ZOO: Konsep Filosofis Modernitas Berbalut Komposisi Musik Etnis Matematis

l_f534ab6f7462d6475d4df7d7b9d3b2cf

Akhirnya kesampean juga mewawancara band serius, penuh konsep dengan nilai-nilai etnis dan raungan filosofis ini. Perkenankan saya memperkenalkan mereka, ZOO! Ya, ZOO. Nama yang cukup sederhana untuk identitas sebuah band, namun sarat makna. ZOO justru menjadi nama yang sangat mewakili sebuah citra yang ingin mereka bangun. Ada filosofi yang jelas-jelas sangat mereka pikirkan (tidak sesimpel namanya). Peradaban, itulah konsep yang ingin mereka bahas dalam karya-karyanya. Peradaban modern yang makin menggeser norma tradisional dan kaidah sosial sehingga menjauhkan manusia dari kemurnian alam dan keliaran. Dan ZOO (kebun binatang dalam artian sebenarnya, -red) menjadi pengandaian yang pas untuk membahasakan konsep/tujuan musik mereka tersebut. Wuuih, berat tak konsepnya?

Jadi, tak heran jika karya-karya band asal Jogja ini hasilnya seperti yang ada di rilisan net-label YesNoWave (net-label yang merilis demo mereka, ”Kebun Binatang”/2007), rumit/ruwet/ribet/njelimet. Namun, satu yang pasti, karya mereka (ZOO) berbeda & tidak biasa. Mereka kreatif dan inovatif. Yang saya suka, ZOO adalah sebuah band dengan konsep yang sangat matang dengan mengusung visi yang jelas, mengangkat isu-isu modernitas serta pengaruhnya bagi kehidupan manusia, kemudian membelalakannya ke permukaan dengan syair-syair metaforik berbalut komposisi musik (sebagai media) yang tak kalah rumit dengan konsep/tema yang mereka usung.

Band ini patut diapresiasi. Karena itulah, berbekal rasa penasaran Rebelzine mencoba melayangkan materi wawancara kepada mereka. Karena ZOO memiliki kesan yang serius, saya mencoba menyelipkan beberapa materi yang sedikit serius dengan harapan dijawab dengan serius pula. Mmm.. mereka (diwakili sang vokalis, Rully) menanggapinya dengan sangat baik. Kami menyukai responnya. Penasaran??? Silahkan santap saja petikan wawancaranya berikut ini!!!

ZOO adalah: Rully/RULK (vokal/djembe), BHKT (bas), Obet/OBTH (drum), DMEX (drum)

Bisa ceritakan sedikit mengenai ZOO? Awal mula terbentuk & formasi band terkini (sudah sejak dulu dengan line-up sekarang atau kerap kali berganti personil)?

Awal terbentuk sebenarnya akhir 2005, tapi dengan konsep yang masih meraba-raba, dan belum bisa dibilang aktif pada saat itu. Mulanya bahkan masih dengan formasi normal (dengan gitar), bernuansa progresif dan noise. Formasi sekarang hanya vokal, bas, dan dua pemain drum yang mengisi lagu secara bergantian. Konsepnya pun bisa dikatakan sudah nyaman untuk diteruskan.

Kenapa ZOO? Apakah nama tersebut sudah merepresentasikan identitas dan musikalitas kalian? Lalu bagaimana dengan konsep musik? Apakah dipikirkan sekali sejak awal untuk menciptakan karya musik seperti ini, mulai dari perpaduan vokal dan musik yang aneh seperti yang dihasilkan?

Tentu saja. Sebab paling sederhana yaitu karena kata tersebut cuma terdiri dari satu suku kata, mudah diucapkan, dan tentu saja mudah diingat. Alasan selanjutnya yang lebih filosofis, ialah karena nama tersebut mewakili citra yang ingin kami bangun, dan senyawa dengan lirik dan tema yang kami usung. Akan panjang lebar jika saya ceritakan konsep dan maknanya disini, singkatnya jika lirik kami ditelaah dengan seksama, semuanya ternyata berkisar tentang satu tema besar: ”peradaban modern yang semakin menggeser norma tradisional dan semakin jauhnya manusia dari kemurnian alam dan keliaran.” Kebun Binatang merupakan perumpamaan yang pantas untuk menyimbolkannya. Dari konsep besar inilah, lantas musik kami pelan-pelan terbentuk dan terarahkan. Sebisa mungkin harus bisa mencerminkan dan berlandaskan visi tersebut. Ini bukan mau dibilang sok berat loh, tapi memang sebegitu seriusnya ZOO sengaja dirancang.

Tujuan kalian membentuk ZOO? Hanya untuk menyalurkan hobi bermusik masing-masing personil atau ada keinginan tertentu untuk fokus di jalur musik?

