
3D’s+: Three Days Blues Plus
Posted in Uncategorized with tags Ngeumong Cafe & Library, Performance, Movies, Music Clinic, Discussion, History on November 6, 2009 by rebelzineBEM KEMA Psikologi UPI Presents: Heuristic V: Labyrinth “Find Your Way With Your Own Way”
Posted in Agenda Acara with tags 9808, Cherry Bombshell, Diskriminasi, Diskusi, Heuristic V, Labyrinth, Pink Phony Club, Psiologi, Screening Film, UPI on November 2, 2009 by rebelzine
Kawan-kawan dari BEM KEMA Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, mempersembahkan sebuah acara pemutaran film dan kajian mengenai isu diskriminasi hari ini bertajuk Heuristic V: Labyrinth “Find Your Way With Your Own Way”.
Sebagai bahan kajian, di acara ini akan diputar film berjudul “9808” yang menceritakan tentang intimidasi etnis minoritas Tionghoa di era 98. Dalam kajian, akan terlibat beberapa narasumber, seperti Ariani Darmawan (Director of ‘Sugiharti Halim’), Ifa Hanifah Misbach (Psikolog), dan Egi Ginanjar (Q-community).
Untuk informasi dan reservasi tiket, silahkan hubungi: Ghinaya (0813 9493 4924), Yustia (0856 2060 392) atau Sadena ( 0856 2463 3815).
Asah kritisisme pola pikir dan hidupkan kata ‘peduli’. Mari, kawan, melibatkan diri!
Lipstik Lipsing – Room for Outside EP: Opsi Pengiring Para Pengurai Mimpi
Posted in Resensi Album with tags Balaw Records, Dream-pop, Electro-pop, EP, Lipstik Lipsing, Room for Outside, Self Released, Semarang, Shoegaze-pop, Talenta on October 15, 2009 by rebelzine
Lipstik Lipsing (LL) adalah rekomendasi dari seorang teman baik saya di Semarang. Beberapa kali saya dipaksa mencari tahu tentang band ini dan kemudian mendengarkan materi-materi mereka. “LL adalah band yang paling menonjol di Semarang saat ini. Wajib dengar!” ungkapnya setengah menodong.
Dan berhasil-lah upaya persuasinya hingga saya menyempatkan diri singgah ke myspace LL dan mendapatkan link unduh separuh materi dari album mini mereka, Room for Outside. Tiga lagu tepatnya, Early Express, Suburban Love, dan Rebirth.
Kesan pertama langsung saya dapat lewat lagu Early Express. Atmosfir yang dimunculkan mengingatkan saya pada band lokal lainnya, The Milo (Bandung). Ini karena saya pikir musik keduanya memiliki muatan yang se-aura, bukan identik. Suram, gelap, kelam dalam balutan eksplorasi pop mesin. Reviewer handal mungkin menyebutnya electro-dream-pop, shoegaze-pop, post-rock, ambient, synth-pop, space-rock dan banyak kategorisasi genre lainnya yang saya sendiri pun tidak terlalu paham.
Dari single tersebut, saya bisa bilang LL lebih baik, bahkan sangat. Saya suka sekali dengan suara sang vokalis yang memadu bersama racikan musik yang apik. Tenang, tak tergesa, dan ini bisa mewakili karakter musikal LL yang abu-abu dengan dominan.
Di lagu lain, Suburban Love, nafas Bloc Party mungkin sedikit kentara. Tapi tetap mereka mampu mengemasnya dengan baik, sehingga tidak hilang kesan pertama yang begitu memikat. Ini pula yang membuat saya mengiyakan todongan “wajib dengar!” dari teman saya yang merekomendasikan LL.
Sedangkan di lagu Rebirth, tak jauh beda kesannya. Hanya saja intro awal yang sangat loopsy sekali hampir saja membuat saya melontarkan sedikit sindiran kepada LL yang agak ke-Goodnight Electric-an, tapi untungnya saya tahan. Saya terlanjur jatuh cinta mungkin dengan suara pengisi departemen vokalnya. Atau mungkin di materi yang saya dapat ini berbeda dengan materi di EP mereka? Yang saya dengar adalah Rebirth (loop version). Tapi sudahlah. Perkenalan awal LL di telinga saya berjalan cukup baik. Jadi, jangan dirusak!
Jika membandingkan LL dengan band-band kebanyakan yang cenderung mengidentikkan karakter musikalnya dengan sang inspirator, atau mungkin tanpa disadari malah cenderung menjadi identik, LL tidak demikian.
Dengan pengaruh musik yang begitu banyak, awak LL mampu mengemban posisi sebagai peracik yang handal tanpa harus mencuri resep orang lain dengan proses elaborasi yang maksimal. Dan hasilnya, Anda bisa nilai sendiri setelah mendengarkan keseluruhan materi album mini mereka baik-baik.
Konklusi akhirnya adalah, LL mampu merancang konsep dramatisasi di setiap lagunya dengan baik. Ambiensinya teratur dan sangat ritmis. Saya yakin mereka benar-benar memikirkannya agar pendengar dapat terseret ke dalam buaian musik LL. Karenanya, saya juga merekomendasikannya sebagai satu lagi karya band lokal yang patut didengar. Mereka talenta berbahaya dari Semarang.
Teks: Zelva Wardi
Artis:
Lipstik Lipsing
Album:
Room for Outside (EP/CD-R)
Genre:
Electro-pop, shoegaze-pop, dream-pop, post-rock, indie-rock
Rilis:
Juli 2009
Label:
Balaw Records – Self-released
Line-up:
Fauzan Baihaqi (vokal), Moch. Mursalim (drum), Petra Wewra (gitar), Bram Syah Wijaya (bas), Herdian Adi Prasetya (keyboard/synth)
URL:
www.myspace.com/lipstiklipsing
Ps: Uraian lebih lengkap mengenai Lipstik Lipsing dan rilisannya dapat disimak di RebelZ E-book edisi depan. Rencananya akan kami muat juga di sana.
Serigala Jahanam VS Udanwatu = Dunia Bawah (collaboration)
Posted in Berita & Informasi with tags Adit Buj Bunen Albuse, Aneka Digital Safari, Karbala Bukan Fatamorgana, Phillip B. Klinger, Serigala Jahanam, Spasm Records, Split, Udanwatu on October 11, 2009 by rebelzine
Serigala Jahanam (www.myspace.com/serigalajahanamgila) baru saja melakukan kolaborasi dashyat dengan Udanwatu; open-source collaboration experimental music project dari Adit Bujbunen Al Buse (www.myspace.com/aditbujbunenalbuse), dari grup experimental hip-hop asal Jakarta, Karbala bukan fatamorgana (www.myspace.com/karbalabukanfatamorgana). Sebelumnya, Udanwatu juga pernah berkolaborasi dengan: Phillip B. Klinger (musisi experimental/ambient/noise legendaris asal Michigan, USA. Beliau merilis album sejak tahun 1987 dan masih eksis sampai sekarang! For more info about him, please visit: http://soundgenetic.blogspot.com), Cranial Incisored (Yogyakarta), dan Kalimayat (Jakarta).
Di kolaborasi yang berjudul Dunia Bawah ini, atmosfer yang tercipta cenderung ke arah black-ambient/drone-doom. Di sini Dede melakukan improvisasi gitar yang direkam secara live, mengikuti alunan noise hasil teknik disfigurasi suara yang dilakukan oleh Adit. Rencananya, single kolaborasi ini akan masuk ke rilisan split-CD Aneka Digital Safari/Serigala Jahanam yang akan dirilis oleh Spasm Records (www.myspace.com/thespasmrecord), label asal Bandung.
Sambil menanti rilisan fisiknya, silahkan unduh dulu sneak preview-nya di sini
Wake Up and Smile Coffee – A Benefit Gig for Instituta
Posted in Agenda Acara with tags Akustik, Bangku Taman, D'Jenks, Deu Galih, Folk, Garis Depan, Gig, Info House, Instituta, Steve Towson, Zine on October 2, 2009 by rebelzine
Adit Bujbunen Al Buse’s: Maujud – The Soundtrack
Posted in Resensi Album with tags Adit Bujbunen Al Buse, Aditya Saputra, Danif Pradana, Dee Gothesque, Karbala Bukan Fatamorgana, Yes No Wave on November 17, 2008 by rebelzine
Adit Buj bunen Al Buse’s – Maujud: The Soundtrack/ LP/Pro-CDR (self released, 2008 )
Ini dia salah satu karya dari bedroom musician lokal Adit Bujbunen Al Buse. Adit adalah seorang sarjana seni jebolan Institut Teknologi Bandung. Saat ini ia masih aktif sebagai pelaku seni grafis. Diluar rutinitasnya yang terkait dengan gambar-menggambar dan desain-mendesain, ia juga seorang musisi penyuka musik cadas dan pecandu bebunyian aneh namun kreatif.
Bersama Karbala bukan fatamorgana. (Kbf.), band experimental-political hiphop yang dibentuk bersama sahabatnya Sam pada tahun 2006, ia mencoba mengekspresikan kegemarannya dalam mengolah musik dan menjadi pencabik bass. Saat ini ia dan Sam sedang menyelesaikan penggarapan EP pertama Kbf. yang kerap tertunda dan diberi titel Sinapang Masin. Rencananya EP tersebut akan rilis dalam waktu dekat.
Namun, karena rasa haus dan penasarannya terhadap segala bentuk dentingan bunyi dan suara dari berbagai sumber, kemudian menyulut sisi kreatifnya untuk membuat komposisi musik lain yang aneh namun menarik. Menarik, setidaknya bagi mereka yang kerap mengkonsumsi musik hasil eksperimentasi dan pencari bebunyi yang tidak biasa. Dan ia pikir butuh ruang lain selain Kbf. untuk ia tuangkan ide-ide tersebut.
Dan mungkin berlatar dari sanalah album berjudul MAUJUD – THE SOUNDTRACK, sebuah soundtrack dari film fiksi horror fiktif berjudul MAUJUD ini coba dihadirkan olehnya bagi anda-anda sekalian untuk dicicipi.
Album MAUJUD – THE SOUNDTRACK ini merupakan kompilasi track beberapa karya Adit Bujbunen Al Buse dari sejumlah music/sound project yang pernah diciptakannya. Baik project pribadi maupun project kolaborasi dengan beberapa musisi/sound artist Indonesia seperti Dee Gothesque (Starsun), Danif Pradana (Kalimayat/Khuruksetra/ApocalypseJihad/Gagak) dan Halim Budiono (Cranial Incisored).
Materi yang dihasilkan berupa pesta pora perpaduan dari musik dan non-musik, masinal dan manual, digital dan analog, melodi dan bebunyi. Jika ingin melabelkan album ini sebut saja genre yang terpintas, electronica, metal, horrorcore, hiphop, field recording, gabber, triphop, power electronics, jazz, noise, folk, poetry, atau jika malas menyebutnya, term experimental bisa lebih mewakili. Jika ingin dikeren-kerenkan, avant-garde bisa lebih terdengar ‘mbule’ sepertinya. Atau ‘musik gak jelas’ mungkin akan terdengar lebih gaul.
Dan untuk mencoba memahami hasil perpaduan suara, berbagai bebunyian digital ataupun manual yang dihasilkan dari rasa penasarannya, berikut sedikit gambaran track by track dari album ADIT BUJ BUNEN AL BUSE’S MAUJUD – THE SOUNDTRACK.
Track 1: Zonabeasto – Padang Kebuasan
Sebuah track bergaya instrumental horrorcore/hiphop yang digabungkan dengan disfigurisasi suara-suara manusia. Sebuah track yang dijadikan intro pembuka album ini. Seperti layaknya track pembuka opening title sebuah film.
Track 2: Ketika Purnama Tiba – Mimpi Mencekam
Sebuah track yang berisikan kegirangan Adit Bujbunen Al Buse dalam bermain dengan ambiensi disfigurisasi suara manusia yang menimbulkan nuansa eerie diberi tambahan beat drum yang progressif.
Track 3: Gothesque & the pond of thousand sad faces – Muisto
Ini adalah proyek Adit Bujbunen Al Buse dengan Dee Gothesque. Seorang vokalis wanita dari sebuah band industrial darkwave, Starsun. Dalam track ini Adit melakukan sebuah eksperimentasi penggabungan pembacaan puisi dengan sampling dan nada-nada elektronis. Sebuah track yang sarat akan nuansa surreal, kesedihan dan mencekam.
Track 4: Karbala bukan fatamorgana. – Dasawarsa Memburam Asa
Satu track yang dibuat Adit Bujbunen Al Buse dari single Karbala bukan fatamorgana. Sebuah band experimental-political hiphop. Bergaya spoken words dilatarbelakangi dengan beat hip-hop dan diselingi dengan permainan disfigurisasi suara-suara manusia.
www.myspace.com/karbalabukanfatamorgana
Track 5: Aditya Saputra & Danif Pradana – Unfinished Business
Ini adalah track kolaborasi Adit Bujbunen Al Buse dengan Danif Pradana, seorang noise artist dari Kalimayat/Khuruksetra/Apocalypse Jihad/Gagak yang bermukim di Australia. Sebuah eksperimentasi penggabungan disfigurisasi suara, swing jazz, improvisasi jazz solo bass analog Adit dan sebuah sound hasil teknik field recording yang dilakukan oleh Danif. Track ini adalah salah satu track yang dikerjakan untuk proyek Adit yang lain bernama Udanwatu.
Track 6: LeppenGenni – Cekik, Cekam, Menghujam & Hancurkan
Dalam track di proyek ini Adit Bujbunen Al Buse melakukan sebuah eksperimentasi penggabungan bernyanyi bergaya folk dan teknik field recording. Adit melakukannya secara spontan dengan merekam suara-suara environtment di sekitar lalu diberi tambahan permainan efek reverb untuk menambahkan ambiensi bernuansa magis.
Track 7: Udanwatu – Kala Fajar Hitam Menyingsing
Udanwatu adalah proyek yang dibuat Adit Bujbunen Al Buse bersama musisi dan sound artist dari berbagai macam genre. Dalam track ini ia bekerjasama dengan Halim Budiono seorang gitaris band Chaotic Hydro Grind Math Metal, Cranial Incisored dari Yogyakarta. Adit dan Halim benar-benar berpesta pora dalam track ini. Adit dengan permainan disfigurisasi suara serta sampling dan Halim dengan chaotic guitar shreddingnya ditambah sweet chord jazzynya yang benar-benar menghajar hingga terkapar.
Track 8: Mereka… – Di Sebuah Kamar Mandi
Track ini diambil dari proyek monstrous ambient/sound-design Adit Bujbunen Al Buse, Mereka… Sebuah track yang berisikan sound-sound dan ambient bernuansa monster dan makhluk. Dalam track ini Adit bereksplorasi dengan merekam suara-suara dari sekitar dan peralatan rumah tangga juga disfigurisasi suara-suara manusia. Hingga tercipta sebuah desain suara yang filmis.
www.myspace.com/merekadidalamsana
Track 9: Somno Disturbia – Eulogi Arsenikum (ERK Di Udara Remix)
Ini adalah proyek remix Adit Bujbunen Al Buse. Track ini adalah hasil remix dari sebuah lagu milik band pop/shoegaze, Efek Rumah Kaca berjudul Di Udara. Dalam track ini Adit mencoba menggabungkan unsur-unsur elektronis, post-rock dan noise dengan tambahan beberapa footage. Nuansa gloom trip, monotonic yang surreal coba dihadirkan oleh Adit dalam kemasan track berdurasi 5:06 menit ini.
Kontak & info album: 0856 9207 3535 / 0813 8998 8776
Album Untuk Munir (Press Release)
Posted in Artikel Musik with tags Album Untuk Munir, Emotion Records, Press Release on November 17, 2008 by rebelzine
“Untuk Munir”
Album Para Pencari Keadilan
“Mengenang Munir harus dengan semangat. Rock penuh semangat.” [Full Respect]
“Banyak yang pintar dan pandai berpolitik, tapi tak setulus Munir.” [Asfinawati]
Musik adalah bahasa universal yang bisa dinikmati oleh semua orang. Bahasa musik acap kali dipakai untuk mengenang kejadian-kejadian lampau yang mengandung momen sejarah, baik itu individual maupun kolektif. Musik juga kerap dipakai untuk menyebarluaskan gagasan, protes, bahkan cita-cita. Pada kedua konteks itulah, nilai musik menemukan ruang, waktu dan citranya.
Terkait dengan musik, Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (KASUM) dan kantor berita radio KBR68H sejak akhir tahun 2007 hingga sekarang menggelar serangkaian kegiatan lomba cipta lagu untuk Munir. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai bagian dari rangkaian kampanye penuntasan kasus Munir dan penyebarluasan gagasan serta keberanian Munir dibidang Hak Asasi Manusia.
Rangkaian kegiatan tersebut berupa, pengumpulan materi lagu untuk lomba, penjurian, pengumuman pemenang, produksi album dan launching. Untuk itu dengan penuh kerendahan hati, kami mengharapkan kerjasama dan bantuan dari teman-teman radio dalam mempromosikan album “Untuk Munir”.
Kegiatan ini didukung dan melibatkan banyak pihak. Ada Jockie Soerjoprajogo [musikus] dan Trie Utami [penyanyi] yang bersama Usman Hamid [aktifis] menjadi juri dalam lomba cipta lagu. Mereka telah menilai 132 peserta lomba dengan penuh pemaknaan dan penghayatan hingga mampu memilih sepuluh lagu terbaik dengan berbagai jenis aliran musik, mulai dari rock, blues, jazz hingga alternatif.
Album ini juga merupakan cermin bagaimana orang-orang menilai dan melihat sosok Munir. Para artis yang dalam kesehariannya punya aktifitas yang beraneka, mulai dari anak band, PNS, praktisi hukum sampai penjual soto. Mereka menerjemahkan sosok Munir ke dalam lirik dan syair lagunya sesuai dengan pengetahuan dan pengenalan mereka akan tokoh Munir, kiprahnya sebagai pejuang hukum dan HAM, serta kasus pembunuhan yang dialami.
Asfinawati adalah artis yang cukup dekat dengan figur Munir. Ketua LBH Jakarta ini menulis lagu ’Cahaya’. Sepertinya, ia mencoba merasakan, menyelami dan masuk ke dalam diri Suciwati, istri Munir, sosok perempuan yang ditinggal pergi pasangan hidup untuk selamanya. ’Cahaya’ dikemas dengan sentuhan jazz dengan suara piano yang dominan.
Di tengah kemarau tokoh pahlawan, Munir dianggap bisa mewakili figur ini. Munir dipandang sebagai pejuang yang berani, tidak kenal lelah, tulus, tanpa pamrih. Ada dua lagu yang menempatkan Munir sebagai sosok pahlawan. Doddy BJ dengan lagu ’Pahlawan Sejati’ dan Neps dengan ’Selamat Jalan Pahlawan Hak Asasi’. Doddy adalah PNS di Yogya merangkap penyanyi kafe. Sementara Neps adalah sebuah band keluarga dari Jakarta beranggota Dama Gaok [ayah – drummer], bersama keempat anaknya: Dosi [Bass & Vocal], Mila [Keyboard], Greep [Guitar] dan Riva [Violin].
Manusia langka. Itulah pendapat Jeffar L. Gaol, seniman musik yang karyanya sering dipakai untuk pertunjukan teater dan sinetron. Saking langkanya, ia yakin tidak akan lahir Munir-munir yang lain. Jebolan IKJ ini mempersembahkan lagu ’Blues Untuk Munir’. ”Munir adalah seseorang dengan gagasan yang membuat kita lebih manusiawi dan humanis,” ujarnya.
Munir adalah juga inspirasi di tengah rasa takut. Ia senantiasa menyalakan lilin-lilin keberanian ke sekelilingnya. Hidupnya penuh dengan perjuangan dan teror. Watak berani membela kebenaran ini memberi inspirasi Amir Sadewo, si penjual soto dengan hobi main gitar, untuk menulis lagu ’Masihkan Kita Takut’. Lewat karyanya, Amir berpesan bahwa orang tidak boleh melakukan kekerasan, penghilangan, pemaksaan kepada yang lain.
Nama arsenik lansung melejit bersamaan dengan pembunuhan Munir. Ini adalah sejumput serbuk racun yang menghentikan nafas Munir kala terbang bersama Garuda ke Belanda tahun 2004. ‘Arsenikum’ dipilih oleh Rengga Yudhistira sebagai judul lagunya untuk menandai momentum pembunuhan Munir.
Munir adalah tokoh besar yang membela orang-orang kecil. Hari-hari Munir tidak beda dengan kebanyakan. Naik motor ke kantor. Gemar ngelus-elus ayam jago sebagai hobi kala di rumah. Hidup Munir dipertaruhkan buat sesama. Ben & Friends, band dari Bandung, memetik potret Munir ini ke dalam lagu ’Before You Go’ yang kental dengan sentuhan country. “Buat Munir, gitu. Apa sih yang nggak kita korbanin? Munir aja berkorban untuk kita,” kata Ben.
Lagu ‘Untukmu’, lahir dari tangan Nur Iman oleh sebab yang terbilang sepele. Ia bertetangga dengan seorang dokter. Namanya Jamal, adik kandung almarhum Munir. “Biar Jamal dengar,” ujar Nur Iman.
Lagu ’paling keras’ dalam album ini adalah ’Mr. Ham’ karya Full Respect. Sebetulnya, lagu ini tidak dibuat khusus untuk Munir, tapi diakui terinspirasi oleh kematian Munir. Band bawah tanah yang diawaki diawaki Pay, Gana, Dedi, Tomi, Dani dan Nyong Kunci ini memang spesialis band berlirik kritik sosial. “Mengenang Munir harus dengan semangat. Rock penuh semangat,” kata Pay.
Aliran Modern Funk Rock juga hadir di album Untuk Munir lewat lagu ’Pain’, karya Ovalenz. Band asal Sidoarjo, Jawa Timur ini menulis lirik lagu Munir dalam bahasa Inggris seperti lagu ‘Before You Go’. Formasi Ovalenz adalah Rima [vokal], Ryan [gitar], Nazar [bass] dan Tito [drumer]. Band yang meraih berbagai kejuaraan ini punya motto : Life for Music not music for Life!
***
Ide membuat album Untuk Munir bukan berangkat dari keinginan untuk mencicipi manisnya bisnis musik. Melainkan oleh sebuah niatan kecil untuk turut memberi dukungan moral bagi upaya pengungkapan kasus pembunuhan Munir. Jejak kematian pejuang HAM masih meninggalkan tandatanya besar: siapakah sebetulnya dalang di balik pembunuhan.
Sejauh ini, upaya membuka dengan terang kasus Munir sudah banyak dilakukan oleh berbagai kelompok melalui jalur hukum dan politik. Tanpa meninggalkan apa yang sudah dilakukan, kami mencoba menggaungkan isu Munir lewat bahasa yang lebih bergaya dan populer. Membuat album musik menjadi pilihan sebab musik adalah bahasa universal.
Dengan album musik, Munir yang tadinya hanya menjadi urusan para pegiat HAM, aparat keamanan dan konsumsi politik para politikus, diharapkan bisa masuk ke komunitas dan ruang-ruang yang kental dengan gaya hidup dan budaya pop. Minimal orang akan bertanya: ”Siapa sih Munir? Kenapa Munir?”. Album Untuk Munir sekaligus merupakan cara kami memberi semangat kepada pemerintah untuk tidak ragu membuka tabir di balik pembunuhan. Keadilan Untuk Munir, keadilan bagi kita semua.
Eko Sulistyanto
Head of Promotion KBR68H
021-8513386
021-8513002 [fax]
08161314906
Bullet For My Valentine: Pengusung Metal Kekinian
Posted in Artikel Musik with tags 12 Pints of My Girlfriend's, Bullet For My Valentine, Java Musikindo, Jeff Killed John, Korn, Limp Bizkit, Nirvana on November 17, 2008 by rebelzine
Setelah sukses dalam penyelenggaraan konser Avenged Sevenfold untuk kedua kalinya di Tennis Indoor Senayan beberapa waktu lalu, saat ini JAVA Musikindo telah menandatangani kontrak dengan management band metalcore asal Inggris, Bullet For My Valentine. JAVA Musikindo telah menjadwalkan penyelenggaraan konser BfMV pada 04 Februari tahun 2009 mendatang di Tennis Indoor Senayan, Jakarta.
Hingga saat ini, Bullet For My Valentine, yang beranggotakan Matthew “Matt” Tuck (vocals, guitars), Michael “Padge” Paget (guitars), Michael “Moose” Thomas (drums), Jason “Jay” James (bass) telah merilis 4 album. Tepatnya 2 EP, “Bullet For My Valentine” (2004) & “Hand of Blood” (2005) dan 2 full album, “The Poison” (akhir 2005) & “Scream Aim Fire” (2008).
Bullet For My Valentine bermula dari sebuah band cover version bernama 12 Pints of My Girlfriend’s yang dibentuk sekitar tahun 1997. Band ini kerap kali meng-cover lagu-lagu milik Metallica dan Nirvana ketika perform. Pada tahun 2002 mereka mematangkan materi dan akhirnya menelurkan EP bertajuk “You/Play With Me” dimana saat itu identitas band mereka telah berubah menjadi Jeff Killed John.
Jeff Killed John kemudian terinspirasi oleh Korn dan Limp Bizkit yang ketika itu sedang tenar-tenarnya bernaung dibawah genre nu-metal. Mereka pun mengumpulkan materi berikutnya untuk membuat full album. Namun sangat disayangkan ketika akan masuk dapur rekaman bassis mereka, Nick Crandle hengkang dari band. Rencana rekaman pun saat itu batal sampai mereka mendapatkan bassis pengganti, Jason James (bassis mereka hingga saat ini).
Ketika Jason James masuk sempat terjadi sebuah pergolakan batin di band. Musik nu-metal yang mereka usung sudah tidak trend lagi, padahal materi album sudah siap. Mereka pun berkesimpulan bahwa jiwa bermusik mereka bukan di nu-metal. Singkat cerita mereka berubah aliran musik menjadi metalcore dengan identitas baru Bullet For My Valentine pada tahun 2003. Sejak saat itulah nama mereka mulai terdengar.
Bahkan untuk sekelas band baru dengan musik metalcore yang terdengar berbeda, Bullet For My Valentine meraih prestasi yang cukup baik. Produksi EP self-titled mereka “Bullet for My Valentine” cukup sukses mendapat tanggapan di Inggris. Begitu juga dengan EP kedua mereka, “Hand of Blood”. Respon signifikan terlihat saat debut full album mereka dirilis akhir tahun 2005. Mereka pun mulai diperhitungkan di kancah musik metal dunia.
Begitu juga dengan album baru mereka, “Scream Aim Fire” yang rilis di Indonesia bulan April 2008 lalu. Influence bermusik mereka dari band-band gaek macam Metallica, Pantera, Iron Maiden, Machine Head, Megadeth semakin memperjelas perbedaan musik mereka diawal-awal dengan sekarang. Dari nu-metal kini lebih mengarah ke old school thrash metal. Bahkan ketika album “Scream Aim Fire” dirilis banyak yang berkata bahwa Metallica adalah kompetitor terberat mereka tahun ini. Benarkah sehebat itu mereka?
Kita lihat saja pembuktian mereka kepada metalheads Jakarta nanti? Mari kita tunggu JAVA Musikindo memastikan kedatangan Bullet For My Valentine bulan Februari 2009 mendatang.
teks: zelva wardi/rz
Album Baru Efek Rumah Kaca “Kamar Gelap” Segera Dirilis
Posted in Berita & Informasi with tags Aksara Records, Angki Purbandono, Efek Rumah Kaca, Kamar Gelap on November 19, 2008 by rebelzine
Efek Rumah Kaca ”Kamar Gelap” /LP/CD (Aksara Records/Coming Soon, 2008 )
Tepat sebulan lagi, Jumat, 19 Desember 2008 sophomore album efek rumah kaca “Kamar Gelap” resmi dirilis. Banyak yang menilai rilisan kedua erk ini terlalu cepat, karena hanya berselang setahun lebih sedikit dari debut album self-titled mereka. Walau demikian tak sedikit juga yang menantikan rilisan baru ini. Entah karena sudah bosan dengan materi-materi lama dari album pertama atau memang penasaran dengan karya satir lewat lagu-lagu mereka, yang jelas erk memiliki stock lagu yang cukup hingga beberapa album ke depan.
Jadi maklum saja kalau mereka juga tak mau berlama-lama menimbun karya-karyanya. Dua belas track sudah mereka rampungkan dan siap memanjakan kuping-kuping kalian. Apakah content-nya akan seterpuji album pertama mereka, ataukah justru kritikan yang akan menghujani “Kamar Gelap”, kalian akan bisa mengomentarinya nanti.
Sedikit bocoran saja, perpaduan audio & fotografi memenuhi artwork cover album “Kamar Gelap”. Ada 12 foto hasil bidikan, temuan dan gubahan Angki Purbandono (aktivis fotografi ruang mess 56 jogja) yang direncanakan sejak bulan Juni lalu untuk dijadikan cover dan pelengkap kemasan album “Kamar gelap”. Dan rencananya ke 12 foto karyanya akan dipamerkan pada saat peluncuran album kedua erk tersebut.
Bocoran lainnya, erk akan mengeluarkan 2 versi packaging rilisan album “Kamar gelap” yaitu versi CD dan versi bajakan. Untuk versi CD ukuran dan style-nya akan sama seperti layaknya CD, tapi didalamnya disertakan 12 foto-termasuk front cover dan back cover dalam packagingnya. Sedangkan untuk versi bajakannya adalah bentuk ’paket hemat’nya agar semua khalayak dapat menikmati juga ide-ide dari erk. Namun, versi bajakan ini tampilannya tentu akan berbeda dengan versi CD.
Sedangkan mengenai content lagu-lagu dari album ”Kamar Gelap” apakah hasilnya mengecewakan atau tidak, rapi atau terkesan buru-buru, akan dipuji atau dicaci semuanya akan kami ulas setelah album mereka resmi rilis pertengahan Desember nanti. Tapi bukankah materi pra-rilisnya sudah ada yang dibawakan beberapa di setiap aksi panggung erk. Bahkan dalam kesempatan wawancara di radio otomotion bulan juli lalu, 5 materi album ”Kamar Gelap” seperti ‘Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa’, ‘Jangan Bakar Buku’, ‘Mosi Tidak Percaya’, ‘Lagu Kesepian’ dan ‘Ballerina’ untuk kali pertamanya di udarakan.
Begitu juga ketika erk tampil dalam acara pameran foto tunggal Ary Sendy di galeri ruang rupa bulan ramadhan, 19 September lalu. Malahan dalam showcase tersebut hampir semua bocoran lagu di album “Kamar Gelap” dibawakan. Jadi, saya pikir pastilah kawan-kawan sudah bisa me-reka-reka seperti apa kiranya suguhan materi lagu di album baru erk nanti.
Jadi, bersabarlah menunggu ”Kamar Gelap” tak lama lagi. Rebelzine juga akan memuat interview ekskusifnya disini. Just wait and see!!
teks: zelva wardi
Track list:
- Tubuhmu Membiru… Tragis
- Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa
- Mosi Tidak Percaya
- Lagu Kesepian
- Hujan Jangan Marah
- Kenalakan Remaja di Era Informatika
- Menjadi Indonesia
- Kamar Gelap
- Jangan Bakar Buku
- Banyak Asap di Sana
- Laki-Laki Pemalu
- Balerina
Tribute to Weezer
Posted in Agenda Acara with tags brewww! cafe, fair, geez, gracias olsen, implement yeah, pegawai negeri, sarin, starwick, the cello, the guardians, wadezig gumprang, weezer, weezerian on November 19, 2008 by rebelzineAksi “Berisik” Behemoth di Jakarta/Viky Sianipar Music Center [03/11/2008]
Posted in Reportase Acara with tags after all over, behemoth, death vomit, Fumeral Inception, Mighty Syndicate, Siksa Kubur on November 22, 2008 by rebelzine
Senin, 03 November 2008, Viky Sianipar Music Center tampak tak seperti biasanya. Pasalnya tempat ini biasa dipadati aktifitas baik acara musik atau acara lainnya diakhir minggu atau menjelang weekend. Tapi tidak dengan sore hingga malam hari itu. Adalah kawan-kawan dari Mighty Syndicate, promoter lokal untuk pagelaran musik-musik berisik yang mewujudkan sebuah hajatan besar diawal minggu.
Tak tanggung-tanggung band extreme metal primitive dari Polandia, Behemoth digandeng Mighty Syndicate ke Jakarta untuk menggoncang tempat itu. Behemoth datang untuk menghibur para penggemarnya di Jakarta dalam rangkaian konser promo album “The Apostasy/2007” bertajuk Asian Apostasy Tour 2008. Saya yang telah hadir sekitar pukul 16.30 di venue bersama seorang kawan lumayan penasaran dengan penampilan band yang telah eksis selama 17 tahun tersebut. Tipikal gitar, bass, drum dan vokal yang ekspresif tampaknya akan menjadi suguhan yang memekakkan gendang telinga.

