tampil dalam sebuah festival musik yang diadakan oleh sebuah produk pembersih muka di Jakarta, kali kedua kedatangan Dashboard Confessional ke ibukota sepertinya masih mendapat sambutan hangat dari ribuan muda-mudi yang mendatangi Pantai Karnaval, Ancol untuk gelaran Java Rockin’Land 2010 hari ke-2. Belasan set accoustic-rock/emo mulai dari album pertama mereka di tahun 2000, Swiss Army Romance (saat itu Chris Carrabba masih bersolokarir dengan proyek ini) hingga album terakhir mereka di 2009, Alter the Ending dibawakan dengan cukup baik.
Godspeed You Silence Emperor!
Oleh Herry Sutresna*
Larilah kawanku, ke dalam kesendirianmu! Kulihat kau jadi tuli oleh suara riuh orang-orang besar dan tersengat oleh orang-orang kecil. Hutan dan karang tahu benar bagaimana jadi membisu bersamamu. Jadilah engkau seperti pohon kembali, dengan tenang sepenuh hati ia menjulurkan dirinya ke laut. Di mana kesendirian berhenti, pasar pun mulai, mulai pula lah riuh rendah para aktor besar dan desau kerumun lalat beracun. (Sabda Zarathustra, Nietzsche)
Frau: Tentang Musik, Nama Besar, dan Perihal Ketidaksetiaannya Terhadap Oskar
Mulanya mencuri perhatian lewat Mesin Penenun Hujan. Setelahnya, banyak orang dibuatnya bergumul dengan rasa penasaran karena namanya ramai diperbincangkan. Ia muda. Pula multi talenta. Ia bernyanyi. Memainkan piano untuk lagunya sendiri. Dan menuliskan syair berkelas. Ia adalah penyanyi, musikus, komponis dan sekaligus lirisis—yang kalau tidak berlebihan kami bisa katakan layak diperhitungkan di belantika musik tanah air saat ini.
Sebuah Catatan dari Gelaran Musik Tengah Pekan
Di suatu Kamis, sekitar pukul 8 malam, puluhan anak muda terlihat mendatangi sebuah café di ruas Jl. Jaksa, Menteng, Jakarta Pusat. Bukan lantaran untuk melakukan aktivitas wisata malam seperti yang kebanyakan pelancong nagri lakukan di kawasan tersebut, melainkan mereka ini datang untuk menyaksikan sebuah acara musik.
Jakarta Echo Fest: Pesta Musikal Para Pemurung
Nuansa kelam-temaram terasa begitu kuat di suatu Minggu sore dalam sebuah gedung yang berlokasi di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan.
Sebuah pagelaran musik dengan semangat bawah tanah namun membawa kesan masif dilangsungkan di sini. Mengapa saya bilang membawa kesan masif? Karena para pelaku yang diboyong tampil dalam gelaran tersebut tidak tanggung-tanggung jumlahnya. Tercatat sebanyak 19 band masuk dalam line-up acara. Nama-nama mereka sudah terpampang jelas pada materi publikasi sejak beberapa minggu sebelum hari H. Hal ini tentunya menjadi modal pemikat untuk dapat mendatangkan banyak penonton.
A.L.I.C.E – Konsorsium Humaniora: Agresi Persekutuan Pemuja Anti-Kaidah
Akhirnya sebuah rasa segar kembali menyeruak di hiruk-pikuk alam musik-musik ekstrem di Indonesia. Sebuah rasa yang cukup dapat menjadi penyelamat alam yang bergeming dengan keterjebakannya. Keterjebakan dalam kecenderungan memberhalakan musik ekstrem yang itu-itu saja. Keterjebakan yang terkadang herannya dinikmati betul oleh sebagian orang baik pelaku maupun penikmatnya. Hingga tanpa tersadar membuat dinamisasi baik progresi kreatifitas hingga inovasi-inovasi yang ada di dalamnya pun terancam tidak berjalan.
Euforia Indonesian Frengers
Sebentuk dukungan dan wujud kecintaan dari para penggemar untuk sang idola.
Entah disengaja atau tidak, perhelatan sebuah acara tribut bertajuk “Mewphoria” yang diselenggarakan oleh Frengers Indonesia (sebutan untuk penggemar Mew di Indonesia) hanya berselang satu minggu dari penampilan sang idola di Surabaya. Bisa dibilang, “Mewphoria” menjadi semacam afterparty bagi mereka yang telah menyaksikan Mew dkk di kota pahlawan.
The White Tiger
Pernahkah terbayang oleh Anda menjadi seorang majikan yang mati terbunuh di tangan supir pribadinya sendiri? Atau sebaliknya, menjadi seorang supir yang kehilangan kendali dan menghabisi nyawa sang majikan? Sekalipun jawabannya adalah iya, saya sangat berharap Anda membayangkannya dengan sebuah sisi humor. Karena kita semua, manusia penghisap asap pekat bis kota dan pengunyah dagelan politik, sudah lelah melihat kekerasan dan kematian menjadi tajuk utama di media.
The Safari Keluarkan Materi ‘Comeback’ Demi Eksistensi
Sebelum The Safari mengalami masa vakum telah tercipta 7 lagu yang direkam di studio Nine Bogor. Karena kesibukan masing-masing personil, The Safari memutuskan untuk berhenti dari industri musik, dalam arti tidak aktif di dunia panggung dan proses kreatif. Tujuh lagu yang tercipta tetap mengendap menjadi sekadar file.
Vickyvette – Into the Universe: Konsepsi Jagat Raya dalam Estetika Psikedelia
Mulanya saya agak mencibir band ini karena namanya yang—entah mengapa—menurut saya terasa sedikit norak. Tapi setelah mendengarkan lagu-lagunya, senorak apapun nama mereka sudah tak lagi menjadi soal. Sialan, mereka keren!