Pernah tidak ketemu orang kayaraya yang seharusnya bisa menjadi apapun yang dia mau, namun justru memilih untuk berkelana mencari petualangan, atau orang pandai yang bisa saja menjadi insinyur ternama atau astronot tapi malah memilih untuk mendedikasikan diri sebagai guru SD? Sekedar hobi-kah orang-orang ini, ataukah ada sebab lain?? Sorry, tidak menjawab pertanyaan, tapi memang tujuan kadang berangkat dari sesuatu yang sulit dijelaskan.

Awalnya saya tertarik dengan ZOO karena kalian memperdengarkan komposisi musik yang berbeda & tidak biasa. Saya tidak pandai mengkategorikan jenis musik. Yang saya nilai beda & tidak biasa itu yang saya suka. Sesimpel itu. Dan saya mendapatkannya di ZOO. Bagaimana kalian mengkategorikan musik ZOO?

Kita punya kesamaan. Sama-sama tidak pandai dalam hal itu. Jangan kuatir, tidak merugikan kok. Hehe..

Demo ZOO yang dirilis YesNoWave berisi 6 lagu. Masing-masing lagu tentunya memiliki cerita yang berbeda-beda. Bisa diceritakan?

Selalu senang jika ditanya ini. Namun, saya keberatan jika harus menceritakan apa maksud dari liriknya secara gamblang, karena tidak etis. Seperti karya puisi, tidak selayaknya si pengarang menjelaskan apa yang sesungguhnya ia maksud. Interpretasi itu hak penikmatnya. Letak ekslusifitasnya ya disitu. Tapi berikut akan saya coba beri petunjuk mengenai metafora-metafora yang ada di keenam lagu tersebut, dan silahkan ciptakan interpretasi anda sendiri.

’Manekin Bermesin’: Sengaja dibuat pendek dengan lirik diulang-ulang sesuai dengan judul lagu sebagai penekanan. Sehingga pendengar akan berpikir, pastilah judul/lirik tersebut ada maksudnya. Manekin, walaupun merupakan penyempurnaan bentuk manusia, tetap saja bukan sesuatu yang hidup, hanya pajangan yang melambangkan kesempurnaan dan wujud palsu. Menghidupkan manekin dengan menggunakan mesin pun tetap belum akan bisa membuatnya sesempurna manusia, yang walaupun purba, tapi nyata.

’Menyudahi Gelap’: Seperti judulnya, habislah gelap. Mengajak untuk bangkit. Menolak untuk dibilang mati.

’Kupu-Kupu’: Seperti yang dipahami, kupu-kupu sering disimbolkan sebagai lambang kesempurnaan yang lahir dari kebusukan. Begitu pula maksud kupu-kupu dan kota-kota disini.

’Lalat-Lalat’: Peradaban modern selalu menjauhkan diri dari kekotoran, penyakit, bau busuk, dan segala sumbernya. Lalat adalah simbol sempurna akan hal ini. Mereka-mereka yang tersingkir karena peradaban modern tidak menerima adanya ketidaksempurnaan dan kekacauan.

’Takluk’: Maksud liriknya jelas. Bumi yang marah. Manusia yang akhirnya tak berdaya terhadapnya. Takluk, tunduk.

’Eskalator’: Melambangkan satu lagi fitur modernitas, yakni peradaban yang serba instan.

Untuk lirik/syair lagu, apakah kalian memperhatikan benar soal ini? Seberapa penting kalian melihat kefungsian lirik/syair dalam sebuah lagu? Apakah hanya sekedar pelengkap?

Menurut saya pribadi sebagai pencipta liriknya, justru musik-lah yang merupakan pelengkap, perwujudan lirik itu sendiri. Musik hanya raga, lirik-lah ruh-nya. Yang jelas, ZOO tidak akan pernah membuat lagu berlirik bahasa Inggris.

Lalu, adanya intrumen etnik macam djembe yang kalian sertakan dalam komposisi musik, apakah ini sudah dikonsepkan juga dari awal?

Betul. Sekedar menyesuaikan nuansa lagu. Di lagu-lagu ZOO yang baru, djembe akan lebih sering muncul.

Setau saya djembe berasal dari Afrika Barat, namun di Indonesia juga ada alat musik semacam ini, ada djembe bali dll. Kenapa harus djembe yang kalian gunakan sebagai pelengkap instrumen? Kenapa tidak alat musik tradisional asli Indonesia yang banyak ragamnya?

Itu sih pengennya. Hanya saja, saya bisanya maen itu. Hehe… Jika ada yang bersedia membantu berkolaborasi dengan memasukkan instrumen tradisional Indonesia, kami akan sangat senang menyambutnya. Banyak lagu baru yang masih sangat bisa dibubuhi instrumen tradisional. Berminat?