Guyuran hujan yang cukup lebat & merata di Jakarta sore itu hampir membuat sepi gelaran tersebut. Walau penonton hadir sejak sore, tapi terlihat tak terlalu signifikan untuk kapasitas hall yang mampu menampung 1000 orang di Viky Sianipar Music Center. Dan sepertinya penundaan dilakukan hingga hujan benar-benar reda. Mungkin untuk memastikan limited ticket yang disediakan panitia benar-benar telah habis. Setelah hujan mulai mereda ba’da isya, barulah perlahan-lahan para metalheads lokal berbondong-bondong menghampiri ticketing. Tiket dibanderol seharga Rp.150 ribu.
Baru sekitar pukul 20.00 acara dimulai. Sebagai informasi, venue Vicky Sianipar Music Center yang digunakan untuk konser Behemoth bukanlah venue yang biasanya digunakan untuk gigs band-band lokal. Melainkan hall khusus yang berada di sebelah kanan dari pintu masuk, dekat parkiran. Walau tak terlalu besar, namun cukup eksklusif dan tertata rapih. Tribun kecil untuk rekan-rekan wartawan yang akan mendokumentasikan konserpun tersedia disini. Sehingga cukup nyaman bagi media untuk mengambil gambar dari atas tribun tersebut.

Perhelatan Mighty Syndicate pun dimulai. Band-band pendukung langsung dirundung tampil bergantian. After All Over, Funeral Inception dan Death Vomit. After All Over didaulat tampil diawal. Meski sebagian penonton masih memilih diluar ketika mereka tampil, para personil After All Over tetap tampil prima. Tak terlalu mengecewakan, walau masih terasa kosong. Di lagu ke-3 mereka sempat mengajak gitaris Siksa Kubur, Andre untuk berkolaborasi. Lumayan untuk menghibur kawan-kawan metalheads yang sedikit kecewa karena Siksa Kubur batal tampil. Japra, sang vokalis dikabarkan sakit tenggorokan. Tapi saya melihatnya tetap menyempatkan diri bergabung di kerumunan penonton.
Usai After All Over, Funeral Inception mengambil alih panggung. Penonton mulai padat dan nampaknya cukup banyak juga yang ingin melihat penampilan band ini, walau tidak demikian dengan saya. Penontonpun mulai terpancing untuk moshing dan ber-headbanging. Dibanding band sebelumnya, musik mereka lebih terisi. Sound yang mereka keluarkan terdengar maksimal. Dan lagu ‘Surga Di bawah Telapak Kaki Anjing’ sepertinya sudah familiar di kuping penonton.

Lanjut dengan penampilan Death Vomit ketika penonton sudah cukup ramai. Band jogja ini berhasil meliarkan para metalheads yang hadir sebelum Behemoth muncul. Tiga puluh menit jatah tampil mereka maksimalkan dengan baik. Setelah Death Vomit panggung dibiarkan kosong selama kurang lebih 30 menit. Penonton diberi kesempatan untuk mengambil nafas sejenak dan mengendurkan urat saraf sebelum dedengkot-dedengkot metal dari Gdansk, Polandia ini mengguncang Viky Sianipar Music Center.
Setelah dibuat lama menunggu baru sekitar pukul 22.10, Adam “Nergal” Daski (vokal/gitar), Tomasz “Orion” Wróblewski (bass), Zbigniew Robert “Inferno” Promiński (drum), dan dibantu Patryk Dominik “Seth” Sztyber (gitar) muncul dihadapan ratusan penggemarnya di Jakarta. Gemuruh penonton membahana sambil mengacungkan jari metalnya. “Goodnite Jakarta!!,” suara Negal sang vokalis terdengar garang menyapa, yang kemudian disambut penonton dengan teriakan.

Untuk setlist mereka saya tidak hafal betul. Yang jelas mereka memainkan sekitar 15-an lagu berikut tambahan encore 1 lagu. Sebagian besar lagu yang mereka bawakan berasal dari album “The Apostasy/2007”, diantaranya ‘Prometherion’ dan ‘Slaying The Prophet ov Isa’. Selebihnya dari album-album mereka sebelumnya. Seperti lagu-lagu dari album “Demigod” yaitu ‘Conquer All’ dan ‘Slaves Shall Serve’.
Di tengah-tengah pertunjukan para personil Behemoth sempat mengeluhkan merasa tak nyaman dengan jepretan cahaya kamera dari rekan-rekan fotografer dan beberapa kamera penonton. Meski demikian mereka tetap tampil menggila dan nyaris sempurna setelah itu.

Aksi keempat personil Behemoth terlihat sangat enerjik, powerfull dan tanpa lelah. Dukungan lighting yang terkesan megah dan sangat pas mengiringi hentakan musik Behemoth juga menjadi nilai tambah. Begitu juga dengan sound system yang terdengar bersih dan maksimal. Sangat berhasil membuat pekak telinga dan memusingkan kepala. Sangat keras untuk ukuran pertunjukan indoor. Bagi mereka yang larut dalam dentuman dan hentakan setiap lagu yang dimainkan Behemoth pastilah akan sangat menikmatinya. Benar-benar sebuah pertunjukkan diawal minggu yang melelahkan.
Terima kasih dan salut untuk Mighty Syndicate.
teks: zelva, foto&video: adit/rz

ZOO – Kebun Binatang
Posted in Resensi Album with tags Kebun Binatang, Yes No Wave, ZOO on November 26, 2008 by rebelzine
ZOO – Kebun Binatang/mp3 (Yes No Wave/2007)
Untuk sebagian orang mungkin belum terlalu mengenal band bernama Zoo ini. Tapi, bagi yang sering kali mengunduh rilisan-rilisan ciamik nan edan dari Yes No Wave, sebuah net-label yang disinyalir net-label lokal pertama asal Jogja, mungkin sudah tidak asing dengan band keren dan unik ini. Lupa tepatnya kapan Yes No Wave merilis demo album milik Zoo yang bertitel “Kebun Binatang” ini. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah mereka ada dan memiliki karya yang berbeda. Ya, karena saya belum pernah menemukan rilisan musik yang beda macam ini. Walaupun saya tidak pintar mengkategorikan musik, tapi mereka memiliki komposisi lagu yang cukup unik. Perpaduan etnik dan unsur matematis dalam lagu cukup membuat orang mumet mendengar lagu-lagunya. Namun, bagi kalian yang mencari unsur beda dalam sebuah band, Zoo saya rekomendasikan.
Rilisan ini cuma berisi 6 lagu dengan keseluruhan trek yang berdurasi hanya 14 menit 2 detik. Meskipun mereka hanya bertiga, tapi bisa dirasakan sebuah sentuhan musik yang terkonsep dan sangat tidak lazim. Tipikal permainan drum yang menghentak dengan tempo cepat dan sulit ditebak. Begitu juga dengan suara vokal yang tidak umum dan tidak biasa. Coba saja dengarkan. Anda akan mendengar seperti sedang dibaca-bacai mantra oleh sang vokalis seolah Anda sedang kesurupan. Atau mungkin anda mendengar malahan sang vokalis band ini yang kesurupan..hehe.
Ketiga orang dalam band ini memang kreatif. Mereka tidak asal-asalan dalam membuat sebuah karya musik. Semuanya terkonsep begitu baik. Mencoba menghindarkan permainan yang setipe dengan band lain dan terkesan itu-itu saja. Mereka membuat sebuah produk musik yang layak acungan jempol. Untuk lirik, nah itu yang saya bingung. Apa sekiranya yang ingin mereka sampaikan dengan gaya bernyanyi seperti itu. Ada atau tidak?
Namun, menurut informasi seorang kawan, Zoo selain terkonsep dari segi komposisi musik, mereka juga tidak melupakan konten lirik dalam lagu. Semua liriknya berkisar tentang peradaban modern yang semakin menjauhkan manusia dari alam dan lingkungannya. Anda bisa lihat desain cover rilisannya. Mungkin cukup menggambarkan apa yang ingin mereka sampaikan. Impact peradaban modern karena industri. Hanya saja lirik mereka ini tidak “bernyanyi” layaknya lantunan merdu nan syahdu ala Krisdayanti atau Ruth Sahanaya. Demi mempertahankan ciri khas yang unik dari komposisi nada lagunya mereka mengemas liriknya dalam puisi. Hanya saja ya begitu itu penyampaian pusinya, seperti orang kesurupan, hehe.
Untuk unsur etnis terdengar sekali di awal-awal lagu ‘Takluk’,sedangkan di pertengahan lagu hingga selesai jadi sangat terdengar rumit dan susah ditebak permainan nadanya. Sedangkan ambiensi berisik dan noisy terdengar di lagu pertama yang singkat, ‘Manekin Bermesin’. Walaupun lagu lain tak kalah rumitnya. Hufh, entah seperti apa mereka jika tampil live. Saya penasaran melihat aksi panggung mereka. Apakah mereka bisa bermain sebaik dalam rekaman ini atau tidak. Jika, Sungsang Lebam Telak dengan musik seperti itu saja bisa tampil lebih baik ketika live karena mereka bermain dengan penuh spontanitas, kenapa band seperti Zoo tidak. Siapa yang ingin mengundang mereka?? Mungkin saja mereka bisa menghibur kawan-kawan yang haus dengan karya yang tidak biasa.
Jadi, silahkan kontak mereka!!
Sebagai informasi, mereka akan segera merampungkan album perdananya bertitel “Keringat , Nafas, Dengung”. Materinya tetap kencang namun dengan balutan etnis yang lebih kental.
teks: zelva wardi
Kontak ZOO: 081.339.220.333
http://www.myspace.com/zooindonesia
lihatkebunbinatangku@yahoo.com
Indonesian Earthfest 2008
Posted in Agenda Acara with tags Green Music Foundation, Indonesian Earthfest 2008 on December 7, 2008 by rebelzine

Green Music Foundation Presents:
Indonesian Earthfest 2008
Minggu, 14 Desember 2008, pkl.15.00 – 23.00
@ Area Hall Basket Senayan, Jakarta
HTM Rp 50.000,- (bisa dibeli di lokasi acara)
Lebih dari 50 band/musisi lokal tanah air akan berbaur dalam acara ini untuk memfasilitasi program “Musicians Social Responsibility” yang dibangun oleh Green Music Foundation dengan melakukan penggalangan dana guna menghidupkan kembali Desa Waikokak, Nusa Tenggara Timur yang secara tidak langsung terkena dampak buruk dari perubahan iklim akibat Global Warming. Desa ini merupakan target pertama dalam mendukung misi organisasi yang diprakarsai oleh Glenn Fredly ini.
Adapun tujuan dari Indonesian Earthfest 2008 ini adalah untuk mengedukasi publik mengenai isu pemanasan global yang menjadi permasalahan dunia, termasuk Indonesia. Karena Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki wilayah hutan tropis terluas di dunia.
Beberapa band/musisi lokal yang akan tampil dalam acara ini adalah:
- The Upstairs
- NAIF
- Koes Plus
- Maliq and The Essentials
- Efek Rumah Kaca
- Superglad
- Zeke & The Popo
- Ras Muhammad
- Jeruji
- White Shoes and The Couples Company
- Drive
- Soulvibe
- Sister Duke
- Marcell
- Iwa K
- Nugie
- Jikustik
- Mike Mohede
- Boomerang
- dll
Info lebih lanjut:
Taufik 0817776243 atau Stella 08161142171
Atau kunjungi www.greenmusicfoundation.net
The Trees and The Wild: Sajian Akustik Sederhana Pembangkit Optimisme
Posted in Wawancara with tags Enterprising John, Honeymoon on Ice, Lil'fish Records, The Trees and The Wild on December 7, 2008 by rebelzine 
The Trees and The Wild mungkin masih asing di kuping sebagian kalian. Band ini memang terhitung baru. Terbentuk dari pertemanan masing-masing personilnya sejak bangku sekolah. Andra dan Remedy berteman sejak SMA dan pernah membuat proyek akustik bersama ketika kuliah. Sedangkan Iga adalah teman Andra di sebuah band blues, Enterprising John yang juga temannya sejak SMP. Di tahun 2006 mereka mulai mencoba menulis beberapa lagu. Beberapa karya pun tercipta. Dari sanalah perjalanan panjang The Trees and The Wild dimulai. Mereka menawarkan komposisi musik akustik yang sederhana dan ear catching. Mudah dicerna dan cukup minimalis.
‘Honeymoon on Ice’ adalah single pertama dari mereka yang diperkenalkan ke publik dan mendapat apresiasi bagus dari salah satu radio anak muda Ibukota. Lagu paling minimalis ini terinspirasi dari sebuah film karya Michel Gondry yang berjudul “Eternal Sunshine of the Spotless Mind.”
Selain itu, “Lil’fish records”, label milik Agus Sasongko, Media Distorsi tertarik untuk merilis album penuh mereka setelah mendengarkan beberapa lagu The Trees and The Wild via myspace. Dari sana kemudian terjalin kerjasama antar keduanya. Alhasil, bulan Februari 2009 mendatang rilisan penuh pertama dari band ini resmi akan beredar di bawah payung label tersebut. Sebagai informasi “Lil’fish records” sempat menangani album Pure Saturday dan The Morning After.
Karena ingin tahu lebih jauh tentang The Trees and The Wild setelah sempat naksir dengan single pertamanya, kami (Rebelzine) tertarik untuk mewawancara mereka. Berikut respon ‘sederhana’ dari mereka atas pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan!!!
The Trees and The Wild adalah: Andra B. Kurniawan, Iga Massardi, Remedy Waloni.
Kita mulai dari pertanyaan ringan dulu. Bagaimana mulanya The Trees and The Wild terbentuk? Untuk line-up personil apakah sudah seperti ini dari awal atau sering kali bongkar pasang? (cantumkan line-up terkini beserta posisi di band)
Kami sudah berteman sejak masih di bangku sekolah. Di masa SMP Iga dan Andra telah bermain musik bersama, sedangkan Andra dan Remedy bertemu di masa SMA. Akhir 2006 kami mulai membuat lagu, dan sampai sekarang formasi kami bertiga.
Apa dasar kalian membentuk sebuah band? Sekedar hobikah atau karena kalian memang ingin berkarir di lingkup musik? Atau mungkin juga karena menurut kalian banyak band-band indie macam The Trees and The Wild yang sukses di scene-nya (bahkan ada yang go international), sehingga kalian mencoba peruntungan disitu atau bagaimana?
Ketika kami membuat lagu, itu adalah kondisi dimana kami tidak membuka kompromi dengan hal-hal di luar kami. Dan penghargaan menurut kami adalah sebuah proses.
Apa saja kegiatan para personil The Trees and The Wild selain sibuk di band?
Remedy: menyelesaikan skripsi.
Andra: menyelesaikan skripsi.
Iga: penata musik film dan guru musik.
Untuk nama band sendiri, kenapa The Trees and The Wild yang digunakan sebagai identitas? Ada alasan tertentu mungkin?
The Trees and The Wild merupakan suatu ungkapan yang menurut kami berarti suatu keadaan yang bebas, hidup dan tidak artifisial.
Lagu ‘Honeymoon on Ice’ cukup menarik perhatian saya. Pertama kali dengar saya pikir lagu ini milik band asing. Ternyata saya salah. Namun, yang menarik perhatian saya bukan karena itu, melainkan karena komposisi musik yang sangat minimalis dan mudah dicerna. Saya pikir hanya dengan gitar akustik saja sudah cukup enak untuk didengar. Tidak perlu menambahkan instrumen atau efek macam-macam lagi. Apa semua lagu kalian dikonsepkan seperti itu, minimalis dan easy listening? Untuk genre lagu sendiri, seperti apa kalian mengkategorikannya?
Kategori bagi kami akan menjadi bumerang untuk persepsi, karena itu akan mempersempit pemikiran orang yang mendengar karya-karya kami. jadi kategori musik The Trees and The Wild menjadi kebebasan tiap-tiap individu untuk menyikapinya.
Sejauh ini sudah ada berapa materi lagu yang kalian punya? Dan apa yang ingin kalian sampaikan lewat lagu-lagu kalian tersebut/bercerita tentang apa saja?
Sejauh ini sudah 80%, dan lagu-lagu kami bercerita tentang optimisme dan antisipasi hari esok.
Mengenai lirik/syair lagu, menurut kalian seberapa penting kefungsiannya dalam sebuah karya musik? Hanya sebagai pelengkap sajakah atau seperti apa? Seserius apa kalian memikirkan pembuatan lirik untuk lagu-lagu kalian?
Lirik memiliki porsi yang unik dalam komposisi lagu. Bila dianalogikan, lirik itu sebagai bumbu pada indomie..hehehehe..
Lagu-lagu kalian dominan berlirik bahasa Inggris. Apakah musik kalian tidak cocok menggunakan bahasa Indonesia? Beberapa band ketika ditanya tentang ini pasti akan menjawab masih terlalu sulit untuk mereka bisa berekspresi dengan lirik-lirik bahasa Indonesia. Padahal beberapa band seperti Efek Rumah Kaca, Seringai, The Upstairs, SORE, Netral dan beberapa band lainnya mampu mengeksplor bahasa Indonesia untuk kemudian dijadikan lirik dalam karya-karya mereka. Walaupun mereka berada di genre yang berbeda. Bagaimana dengan The Trees and The Wild?
Kebetulan lirik kami tidak semua berbahasa Inggris dan menurut kami lirik bahasa Indonesia maupun Inggris tidak memiliki kekurangan maupun kelebihan. Dan kami tidak menemui kesulitan dalam membuat lirik berbahasa indonesia.
Influence kalian dalam bermusik? Terinspirasi dari apa saja dan siapa saja? Baik musisi ataupun non-musisi (entah alam, keseharian atau apapun).
Kami terinspirasi oleh hal-hal yang terjadi dalam hidup kami dan musik yang telah kami dengar dari dulu sampai sekarang.
Menurut kalian, sejauh mana musik membawa pengaruh baik & buruk bagi orang lain? Dengan kata lain, bisakah mengintervensi seseorang untuk berbuat sesuatu?
Kemungkinan adanya intervensi musik terhadap hidup seseorang akan selalu ada, tetapi bicara tentang baik dan buruk bukanlah sesuatu seperti hitam dan putih. Ini akan kembali kepada kebebasan individu masing-masing yang menikmati musik tersebut dan cara mereka menyikapinya.
Kembali ke lagu-lagu kalian. Apa yang berbeda dari karya-karya The Trees and The Wild dan ingin ditunjukkan ke penikmat musik lokal kita?
Berbeda adalah bentuk apresiasi dari para pendengar kami, ketika kami membuat lagu, yang kami pikirkan hanya mengekspresikan apa yang kami alami.
Debut album kalian akan dirilis oleh “Lil’fish records” sekitar bulan Februari tahun 2009 mendatang. Bisa diceritakan proses terjalin kerjasama dengan label ini?
“Lil’fish records” mendengar kami dari situs myspace lalu mereka menawari kami kerjasama untuk membuat album penuh.
Berapa lagu yang akan disertakan ke dalam rilisan pertama kalian tersebut? Dan untuk rekamannya sendiri sudah sampai sejauh mana sekarang?
10 lagu, proses rekaman sudah berjalan 80%.
Oke, sukses untuk album penuh pertama kalian nanti. Bagaimana caranya jika ada yang ingin berinteraksi dengan kalian? Baik via myspace, e-mail, face book atau friendster mungkin?
Untuk menghubungi kami bisa melalui www.myspace.com/thetreesandthewild atau email listento_thetreesandthewild@yahoo.com
Ada lagi mungkin yang ingin disampaikan The Trees and The Wild? Harapan-harapan ke depan The Trees and The Wild ataupun sesuatu yang ingin disampaikan kepada calon pendengar kalian?
Datang yaa ketika kami manggung, kita ngobrol disana!!! Biar lebih akrab!!! ![]()
teks & wawancara: zelva wardi/rebelzine, foto/gbr: dok. ttatw
Kontak/booking: Teguh +62856 9498 9650