Sebelum membicarakan banyak tentang rilisan teranyar mereka, Into the Universe, ijinkan saya lebih dulu untuk sedikit bercerita dan mengajak Anda mundur beberapa saat ke belakang. Awal ketertarikan saya dengan Vickyvette berangkat dari sebuah album berjudul Unconscious Shimmering EP yang dirilis pada medio 2010 silam. Di dalamnya ada tujuh materi apik yang berdiri kokoh nyaris tanpa cela dan mengundang kagum.
Pesta Kecil Persembahan Deugalih and Folks
Sebuah kabar gembira baru-baru ini datang dari Deugalih and Folks—band psychedelic folk asal Jatinangor, yang dulunya hanya sebentuk proyek solo akustik dari sang vokalis sekaligus gitarisnya, Galih Su, bernamakan Deu’ Galih. Dalam waktu dekat ini—tepatnya pada 5 Februari 2011—mereka akan melangsungkan sebuah konser tunggal secara sederhana dan gratis pula di Beat N Bite Café, Jl. Ambon No. 8a, Bandung, mulai pukul 20.00 WIB.
Sebelah Mata (Reissue): Buku dengan Konsep Sedekah
Pada sekitaran Januari 2010 silam, lewat notes pada jejaring sosial facebook, sebuah proyek kolektif dengan konsep menarik cukup memikat perhatian saya. Waktu itu, langkah pertama proyek tersebut bermula lewat invitasi di dunia maya, dalam bentuk undangan, judulnya: “Undangan Terbuka untuk Semua Jiwa: Proyek Amal Sebelah Mata.” Undangan ini ditujukan untuk siapa saja yang secara tulus ikhlas ingin turut terlibat dalam penggarapan proyek bertujuan mulia ini.
When We Awake, All Dreams Are Gone: Sebuah Debut Tentang Mimpi
Ini, cerita tentang mimpi.
Begitu mereka mengawali rangkaian suara di debut albumnya. Nama band ini L’Alphalpha, berasal dari Jakarta. Berisikan enam orang teman sepermainan yang mencoba mendedikasikan banyak kesamaan selera bersama: Herald Reynaldo (vokal, gitar), Yudishtira Mahendra (bas), Tercitra Winitya (kibor), Ildo Reynardian (drums), Byatriasa Ega (kibor) dan Purusha Irma (violin).
Duo Bottlesmoker Segera Jelajahi Asia
Duo pop elektronik asal Bandung, Bottlesmoker dalam waktu dekat ini akan melakoni sebuah tur panjang menuju kota-kota besar di lima negara di Asia: Malaysia, Brunei Darussalam, Cina, Hongkong dan Indonesia. Adapun rangkaian tur dalam kesempatan kali ini adalah tur kelima dan yang terbesar sepanjang perjalanan karir grup musik yang digawangi oleh Anggung Kuy Kay dan Ryan Nobie ini. Menurut rencana, tur yang bertajuk “Bottlesmoker Asian Tour 2011” tersebut akan bermula pada 26 Februari dan berakhir pada 16 Maret.
Bermain-main di Fase Delta Bersama L’Alphalpha
Pada suatu waktu, saya sempat terjerembab ke dalam sebuah kubangan mimpi, tepatnya di fase delta: suatu tempat di dataran tinggi Bandung, di pojok toko yang menyematkan banyak warna meriah. Makhluk mimpi menyebutnya sebagai Lou Belle. Kali ini, saya bermain dengan enam orang: tiga perempuan dan tiga laki-laki. Mereka adalah Reynaldo, Winitya, Mahendra, Purusha, Reynardian, dan Byatriasa.
Deugalih and Folks dalam Sebuah Panggung Ketulusan
Pesta yang sederhana, namun kaya secara makna. Kesan yang nyata timbul masih saja menyisa meski pesta itu telah sepekan berlalu. Inilah mereka dalam sebuah panggung yang tulus dan cukup menyentuh.
Headmade: Sebuah Kompilasi Komik-Kartu Pos
Sebagai bagian dari Festival Cergamboree 3:
g.u.t mempersembahkan
HEADMADE: Sebuah Kompilasi Komikartupos
Akan diluncurkan pada:
Hari/Tanggal: Sabtu, 26 Februari 2011
Waktu : 16.00 – 19.00 WIB
Tempat : CCCL Surabaya
Pre-Order: Udanwatu – Durjana Saya Sempurna (Limited Package!)
Udanwatu adalah sebuah proyek musik eksperimental yang diinisiasi oleh Adit Bujbunen Al Buse (Karbala bukan fatamorgana./Sabedarah) sebagai bentuk upaya untuk mewujudkan sebuah kolaborasi yang total antar-sesama musisi/sound-artist Indonesia.
Tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya bahwa sebuah kolaborasi jarak jauh bisa menghasilkan bentuk karya seperti ini. Rasanya sedikit mustahil bila mengingat jarak adalah kendala terbesar dalam berkomunikasi. Walaupun begitu, seniman maupun musisi yang terlibat dalam proyek ini justru mampu mengeksekusi proyek ini dengan begitu baik. Baca selengkapnya »
DC’s Fun Karaoke
Dua belas tahun berlalu, Disconnected tetap hadir dan terus berkarya. Menyongsong album baru (self-titled album) yang akan dirilis oleh Heaven Records tahun ini, Disconnected mengajak para penikmat musik dan fans mereka untuk bersenang-senang dengan single terbaru The Bills yang telah dirilis dan dapat di-download secara gratis di laman www.disconnectedmusic.com. Baca selengkapnya »
Aksi Iron Maiden dari Panggung “The Final Frontier World Tour 2011″ di Jakarta [Dok. Foto]
This slideshow requires JavaScript.