Bisa ceritakan sedikit mengenai demo ZOO yang dirilis di YesNoWave? Bagaimana awal mulanya? Apakah memang sengaja dirilis dalam format mp3 lewat net-label tersebut? Kenapa tidak menelurkan album penuh dalam format CD saja? Ataukah karya-karya ZOO memang sengaja untuk di-share gratis, bukan untuk diperjualbelikan?

Awalnya, 6 lagu tersebut kami kemas dalam jumlah terbatas beserta buklet berisi lirik. Ini kemudian dibagi-bagikan secara gratis ke orang-orang tertentu, termasuk ke Wok the Rock, pencetus YesNoWave. Kemudian ia menawari untuk dirilis di netlabel-nya. Album penuh sedang dipersiapkan, dan akan diedarkan dalam bentuk CD nantinya.

Menurut ZOO bagaimana seorang pendengar/penikmat musik seharusnya mengapresiasi sebuah band/musisi yang menghasilkan karya musik? Entah karya band itu jelek atau bagus?

Wuuh, pertanyaan sulit. Apresiasi, sama halnya dengan ekspresi, bebas mutlak. Tidak ada yang namanya seharusnya atau yang tidak seharusnya.

Bagaimana ZOO melihat kecenderungan band-band sekarang, baik dari segi musikalitas dan orisinalitas berkarya?

Band-band sekarang atau band-band kebanyakan? Sebagian bagus.

Lalu, orisinil-kah karya ZOO? (walau tidak menutup kemungkinan ada band-band/musisi terdahulu yang menginspirasi, karena memang susah untuk mengukur ke-orisinil-an sebuah karya, bukan hanya musik.)

Benar, sulit mengukurnya. Karena tidak bisa dipungkiri, banyak sekali karya lain (bukan hanya musik) yang berandil dalam mempengaruhi musik ZOO. Bahkan beberapa lirik ZOO mengutip penggalan syair-syair kuno yang sudah ada dari Jawa, Aceh, atau Kalimantan. Orisinil? Susah menjabarkan apakah iya atau tidak.

Membuat sebuah komposisi musik seperti yang ZOO hasilkan bisa dibilang cukup sulit. Begitu juga dengan menyatukan ide-ide antar masing-masing personil. Bagaimana ZOO mengatasi hal ini?

Sederhana sebenarnya. Dari hasil jam-session di studio, lagu yang masih bentuknya kasar kemudian dibakukan dan diberi aksen untuk menambah kekhasan. Menyatukan ide, itu yang sulit. Band lain pasti merasa begitu.

Sebuah band yang berkualitas itu seperti apa di mata ZOO?

Berciri. Bermula dari itu.

Demo ZOO yang dirilis YesNoWave durasinya sangat singkat. Kalau tidak salah semuanya (6 lagu) berjumlah 14 menitan. Jujur saya kurang puas..hehe. Lantas, kapan album penuh kalian? Berapa trek yang akan mengisi album tersebut?

Album penuh sudah direncanakan segera setelah demo rampung sebenarnya. Namun, hambatan banyak betul untuk mewujudkannya. Jumlah lagu yang sudah pasti akan ada di album penuh tersebut ada 21 buah, dengan durasi lagu paling lama hampir 5 menit.

Tahap perampungannya sendiri sudah sejauh mana?

Tahapan mixing. Masih jauh ya dari rampung?

Masih samakah konsepnya dengan demo kalian? Lalu akan dirilis via YesNoWave juga atau lewat label lain? Atau mungkin kalian akan merilis sendiri?

Sejauh ini keputusannya masih akan dirilis sendiri, kecuali ada label yang berminat. Konsepnya tentu saja tidak akan berpaling dari tema. Sebagian besar masih belum jauh berbeda dengan lagu-lagu di demo, tapi beberapa lagu lebih beraroma etnis yang berpadu dengan rumus-rumus khas ZOO.

Oke, terima kasih. Sukses untuk ZOO. Ditunggu album penuhnya. Jangan sungkan kabari Rebelzine untuk perkembangan kalian. Terakhir, apa harapan ZOO ke depan? Ada yang ingin disampaikan kepada para pendengar karya kalian?

Terimakasih sekali sudah memperhatikan ZOO. Mari terus dukung perkembangan musik independen Indonesia. Kami juga menunggu jika ada kesempatan untuk tampil di kota kalian. Salam kami dari Jogja.

teks & wawancara: zelva/rebelzine, gambar/artwork: dok. ZOO

l_534f9a4a47ea4f060c9b606cc8c42c0a

myspace zoo

email zoo

Kontak ZOO: Richie +62813 3922 0333

Dan unduh demo lagu mereka, ”Kebun Binatang” di www.yesnowave.com

One Response to “ZOO: Konsep Filosofis Modernitas Berbalut Komposisi Musik Etnis Matematis”

Leave a Reply