DEMAGOG
Posted in Opini & Kontemplasi with tags demagog, pemilu 2009, politik, politisi on December 10, 2008 by rebelzine
Asa terlontar diawal sebelum sesal datang. Semoga saya, anda, kita cepat tersadarkan dari bujuk rayu demagog. Demagog yang siap menghipnotis kita di kala ada kesempatan. Kita akan dibawa ke dunia yang kita cita-citakan. Saya pun yakin, sangat yakin! Kita pasti menyukainya. Kita tidak akan ragu dengan ke-Indonesiaan-nya. Pun keberpihakannya kepada nasib rakyat. Dari kata-katanya, seolah-olah permasalahan bangsa selesai sudah. Jika masih ada yang percaya tentang Satria Piningit, bukan tidak mungkin inilah dia orangnya.
Begitulah demagog. Ucapannya telah membutakan akal kita. Ia menghipnotis hati kita dengan janji-janjinya. Padahal di balik layar sebenarnya denyut hati dan kegelisahan rakyat tak menyentuh kalbu mereka. Bagi mereka rakyat hanyalah objek yang harus ditaklukan demi mendapatkan kursi.
Saya pernah mendengar. Bakal calon kepala desa di kampung saya dulu berkata dalam kampanyenya, “saya akan bangun desa ini menjadi desa yang makmur. Mengaspal jalan-jalan desa, meningkatkan hasil panen dan menjaga keamanan desa ini.” Camat dan Bupati pun kalau tidak salah pernah mengucapkan itu.
Akhir-akhir ini saya sering mendengar. Calon Gubernur di beberapa propinsi Negara saya mengatakan bahwa dengan semangat otonomi daerah, dirinya akan membangun daerahnya. Meningkatkan kesejahteraan, memberikan rasa aman, tidak ada rakyatnya yang tidak makan, mengembangkan daerahnya menjadi kekuatan penopang pemerintahan pusat.
Saya pun sangat sering mendengar. Dari dulu sampai sekarang, para calon presiden Negara saya selalu menjanjikan. Lagi-lagi dengan suaranya yang lantang. Memberantas KKN, menyejahterakan rakyat, membuat kebijakan yang berpihak pada wong cilik, akan memimpin Negara sesuai amanah rakyat dan lainnya yang tak kalah bagus dalam menghipnotis hati rakyat untuk mendukungnya.
Dari yang saya dan mungkin anda dengar, apakah benar janji-janji itu terealisasi? Di sini, kata-kata sudah menjadi senjata. Kata tidak lagi menjadi bunyi yang bermakna dan berguna. Hanya sekedar perlambang, sekedar bunyi fisik tanpa makna yang substantive. Jadi apa janji-janji politik sekalipun tak akan mengubah apapun karena sekadar tabuhan belaka, yang tak menghasilkan tindakan-tindakan nyata untuk rakyat. Itulah kata tokoh strukturalis Ferdinand de Saussure.
Ada kesalahan apa dalam kepalanya? Secara akademik saya tidak meragukan kemampuan mereka. gelar akademis pun berjejer di namanya, dalam maupun luar negeri. Tapi secara nilai, saya tidak melihatnya. Nol besar! Anda menilainya bagaimana? Kekuasaan dan politik masih banyak dijadikan sebagai profesi dan mata pencaharian para politisi yang kebanyakan rabun ayam. Rahim bangsa ini sangat kikir melahirkan pemimpin yang melek. Pemimpin kita sangat Machiavelli, baginya segala cara bisa dan boleh dilakukan dengan alasan demi kepentingan dan kelangsungan kekuasaan. Kebijakan yang sewenang-wenang menurut ukuran moral, mengingkari janji atau kepercayaan dan perbuatan yang tak berlandaskan hukum, dianggap tak perlu diperhatikan.
Tak peduli apakah rakyat sejahtera. Tak peduli apakah rakyat sejahtera. Tak peduli apakah rakyat hidup nyaman. Bahkan tak peduli apakah rakyat punya masa depan atau tidak, yang penting dirinya tetap memiliki masa depan untuk terus bertahta. Celakanya lagi, rakyat menganggap apapun yang dilakukan pemimpinnya adalah benar sekalipun itu memang salah. Inilah konsep kekuasaan yang dipahami secara magis religius yang telah lama berkembang sebelum menjadi Negara nasional.
Dan para pemimpin demagog itu paham betul bagaimana memanfaatkan psikologi rakyat dalam memenuhi hasrat politiknya. Masyarakat rela turun ke jalan untuk mendengarkan pidato dari jagoannya. Berteriak-teriak sambil membawa bendera sakralnya sebagai tanda dukungan. Bahkan dukungan sampai mati pun mungkin rela mereka lakukan. Masyarakat terkena hipnotis para demagog.
Kondisi seperti ini kian subur ketika terjadi perselingkuhan antara demagog dengan media massa. Media massa yang tidak lagi sekedar medium penyampaian pesan kepada masyarakat tapi telah menjadi pesan itu sendiri yang menghegemoni alam pikiran masyarakat. Dengan informasi, pencitraan yang dibangun tentu sesuai dengan aturan demagogi, yakni menyesuaikan diri dengan yang diharapkan. Ia bisa menjadi demagog bunglon, menyesuaikan dengan wajah sosial rakyatnya. Ia bisa menunjukkan berbagai peran sehingga membuat tindakannya efektif di dalam situasi yang beragam. “Merayu berarti mati sebagai realitas untuk menghasilkan tipu daya,” begitulah kata Bellenger. Demagogi semakin canggih dengan berkembangnya sarana komunikasi.
Kenyataannya, kesadaran untuk sadar, nampaknya masih sangat kecil di kalangan masyarakat. Budaya paternal masih sangat kuat. Tidak sedikit rakyat di negeri ini suka demagogi dari para pemimpin demagog. Rakyat masih gemar simbol, upacara, dan berbagai perhiasan sosial yang harus dipertahankan. Rakyat masih mencintai para pemimpin selebriti. Tak peduli jika para pemimpin demagog dan selebriti itu sesungguhnya tak memihak rakyat.
Dan kemudian saya pun mendengar. “Rakyat nonton jadi supporter kasih semangat jagoannya. Walau tau jagoannya ngibul walau tau dapur gak negbul……” Rakyat lugu kena getahnya buah mangga entah kemana. Tinggal biji tinggal kulitnya tinggal mimpi ambil hikmahnya…..” [Iwan Fals].
*Ps: pertimbangkan matang-matang untuk memilih capres pada pemilu 2009. Jika Anda merasa tidak ada capres yang layak, lebih baik tidak usah memilih. Bukankah tidak memilih juga merupakan hak Anda??
teks: jalaludin/rz
ZOO: Konsep Filosofis Modernitas Berbalut Komposisi Musik Etnis Matematis
Posted in Wawancara with tags Demo, Eskalator, Kebun Binatang, Kupu-Kupu, Lalat-Lalat, Manekin Bermesin, Menyudahi Gelap, Rebel! Zine, Takluk, Wok The Rock, Yes No Wave, ZOO on December 10, 2008 by rebelzine 
Akhirnya kesampean juga mewawancara band serius, penuh konsep dengan nilai-nilai etnis dan raungan filosofis ini. Perkenankan saya memperkenalkan mereka, ZOO! Ya, ZOO. Nama yang cukup sederhana untuk identitas sebuah band, namun sarat makna. ZOO justru menjadi nama yang sangat mewakili sebuah citra yang ingin mereka bangun. Ada filosofi yang jelas-jelas sangat mereka pikirkan (tidak sesimpel namanya). Peradaban, itulah konsep yang ingin mereka bahas dalam karya-karyanya. Peradaban modern yang makin menggeser norma tradisional dan kaidah sosial sehingga menjauhkan manusia dari kemurnian alam dan keliaran. Dan ZOO (kebun binatang dalam artian sebenarnya, -red) menjadi pengandaian yang pas untuk membahasakan konsep/tujuan musik mereka tersebut. Wuuih, berat tak konsepnya?
Jadi, tak heran jika karya-karya band asal Jogja ini hasilnya seperti yang ada di rilisan net-label YesNoWave (net-label yang merilis demo mereka, ”Kebun Binatang”/2007), rumit/ruwet/ribet/njelimet. Namun, satu yang pasti, karya mereka (ZOO) berbeda & tidak biasa. Mereka kreatif dan inovatif. Yang saya suka, ZOO adalah sebuah band dengan konsep yang sangat matang dengan mengusung visi yang jelas, mengangkat isu-isu modernitas serta pengaruhnya bagi kehidupan manusia, kemudian membelalakannya ke permukaan dengan syair-syair metaforik berbalut komposisi musik (sebagai media) yang tak kalah rumit dengan konsep/tema yang mereka usung.
Band ini patut diapresiasi. Karena itulah, berbekal rasa penasaran Rebelzine mencoba melayangkan materi wawancara kepada mereka. Karena ZOO memiliki kesan yang serius, saya mencoba menyelipkan beberapa materi yang sedikit serius dengan harapan dijawab dengan serius pula. Mmm.. mereka (diwakili sang vokalis, Rully) menanggapinya dengan sangat baik. Kami menyukai responnya. Penasaran??? Silahkan santap saja petikan wawancaranya berikut ini!!!
ZOO adalah: Rully/RULK (vokal/djembe), BHKT (bas), Obet/OBTH (drum), DMEX (drum)
Bisa ceritakan sedikit mengenai ZOO? Awal mula terbentuk & formasi band terkini (sudah sejak dulu dengan line-up sekarang atau kerap kali berganti personil)?
Awal terbentuk sebenarnya akhir 2005, tapi dengan konsep yang masih meraba-raba, dan belum bisa dibilang aktif pada saat itu. Mulanya bahkan masih dengan formasi normal (dengan gitar), bernuansa progresif dan noise. Formasi sekarang hanya vokal, bas, dan dua pemain drum yang mengisi lagu secara bergantian. Konsepnya pun bisa dikatakan sudah nyaman untuk diteruskan.
Kenapa ZOO? Apakah nama tersebut sudah merepresentasikan identitas dan musikalitas kalian? Lalu bagaimana dengan konsep musik? Apakah dipikirkan sekali sejak awal untuk menciptakan karya musik seperti ini, mulai dari perpaduan vokal dan musik yang aneh seperti yang dihasilkan?
Tentu saja. Sebab paling sederhana yaitu karena kata tersebut cuma terdiri dari satu suku kata, mudah diucapkan, dan tentu saja mudah diingat. Alasan selanjutnya yang lebih filosofis, ialah karena nama tersebut mewakili citra yang ingin kami bangun, dan senyawa dengan lirik dan tema yang kami usung. Akan panjang lebar jika saya ceritakan konsep dan maknanya disini, singkatnya jika lirik kami ditelaah dengan seksama, semuanya ternyata berkisar tentang satu tema besar: ”peradaban modern yang semakin menggeser norma tradisional dan semakin jauhnya manusia dari kemurnian alam dan keliaran.” Kebun Binatang merupakan perumpamaan yang pantas untuk menyimbolkannya. Dari konsep besar inilah, lantas musik kami pelan-pelan terbentuk dan terarahkan. Sebisa mungkin harus bisa mencerminkan dan berlandaskan visi tersebut. Ini bukan mau dibilang sok berat loh, tapi memang sebegitu seriusnya ZOO sengaja dirancang.
Tujuan kalian membentuk ZOO? Hanya untuk menyalurkan hobi bermusik masing-masing personil atau ada keinginan tertentu untuk fokus di jalur musik?
Pernah tidak ketemu orang kayaraya yang seharusnya bisa menjadi apapun yang dia mau, namun justru memilih untuk berkelana mencari petualangan, atau orang pandai yang bisa saja menjadi insinyur ternama atau astronot tapi malah memilih untuk mendedikasikan diri sebagai guru SD? Sekedar hobi-kah orang-orang ini, ataukah ada sebab lain?? Sorry, tidak menjawab pertanyaan, tapi memang tujuan kadang berangkat dari sesuatu yang sulit dijelaskan.
Awalnya saya tertarik dengan ZOO karena kalian memperdengarkan komposisi musik yang berbeda & tidak biasa. Saya tidak pandai mengkategorikan jenis musik. Yang saya nilai beda & tidak biasa itu yang saya suka. Sesimpel itu. Dan saya mendapatkannya di ZOO. Bagaimana kalian mengkategorikan musik ZOO?
Kita punya kesamaan. Sama-sama tidak pandai dalam hal itu. Jangan kuatir, tidak merugikan kok. Hehe..
Demo ZOO yang dirilis YesNoWave berisi 6 lagu. Masing-masing lagu tentunya memiliki cerita yang berbeda-beda. Bisa diceritakan?
Selalu senang jika ditanya ini. Namun, saya keberatan jika harus menceritakan apa maksud dari liriknya secara gamblang, karena tidak etis. Seperti karya puisi, tidak selayaknya si pengarang menjelaskan apa yang sesungguhnya ia maksud. Interpretasi itu hak penikmatnya. Letak ekslusifitasnya ya disitu. Tapi berikut akan saya coba beri petunjuk mengenai metafora-metafora yang ada di keenam lagu tersebut, dan silahkan ciptakan interpretasi anda sendiri.
’Manekin Bermesin’: Sengaja dibuat pendek dengan lirik diulang-ulang sesuai dengan judul lagu sebagai penekanan. Sehingga pendengar akan berpikir, pastilah judul/lirik tersebut ada maksudnya. Manekin, walaupun merupakan penyempurnaan bentuk manusia, tetap saja bukan sesuatu yang hidup, hanya pajangan yang melambangkan kesempurnaan dan wujud palsu. Menghidupkan manekin dengan menggunakan mesin pun tetap belum akan bisa membuatnya sesempurna manusia, yang walaupun purba, tapi nyata.
’Menyudahi Gelap’: Seperti judulnya, habislah gelap. Mengajak untuk bangkit. Menolak untuk dibilang mati.
’Kupu-Kupu’: Seperti yang dipahami, kupu-kupu sering disimbolkan sebagai lambang kesempurnaan yang lahir dari kebusukan. Begitu pula maksud kupu-kupu dan kota-kota disini.
’Lalat-Lalat’: Peradaban modern selalu menjauhkan diri dari kekotoran, penyakit, bau busuk, dan segala sumbernya. Lalat adalah simbol sempurna akan hal ini. Mereka-mereka yang tersingkir karena peradaban modern tidak menerima adanya ketidaksempurnaan dan kekacauan.
’Takluk’: Maksud liriknya jelas. Bumi yang marah. Manusia yang akhirnya tak berdaya terhadapnya. Takluk, tunduk.
’Eskalator’: Melambangkan satu lagi fitur modernitas, yakni peradaban yang serba instan.
Untuk lirik/syair lagu, apakah kalian memperhatikan benar soal ini? Seberapa penting kalian melihat kefungsian lirik/syair dalam sebuah lagu? Apakah hanya sekedar pelengkap?
Menurut saya pribadi sebagai pencipta liriknya, justru musik-lah yang merupakan pelengkap, perwujudan lirik itu sendiri. Musik hanya raga, lirik-lah ruh-nya. Yang jelas, ZOO tidak akan pernah membuat lagu berlirik bahasa Inggris.
Lalu, adanya intrumen etnik macam djembe yang kalian sertakan dalam komposisi musik, apakah ini sudah dikonsepkan juga dari awal?
Betul. Sekedar menyesuaikan nuansa lagu. Di lagu-lagu ZOO yang baru, djembe akan lebih sering muncul.
Setau saya djembe berasal dari Afrika Barat, namun di Indonesia juga ada alat musik semacam ini, ada djembe bali dll. Kenapa harus djembe yang kalian gunakan sebagai pelengkap instrumen? Kenapa tidak alat musik tradisional asli Indonesia yang banyak ragamnya?
Itu sih pengennya. Hanya saja, saya bisanya maen itu. Hehe… Jika ada yang bersedia membantu berkolaborasi dengan memasukkan instrumen tradisional Indonesia, kami akan sangat senang menyambutnya. Banyak lagu baru yang masih sangat bisa dibubuhi instrumen tradisional. Berminat?
Bisa ceritakan sedikit mengenai demo ZOO yang dirilis di YesNoWave? Bagaimana awal mulanya? Apakah memang sengaja dirilis dalam format mp3 lewat net-label tersebut? Kenapa tidak menelurkan album penuh dalam format CD saja? Ataukah karya-karya ZOO memang sengaja untuk di-share gratis, bukan untuk diperjualbelikan?
Awalnya, 6 lagu tersebut kami kemas dalam jumlah terbatas beserta buklet berisi lirik. Ini kemudian dibagi-bagikan secara gratis ke orang-orang tertentu, termasuk ke Wok the Rock, pencetus YesNoWave. Kemudian ia menawari untuk dirilis di netlabel-nya. Album penuh sedang dipersiapkan, dan akan diedarkan dalam bentuk CD nantinya.
Menurut ZOO bagaimana seorang pendengar/penikmat musik seharusnya mengapresiasi sebuah band/musisi yang menghasilkan karya musik? Entah karya band itu jelek atau bagus?
Wuuh, pertanyaan sulit. Apresiasi, sama halnya dengan ekspresi, bebas mutlak. Tidak ada yang namanya seharusnya atau yang tidak seharusnya.
Bagaimana ZOO melihat kecenderungan band-band sekarang, baik dari segi musikalitas dan orisinalitas berkarya?
Band-band sekarang atau band-band kebanyakan? Sebagian bagus.
Lalu, orisinil-kah karya ZOO? (walau tidak menutup kemungkinan ada band-band/musisi terdahulu yang menginspirasi, karena memang susah untuk mengukur ke-orisinil-an sebuah karya, bukan hanya musik.)
Benar, sulit mengukurnya. Karena tidak bisa dipungkiri, banyak sekali karya lain (bukan hanya musik) yang berandil dalam mempengaruhi musik ZOO. Bahkan beberapa lirik ZOO mengutip penggalan syair-syair kuno yang sudah ada dari Jawa, Aceh, atau Kalimantan. Orisinil? Susah menjabarkan apakah iya atau tidak.
Membuat sebuah komposisi musik seperti yang ZOO hasilkan bisa dibilang cukup sulit. Begitu juga dengan menyatukan ide-ide antar masing-masing personil. Bagaimana ZOO mengatasi hal ini?
Sederhana sebenarnya. Dari hasil jam-session di studio, lagu yang masih bentuknya kasar kemudian dibakukan dan diberi aksen untuk menambah kekhasan. Menyatukan ide, itu yang sulit. Band lain pasti merasa begitu.
Sebuah band yang berkualitas itu seperti apa di mata ZOO?
Berciri. Bermula dari itu.
Demo ZOO yang dirilis YesNoWave durasinya sangat singkat. Kalau tidak salah semuanya (6 lagu) berjumlah 14 menitan. Jujur saya kurang puas..hehe. Lantas, kapan album penuh kalian? Berapa trek yang akan mengisi album tersebut?
Album penuh sudah direncanakan segera setelah demo rampung sebenarnya. Namun, hambatan banyak betul untuk mewujudkannya. Jumlah lagu yang sudah pasti akan ada di album penuh tersebut ada 21 buah, dengan durasi lagu paling lama hampir 5 menit.
Tahap perampungannya sendiri sudah sejauh mana?
Tahapan mixing. Masih jauh ya dari rampung?
Masih samakah konsepnya dengan demo kalian? Lalu akan dirilis via YesNoWave juga atau lewat label lain? Atau mungkin kalian akan merilis sendiri?
Sejauh ini keputusannya masih akan dirilis sendiri, kecuali ada label yang berminat. Konsepnya tentu saja tidak akan berpaling dari tema. Sebagian besar masih belum jauh berbeda dengan lagu-lagu di demo, tapi beberapa lagu lebih beraroma etnis yang berpadu dengan rumus-rumus khas ZOO.
Oke, terima kasih. Sukses untuk ZOO. Ditunggu album penuhnya. Jangan sungkan kabari Rebelzine untuk perkembangan kalian. Terakhir, apa harapan ZOO ke depan? Ada yang ingin disampaikan kepada para pendengar karya kalian?
Terimakasih sekali sudah memperhatikan ZOO. Mari terus dukung perkembangan musik independen Indonesia. Kami juga menunggu jika ada kesempatan untuk tampil di kota kalian. Salam kami dari Jogja.
teks & wawancara: zelva/rebelzine, gambar/artwork: dok. ZOO