Meski usia para personilnya telah di atas setengah abad, sesepuh heavy metal asal London Timur, Iron Maiden tetap tampil prima di hadapan puluhan ribu pasang mata para pengikut setianya dengan aksi panggung yang super-megah di Jakarta, beberapa minggu lalu. Penampilan Bruce Dickinson cs dalam lawatan perdananya ke Indonesia ini seolah ingin menunjukkan bahwa mereka tak pernah mengenal kata tua dalam bermusik. Baca selengkapnya »
The Final Frontier: Sebuah Kemegahan Hajatan Besi Ala Iron Maiden
Seberapa sering kita mendengar lagu-lagu Iron Maiden? Berapa lagu milik mereka yang kita tidak hafal? Berapa banyak kita menonton rekaman pertunjukkan mereka lewat DVD? Dan pernahkah kita menonton konser mereka secara live? Baca selengkapnya »
Segera: Sebuah Saga yang Sarat Akan Kejantanan, Nada-nada Besi dan Asmara!
Masih ingat mereka?
Silakan klik tautan berita kami tahun lalu di sini untuk menyegarkan kembali memori Anda akan sebuah kisah saga petualangan logam dengan balutan cinta di dalamnya.
Delhi 2 Dublin Akan Tampil di Teater Salihara, Jakarta
Kuintet ini dikenal dengan musik yang energik: pembauran antara musik elektronik dan akustik dengan reggae, hip hop, dan kepekaan DJ. Terdiri dari lima orang musisi dengan latar belakang dan pengaruh musik yang sangat beragam membuat Delhi 2 Dublin tampil sebagai kelompok yang menghasilkan berbagai kolaborasi musik yang saling bertautan dan bersemangat, mulai dari bhangra, celtic, dub reggae, dan electronica. Baca selengkapnya »
Sesi Temu Media The Experience Brothers
Jumat (25/3) pekan lalu The Experience Brothers menggelar sebuah konferensi pers di D’Winkle Café, Bandung untuk pertunjukkan konser tunggal perdana mereka yang akan dilangsungkan pada 2 April esok.
Mulanya dijadwalkan mulai pukul tujuh malam, namun dengan alasan karena sedikit hujan, akhirnya konferensi pers The Experience Brothers ini bergeser kurang lebih satu jam kemudian. Dalam kesempatan malam itu banyak terlihat insan pers dari dalam dan luar Bandung yang kedapatan hadir memenuhi undangan mereka. Baca selengkapnya »
LePork Records Akan Rilis Ulang Mini Album Thousand Needles
Mini album Thousand Needles akan dirilis ulang secara digital via LePork Records, sebuah netlabel asal Virginia, Amerika Serikat.
Mengawali bulan April 2011 ini, kabar terbaru datang dari Thousand Needles—band punk rock/pop-punk asal Jakarta. Pada kesempatan ini mereka datang membawa berita baik terkait bergabungnya mereka dengan LePork Records, sebuah netlabel yang berbasis di Arlington, Virginia, Amerika Serikat—yang memiliki tujuan sederhana: mempublikasikan rilisan-rilisan band punk bawah tanah dari berbagai negara. Dan Thousand Needles adalah satu di antaranya. Baca selengkapnya »
Saturday Night Karaoke – Flaming Adolescents Singles [2011]
Saturday Night Karaoke adalah trio pop-punk/punk rock bentukan para pemuda almamater Unpad, Bandung yang ternodai oleh abu-abu sisa kremasi band-band macam Gooch, Train Hartnet, No More Victim Dead dan beberapa band lainnya yang tak mereka sebutkan karena menurut mereka kita belum pernah mendengarnya.
Thousand Needles – Thousand Needles EP (Reissue)
Mini album milik kuartet pop-punk/punk rock asal ibukota ini baru saja dirilis ulang oleh netlabel asal Arlington, Virginia, Amerika Serikat LePork Records―tepat pada hari ini, Selasa, 5 April 2011. Berbeda dengan keluaran versi lokal terdahulunya, keluaran LePork Records kali ini memiliki kualitas audio yang terdengar jauh lebih baik. Baca selengkapnya »
Terbalut Halusinogen: Hearing Session Album Anyar Polyester Embassy, Fake/Faker
Perjalanan dua jam ini sungguh terasa lama untuk dapat segera tiba di kedutaan besar gugus ester di Lou Belle sana.
Saya terpacu menghadap penuh pada jendela angkutan kota yang bersih itu, menantikan lampu merah yang bersendawa selama tiga menit. Ini terlalu lama! Mobil-mobil berjubel kesana-kemari: mau ke mana mereka? Ternyata mereka pergi ke tempat asing, simulasi dunia pertama atau dunia kedua barangkali. Sedang yang ingin saya lakukan adalah terjebak di dunia ketiga, berharap dapat terbalut oleh sebuah halusinogen. Baca selengkapnya »
Kuas Cielo – Demo
Sebuah material demo dari unit musik baru—namun berisikan wajah-wajah lama dari skena musik independen kota Bogor—bernamakan Kuas Cielo. Mulanya, band ini merupakan proyek ambisius dari dua inisiatornya: Jaling (Gravitasi) dan Bonar (Hidden Message). Keduanya lalu menggandeng beberapa lainnya untuk turut bergabung melengkapi formasi dalam tubuh band ini: Volta (Turbo Blip), Ancha (Losing Friends), dan Yugo (Eric & LCD). Baca selengkapnya »
Coming Soon: Polyester Embassy – Fake/Faker
Sudah lima tahun pasca debut Tragicomedy yang dirilis pada 2006 itu. Dan kini mereka kembali dengan sebuah rilisan yang eksperimentasi serta eksplorasi musikalnya menurut segelintir orang yang beruntung telah mendengarnya lebih dulu, dirasakan lebih matang. Baca selengkapnya »
Konser Misery Index di Jakarta (Dok. Foto)
This slideshow requires JavaScript.
_____________
Foto-foto: Doni Drako
Waktu: Minggu, 3 April 2011
Lokasi: Bulungan Outdoor, Jakarta Baca selengkapnya »
Eye Contact Concert 2011: Panggung Psikedelik The Experience Brothers
Sabtu, 2 April 2011 yang lalu, duo The Experience Brothers melangsungkan konser tunggal mereka di Concordia Room, Bumi Sangkuriang, Bandung.
Konser yang diberi tajuk “Eye Contact Concert 2011” ini merupakan konser tunggal pertama bagi band yang berpersonilkan kakak-beradik Ibrahim Saladdin (vokal/gitar) dan Daud Sarassin (drum/vokal latar). Konser ini sekaligus dijadikan ajang untuk pengenalan band mereka dengan format baru setelah sebelumnya berformasikan tiga kepala—di luar untuk memperkenalkan album teranyar mereka, Eye Contact. Baca selengkapnya »
Misery Index – Heirs To Thievery Asian Tour: Sebuah Kengerian Teknikalisasi Langgam Kematian
Misery Index, paguyuban pengusung logam asal Maryland telah menambah lagi Jakarta sebagai kota yang termasuk dalam daftar celakanya pada 3 April kemarin. Kota yang menjadi tempat terakhir gelaran jentaka death-grind mereka, dengan sematan “Heirs To Thievery Asian Tour 2011″ di Indonesia. Setelah sebelumnya Surabaya, Makassar, Medan lalu Yogyakarta terlebih dahulu merasakan jatah irama-irama kesengsaraan yang telah sukses mereka semai. Baca selengkapnya »
Book’s Day Out – Reading the Word and the World
Untuk memperingati “Hari Buku Dunia” pada tanggal 23, selama bulan April ini Perpustakaan C2O mengadakan Book’s Day Out, sebuah perayaan akhir minggu yang berisikan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan buku dan literasi—dengan harapan dapat membantu menumbuhkan gairah minat baca. Baca selengkapnya »
Stereomantic dan Konspirasi Hegemoni Dunia Maya
Industri musik boleh saja hancur, tapi musik takkan pernah mati. Keep the DIY spirit!
Tidak seperti pembuatan album pertama yang relatif singkat (dua bulan), butuh waktu empat tahun lamanya bagi kami untuk merampungkan Cyber Superstar. Proses kreatif memang sukar diprediksi, kadang makan waktu namun bisa juga berlaku sebaliknya. Sama halnya dengan mempertahankan motivasi dan eksistensi untuk tetap berkarya. Baca selengkapnya »
Open Submission: VIDEO:WRK #02 – Surabaya Video Festival 2011
Exhibition, workshop & discussion
21 to 24 June 2011
Centre Culturel et de Cooperation Linguistique/CCCL – Surabaya
JL. Darmokali 10 Surabaya 60265
Indonesia Baca selengkapnya »
Konser Belle du Berry & David Lewis di Teater Salihara
Penulis lagu dan penyanyi Belle du Berry beserta musikus multi-instrumen David Lewis adalah personil kelompok musik Paris Combo: sebuah kelompok musik asal Prancis dengan gaya eklektik yang menggabungkan unsur jazz dan swing dari Amerika, musik Roma, musik Afrika Utara serta kental dengan warna musik chanson dari Prancis. Baca selengkapnya
Freshwater Fish – Raw Ver (Raw Demo 2011)
Beberapa hari lalu, band underrated senior asal Malang, Freshwater Fish, mempublikasikan dua lagu baru mereka yang masih terekam dalam versi raw untuk dapat diunduh secara cuma-cuma. Kedua lagu itu adalah “Kelumpuhan Logika” dan “Requiem for the Rubbish Nation” yang nampaknya masih membawa muatan kekecewaan seperti lagu-lagu mereka di album sebelumnya. Baca selengkapnya »
Coming Soon: Village Film Festival 2011
“Village Film Festival 2011” adalah sebuah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Jatiwangi art Factory (Jatiwangi), sebuah organisasi nirlaba yang fokus terhadap kajian kehidupan pedesaan melalui kegiatan seni dan budaya, seperti; festival, pertunjukan, seni rupa, musik, video, keramik, pameran, residensi seniman, diskusi bulanan, siaran radio dan pendidikan —bersama Sundayscreen (Bandung). Baca selengkapnya »
Snowman – Absence: Merayakan Kematian dengan Sempurna
Sebenarnya saya sedang dalam kondisi candu dengan album ini. Biasanya, bila kondisi ini menyambangi, saya masih belum mau untuk menuliskan ulasannya cepat-cepat. Alasannya sih sederhana: saya cuma tidak ingin ada aktivitas lain ketika asyik dengan sebuah album. Kecuali jika saya sudah sampai pada titik bosan akan album tersebut. Baca selengkapnya »
Kelab Baca Trio Angkasa – Kelas Percobaan (Dummy Version Songs 2011)
Kelab Baca Trio Angkasa adalah sebuah kolektif instrumental asal Bandung yang terbentuk pada akhir 2009. Saat ini mereka tengah menggarap materi untuk EP perdana mereka yang menurut kabar akan diluncurkan pada sekitaran bulan Juni-Juli mendatang. Baca selengkapnya »
Snickers and the Chicken Fighter – Hilang (Single 2011)
“Hilang” adalah singel andalan milik Snickers and the Chicken Fighter (SATCF)—kuartet punk rockers asal kota Malang—diambil dari album self-titled mereka yang baru saja keluar tengah Mei ini. Album ini merupakan rilisan penuh pertama mereka sejak berdiri tahun 1999. Baca selengkapnya »