Kontak ZOO: Richie +62813 3922 0333
Dan unduh demo lagu mereka, ”Kebun Binatang” di www.yesnowave.com
Ghaust “Album Release Party”
Posted in Agenda Acara with tags Denial, Fall, Ghaust, Jenggo Movement, Kelelawar Malam, Release Party, Robo Murphy, Rossi Music Center on December 10, 2008 by rebelzine 
Jenggo Movement Presents
GHAUST
Debut Album Release Party!
Minggu, 21 Desember 2008 @ Rossi Music Center, Fatmawati
Dimeriahkan oleh :
Fall
Denial
Kelelawar Malam
Robo Murphy
Starts @ 6 pm, bands starts @ 7 pm, HTM Rp 25.000,-
Bawa uang lebih, karena Ghaust juga akan menggelar barang dagangan (merchandise) mereka di lokasi acara.
Islam dan Pluralisme (Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan)
Posted in Resensi Buku with tags islam dan pluralisme, jalaluddin rakhmat, Serambi on December 10, 2008 by rebelzine
Judul Buku : Islam dan Pluralisme (Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan)
Pengarang : Jalaluddin Rakhmat
Penerbit : Serambi, 2006
Suatu saat dalam sebuah diskusi seoang teman baik saya melemparkan sebuah pertanyaan, “Jika kita terlahir sebagai orang bukan Islam, apakah masih bias masuk surga? Sedang kita sama sekali tidak mempunayi pengetahuan akan hal tersebut?” Atau, bagaimana halnya dengan orang-orang yang sudah berkontribusi besar pada kehidupan manusia tapi dia tidak menganut Islam? Seperti Mother Theresa, Gandhi dan lainnya? Segala yang telah mereka lakukan apakah lantas menguap begitu saja? Seolah Allah menutup mata dan meng’anak tiri’kan hanya karena mereka tidak ber’label’ Islam.
Apakah hanya Islam agama yang diterima Allah? Dengan kata lain apakah orang yang beragama selain Islam, seperti Kristen, Hindu, Buddha, akan memperoleh keselamtan di sisi Allah? Apakah non-muslim juga menerima pahala amal salehnya? Lantas, kenapa Allah tidak menjadikan semua agama itu satu saja? Apa tujuan penciptaan berbagai agama itu? Bagaimana seharusnya kita menyikapi perbedaan ini?
Pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah beberapa dari yang lain yang pada akhirnya direspon beragam bahkan berakhir menjadi kontroversi. Hal ini juga melanda saya. Yang saya terkadang heran, bukanlah jawaban logis sedrhana yang memuaskan yang didapat. Tapi reaksi keras, yang sama sekali tidak argumentative dan sering bernada emosionil. Cukup ironis memang. Di tengah pencarian akan kebenaran murni yang hakiki dari apa yang sedang diyakini malah selalu dihadapkan dengan tembok kepatuhan semu yang melupakan hal-hal bersifat nuraniah. Pada akhirnya sayapun dapat ‘mewajarkan’ orang-orang khususnya umat Islam sendiri yang pada akhirnya mengalami krisis kepercayaan pada apa yang sedang diyakininya.
Buku ini seperti mencari jawabannya dalam Al-Quran. Seperti penggalian makna sejati Islam dan agama (din), mengungkap spirit firman Allah dalam memandang agama-agama lain, dan merumuskan bagaimana kita beriman secara autentik di tengah pluralitas kebenaran itu.
Ini sebuah kutipan yang saya ambil dari buku ini, “Apakah hanya Islam agama yang diterima Allah? Jawaban kita bias “ya” dan “tidak”. Ya, bila yang kita maksudkan adalah Islam sebagai kepasrahan sepenuh hati pada kebenaran, yang kita peroleh melalui proses pencarian yang tulus dan sungguh-sungguh. Tidak, bila yang dimaksud dengan islam adalah institusi keagamaan seperti yang tercantum dalam kartu identitas kita.”
Lalu ada lagi pembahasan dalam buku ini tentang sebuah pencarian kebenaran. Pencarian kebenaran yang dimaksud dapat mengambil kasus yang dicontohkan oleh Muthahhari (guru besar muslimin era modern). Descartes (Filsuf yang terkenal dengan postulatnya Cogito ergo Sum) dalam pencarian kebenaran, Descartes menerima Kristen sebagai agama yang benar, seraya mengatakan bahwa itulah agama yang dikenalnya dengan baik. Ia tidak menolak kemungkinan agama lain juga benar, hanya saja ia tidak mengetahuinya.
Muthahhari menulis, orang-orang seperti Descartes tidak mungkin kita sebut kafir, karena mereka tidak mempunyai sifat membangkang kepada kebenaran dan tidak menyembunyikan kebenaran. Bukankah kekafiran adalah pembangkangan dan penutupan kebenaran. Mereka adalah muslim secara fitriah. Jika kita tidak dapat menyebut mereka muslim, kita juga tidak dapat menyebut mereka kafir.
Pernyataan ini seakan merespon kenyataan ironis yang terjadi pada kondisi Islam pada saat ini. Pengkafiran sepihak. Penganggapan bahwa mazhab yang berbeda dari yang diyakini akan menyebabkan tertolaknya amal saleh seseorang. Penyempitan dan pembatasan kotak kecil ke dalam golongan-golongan tertentu yang bernama jama’ah, harakah dan kelompok satu imam yang menganggap bahwa golongan merekalah yang akan diterima.
Selebihnya buku ini juga membahas tentang telaah ulang skisme dalam Islam, pengenalan Allah (Tuhan yang disaksikan, bukan Tuhan yang didefinisikan), konsep-konsep antropologis dalam Al-Quran, alienasi dan dehumanisasi, psikologi kaum fundamentalis, ihwal ateisme dan materialisme hingga persoalan social plitis seperti menyoal Negara Islam dan hak-hak rakyat dalam Islam.
Penekanan saya pada ulasan ini memang lebih ke persoalan yang lebih mendasar dalam bagaimana seharusnya kita sebagai umat Islam bersikap. Dan pastinya juga bagaimana mengubah sebuah cara pandang yang saat ini benar-benar sudah sedemikian distorsi terhadap Islam. Cara pandang yang sudah benar-benar kabur justru datang dari ‘perbuatan saleh’ orang-orang Islam sendiri.
Bagi saya pada saat ini yang dibutuhkan adalah sikap-sikap cerdas yang bisa melihat Islam dari sisi yang lebih nuraniah. Buakn tradisi semu, kepatuhan tak berdasar, fanatisme buta yangmenjadi euphoria dan telah melanda umat Islam pada saat ini.
Buku ini bagi saya eperti memberikan perenungan baru sebagai sesuatu yang bisa membuat kita dapat bersikap lebih arif dan bijak dalam menyikapi perbedaan.
Cukup ‘kontroversif’ apalagi bagi ‘pemikir-pemikir’ yang menutup erat pikirannya dengan hal-hal baru atau lebih tepatnya pembaruan yang justru bersifat untuk menemukan kembali.
teks resensi: adit bujbunen al buse
MAE Live @ The Venue Eldorado Bandung
Posted in Agenda Acara with tags Deep Insight, Influent Ideas, MAE on December 10, 2008 by rebelzine
MAE Live in Concert
Sabtu, 10 Januari 2009, pkl 20.00 – selesai
@ The Venue Eldorado, Bandung
Untuk info lebih lanjut:
Virus Inc. Jl. Diponegoro No.10, Bandung
022 – 4268118
Islam Melawan Kapitalisme
Posted in Resensi Buku with tags Islam Melawan Kapitalisme, Resist Book, Zakiyuddin Baidhawy on December 12, 2008 by rebelzine
Judul : Islam Melawan Kapitalisme
Penulis : Zakiyuddin Baidhawy
Tebal : 266 Halaman
Penerbit : Resist Book
Bukanlah sebuah utopi bila kelak tak ada lagi di muka bumi ini yang tidak sejahtera hidupnya. Sebuah jalan keluar melawan kapitalisme ala Islam dibahas tuntas di buku ini. Islam yang revolusioner menolak system ekonomi, sosial, politik dan segala implikasi moral yang telah busuk di jamannya. Bahkan hingga sekarang, Islam masih relevan untuk dijadikan jalan keluar.
Dalam sejarah perkembangan dunia sudah banyak teori-teori tentang keadilan temporer. Dari egalitarianisme radikal hingga prinsip libertarian yang dicetuskan obert Nozick. Segala prinsip tersebut awalnya merupakan buah dari rasa ketidakadilan yang sudah mengakar di masyarakat. Tetapi dalam perkembangannya, rasa keadilan yang diimpikan musnah seiring dengan munculnya berbagai implikasi yang timbul akibat penerapan prinsip-prinsip tersebut.
Kepemilikan pribadi yang didengungkan oleh para libertarianis nampaknya menemukan jalan buntu ketika dihadapkan pada sebuah kemiskinan missal. Karena dalam libertarianisme, fungsi sosial kekayaan sudah hilang. Sehingga dalam kehidupan nyata jurang perbedaan ekonomi sangat jelas terlihat. Hal ini pula yang ditolak total oleh para egalitarianis radikal. Mereka berpendapat bahwa kepemilikan kolektif adalah segalanya. Menolak prinsip bahwa manusia adalah berbeda dalam hal kebutuhan. Perbedaan adalah sunatullah, karena pada dasarnya semua adalah milik Tuhan. Begitulah yang dikatakan pengarang menepis paham egalitarian dan libertarian ini.
Islam yang berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunnah, menanggapi hal demikian sudah sangat jelas. Kepemilikan individu dibatasi, kepemilikan kolektif dijamin dan sumber daya bukanlah kepemilikan eksklusif. Batas-batas yang jelas dalam Al-Quran dikatakan sebagai jalan tengah memahami persoalan ekonomi akibat sistem kapitalisme yang ada. Perilaku konsumsi juga dibatasi dalam Al-Quran.
Mengenai masalah konsumsi manusia, Al-Quran menjawab dengan bijak. Etika Al-Quran yang ditawarkan adalah pemenuhan kebutuhan hidup secara wajar dan proporsional. Bila diterapkan akan membuat sikap antisipatif dan responsive terhadap ancaman kelangkaan sumber daya alam dan kemerosotan lingkungan nantinya. Wajar jika kita saat ini sibuk mencari energi alternative, setelah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui akan habis karena kerakusan manusia.
Dalam system kapitalisme, peranan Negara haruslah dibuat seminim mungkin. Dengan jalan memprivatisasikan milik Negara tentunya. Bila semua sector usaa Negara diprivatisasi segelintir orang, maka monopoli perdagangan bukanlah hal sulit lagi. Sehingga kewajiban Negara mensejahterakan rakyatnya menjadi utopis. Belum lagi benturan dengan system hukum yang dibuat untuk kepentingan para kapitalis.
Tentu hal ini sangat ditolak dalam Al-Quran yang berprinsip pada keadilan masyarakat seutuhnya, menolak adanya penguasaan pribadi terhadap sumber daya alam, baik yang bebas maupun yang tidak. Berkaca pada sejarah. Nabi sebagai pemimpin pada jamannya telah menasionalisasikan sumber daya alam seperti hutan, air, dan rumput. Tidak diijinkan segelintir orang untuk menguasainya.
Hal yang bisa dilakukan sekarang oleh pemimpin Negara yang mempunyai kekuasaan tentunya segera menasionalisasikan segala sumber daya alam. Hanya dengan cara itu, pintu bagi para kapitalis lewat perusahaan transnasional dan multinasional akan tertutup rapat. Tentu saja Negara sah untuk menjalankan ‘monopoli’ demi kesejahteraan rakyatnya. Akibatnya, peran pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya terbukti.
Pada level praksis Islam harus tampil sebagai agama public yang peduli terhadap problem-problem kemiskinan, pengangguran dan penindasan sosial-ekonomi lainnya. Masalah-masalah ekonomi yang disebabkan ‘jasa’ para kapitalis dan neoliberalis lewat IMF, WTO dan juga sistem free trade harus segera dihapuskan. Pesan-pesan dalam Islam pun harus mampu membangkitkan kekuatan-kekuatan protes dan perlawanan atas poros-poros neoliberalisme dan pasar bebas yang tidak pernah dapat menjawab keadilan masyarakat.
Bahasa yang digunakan Zakiyuddin sangat mudah dicerna. Zakiyuddin coba menghindari penggunaan kata-kata yang terkesan rumit dan asing. Lebih lanjut, penulis juga memberi deskripsi yang jelas tentang paham-paham yang ada di dunia dalam menyikapi permasalahan ekonomi. Ditambah dengan pandangan Islam tentunya.
teks resensi: sugeng sutrisna
Supersonic Sound Fest ‘08 Tour//Jakarta
Posted in Agenda Acara with tags Ansaphone, Damascus, Futurica, Jelly Belly, Mellon Yellow, sarin, Sharesprings, Stellarium, Supersonic Sound Fest, Whistler Post on December 15, 2008 by rebelzine
FUTURICA PRESENTS:
“SUPERSONIC SOUND FEST ’08 TOUR
Friday, December 18th @ Brewww Cafe, Kemang
Starts 5pm
HTM Rp 15.000,-
With Performances by:
- Stellarium (Singapore)
- Jelly Belly (Bandung)
- Ansaphone (Bandung)
- Sharesprings (Jakarta)
- Sarin (Jakarta)
- Mellon Yellow (Jakarta)
- Damascus (Jakarta)
- Whistler Post (Jakarta)
For more info: Ipung 021 928 1429
Bush Get The Shoes
Posted in Berita & Informasi with tags Al-Baghdadia, AS, Bush, Hugo Chavez, Irak, Muntazer Al-Zaidi, Nuri Al Malik, Sepatu, Venezuela on December 16, 2008 by rebelzine
Mungkin saya merupakan satu dari sekian banyak orang yang tersenyum simpul ketika menyaksikan momen melayangnya the magic shoes di Irak (15/12) via youtube. Bagaimana tidak, sepasang sepatu dan pemiliknya mendadak tersohor ke seluruh penjuru dunia karena kejadian tersebut. Dan sasarannya bukan orang sembarangan, George Bush, yang dikenal sebagai ‘monster’ dari AS paling berbahaya sejagad raya.
Adalah Muntazer Al-Zaidi, Jurnalis Irak dari Chanel televisi Al-Baghdadia yang sangat berani melakukan tindakan ekstrim tersebut. Kejadian mengejutkan ini terjadi dalam suasana konferensi pers bersama Perdana Menteri Irak, Nuri Al Maliki dalam rangka perpisahan Bush sebagai presiden AS.
Untuk kronologis kejadiannya sendiri saya belum tahu pasti. Dalam tayangan video di youtube, ditengah-tengah acara, mendadak Jurnalis Irak tersebut berdiri dan melepas kedua sepatunya, dan tanpa tedeng aling-aling melayangkannya ke arah muka bengis Bush. Namun sayang, Bush berhasil menghindar . Untuk lebih jelasnya anda bisa mengakses via youtube. Ada beragam dokumentasi video dari beberapa wartawan yang hadir dalam acara tersebut.
Akibat kejadian ini Muntazer Al-Zaidi diamankan pihak terkait di sana. Entah hukuman apa yang akan didapat Jurnalis ‘pemberani’ ini akibat ulahnya tersebut. Yang jelas, tindakan Al-Zaidi menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan. Pro tentunya dari mereka yang tidak menyukai Bush, salah satunya dari Presiden Venezuela, Hugo Chavez. Chavez memuji tindakan jurnalis Irak itu. Dan menurut perkembangan, Al-Zaidi mendapat dukungan penuh dari negara-negara penentang Bush. Dan yang kontra tentu saja datang dari mereka-mereka yang bernaung di bawah ketiak presiden AS yang akan segera lengser tersebut.
Namun, saya masih membayangkan jika kedua sepatu milik Al-Zaidi itu benar-benar mendarat tepat di muka Bush. Tentu saja akan menjadi hadiah perpisahan di akhir tahun yang tak akan terlupakan semasa hidup Bush.
Lalu, bagaimana nasib sepasang sepatu milik Al-Zaidi?? Seharusnya Bush membawanya pulang sebagai kenang-kenangan.
teks: zelva/rebelzine

Muntazer Al-Zaidi (Jurnalis Televisi Irak, Al-Baghdadia)
Video terkait berita ini:
http://www.youtube.com/watch?v=_RFH7C3vkK4&feature=related
We Are Pop! Vol.7 “Farewell Edition”
Posted in Agenda Acara with tags Ballads of The Cliche, Candyfloss, Doet Maoet, Funny Little Dream, Heyfolks!, Innocenti, Its Different Class, Mam, Ruby and the Long Story, The Ellise, The Emergency Kisses, The Trees and The Wild, We Are Pop!, Whistler Post, White Shoes and The Couples Company on December 22, 2008 by rebelzine
We Are Pop! Vol. 7 “Farewell Edition @ The End Of This Year”
Sunday, 28th December 2008
@ Heyfolks! Jl. Bumi No.17, Mayestik-Jakarta Selatan
Starts 12pm-8pm
Performances:
- Ballads of The Cliche
- Candyfloss
- Doet Maoet
- The Emergency Kisses
- The Ellise
- Funny Little Dream
- Innocenti
- Its Different Class
- Mam
- Ruby and the Long Story
- The Trees and The Wild
- Whistler Post
- White Shoes and The Couples Company
And it’s all FREE!!
Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau
Posted in Resensi Buku on December 24, 2008 by rebelzine
Judul Buku : Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau
Penulis : Zulhasril Nasir
Penerbit : Ombak, 2007
Tebal : 233 halaman
Seperti kita ketahui, Sumatera Barat merupakan daerah yang kental religiositasnya. Apapun kepercayaan yang berkembang, Sumatera Barat tetap menjadi basis agama Islam yang kuat. Penulis tertarik membukukan fenomena ini sekaligus mengangkat cerita pahlawan kita yang terlupakan, Tan Malaka. Bahkan menurut seorang peneliti Departemen Sosial, Tan Malaka dianggap “off the record” dalam sejarah orde baru. Kemunculan dan kematiannya kini masih simpang siur. Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tahu kuburnya.
Di zaman pergerakan Tan Malaka aktif dalam kegiatan partai komunis dunia. Karya besarnya, Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika) dan Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi) memperkenalkan bangsa Indonesia kepada cara berpikir ilmiah.
Buku ini mengupas kaitan antara unsur-unsur egaliter Minangkabau dengan hubungan kerevolusioneran Tan Malaka. Paparan Zulhasril dimulai dari falsafah hidup orang Minangkabau, “Alam Takambang jadi Guru.” Dapat diketahui bahwa alam dan segenap unsurnya memiliki kaitan erat. Berbenturan tapi tidak saling melenyapkan. Menilik pandangan hidup orang Minang, fenomena alam, binatang, tumbuhan tunduk kepada hukum yang telah diatur oleh Tuhan melalui keharmonisan. Hal inilah yang diyakini menjadi dasar pemikiran Tan Malaka dalam berpergerakan.
Gerakan kiri di Sumatera Barat terbagi dalam Islam Komunis, Islam Nasionalis, Sosialis Demokrat, Nasionalis Kiri dan Komunis. Islam Komunis mencoba menggabungkan paham sosialisme Islam dan komunis dalam perjuangan anti penjajahan. Kaum Islam Komunis berasas pada ajaran Tan Malaka yang menghubungkan ajaran tentang kesamaan dan kebersamaan manusia dalam Islam dan Komunis. Islam Komunis kemudian digantikan Islam Nasionalis setelah gagalnya pemberontakan Silungkang (1927) dan ditangkapnya sebagian tokoh pergerakan.
Sosialis Demokrat kemudian dibentuk oleh kaum sekuler berpendidikan dan tidak mengedepankan ideology Islam sebagai bagian dari perjuangan. Gaya perjuangannya mengutamakan gagasan dan diplomasi. Pengikut kelompok ini tidak banyak dibanding kelompok lain.
Selanjutnya kaum Nasionalis Kiri. Mereka yang tergabung di dalam Nasionalis Kiri merupakan orang-orang politik kiri dan Islam yang masuk ke dalam Militer Gyu Gun (zaman Jepang). Mereka aktif bersama Masyumi dan PSII pada masa pergolakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia). Generasi ini adalah yang termuda dalam sejarah pergerakan Minangkabau.
Terakhir, kaum Komunis. Kalangan ini berasal dari gerakan kiri Tan Malaka yang terpengaruh ideology Komunis Marxis-Leninisme. Orientasi ideology itu semakin luas sehingga menghilangkan cir Islam Minangkabau (hal. 77).
Penulis dengan tangkas menggambarkan tokoh-tokoh pergerakan tersebut dalam bagan yang mudah dipahami. Secara garis besar, Hamka, Siradjudin, Isa Anshari, M.Natsir, dan Abdul Muis dikenal sebagai tokoh berorientasi Islam. Sementara Moh. Hatta, Tan Malaka, Chairul Saleh, D.N. Aidit, Sutan Sjahrir dan A. Rivai adalah tokoh berorientasi Nasional. Pertemuan Tan Malaka dan tokoh-tokoh pergerakan tersebut seringkali terjadi di Belanda, Bangkok, atau Semenanjung Malaya. Mengingat status pembuangan Tan Malaka selama 20 tahun di luar negeri.
Ada perbedaan sosial dan ideology antara kaum kiri Minangkabau perantauan (Batavia dan Belanda) dengan di Sumatera Barat,. PARI (Partai Rakyat Indonesia) yang didirikan Tan Malaka tahun 1927 adalah wujud kekecewaan terhadap kelompok komunis Jawa dan Sumatera yang melakukan pemberontakan. Ia melarang PKI melakukan aksi bersenjata, karena menganggap PKI belum mempunyai landasan berpijak yang memadai. Baginya, PKI sebaiknya membangun momentum secara berangsur-angsur lewat organisasi dan pendidikan (hal. 73). Jadi, jelaslah kesalahpahaman selama ini, Tan Malaka bukanlah otak pemberontakan PKI di Jawa dan Sumatera.
Secara ringkas buku ini mengkaji pergerakan kaum kiri Minangkabau dengan aspek sosial budaya alam Minangkabau. Semua itu dikombinasikan dengan perspektif Tan Malaka dan sejarah nasional-regional yang anti penjajahan. Yang unik adalah sebagian besar tokoh pergerakan kiri Minangkabau berasal dari lembaga pendidikan Islam terkemuka awal abad ke 20. Lembaga pendidikan tersebut antara lain; Sumatera Thawalib, Diniyah Putri (Padang Panjang), Adabiyah Islamic College (Padang), dan Sumatera Thawalib Parabek (Bukit Tinggi).
Pemaparan isi buku yang bertele-tele dimaklumi melihat padatnya materi yang ingin disampaikan. Selebihnya buku ini patut mendapat acungan jempol. Selamat membaca.
teks resensi: gall
Etalase Ideologi
Posted in Opini & Kontemplasi with tags Etalase Ideologi, Ideologi, Marxis, Pramudya Anant Toer on December 24, 2008 by rebelzine
Salah satu fenomena menarik yang mewarnai jaman kontemporer saat ini –khususnya kota-kota besar- adalah mewabahnya berbagai bentuk wacana gerakan pembebasan. Gerakan-gerakan sosial ini, yang dominant diikuti kelas menengah, menawarkan berbagai bentuk atau strategi pemecahan masalah hidup dalam irama kehidupan urban yang sesak.
Kehadiran wacana ini sesuatu yang menggembirakan sekaligus mengkhawatirkan. Menggembirakan, karena merupakan perwujudan sadar politik untuk masyarakat. Mengkhawatirkan, sebab fenomena ini justru dimanfaatkan segelintir orang. mereka menasbihkan diri sebagai pewaris kekuasaan baru melalui pengetahuan semu yang diusapkan ke ubun-ubun masyarakat yang sedang meraba-raba. Kelas menengah yang merasa (telah) maju daya pikirnya.
Mei 1998. sebagian orang mengartikannya era keterbukaan dan kebebasan. Isu dan wacana seputar pembebasan, demokrasi dan jalan alternatif gencar disuarakan. Beberapa kalangan melihat ini dari sisi lain, peluang bisnis.
Peluang bisnis ini dilihat oleh penerbit-penerbit buku. Ratusan judul buku yang mengulas ideologi, jalan alternatif dan demokrasi membanjiri etalase toko-toko buku. Sebagian anak-anak muda menyambut gebrakan ini sebagai pijakan baru dalam hidup.
Buku-buku ideologi bagai sebuah baju yang dipajang di Departement Store. Siapapun bebas memilih sesuka hati. Ideologi sebagai jalan hidup tak lagi bermakna sakral. Gerakan kiri menjadi sesuatu yang popular di jaman kontemporer ini.
Orang tak lagi canggung membaca dan menenteng buku-buku berbau kiri. Budaya pop atau budaya massa mulai menyentuh ranah ideologi. Kata-kata “kiri” bukan lagi sebuah terminologi pancangan dan politik perjuangan. Sedikit demi sedikit, ideologi bergeser menjadi konsumsi massal aktivis-aktivis baru.
Sekarang, seseorang tidak akan disebut aktivis kritis bila tidak membaca buku-buku ke-“kiri”-an. Buku-buku itu dipercaya memberikan spirit dan inspirasi perjuangan. Tetapi, walaupun sebagai sarana pencerahan, kita juga harus bijak menyaring dan menganalisa isi buku tersebut. Jangan sampai mengikuti secara membabi buta apa yang digambarkan sebuah buku.
Kita masih ingat, beberapa waktu lalu di sebuah surat kabar lokal Jakarta ada berita seorang pemuda membantai keluarga pamannya hanya karea berdebat seputar agama dan pemikiran marxis. Semestinya, pemikiran-pemikiran marxis atau yang lainnya, hendaklah dipakai sebagai pisau analisa sebuah masalah. Bukan menjadikannya ideologi yang mengkristal jadi pisau pembunuh.
Apakah ini konsekuensi, dari laju budaya yang cepat atau merupakan bagian dari dinamika sejarah bangsa Indonesia. Konstruksi budaya massa diperkenalkan melalui dua ciri yaitu sesuatu yang cepat dan instan. Ideologi bukanlah ilmu astronomi yang bicara ramalan masa depan. Lebih dari itu, ideologi harus diukur dari kesetiaannya kepada kemanusiaan. Ideologi menjadi sebuah dosa besar apabila menghilangkan kemanusiaan dalam diri manusia.
Tepat seperti apa yang dikatakan oleh Pramudya Ananta Toer –penulis novel sejarah dan perjuangan- bahwa keindahan bukanlah terletak pada kata-kata atau bahasa, tapi terletak pada rasa kemanusiaannya. Baginya, karya sastra harus memihak kepada kemanusiaan dan kerakyatan.
Walaupun novel-novel Pram bisa disebut “kiri”, tetapi disusun berdasarkan penggalian sejarah. Tokoh-tokoh dalam karyanya adalah simbolisasi aktor-aktor sejarah. Jauh berbeda, buku-buku ideologi yang bertebaran saat ini banyak yang merupakan pemikiran impor.
Ideologi-ideologi serapan dari luar terkadang tidak melihat sejarah perkembangan masyarakat Indonesia. Kadang tidak mampu melihat karakter khusus tiap bangsa. Ideologi yang tumbuh dalam masyarakat harus bisa melihat pondasi fundamental politik, budaya dan ekonomi masyarakatnya.
Soal ideologi, bangsa kita masih konsumtif. Jiwa-jiwa produktif sudah dibunuh dalam diri masyarakat kita. Lenyap dalam ketegangan, kekerasan, kekuasaan dan perlawanan.
Saya memang mencoba membayangkan semangat pemuda-pemuda 1928 yang mencetuskan sumpah pemuda. Tapi semangat Indonesia saat ini berbeda dengan semangat kala itu. disini tidak ada lagi sebuah cita-cita bersama. Yang ada hanyalah kebencian antar sesama. Semangat sumpah pemuda sudah tergantikan oleh jiwa primitif manusia; memikirkan diri sendiri atau golongannya demi kesenangan.
teks: wahyu arifin
Inside The Death Camp
Posted in Resensi Buku with tags Hitler, Holocaust, Inside The Death Camp, Narasi, Nazi, Stephane Downing on December 24, 2008 by rebelzine
Judul Buku : Inside The Death Camp
Pengarang : Stephane Downing
Penerbit : Narasi, 2007
Tebal : 127 halaman
Hidup segan mati tak mau. Ungkapan itu menggambarkan kehidupan kaum Yahudi dan bangsa Slavia di masa pemerintahan NAZI-Hitler. Beberapa diantaranya beruntung hanya mengalami diskriminasi oleh masyarakat. Sisanya harus menelan pil pahit di kamp konsenterasi. Sampai saat ini keberadaan kamp konsenterasi, terutama tragedi Holocaust sendiri, masih menyisakan tanda tanya besar. Benarkah NAZI merajalela di Eropa?
Kamp konsenterasi NAZI merupakan bagian dari Holocaust. Pemusnahan ras Yahudi, Gypsi, Slavia dan Soviet di Eropa sebenarnya dilatarbelakangi oleh sejarah ideologi anti-Yahudi dan anti-Semit. Ideologi rasial yang muncul pada akhir abad 19 dan awal abad 20. hal tersebut menjadi dasar pemikiran dalam tahap-tahap pemusnahan kaum Yahudi.
Tahap pertama diwujudkan melalui peraturan dan undang-undang yang mengisolasi kebudayaan Yahudi. Tahap kedua merupakan tahap peraturan totaliter yang eksperimental. Tahap ini mengubah kekuatan NDSAP (National Sozialische Deutsche Arbeiter Partei), partai berpengaruh saat itu, menjadi satu kekuatan politik yang memegang posisi kunci dari pejabat penting/tokoh-tokoh penting, manajemen, dan agen masyarakat yang mempunyai kontrol (hal.36).
Tahap ketiga dimulai dengan serangan terhadap wilayah yang dikuasai oleh Uni Soviet pada tanggal 22 Juni 1941. Tahap ini merupakan langkah pertama pembantaian terencana Yahudi. Dijalankan secara terpusat oleh SS melalui Einsatzgruppen (unit pembunuh aktif). SS (Schutztaffel) adalah unit paramiliter elit yang dibentuk secara khusus oleh Adolf Hitler dan biasa disebut Tentara Partai NAZI. SS adalah kesatuan paling bertanggungjawab dalam Holocaust. Kesatuan ini dibubarkan pada tahun 1945 setelah Jerman kalah dalam PD II.
Siapa Yahudi?
Enabling Act yang berlaku sejak 24 Maret 1933 memberikan definisi mengenai siapa Yahudi. Di pasal ketiga memuat ketentuan bahwa seorang non-Arya adalah mereka yang berketurunan non-Arya. Definisi ini juga berlaku bagi Yahudi yang salah satu orangtua, kakek, atau neneknya adalah pemeluk agama Yahudi.
Pada perkembangannya, kaum Yahudi ditempatkan di pemukiman yang disebut ‘Ghetto’. Kemudian pada 17 Agustus 1938 berlaku ketentuan bagi Yahudi untuk mengubah nama mereka. untuk perubahan nama depan di bawah instruksi Departemen Dalam Negeri Jerman.
Sebagian besar kesaksian dalam buku ini memiliki alur sejenis. Hanya perbedaan tempat. Kisah Anne Frank, gadis Yahudi berdomisili di Frankfrut, Jerman dibahas dengan apik di awal buku.
Anne Frank lahir dan dibesarkan di Jerman. Saat PD I berkecamuk, ia sekeluarga pindah ke Belanda. Disana ia berharap akan memiliki kehidupan baru yang aman. Namun ketika NAZI mulai menjalankan sistem administrasinya di Belanda bersama pegawai sipil Belanda, keadaan berubah. Mereka mulai memisahkan orang Yahudi dengan yang lain. Pemisahan ini berakibat penghapusan hak kaum Yahudi sebagai warga Negara dan pengisolasian kaum Yahudi terjadi kembali. Anne pun meninggalkan sekolah dan memasuki Jewish Lyceum (daerah Yahudi).
Anne menggambarkan bahwa banyak teman Yahudi-nya ditahan dan ditempatkan dalam satu kelompok. Polisi rahasia NAZI, Gestapo, memperlakukan mereka dengan kasar dan memindahkan ke dalam gerbong ternak tujuan Westerbork. Disana terdapat kamp besar tempat Yahudi dikirim untuk bekerja. Anne berpikir banyak diantara mereka yang akhirnya dibunuh. Radio Inggris mengatakan kalau mereka diracuni gas. Mungkin itu cara tercepat untuk mati. Anne tak pernah menyangka bahwa pikirannya akan menjadi kenyataan. Anne dan kakaknya akhirnya dikirim ke kamp pekerja dan akhirnya kehilangan hidup disana.
Kesaksian lain muncul dari Rudy dan Pinchus di Auschwitz dan Bluma di Bergen-Belsen. Mereka salah satu diantara yang selamat.
“Di dalam kamp, para penjaga mulai mencukur rambut para penghuni kamp. Kami telanjang bulat dan mereka mulai mentato kami, nomorku 161253,” ungkap Pinchus.
Pengalaman lain dialami Rudy. Tidak ada yang tumbuh di Auschwitz, tidak ada burung, tidak ada yang hidup, bahkan rumput atau apapun. Banyak tahanan yang kelaparan termasuk Rudy. Jenazah yang mati kemudian dilemparkan ke barisan barak yang paling akhir di bawah menara pengawas. Raga kosong tersebut bertumpukan, telanjang, dan tak berharga. Sepengetahuan Rudy, jenazah itu akan dikremasi. Saat itu Rudy belum tahu kalau ada kamar gas dan tahanan yang tewas karena gas beracun. Sungguh mengerikan.
Benar atau tidaknya Holocaust sebagai genosida kembali kepada sejarah itu sendiri beserta fakta-fakta yang ditinggalkan. Setiap orang punya sudut pandang sendiri. Namun, peristiwa apapun yang merampas hak hidup tidak dapat dibenarkan.
Dibalik itu semua, buku ini cukup menarik untuk dibaca penambah khazanah pengetahuan. Cara penulis menggambarkan masih terkesan subjektif. Namun tak mengurangi nilai sejarah yang ada di dalamnya. Penulis tak lupa menyisihkan dokumen berisi penjelasan keadaan politik saat itu sehingga buku ini hadir dalam bentuk singkat, jelas dan berisi.
teks resensi: galis remina/rebelzine
Kira Kira – Our Map to the Monster Olympics
Posted in Resensi Album with tags Alison Shaw, Cranes, David Lynch, Eksperimental, Elektronik, Folk, Kira Kira, Kristín Björk Kristjánsdóttir, Our Map to the Monster Olympics on December 24, 2008 by rebelzine
Label : After Hours
Format : CD
Country : Japan
Released : 2008
Genre : Electronic, Folk
Style : Folk, Experimental, Abstract
Total time : 46:11
Track list
- Sjarmaland Intro {2:35)
- Melur Sjamur (4:30)
- Agustskot (3:23)
- Gremin Holiday (6:15)
- Happahrolfur Salhsu (3:50)
- Bless (3:30)
- One Eyed Waltz (3:10)
- Langti Burtu Bua Vinir (7:31)
- Beach Box Disasters (6:58)
- Hjartafanturrin Skrajafur (3:29)
Kira Kira plays toymusic, cozy draculateeth scary dreamy. She runs Kitchen Motors With Hilmar Jensson & Johann Johannsson and stages hauntings-filmed on super 8, recorded on the pocket Dictaphone. She’s making a film about Sigriour Nielsdottir with Orri, Inga & Maggi. Kira Kira also makes radio shows for Ras 1 in Iceland about eccentric music. Her debut album , Skotta came out on Smekkleysa (Bad Taste) in 2006 and her second LP, Our Map to the Monster Olympics will be out on May 1st 2008.
Siapa bilang monster selalu menyeramkan? Pernahkah Anda membayangkan sekumpulan melankolik dan beberapa manusia bersama-sama bergabung membentuk sebuah ensembel. Mereka bersama-sama memainkannya dalam sebuah gudang yang penuh mainan anak-anak dan alat-alat rumah tangga. Lalu keluar bersama-sama membentuk parade sendu yang romantik di pelataran ilalang yang berangin.
Kira Kira adalah sebuah proyek yang merepresentasikan keadaan tersebut. Sebuah proyek eksperimentasi penggabungan gaya bermusik folk, electronic, field recording dan mainan anak-anak. Terbentuk dari sekelompok orang yang berasal dari Iceland dan terinspirasi oleh film-film David Lynch serta cerita-cerita tentang Gremlin, Dracula dan semua yang berbau permainan anak-anak.
Vokal yang romantik melankolis kekanak-kanakan dari sang vokalis wanita yang juga otak dari proyek ini, Kristin Bjork Kristjansdottir mengingatkan gaya bernyanyi child-like Alison Shaw-nya Cranes. Musiknya sendiri pun sedikit mengingatkan pada beberapa band experimental electronic shoegaze macam Abassi Brothers dan band experimental folk macam Efterklang. Hanya saja eksplorasi sound dari hasil bebunyian mekanis mainan anak-anak yang mentah, instrument akustik, perkusi, suara-suara manusia, dan campuran sampling laptop tampaknya benar-benar coba dikedepankan. Hasilnya pun berupa ambiensi sendu yang tenang dan melankolik teatrikal khas Kira Kira.
Di album keduanya yang bertajuk “Our Map to the Monster Olympics”, Kira Kira menyuguhkan 10 track manis kekanak-kanakan ber-Icelandic ria yang kesemuanya benar-benar mengajak kita pergi ke alam langutan monsteria yang membuat ekspresi senyum sendu terus-menerus tersungging dengan sendirinya.
FYI! Kristin Bjork Kristjansdottir adalah juga seorang visual work performer yang kerap membuat komposisi-komposisi suara dalam teater, film dan dance. Tampaknya hal inilah yang menguatkan konsep bermusik Kira Kira.
Sajian yang bisa dinikmati dalam keadaan semelankolia apapun. Walau terdapat banyak bebunyian abstrak dan sedikit kasar, tidak ada setitik pun nada kebencian di sini. Secangkir teh hangat, monster-monster yang tersenyum mengintip di jendela, tulisan-tulisan puisi cinta dan langutan kepada seorang terkasih yang sedang tertawa bahagia bersama yang lain.
teks: adit bujubunengalabuset/rebelzine

Lebih Baik Aku tak Masuk Surga
Posted in Ruang Sastra with tags Lebih Baik Aku tak Masuk Surga, Sasmito on December 28, 2008 by rebelzine
Oleh: Sasmito
RANI, namaku. Kata ibu, aku lahir bersamaan dengan munculnya gerhana matahari, tepat pukul 12.00 siang tangis pertamaku terdengar di dunia yang penuh kepalsuan ini. Tangis yang hanya aku sendiri yang mengerti. Tangis yang bagi orang di sekelilingku adalah tangis kebahagiaan. Tapi tidak bagiku. Tangis ini adalah tangis ketakutan terhadap dunia. Dunia busuk yang selalu berlindung di balik bungkus. Bungkus yang menjadikan kejelekan manusia terlihat sebagai kebajikan.
Ayahku adalah seorang kyai kondang di kotaku. Haji Ismet, biasanya orang-orang memanggilnya atau Pak haji saja. Entah kenapa kalau ayah dipanggil tanpa embel-embel haji, amarahnya langsung meledak. Bahkan pernah pembantuku langsung ditampar karena memanggilnya dengan sebutan Pak Ismet. Waktu itu aku belum mengerti. Kenapa tanpa embel-embel haji, ayah langsung marah.
Ayah lain sekali dengan ibu. Ibu termasuk wanita yang soleh. Jubaidah namanya. Ia adalah anak dari salah seorang murid ayah. Konon kata ayah pada kakek, kalau mau masuk surga, kamu harus menikahkan anakmu dengan orang yang memakai label haji atau kyai. Kakekku mengiyakan saja titah itu. Dan akhirnya ia menikahkan anaknya, ibuku, dengan ayahku. Hingga lahirlah aku sekarang.
Menginjak umur lima tahun, aku mengalami hal yang aneh. Aku sering menangis karena ketakutan. Ketakutan yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Bahklan ayah dan ibu pun tak mampu memahami ketakutan ini. Pernah, ketika aku diajak ke pesantren ayah. Aku berteriak dan menangis kencang.
“Ada babi, ada babi, ibu tolong aku, ibu. Ada babi yang berjalan mendekatiku,” teriakku sambil menangis minta tolong pada ibu dan bersembunyi di balik dekapan kasih sayangnya.
Tentu saja ibu bingung. Di sekitar pesantren itu, ternyata tidak ada satupun babi, atau hewan-hewan yang lainnya. Yang ada hanyalah seorang pejabat yang sedang berkunjung ke pesantrenku. Tapi, mengapa banyak pejabat yang mengunjungi pesantren ayah? Aku sendiri belum memahaminya waktu itu.
* * *
UMURKU sekarang sudah sembilan belas tahun. Wajah kecilku pun berubah menjadi wajah wanita yang mampu menarik hasrat seorang laki-laki. Bahkan, dadaku yang dulu masih rata, sekarang sudah tumbuh dengan begitu indahnya. Hingga kaum adam ingin menyentuhnya walaupun terselimut di balik indah jilbabku.
Ya, sembilan belas tahun sudah berlalu. Aku semakin terbiasa dengan ketakutan-ketakutan yang selama ini emmbayangiku. Ketakutan yang hanya aku sendiri yang bias mengerti. Ketakutan yang akhirnya menjadi suatu kewajaran bagiku. Ketakutan yang menjadikan aku memiliki kemampuan lebih jika dibandingkan dengan makhluk Tuhan lainnya. Kata orang, aku memiliki indera keenam. Ada juga yang mengatakan ini adalah ilmu dari Tuhan karena aku lahir tepat ketika gerhana matahari. Entah apa alasannya?
Yang jelas aku memiliki keanehan yang tidak dimiliki orang lain yang membuatku takut. Aku mampu melihat manusia dalam arti sesungguhnya. Manusia yang dalam pandanganku tak lebih seperti seekor binatang. Keanehan inilah,s embilan belas tahun silam yang membuatku ditampar oleh ayah, karena seorang pejabat kupanggil babi. Keanehan ini juga yang membuatku berteriak di musholah, karena aku melihat ular-ular yang sedang sholat di sebelah manusia. Keanehan yang akhirnya hanya aku yang mampu memahaminya. Kenapa mataku ini melihat manusia sebagai sosok babi atau binatang lainnya? Atau keanehan mataku yang melihat ketampanan seorang laki-laki, yang walaupun di mata orang lain sungguh sangat jelek, yang juga masih membawa teka-teki.
* * *
“RANI, kamu kesini, Nak!” Panggil ayah di suatu malam.
“Ada apa, Yah?” jawabku sambil berjalan menuju ruang tamu dan kemudian duduk di sofa.
Entah aku merasa ada yang lain dari ayah. Mataku mulai memandang samar wajah ayah. Sepintas aku melihat melihat tumpukan uang di atas kepalanya. Tapi, sebentar lagi, kembali ke wajah asli ayah.
“Rani, kamu sudah paham kan ajaran Islam? Bahwa kita sebagai umat Nabi Muhammad haruslah mengikuti sunnahnya. Dan itu berarti kita harus menikah,” jelas ayah. Suaranya mirip sekali ketika ayah sedang berceramah di masjid-masjid. Lembut dan enak didengar. Tapi lain terdengar di telingaku. Suara itu memberi arti lain. Suara lmbut yang mengandung unsure paksaan. Bahwa aku harus menikah dalam beberapa minggu ini.
Seminggu kemudian, ayah memperkenalkanku dengan salah satu temannya. Prof. Kyai Haji Abdullah, namanya. Ia merupakan salah satu politikus Islam yang sangat terkenal di Negara ini. Bahkan ketenaran inilah yang sebentar lagi akan menghantarkannya ke kursi kepresidenan tahun ini. Ayah bilang, aku harus menikah dengannya karena ia merupakan seorang kyai yang sangat mengerti agama. Kyai yang telah hafal detail hadits-hadits Nabi Muhammad. Kyai Haji yang selalu didengar ribuan orang ketika ia berceramah. Professor Kyai Haji yang tangannya selalu dicium orang-orang yang berharap keselamatan darinya.
Tapi tidak dalam pandangan mataku. Mataku melihat lain terhadap kyai itu. Dalam pandangan mataku, ia hanyalah manusia berkepala buaya dengan perut yang buncit. Kyai yang telah bebas memilih dan menumpuk perempuan untuk dijadikan isteri dengan hadits-hadits Nabinya. Kyai Haji yang bebas meminta sumbangan untuk keperluannya sendiri dengan memakai ayat-ayat Tuhan. Prof Kyai Haji yang menipu umat hingga mau memilihnya di pemilihan presiden nanti dengan keislamannya. Kyai busuk yang tidak lebih tinggi dari seekor hewan.
Ayah dari hari ke hari selalu memaksaku agar mau menerima pinangan dari buaya itu. Bahkan, dorongan-dorongan ayah dari hari ke hari semakin terasa seperti paksaan. Omongan-omongan ayah muali berubah menjadi sebuah tamparan. Himbauan-himbauan mulai berubah menjadi sebuah makian. Tapi, aku tetap tidak mau menyerah. Menyerah kawin dengan seorang buaya yang perutnya buncit. Walau surga sekalipun imbalannya. Lebih baik aku tidak masuk surga, daripada dijadikan isteri kelima. Isteri yang dijadikan sekedar pemuas hawa nafsu seekor buaya yang berlebel Profesor Kyai Haji. Bajingan. Tidak lama kemudian aku jadi teringat dengan tumpukan uang di atas kepala ayah.
Kemudian aku bertanya pada ibu, “Mengapa aku harus menikah dengan laki-laki yang sudah beristri empat, Bu?”
“Dia kan seorang kyai, Rani. Nanti kamu pasti akan masuk surga kalau menikah dengannya!”
Tapi, aku tidak percaya dengan omongan ibu. Aku tidak percaya, kalau aku nikah dengan kyai pasti akan masuk surga. Aku mendesak terus, hingga ibu mengaku. Ya, ada motif lain selain motif agama. Ternyata ayah terlilit hutang dengan Haji Abdullah untuk pembelian mobil. Bahkan, kata ibu kalau aku menikah dengan Haji Abdullah, maka ayah akan dibelikan helicopter. Aku sadar ternyata ayah juga telah memanfaatkan ayat-ayat Tuhan, hanya untuk kepentingannya sendiri.
Berita penolakan pinangan si Buaya ini pun terdengar masyarakat pesantren. Mereka mulai menggunjingkan aku. Mencibir aku. Bahkan tidak jarang ada yang memakiku langsung.
“Dasar orang goblok. Masak dijadikan isteri kyai haji tidak mau. Goblok kan, kalau ada orang yang tidak mau masuk surga.”
Ada juga yang bilang aku bukanlah seorang anak yang patuh terhadap orang tua. Dan itu pasti ganjarannya adalah neraka. Ada-ada saja yang dijadikan alas an mereka untuk menyalahkan aku. Dan selalu alasan-alasannya dikaitkan dengan agama.
Lama-kelamaan tidak tahan juga aku tinggal di rumah. Tamparan-tamparan ayah kini selalu mendarat di wajahku setiap hari. Pesantren yang dulunya menjadi sahabatku, kini berubah menjadi musuhku. Kubereskan pakaianku. Kumasukkan ke dalam tas besar. Aku harus meninggalkan rumah. Jakarta…
Pagi-pagi sebelum subuh, aku diam-diam keluar dari rumah. Dengan bekal seadanya kutekadkan untuk kabur dari rumah ini. Aku bertanya-tanya dalam hati. Apakah salah aku tidak menikah dengan seorang Kyai Haji yang sebenarnya seorang buaya berperut buncit? Apakah salah kalau aku sebagai seorang wanita, menolak ketika ingin dijadikan pemuas seks seorang Kyai? Apakah salah aku tidak mematuhi perintah orang tuaku, kalau perintah itu akan menghantarkanku ke derita yang nyata? Aku hanya mampu bertanya sepanjang langkahku menuju Jakarta.
Aku tak berharap mendapat jawaban dari makhluk-makhluk Tuhan. Karena aku yakin jawaban manusia telah salah terlampau jauh dari kebenaran Tuhan. Tapi inilah kenyataannya. Ayat-ayat Tuhan, hadits-hadits Nabi, dan perintah-perintahnya telah dijadikan dalih pemuas keinginan manusia. Manusia-manusia yang tidak lebih dari binatang yang bersembunyi di balik label-label Haji. Dan manusia yang sembunyi di balik tumpukan gelar.
“Tuhan, Lebih baik Aku tidak masuk surga, jika poersyaratannya aku harus menikah dengan Profesor Kyai Haji yang haus akan eksploitasi wanita.”
Keriaan Akhir Tahun Para Penikmat Indie di We Are Pop! Vol. 7 (28.12.08/Jakarta)
Posted in Reportase Acara with tags Ballads of The Cliche, Candyfloss, Doet Maoet, Funny Little Dream, Harlan, Hey Folks!, Heyfolks!, Innocenti, Its Different Class, Mam, Ruby and the Long Story, The Ellise, The Emergency Kisses, The Trees and The Wild, We Are Pop Vol.7, We Are Pop!, Whistler Post, White Shoes and The Couples Company on December 31, 2008 by rebelzine
Minggu, 28 Desember 2008, saya sengaja menyempatkan diri untuk menyaksikan acara reguler penikmat musik indie pop di Jakarta, We Are Pop! Vol. 7. Gelaran ini seperti biasanya diadakan di beranda Heyfolks!, Mayestik, Jakarta Selatan yang merupakan markas dari band Ballads of the Cliché sekaligus official store mereka.
Saya tiba di lokasi acara sekitar pukul 17.00. Sangat telat memang, karena menurut jadwal acara dimulai sejak pukul 12.00 siang. Line up band yang akan tampil kali ini cukup banyak, ada 14 band. Saya melewatkan 7 penampil yang sudah memainkan set mereka sejak siang, Ruby and the Long Story, Candyfloss, Mam, It’s Different Class, Douet Maoet, The Emergency Kisses dan Funny Little Dream.

Sayang, tidak sempat melihat mereka. Ada beberapa dari band tersebut yang belum pernah saya lihat aksi panggungnya. Ya, mungkin saja ada yang menyuguhkan sesuatu yang sedikit berbeda. Jujur saja, cukup jenuh juga jika datang ke sebuah pagelaran musik, kemudian melihat band-band yang tampil memainkan musik setipe tanpa menawarkan sesuatu yang baru.
Ketika menginjakkan kaki di lokasi, saya sudah disambut dengan permainan musik pop ringan nan ceria dari The Ellise. Band dengan vokalis perempuan ini merupakan salah satu jebolan kompilasi rilisan Nu Buzz Network, “Nu Buzz 1.1”. Dan sepertinya sudah lagu penutup yang mereka bawakan sore itu, karena lantunan single ‘Musik Itu Indah’ yang terakhir saya dengar.

Oiya, sebagai informasi di We Are Pop! Vol.7 kali ini ada 2 panggung kecil yang amat sederhana yang sepertinya sengaja disediakan oleh panitia. Mungkin saja hal ini dilakukan karena deretan penampil kali ini terhitung yang terbanyak. Satu panggung baru tepat berada di depan pintu masuk “Quick Print” yang kabarnya telah dikosongkan dan akan diperlebar untuk bangunan Heyfolks! dan Komunitas Lomonesia. Harlan yang merupakan penampil selanjutnya terlihat sudah bersiap-siap di panggung ini.
Vokalis band almarhum C’mon Lennon ini jadi semakin sering saja tampil. Padahal dulu ia pernah berseloroh kepada saya sudah letih untuk tampil nge-band. Dan kini ia muncul kembali dibantu David Tarigan (gitar) dan Acum/Bangku Taman (bass) dengan format band namun beridentitas solo menggunakan namanya, Harlan.

Harlan yang akrab disapa Bin, sekarang mungkin lebih dikenal sebagai personal manager Efek Rumah Kaca. Hasratnya untuk bermusik nampaknya masih menggebu-gebu hingga ia membuat proyek solo-nya ini. Penampilan Harlan sore itu terkesan dadakan, spontan dan insidental. Gaya bernyanyinya masih kuat terdengar seperti ketika ia masih bersama di C’mon Lennon.
Harlan adalah penampil terakhir sebelum jeda maghrib. Usai penampilan Harlan ada sedikit waktu bagi saya dan beberapa teman untuk melonggarkan saraf-saraf otot dan menunaikan shalat maghrib di masjid yang tak jauh dari lokasi acara. Usai shalat maghrib kami kembali ke venue, dan terlihat Innocenti sudah mengambil alih panggung. Saya tidak terlalu akrab dengan lagu-lagu yang mereka bawakan, karena ini kali pertama juga saya menyaksikan band ini. Namun suara bernyanyi yang khas dari sang vokalis dan keramahannya menyapa penonton mendapat apresiasi tersendiri dari saya (mungkin juga penonton yang lain).

Innocenti turun saya pun memutuskan turun dan keluar dari venue. Lelah juga berdiri di kerumunan yang semakin sesak. Harus pintar-pintar mencari celah untuk mendapatkan ruang berpijak dan sudut pandang yang nyaman. Menurut rundown, penampil selanjutnya adalah Luky Annash. Lagi-lagi saya harus melewatkannya. Di luar saya mencari sedikit ruang gerak dan melepas dahaga dengan meneguk air mineral yang sengaja saya bawa dari rumah.
Penampil berikutnya adalah Whistler Post. Saya kembali ke venue. Namun kali ini saya memutuskan untuk menyaksikan dari sisi yang lain, tepatnya di pinggir jalan dimana sebagian penonton juga banyak yang berdiri. Di sudut inilah saya berdiri hingga acara usai menyaksikan empat band terakhir. Setelah Whistler Post band tuan rumah Ballads of the Cliché kembali bersiap-siap. Bagi mereka acara We Are Pop! Vol.7 kali ini cukup mengharukan. Pasalnya, keyboardist mereka Fino memutuskan hengkang dari band untuk fokus di bisnisnya. Dan malam itu adalah penampilan terakhir Fino bersama rekan-rekan satu band-nya.

Ada beberapa momen spesial yang mungkin tidak akan dilupakan Fino malam itu. Bobby sang vokalis memberikan kenang-kenangan berupa foto mereka yang sudah dibingkai dan beberapa buah balon gas yang diikatkan flyer acara. Di beberapa lagu Fino juga didaulat bernyanyi sendiri tanpa Bobby. Puncak keharuan mungkin terasa ketika orangtua Fino juga hadir di venue dan saat lagu terakhir dimana Ballads of the Cliché membawakan tembang ‘Can’t Smile Without’ You milik Barry Manilow. Ya, sebuah perpisahan memang menyesakkan. Terlebih ketika kebersamaan telah terjalin cukup lama. Secara penampilan tidak ada yang menarik dari Ballads of the Cliché selain momen-momen di atas. Apalagi dari tujuh kali penyelenggaraan We Are Pop! Mereka tampil enam kali. Kalau bukan die hard fans mungkin akan bosan melihat mereka.
Bersiap di panggung satu lagi The Trees and The Wild. Sepertinya mereka yang saya tunggu-tunggu. Rebelzine sempat penasaran dan akhirnya mewawancara mereka beberapa waktu lalu (silahkan lihat di halaman wawancara). Buat saya mereka yang tampil sangat baik malam itu walau preparing-nya cukup lama. Kira-kira jam 21.30 mereka baru bermain. Sekitar 5-6 lagu dengan komposisi akustik yang sederhana namun matang berhasil mereka bawakan dengan sangat apik dan memikat. Gaya bernyanyi sang vokalis sekilas mengingatkan saya pada John Mayer & Dave Matthews. Apresiasi penonton untuk kali pertama melihat mereka tampil di gelaran ini baik sekali.

Tahun 2009 nanti bisa jadi awal yang baik untuk band ini. “Lil’fish Records”, label rekaman yang pernah menaungi Pure Saturday dan The Morning After akan memproduksi debut album penuh The Trees and The Wild bulan Februari. Saya setuju jika band ini merupakan the next big thing dari ranah indie pop. Kita nantikan saja kiprahnya…
Keriaan akhir tahun kali ini ditutup dengan manis oleh White Shoes and The Couples Company. Sudah tak diragukan lagi penampilan mereka. Mereka salah satu penampil yang sangat ditunggu. Saya juga tidak bosan melihat mereka. Mereka selalu tampil maksimal. Dan pastinya selalu menghibur. Mereka memainkan set-list andalannya dan beberapa lagu baru yang akan masuk rilisan kedua mereka di tahun 2009 nanti. Lagu ‘Aksi Kucing’ mengakhiri penampilan White Shoes and The Couples Company malam itu. Namun, penonton nampaknya belum puas hingga akhirnya band ini memainkan satu lagu tambahan, ‘Windu Defrina’ dan benar-benar menutup keseluruhan rangkaian acara We Are Pop! Vol.7.

Gelaran We Are Pop! siang hingga malam hari itu terhitung yang teramai. Ratusan indie pop’ers langganan dari berbagai sudut kota Jakarta dan sekitarnya berkumpul di area (tepat di pinggir jalan) yang dipaksakan dibuat representatif itu. Sebagian penonton yang mendapatkan sudut pandang yang tepat untuk menyaksikan acara terpaksa harus duduk, sebagian yang lain mau tak mau harus berdiri. Beruntung acara hari itu luput dari guyuran hujan walau sesekali angin bertiup kencang.
Semangat panitia dan kelompok musik yang mau tampil di acara ini patut diacungi jempol. Acara komunitas kecil yang rutin (per 3 bulan) seperti ini memang jarang sekali bisa ditemukan kini. Band-band yang tampil juga kabarnya tak mendapatkan kompensasi profesional secara finansial. Simbiosis mutual antara pihak penyelenggara dan pengisi acara hanya berbentuk ruang untuk menitipkan produk rekaman para pengisi acara dan sejumlah merchandise mereka yang nantinya hasil dari penjualan akan dibagi rata antara kedua belah pihak.