Andy Citawarman: Kisah di Balik Bubarnya Snowman dan Absence yang ‘Lemah’ (Bagian I)
Nampaknya belum cukup saya menerbitkan ulasan terkait tentang album baru Snowman, Absence, tempo hari. Selain ulasan itu tidak mewakili bahasan tentang band ini secara lebih dalam—hanya gambaran rilisan terbaru mereka dari sudut pendengaran orang pertama—hal ini juga disebabkan oleh karena dahaga berita dan sedikitnya informasi akan siapa sebenarnya Snowman, kuartet experimental rock asal Perth, Australia Barat ini, di Indonesia. Baca selengkapnya »
Launching Album Hunny Madu “Pulau Janji”
Hunny Madu adalah seorang artis kelahiran Malaysia, 1 April 1984. Dia juga dikenal sebagai artis yang multi-talenta. Selain menjadi seorang penyanyi/penulis lagu, dia juga merupakan pembawa acara TV, radio DJ dan aktris di negara Malaysia. Baca selengkapnya»
Garna Ra – Lidah Api Matahari (Single 2011)
“Lidah Api Matahari” adalah singel milik Garna Ra—sebuah proyek solo ambisius dari seorang musisi multi-talenta asal Semarang bernama Garna Raditja. Sebelumnya, kita ketahui bersama Garna juga bermain untuk beberapa band, seperti OK Karaoke, AK-47, Edword dan Post Mortem Monologue. Baca selengkapnya »
Vickyvette Showcase: Unconsious in the Universe
“Unconsious in the Universe” adalah sebuah pertunjukkan tunggal dari Vickyvette—band potensial asal Bandung—yang akan dilangsungkan pada Jumat ini, 27 Mei 2011, bertempat di Karamba Cafe, Jl. Sultan Tirtayasa No. 26, Bandung. Usai gelaran ini, Vickyvette akan fokus pada pengerjaan dan perampungan album penuh pertama mereka yang diproyeksikan rilis tahun ini juga. Baca selengkapnya »
Hitung Mundur Java Rockin’Land 2011
Tentu kita masih ingat betapa membanjirnya lokasi perhelatan Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta, oleh manusia-manusia pencinta musik pada gelaran “Java Rockin’Land (JRL)” di dua tahun terdahulu. Tercatat di tahun pertama pada 2009 tak kurang dari 20.000 badan menyesaki pesta musik besar di Indonesia ini. Begitu pula kiranya yang terjadi ketika memasuki tahun keduanya di 2010—yang dihadiri puluhan ribu kepala. Baca selengkapnya »
Grassroot Showcase #1: Sebuah Konser Tribute untuk Efek Rumah Kaca
Tanggal 5 Juni 2011 nanti akan menjadi akhir dari rangkaian panjang acara “Grassroot Showcase #1 – Tribute to Efek Rumah Kaca” yang telah dijalankan selama empat minggu di oleh Berisik Radio Online, sebuah radio streaming di Jakarta. Baca selengkapnya »
Andy Citawarman: Kisah di Balik Bubarnya Snowman dan Absence yang ‘Lemah’ (Bagian II – Habis)
“Di album ini kami sepertinya udah capek marah dan coba belajar untuk menerima kenyataan, lalu move on,” kata Andy Citawarman—yang menggambarkan sebuah kondisi yang sungguh berbeda sewaktu ia bersama Joe, Olga dan Ross mulai menulis album terakhir mereka, Absence. Baca selengkapnya »
Black Star Digandeng Label Amerika untuk Album Amal
Kita tentu masih ingat, pada 11 Maret 2011 lalu, gempa bumi berkekuatan 8,9 SR yang diikuti tsunami melanda negeri matahari terbit, Jepang. Dunia pun terkejut atas bencana yang menelan hampir 26 ribu orang itu. Banyak korban yang kehilangan masa depan dan impian mereka karena kejadian memilukan tersebut. Baca selengkapnya »
Segera: Jakarta Stage Literature Festival 2011
Di era konsumerisme ini, produktivitas individu kadang sering di kesampingkan. Padahal tindakan seperti ini justru akan merugikan bagi negara dengan pola pikir masyarakat yang demikian. Begitu juga dalam dunia komunikasi dan informasi. Melahap semua berita yang disajikan, seolah menjadi gaya hidup tersendiri bagi masyarakat metropolitan. Baca selengkapnya »
Hardtokill Segera Muntahkan Amarah Jiwa
Menurut kabar, Hard to Kill akan mengeluarkan album baru dengan titel Amarah Jiwa dekat-dekat ini. Album ini sekiranya adalah album kedua mereka yang berjarak lahir cukup lama dari album pertamanya The Agony yang dirilis tahun 2006. Kata mereka, di album baru ini progresi musikal Hard to Kill akan semakin matang. Baca selengkapnya »
Santay-santay Tengah Pekan #3
Wasted Rockers dan Paviliun Records Mempersembahkan:
“Santay-santay Tengah Pekan #3″ Baca selengkapnya »
[MINDZAPP] – A Night of Altered Noise and Lost Frequencies
STUDIORAMA presents:
[MINDZAPP] – A Night of Altered Noise and Lost Frequencies Baca selengkapnya »
Grassroot Showcase #2: Rock & Roll Revolution
GRASSROOT SHOWCASE #2
Rock & Roll Revolution
Baca selengkapnya »
Eat, Play, Laugh: Kids Festival for All (Surabaya)