Sedangkan bagi pengunjung acara, event ini gratis. Siapa saja bisa menyaksikan penampilan band-band kesayangan mereka tanpa harus merogoh kocek sepeserpun. Nikmati acara tanpa harus bereskpektasi akan suguhan yang berkesan megah, wah, dengan panggung besar dan sound system maksimal. Acara ini murni digagas dengan alasan untuk berbagi kesenangan antara pengisi acara dan penikmat musik yang hadir. Jadi, nikmati saja…
teks: zelva, foto: pai “dzeek”/rz
Gaza, Episode Tiada Akhir Sebuah Genosida
Posted in Opini & Kontemplasi with tags gaza, genocide, genosida on January 2, 2009 by rebelzine
Empat berbanding empat ratus nyawa (hingga tulisan ini dimuat -red)? Sebuah harga legalitas untuk menghantam balik sebuah ‘serangan’ beladiri dari sebuah negeri yang terus-menerus digempur dan digempur. Pembenaran untuk mensahkan niatan keji dan misi-misi yang sudah terlihat jelas sejak puluhan tahun silam. Tak usah berbicara sistem pembakaran sawah untuk mencari sebuah sarang tikus. Karena bukan tikus yang benar-benar dicari di sini. Tapi memang bumi-hangus dari sawah itu sendiri! Sebuah genosid!
Organisasi yang dipenuhi dengan para pendengki yang terus mekar dan mekar semenjak pertama berdiri di tahun 1947. Zion dan para yahudi-yahudi palsunya yang terus menerus melancarkan agresi dengan menggerus dan menggerogoti tanah Palestina yang tadinya luas dan subur hingga kini hanya tinggal beberapa ‘jengkal’ saja. Aksinyapun mendapat dukungan penuh oleh negara yang mengklaim dirinya penjunjung tinggi HAM, Amerika! Dengan agenda-agenda yang semakin hari semakin nyata terlihat kebusukan demi kebusukannya.
Dengan pula mengedepankan isu-isu seperti Holocaust -yang masih diperdebatkan kebenarannya- mereka melancarkan balas dendamnya. Bukan kepada Nazi ataupun Jerman yang nyata-nyata adalah negara asal Nazi, tapi Palestin! Sebuah negeri yang tidak ada sangkut-pautnya dengan Holocaust! Benar-benar kegilaan yang sangat di luar akal sehat.
Ini bukanlah sebuah perang, ini jelaslah sebuah pembantaian di depan muka orang banyak. Nyata-nyata mereka memperlihatkan sebuah arogansi. Benar-benar hal yang menggelikan jika hantaman membabi-buta tersebut mereka sebut sebagai reaksi dari aksi ‘ekstrim’ sekelompok orang yang nyata-nyata jelas membela negerinya dari gempuran demi gempuran. Negeri yang semakin lama semakin menciut dibabat habis. Rasanya bagi kita mungkin seperti ketika Belanda menyebut para pejuang-pejuang kita dahulu sebagai ekstrimis. Sebuah pemutarbalikkan fakta. Hingga berkesan bahwa para pejuang-pejuang tersebutlah yang salah karena telah memulai aksinya dalam membela negeri.
Jangan berharap banyak dengan sosok pemimpin populer simbolik yang malfungsi dengan imej-imej yang telah menempel padanya, Obama. Kini ia terancam menjadi sosok boneka yang takkan bisa berbuat apa-apa. Begitu pula dengan organisasi pemersatu bangsa-bangsa yang seperti mandul dalam menyikapi hal ini. Sementara mereka berkasak-kusuk di bawah bokong persetujuan Amerika sementara itu pula Israel melenggang bermain-main dengan bongkar pasang rudal, tembok-tembok, dan darah anak-anak di tanah Palestin.
Sebuah tamparan telak untuk para liga Arab dalam menyikapi hal ini. Tak heran dunia menyorot benar-benar pada negara-negara ini. Egoisme, ketidakjelasan serta ketidaktegasan bersikap membawa coreng besar kepada muka-muka para petinggi-petingginya. Dan tamparan telak juga tanda tanya besar akan persatuan umat Islam. Tak heran jika dulu seorang Imam besar, Ayatollah Khomeini berkata, “jika saja seluruh umat Islam bersatu dan membawa seember air maka Israel akan tersapu.” Sebuah nada akan tuntutan yang krusial dalam menghadapi sebuah ancaman terdengar di sini, persatuan.
Kebenaran akan selalu nyata terlihat di antara pembenaran demi pembenaran. Pada akhirnya hanya Tuhan yang akan memberi balasan. Lagi-lagi semuanya berpulang kepada kita bagaimana menyikapi hal-hal dan fenomena mengerikan seperti ini.
teks: aditbujbunenalbuse, gambar: latuff
Hai-Online Minimum Stage (08.01.2009)
Posted in Reportase Acara with tags Anda, Boogeyman, Efek Rumah Kaca, Hai-Online, Heyho, Sunday at Twelve, The Joints on January 10, 2009 by rebelzine

Beberapa waktu lalu Kompas.com sempat membuat acara musik bernama “Kompas Music Corner”. Acaranya diadakan di Gramedia Bookstore, Matraman. Tapi kini acara itu berpindah-pindah lokasi. Band-band yang diundang tampil mulai dari yang masih berstatus indie hingga yang mainstream. Mengikuti langkah Kompas.com, majalah remaja laki-laki Hai yang merupakan satu grup dengan Kompas membuat acara musik serupa. Namun kali ini mereka mengadakannya di lokasi kantor mereka sendiri, tepatnya di Gramedia Food Hall yang notabene kantin kantor grup gramedia majalah.
Dipegang oleh Hai Online, acara ini diberi nama “Hai-Online Minimum Stage”. Kenapa minimum? Karena semuanya serba sederhana. Mulai dari venue yang dijadikan tempat berlangsungnya acara hingga perangkat teknis untuk tampil. Band-band yang diundang dalam acara ini ditantang untuk bermain maksimal dengan peralatan minimalis. Pihak penyelenggara hanya menyediakan sound system seadanya. Selebihnya diserahkan kepada masing-masing band. Karenanya, banyak band yang bermain dengan set akustik.

Sesuai dengan jadwal, acara dimulai tepat pukul 14.00. Tapi ya seperti biasa, ngaret. Saya tiba di lokasi pukul 13.55, sedangkan acara baru benar-benar berjalan pukul 14.50. Persiapannya yang memakan waktu lama. Sunday at Twelve didaulat tampil pertama. Tidak ada MC dalam acara ini sehingga tidak ada yang mengarahkan acara. Jika band sudah siap dengan peralatan mereka ya monggo mainkan.
Masing-masing band diberi jatah sekitar 30 menit untuk tampil sebaik mungkin karena dokumentasi video-nya akan di upload di situs Hai Online. Sebagai pembuka Sunday at Twelve yang belum lama mengeluarkan debut album “Somewhere Between” bermain baik dengan tipe musik pop alternatif yang ear cathcy. Band kedua adalah Heyho. Mungkin mereka yang tampil cukup nge-rock sore itu. Memainkan campuran rock n roll blues dengan tema cinta. Dari penonton yang rata-rata adalah pengunjung kantin sekaligus karyawan kantor gedung tersebut band ini mendapat sambutan lumayan.

Yang tampil berikutnya adalah Anda, dibantu oleh band pengiringnya The Joints. Anda and The Joints tampil lebih baik dari 2 band sebelumnya. Saya juga memuji mereka. Vokal Anda sangat baik walau di awal-awal mic-nya sempat mati hingga suara vokalnya tak terdengar. Vokal Anda yang nge-pop diiringi oleh nuansa jamaican music yang kental dari The Joints. Bahkan ketika terdengar latar vokal perempuan dari The Joints sekilas seperti mendengar Souljah. Empat lagu mereka mainkan dengan baik.
Tak lama setelah Anda and The Jonints turun Boogeyman bersiap tampil. Boogeyman adalah grup hip-hop/r ‘n b yang berada di bawah naungan Organic Records bersama Maliq & The Essentials dan 21st Night. Mereka yang sepertinya paling tidak menarik perhatian. Mungkin karena saya kurang suka juga. Tak ada yang spesial dari suguhan yang mereka berikan.

Usai Boogeyman penampil yang nampaknya ditunggu adalah Efek Rumah Kaca. Pukul 16.52 mereka mulai memainkan set-nya secara akustik. Sehubungan dengan promo album barunya “Kamar Gelap” yang rilis 19 Desember 2008 lalu, ERK membawakan beberapa lagu baru seperti ‘Hujan Jangan Marah’, ‘Kenakalan Remaja di Era Informatika’ dan ‘Lagu Kesepian’. Seperti biasanya mereka selalu tampil maksimal dan mendapat applause meriah.

Namun, yang menarik dari penampilan ERK sore itu adalah ketika mereka memainkan encore tembang anyar milik The Beatles, ‘Across the Universe’. Di tengah penampilan ERK di lagu itu, Anda mendadak muncul kembali dan ikut berbagi vokal dengan Cholil (vokalis ERK). Penonton pun tak kuasa ikut bernyanyi. Standing applause ketika lagu tersebut berakhir dan sekaligus menutup acara “Hai-Online Minimum Stage” sore itu.
teks: zelva wardi, foto: dok. sunday @ twelve/aryo

Saya Seorang Penggemar, Bukan Seorang Fanatik!
Posted in Opini & Kontemplasi with tags Fajri Siregar, Fanatik, Fanatisme, Max Weber on January 10, 2009 by rebelzine
MARI bayangkan dahulu gambaran di bawah ini:
Muda-mudi dressed up alias berpakaian dengan maksimal untuk mengekspresikan diri. Mulai dari sepatu kets buluk, boots yang kalau bisa DocMart, celana mincut (atau pensil, terserah apalah namanya) atau bermotif kotak-kotak ala Jimmy Danger, kaos band, kemeja flanel, dan tidak lupa kacamata nerd. Biasa? Memang. Yang namanya penggemar pasti ingin menyerupai idolanya.
Bayangkan pula ini; sebuah pertandingan sepak bola yang diwarnai dengan lautan suporter dari masing-masing klub. Tiap pendukung membawa segala macam atribut mulai dari kaos, syal, bendera sampai drum. Tapi tiba-tiba muncul suporter dari kubu lain. Dan keriuhan pun dalam sekejap bisa menjadi kericuhan. Perkelahian antar fans pun tak terhindari. Padahal siapa yang menjadi provokator pun tak jelas. Ajang sportifitas justru menjadi ajang perkelahian.
Atau pernah mendengar istilah die hard fans. Istilah bagi penggemar yang melihat sang idola bagaikan malaikat yang tak pernah berbuat salah dan seperti satu-satunya harapan yang dia miliki dalam hidup? Ibarat kata, kemanapun engkau pergi daku akan mengikuti. Ya, orang-orang seperti ini memang ada dan kita pun ikut heran mengapa mereka bisa menunjukkan sikap yang berlebihan terhadap idolanya.
Semua gambaran di atas menunjukkan sebuah contoh dari sesuatu yang bisa kita istilahkan dengan fanatisme. Fanatisme sendiri bisa kita artikan sebagai bentuk perasaan atau emosi yang sifatnya menunjukkan rasa antusiasme terhadap kegiatan atau karya. Seperti halnya terhadap olahraga, musik, karya seni, dan lain sebagainya.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menjadi seorang penggemar. Karena dengan menjadi penggemar, seseorang pada dasarnya memberikan apresiasi atau penghargaan kepada sesuatu atau seseorang. Sebaliknya, penghargaan kita terhadap si idola juga merupakan motivasi yang mendorongnya untuk terus berkarya dan memberikan yang terbaik untuk penggemarnya. Jadi, bentuk hubungan antara penggemar dan idola itu sebenarnya sah dan sehat-sehat saja. Secara sosiologis hal ini dinamakan pertukaran berupa pemberian penghargaan (reward).
Namun, hal yang berbahaya adalah ketika seorang penggemar menjadi seorang penggemar fanatik. Fanatisme yang telah dicontohkan diatas menunjukkan sifat-sifat dari seorang fanatik. Apa yang membedakannya?
Perbedaan itu terletak pada perilakunya. Seorang fanatik menunjukkan perilaku yang cenderung sudah meresahkan dan melanggar aturan atau norma yang ada di masyarakat. Dengan kata lain, seorang fanatik kelakuannya sudah di luar batas toleransi dari orang sekelilingnya dan sudah tidak wajar dalam tindak-tanduknya.
Selain itu, yang membedakan seorang fanatik dengan penggemar biasa adalah masalah identifikasi. Jika seorang penggemar biasa hanya menyukai karya atau hasil yang ditorehkan dari si tokoh, maka seorang fanatik sudah lebih dari itu. Ia akan mengidentifikasi dirinya dengan sang idola, atau sederhananya, ia merasa menemukan persamaan dalam diri si idola atau merasa si idola dalam hal tertentu mewakili dirinya. Atau bisa juga, karena masalah identifikasi tersebut, si penggemar ingin bisa menyerupai sang idola dengan cara apapun, maka dipilihlah cara termudah, berdandan ala sang idola.
Jika identifikasi tersebut hanya diwujudkan dalam bentuk dandanan tentu tidak menjadi masalah. Tetapi masalah identifikasi itu bisa bertambah parah jika si penggemar sudah merasa menjadi bagian dari sang idola. Jadi, apapun yang terkait dengan sang idola akan ia rasakan terhadap dirinya pula. Contohnya jika si idola diberitakan secara negatif di infotainment, maka itu akan ia rasakan secara pribadi, dan membuatnya tersinggung.
Di sinilah sebuah ‘pengkultusan’ idola terjadi, di mana seorang fanatik memberi pemujaan berlebih. Dan seperti yang dijelaskan sosiolog Jerman, Max Weber, pemujaan yang dimaksud adalah melakukan tindakan-tindakan yang didorong oleh afeksi semata dan tidak didasari pertimbangan rasional alias berpikir masak-masak mengenai akibat yang mungkin terjadi. Hal ini bisa menjelaskan kenapa seorang penggemar sepak bola bisa khilaf atau lupa diri pada saat membela tim kesayangannya.
Disinilah letak permasalahannya. Jika perasaan ‘ngefans’ itu sudah berlebihan, maka contoh-contoh yang sudah dibahas di awal sangat mungkin terjadi. Dan tentu hal tersebut tidak kita harapkan. Di sini pula letak perbedaan seorang penggemar dan seorang fanatik.
Hubungan penggemar dan idola yang paling bagus tentunya adalah yang bersifat menginspirasi dan mendorong kita untuk bisa melakukan hal yang sama positifnya, tanpa meniru. Idola dalam hal ini sifatnya mempengaruhi atau memberi pengaruh. Misalnya seseorang ingin menjadi pesepakbola karena terpikat permainan Maradona, atau ketika seorang bocah bermain band karena menyukai Muse, Seringai, Metallica dan yang lainnya.
Tetapi mengidolakan bukan berarti menjadi buta dan hanya menaruh segala harapan pada sang idola. Justru sang idola harusnya menimbulkan harapan bahwa si penggemar bisa melakukan hal yang sama seperti dia. Belajarlah dari sang idola, tanpa harus digurui olehnya. Lagipula, seperti kata Candil dkk, rocker juga manusia. Jadi, untuk apa kita harus mendewakan mereka?
teks: fajri siregar
Black Star Bersiap Meluncurkan Album Perdana
Posted in Berita & Informasi with tags Black Star, Cholil Mahmud, Death Rock Star, Efek Rumah Kaca, Fiasco Records, Lipgloss on January 12, 2009 by rebelzine
Awal tahun ini nampaknya akan banyak dimanfaatkan oleh band-band lokal kita untuk menetaskan rilisannya. Salah satunya adalah Black Star. Band indie rock/alternative ini akan merilis secara resmi debut self-titled mereka pada tanggal 26 Februari 2009 dibawah payung Fiasco Records ―seperti yang diberitakan kepada kami―. Sebelumnya Fiasco Records pernah menangani album “Asa” milik Lipgloss di tahun 2007.
Sebagai sebuah band yang bisa dikatakan cukup berpengalaman dalam menjajaki panggung perhelatan indie tanah air, Black Star sudah sewajarnya memiliki album penuh. Karena itulah Emir (vokal), Alul (gitar), Yudi (gitar), Q-nos (bass), Ine (keyboard) dan Roby (drum) terlihat menunjukkan keseriusannya selama 6 bulan berkutat di studio rekaman guna merampungkan karya-karya mereka.
Di album perdana ini Black Star menyuguhkan 10 lagu yang memiliki dominasi tema yang cukup jarang ―atau mungkin belum pernah― diambil oleh sebuah band, yaitu berbicara mengenai gejala penyakit. Tema besar yang mungkin belum biasa dipotret oleh band lain untuk kemudian dikaryakan. Tak hanya berbicara penyakit fisik namun mereka juga merekam fenomena penyakit psikologis dan penyakit sosial. Sekilas mungkin Black Star memiliki tujuan yang sama dengan apa yang ingin disampaikan Efek Rumah Kaca lewat lagu-lagunya, yaitu memotret fenomena. Hanya saja mereka lebih sempit dalam hal tema dengan memotret fenomena penyakit seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Dari 10 lagu yang ada sekitar 6 atau tujuh lagu mewakili tema tersebut. ‘Abnormal’ (mengisahkan tentang penderita disleksia), ‘Insomniac’ (gejala susah tidur), ‘Schizofrenia’ (berbicara mengenai penderita keterasingan/suka mengasingkan diri), ‘Pedofilia’ (gejala kelainan seksualitas), dan beberapa trek lainnya. Untuk sebuah karya audio bisa dibilang konten yang mereka suguhkan terbilang unik. Belum ada band yang seserius mereka ―untuk konteks lokal― memikirkan tentang hal ini. Dan mereka melakukannya.
Untuk sosialisasi promosi, Fiasco Records terlebih dahulu men-share singel pertama ‘Abnormal’ (versi akustik feat. Cholil ‘ERK’) ke publik, sebelum album mereka benar-benar dipasarkan. Lagu down tempo dengan teknik vokal sedikit mirip Matt Bellamy ‘Muse’ ini dapat diunduh secara gratis lewat situs Death Rock Star dan jaring Myspace mereka.
Sekilas dengar trek ‘Abnormal’ dengan konsep yang ditawarkan bisa jadi satu lagi band dari ranah indie yang akan mencuri perhatian adalah Black Star. Bagaimana menurut kalian? Mari sama-sama bersabar menunggu rilisan penuh mereka tak lama lagi.
(teks: zelva wardi, foto: dok. black star)
Punishable Act – One Voice Asia Tour 2009
Posted in Agenda Acara with tags Meaning, One Voice Asia, One Voice Records, Punishable Act on January 13, 2009 by rebelzine

More info coming up or check:
Mocca Akan Meramaikan “Mosaic Music Festival 2009 – Singapore”
Posted in Berita & Informasi with tags Andre Handoyo, Battles, Brian McKnight, Electro Green, Indigo Girls, Melanie Pain, Mocca, Mosaic Music Festival, Old Man River, Sonic People, The Cinematic Orchestra on January 14, 2009 by rebelzine

Untuk kesekian kalinya band indie-pop lokal kita, Mocca akan tampil di kancah festival musik internasional. Untuk kesempatan kali ini Mocca akan meramaikan sebuah festival musik international di Singapura, yaitu “Mosaic Music Festival”/13 – 22 Maret 2009.
Sebagai informasi acara ini merupakan festival musik tahunan yang diadakan oleh “Esplanade – Theatres on the Bay Singapore”. Beberapa artis terkenal mancanegara yang pernah bermain untuk gelaran yang diadakan sejak tahun 2006 ini adalah Earth Wind & Fire, Kings of Convenience, The Bird and The Bee, Jagga Jazzist, Incognito, Sondre Lorche dan Jason Mraz.
Dan di tahun 2009 artis kenamaan yang akan tampil adalah Brian McKnight, Battles, Old Man River, Electro Green, Melanie Pain, The Cinematic Orchestra (ingin sekali melihat grup ini -ed), Indigo Girls dan banyak lagi (selengkapnya lihat di sini).
Mocca sendiri akan tampil pada tanggal 15-16 Maret 2009 di Nokia Music Station (Outdoor Theatre) dan Haagen-Dazs Living Room. Berikut jadwal lengkapnya:
- Mocca Show at Nokia Music Station (Outdoor Theatre), March 15th 2009, 07.00 – 07.30pm & 10.40 – 11.30pm.
- Mocca Show at Haagen-Dazs Living Room, March 16th 2009, 07.15 – 08.00pm (accoustic).
Selain Mocca, dari Indonesia ada musisi lain yang juga turut andil dalam acara ini, yaitu Andre Harihandoyo dan Sonic People.
Semoga Indonesia kian banyak mengekspor musisi-musisi kenamaan lainnya untuk berkiprah di negeri orang. Support our local musicians!! (rz)
For more info:

United We Care : Charity Untuk Robin Hutagaol “NOXA”
Posted in Agenda Acara, Berita & Informasi with tags solucite, thingking straight, funeral inception, Friends of Mine, Dead Squad, United We Care, Robin Hutagaol, NOXA, Purgatory, Netral, Divine, Thrashline, The Brandals, Paper Gangster, Alien Sick, Dreamer, Valiant, Gelap on January 15, 2009 by rebelzine
Sehubungan dengan berita ini saya baru benar-benar mendengarnya tadi pagi. Andre dari Solucites Metal Concert menjelaskan sedikit kronologis mengenai kecelakaan tragis yang menimpa Oxen a.k.a Robin Hutagaol lewat wawancara via telepon di radio prambors Jakarta. Robin mungkin lebih dikenal di ranah musik rock/metal tanah air sebagai drumer band kuartet grindcore NOXA.
Robin yang kini masih terkulai tak sadarkan diri di RS. Husada Mangga Besar, ditabrak oleh oknum pengendara mobil tak bertanggungjawab pada 12 Januari 2009 kemarin. Keadaan Robin seketika setelah mengalami tabrakan cukup parah, hingga helm yang dikenakannya saat mengendarai sepeda motor pecah.
Untuk itu, sebagai bentuk kepeduliannya Solucites Metal Concert akan mengadakan sebuah acara amal untuk Robin bertajuk “United We Care”. Solucites menggandeng 25 band lokal kita dari genre rock/metal untuk turut serta tampil dalam rangkaian ini. Beberapa di antaranya adalah Netral, Dreamer, Trashline, Paper Gangster, Purgatory, NOXA, Funeral Inception, Divine dan banyak lagi. Selengkapnya bisa dilihat di www.solucite.com.
Rangkaian acara ini adalah gelaran non-profit. Seluruh keuntungan dari penjualan tiket seharga Rp 20.000,- dan penjualan merchandise serta CD dari Solucites Records pada saat acara akan didonasikan untuk membantu kesembuhan Robin.
Detail acara : United We Care
Waktu : Minggu, 25 Januari 2009, mulai Pukul 10.00
Tempat : Bulungan Outdoor
HTM : Rp 20.000,-
Mari datang dan beri dukungan untuk kesembuhan rekan kita, Robin. Be there!!
(zelva wardi/rz)
Pergi Dengan Tenang: Robin Hutagaol ‘NOXA’
Posted in Berita & Informasi with tags NOXA, RIP, Robin Hutagaol on January 17, 2009 by rebelzine
Setelah kurang lebih satu minggu dirawat di rumah sakit, kini Robin Hutagaol ‘NOXA’ menuju rumah peristirahatan. Robin dipastikan dokter menghembus nafas terakhir pukul 03.47, sabtu dini hari tadi (17.01.09) di RS. Husada Mangga Besar.
Robin adalah figur yang dihormati, terutama di ranah musik rock/metal tanah air. Sebagai duta musik ekstrim Indonesia, Robin merupakan salah seorang yang membawa nama harum musisi lokal ke kancah musik ekstrim international. Terlalu banyak keriaan dan momen-momen indah yang ditinggalkan almarhum untuk kembali dikenang.
Duka yang mendalam bagi keluarga dan kita semua..
Mewakili rekan-rekan musisi, fans, event organizer, label, media dan segenap elemen musik yang pernah berjuang bersama-sama, kami editor & penggiat Rebelzine turut kehilangan. Semoga Robin mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Amiin..
(rz/foto: solucite.com)
Are We ‘Really’ Gonna Celebrate A New Birth Of Freedom?
Posted in Berita & Informasi, Opini & Kontemplasi with tags Kikyunderclasshero, Obama, Pelantikan on January 20, 2009 by rebelzine
Melihat kenyataan euforia yang ditimbulkan oleh pelantikan Barrack Obama di Indonesia, sungguh mencengangkan. Mulai dari pencalonan, hingga saat Obama memenangkan Pemilu, dan puncaknya pelantikan resmi Obama sebagai Presiden ke-44 USA.
Kemunculan Obama, harus diakui, memang fenomenal. Sebagai pria keturunan Afroamerika pertama yang menjadi Presiden Amerika, sungguh cukup untuk memenuhi kualifikasi fenomenal tersebut.
Tapi, ternyata ada yang jauh lebih fenomenal dari Obama sendiri. Sikap media-media di Indonesia bahkan lebih fenomenal. Yang tentu menghasilkan sikap-sikap yang lebih fenomenal terhadap masyarakat Indonesia, atau dengan kata lain pada Bangsa Indonesia.
Dibalik segala hegemoni yang diciptakan media itu, apa sesungguhnya makna Obama bagi Indonesia? Apa yang bisa diharapkan bangsa Indonesia dari keberadaan Obama?
Apakah bangsa Indonesia mengharapkan perhatian yang lebih karena pengalaman masa lalu Obama?. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, dan dengan posisi geografis yang penting dan strategis, maka kesalahan besar jika Obama begitu saja mengabaikan Indonesia.
Tapi masalahnya, jika Indonesia masih dan akan tetap seperti saat ini, terpuruk, khususnya dalam hal membangun diri, maka apakah pantas bangsa Indonesia ikut ambil bagian dalam euforia dan hegemoni naiknya Obama menjadi Presiden Amerika?
Mungkin bangsa ini tidak harus berharap banyak pada Obama, dalam konteks perkembangan kebijakan Amerika terhadap Indonesia. Kita harus sadar, dalam menjalankan politik luar negerinya, Amerika tidak hanya bergantung pada Obama, tetapi masih ada Menlu Hillary Clinton dan Menteri Pertahanan Robert Gates. Dan tentu ada kongres yang berpengaruh besar pada penentuan kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika.
Seperti yang kita ketahui dari beberapa media lokal, di kala akhirnya Amerika menghentikan embargo senjata dan suku cadang peralatan militer terhadap Indonesia, ternyata kenyataannya di kongres masih banyak keberatan-keberatan dari berbagai lobi yang anti-Indonesia.
Hegemoni ciptaan media ini akhirnya mencapai puncaknya. Sekarang tinggal waktulah yang berbicara. Semoga euforia bangsa Indonesia akan pelantikan Obama tidaklah menjadi mimpi siang bolong saja. Semoga Obama benar-benar menggangap penting Indonesia.
Jadi jika bangsa Indonesia berharap pada Obama, sungguhlah hal yang menggelikan. Karena yang mampu merubah bangsa ini hanyalah bangsa ini sendiri. Jika Indonesia tidak berubaha sama sekali setelah Pemilu 2009 mendatang, janganlah berharap muluk-muluk dengan kehadiran Obama. Jangan sampai Indonesia tetaplah dianggap sebagai pasar bagus untuk berbagai produk barang dan jasa buatan Amerika.
So, are we (really) gonna celebrate a new birth of freedom? Tanyakan jawabannya pada The Friends of Obama yang menggelar sebuah acara (menggelikan) “Obama Inaugural Ball, Celebrating A New Birth of Freedom”, Selasa (20/1) malam, di Ritz Carlton Hotel, Jakarta.
Acara nonton bareng pelantikan Presiden Amerika Serikat ke-44?, hmm, terdengar seperti nonton bareng Final Piala Dunia. Aneh.
(kikyunderclasshero/rz)
Dosa-dosa Media Amerika
Posted in Resensi Buku with tags Didaktika, Dosa-dosa Media Amerika, Hadi, Jerry Duane Gray, Ufuk Press on January 22, 2009 by rebelzine
Judul buku : Dosa-dosa Media Amerika
Penulis : Jerry Duane Gray
Penerbit : Ufuk Press
Sebuah media berita dapat diibaratkan sebagai jembatan yang menghubungkan kita dengan dunia. Akan tetapi, jika media yang dipercaya sudah tak dapat lagi dipercaya, apa yang harus kita perbuat? Buku inilah sebuah jawaban. Buku ini mengajarkan kita untuk melihat kebenaran dari sebuah berita mengenai berbagai hal, melihatnya dari mata kita sendiri, bukan dari mata orang lain. Artinya, jangan pernah ragu untuk memverifikasi sebuah berita, terutama dari media barat, dalam hal ini Amerika.
Awal 1970-an, pers Amerika berada di barisan terdepan berkat integritasnya. Pelaporan berbagai peristiwa dilakukan dengan jujur dan bertanggung jawab tanpa manipulasi fakta-fakta sehingga menghasilkan perubahan dalam kepemimpinan sebuah negara adidaya. Kini, media Amerika menjadi bahan tertawaan dunia, sebagian besar dari mereka mengalami kegagalan besar.
Jaringan televisi Amerika yang menyiarkan berita ternyata tidak banyak melaporkan kejadian sesungguhnya. Lebih heran lagi, ketika menyampaikan laporan, para reporter TV itu memasang wajah jujur seakan-akan mereka sedang menjadi jurnalis sejati. Mereka berpura-pura melakukan investigasi serius terhadap satu demi satu kejadian yang tidak relevan kemudian menyiarkan kisah-kisah tabloid sebagai “berita sesungguhnya.” Selama masa kepresidenannya, Bush belum pernah mengadakan konferensi pers yang sesungguhnya. Bush pun belum pernah menjawab pertanyaan acak oleh wartawan asli.
Fakta yang raib
“Pentagon mengakui 5 tindakan yang melecehkan Al-Quran.” Fakta seperti ini pastinya belum pernah Anda dengar atau lihat dari media barat seperti CNN, Fox News, ABC, BBC atau yang lainnya. Mereka memmang sengaja menutupinya. Yang dilaporkan hanyalah berita-berita demi mengharumkan nama pemerintah AS, sedangkan yang berpotensi mengotori citra itu disingkarkan.
Lebih parah lagi, berita-berita yang berasal dari media barat juga diputar ulang oleh media televisi lokal negara-negara lain termasuk Indonesia. Sebagai contoh, kasus Irak dahulu. Irak tidak memiliki senjata pemusnah massal. Namun, dengan bantuan media korporat Amerika, Bush membohongi publik agar percaya pada kabar bohong tersebut dengan maksud untuk meraih dukungan dan legalitas atas invasi ke Irak.
Berkat partisipasi media Amerika, George W. Bush dapat lepas dari pelanggaran serius atas undang-undang dan hukum internasional. Tidak pernah ada satu pun investigasi serius yang dilakukan untuk menangani perilaku Bush yang tak kenal hukum walaupun sudah banyak bukti yang memberatkannya.
Sebelum invasi ke Irak, pemerintahan Bush mengklaim bahwa Muhammad Atta (terdakwa pimpinan serangan 11 September) bertemu dengan pejabat intelijen Irak di Praha. Pertemuan itu diduga sebagai bukti adanya kaitan antara Saddam dengan Al-Qaida. Walaupun presiden Ceko menyatakan bahwa klaim tersebut tidak benar, pejabat pemerintahan Bush tetap bersikeras menjadikan pertemuan tersebut sebagai alasan untuk melancarkan perang.
Dua tahun setelah, lebih dari 1.700 pasukan sekutu gugur, puluhan ribu luka-luka. Sementara itu, di pihak Irak terjadi kematian hampir 100 jiwa tiap minggunya. Meski tak ada data resmi, diperkirakan puluhan ribu jiwa telah menjadi korban dan media berita tetap bungkam.
Selain tidak memberikanlaporan akurat mengenai jumlah korban, media Amerika juga tidak menginformasikan tentang kerusakan alam, property serta penderitaan rakyat Irak. Mereka hanya mempublikasikan “kejayaan” serdadu Amerika sambil menghalalkan penduduk sipil yang terbunuh hampir setiap harinya. Kebanyakan warga Amerika hidup dalam ilusi bahwa perang tidak banyak menimbulkan pertumpahan darah dan menimbulkan kerusakan. Mereka agak sulit menyadari bahwa senjata penghancur, bom dan tomahawk mereka telah merenggut jutaan nyawa manusia.
Di dalam buku ini Anda akan tercengang setelah tahu betapa hebatnya media Amerika memanipulasi pikiran pemirsanya melalui “berita” yang yang mereka sajikan. Tunggu apa lagi, jangan mau dibohongi terus-menerus. Bacalah buku ini sesering mungkin sehingga Anda dapat mempelajari trik-trik yang mereka lakukan dalam memanipulasi sebuah berita. Dengan begitu, Anda akan menjadi konsumen berita yang kritis.
(teks resensi: hadi/didaktika)
Pure Saturday Concert
Posted in Agenda Acara with tags Pure Saturday, Toi Et Moi on January 22, 2009 by rebelzine
Toi Et Moi Present :
A Pure Saturday Concert “Time to Change, Time to Move On”
Sunday, 25th January 2009 @ GSG Itenas Bandung
Start from 07.00pm – till end
Presale Ticket :
25.000 IDR + Merch
Royal Queen
Jl. Ternate No. 8
For more info :
Tissy 022-92171766 / Dinda 0857 2012 3266
Series Two Compilation – Indonesian Talent
Posted in Artikel Musik, Berita & Informasi with tags August, Cuddle Pop, Danive, Daro, Emergency Kisses, Matahari Bisu, Series Two Compilation, Series Two Records, Spring Summer on January 26, 2009 by rebelzine
Ini adalah beberapa kompilasi yang dirilis oleh Series Two Records. Series Two Records adalah sebuah label yang berbasis di Columbus, Nebraska, Amerika Serikat dan menelurkan produk rilisannya dalam format CDR untuk pangsa internasional. Label ini menampung buah karya dari band-band bergenre indie Pop, shoegaze, electronic, ambient dan sejenisnya dari berbagai negara. Hingga saat ini, rilisan kompilasinya yang bertajuk “Series Two Compilation” sudah sampai pada Volume 23. Sembilan kompilasi baru resmi didistribusikan ke negara-negara Amerika, Eropa, Asia, Australia, dan Amerika Latin pada 20 Januari 2009 kemarin.
Dari 9 kompilasi yang baru saja dirilis tersebut, terdapat 4 kompilasi “Series Two Compilation” Vol.20/21/22/23 yang melibatkan 7 karya band/musisi Indonesia. Band/musisi tersebut adalah Emergency Kisses (Bandung), Daro (Gresik), Mataharibisu (Jakarta), Danive (Bandung), Cuddle Pop (Bandung), Spring/Summer (Bandung) dan August. Dalam kompilasi tersebut, mereka berbagi ruang bersama band-band dari Amerika, UK, Swedia, Jepang, Belgia, Perancis, Jerman, Spanyol, dan banyak lagi.