Untuk memperingati Hari Anak Nasional pada tanggal 23 Juli, selama bulan Juli 2011 Perpustakaan C2O mengadakan festival “Eat, Play, Laugh.” Di sini, berbagai kegiatan anak dan craft yang menarik diselenggarakan di tiap akhir pekan selama bulan Juli, dengan highlight tanggal 23-24 Juli. Melalui “Eat, Play, Laugh” kami berharap dapat sedikitnya membangun minat pada perpustakaan dan pembelajaran sebagai sesuatu yang seru, kreatif, dan ekspresif—terutama di kalangan anak-anak. Citra perpustakaan dan buku sebagai sesuatu yang kaku, membosankan dan tidak bersahabat kerap membuat anak-anak maupun orang dewasa tidak betah. Baca selengkapnya »
Mercenaries Release Party EP ”Rise of Right”
MERCENARIES
Release Party EP ”Rise of Right”
Baca selengkapnya »
Rongsokan
RONGSOKAN
Bersama:
- Serigala Jahanam
- Nervous Breakdown
- Depriver
- Kebun Anggur Baca selengkapnya »
Vineyard #1
Kebun Anggur ( @anggurkebun )
The Opposite ( @the__opposite )
Fuentes ( @fuentesband )
The Young Liars ( @theyoungliars )
Sourire Baca selengkapnya »
Bangkutaman Kembali Sambangi Singapura
Band folkrock tanah air, Bangkutaman akan kembali menyambangi Singapura pada bulan Agustus ini. Mereka akan bermain di salah satu festival bergengsi di Singapura, “Baybeats Festival” pada 19-21 Agustus 2011, bertempat di Esplanade, Theatres on the Bay. Baca selengkapnya »
Java Rockin’Land 2011: Perhelatan Rock yang Sarat Aroma Nostalgis
Ini adalah tahun ketiga bagi promotor Java Festival Production menggelar kembali perhelatan skala gigantik untuk ukuran Indonesia, bahkan Asia Tenggara menurut klaim mereka. Java Rockin’land, sebuah perhelatan yang menjadi arena bertemunya para pemuja raungan nada-nada distorsi. Dengan penampil dari luar negeri berskala internasional sampai band papan atas di level lokal. Baca selengkapnya »
Sangat Segera: Methal Pertiwi (the Extended Version)
Title: Methal Pertiwi
Author: Sofyan Syarief & Adit Bujbunen Al Buse
Publisher: Hidoep Tyada Artie Zonder Tjinta
Release Date: 17 Agustus 2011 Baca selengkapnya »
Ekspansi Hollywood Nobody ke Negeri Singa
Hollywood Nobody memulai sebuah sejarah dalam karir bermusiknya. Pada 20 Agustus 2011 mereka akan tampil di perhelatan “Baybeats Festival”, di Singapura. Penantian 5 tahun setelah mereka merilis album di bawah FFWD Records, Everything Happens for a Reason memang cukup lama. Namun pada akhirnya mereka berkesempatan untuk melakukan ekspansi musik mereka ke Singapura. Baca selengkapnya »
Mentawai Tattoo Revival (Surabaya)
Pemutaran & Diskusi Video Dokumenter:
“KEMBALI MERAJAH MENTAWAI”
Bersama:
- Durga Sipatiti (Seniman Tato)
- Rahung Nasution (Videomaker)
- Hatib Abdul Kadir Olong (Dosen Antropologi Univ. Brawijaya, Penulis Buku Tato – LKiS, 2006)
- Tom (Antropolog, Wartawan)
- Sony (Seniman Tato, Irezumi Shado, Surabaya Tattoo Artists Community) Baca selengkapnya »
Methal Pertiwi (the Extended Version) – Comic Trailer
“Methal Pertiwi” adalah sebuah komik gubahan Sofyan Syarief & Adit Bujbunen Al Buse yang akan diterbitkan secara resmi pada 17 Agustus 2011 di bawah bendera penerbit Hidoep Tyada Artie Zonder Tjinta. Baca selengkapnya »
Indonesian Noise Movement Documentary (Video Trailer)
Sebuah teaser dari film dokumenter tentang pergerakan dan perkembangan skena noise di Indonesia sejak tahun 1993 hingga hari ini yang tengah diupayakan rampung dan bisa diputar pada September 2011 mendatang. Layak dinanti! Baca selengkapnya »
Andy Citawarman – Tanah Tumpah Darah (Demo 2011)

Andy Citawarman, salah satu dari pelaku utama dalam tubuh band experimental-rock asal Australia, Snowman―yang pada Mei lalu menyatakan bubar setelah mereka mengeluarkan album ketiganya, Absence, baru saja memberi berita baik berkenaan dengan proyek terbarunya. Baca selengkapnya »
Methal Pertiwi: Sebuah Saga Musikal yang Akan Membawa Kalian Ke Dimensi Logam, Otot dan Cinta
Apakah kalian masih di sana? Masih dengan perkasa berdiri di atas genteng kantor kelurahan kalian dengan pose air-guitar terciamik seantero jagad? Masih di penghujung pengkolan menggonjreng gitar kopong bersama para mas-mas asik sisiran sambil memekik lantang irama dari tembang-tembang jantan era kedigdayaan papa Log Zhelebour? Baca selengkapnya »
Obscura Live In Jakarta
Tampaknya tahun ini adalah tahun serbuan para penampil mancanegara ke Indonesia. Obscura adalah salah satu dari sejumlah penyerbu tersebut. Pasca Lebaran nanti band bergayakan technical-deathmetal dari Jerman ini akan memapar sejumlah riuh-rendah sofistikasi iramanya di sebuah kafe di bilangan Jakarta. Band yang terbilang under-rated dan cukup penting untuk dicentang dalam daftar-saksi perhelatan-perhelatan yang akan membombardir Indonesia di paruh tahun. Bersiap!
Grassroot Showcase #3
GRASSROOT SHOWCASE #3
Penampil:
- The Shapers (Perancis)
- Black Star
- The You Know Who
- Rising Sun
- Leikha Baca selengkapnya »
Play-Mates: Menggoda dengan Ringkikan Kuda Besi
Ketika ditawari Rebelzine untuk me-review band rock dengan vokalis wanita, saya dengan senang hati menyambut tawaran ini. Adalah Play-Mates yang hadir dengan mengusung musik yang mereka stempel sendiri sebagai funky rock. Band asal Jakarta yang baru berumur satu tahun ini sepertinya mencoba menawarkan sesuatu yang segar. Baca selengkapnya »
Stereomantic – Cyber Superstar: Album Release Party
Album kedua Stereomantic, “Cyber Superstar” kabarnya dirilis dalam bentuk fisik. Untuk merayakan keluarnya format fisik album tersebut maka mereka akan mengadakan sebuah acara release party pada 25 Sept 2011 bertempat di Tee Box Café, Kebayoran Baru. Baca selengkapnya »
The Experience Brothers: Eye Contact Concert Chapter 2
Konser kedua The Experience Brothers, duo kakak beradik yang menasbihkan diri sebagai ‘two pieces band’ beraliran modern psychedelic rock blues. Sebelumnya, konser ini sempat digelar di Bandung pada 2 April lalu dan kali ini di Jakarta. Dalam konser ini The Experience Brothers akan membawakan kurang lebih 15 lagu selama 2 jam dan pula akan dimeriahkan oleh beberapa secret guest yang akan berkolaborasi dengan mereka. Baca selengkapnya »
Out Now: Thousand Needles – InMyFamillis (2011)
Setelah melalui proses yang panjang, album perdana milik Thousand Needles, kuartet Punk Rock/Pop Punk asal Jakarta yang diberi tajuk InMyFamillis, akhirnya resmi dirilis. Album ini berisikan 6 lagu yang sebelumnya sudah pernah dirilis secara digital oleh netlabel asal Virginia, USA, LePork Records, serta tambahan 4 lagu baru. Baca selengkapnya »
The Experience Brothers – Young Men (Official Music Video)
Music: The Experience Brothers
Album: Eye Contact (Brothers Records, 2011)
Director: Tandun
Cameraman: Tandun & Faesal Rizal Baca selengkapnya »
Konser Musik “Pastoral”
Konser musik ini mempersembahkan beragam komposisi musik yang dibuat oleh komposer Indonesia dan mancanegara, yang mengacu pada puisi-puisi gubahan Goenawan Mohamad. Puisi berjudul “Pastoral”, yang komposisi musiknya dibuat oleh Tony Prabowo, dan dibawakan oleh Momenta Quartet asal New York, dipilih menjadi judul keseluruhan pertunjukan ini. Baca selengkapnya »
TemperTantrum: Melafalkan Autisme, Memamerkan Frustrasi
Sebuah Eksibisi Audio Visual dari:
Aghastyoghalis (Lpg), Ababil Ashari (Yk), Adythia Utama (Jkt), Adit Bujbunen Al Buse (Jkt), Akhmad Taufiqqurakhman (Jkt), Aldy Kusumah (Bdg), Aldiman Sinaga (Sby), Alfian Beiblupbee (Mlg), Andi Rharharha (Jkt), Anitha Silvia (Sby), Anizar Yasmeen (Mlg), Anggung Kuy Kay (Bdg), Anto Arief (Bdg), Avezinebid (Mlg), Ayu widjaja (Mlg), Coloroyd (Jkt), Widhiastana (Mlg), Decky Yulian (Mlg) Baca selengkapnya »
Jakarta Noise Fest III
WASTEDROCKERS
mempersembahkan
JAKARTA NOISE FEST III
- Malaikat dan Singa (Olympia, Washington, USA)
Bekas personil band Old Time Relijun yang kini bersolo karir. Arrington De Dionyso sejak tahun 2006 sudah merilis empat buah album di bawah “the legendary” K Records, yang dua di antaranya total memakai Bahasa Indonesia, yakni Malaikat dan Singa (2009) dan Suara Naga (2011). Sejak tahun 2009 Arrington tampil dengan nama panggung Malaikat dan Singa. Musisi no-wave/grime/post-punk/xprmntl hip-hop asal Olympia ini akan tampil di negara yang menjadi salah satu sumber inspirasinya dalam bermusik. Baca selengkapnya »
Play-Mates – Musik Pagi Televisi (Live Video)
Video live Play-Mates yang memperkenalkan single terbaru mereka, “Musik Pagi Televisi”. Lagu ini bercerita tentang kejenuhan seseorang (atau mungkin mereka?) akan maraknya program musik televisi yang mempertontonkan performa band-band industri yang seragam dan penghamba pasar. Baca selengkapnya »
Friday Folks vol. 1: Wake Up Indonesia!