Band-band Indonesia yang ikut andil dalam rilisan ini bisa dibilang kurang terdengar di scene indie pop lokal. Tapi bukan berarti karya mereka tidak bagus. Dengan keterlibatan mereka dalam kompilasi ini membuktikan bahwa karya mereka juga patut diperhatikan.
Daro misalnya. Band ini berasal dari Gresik, sebuah kota di Jawa Timur yang mungkin sulit untuk akses perkembangan musik indie berkualitas dibanding Jakarta atau Bandung. Salah satu personilnya pernah mengirim pesan kepada saya bahwa, perkembangan musik di sana sangat mengkhawatirkan. Gempuran band-band mainstream dengan konten seputar selingkuh, patah hati dan cinta monyet, benar-benar berhasil menghipnotis daerah itu. Untuk menemukan talenta musik berkualitas bisa terbilang langka. Dan Daro muncul untuk setidaknya berusaha ‘menyelamatkan’. Mereka mengusung komposisi swedish indie pop yang ear cathcy dengan balutan materi ala Belle and Sebastian. Jika Jakarta punya Ballads of The Cliché, Gresik memiliki talenta bagus, Daro.

Lain halnya dengan Danive. Band ini hanya seorang diri. Mungkin lebih tepat jika dibilang ini adalah proyek solo. Sosok dibalik proyek ini adalah Daniv Veryana yang berdomisili di sebuah desa kecil tanpa koneksi telepon dan internet di rumahnya, pasir kunci, Bandung. Danive merupakan satu lagi musisi kamar (bedroom musician -ed) yang memaksimalkan software komputer untuk menciptakan sebuah karya musik dan sound design. Alhasil materi-materi beraroma post-rock, shoegaze dan surreal sangat kental terdengar lewat karya-karyanya.
Begitu juga halnya dengan Emergency Kisses, Spring/Summer dan yang lainnya. Walau genre yang mereka usung bisa dibilang sudah menjamur, tapi selalu ada usaha untuk memperdengarkannya. Memanfaatkan jejaring dunia maya macam myspace, bukan tidak mungkin lagi untuk berinteraksi/berteman dengan lintas negara. Tak tertutup juga untuk bekerjasama. Beberapa musisi lokal tersebut di atas bisa membuktikan kontribusi mereka untuk memperkenalkan bahwa negara kita memiliki talenta-talenta yang layak dengar untuk skala internasional.
Tak hanya membawa bendera band mereka, namun juga asal mereka, dalam hal ini Indonesia.

Bagi kalian yang memiliki materi lagu yang berada di area indie pop, shoegaze, electronic, ambient, nintendo pop, minimalist, accoustic, dan ingin mencoba terlibat dalam kompilasi ini, tak ada salahnya menawarkan materi kalian kepada Series Two Records. Silahkan berkomunikasi dengan mereka lewat jejaring di bawah.
Teks: Zelva Wardi
Series Two Records:
http://www.myspace.com/seriestworecords
The bands inside compilation (Indonesia):
http://www.myspace.com/emergencykisses
http://www.myspace.com/daroband
http://www.myspace.com/cuddlepop
http://www.myspace.com/myspringsummer
http://www.myspace.com/danivadanive
http://www.myspace.com/silentsunthemusic
Mail order:
United We Care in Loving Memoriam – Robin ‘NOXA’ (25.01.2009)
Posted in Reportase Acara with tags burger kill, Dead Squad, dead vertical, Divine, Flowers, Friends of Mine, Getah, Komunal, Naif, Netral, NOXA, Paper Gangster, Purgatory, Robin Hutagaol, ROXX, Seringai, Solucites, Steven and Coconut Trees, Superglad, Tengkorak, The Brandals, The Upstairs, thingking straight, Trashline, Trauma, United We Care on January 27, 2009 by rebelzine
Setelah beberapa kali gonta-ganti line-up pengisi acara, akhirnya ditetapkan ada 36 band yang mengisi gelaran “United We Care” ini. Sebelumnya cukup banyak yang ingin tampil, mengingat ini adalah acara amal sekaligus untuk mengenang almarhum Robin yang dikenal memiliki pergaulan yang luas. Walau didominasi band-band metal, terdapat beberapa penampil dari genre lain.
Saya tiba di Bulungan Outdoor tepat pukul 15.00. Sangat telat. Saya melewatkan 17 band yang dirundung tampil bergantian sejak pukul 10.00 pagi. Beberapa yang terlewatkan adalah: Divine, Friends of Mine, Thrashline, Paper Gangster, Dead Vertical, dan Thinking Straight.

Sebelumnya saya sempat ragu dengan line-up yang demikian banyak, apakah acara akan selesai tepat waktu. Terlebih acara digelar di Bulungan Outdoor. Perlu diingat izin penyelenggaraan acara di tempat ini tidak bisa lagi hingga terlalu malam. Solucites yang bertindak selaku panitia hanya mendapat izin dari kepolisian hingga pukul 19.00. Sedangkan jika mengikuti rundown, band terakhir dijadwalkan tampil pukul 20.00. Bisa-bisa ada yang tidak tampil…
Oke, singkirkan dulu kemungkinan jika tidak semua band bisa tampil. Kita kembali ke acara. Ketika saya datang, Dreamer memainkan lagu terakhir. Ada wajah yang tak asing di band ini, Vicky Notonegoro (gitar). Memainkan nuansa gothic metal modern persenyawaan Lacuna Coil dengan Evanescence. Sayang, suara Rika (vokal) tenggelam oleh musik. Ciri khas gothic voice yang seharusnya kentara jadi tak terasa.

Selanjutnya ada Burger Kill yang akhir tahun lalu berkesempatan membuka konser band metalcore, As I Lay Dying. Secara penampilan tak diragukan. Hanya saja jatah 20 menit (2 lagu -ed) berikut checksound on stage terasa terlalu singkat untuk Burger Kill. Rintik hujan sempat turun ketika mereka tampil, namun tak lama. Para metalheads juga tak beranjak dari tempat berpijaknya. Sebagai informasi, band hardcore Ujung Berung, Bandung ini akan melakukan tur Australia-nya pada Februari nanti.
Usai Burger Kill, Trauma mengambil alih panggung. Penonton tak perlu menunggu lama. Setiap band memaksimalkan durasi tampil yang diberi panitia dengan tidak mengulur-ulur waktu. Trauma yang belum lama ini mengeluarkan album bertajuk “Dominasi Kemenangan”, bermain kurang impresif. Nino (vokal) tidak tampil dalam performa terbaiknya. Kurang bersemangat.

Suguhan metal dari band-band sebelumnya kemudian dicairkan oleh irama rock n roll dari The Brandals. Sudah lama saya tidak mengikuti perkembangan band ini. Mereka bermain baik walau posisi lead gitar sepertinya bukan diisi oleh Bayu. Getah tampil setelah The Brandals. Mereka adalah salah satu band lawas dalam line-up acara ini yang juga tampil cukup baik.
The Upstairs & Angel of Death yang tampil setelahnya tak terlalu saya perhatikan. The Upstairs mempersembahkan 1 lagu berjudul “Robin Johnny” untuk mengenang alm. Robin. Di kerumunan penonton yang berkaus serba hitam terdapat segelintir modern darling (sebutan bagi fans The Upstairs –ed) dengan setelan nyentrik.

Penampil berikutnya adalah band lawas lainnya, ROXX. Ada suguhan pembacaan puisi dari Komeng Mortus untuk mengenang alm. sebelum mereka tampil. Penonton mulai membludak. Tiket dikabarkan terjual habis. Sekitar dua ribu penikmat musik metal berbondong-bongong mendekati panggung. Mereka mencari sudut pandang terbaik untuk menyaksikan para performer.
Ketika ROXX naik, penonton yang sebelumnya malu-malu mulai terlihat agresif untuk melakukan moshing. Dua lagu yang dimainkan berhasil memancing adrenalin para metalheads yang merogoh kocek sebesar Rp 20.000,- untuk hadir di gelaran ini.

Euforia gelaran metal baru benar-benar terasa ketika Purgatory tampil. Venue makin sesak. Penonton makin liar. Pagar pembatas panggung dan penonton mulai didorong. Aksi sikut-menyikut tak terhindarkan. Tapi tetap dalam batas wajar. Band straight metal yang membawakan konten religius ini tampil dengan dandanan khas mereka. Kostum, topeng dan body painting yang sudah lekat dalam setiap aksi panggung Purgatory. Untuk penampilan kali ini, mereka mengkampanyekan aksi boikot Israel sekaligus menggalang dana untuk Palestina dari hasil penjualan CD “Beauty Lies Beneath” dan merchandise mereka.
Berikutnya adalah suguhan dadakan dari band grindcore veteran yang tak masuk line-up acara, Tengkorak. Bagi metal heads yang hadir ini adalah bonus. Apalagi formasi yang tampil adalah formasi lama. Ombat (vokal) mengenakan kaus bertuliskan ‘Boycott Israel’ dan tanpa alas kaki ketika tampil. Walau terkesan dadakan, penampilan Tengkorak tetap jempolan. Berhasil membuat kerumunan yang memadati Bulungan Outdoor makin panas. Ombat juga sempat melakukan crowd diving, melemparkan dirinya ke penonton di awal-awal lagu pembuka. Sebenarnya mereka hanya didaulat memainkan 1 lagu, karena tak ada di line-up acara. Namun, makin liarnya penonton memaksa mereka memainkan 1 lagu lagi. Mantabbb…!!

Ludesnya tiket menunjukkan bahwa apresiasi dan respek penikmat musik metal terhadap Robin begitu besar. Band-band yang sebagian besar merupakan headliner di gelaran-gelaran metal juga kabarnya tak mendapat kompensasi finansial di acara ini. Semuanya mereka lakukan atas dasar pertemanan, persaudaraan dan kepedulian sesama rekan musisi dan metalheads. Itu kenapa acara ini diberi tajuk “United We Care”.
Jeda maghrib acara dihentikan sejenak. Steven and Coconut Trees bersiap-siap di panggung. Penonton diberi kesempatan untuk menghela nafas. Kehadiran rekan-rekan musisi dari genre yang lain, katakanlah rock n roll, reggae, retro, pop punk di gelaran ini membuktikan tak ada batas di musik. Robin alm. juga dikenal tak membatasi pergaulannya di scene metal saja namun juga di scene lain. Ini sedikit mengajarkan kita bahwa persatuan di ranah musik apapun sangat diperlukan.

Usai maghrib, acara yang dipandu Arie Dagienkz dan Edi Brokoli kembali dilanjutkan. Penonton yang kian padat kembali berkerumun mendekati bibir panggung. Tanpa basa-basi Steven and Coconut Trees menggoyang Bulungan dengan musik reggae yang kental. Para metalheads yang datang mengapresiasi dengan baik. Seharusnya mereka hanya memainkan 2 lagu, sama seperti penampil yang lainnya. Namun, karena permintaan penonton mereka memainkan 1 lagu tambahan.
Jam di ponsel saya menunjukkan pukul 18.55 ketika penampilan Steven cs berakhir. Di rundown acara masih tersisa 9 band. Membutuhkan waktu sekitar 120 menit untuk mereka semua benar-benar bisa tampil. Dan itu sepertinya tidak mungkin. Keraguan saya di awal ternyata kejadian. Andre dari Solucites menjelaskan kepada semua penikmat musik yang hadir, bahwa keriaan malam itu harus disudahi karena terbentur izin keamanan. Sempat dilakukan negoisasi kembali oleh panitia, namun pihak kepolisian tetap tidak memberikan toleransi untuk melanjutkan acara. Kecewa tentu saja…

Mereka yang tak bisa bermain adalah: Flowers, Dead Squad, Netral, Naif, Komunal, Superglad, Seringai, termasuk NOXA, dan juga penampilan spesial Rockstar Conspiracy yang saya sendiri belum tahu siapa saja mereka. Sangat disayangkan…
Walaupun tak diperbolehkan melanjutkan penampilan band yang tersisa, tapi pihak kepolisian memberikan sedikit toleransi waktu untuk menghadirkan orangtua Robin dan memutar slide foto serta audio testimoni untuk mengenang alamarhum.
Usai rangkaian tersebut, gelaran “United We Care in Loving Memoriam – Robin NOXA” terpaksa harus berakhir sebelum pukul 20.00. Sebagian besar penonton meninggalkan venue dengan tertib walau sedikit kecewa.
*****************

Mulanya acara ini adalah bentuk penggalangan dana bagi kesembuhan Robin. Seluruh keuntungan, baik dari penjualan tiket dan merchandise akan dialokasikan untuk membantu biaya rumah sakit Robin. Namun, sebelum acara ini benar-benar digelar, Robin terlebih dahulu ‘pergi’, dan meninggalkan duka yang mendalam pada 17 Januari lalu. Akhirnya, sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan atas dedikasi Robin di scene musik lokal terutama musik metal, seluruh keuntungan dari gelaran ini (+/- Rp 50 juta) tetap disumbangkan kepada keluarga Robin.
Dan gelaran “United We Care in Loving Memoriam – Robin NOXA” menjadi sebuah persembahan dari rekan-rekan musisi, untuk andil Robin yang begitu besar bagi perkembangan musik ekstrim tanah air.
(teks reportase: zelva wardi/foto: adit bujbunen al buse)
MPB Production present Maret Pertama Bahagia
Posted in Agenda Acara on January 28, 2009 by rebelzine
Formasi Kutukan Testament!
Posted in Resensi Album with tags CSA Records, Formation of Damnation, Nuclear Blast, Testament on February 8, 2009 by rebelzine

- Testament – The Formation of Damnation
Testament – Formation of Damnation/CD (CSA Records Indonesia/ Nuclear Blast, 2008 )
Puluhan tahun menghajar dunia dengan mengusung aliran musik ekstrim bergenre thrash-metal ternyata benar-benar membuat taring paguyuban legendaris Testament semakin tajam dan menusuk! Sebuah konsistensi yang patut diberikan lebih dari sebuah tunduk salut. Dan di tahun 2008 mereka kembali melontarkan album wasiat yang kembali membakar telinga para penggemarnya, “The Formation of Damnation”.
Testament, adalah salah satu band yang turut memberikan banyak andil bagi kelahiran genre musik ini yang cukup fenomenal di era 80an. Bersanding dengan para Bay-Area thrasher pionir macam Metallica, Anthrax, Death Angel dan sebagainya. Perkembangan era musik ekstrim yang semakin bervariasi tidak membuat band ini kehilangan kegentarannya untuk tetap memegang thrash-metal sebagai senjata andalan. Justru perkembangan signifikan sangat jelas terlihat dalam setiap karya-karyanya, khususnya jika menilik album-album akhirnya.
Jeda yang panjang setelah album “First Strike Deadly” (2001) ternyata justru memberikan kesempurnaan telak bagi album “The Formation of Damnation”. Bagaimana tidak, selain kembalinya gitaris formasi awal, Alex Skolnick sang legenda dengan sayatan-sayatan solonya yang sangat membentuk karakter orisinalitas Testament. Juga kesembuhan Chuck Billy dari kankernya ternyata malah semakin memberikan banyak variasi bervokal dalam album ini. Walau sentuhan lengking khas Chuck sudah tak dapat ditemukan lagi seperti di album-labum lamanya. Namun, kekhasan vokalnya yang sedikit ter-influence oleh gaya bervokal barking ala James Hetfield masih bisa dirasakan disini. Ditambah dengan variasi permainan growling yang bisa ditemukan di track “The Formation of Damnation”. Lalu bergabungnya drummer Paul Bostaph (eks Exodus, Forbidden, Slayer) ternyata semakin memperkaya kesempurnaan album ini. Dilengkapi dengan hajaran bassist Greg Christian dan Rhythm Guitarist, Eric Peterson. Thrashed to the bone! Semuanya benar-benar ditangani oleh maestro-maestro thrash metal yang handal. Benar-benar album yang memanjakan para penggemar murni thrash metal.
Tema-tema kritik sosial dan politik masih jadi andalan dalam album ini. Tema khas yang sering dipakai oleh band-band old-school thrashmetal. Seperti dalam ‘The Evil Has Landed’ yang menceritakan penilaian dari sisi subyektif mereka terhadap fenomena runtuhnya menara kembar WTC.
Kesebelas track yang menyuguhkan materi thrash-metal yang cukup groovy. Sebuah album yang wajib dimiliki bagi para fans setia Testament yang mengikuti perkembangannya sejak awal. Ataupun yang ingin mencoba warna musik dan tema-tema lirik bergaya oldschool thrash- metal.
Dirilis oleh CSA Records, sebagai satu-satunya pemegang lisensi Nuclear Blast di Indonesia.
(adit bujbunen al buse)
Track listing
1. For the Glory of… – 1:12
2. More Than Meets the Eye – 4:31
3. The Evil Has Landed – 4:44
4. The Formation of Damnation – 5:10
5. Dangers of the Faithless – 5:47
6. The Persecuted Won’t Forget – 5:49
7. Henchmen Ride – 4:00
8. Killing Season – 4:52
9. Afterlife – 4:13
10. F.E.A.R. – 4:46
11. Leave Me Forever – 4:28
Band Line-Up
• Chuck Billy: Vocals
• Alex Skolnick: Lead guitar
• Eric Peterson: Rhythm, lead guitar
• Greg Christian: Bass
• Paul Bostaph: Drums
Production Credits
• Andy Sneap: Mixing, Engineering
• Eric Peterson: Co-Producer, Art Concept
• Chuck Billy: Co-Producer
• Eliran Kantor: Artwork and Illustrations
• Vincent Wojno: Engineering
Proyek Solo Ekperimentasi Desain Suara: Danif Pradana – Ghost Plague
Posted in Berita & Informasi with tags Danif Pradana, Ghost Plague, Kalimayat, Khuruksetra on February 9, 2009 by rebelzine
Danif Pradana: Laptop Improv, Electronics, Field Recording
Composed, Mixed and Mastered at Oblique Studio, The University of Technology, Sydney, between October – November 2008.
Danif Pradana yang lebih dikenal sebagai konseptor dari beberapa proyek musik eksperimental Kalimayat & Khuruksetra, kini merilis proyek desain suara solo pertamanya bertitel “Ghost Plague”. Untuk kali ini, cocok sekali jika 3 trek tanpa judul yang dihasilkannya di rilisan ini digunakan untuk scoring film. Ini mungkin tak terlepas dari latar belakang pendidikan Danif yang bergerak di lingkup Film & Audio Production yang ditempuhnya di University of Technology Sidney, Australia.
Berikut press release yang belum lama ini dilempar oleh Danif untuk karya terbarunya, “Ghost Plague” yang dirilis bulan Januari 2009 lalu:
Ghost Plague is the first conceptual solo work of Danif Pradana (Kalimayat, Khuruksetra) as an attempt to introduce the radical approach of the “Ultra minimalist Electronics” sound design to the Indonesian sound enthusiast. Ghost Plague was composed during his final year at The University of Technology, Sydney, in which also become one of his major academic sound research that he was pursuing for one of his audio production subject.
After 5 years of non-stop research and experimentation under the moniker of Kalimayat, Danif took his sonic work into a more desolate approach with a raw states of minimalist sonic textures that challenge the auditory perception of the listeners. Ghost Plague reflects a sonic investigation towards Danif’s internal perception of the psychosomatic phenomenon, which is a subject that he often explores in his short films and video works.
Ghost Plague could also be considered as a decomposition of Danif’s several sound design works for film that did not make it to the screen due to the extreme use of infrasound. Most of the sound was build through different speed of pulses and sine tones, which are heavily layered by different synthesize sound. The sound patterns and textures were composed in real time sound processing, reflected in a Laptop Improvisation, which is then mixed and mastered in Pro Tools.
Download link: http://danifpradana.bandcamp.mu
*****
Kontak Danif Pradana:
http://myspace.com/danifpradana

Malevolent Creation Segera Melenggang Ke Indonesia
Posted in Agenda Acara with tags Malevolent Creation, Mighty Syndicate on March 4, 2009 by rebelzine
Not Available Live in Jakarta: “Sebuah Pertunjukkan Melodic Dengan Tingkat Intimasi Tinggi”
Posted in Reportase Acara with tags Buckskin Bugle, Do Sound, Hit N Run, Konflik, Kuro!, Maximum Kreasindo, No Label, Not Available, Sextoy, Speak Up on March 5, 2009 by rebelzine
Gedung Studio 3, Hanggar Teras Pancoran, Jumat (27/3) dikerumuni para penikmat melodic punk tanah air. Not Available, band asal Jerman dari genre ini telah memastikan jadwal pertunjukkannya di Jakarta hari itu.
Mulanya gelaran kali ini akan dilaksanakan di Plaza Selatan Senayan, tapi tak mendapat izin kepolisian. Promotor Maximum Kreasindo, yang tadinya bernama Matahati Kreasindo, mengalihkan lokasi perhelatan ke bilangan Pancoran. Dan kali ini turut menggandeng Hit N’ Run Records, yang merupakan label untuk rilisan band-band melodic lokal sebagai rekanan. Band pembuka yang di awal publikasi hanya berjumlah 5 band bertambah menjadi 7.
Adalah No Label, Speak Up, Kuro!, Konflik, Sextoy (Semarang), Buckskin Bugle (Bandung), dan Dosound yang berkesempatan memeriahkan acara ini.