Indonesia merupakan negeri indah dengan berbagai culture dan keberagamannya. Negeri kaya yang berlimpah akan Sumber Daya Alam, begitupun Sumber Daya Manusia. Dengan segala kelebihannya, kadang menimbulkan pemikiran-pemikiran licik dari beberapa golongan yang ingin mengeruk kekayaan untuk kepentingan individu maupun kelompok. Baca selengkapnya»
Design it Yourself: Contemporary Local Design Scenes
Semua orang mendesain, ketika mereka merancang rangkaian rencana, cara, maupun aksi untuk merubah situasi yang ada sekarang, menjadi situasi yang lebih baik. Desain adalah sesuatu yang sangat mendasari aktifitas manusia—penempatan dan pengelolaan kegiatan apapun untuk mencapai tujuan yang dinginkan adalah proses desain. Baca selengkapnya »
Tribute to Mew: Half the World is Watching Us
Sejak era The Beatles, Nirvana hingga Justin Bieber, kehadiran fans (penggemar) selalu menempati posisi yang unik dalam dunia musik. Hubungan antara musisi dengan fans, juga kerap menentukan ukuran kesuksesan bahkan kelangsungan produktivitas musisi itu sendiri dalam berkarya. Baca selengkapnya »
Humming Mad #1: UPROAR!
Humming Mad #1: UPROAR!
Waktu dan Tempat:
Minggu, 16 Oktober 2011
Pkl. 17.00 s/d Amplifier berhenti berdentum
Lumbung Padi Cafe
Jl. Jeruk Purut, Cipete, Jakarta Selatan read more »
Friday Folks vol. 1: Teriakan Musisi Ibu Kota, Untuk Keterpurukan Indonesia
Jum’at, 30 September kemarin jadi hari bersejarah bagi perkembangan musik Indonesia. Lima kelompok musik indie berkumpul di Djoeragan Kopi Batavia untuk menyuarakan kebangkitan Indonesia di tengah tekanan dan musibah yang tiada henti, yang belakangan justru dilakukan sendiri oleh tangan- tangan manusia. Baca selengkapnya »
International Literary Biennale: Pentas Tafsir Musik Atas Sastra
Dian HP adalah pemain piano dan akordion, pencipta lagu, produser, dan penata musik. Bersama Nyak Ina “Ubiet” Raseuki, ia meluncurkan Komposisi Delapan Cinta, album musik yang berdasarkan puisi Sitok Srengenge dan Nirwan Dewanto, yang akan kembali dibawakannya. Baca selengkapnya »
Revolusi Integralisme Islam: Merumuskan Paradigma Sains dan Teknologi Islami
Revolusi Integralisme Islam. Ini memang semacam revolusi, bukan untuk saling membunuh, tapi saling merengkuh. Armahedi Mahzar (AM), sang penulis, adalah seorang lulusan Fisika ITB yang diberi nama sosial “filsuf” oleh masyarakat atas pemikirannya tentang integralisme. Pemikirannya itu membaurkan apa saja yang pernah dipahaminya, dari soal eksak hingga sosial. Baca selengkapnya »
Pesan Libidinal Malaikat dan Singa
Rasa-rasanya tanggal 10 Oktober kemarin kota Bandung begitu sejuk, hujan rintik sesekali mendecit. Tapi itu bukan masalah bagi pemuda-pemudi idaman sedunia yang justru memilih berkumpul di arena sejahtera berjudul Common Room. Baca selengkapnya »
International Literary Biennale: Sastra, Musik dan yang Klasik
Program ini menampilkan sejumlah penyair yang menimba ilham dari khazanah sastra klasik. Adapun musik bisa pula merentangkan usia sebuah karya sastra sehingga menjadi klasik. Program ini juga memainkan karya musik atas puisi dari para komposer sejak zaman perjuangan kemerdekaan. Baca selengkapnya »
Roman Catholic Skulls – Weathered (2011)
Roman Catholic Skulls adalah proyek musik terbaru bentukan Marcel Thee―otak dari band indie-rock kenamaan asal Jakarta, Sajama Cut―dan Danif Pradana―seorang eksperimentalis dan merupakan maestro noise lokal yang dikenal dekat lewat beberapa proyek musik tidak ramahnya, seperti Kalimayat, Khuruksetra, dan Sabedarah. Baca selengkapnya »
HeyHo! Records “Leisure Party”
HeyHo! Records “Leisure Party”
-1st Year Celebration-
Sabtu, 22 Oktober 2011
Pkl. 16.00 – Selesai
Lumbung Padi Cafe
Jl. Puri Mutiara Ruko Soho Ampera Blok B2 Cipete, Jakarta Selatan Baca selengkapnya »
Band of Brothers #5/Reunion (Cancelled)
BAND OF BROTHERS #5
-Reunion-
Penampil:
- Plester
- Fuentes
- White is Boring
- The Any and Me Baca selengkapnya »




























































March, kuartet heavy-thrash-melodic-metal asal Jakarta yang diawaki Faddy (vokal), Ryan (gitar), Lale (gitar), dan Erixon (drum) baru saja meluncurkan singel terbarunya berjudul “Merasuki Akal”. Singel ini merupakan teaser promo dari album debut mereka “Polymath” yang rencananya akan dirilis dalam waktu dekat.



























































































yang sekiranya akan diluncurkan pada 27 April nanti. 





































