Tepat pukul 19.25, ketika MC Riann Pelor membuka acara. Band-band pendukung mulai tampil bergiliran. Buckskin Bugle, Do Sound dan Sextoy memainkan setlist andalan mereka. Penonton pun perlahan menggeliat masuk ke dalam ruangan. Belum padat memang. Karena sebagian yang lain masih memilih menunggu di luar.
Di saat Speak Up, Konflik, Kuro!, dan No Label mengambil alih panggung, barulah penonton mulai memenuhi ruangan. Penampilan semua band pendukung ini baru berakhir pukul 21.52.
Bersiap untuk penampilan Not Available. Dragan Jordanov (vokal), Stefan Pappinger (bas), Dietmar Nagal a.k.a Didi (gitar), Arndt Hieber (gitar) dan Christian Frey (drum) satu persatu menaiki panggung. Penonton nampak tak sabaran. Beberapa di antara mereka langsung meminta lagu-lagu favoritnya dibawakan.
Semua punggawa Not available telah berada pada instrumen masing-masing. Kecuali Dragan dan Chris yang sibuk mondar-mandir dan mengabadikan gambar crowd yang hadir.

Baru pukul 22.00 kelimanya memulai aksi panggung mereka. Lagu-lagu dalam tempo cepat, perpaduan vokal yang apik dan melodi khas punk yang kentara digempur beriringan. Koor panjang pecinta melodic membahana. Tembang-tembang dari album baru/lama Not Available macam Welcome, Metal Inc,. Joanna, Green Car, Everybody Knows, dan Random terdengar fasih dilantunkan penonton.
Mereka yang mulanya malu-malu untuk berjingkrak, seketika mendekat ke moshpit. Kalo sudah begini, moshing pasti tak terhindarkan. Dengan tertib semua melompat, menghentakan tangan ke udara. Bahkan, sesekali mereka menaiki pagar pembatas panggung dan melakukan crowd diving ke tengah kerumunan penonton yang lain.
Melihat ini, Dragan pun tergoda untuk menyicipi keriuhan di arena mosh pit. Di lagu ke empat, sang vokalis enerjik ini seketika melompat dari tempatnya berpijak, yang berjarak sekitar 1 meter ke arah penonton. Terbang bak burung yang melantunkan vokal melodius.
Sejak kedatangannya di Jakarta, personil Not Available memang sangat bersahabat. Ini yang jadi poin lebih dari band melodic fenomenal ini. Tidak ada kesan “ngartis” untuk band sekelas mereka. Mereka akrab berbaur dengan penonton, komunikatif, dan sangat respek terhadap publik melodic yang datang.
Dari keseluruhan setlist yang dibawakan, dominan dari album 5 aces (2007). Karena konser ini bertajuk 5 Aces for Indonesia dan tentunya untuk mempromosikan album tersebut.

Lebih dari 20 lagu dibawakan Dragan cs malam itu. Saking atraktifnya, menjelang pertengahan lagu, beberapa di antara mereka tampak kelelahan. Usai lagu Green Car dimainkan, Dragan minta jeda 5 menit kepada penonton. “Kami kepanasan. Tenaga kami terkuras,” kata Chris kepada beberapa penonton, ketika keluar menuju ruang ganti mereka.
Berselang 5 menit, semua personil kembali ke atas panggung. Dengan energi tersisa pertunjukkan dilanjutkan. Dua sampai tiga lagu terakhir dimainkan secara beruntun. Forever Young, dari album Fezzo (1999) yang merupakan cover version dari lagu milik Alphaville, menuntaskan perhelatan malam itu. Sekitar pukul 23.30 konser berakhir, ketika paduan suara dari penonton, sekali lagi membahana di seisi ruangan.
Puass..!! Mungkin itu yang bisa mewakili ekspresi seluruh pecinta melodic yang datang. Benar-benar gelaran yang melelahkan, dan pastinya akan membekas di dalam ingatan.
teks reportase: zelva wardi/foto: doni drako
Lamb of God Wrath Tour 2009: “Malam Penuh Kemurkaan Para Domba Tuhan!”
Posted in Reportase Acara with tags Dead Squad, lamb of god, Solucites on March 10, 2009 by rebelzine
Senin sore, 9 Maret kemarin, dinginnya Jakarta yang diguyur hujan seolah tak berlaku di Senayan. Tepatnya di kawasan Tennis Outdoor. Spot ini sudah terpanasi oleh kedatangan manusia-manusia berkostum serba hitam. Dengan simpanan adrenalin yang kelak akan dimuntahkan di saat dimana kuintet para domba-domba cadas asal Virginia, Lamb of God akan meluapkan kemurkaannya. Kali ini dengan konsernya yang bertajuk “Wrath Tour 2009” mereka mencoba membakar hidup-hidup para metalheads Jakarta. Ini merupakan konsernya di Asia Tenggara, dan Jakarta terpilih sebagai kota penyelenggara satu-satunya.
Wrath adalah album terakhir Lamb of God. Dimana unsur-unsur groovemetal ala Pantera mulai kental tercium dalam album ini. Dimana sebelum-sebelumnya mereka mengedepankan hibridasi hardcore, thrashmetal, punk, death metal dan metalcore sebagai gaya bermusik mereka.

Sepertinya ini adalah konser ter’mahal’ untuk ukuran sebuah konser musik ekstrim. Bisa jadi dikarenakan Lamb of God memang sedang berada di puncak kejayaannya sebagai pengusung musik ekstrim yang sukses bersanding di jajaran musik-musik mainstream. Bahkan melewati puncak yang telah diduduki band panutan mereka, Pantera. Yang juga mengalami fenomena yang sama.
‘Kemahalan’ Lamb of God tampaknya benar-benar dicermati oleh pihak promotor sebagai ladang bisnis. Dari sisi tarif tiket yang tinggi mungkin bisa dimaklumi jika dikaitkan dengan ketenaran band ini yang sedang naik daun. Namun, hal-hal lainnya seperti merchandise agaknya digaspol dengan harga yang lumayan membuat alis mata naik ke atas. Seperti T-Shirt Event bertanda tangan dijual dengan harga Rp. 250.000. Yang polos sekitar 125.000an. Walaupun begitu tetap laris bak tahu goreng.
Hujan masih belum berhenti saat para pasukan mati, Dead Squad sontak menyalakkan materi-materi teknikal mematikan dari album debut mereka yang berjudul Horror Vision. Event ini sekaligus dimanfaatkan Dead Squad sebagai promosi album tersebut.
Setelah itu seperti biasa jeda panjang sesi setem-menyetem beraksi. Hawa hujan yang cukup dingin seakan tidak berlaku bagi kerumunan penonton yang semakin memanas memanggil-manggil nama LOG. Area festival tampak benar-benar padat dipenuhi oleh para metalheads yang datang tidak saja dari Jakarta dan luar Jakarta. Namun, di luar Indonesia seperti Malaysia dan Singapura.
Saat yang dinantipun tiba. Senandung intro yang membuat bulu kuduk merinding pun berkumandang. Penonton mulai menampakkan tanda-tanda keberingasan saat para punggawa LOG bermunculan. Hourglass pun digelontorkan. Penonton menggila!
Entah mengapa, sepertinya ada sedikit masalah pada sound. Hingga pada bagian melodi yang cukup catchy di materi Laid to rest seperti terputus-putus. Hal ini sedikit mengurangi kenyamanan, mengingat lagu ini cukup ‘kebangsaan’ dari sekian lainnya.
Lalu serangan demi serangan lagu pun menyusul, memberondong tanpa ampun pada semua penonton di venue. Materi seperti Walk with me in hell, Now you’ve got something to die for, Redneck benar-benar berhasil menyeret semua yang ada di sana untuk menggeram mengikuti lirik yang dilantunkan Randy Blythe sang vokalis.
Venue benar-benar bak neraka manusia. Pusaran moshpit besar hampir tak pernah berhenti bergulung selama konser berlangsung. Duet Mark Morton dan Willie Adler terus menembakkan lick-lick dan harmonisasi melodi gitar yang terus menyayat telinga penonton yang semakin kesetanan. Belum lagi gempuran besi panas John Campbell dan komposisi teknik double-kicking Chris Adler yang benar-benar memukau.

Pada materi Vigil, darah penonton dibuat terhisap oleh jeritan panjang Randy yang berdurasi selama belasan detik. Teknik yang menunjukkan kemampuan optimal Randy sebagai seorang pelantun irama ekstrim yang piawai. Di sisi lain, Randy pun menunjukkan kemampuan berinteraksinya dengan penonton yang dapat diacungi jempol. Ini kali pertama sebuah konser metal dibuka dengan kata assalamualaikum (”assalamualaikum motherfuckers!” ..hayah.. ) lalu kata-kata “mau lagi” hingga menyebut-nyebut nama band metal lokal seperti Burger Kill dan Dead Squad (”this song is dedicated for Burger Kill!”). Sebuah trik efektif untuk menjalin hati fans mereka.
Lalu konser ditutup dengan Black Label yang membuat puncak adrenalin penonton seakan tuntas. Seperti melepaskan monster-monster terakhir di kepala-kepala mereka. Terbukti dengan tidak adanya tambahan lagu seperti trik klasik yang biasa dilakukan para musisi hingga kata-kata seperti “Curanmor! Curanmor! Curanmor!” bermunculan tidak membuat penonton menunggu. Enerji yang tersedot habis, membuat satu persatu penonton beringsut meninggalkan venue.

Sebuah sajian kemurkaan yang memuaskan. Salut bagi para penyelenggara, Solucites yang telah membawa domba-domba neraka ini sukses membumi-hangus Jakarta malam itu. Acara yang berjalan lancar dan aman pastinya membawa dampak positif bagi image yang sering tanpa tedeng aling-aling dituding negatif. Sebuah prestasi tentunya jika negara ini semakin dikenal dunia dengan kedatangan-kedatangan grup-grup papan atas macam LOG.
teks reportase: adit bujbunen al buse/foto: arief
Malevolent Creation Live in Jakarta: “Memberangus Beringas Publik Metalheads Ibukota”
Posted in Reportase Acara with tags Forgotten, Malevolent Creation, Mighty Syndicate on March 23, 2009 by rebelzine
Banyak pihak yang menyayangkan perihal batalnya pertunjukan Malevolent Creation (MC) di Balai Pemuda, Surabaya. Penonton yang sudah membeli tiket dan hadir di venue seketika harus kecewa karena show MC di kota ini terhalang izin keamanan. Itu artinya, mau tidak mau, terima tidak terima, MC benar-benar tidak dapat melangsungkan pertunjukannya di kota pahlawan ini.
Walau di Surabaya batal, tidak demikian halnya dengan Jakarta. Pertunjukkan mereka di sini justru terbilang sukses, tertib dan aman. Mighty Syndicate selaku pihak promoter justru mendapat pujian tersendiri dari MC karena berhasil membawa mereka ke Jakarta tanpa kendala berarti pada 22 maret kemarin.

Sejak pukul 19.00, para metalheads terlihat sudah berkerumun di sekitar pintu masuk MS Hall, Viky Sianipar Music Center. Bercengkerama atau sekedar menyapa kawan lama sambil menanti acara dimulai. Singkat cerita, perhelatan dibuka sekitar pukul 20.30. Forgotten telah bersiap dengan setnya. Band death-metal asal Ujung Berung ini merupakan band pembuka satu-satunya. Sekilas curi dengar, banyak juga penikmat metal yang hadir menantikan aksi panggung band dedengkot yang sarat dengan lirik kontroversi ini.

Dari kabar terakhir yang kami dengar tentang mereka, album terakhir Forgotten, Tiga Angka Enam, belakangan ini didapati tidak boleh beredar di beberapa toko kaset/cd besar karena materi-materi mereka yang kontroversif tersebut.
Tujuh lagu mereka muntahkan malam itu. Enam lagu lama dan satu lagu baru, Serapah Laknat. Lagu kebangsaan mereka macam Tuhan Telah Mati, Perang Demi Setan dan Hidup adalah Kutukan lancar dimainkan. Namun penonton belum tampak meliar. Bahkan hingga lagu terakhir mereka Smoke On the Water kelar dilontarkan.

Forgotten turun panggung tepat pukul 21.05 menurut arloji saya. Sorak-sorai penonton terdengar makin ramai. Tentunya tak sabar ingin meluapkan energi positif dalam riuhnya kerumunan hitam-hitam. Tak perlu menunggu terlalu lama hingga Brett Hoffman cs muncul di atas panggung.
Satu persatu amunisi dari album terdahulu mereka tanpa basa-basi dimainkan. Memorial Arrangements dari album The Ten Commandments membuka penampilan perdana mereka di Indonesia. Dilanjutkan dengan Premature Burial dari album yang sama.

Mengingat ini adalah rangkaian tur Asian-Australian mereka, saya pikir MC akan banyak memainkan lagu-lagu baru dari album paling anyar mereka, Doomsday X. Dan ternyata tidak. Dari 16 materi yang mereka bawakan, hanya Deliver My Enemy dan Cauterized yang terdengar baru di telinga metalheads yang hadir. Selebihnya, lantunan beringas dari tembang-tembang lama MC justru memanjakan penggemar-penggemar setia mereka yang merogoh kocek 175 ribu demi menyaksikan band death-metal gaek asal Florida, Amerika Serikat ini.
Dibandingkan perhelatan Mighty Syndicate sebelumnya yang memboyong band black-metal asal Polandia, Behemoth, ini yang sangat apresiatif dan beringas. Penonton yang datang tak dapat menyembunyikan letupan-letupan adrenalin yang mempengaruhi mereka. Nampak sekali bagaimana tingkat keliaran dan keagresifan yang tak urung hingga acara usai.

Gumulan penonton dalam pusaran circle pit berkali-kali terbentuk. Moshing dan headbanging juga tak bisa dilewatkan. Dengan tempo cepat dan sedang berulang-ulang mereka mengikuti komposisi permainan duo Gitar Phil Fasciana dan Marco Martell, betotan Bass Jason Blachowicz, dan variasi hentakan drum Fabian Aguirre. Lantunan tenggorok tergorok sang vokalis Brett Hoffman juga tak jarang diikuti penonton.

Dan kemunculan kembali Brett bersama MC merupakan sebuah reuni. Ini ditandai dengan dirilisnya album terakhir mereka, Doomsday X di tahun 2007 via Nuclear Blast.
Pertunjukkan MC di Jakarta malam itu benar-benar menghipnotis penonton. Hingga menit-menit terakhir gelaran akan usai tak terlihat agresifitas penonton yang menurun. Ketika Homicidal Rant, Cauterized, dan The Will to Kill dilepaskan sebagai gelombang terakhir, sapuan circle pit makin memanas. Penonton yang hanya berdiri dan fokus ke panggung pun tak luput dari sapuan, hingga harus terdorong kepinggir.

Sebanyak 16 lagu mereka mainkan dengan sangat impresif selama satu setengah jam. Penampilan mereka pun dituntaskan lewat materi anthemic Malevolent Creation yang menjadi klimaks dari rangkaian tur Asian-Australian mereka di Jakarta.
Penonton yang sangat agresif sejak awal, perlahan keluar dengan tertib berbalut kaus bersimbah peluh dan kelelahan bercampur puas yang teramat sangat.
Salut untuk Mighty Syndicate selaku penyelenggara atas usahanya memboyong band metal kelas berat seperti MC, di tengah masa kampanye menjelang pemilu yang bisa saja jadi penghambat.
teks/video reportase: zelva wardi/foto: adit buj bunen al buse
Black Star – S/T: “Langutan Para Pesakitan”
Posted in Resensi Album with tags Black Star, Coldplay, Fiasco Records, Muse, Radiohead on March 25, 2009 by rebelzine
Bagi yang mendengarkan album self-titled Black Star ini untuk kali pertama, sepertinya dapat dengan cepat menyimpulkan siapa acuan bermusik mereka. Mungkin akan terlintas beberapa nama dari tanah daratan Britania. Sebut saja Radiohead, Muse, Travis, Star Sailor, Coldplay, dll. Sangat kentara dari pemilihan sound dan cengkok vokal yang setipe dengan band-band yang saya sebut tadi. Tipikal band beraroma british-pop atau british-rock memang dapat dengan mudah dikenali (di antaranya) melalui dua aspek tersebut. Terlebih jika band yang terpengaruh tak ada bedanya dengan band yang mempengaruhinya.
Black Star yang lahir di era tahun 2000-an sedikit banyak mengambil ruh bermusik dari band-band di atas. Apalagi kala itu band-band di Indonesia juga terkena efek gempuran musik Inggris ke Amerika Serikat yang akrab disebut dengan brit invasion. Dan Black Star adalah salah satunya yang tak luput dari gempuran tersebut.
Dari beberapa band besar british yang memiliki pengaruh cukup signifikan bagi Black Star adalah Radiohead, Coldplay, Muse dan sedikit Travis. Di beberapa trek di album ini akan ditemukan bagian ritme dan flow yang sekilas mirip dengan lagu band-band tersebut. Namun, dari sederet nama yang ada, Radiohead memiliki porsi tertinggi sebagai band yang paling influensial bagi Black Star. Dimulai dengan membawakan lagu-lagu mereka di setiap pertunjukkan, hingga akhirnya termotivasi untuk menelurkan sebuah album.
Butuh waktu hampir satu dekade untuk mereka sampai pada fase seperti sekarang. Berbekal pengalaman panggung yang cukup, lalu pelan-pelan menyicil materi lagu, dan akhirnya berbuah debut album self-titled ini. Tentunya menjadi sebuah penyelesaian yang manis bukan? Dan kita harus mengapresiasi band-band yang memiliki usaha keras seperti Black Star.
Di album perdananya ini Black Star menyuguhkan 10 materi lagu untuk kita nikmati. Delapan materi berbahasa Indonesia dan dua sisanya dalam bahasa Inggris. Secara musikalitas sepertinya tak perlu diragukan lagi kelihaian 6 personilnya. Sepuluh lagu dalam album ini cukup matang. Hanya saja tingkat eksplorasi atau pengolahan lagu yang masih perlu dikembangkan. Seharusnya Black Star bisa mengembangkan musik mereka dengan pengalaman yang telah mereka punya selama ini untuk menciptakan karakter band mereka sendiri, sehingga tidak disama-samakan dengan band idola mereka.
Di lagu pertama di album ini misalnya. Dibuka dengan lagu berbahasa Inggris, Insomnia. Vokal Emir yang merupakan paduan cengkok vokal Thom Yorke (Radiohead) dan Matthew Bellamy (Muse) langsung memudahkan orang menebak identitas musik yang diusungnya dan acuan bermusiknya. Sedangkan di lagu Tetap di Jiwa terdapat kemiripan dengan lagu Shiver milik Coldplay. Bisa dirasakan pada intro gitar dan flow lagunya.
Hal yang sama bisa ditemukan pada lagu Emosi di trek 6. Di beberapa bagian, efek vokal Emir kentara sekali seperti dibuat mirip dengan efek vokal Matthew Bellamy pada lagu Micro Cuts, dari album Origin of Symmetry milik Muse. Sedangkan untuk lagu lainnya, bagi yang mengikuti Radiohead pra-album Kid A akan mendapatkan beberapa sentuhan yang sama di album sef-titled Black Star ini. Namun, tidak seberat Radiohead. Black Star hanya menghindari permainan distorsi yang berlebihan dan eksperimentasi yang aneh-aneh dibandingkan band idolanya tersebut.
Yang bisa dirasakan sedikit beda dari keseluruhan lagu di album mereka ini hanya pada lagu Abnormal Aku dan Menghilang. Pengaruh musik band-band idola mereka tidak terlalu kentara terasa di dua lagu ini.
Namun, dalam sebuah karya musik/lagu kita tidak hanya berbicara kemasan (musik itu sendiri), namun juga konten (lirik) yang selama ini dianggap sebagai pelengkap. Saya sendiri sangat menghormati band-band lokal yang mampu membuat lagu dengan lirik bahasa Indonesia yang bagus. Apalagi memiliki pesan atau sarat makna. Artinya ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan selain memperdengarkan musiknya. Untungnya Black Star memiliki poin ini.
Untuk rilisan perdananya ini bisa dibilang Black Star memikirkan aspek tematik pada albumnya. Pemilihan tema “penyakit” di album ini tentu saja satu hal yang dirasa berbeda. Mereka berani memotret fenomena penyakit biologis, sosial dan psikologis yang dituangkan ke dalam lagu-lagunya. Pemilihan diksi yang tidak biasa, dan dikemas dengan cukup gelap dapat memunculkan kesan emosionil para pesakitan yang tergambar di album ini.
Secara keseluruhan album ini dapat dinikmati. Terutama bagi mereka yang menyukai musik dari daratan Britania Raya, dengan kemasan yang diberi nama dark britain pop. Dan album ini saya rekomendasikan bagi kalian. Lepaskan semua kemiripan mereka dengan Radiohead atau siapapun. Mereka telah menciptakan sebuah karya yang patut diapresiasi.
Tidak ada satupun band yang ingin disama-samakan dengan band lain. Kecuali jika band tersebut merasa puas karena telah disamakan dengan band besar yang mempengaruhinya. Jika ya seperti itu untuk apa menelurkan sebuah album? Lebih baik selamanya menjadi band cover yang memainkan lagu-lagu dari band idolanya. Saya harap tidak demikian halnya dengan Black Star. Perjalanan band ini masih panjang. Masih banyak waktu untuk membentuk karakter bermusik kalian sendiri teman…
Oya, satu lagi. Artwork cover-nya bagus!!
teks: zelva wardi
www.myspace.com/blackstarduniabaru
Label:
Fiasco Records
Titel:
Black Star: S/T
Track List:
- Insomnia
- Pedofilia
- Skizofrenia
- Tetap Di Jiwa
- Abnormal Aku
- Emosi
- Menghilang
- Miasma
- Kuterluka
- White Wolf
Line-Up:
Emir – Vokal, Alul – Gitar, Yudi – Gitar, Q-nos – Bass, Ine – Keyboard, Roby – Drum
Out Now: Democrazy of Love
Posted in Agenda Acara with tags Butterfly Effects, Daro, Democrazy of Love Compilation, Melody Maker, MPB Production, Semoga Berkah on April 3, 2009 by rebelzine
Out Now: Democracy of Love
DeadSquad: “Horror Vision – Penampakan Mengerikan Para Pasukan Mati”
Posted in Artikel Musik, Resensi Album with tags Dead Squad, Horror Vision, Rottrevore Records on April 4, 2009 by rebelzine
DeadSquad: Horror Vision
Apa yang membuat band ini menarik dan menjadi daya tarik terkuat sebenarnya terletak pada keberadaan para pengusung di dalamnya. DeadSquad adalah sebuah technical death metal band yang berisikan sekumpulan nama-nama yang sudah mendapat tempat di perhelatan musik tanah air. Baik di ranah musik mainstream maupun di zona musik bawah tanah. Adalah Stevie Item yang juga masih tercatat sebagai anggota Andra & The Backbone dan Christopher Bolemeyer yang dikenal sebagai Coki Netral, keduanya menempati jabatan sebagai gitaris. Lalu ada Bonsquad ex-Tengkorak pada bass. Adrian Gorust ex-Siksa Kubur pada drum dan Daniel ex-Abolish Conception pada vokal.
Sebelumnya sederet nama juga pernah memperkuat formasi DeadSquad. Seperti Ricky Siahaan yang kini tercatat masih sebagai personil Step Forward dan Seringai. Lalu Prisa, ex-Zala yang kini juga membentuk band barunya yang bernama Vendetta. Juga Babal ex-Alexander yang kini jabatannya ditempati oleh Daniel.
Kekuatan sensasi dari sederet nama-nama inilah yang pada akhirnya menjadikan DeadSquad sebagai supergrup yang ramai diperbincangkan. Karena diharapkan akan memberi sesuatu yang cukup menampar dengan telak khususnya di scene musik-musik metal ekstrim.
Horror Vision adalah ejawantah pertama yang sukses diluncurkan DeadSquad. Dirilis oleh Rottrevore Records Indonesia. Launching-nya sendiri telah dilakukan di saat konser “Lamb of God: Wrath Tour 2009” pada tanggal 9 Maret kemarin, dimana DeadSquad menjadi satu-satunya band pembuka. Berisikan delapan buah materi teknikal yang cukup masif. Salah satu track-nya adalah sebuah cover version dari materi band death metal legendaris Sepultura, Arise.
Ekspektasi saya mungkin sedikit terlalu tinggi. Karena ketika setelah menyimak keseluruhan materi tidak ditemukan sesuatu yang benar-benar baru. Semuanya masih dalam koridor technical death metal standar yang sudah kerap dilakukan oleh band-band sejenis terdahulu. Mungkin pendekatan gaya old-school metal coba dilakukan oleh mereka. Tapi jika saja eksplorasi dari segi karakter bisa dipertajam, tanpa harus meninggalkan gaya old-school yang mereka anut mungkin akan bisa terdengar lebih segar.
Namun jika yang dicari adalah dari sisi yang lebih teknis, seperti komposisi yang rapi dan elemen khas musik-musik metal teknikal ekstrim, hal tersebut dapat terpuaskan dalam album ini. Cukup menghancurkan kepala jika ingin merasakan sensasi brutalistik dari perpaduan keindahan harmoni dan keagresifan ritme-ritme blasting terstruktur dari keseluruhan materi.
Materi pertama, “Pasukan Mati” dibuka oleh sebuah intro orkestrasi megah. Mengingatkan saya pada gaya atmosferis yang kerap dilakukan oleh band orchestral melodic black metal, Dimmu Borgir. Lalu disusul oleh materi-materi lainnya yang membuat telinga cukup terseret kedalam struktur yang sophisticated. Ditutup oleh outro bernuansa mencekam yang menjadi sebuah penyelesai yang manis di akhir materi.
Penulisan liriknya cukup bagus. Terutama yang dikemas dalam format bahasa Indonesia. Permainan metafor yang cukup catchy dipadukan dengan komposisi diksi-diksi yang memancing untuk berpikir. Tema-tema tipikal kesuraman hidup dan kritik sosial dapat dirangkai dengan indah dalam sebuah materi lagu yang cukup solid. Dari segi teknis, mungkin jika vokal sedikit bisa lebih ditaruh di layer depan keindahan perpaduan kata-kata ini akan bisa lebih ternikmati dan tersampaikan.
Cukup telak sebagai gempuran awal. Semoga eksplorasi-eksplorasi yang menghajar di materi setelahnya akan menambah kekuatan karakter dari DeadSquad.
teks: adit bujbunen al buse
Label:
Rottrevore Records
www.rottrevore-records.com
Title:
DeadSquad: Horror Vision
Track list:
1. Pasukan Mati
2. Dimensi Keterasingan
3. Dominasi Belati
4. Hiperbola Dogma Monotheis
5. Sermon Of Deception
6. Manufaktur Replika Baptis
7. Arise (sepultura cover song)
8. Horror Vision
Line-Up:
Stevie Morley Item – Guitars
Bonny Sidharta – Bass
Daniel Mardhani – Vocals
Andyan Gorust – Drums
Coki Bollemeyer – Guitars









Judul Buku